Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu (17) : Hari-hari berdarah di Qadasiyah

Dengan taufik dan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, pertempuran akhirnya berhenti. Siapa yang menang dan yang kalah telah jelas. Sebuah kemenangan gemilang bagi kaum muslimin, dan kekalahan memalukan bagi musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla.

Perang Qadisiyah benar-benar sebuah pertempuran yang dahsyat. Tiga hari pertama, pasukan Persia sanggup bertahan menghadang serangan kaum muslimin, bahkan sempat membuat kaum muslimin kewalahan dengan bantuan pasukan gajah mereka.

Belum pernah kaum muslimin menghadapi pertempuran sehebat itu selama berhari-hari. Biasanya, mereka menaklukkan lawan dalam pertempuran hebat sehari saja. Mengapa bangsa Persia begitu kuat dan semangat bertahan? Tidak lain adalah karena Perang Qadisiyah ini merupakan penentu hidup matinya Kerajaan Sasanid. Kalau mereka kalah, lenyaplah Persia, padamlah api suci di kuil-kuil pemujaan mereka. Kalau mereka menang, mereka betul-betul akan memusnahkan dan melenyapkan bangsa Arab dari percaturan dunia.

Selain tekad mempertahankan keangkuhan kekuasaan dan paganisme yang menjadi budaya bangsa, mereka merasa kuat karena dipimpin oleh Rustum. Selain ahli nujum (tukang ramal), dia juga seorang ahli perang tersohor, dengan pengalaman tempur yang luas. Ditambah pula jumlah personil yang besar, lebih dari seratus ribu pasukan inti, dengan persenjataan dan perbekalan yang lengkap. Bahkan, setiap hari dikirimi pula bantuan oleh Yazdajird dari kota raja. Ternyata kekuatan dan persenjataan mereka tidak ada artinya menghadapi tentara-tentara yang sudah mendaftarkan dirinya untuk membeli surga yang dijual oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala memang memberitakan bahwa Dia menjual surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang berisi kesenangan abadi yang belum pernah terbetik dalam benak manusia, belum pernah pula terlihat ataupun terdengar oleh mereka.

Dengan surga itu, Allah ‘azza wa jalla membeli jiwa raga dan harta orang-orang yang menyatakan dirinya beriman.

Dan…

Orang-orang yang sudah menyatakan keimanannya itu serempak menyambut penawaran tersebut. Dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, ‘kehebatan’ pasukan Persia harus takluk di hadapan tentara-tentara Allah ‘azza wa jalla. Runtuh sudah kesombongan mereka. Lenyap sudah kekuasaan dinasti Sasanid.

Dan kebatilan itu pasti lenyap, cepat atau lambat.

 Berita dari Qadisiyah

Di Madinah, Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq senantiasa mencari berita tentang keadaan Sa’d dan pasukannya di Qadisiyah.

Suatu hari, seorang penunggang kuda terlihat mendekati gerbang Madinah dengan cepat. ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu segera memapak penunggang kuda itu dan bertanya tentang kaum muslimin di Qadisiyah.

“Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kemenangan kepada kaum muslimin dan mereka memperoleh ghanimah yang sangat banyak,” kata orang itu sambil terus bercerita tanpa mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Siapakah ‘Umar hingga setiap orang harus mengenalnya?

Ya, siapakah ‘Umar? Inilah yang selalu dinasihatkannya kepada dirinya sendiri.

Sambil terus bercerita dari atas kudanya, sementara ‘Umar mengiringinya sambil berjalan kaki, mereka memasuki kota Madinah.

Di dalam kota, kaum muslimin memberi salam sambil menyebut kedudukan beliau, “Assalaamu ‘alaika, wahai Amirul Mukminin.”

Penunggang kuda yang baru datang terperangah dan merasa malu, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda, wahai Amirul Mukminin. Mengapa Anda tidak menerangkan jati diri Anda, wahai Khalifah?”

“Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku.”

Subhanallah. ‘Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku’, ucapan ini hampir mustahil terdengar spontan keluar dari sebagian pembesar ketika tidak ‘dianggap’ dan tidak menerima penghormatan yang sesuai dengan kedudukannya. Bahkan, tidak jarang mereka yang diperlakukan seperti ini, menyimpan kejengkelan ketika disepelekan dan tidak dihormati sebagaimana layaknya.

Inilah ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, penguasa sepertiga belahan dunia. Kemudian, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat agar Sa’d tetap di tempatnya.

 Beberapa Hasil Penting

Perang Qadisiyah boleh dikatakan sebagai penentu jalannya sejarah di wilayah timur. Dengan kemenangan pasukan muslimin ini terjadi perubahan total dalam kehidupan baik politik maupun agama penduduk secara umum, dan Persia khususnya.

Kekalahan tentara Persia mengakibatkan lenyapnya kekuasaan dinasti Sasan di Irak yang kemudian menjadi salah satu unit politik dan geografi daulah Islamiyah.

Peristiwa Qadisiyah menggariskan perubahan Irak dan dakwah Islam di sana. Irak akhirnya langsung berada di bawah kekuasaan Khalifah Rasyidah yang membantu kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam.

Usai pertempuran, empat ribu prajurit Rustum masuk Islam. Bahkan, beberapa kabilah Arab di tepi sungai Eufrat datang menampakkan keislaman mereka di hadapan Sa’d bin Abi Waqqash. Kemudian, beberapa penduduk Irak dan pembesarnya juga berdatangan masuk Islam.

Kemenangan pasukan muslimin di Qadisiyah adalah awal kemenangan Islam di wilayah tersebut. Yang paling penting adalah jatuhnya ibu kota Persia, Madain. Kemudian perang Jalula dan jatuhnya Hulwan tahun itu juga.

Beberapa wilayah Irak yang ditaklukkan Khalid bin al-Walid dan al-Mutsanna bin Haritsah radhiallahu ‘anhuma melanggar perjanjian, selain penduduk Baniqia, Basma, dan Ulais. Setelah kaum muslimin menang dalam Perang Qadisiyah, mereka kembali kepada kesepakatan perjanjian tersebut. Mereka mengajukan alasan bahwa mereka melanggar perjanjian itu karena tekanan tentara Persia. Kaum muslimin menerima pengakuan mereka untuk melunakkan hati mereka.

Akhirnya, ahlu sawad dan para petani serta yang lainnya menjadi ahli dzimmah. Dengan demikian, keamanan di Irak semakin stabil dan menjadi negara Islam.

Ghanimah yang diperoleh kaum muslimin dari perang Qadisiyah ini berlimpah. Di antaranya adalah bendera perang Persia yang dibuat dari kulit harimau, yang lebarnya kira-kira 24 m per segi (6x4m) dan diikatkan pada tiang yang tinggi bersambung-sambung. Bendera itu dihiasi dengan batu-batu permata dan mutiara.

 Merebut Kotaraja Madain

Sa’d masih tetap di Qadisiyah selama dua bulan, hingga seluruh pasukan bisa memulihkan tenaga dan semangat mereka. Selain itu, tindakan tersebut sangat membantu terjaganya stabilitas keamanan dan kehidupan masyarakat setempat.

Kemudian, Sa’d mulai bertolak menuju wilayah barat Madain dengan arahan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Sa’d mulai membagi pasukannya. Sebagian ditinggalkan untuk menjaga wanita dan anak-anak kaum muslimin serta keamanan pasukan induk dari arah belakang.

Bulan Dzulhijjah 15 H, Sa’d tiba di Bahrasir. Kota itu ternyata memiliki tembok yang tinggi dan pertahanan yang kuat. Sa’d mengirim beberapa pasukan menelusuri wilayah itu. Sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak pasukan Persia. Yang ada hanya sekitar seratus ribu petani wilayah tersebut.

Sa’d mengirim surat meminta pendapat Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu. Ternyata Khalifah ‘Umar menyerahkan urusan penduduk tersebut kepada Sa’d. Akhirnya Sa’d memaafkan mereka, bersikap lemah lembut kepada mereka, dan bergaul dengan baik bersama mereka. Para petani hanya dikenai pajak. Sawah ladang mereka tetap diakui sebagai milik mereka. Semua gembira dan menerima ketetapan Islam serta merasa damai.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman al-Farisi kepada penduduk Bahrasir menawarkan kepada mereka salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau pedang. Ternyata mereka memilih pedang dan menolak dua tawaran pertama dengan sengit dan marah.

Pasukan Persia segera menyiapkan manjaniq (pelontar peluru) untuk memukul mundur kaum muslimin. Sa’d mulai mengepung Bahrasir dan bersiap menggempur mereka. Dua puluh manjaniq kaum muslimin digelar, begitu pula kendaraan tempur yang terbuat dari kulit, kayu, dan kepingan besi. Kepungan ini menekan penduduk Bahrasir, hingga mereka kehabisan bekal. Akhirnya, mereka melarikan diri menuju Madain timur.

Sa’d berhasil memasuki Bahrasir dan menempatkannya di bawah kekuasaan Daulah Islam. Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 16 H.

Pasukan muslimin tiba di Ctesifon, Madain timur. Akan tetapi, mereka masih belum bisa memasuki kota itu karena terhalang Sungai Tigris. Ketika Yazdajird mengetahui bahwa pasukan muslimin telah hampir tiba di ibu kota kerajaannya, dia segera menuju Hulwan. Di sana, dia tinggal bersama para pembesar kerajaan dan keluarganya.

Selama beberapa hari, Sa’d berusaha mencari perahu untuk menyeberang. Sebab, orang-orang Persia telah mengangkat titi penyeberangan dan menahan perahu di tepi Sungai Tigris sebelah timur. Sebagian jembatan ada yang dibakar musnah. Hal ini sempat menggelisahkan pasukan muslimin karena mereka tidak mempunyai sarana untuk menyeberang.

Seorang penduduk pribumi menunjukkan jalan tembus ke kota. Akan tetapi, Sa’d ragu-ragu untuk melewati jalan itu. Ketika masih dalam keadaan demikian, kaum muslimin dikejutkan oleh luapan Sungai Tigris yang membawa lumpur dan kotoran.

Sa’d adalah Sa’d, salah seorang murid dari madrasah nubuwah yang langsung dididik oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesulitan itu tidak membuat Sa’d putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak membuatnya kalah.

Sa’d mulai memikirkan situasi ini dan bermusyawarah dengan pasukannya. Malam hari, Sa’d bermimpi melihat kuda-kuda kaum muslimin melintasi Sungai Tigris, padahal banjir demikian hebatnya.

Sa’d bertekad akan menyeberangi sungai itu bersama pasukannya. Dia menceritakan mimpinya. Ternyata sambutan kaum muslimin demikian semangat, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi keteguhan pada kami dan Anda di atas petunjuk, laksanakan.”

Panglima Sa’d memberi komando agar seluruh pasukan bersiap-siap menyeberang. Beliau mengatur strategi dengan menempatkan pasukan berkuda kaum muslimin di kepala jembatan di timur Sungai Tigris. Mereka harus mampu menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di sisi timur itu.

Sa’d memerintahkan agar pasukan pelopor dan pemukul melaksanakan taktik yang direncanakannya. Yang pertama menyeberang adalah 60 prajurit komando ahwal yang dipimpin oleh ‘Ashim bin ‘Amr. Pasukan ini berhasil menerobos rintangan dan menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di Furadh lalu menguasai daerah itu.

Kemudian disusul pasukan kharsa yang dipimpin Qa’qa’ bin ‘Amr. Kedua pasukan ini menjadi kepala jembatan di atas dermaga timur Sungai Tigris dan menjadi pengawal penyeberangan pasukan muslimin.

Setelah merasa aman—dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala—dengan berhasilnya taktik tersebut, Sa’d mulai memerintah seluruh pasukan untuk menyeberang dengan aman sambil berdoa, “Kami meminta pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Kemudian Sa’d memajukan kudanya memasuki sungai Tigris diikuti seluruh kaum muslimin, tidak ada satu pun yang tertinggal. Akhirnya mereka berjalan di Sungai Tigris itu seakan-akan sedang berada di daratan.

Mereka menyeberang sambil berbincang, santai. Tidak ubahnya seperti ketika di daratan. Itulah ketenangan dan rasa aman yang merupakan buah kepercayaan penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan yakin akan janji serta pertolongan-Nya.

Salman al-Farisi berjalan bersama Sa’d radhiallahu ‘anhuma. Dia mendengar Sa’d berkata, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolong wali-Nya dan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan memenangkan agama-Nya. Pasti Allah subhanahu wa ta’ala mengalahkan musuh-musuh-Nya, jika di dalam pasukan tidak ada kejahatan atau dosa yang mengalahkan kebaikan pemiliknya.”

Sa’d sendiri dikenal sebagai orang yang doanya terkabul. Beliau mendoakan keselamatan dan kemenangan bagi pasukannya.

Pasukan muslimin menyeberang dengan aman dan santai, tidak ada yang kehilangan dan tidak ada yang tenggelam. Sungguh, tidak pernah terbayangkan oleh penduduk Persia, Bahrasir khususnya, bahwa mereka merasa aman dengan benteng alami, yaitu Sungai Tigris. Mereka yakin terlindung dari serangan kaum muslimin. Lebih-lebih lagi, mereka sudah menahan perahu untuk menyeberang, membakar jembatan, dan ditambah pula Sungai Tigris sedang meluap hebat.

Ketika melihat pasukan muslimin ternyata sudah berada di tepian timur sungai itu, mereka terkejut luar biasa. Rasa takut dan bayang-bayang kematian segera menyelinap dan meruntuhkan semangat tempur prajurit api setan itu. Akhirnya mereka lari tanpa membawa sesuatu.

Dua pasukan pemukul yang lebih dahulu tiba segera memasuki kota. Ternyata, kota itu sepi dan hanya ada beberapa orang yang berusaha berlindung di sebuah istana putih. Kedua pasukan itu mengepung istana sampai Sa’d dan pasukan induknya tiba.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman kepada mereka yang berlindung di istana putih itu menawarkan salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau perang. Mereka memilih jizyah dan tunduk di bawah perlindungan kaum muslimin. Sa’d menerima dan berdamai dengan mereka. Akan tetapi, beliau menyisihkan keluarga Kisra dan yang ikut bersama mereka, karena dijadikan sebagai ghanimah untuk kaum muslimin dan Baitul Mal.

Sa’d memasuki istana itu sampai menuju balairung, kemudian membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كَمۡ تَرَكُواْ مِن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ ٢٥  وَزُرُوعٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ ٢٦ وَنَعۡمَةٖ كَانُواْ فِيهَا فَٰكِهِينَ ٢٧  كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ ٢٨

“Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah, Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (ad-Dukhan: 25—28)

Kemudian tempat itu dijadikan masjid.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kesesatan kesesatan syiah pada hari Asyura

Hari Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharam. Pada hari tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil dari musuh mereka. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkisah,

قَدِمَ النَّبِىُّ الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ: مَا هَذَا. قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى. قَالَ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Rasulullah datang ke Madinah, ketika itu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau berkata, “Ada apa mereka(berpuasa)?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan di hari ini Musa dan bani Israil dari musuhnya.” Musa pun berpuasa di hari tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa dibandingkan kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa di hari tersebut dan memerintahkan untuk berpuasa di hari tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَصَيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura—aku berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala—akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah tuntunan dalam Islam, disunnahkan bagi kaum muslimin berpuasa di hari Asyura, dan dianjurkan berpuasa juga di tanggal sembilan, hari tasu’a, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika (bertemu) tahun depan, aku akan berpuasa juga di tanggal sembilannya.” (HR. Muslim)

Tuntunan yang ada dalam Islam di hari Asyura adalah berpuasa dan tidak ada ritual apa pun.

Namun, kemudian muncul orang-orang yang melakukan kebid’ahan dalam agama ini. Sebagian mereka menampakkan kesedihan di hari tersebut dan sebagian mereka menampakkan kegembiraan merayakan hari tersebut.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab meninggalnya al-Husain, setan mengadakan dua kebid’ahan bagi manusia;

(1) bid’ah kesedihan dan meratap di hari Asyura dengan menampar pipi, menjerit, menangis, dan membaca syair duka…; dan

(2) bid’ah kegembiraan dan kebahagiaan, mereka menganjurkan di hari Asyura untuk bercelak, mandi, memberi kelapangan untuk keluarga, membuat makanan yang tidak biasa dibuat….

Semua ini adalah kebid’ahan yang sesat, tidak ada satu pun dari imam yang empat mengajurkan bersedih ataupun bergembira.” (Diringkas dari Minhajus Sunnah)

 Bid’ah dan Kesesatan Syiah pada Hari Asyura

Di antara orang yang melakukan kebid’ahan di hari Asyura adalah Syiah, mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung, hari bersedih, dan meratap. Mereka mengaku sedang meratapi meninggalnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Berbagai macam kesesatan dan kemungkaran mereka lakukan di hari tersebut; meratap, menempeleng pipi, wajah bahkan menyayat tubuh-tubuh mereka, melukai kepala, mengucurkan darah-darah mereka, memukul pundakpundak mereka dengan rantai, dan perbuatan mungkar lainnya.

Mereka menampakkan kesedihan pada hari meninggalnya al-Husain, padahal mereka sendiri penyebab meninggalnya. Mereka telah menipunya dan menyerahkan al-Husain radhiallahu ‘anhu hingga beliau terbunuh.

Apa yang dilakukan Syiah di hari Asyura sangat bertentangan dengan akidah Islam. Islam melarang meratap, melakukan perbuatan yang menunjukkan tidak menerima takdir Allah subhanahu wa ta’ala ketika ada musibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukanlah termasuk golongan kami seorang yang menempeleng pipi, merobek kerah baju, dan meratap seperti ratapan jahiliah.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ؛ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Dua hal ada pada manusia, dengan keduanya mereka terjebak dalam kekufuran: mencela nasab dan meratap mayit.” (HR. Muslim)

Apa yang dilakukan oleh Syiah, meratapi meninggalnya al-Husain di setiap hari Asyura dengan melakukan berbagai kemungkaran, sangatlah bertentangan dengan hadits-hadits di atas.

 

Pelajaran Penting dari Kisah Terbunuhnya al-Husain

Ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah, al-Husain tidak berbaiat kepadanya. Ketika orang-orang Irak mendengar berita tersebut, mereka pun mengirim utusan dan surat panggilan untuk berbaiat kepadanya.

Mengapa demikan? Karena mereka tidak menginginkanYazid bin Muawiyah, bapaknya, tidak juga menginginkan Utsman, Umar, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhum. Mereka hanya ingin berbaiat kepada Ali dan anak keturunannya.

Al-Husain kemudian mengutus Muslim bin Aqil bin Abi Thalib untuk berangkat ke Kufah dalam rangka memastikan berita yang sampai kepadanya.

Sesampai di Kufah, Muslim bin Aqil pun yakin bahwasanya mereka menginginkan al-Husain. Orang-orang Kufah pun membaiat Muslim bin Aqil sebagai wakil baiat kepada al-Husain.

Ketika berita ini sampai kepada Yazid bin Muawiyah di Syam, maka Yazid pun mengutus Ubaidillah bin Ziyad untuk menanganinya, mencegah orang Kufah memberontak kepadanya. Ketika datang di Kufah, Ubaidillah bin Ziyad mencari-cari berita hingga dia tahu bahwa rumah Hani bin Urwah yang pernah jadi tempat baiat adalah merupakan tempat tinggal Muslim bin Aqil.

Muslim bin Aqil pun keluar bersama 4.000 pendukungnya (penduduk Kufah???) mengepung istana Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah bin Ziyad berdiri menakut-nakuti mereka dengan kedatangan pasukan dari Syam. Mereka pun pergi meninggalkan Muslim bin Aqil, kecuali tinggal 30 orang saja. Namun, tidak berapa lama beliau tinggal seorang diri. Beliau ditangkap dan diperintah untuk dibunuh. Sebelum dibunuh, Muslim bin Aqil meminta izin untuk menulis surat kepada al-Husain, yang isinya,

Kembalilah engkau bersama keluargamu. Janganlah engkau tertipu oleh penduduk Kufah, karena penduduk Kufah telah berdusta kepadamu dan kepadaku….

Sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada ketika itu sempat meminta beliau untuk mengurungkan niatnya berangkat ke Kufah, menasihati beliau untuk tidak memenuhi panggilan para pengkhianat tersebut.

Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya peristiwa Karbala. Al-Husain dan sebagian keluarga beliau dari ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal di sana. Beliau meninggal dikhianati oleh kalian, wahai Syiah!

Mengapa kalian menampakkan diri sebagai orang yang berduka, padahal kalian yang telah berbuat?!

Demikianlah Syiah Rafidhah….

Makar dan pengkhianatan mereka lakukan, namun mereka menampakkan sebagai seorang yang bersih, sebagai seorang pembela….

Padahal tangan-tangan mereka berlumuran darah kaum muslimin… .

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, sumber keburukan dan musibah adalah Rafidhah dan yang tergabung bersama mereka. Kebanyakan pedang yang ada dalam Islam adalah dari arah mereka, dengan sebab mereka orang-orang zindiq bisa menyembunyikan diri.” (Minhajus Sunnah)

Beliau juga berkata, “Mereka berwala’ kepada musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala, yang semua orang tahu itu adalah musuh, baik Yahudi, Nasrani, atau munafikin. Memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka adalah orang-orang pilihan di agama ini dan tokoh orang bertakwa. Merekalah yang menjadi sebab kaum Nasrani menguasai Baitul Maqdis, sampai akhirnya kaum muslimin merebutnya kembali.”

Di antara makar dan pengkhianatan yang mereka lakukan adalah, makar yang mereka lakukan di musim haji tahun ini. Ratusan kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji meninggal dunia, ratusan lainnya terluka, ketika hendak melempar jumrah di Mina.

Siapa yang berulah?

Mereka Syiah, jamaah Iran yang berbuat, tidak patuh aturan, bahkan di beberapa kesempatan membuat provokasi dan kegaduhan. Lihat, mereka yang berbuat, tetapi justru mereka yang lantang berkata keras kepada pemerintah negeri tauhid.

Justru tokoh Iran, para tokoh Syiah, menghujat penguasa negeri tauhid, dengan berbagai macam tuduhan dan hujatan nista. Inilah di antara makar Syiah kepada kaum muslimin.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

“Mereka berbuat makar dan Allah akan membalas makar mereka, Allah adalah sebaik-baik yang membalas makar.” (Ali ‘Imran: 54)

Jika kita kembali membaca sejarah, maka kita akan dapatkan kejahatan Syiah di tanah suci ketika kaum muslimin sedang menunaikan ibadah haji bukanlah sesuatu yang baru.

Mereka telah berulangkali melakukan makar dan pengkhianatan kepada kaum muslimin di musim haji. Ketika kaum muslimin sedang menunaikan rukun Islam yang kelima.

1985: Mereka menyelundupkan 51 kg bahan peledak C4 di tas jamaah haji.

1986: Mereka terlibat dalam kejahatan yang menyebabkan meninggalnya 300 orang jamaah haji karena saling dorong.

1987: Mereka melakukan pengeboman di Tanah Suci, di depan Masjidil Haram, yang menyebabkan meninggalnya 400 orang haji.

1990: Mereka membunuh para jamaah haji dengan gas yang menyebabkan meninggalnya 1.426 orang.

Bahkan, ada yang lebih dahsyat dari itu semua, yaitu yang dilakukan oleh Syiah Qaramithah pada 317 H, tepatnya di hari Tarwiyah. Mereka membantai 30 ribu jamaah haji. Kubah sumur Zamzam mereka bongkar. Pintu Ka’bah mereka cungkil. Mereka mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya kemudian mereka bawa ke negeri mereka di Ahsa’.

Demikianlah Syiah Rafidhah, mereka adalah kelompok yang lebih jelek dari Khawarij. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mazhab Rafidhah lebih jelek dari mazhab Khawarij yang telah lepas dari Islam. Puncak perbuatan Khawarij adalah mengafirkan Utsman dan Ali radhiallahu ‘anhuma. Adapun Rafidhah, mereka mengafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan jumhur orang-orang terdahulu. Mereka juga menentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari penentangan Khawarij. Mereka berdusta, mengada-ada, ghuluw, dan melakukan berbagai penyimpangan yang tidak ada dilakukan oleh Khawarij. Mereka juga membantu orang kafir ketika melawan kaum muslimin.”

Hendaknya kita waspada dari makar orang-orang Syiah, terlebih sekarang mereka mulai menyusupkan orang-orang mereka ke posisi-posisi strategis. Mereka sebarkan pemikiran Syiah melalui buku, audio-video, pendirian sekolah, bahkan telah berani merayakan perayaan mereka secara terbuka di hadapan khalayak umum.

Kita meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga kita dari kesesatan dan bahaya makar Syiah, memberikan bimbingan kepada kaum muslimin dan penguasa kaum muslimin kepada perkara yang diciantai dan diridhai-Nya.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Berfikih Sebelum Berdagang

Dalam sebuah hadits mauquf, sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan,

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama. ”

 Takhrij

Pembaca, jika sebelumnya hadits yang dikaji adalah hadits marfu’, yakni hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada salahnya apabila kali ini kajian yang dipilih adalah hadits mauquf.

Hadits mauquf adalah riwayat yang dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istilah mauquf juga dapat diberikan untuk selain sahabat, misalnya tabi’in. Hanya saja, harus diberi keterangan tambahan. Contohnya, hadits ini mauquf dari Atha’, Thawus, atau Said bin al-Musayyab.

Jika sebuah riwayat dinyatakan mauquf tanpa keterangan apapun, itu artinya riwayat tersebut dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Muqaddimah Ibnu Shalah (hlm. 27), hadits mauquf didefinisikan sebagai, “Semua yang diriwayatkan dari sahabat, baik ucapan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan) mereka; diriwayatkan secara muttashil (sanad yang bersambung) maupun munqathi’ (sanadnya terputus).”

Artinya, istilah mauquf yang disematkan pada sebuah riwayat tidaklah menentukan nilai sahih atau dhaifnya. Mauquf hanya istilah tentang kepada siapa riwayat tersebut dinisbatkan. Lantas bagaimana halnya dengan riwayat Umar bin al-Khaththab yang akan kita bahas?

At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya (no. 487) menilai riwayat di atas dengan “hasan gharib”. Sanad yang dibawakan melalui gurunya, yaitu Abbas bin Abdul ‘Azhim al-‘Anbari, sampai pada Umar bin al-Khaththab adalah Abbas bin Abdul  ‘Azhim al-‘Anbari, Abdur Rahman bin Mahdi, Malik bin Anas, al-‘Alaa’ bin Abdur Rahman bin Ya’qub, dari ayahnya, dari kakeknya.

Ahli hadits abad ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan riwayat di atas dengan “hasanul isnad”. Jadi, sanad hadits ini hasan. Walhamdulillah.

Apakah hadits mauquf dapat dijadikan sebagai dasar hukum?

Pada dasarnya, hadits mauquf bukanlah alat berhujah. Akan tetapi, ada beberapa bentuk hadits mauquf yang disebutkan oleh ahli hadits mempunyai kekuatan hukum seperti hadits marfu’ . Misalnya berita mengenai umat zaman dahulu, kejadian pada hari kiamat, atau tentang sesuatu yang tidak ada celah berijtihad di sana.

Secara rinci dan detail, pembahasan hadits mauquf tentu dapat diperoleh dari kitab-kitab hadits.

 

Luasnya Fikih Umar bin al-Khaththab

Keputusan yang diambil menjadi bukti luasnya fikih Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Kebijakan tersebut sangatlah diperlukan, sesuai dengan kedudukan dan kewenangan Umar radhiallahu ‘anhu selaku pimpinan tertinggi.

Selain sangat memerhatikan akidah dan praktik ibadah, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidak lupa untuk mengambil langkah-langkah seperlunya untuk maslahat perekonomian umat Islam. Mengapa Umar radhiallahu ‘anhu memutuskan demikian?

Beberapa riwayat menunjuk maslahat kaum miskin sebagai salah satu alasan. Sebab, ketidaktahuan tentang fikih akan membuat para pedagang kurang memerhatikan hak-hak kaum yang lemah. Selain itu, beberapa riwayat juga menyebutkan kekhawatiran praktik riba telah membuat Umar radhiallahu ‘anhu meletakkan aturan dasar seperti itu.

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.”

Ucapan Umar radhiallahu ‘anhu ini mestinya mendorong kita untuk selalu mendoakan beliau radhiallahu ‘anhu. Kata-kata ini jelas membuktikan kapasitas ilmu salah seorang dari empat al-Khulafa’ ar-Rasyidun.

Jika kita berandai kebijakan Umar bin al-Khaththab diterapkan, tentu akan menciptakan kondisi ekonomi yang kuat dan mapan. Hanya saja, praktik penetapannya memang di tangan pihak berwenang. Walaupun demikian, sebagai rakyat muslim, kita yang hendak terlibat dalam aktivitas jual beli, baik di pasar secara langsung maupun secara online, harusnya selalu mengingat kata-kata Umar bin al-Khaththab di atas.

Jangan sekali-kali berdagang atau menjadi pembeli, jika belum memahami fikih jual beli yang terkait secara benar!

 Jual Beli pada Masa Rasulullah

Al-Imam Muslim (no. 102) menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melintasi seorang pedagang bahan makanan. Pada tumpukan bahan makanan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukan tangan sampai ke dasar. Ternyata beliau menemukan basah.

Beliau bertanya ke pemilik bahan makanan, ”Basah apa ini, wahai pemilik bahan makanan?”

Ia menjawab, ”Terkena air hujan, wahai Rasulullah.”

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa engkau tidak meletakkan yang basah itu di bagian atas agar dapat dilihat orang? Barang siapa menipu, ia bukan bagian dariku.”

Kejujuran dalam berjual-beli memang sangat ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejujuran adalah landasan utama untuk mewujudkan pasar yang kondusif, ekonomi yang kuat, dan perdagangan yang sehat. Baik sebagai produsen, distributor, maupun konsumen, setiap pihak diharuskan selalu mengedepankan sikap jujur. Menipu, berbohong, atau menutupi-nutupi, akan merusak keseimbangan pasar.

Si pedagang bahan makanan yang ditegur oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tidak bermaksud menutup-nutupi. Basah yang terletak di bagian dasar bahan makanan merupakan efek dari curahan hujan. Itupun diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nada yang cukup keras. Lantas bagaimana halnya dengan mereka yang jelas-jelas menipu dan sengaja berbohong dalam praktik jual belinya?

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 366) menyebutkan sebuah riwayat Ahmad, ath-Thahawi, dan al-Hakim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh, para pedagang (kebanyakan mereka) adalah orang-orang jahat.”

Para sahabat bertanya, ”Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ، وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Benar demikian. Hanya saja, mereka berbicara namun berdusta, bahkan bersumpah sehingga mereka berdosa.”

Siapa saja di antara kita yang pernah atau bahkan sering bahkan memerhatikan perilaku para pedagang di pasar-pasar umum, pasti menemukan kenyataan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbohong adalah sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Berdusta menjadi bumbu penyedap jual beli. Untuk keuntungan dan laba yang sedikit, cacat atau aib pada barang akan ditutup-tutupi sedemikian rapat.

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 1458) menyebutkan sebuah riwayat al-Baihaqi dari sahabat al-Bara’ bin ‘Azib[1]. Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan menuju Baqi’. Para pedagang yang ditemui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta untuk berkumpul. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا، إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sungguh, pada hari kiamat nanti, para pedagang akan dikumpulkan sebagai orang-orang yang jahat. Kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan jujur.”

Terus terang saja, bukankah semakin sulit untuk menemukan seorang pedagang yang jujur dan tepercaya? Sekalipun ada, dan katakanlah banyak, berapakah prosentasenya bila dibandingkan dengan mereka yang tidak atau kurang jujur? Cobalah hitung, berapakah jumlah pedagang yang bertakwa kepada Allah dan berbuat baik?!

Sekian banyak pedagang begitu jauh dari sikap takwa. Ada yang menggunakan jimat dan rajah, ada yang memakai pengasihan, ada yang menggantungkan harapan dengan fengshui, ada yang berjual beli barang-barang haram, ada yang menjual dengan cara riba, dan sederet bentuk jual beli yang tidak mencerminkan ketakwaan kepada Allah.

Sangat sedikit pedagang yang benar-benar memerhatikan shalat wajib yang lima wajib pada waktunya. Sangat sedikit pedagang yang betul-betul perhatian dengan sedekah dan zakat. Padahal, dengan memperbanyak sedekah, mempersering berinfak, selalu memberi hadiah untuk karyawan, dan selalu mengeluarkan zakat wajib tepat waktunya, akan menutup celah-celah dosa yang diakibatkan aktivitas jual beli.

Sebuah hadits dari sahabat Qais bin Abi Gharazah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Misykah (no. 2798) menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

“Wahai para pedagang, sungguh, jual beli itu kerap kali diikuti oleh perbuatan sia-sia dan sumpah. Oleh sebab itu, tutupilah dengan sedekah.”

Ringkasnya, sikap jujur dalam berjual beli akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi sebab tercurahnya berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah berkah Allah subhanahu wa ta’ala yang hendak dicari? Laba dan keuntungan yang diberkahi akan membuat si pedagang merasakan kenyamanan, qana’ah, dan hidupnya penuh dengan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Selama belum berpisah, penjual dan pembeli masih mempunyai hak khiyar (melanjutkan atau membatalkan proses jual beli). Jika keduanya sama-sama jujur dan berterus terang, jual beli mereka akan diberkahi. Sebaliknya, jika keduanya berbohong dan menutup-nutupi, berkah jual beli mereka akan terhapus.” (HR. al-Bukhari no. 2114 dan Muslim no. 1532 dari Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadits di atas, masing-masing menjelaskan segala sesuatu yang diperlukan oleh pihak yang lain, seperti cacat atau semisalnya, baik pada barang maupun harga.

Di dalam karyanya yang berjudul Bahjat Qulubil Abrar, saat menyebutkan hadits di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, ”Siapa saja yang berdusta dan secara sengaja menutup-nutupi cacat barang atau sifat-sifat lain saat melakukan akad jual beli, selain berdosa, jual beli yang dilakukan akan terjauhkan dari berkah. Muamalah apa pun yang tidak diberkahi, pelakunya pasti merugi di dunia dan di akhirat.” Na’udzu billah.

 Marilah Belajar Fikih Jual Beli!

Seiring perkembangan zaman, semakin bertambahnya masa yang dibarengi dengan kemajuan teknologi dan alat komunikasi serta kemudahan transportasi, sangat sering kita dihadapkan dengan berbagai hal yang “baru” dalam aktivitas jual beli. Belum lagi dalam skala besar, seperti ekspor impor.

Macam-macam jenis transaksi juga terus berganti bentuk. Alat tukar pun demikian. Setelah terjun langsung di dunia usaha, banyak sistem dan metode jual beli yang kita hadapi. Nah, ikhtiar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup, haruslah ditopang dengan pengetahuan fikih jual beli yang cukup. Supaya ikhtiar kita dengan berjual beli tidak terasa kering dan tidak gersang, tetapi sejuk dan menyenangkan, majelis-majelis ilmu mestinya diramaikan dan dimakmurkan.

Tanpa ilmu, akan banyak konflik dan masalah yang bermunculan. Sudah cukup banyak tali persahabatan yang dikorbankan, eratnya persaudaraan yang terurai, dan kasih sayang yang berganti kebencian. Mengapa? Salah paham ketika bertransaksi. Kejahilan tentang fikih jual beli. Tidak memahami adab-adab Islami dalam bermuamalah.

Hasad dan dengki tumbuh subur. Persaingan yang tidak sehat pun terlahir. Saling menjatuhkan antara satu dan yang lain pun terjadi. Muncul pula sikap menghindar dan lari dari kewajiban jual beli. Mengapa sampai terjadi? Di antara sebabnya adalah tidak menuruti nasihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang meminta kita untuk benar-benar memahami fikih beragama, khususnya jual beli.

Seorang tabi’in bernama Atha’ rahimahullah menyatakan bahwa majelis dzikir adalah majelis halal dan haram. Majelis yang menerangkan tentang bagaimana seharusnya engkau berjual beli. Majelis yang menjelaskan tentang tata cara engkau shalat, puasa, menikah, menalak, berhaji, dan yang semisalnya. (al-Adzkar, karya an-Nawawi)

Artinya? Semangat Anda berjual beli harus diiringi semangat thalabul ilmi (menuntut ilmu). Tekad Anda berbisnis mestinya disertai tekad memahami fikih jual beli. Cita-cita Anda untuk membangun usaha, tentu lebih baik jika dibangun di atas ilmu syar’i.

Sebagai penutup, marilah merenungkan sepatah nasihat dari al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berikut ini. “Sungguh, setiap muslim wajib memahami semua hal yang ia perlukan dalam praktik beragama, seperti tentang tata cara bersuci, shalat, dan puasa. Bagi yang memiliki harta, ia wajib memahami tentang zakat, nafkah, haji, dan jihad. Demikian pula bagi yang melakukan aktivitas jual beli, ia wajib mempelajari jual beli yang dihalalkan dan yang diharamkan.” (Majmu’ Rasail Ibni Rajab 1/22)

Kemudian, beliau rahimahullah menyebutkan riwayat Umar di atas!

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.” Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

[1] Sebelumnya, dalam al-Misykah (no. 2799) asy-Syaikh al-Albani tidak menyebutkan penilaian sahih. Setelah membaca riwayat al-Bara’ di atas, beliau lantas menghukuminya sahih. Bahkan, beliau rahimahullah menyampaikan,

“Hendaknya penilaian sahih ini dinukilkan juga di sana (al-Misykah).”

Rasul Itu Manusia, Bukan Malaikat

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.(al-Anbiya’: 7)

Ayat yang serupa terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala surat an-Nahl: 43.

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata bahwa pada kata نُّوحِيٓ mayoritas qurra’ (ulama ahli qiraah) membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah huruf ha’.

Sementara itu, Hafsh bin Ashim menyendiri dalam membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah huruf ha’. Demikian pula ayat yang terdapat pada surat an-Nahl: 43, akhir surat Yusuf: 109, dan awal surat al-Anbiya: 7, semua ayat di atas oleh Hafsh bin Ashim dibaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ya’. Adapun yang lain membacanya يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Adapun pada surat al-Anbiya’: 25, ulama ahli qiraah seperti Hamzah, al-Kisa’i, dan Hafsh membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ha’, dan yang lain membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Pada ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Dia tidaklah mengutus para rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari kaum laki-laki (dari kalangan manusia), dan bukan malaikat.

Orang-orang kafir sangat heran dengan rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari jenis manusia. Menurut mereka, Allah subhanahu wa ta’ala seharusnya lebih mampu daripada sekadar mengutus utusan dari jenis manusia yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Seandainya benar-benar mengutus utusan, Dia pasti akan mengutus dari kalangan malaikat.

Ucapan orang-orang kafir ini disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an. Di antaranya,

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka?(Yunus: 2)

 بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri.(Qaf: 2)

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?(al-Furqan: 7)

وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولٗا ٩٤

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, ”Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul.(al-Isra’: 94)

فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٗا مِّنَّا وَٰحِدٗا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّفِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٍ ٢٤

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita?” (al-Qamar: 24)

فَقَالَ ٱلۡمَلَؤُاْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡكُمۡ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ مَّا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِيٓ ءَابَآئِنَا ٱلۡأَوَّلِينَ ٢٤

Pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.(al-Mu’minun: 24)

وَلَئِنۡ أَطَعۡتُم بَشَرٗا مِّثۡلَكُمۡ إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ٣٤

Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.(al-Mu’minun: 34)

۞قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَدۡعُوكُمۡ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ قَالُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا

Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga.(Ibrahim: 10)

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pula dalam banyak ayat bahwa Dia subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus kepada manusia kecuali seorang utusan dari kalangan manusia juga, yaitu seorang laki-laki yang memakan makanan, berjalan di pasar-pasar, menikah, dan memiliki sifat-sifat manusiawi lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka.(an-Nahl: 43)

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.(ar-Ra’d: 38)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa rasul yang Dia utus berasal dari kalangan manusia dan orang laki-laki. Hal ini tidak bertentangan dengan adanya sebagian malaikat yang menjadi rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.(al-Hajj: 75)

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagi utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan).(Fathir: 1)

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus malaikat kepada para rasul, dan para rasul diutus kepada manusia. Yang diingkari oleh orang-orang kafir (dalam hal ini) adalah diutusnya para rasul (dari kalangan manusia) yang diutus kepada manusia. Inilah yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan (dalam pembahasan ayat ini), yaitu para rasul adalah orang laki-laki dari kalangan manusia.

Hal ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikan malaikat sebagai rasul utusan-Nya. Di antara mereka ada yang diutus membawa wahyu, menggenggam arwah (mencabut nyawa), menundukkan (mengatur) angin dan awan, mencatat amal perbuatan bani Adam, dan lainnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ٥

Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (an-Nazi’at: 5)

Dari ayat di atas dipahami juga bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengutus seorang utusan pun dari kaum wanita. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (al-Anbiya’: 7) ( Adhwaul Bayan, pada tafsir surat an-Nahl: 43)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ayat ini menjadi bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adanya utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka.

Semua rasul yang terdahulu adalah manusia dari jenis laki-laki, tidak ada seorang pun dari kalangan malaikat. Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰٓۗ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.(Yusuf: 109)

قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ

Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (al-Ahqaf: 9)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang umat terdahulu yang mengingkari adanya rasul dari kalangan manusia,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأۡتِيهِمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا فَكَفَرُواْ وَتَوَلَّواْۖ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ٦

Hal itu karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata, “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka ingkar dan berpaling, dan Allah tidak memerlukan (mereka) lagi Maha Terpuji. (at-Taghabun: 6)

Oleh karena itu, pada kelanjutan ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala berfiman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Maksudnya, bertanyalah kepada orang yang berilmu dari umat yang ada dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan semua golongan; Apakah rasul-rasul yang pernah datang kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Mereka itu tiada lain hanyalah manusia (bukan malaikat).

Itulah sebagian dari kesempurnaan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala atas ciptaan-Nya (manusia). Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri agar mereka bisa mengambil apa yang disampaikan oleh para rasul tersebut.

Untuk mempertegas bahwa rasul-rasul itu adalah manusia yang berjasad, memerlukan makan, dan tidak kekal, pada ayat berikutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَٰهُمۡ جَسَدٗا لَّا يَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَمَا كَانُواْ خَٰلِدِينَ ٨

Dan tiadalah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.(al-Anbiya’: 8)

Maknanya, mereka adalah jasad yang memakan makanan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.(al-Furqan: 20

Maknanya, mereka seperti manusia yang lain, memerlukan makan dan minum. Mereka berjalan di pasar-pasar untuk mencari pendapatan dan berdagang.

Hal ini sama sekali tidak memudaratkan dan mengurangi keberadaan mereka (sebagai rasul), sebagaimana anggapan orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ٧ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٨

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” (al-Furqan: 7—8)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal”, maknanya mereka hidup di dunia kemudian mereka wafat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34). (Tafsir al-Qur’an al- ‘Azhim, pada tafsir surat al-Anbiya: 7)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata bahwa ayat ini membantah pernyataan orang-orang yang mendustakan rasul. Mereka berkata, “Mengapa dia bukan malaikat, hingga tidak butuh dengan makanan dan minuman dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa dia tidak kekal? Jika tidak demikian, berarti dia bukan rasul.” Syubhat ini terus bercokol pada diri para pendusta rasul. Kekufuran mereka serupa, demikian pula pemikiran mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menjawab syubhat tersebut berdasarkan kenyataan bahwa mereka mengakui adanya para rasul sebelumnya. Seandainya hanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (yang mereka akui sebagai rasul)—dalam keadaan seluruh golongan menetapkan bahwa beliau adalah nabi dan kaum musyrikin mengaku berada di atas agama dan ajarannya—(tentu hal ini sudah cukup).

Mereka mengakui bahwa para rasul sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (berasal dari kalangan manusia), memakan makanan, berjalan di pasar-pasar. Mereka juga mengakui bahwa para rasul tersebut tertimpa hal-hal yang biasa dialami manusia, berupa kematian dan lainnya. Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul tersebut kepada umat dan kaumnya. Sebagian umat membenarkan mereka, sebagian yang lain mendustakan.

Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membenarkan janji para rasul tersebut, yaitu keselamatan dan kebahagiaan baginya berikut para pengikutnya, serta membinasakan orang-orang yang melampaui batas lagi mendustakannya.

Jika demikian, apa bedanya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mengapa dimunculkan syubhat yang batil untuk mengingkari kerasulan beliau? Padahal, hal yang sama juga ada pada para rasul sebelum beliau yang mereka akui keberadaannya.

Jawaban ini sangat jelas dan mengandung tuntutan bagi mereka. Mereka mengakui adanya rasul dari kalangan manusia, namun (di sisi lain) tidak mengakui kerasulan dari selain manusia. Tentu saja ini adalah sebuah syubhat yang batil. Mereka sendiri yang menyanggahnya, karena mengakui kerusakan dan kontradiksinya.

Jika mereka beralih dari syubhat ini, lantas justru mengingkari sama sekali adanya nabi dari kalangan manusia, dan tidak dianggap sebagai nabi jika dia bukan malaikat yang kekal dan tidak memakan makanan; Allah subhanahu wa ta’ala pun telah menjawab syubhat ini dengan firman-Nya,

وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ ٨ وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ٩

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat? Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.(al-An’am: 8—9)

Di samping itu, manusia tidak memiliki kemampuan mengambil wahyu dari malaikat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا ٩٥

Katakanlah, “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.(al-Isra’: 95)

Jadi, jika kalian masih ragu dan tidak mengetahui perihal rasul-rasul yang terdahulu, “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu,” dari kalangan ahlul kitab terdahulu yang memiliki kitab Taurat dan Injil (Yahudi dan Nasrani). Mereka pasti akan mengabarkan kepada kalian bahwa rasul-rasul itu seluruhnya manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada mereka.

Meskipun sebab perintah bertanya kepada ulama adalah tentang para rasul yang terdahulu, namun ayat ini bermakna umum. Artinya, masalah apa pun yang terkait dengan agama yang tidak diketahui ilmunya, baik yang prinsip maupun yang cabang, hendaknya ditanyakan kepada orang yang mengajari agama.

Jadi, ayat di atas mengandung perintah untuk belajar agama dan bertanya kepada ahlinya. Tidaklah manusia diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama kecuali karena para ulama itu wajib mengajarkan agama dan menjawab sesuai dengan ilmu yang mereka ketahui.

Perintah bertanya masalah agama hanya kepada ahli ilmu (ulama), sekaligus mengandung larangan bertanya kepada orang yang dikenal jahil dan tidak memiliki ilmu. Selain itu, perintah ini juga mengandung larangan bagi orang yang jahil (tidak tahu) untuk tampil (menjawab pertanyaan tentang agama).

Ayat ini juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari kaum wanita yang menjadi nabi. Tidak Maryam, tidak pula yang lainnya. (Taisir Karimur Rahman, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata bahwa ayat ini, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu…,” dijadikan dalil (oleh sebagian orang) tentang bolehnya taklid. Ini suatu kesalahan. Kalau memang benar, maka makna ayat ini adalah (perintah kepada) mereka untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang penjelasan dari al-Kitab dan sunnah, bukan tentang pendapat (ra’yu) mereka semata. Taklid ialah menerima pendapat orang lain tanpa ada hujah (dalil). (Fathul Qadir, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Tanya Jawab Ringkas Edisi 111

Berikut ini adalah jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Mewarnai Rambut & Jenggot yang Beruban

Apakah boleh mewarnai rambut atau jenggot yang telah beruban dengan warna hitam dengan tujuan untuk menyenangkan hati keluarga?

 Jawaban:

Tidak boleh mengubah uban dengan warna hitam, karena nash larangan dalam hadits. Namun, diperbolehkan mewarnainya selain warna hitam. Ketaatan kepada makhluk hanya dalam perkara makruf, bukan dalam kemungkaran.

 


Akibat Chatting

Ini kisah saudara saya. Saudara saya dulu suka chatting dengan wanita. Awalnya ada seorang wanita yang mengaku masih gadis. Berjalan selama sebulan, saudara saya ini mencintai wanita tersebut. Dua bulan kemudian, ternyata wanita ini jujur telah bersuami dan memiliki dua anak. Akan tetapi, saudara saya ini sudah sangat mencintainya. Si wanita juga sangat mencintai dan sering kepergok oleh sang suami. Namun, mereka berdua tetap berhubungan.

Selang satu tahun, mereka bertemu dan berbuat hal yang tidak diinginkan beberapa kali. Si istri meminta cerai, karena ingin menikah dengan saudara saya. Saudara saya pun ingin menikah dengan si perempuan tersebut. Bolehkah mereka menikah, ustadz? Saudara saya sudah bertobat dan sangat ingin menikahi perempuan tersebut untuk menebus dosa yang pernah mereka lakukan.

 

  • Jawaban:

Tidak boleh menikah dengan si wanita kecuali apabila telah bercerai dengan suaminya dan tidak dirujuk hingga selesai masa iddahnya.

Apabila wanita tersebut hamil karena perzinaan dengan laki-laki tersebut, keduanya tidak boleh menikah hingga janin lahir, menurut pendapat yang rajih.

Yang menikahi wanita tersebut hanya laki-laki yang berzina dengannya saja, karena kaum muslimin diharamkan menikah dengan wanita tersebut dengan nash al-Qur’an; kecuali apabila dia telah bertobat yang nasuha.

 


Membayar Utang Orang Tua atau Berkurban?

Manakah yang lebih utama dilakukan terlebih dulu, antara berkurban pada hari raya Idul Adha atau membayar utang orang tua?

 

  • Jawaban:

Ada beberapa keadaan:

  1. Apabila orang yang diutangi menuntut segera dilunasi, lebih didahulukan membayar utang orang tua, karena terkait dengan hak Bani Adam.
  2. Apabila ada kelonggaran dalam pelunasan, sementara sudah dekat waktu berkurban dan sudah memiliki kemampuan, laksanakan ibadah kurban, karena sangat dianjurkan.
  3. Apabila ada kelonggaran pelunasan dan waktu kurban masih jauh, Anda lakukan kedua hal tersebut; membayar utang orang tua dan siapkan dana untuk kurban pada waktunya.

 


Wali Nikah Adik Laki-Laki Ayah Seibu

Seorang wanita janda menikah dengan seorang pria. Namun, yang menjadi wali nikah adalah adik laki-laki ayah janda tersebut yang satu ibu beda bapak dengan ayah sang janda. Ayah wanita janda sudah menyerahkan perwalian kepada adiknya tersebut lantaran sang ayah tidak bisa datang untuk menjadi wali nikah. Apakah sah pernikahan wanita tersebut?

 

  • Jawaban:

Insya Allah sah, karena termasuk wali nasab dari pihak bapak karena perwalian sudah diserahkan.


 

Tugas Negara & Perintah Orang Tua

Antara tugas negara dan perintah orang tua, mana yang lebih berhak ditaati?

 

  • Jawaban:

Ada rincian:

  1. Apabila tugas negara bersifat fardhu ‘ain untuk maslahat agama, negara, atau rakyat, hal itu lebih didahulukan daripada orang tua. Contohnya, jihad yang fardhu ‘ain.
  2. Apabila tugas negara selain fardhu ‘ain dan ada saudara atau famili yang bisa mengurus segala keperluan orang tua, atau orang tua bisa mandiri, didahulukan tugas negara karena maslahatnya umum; lebih afdal lagi apabila direstui orang tua.
  3. Seperti poin ke-2, tetapi orang tua sangat tidak ridha, maka hak orang tua lebih didahulukan dengan dasar hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam Shahihain yang menyebutkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih Allah subhanahu wa ta’ala cintai daripada berjihad.
  4. Apabila tugas negara mengandung unsur kemaksiatan, rakyat tidak boleh menaatinya.

 


Hadits Doa Kaffaratul Majlis

Saya pernah membaca hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata, ‘Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di suatu tempat, membaca al-Qur’an, atau melaksanakan shalat, kecuali beliau akhiri dengan membaca kalimat.’

Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu tempat untuk membaca al-Qur’an atau mengerjakan shalat kecuali Anda akihri dengan beberapa kalimat?’

Jawaban beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Benar, barang siapa yang mengucapkan kebaikan, maka dengan kalimat tersebut akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa mengucapkan kejelekan, maka kalimat tersebut akan menghapus dosa. Itulah ucapan, ‘Subhanakallahumma wa bihamdika….dst.’ (HR. Nasai dalam Sunan Kubra 9/123/1006, Thabrani dalam ad-Dua no. 1912, Sam’ani dalam Adab al-Imla’ wa al-Istimla’ hlm. 75)

Sahihkah hadits ini?

 

  • Jawaban:

Hadits tersebut sahih dan dikenal dengan doa kaffaratul majlis (penutup majelis).

 


Lupa Tasyahud Awal

Ketika shalat, kita lupa untuk duduk tasyashud pada rakaat kedua. Apa yang kita lakukan, apakah menambah rakaat atau cukup dengan sujud sahwi?

 

  • Jawaban:

Apabila sudah berdiri sempurna, Anda langsung melaksanakan rakaat berikutnya, tidak duduk kembali. Sebelum salam, Anda melakukan sujud sahwi.


 

 

Sejarah Berbicara

Syiah memiliki rekam jejak sangat buruk dan kelam dalam sejarah pelaksanaan ibadah haji. Mereka kerap kali melakukan kekacauan yang menimbulkan korban jiwa kaum muslimin yang sedang khusyuk menunaikan ibadah haji.

Berikut ini beberapa peristiwa berdarah dari sekian banyak kekacauan yang dilakukan oleh Syiah sepanjang sejarah.

 

312 H

Di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qirmithi, pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji di Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Merampas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/149)

 

317 H

Abu Thahir al-Qirmithi memasuki Masjidil Haram pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya:

  • Membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kiswah Ka’bah.
  • Merampas harta mereka. Tidak hanya itu, Abu Thahir al-Qaramithi kemudian memerintahkan jasad jamaah haji yang mereka bunuh itu dimasukkan ke sumur Zamzam. Lahaula wala quwwata illa billah.
  • Melepas kiswah (kain penutup Ka’bah –red.) dan pintu Ka’bah.
  • Dengan pongah mencuri Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya pulang ke kerajaan mereka. Hajar Aswad tetap berada di sana sampai 339 H (selama kurang lebih 22 tahun). (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/160)

 

1406 H/1986 M

Jamaah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jamaah yang berjumlah 500 orang itu menyembunyikan bahan peledak jenis C4 pada bagian bawah tas mereka. Ketika disita petugas dan dikumpulkan, beratnya mencapai berat 150 kg.

 

1407 H/ 1987 M

Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, didukung oleh jamaah haji Syiah dari Arab Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H.

Mereka mengafirkan dan mengancam Kerajaan Arab Saudi sambil membawa poster Khomeini. Demonstrasi ini membuat arus jamaah haji tersumbat dan hanya membentuk pusaran. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 orang di antaranya adalah petugas keamanan.

Kerusuhan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak; serta ratusan ribu jamaah haji terhambat melaksanakan manasik.

 

1409 H

Anggota Hizbullah bekerja sama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah. Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat Kedubes Kuwait di Saudi yang ternyata penganut Syiah.

Para pelaku peristiwa itu oleh Syiah disebut-sebut sebagai syuhada dan dinobatkan sebagai para wali.

 

1410 H

Kejahatan Syiah kembali terjadi dalam bentuk menyemprotkan gas beracun kepada para jamaah haji di terowongan al-Mu’aishim, yang menyebabkan ribuan jamaah haji meninggal dunia.

 

Masih banyak lagi rentetan peristiwa kejahatan Syiah di Tanah Haram pada musim haji. Catatan di atas hanyalah rekaman singkat peristiwa berdarah yang dilakukan oleh Syiah di Tanah Haram, pada bulan Haram, ketika musim haji. Sebab, bagi Syiah, Makkah memang sudah tidak ada kehormatannya.

Kejanggalan-kejanggalan yang Menarik untuk Dicermati

Di luar dugaan, jumlah korban meninggal Tragedi Mina kali ini sangat besar, ditambah korban cedera dan luka-luka. Tampaknya ada yang tidak wajar. Mengapa?

Dahulu saat jamarat masih sempit dan tidak seluas sekarang, ketika terjadi insiden desak-desakan, jumlah korban meninggal tidak sampai di atas 200 jamaah.

Petugas haji Arab Saudi yang diturunkan saat ini sangat banyak dan sangat lebih dari cukup. Mereka sigap dan tangkas bekerja di lapangan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka adalah para petugas yang terlatih, profesional, dan berpengalaman.

Komitmen Pemerintah Arab Saudi tidak main-main dalam memberikan khidmat terhadap Haramain dan pelayanan haji. Biaya besar dikeluarkan, berbagai saran dan masukan diterima dengan lapang dada, serta berbagai evaluasi dan perbaikan pelayanan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Bahkan, ada departemen dan kementerian khusus yang mengatur urusan haji dan pengelolaannya.

Di antara hasil nyatanya, dalam waktu 10 tahun terakhir hampir-hampir tidak terdengar ada musibah yang berarti. Tentu saja, itu semua berkat karunia Allah subhanahu wa ta’ala Sang Pencipta dan Pemelihara manusia beserta jagat raya ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pada jam yang sama dengan waktu kejadian tragedi Mina kemarin, arus jamaah memang padat. Namun, karena tertib dan teratur, semuanya berjalan dengan lancar. Jamaah haji bisa melempar jumrah dengan tertib, lancar, dan aman.

Tragedi kemarin terjadi bukan di jalan utama, melainkan di jalan cabang, di tengah perkemahan resmi jamaah haji, sebagaimana dilaporkan oleh Jubir Resmi Pemerintah Arab Saudi. Penumpukan jamaah dalam jumlah besar di jalan cabang tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain itu, tempat TKP masih sangat jauh dari Jamarat, kurang lebih 2 km. Korbannya kemungkinan besar adalah jamaah haji resmi yang memiliki tenda resmi.

Jadi sekali lagi, insiden bukan di Jamarat, bukan pula di jalur utama pejalan kaki. Biasanya di jalan cabang ini, minim kerawanan insiden. Tingkat kepadatannya pun tidak seperti di jalur utama pejalan kaki. Kalau jamaah berjalan searah, walaupun dalam jumlah banyak, insya Allah aman dan lancar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Sangat besar kemungkinan bahwa tragedi memilukan ini memang sudah direncanakan sedemikian rupa. Ada orang-orang yang disiapkan untuk membuat kegaduhan dan keributan, kemudian sudah disiapkan pula pernyataan-pernyataan politiknya.

Jelas ada kepentingan besar untuk menjatuhkan Arab Saudi di mata internasional. Musim haji merupakan waktu yang sangat tepat untuk membuat kegaduhan. Cara itu sangat efektif untuk memojokkan Pemerintah Negeri Tauhid tersebut.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa tragedi berawal dari jamaah haji Iran yang sengaja bergerak melawan arus. Sebagaimana dilaporkan media, salah seorang pimpinan Jamaah haji Iran mengakui, gerakan 300 jamaah haji Iran yang melawan arus menjadi sebab di balik tragedi Mina.

Iran sangat berkepentingan untuk membuat keributan pada musim haji, untuk menjatuhkan Arab Saudi, menyusul kekalahan Syi’ah Hutsi di Yaman dukungan Iran. Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, bala tentara tauhid berhasil memukul mundur kaum Syi’ah Hutsi di Yaman.

Dilaporkan oleh salah satu media, mantan diplomat Iran mengungkap rencana intelijen pemerintah Iran untuk mempermalukan Kerajaan Arab Saudi dengan merusak pelaksanaan haji di musim ini. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen ISIS dan beberapa elemen yang berada di bawah intelijen Iran.

Dinyatakan pula oleh mantan diplomat Iran tersebut bahwa pemerintah Iran telah menyepakati cara dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji. Pemerintah Iran juga bersepakat bahwa sekiranya tidak bisa menimbulkan keributan pada musim haji tahun ini, mereka akan kehilangan kesempatan dan harapan untuk membalas kekalahan sekutu mereka di Yaman (kelompok Hutsi) yang diserang oleh koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi.

Mantan diplomat Iran tersebut juga menuturkan bahwa rencana ini telah dibahas dalam sebuah pertemuan, sepekan setelah bulan suci Ramadhan. Hadir dalam perencanaan tersebut adalah Ali Khamenei, beserta dengan pejabat-pejabat keamanan Iran seperti Qasem Sulaimany, Ali Akbar Wilayaty, Ali Larijani, dan Alauddin Baroujerdi. Pertemuan tersebut digelar selama berjam-jam.

Tepat sehari sebelum tragedi Mina, ketika jamaah haji kaum muslimin sedang khusyuk melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, sebuah akun facebook milik Hassan M. Assegaf menebar provokasi melakukan pergerakan. Ternyata isi tulisan di facebook milik Irancorner Hassan M. Assegaf itu sama persis dengan isi akun resmi IJABI Pusat; diposting sehari sebelum tragedi Mina. Berikut ini petikannya.

 RAFIDHAH MELAWAN ARUS MENUJU KEMATIAN

Hasan M. Assegaf

23 September pukul 11:36

Hari ini, …..

Mereka tidak bergerak menuju Mina, tapi Karbala.

Mereka tidak berdoa untuk diri, melainkan sesama.

Mereka tanggalkan kain ihram, tapi mereka kenakan kain kafan.

Mereka tidak serahkan hewan sembelihan, melainkan leher yang terlentang.

Hari ini semua yang menyeru Tuhan berharap kembali pada tanah air mereka, kecuali satu umat saja.

Mereka bergerak menuju kematian. Itulah Arafah yang sesungguhnya, pengakuan akan kebesaran Dia.

Mereka bergerak menuju syahadah. Itulah Mina, cinta yang sejati, rindu yang sebenarnya.

Mereka bergerak menuju altar kepasrahan. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Ya Husain!

Ya Husain!

Ya Husain!

(https://www.facebook.com/pazdaran/posts/10204881985163566?pnref=story)

 

Patut kita renungkan….

Bertahun-tahun pemerintah Arab Saudi memberi pelayanan tanpa insiden. Pernahkah ada yang memberi apresiasi? Khususnya Iran, pernahkah mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih pada saat musim haji yang telah lalu yang berlangsung sangat tertib dan khidmat?

Namun, mengapa begitu ada musibah, Iran tidak menampakkan keinginan membantu pemerintah Saudi, tetapi justru berlaku murka. Itu ditandai dengan kecaman Ali Khameini terhadap pemerintah Arab Saudi.

Ada apa di balik ini semua?

Di mana suara kaum liberal, Syiah, dan orang yang menyimpang hatinya kala pemerintah Arab Saudi bertahun-tahun mampu dan sangat perhatian terhadap keberlangsungan ibadah haji dengan penuh khidmat? Adakah mereka mengapresiasi pemerintah Saudi?

Tahun ini pun pelayanan pemerintah Arab Saudi terhadap jamaah haji tidak ada yang berkurang, bahkan makin meningkat. sebagaimana diakui oleh para jamaah haji.

Namun, tidak ada seorang pun yang bisa melawan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan hikmah dan keadilan-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya tragedi ini.

Sungguh bertentangan dengan agama dan akal yang sehat, apabila tragedi ini dijadikan alasan untuk memojokkan dan menjatuhkan Arab Saudi, seraya melupakan berbagai jasa baik yang sangat banyak, bahkan lupa atas kekuasaan dan keadilan Allah ‘azza wa jalla.

Memberikan pelayanan untuk dua tanah haram merupakan kehormatan bagi Arab Saudi. Raja Salman bin Abdul Aziz berkata, “Allah telah memuliakan Kerajaan Arab Saudi untuk memberikan pelayanan kepada dua Tanah Haram yang mulia. Kami tegaskan tekad kami untuk mengokohkan persatuan dan tidak membiarkan adanya tangan-tangan tersembunyi yang bermain!” (Dikutip oleh @SaudiNews50)

Itu semua semata-mata berkat karunia dan rahmat Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi Pemerintah Arab Saudi, serta membimbing mereka untuk selalu di atas kebenaran.

Amin Ya Rabbal Alamin.

[Lagi] Syiah Berulah Mina Berdarah

Duka kembali menyelimuti kaum muslimin. Ratusan jamaah haji meninggal dalam sebuah insiden di Mina dalam rangkaian ibadah haji 1436 H. Musibah ini memang terasa menyesakkan, karena sudah terjadi sekian kali. Apalagi musibah ini didahului musibah ambruknya crane beberapa hari sebelumnya.

Peristiwa ini menimpa jamaah haji, di Tanah Suci pula. Tentu bisa dibayangkan, hal ini menjadi kabar gembira bagi kalangan nonmuslim. Bahkan, bisa dijadikan pembenar bagi keyakinan atau akidah mereka.

Namun, sebagai seorang muslim, sikap pertama yang mesti dikedepankan, walaupun tampaknya pahit, adalah bertawakal. Ini adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa kita tolak. Berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menentukan yang terbaik.

Salah satunya, peristiwa ini kemudian menyingkap siapa dan bagaimana peristiwa ini terjadi. Lagi-lagi jamaah haji Iran (baca: Syiah) yang berada di balik ini semua. Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi-aksi berdarah Syiah dalam musim haji di Tanah Suci. Makkah nyata-nyata tak dianggap suci oleh para penganut Syiah.

Sejarah menjadi saksi betapa Syiah telah melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin. Tak hanya dalam satu, dua, atau tiga dekade silam, tapi berabad-abad yang lalu, Syiah telah menodai Masjidil Haram dengan darah ribuan kaum muslimin. (Lihat: Sejarah Berbicara)

Jamaah haji yang meninggal lebih dari seribu orang. Dengan gegap gempita, sebagian pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan, lantas dengan nyaringnya menyalahkan pihak lain.

Orang-orang yang sangat membenci Arab Saudi atau Wahabi, kemudian ikut kegirangan saat banyaknya hujatan dialamatkan ke Arab Saudi, terutama kalangan sufi, pecinta kubur, dan sejenisnya.

Suara nyaring itu intinya menggugat “ketidakbecusan” pemerintah Arab Saudi sebagai khadimul haramain (pelayan dua tanah suci). Desakan internasionalisasi pelaksanaan ibadah haji dicitrakan menguat oleh media-media yang juga asbun, walaupun sejatinya hanya usulan segelintir pihak. Pelaksanaan ibadah haji “semestinya” tidak hanya melibatkan pemerintah Arab Saudi, tetapi juga negara-negara Islam lain yang tergabung dalam OKI. Demikian kata mereka. Sebuah opsi yang sangat berisiko ditunggangi kepentingan politis.

Untuk menegaskan “ketidakbecusan” Arab Saudi ini, ditampilkanlah berita bahwa musibah ini disebabkan iring-iringan putra Raja Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. Berita ini “diperkuat” dengan tayangan video saat sang pangeran melakukan ibadah haji. Namun, kemudian terbukti bahwa berita ini tidak benar.

Yang lebih lucu adalah tuntutan transparansi pelaksanaan ibadah haji, seolah-olah dana pelaksanaan haji jadi ajang korupsi. Padahal pemerintah Arab Saudi tidak mencari profit apa pun dari pelaksanaan ibadah haji. Dana triliunan rupiah digelontorkan guna memperbaiki sarana dan prasarana ibadah haji dari tahun ke tahun.

Semua itu gratis demi berkhidmat (pelayanan) kepada jamaah haji. Tuduhan bahwa pemerintah Saudi berambisi untuk meningkatkan devisa negara melalui proyek raksasa ini, jelas tuduhan tak bertanggung jawab.

Seluruh pemasukan selama pelaksanaan haji masuk ke pihak swasta atau masyarakat setempat. Dari hotel, penginapan, belanja jamaah, jelas tidak masuk ke kas negara. Padahal, secara kasatmata, pelaksanaan ibadah haji jelas menyedot dana yang tidak sedikit.

Mampukah pemerintah negara lain menyelenggarakan ibadah haji secara swadana dan tanpa korupsi? Pertanyaan ini seharusnya menjadi pijakan kita becermin sebelum kita latah menyalahkan pihak lain.

Demi pelayanan haji ini, dana besar memang harus dikeluarkan. Memperluas Masjidil Haram berikut fasilitasnya, penataan kota Makkah, dan sebagainya, jelas bukan proyek kecil-kecilan. Apalagi ini dilakukan di tengah keramaian jamaah haji dan umrah di kota Makkah yang tak pernah sepi.

Beberapa flyover dibangun untuk mengurai risiko kemacetan. Itu pun selesai dalam waktu cepat. Hasilnya, kemacetan jarang sekali ditemui saat musim haji. Kalaulah ada, biasanya saat hari haji yang banyak kendaraan tidak tertib dan parkir di bahu jalan.

Soal air, Pemerintah Arab Saudi juga tak kurang-kurang memaksimalkan teknologi penyulingan air laut. Hasilnya, tak ada istilah kekurangan air di negara yang sejatinya sangat kering ini. Namun, asbun tetaplah asbun.

Ketika ada satu hotel jamaah haji yang krannya macet, beritanya demikian heboh sampai tanah air. Seolah-olah tragedi kemanusiaan bernama kran macet itu terjadi di seluruh Timur Tengah.

Demikian juga ketika ada satu kamar terbakar yang itu adalah faktor keteledoran jamaah haji sendiri. Berita di tanah air melebihi kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Kesigapan tenaga, terutama tim kesehatan Arab Saudi, memang patut diapresiasi. Mengurus dan mengatur jamaah haji yang jumlahnya hampir 3 juta jiwa tidaklah mudah. Butuh kerja keras dan manajemen luar biasa, yang dilakukan atas dasar ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Peristiwa crane misalnya. Dalam hitungan 2 jam, area TKP sudah bisa dipergunakan kembali. Demikian juga dengan area Mina pascamusibah. Hanya dalam hitungan 5—6 jam, TKP bisa dilalui kembali. Padahal proses evakuasi ribuan jamaah dilakukan di tengah derasnya arus manusia. Bahkan, banyak jamaah haji yang tidak menyadari bahwa baru saja terjadi peristiwa yang menelan banyak korban jiwa.

Bayangkanlah kecelakaan di jalan raya yang melibatkan beberapa kendaraan bermotor saja. Butuh sekian jam agar lalu lintas bisa normal kembali. Ini tentu patut menjadi catatan kita semua.

 

Kronologis Kejadian Mina

Sejumlah saksi mata di lokasi tragedi Mina mengatakan bahwa insiden diawali ketika para jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan melewati dan menerobos rute jamaah lainnya seraya menyerukan ide revolusi Iran.

Mereka menolak diatur saat diminta oleh para petugas haji untuk kembali ke rute yang sudah ditentukan. Otoritas keamanan Arab Saudi mengatakan bahwa penyebab insiden Mina lantaran jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Hal seperti ini selalu terjadi setiap tahun.

“Jamaah Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi, kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya musibah Mina,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi seperti dikutip akun @ SaudiNews50, Kamis (24/9).

Petugas haji IRAN mengatakan kepada harian Syarq Ausath bahwa 300 jamaah haji Iran menyalahi pengaturan gelombang melempar. Hal ini menyebabkan dorong-mendorong di jalan 204 yang mengakibatkan seribuan orang wafat (131 orang dari jamaah Iran).

Para saksi mata mengungkapkan bahwa mereka sering menyaksikan jamaah

haji Iran mempropagandakan hal yang mereka sebut “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain.

“Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah untuk bentrok antarjamaah dan pasukan keamanan Arab Saudi.”

Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan bahwa jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, padahal seharusnya melalui jalur lain. Tentu saja, arus jamaah haji Iran ini berlawanan arah dengan arus jamaah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah…. Terjadilah musibah Mina tersebut.

Jadi, sangat ironis ketika pemerintah Iran menampilkan diri sebagai pihak yang menuntut, menghujat, dan menyalahkan pemerintah Arab Saudi.

 

(disarikan dari berbagai sumber)

Islam Nusantara Penerus Islam Liberal

Umat Islam di Indonesia yang masih mencintai al-Qur’an dan as-Sunnah, kian dibuat sakit hati dengan munculnya orang-orang yang memiliki keyakinan bebas berbicara atas nama agama seenaknya. Merekalah orang-orang liberal yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL).

Para liberalis seperti mereka memiliki pemikiran bahwa agama Islam bisa dibuat warna-warni, tergantung pada penafsirnya. Menurut mereka, kita bisa menafsirkan agama sesuai dengan akal dan pemikiran yang kita miliki. Semua orang tidak boleh mengklaim bahwa penafsirannya paling benar.

Jika demikian yang mereka inginkan, sungguh hal ini mengerikan. Orang bisa menafsirkan agama Islam sesuai selera masing-masing; sementara semua orang wajib saling menghormati penafsiran setiap individu. Artinya, kebenaran yang diyakini oleh seseorang bisa jadi benar, bisa jadi pula salah. Lebih parah lagi: agama Islam belum tentu benar, karena agama lain bisa jadi memiliki kebenaran.

Astaghfirullah. Mereka tidak meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar. Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh nonmuslim, bisa dimaklumi. Akan tetapi, mereka menyatakan diri sebagai muslim. Sebagian mereka membanggakan diri sebagai anggota salah satu ormas Islam besar di Indonesia.

Berawal dari obrolan di Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, mereka membuat sebuah forum sederhana. Tokoh liberal pun bermunculan, seperti Goenawan Mohamad (redaktur senior Majalah “Tempo”), Akhmad Sahal, Nong Darol Mahmada (aktivis perempuan), M. Luthfi Assyaukani, dan Ulil Abshar Abdalla—yang sebenarnya diharapkan menjadi tokoh kiai Nahdhatul Ulama (NU).

Forum tersebut pada hakikatnya adalah kumpulan pegandrung sastra, seni, teater, musik, film, dan seni rupa. Awalnya mereka berbicara di dunia maya lewat milis (mailing list). Kemudian berlanjut di radio-radio dengan tema “Agama dan Toleransi”. Jalur media cetak juga mereka tempuh dengan menulis bahasan “Kajian Islam”.

Melalui media cetak, muncul tokoh seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaludin Rakhmat, Masdar F. Mas’udi, dll. Mereka selalu membahas pengutakatikan masalah agama yang tidak perlu dibahas, di antaranya tentang emansipasi wanita, perbandingan antaragama, dan kebebasan dari kungkungan agama tertentu. Sebuah harian yang terbit di Surabaya menampilkan rubrik khusus satu halaman yang menampilkan kajian liberal. Demikian pula beberapa harian lokal di bawah manajemennya.

Berikutnya, muncul secara resmi situs liberal www.islamlib.com yang dipublikasikan pada akhir Juli 2001. Dengan situs tersebut, kaum liberalis menegaskan bahwa mereka mengusung pemikiran Islam liberal.

Tentu saja, pihak yang diuntungkan dalam kondisi ini adalah para musuh Islam dari kalangan kaum kafir Yahudi dan Nasrani, para politikus dan orang-orang yang hanya memiliki pemikiran nasionalis tanpa berpikir tentang agama.

Upaya yang dilakukan oleh JIL sudah pernah dilakukan oleh sekian banyak pihak, tetapi tidak berhasil. Di antaranya Musthafa Kemal Ata Turk yang dikenal sebagai “Bapak Turki”. Dia berupaya menjadikan Islam memiliki warna budaya Turki murni, seperti azan dengan bahasa Turki. Siapa pendukungnya? Michel Aflaq, seorang Nasrani.

Demikian pula Islam Liberal. Mereka didukung oleh penyandang dana asing sehingga jaringannya semakin besar. Sebagian pihak yang merasa diuntungkan oleh adanya Islam Liberal memberi bantuan dana lantaran khawatir akan munculnya “Islam Radikal” atau Islam fundamentalis. Sebenarnya, yang mereka maksud adalah kekhawatiran munculnya Islam yang bersungguh-sungguh mengamalkan agamanya.

Ini adalah hal yang aneh. Jika mereka adalah orang kafir, kemudian takut dengan Islam yang sesungguhnya, itu wajar. Namun, jika mereka juga sesama muslim, apa yang dikhawatirkan? Sebab, jika Islam ditegakkan, sungguh kehidupan akan damai, indah, dan mengayomi seluruh masyarakat, bahkan nonmuslim sekalipun. Jika Islam ditegakkan, nonmuslim mendapatkan perlindungan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًاوَفِي رِوَايَةٍ: ذِمِّيًّالَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa membunuh seorang kafir mua’had, tidak akan mencium wangi surga.”

Mengapa harus khawatir dan takut dengan agama Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, lengkap, dan penuh rahmat?

Mereka khawatir, jika Islam fundamentalis bangkit, akan membahayakan dan membantai mereka. Padahal, yang mereka khawatirkan tidak muncul dari Islam, tetapi dari pemikiran sesat, baik Syiah maupun Khawarij yang ekstrem dan ghuluw.

Demikian sekilas perkembangan kaum Islam liberal. Bermula dari obrolan, siaran, tulisan, pembentukan jaringan, hingga pemaksaan pemikiran dengan menuduh orang-orang yang bersemangat belajar agama Islam dengan tuduhan yang buruk.

Ada sedikit perbedaan antara kaum liberal di Indonesia dan di negeri Barat. Kaum liberalis di negeri barat diisi oleh orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti ajaran agama mana pun, baik Nasrani, Yahudi, maupun Islam. Sampai-sampai mereka berupaya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis dan menyerukan penerimaan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Adapun kaum liberal di Indonesia masih menggunakan nama Islam, Islam liberal. Akan tetapi, pemikiran yang mereka serukan mirip: reaktualisasi Islam, persamaan gender, dan lainnya. Menurut pikiran mereka, al-Qur’an tidak adil. Aturan hukum waris harus diubah karena dianggap tidak adil.

Setelah itu, muncul M. Quraish Shihab dengan bukunya, Membumikan Al-Qur’an, yang bertujuan memunculkan Islam yang sesuai dengan budaya bumi persada Indonesia. Berikutnya, muncul Islam Nusantara, bentuk Islam khusus yang dirombak dan disesuaikan agar sesuai dengan kondisi di Nusantara, Indonesia.

Sekian banyak kelompok di atas memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin menunjukkan Islam toleran, Islam yang lembut, Islam yang mengayomi; bukan Islam yang kaku, Islam Arab, Islam yang hanya bertujuan untuk perang. Mereka menginginkan agama Islam sesuai dengan budaya Indonesia yang lembut. Padahal dengan melihat berita, kita tahu bahwa hampir setiap hari di Indonesia terjadi pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, dan kasus kriminalitas yang lain.

Demikianlah keadaan umum sebuah negara, ketika tidak dibimbing oleh agama, ia akan hancur. Namun, ketika dibimbing oleh agama, negara itu akan aman, tenteram, damai, dan sejahtera.

Oleh karena itu, jangan menyalahkan dan menuduh bahwa agama menyebabkan negara menjadi kacau sehingga muncul keinginan untuk merombak agama.

Orang kafir di Amerika saja punya slogan, “Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta kemerdekaan.” Maksudnya, mereka mencintai kedamaian, tetapi siap berperang untuk mempertahankan kedamaian tersebut.

Jadi, sebenarnya mereka sepakat bahwa perang diperlukan untuk menegakkan kedamaian. Jika kaum liberalis Indonesia menentang peperangan, lantas bagaimana cara pemerintah memerangi para pemberontak? Karena itulah, jihad diperlukan. Inilah yang disyariatkan oleh Islam yang sempurna dan lengkap.

Said Agil Siraj pada awal kepulangannya ke Indonesia dari studinya sempat mengatakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pikun. Mulai dari situ, disinyalir bahwa orang ini akan menjadi orang berbahaya pemikirannya. Akhirnya, saat ini, setelah menjadi pemimpin ormas besar di Indonesia, dia mulai berbicara hal-hal yang aneh.

Di antara pernyataannya ialah Islam Nusantara lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab. Apa yang dimaksud Islam Arab oleh Said? Apakah Islam yang menggunakan al-Qur’an yang berbahasa Arab? Ataukah agama Islam yang diajarkan oleh orang Arab?

Padahal sudah kita ketahui, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab, dari suku Quraisy, bani Hasyim, keturunan Nabi Ismail q. Lantas, apa yang dipermasalahkan?

Jika orang Indonesia beragama Islam, orang Arab beragama Islam, orang dari negara lain juga beragama Islam, seharusnya orang Islam di dunia seperti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Kalian semua dari Adam, sedangkan Adam dari tanah.”

Tidak ada keutamaan orang Arab di atas ajam, tidak ada keutamaan orang ajam di atas orang Arab kecuali dengan ketakwaan.

Oleh karena itu, hendaknya jangan kita permasalahkan beda Islam Arab, Islam Indonesia, ataupun Islam Turki. Yang dipertanyakan, apakah sebuah amalan berasal dari agama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Qur’an, dan as-Sunnah? Jika ya, amalan tersebut berlaku untuk seluruh bangsa dan negara di dunia.

Kalimat dan tuduhan seperti di atas yang sejatinya menjadi pemicu perpecahan. Dampaknya, orang yang tidak mendalami agama Islam mulai meragukan dan mempertanyakan syariat Islam. Salah satunya menyatakan bahwa hijab muslimah adalah budaya Arab sehingga tidak perlu digunakan oleh bangsa lain. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ditemukan bahwa hijab juga bukan budaya Arab. Budaya Arab dalam berpakaian sebelum Islam datang adalah penggunaan pakaian yang terbuka. Dengan datangnya Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita menutup aurat.

Agama Allah subhanahu wa ta’ala itu dari Allah subhanahu wa ta’ala, disampaikan oleh utusan-Nya, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah (hlm. 113), “Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan Nabi-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya lewat ajaran Nabi-Nya. Agama ini sudah sempurna, tidak perlu tambahan untuk Islam dan umatnya, baik dari akal, nukilan, pendapat, mimpi, maupun kasyaf siapa pun.”

Agama Islam sudah sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Jika Islam harus mengikuti budaya setiap negeri, akan jadi berapa macam agama Islam ini?

 

Di antara prinsip kaum liberalis adalah membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Mereka menganggap bahwa ijtihad adalah penalaran rasional. Jadi, semua orang boleh berijtihad. Jika demikian adanya, konsekuensinya seluruh kitab para ulama dan kitab tentang kaidah penafsiran tidak perlu dibaca. Sebab, setiap orang boleh menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya. Ujung-ujungnya, agama akan hancur dengan dibukanya pintu ijtihad bagi setiap orang.

Kita meyakini bahwa para kiai di belakang mereka mengetahui kaidah tafsir bahwa ayat ditafsirkan dengan ayat, dengan hadits, dan dengan ucapan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Kita meyakini pula bahwa para kiai mereka tahu—sesuai dengan ajaran al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah—tentang siapa saja yang boleh berijtihad, yaitu yang mengetahui bahasa Arab, tafsir, kaidah ilmu tafsir, hadits, dan penjelasannya. Jadi, ijtihad harus berdasarkan ilmu, bukan lamunan.

Bermula dari lamunan, ada liberalis yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Hal itu didukung oleh Nurcholis Majid. Dia menguatkan pendapat itu dengan dalih ayat al-Qur’an, “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.” Ja’ilun berasal dari kata ja’ala, yang membutuhkan dua maf’ul, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan satu saja. Jadi, perlu satu maf’ul lagi dalam ayat, “Sesungguhnya Aku menjadikan …. sebagai khalifah.” Titik-titik yang masih kosong itu menurut kaum liberalis bisa jadi monyet.

Kebebasan berpikir yang mereka serukan seperti ini bertujuan untuk merusak agama, baik sengaja maupun tidak. Akibatnya, semua orang, dengan latar pendidikan apa pun, berani berbicara masalah agama. Mereka membahas agama dari sisi sosial, ekonomi, dan ritual seenaknya.

Akan tetapi, ketika dibalik, apakah mereka mau menerimanya? Jika para kiai turut berbicara tentang ilmu yang mereka bidangi, apakah mereka mau menerima? Tentu jawabnya tidak boleh, karena setiap ilmu itu ada ahli yang membidanginya. Sungguh, pemikiran mereka itu sangat tidak adil.

 

Kaum liberal lebih mengutamakan semangat religio-etik (penafsiran baru yang universal), bukan makna literal-teks (penafsiran lama yang telah ditetapkan).

Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an tidak tekstual, tetapi kontekstual; sehingga mereka memutarbalikkan ayat dan hadits. Mereka sebut hal ini sebagai tafsir. Memang benar bahwa ada beberapa ayat yang memang perlu dijelaskan secara kontekstual, tetapi dengan qarinah; tidak sembarangan sabagaimana halnya penafsiran kaum liberal. Semua hal ini diterangkan dalam ilmu ushul tafsir.

Masuknya pemikiran liberal ke beberapa ormas Islam di Indonesia adalah musibah besar. Kericuhan pada Muktamar NU 2015 memberi sinyalemen bahwa masih ada para kiai yang membaca kitab para ulama Ahlus Sunnah sehingga kaum liberal tidak mudah memasuki organisasi NU.

 

Di antara prinsip kaum liberal ialah meyakini bahwa kebenaran itu relatif.

Padahal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah disebutkan bahwa meragukan kebenaran agama Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran.

Dinukil dari ucapan salah seorang liberalis yang mempermainkan dan mendustakan perkara agama, Muhammad Amin, “Nanti, akan ketemu Muhammad, Yesus, dan Gusdur. ‘Muhammad, maaf ya. Kemarin umat saya membakar masjid umatmu,’ Kata Yesus. ‘Oh, ndak apa-apa kok. Umat saya juga pernah membakar gereja umatmu,’ Jawab Muhammad. Gusdur menyahut, ‘Sudah, dibuat saja Gerejid (Gereja-Masjid). Jadi kalau hari Ahad dipakai Misa, hari Jumat dipakai Jumatan. Kan beres, gitu aja kok repot.’

Dinukil pula dari orang yang sama, “Nanti ketika laporan di hari kiamat, Allah cuma tersenyum dan melihat surga sangat luas. Begitu dia melihat surga, di sana ada Muhammad, Yesus, Mahatma Gandhi, Martin Luther, dan Bunda Theresa.

Penyimpangan kaum liberal yang semakin jelas ini semoga membuat para kiai semakin berpikir untuk kembali kepada agamanya, membuka kembali kitab para ulama, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumullah sehingga mengetahui agama Islam sebenar-benarnya.

 

Di antara pemikiran liberalisme adalah berpihak kepada minoritas yang tertindas, baik dalam hal agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, maupun ekonomi.

Padahal, jika mengaku beragama Islam, seharusnya mereka berpihak kepada yang benar. Kita harus mengakui bahwa seluruh manusia tidak tahu hal terbaik untuk manusia sendiri. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kebaikan yang paling baik untuk umat manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menggariskan wahyu-Nya sejak diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam bentuk al-Qur’an lengkap 30 juz dan diajarkan dengan sempurna. Al-Qur’an sudah memberi solusi terhadap hal yang mereka khawatirkan berupa peperangan, perpecahan, pertikaian, dan kekacauan.

Munculnya kaum liberal semacam ini bermula dari adanya kaum radikal dan ekstrem yang mengafirkan pemerintah dan kaum muslimin. Akan tetapi, keekstreman dilawan dengan keekstreman pula.

Mereka selalu meneriakkan pembelaan terhadap kaum minoritas. Kaum Kristiani yang membakar masjid dibela. Kaum perempuan dibela karena dianggap minoritas. Mereka terus meneriakkan emansipasi wanita. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ

“Dan tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan.” (Ali Imran: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya. Semestinya para liberalis berpikir bahwa para wanita yang lemah itu perlu dilindungi oleh kaum lelaki, karena mereka lemah agama dan lemah akalnya. Para wanita perlu dibimbing dan dijaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa’: 34)

Mereka meneriakkan emansipasi agar para wanita dianggap sejajar dengan para lelaki. Mereka menganggap wanita boleh menjadi pemimpin atau khatib. Di Amerika, pernah terjadi shalat Jumat dengan khatib seorang perempuan, dan jamaah laki-laki bercampur dengan perempuan tanpa hijab.

Kebebasan berpikir ala kaum liberal dikhawatirkan juga akan mengarah ke dalam masalah pemerintahan. Mereka akan bebas berbicara dan berkomentar tentang masalah pemerintahan.

Jika pemikiran liberal yang diterapkan di Barat benar-benar diterapkan di Indonesia, seharusnya tidak muncul istilah Islam Nusantara. Akan tetapi, mestinya dinamakan Islam Barat atau bahkan sama sekali tanpa embel-embel Islam. Sebab, jika dinamakan Islam Nusantara, seharusnya tidak boleh meniru cara orang kafir di negeri Barat. Inilah keanehan yang mereka buat, mereka menamakan Islam, tetapi liberal. Dua hal yang tak bisa disatukan.

 

Kaum liberal meyakini kebebasan memeluk agama. Hal ini didasarkan pemikiran mereka yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sungguh, agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Ketika kaum muslimin menyebut kaum Nasrani, Yahudi, Hindu, dan Budha adalah kafir, apakah bisa disebut Islam mengajarkan permusuhan, perpecahan, dan pertikaian? Jawabnya, tidak.

Kaum muslimin harus membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Menurut kaum muslimin, orang yang masuk surga adalah yang beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang berjalan di agama lain adalah penduduk neraka.

Islam tidak memaksa orang yang beragama lain untuk memeluk agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

“Tidak ada paksaan dalam agama.” (al-Baqarah: 256)

Toleransi yang diberikan kaum muslimin kepada nonmuslim adalah memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih menjadi mukmin atau kafir tanpa paksaan. Kaum muslimin hanya menjelaskan mana yang benar mana yang salah, dan mana agama yang lurus mana agama yang kafir. Toleransi kaum muslimin juga berarti bahwa mereka tidak mengganggu kaum Nasrani di gereja-gereja.

Jika kaum muslimin di Indonesia berpegang al-Qur’an dan as-Sunnah, Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik yang diampuni oleh Rabb) yang diturunkan berkah dari langit dan bumi. Namun, jika kita berdusta, yang datang dari langit dan bumi adalah azab.

Di Indonesia, pernah dicetuskan bahwa tidak akan bisa menjadi persatuan dalam perbedaan kecuali jika ditanamkan pemikiran bahwa semua agama sama. Padahal, hal itu justru menjadi pemicu perpecahan. Biarkan setiap pemeluk agama mengamalkan ajaran masing-masing dan tidak saling mengganggu. Al-Qur’an menyebutkan,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Jika kandungan surat ini diajarkan di Indonesia, niscaya negeri ini akan aman. Toleransi melebihi batasan syariat justru akan mendatangkan kerusakan dan azab Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Di antara pemikiran kaum liberal ialah memisahkan antara otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Mereka meyakini bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Mereka melarang pembicaraan agama disangkutpautkan dengan politik, sosial, bahkan dunia. Jadi, ketika ada yang mencoba membahas salah satu isu di atas dengan sisi pandang agama, mereka akan menjulukinya sektarian.

Inilah yang menyebabkan kaum muslimin tidak mau berpegang dengan ajaran agama pada bidang-bidang yang dianggap terpisah dari agama menurut kaum liberal.

Hal semacam ini pernah terjadi pada agama Nasrani beberapa abad yang lalu. Saat itu para pendeta gereja bertentangan dengan para ilmuwan di universitas. Perseteruan itu berujung pada perdebatan yang memberi solusi agar ilmu agama dipisahkan dengan ilmu pengetahuan alam.

Akan tetapi, itu adalah agama Nasrani, yang berbeda dengan agama Islam. Agama Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup segala urusan manusia di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala menjamin akan menjaga agama Islam sampai hari akhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Kami yang menurunkan adz-Dzikr, kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Dari pemaparan di atas, bisa kita nyatakan bahwa Islam liberal sebenarnya mencampurkan beberapa pemikiran sesat sekaligus: sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

 

Di antara yang didengungkan sebagai ciri Islam Nusantara adalah:

  1. Sifat rahmatan lil alamin.

Said Aqil Siraj menyebutnya sebagai salah satu ciri Islam Nusantara. Berbeda halnya dengan “Islam Arabyang kaku, penuh teror, dan kekerasan.

Pernyataan ini sudah dibahas di atas.

  1. Tidak memusuhi Syiah.

Ciri ini disebutkan oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, Islam Nusantara menganggap Syiah sebagai bagian yang sah dari umat Islam. Tentu saja, ini adalah cerminan prinsip liberalisme: kebenaran itu relatif dan kebebasan berpikir & berpendapat.

Akan tetapi, Ulil ternyata tidak konsekuen. Ia tidak mau mengatakan Islam “Wahabisebagai bagian yang sah dari umat Islam.

  1. Mengikuti budaya setempat.

Misalnya, tradisi sesajen yang merupakan warisan budaya Hindu. Islam Nusantara mengikuti alur budaya tersebut dengan memberi makna baru, yaitu kepedulian terhadap sesama. Ini diucapkan oleh Abdul Muqsith Gazali, seorang tokoh Islam liberal.

Jadi, yang mereka gambarkan tentang Islam Nusantara ialah Islam yang sejuk dan lembut, tidak pernah keras dan berkonfrontasi. Namun, ironisnya, ketika muktamar membahas Islam Nusantara, terjadi keributan dan kericuhan (baca: konfrontasi, kekerasan, dan caci maki). Jadi, ketika di satu sisi mencerca “Islam Arab, mereka sendiri terjatuh dalam hal yang mereka sematkan dan tuduhkan terhadap “Islam Arab.

Tentu saja, hal ini tidak luput dari pengamatan para kiai sepuh mereka. Mereka pun mengungkapkan keprihatinan dan rasa malu atas apa yang terjadi pada muktamar tersebut.

 

Himbauan & Seruan

Kita yakin bahwa selama mengaku muslimin, tentu mereka memiliki pegangan dan anutan yang sama. Kita berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anutan.

Oleh karena itu, tidak perlu dibuat hal-hal baru dalam agama hanya karena ingin menampakkan wajah Islam yang lebih toleran, lebih sejuk. Seakan-akan dia bisa membuat yang lebih bagus dari apa yang ada dalam al-Qur’an dan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnah beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥١

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sedangkan dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (al-Ankabut: 51)

Sikap keras dan marah pada keadaan tertentu diperlukan sebagai bentuk sikap rahmat (kasih sayang). Kita bersikap keras terhadap kelompok yang menyimpang sebagai sikap rahmat kita terhadap mereka agar berhenti, dan terhadap kaum muslimin agar tidak mendapatkan keburukannya.

Ingatlah ucapan al-Imam al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah,

إِنَّ الدِّينَ إِنَّمَا جَاءَ مِنْ قِبَلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، لَمْ يُوْضَعْ عَلَى عُقُولِ الرِّجَالِ وَآرَائِهِمْ، وَعِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ، فَلاَ تَتَّبِعْ شَيْئًا بِهَوَاكَ فَتَمْرُقَ مِنَ الدِّينِ فَتَخْرُجَ مِنَ الْإِسْ مَالِ

“… Sungguh, agama ini hanyalah datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dibuat dan diada-adakan oleh akal manusia. Ilmunya ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga keluar dari agama Islam….”

Wallahul Mustaan.

 Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Hukum Jual Beli Saham & Obligasi

Tidak diragukan bahwa banyak transaksi yang berlangsung di masa ini dalam bentuk jual beli saham dan obligasi. Ini merupakan salah satu aktivitas yang dijalankan oleh bank-bank komersial.

Oleh karena itu, kami akan menyebutkan definisi masing-masing dan perbedaan antara keduanya kemudian hukum memperjualbelikannya.

 Definisi Saham & Obligasi

Saham merupakan satuan nilai dari modal sebuah perusahaan dagang atau real estate, atau perusahaan industri perusahaan milik atau kontrak. Obligasi adalah surat berharga atau instrumen yang mengandung perjanjian dari sebuah perusahaan atau bank (penerbit obligasi), yang diberikan kepada pemegang obligasi untuk memberikan nominal tertentu pada waktu tertentu, dengan imbalan suku bunga yang ditentukan disebabkan transaksi pinjaman yang dilangsungkan oleh pihak perusahaan atau instansi pemerintah atau perseorangan.

Sebuah perusahaan terkadang membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk memperluas usahanya. Perusahaan tersebut membutuhkan pihak yang meminjami modal dengan pelunasan dalam jangka panjang.

Maka dari itu, perusahaan terpaksa menawarkannya kepada publik dengan menerbitkan surat berharga dalam bentuk obligasi dan menjualnya kepada publik dengan perjanjian bahwa tiap obligasi akan mendapatkan suku bunga tertentu setiap tahun, sampai waktu yang disepakati, lalu pinjaman tersebut dikembalikan sepenuhnya.

Transaksi jual beli obligasi telah biasa terjadi antara perorangan, sehingga menjadi hal yang wajar ketika seorang pemilik obligasi menjualnya kepada pihak lain, dan begitu seterusnya.

 Perbedaan Saham & Obligasi

  1. Saham merupakan satu bagian dari modal perusahaan sehingga pemiliknya merupakan pemilik sebagian modal perusahaan seukuran dengan kadar sahamnya.

Adapun obligasi merupakan sebuah piutang atas perusahaan sehingga perusahaan berutang pada pembawa surat obligasi tersebut.

  1. Obligasi memiliki jangka waktu tertentu untuk dilunasi.

Adapun saham tidak diberikan kepada pemiliknya melainkan saat pembubaran atau likuidasi perusahaan tersebut.

 

  1. Pemegang saham merupakan seorang yang berserikat dalam perusahaan tersebut.

Dia berisiko rugi dan berkemungkinan untung, seiring dengan keberhasilan perusahaan atau kegagalannya. Nilai keberuntungannya tidak terbatas, bisa jadi untungnya besar, bisa jadi pula kerugiannya yang besar.

Para pemegang saham saling berbagi keuntungan perusahaan dan berbagi kerugiannya.

Adapun pemegang surat obligasi, dia memiliki keuntungan tetap yang terjamin saat memberi pinjaman sesuai dengan perjanjian dalam penerbitan obligasi tersebut, tidak bertambah atau berkurang. Selain itu, dia tidak menanggung risiko kerugian.

 

  1. Ketika terjadi likuidasi atau pembubaran, prioritas pertama adalah para pemegang surat obligasi, karena hal itu merupakan utang perusahaan.

Pemilik saham mendapat sisa setelah dilunasinya utang.

 

Hukum Jual Beli Saham

Dilihat dari sisi usaha perusahaan tersebut, saham dapat dibagi menjadi dua:

  1. Saham sebuah perusahaan yang haram, atau saham perusahaan yang berpenghasilan haram.

Contohnya, badan perbankan yang mengelola usaha-usaha ribawi, perusahaan judi, produsen visual pornografi atau pornoaksi, perusahaan miras, dan hal yang haram semisalnya. Jual beli saham perusahaan yang seperti ini hukumnya haram. Sebab, ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan sesuatu, Dia subhanahu wa ta’ala mengharamkan pula hasil penjualannya.

Selain itu, membeli saham perusahaan seperti ini termasuk ikut serta dalam dosa dan bantu-membantu padanya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

 

  1. Saham sebuah perusahaan yang mubah.

Misalnya, sebuah perusahaan perdagangan yang mubah atau industri yang mubah. Pada perusahaan semacam ini, boleh kita menanam saham dengan syarat perusahaannya jelas dan tidak terdapat unsur penipuan atau kemajhulan yang parah. Sebab, saham merupakan bagian dari modal usaha yang memberi keuntungan pada pemilik modal dari usahanya tersebut, baik dalam bentuk industri maupun perdagangan. Hal ini jelas halal, tanpa keraguan.

 

Sanggahan

Pada jual beli saham, umumnya pembeli dan penjual tidak mengetahui semua milik perusahaan, sehingga jual beli ini ada unsur gharar atau jahalah, yakni ketidaktahuan terhadap barang yang diperjualbelikan.

 

Jawaban

Walaupun terdapat unsur jahalah dalam jual beli saham, tetapi jahalah pada kadar semacam itu dimaafkan karena jahalah pada kadar tersebut tidak mengakibatkan perselisihan. Jahalah yang menghalangi sahnya akad adalah yang berakibat tidak memungkinnya akad dilangsungkan atau menimbulkan perselisihan.

Contohnya, penjualan seekor kambing dari sekumpulan kambing yang berbeda-beda tanpa ditentukan kambing yang mana. Dalam kasus ini, penjual biasanya menginginkan untuk memberikan kambing yang terkecil, sementara pembeli umumnya menginginkan kambing yang paling bagus dan mahal. Akibatnya, keduanya akan bertikai dan menghambat terlaksananya transaksi jual beli.

Adapun jahalah dalam masalah ini tidak berakibat pertikaian, karena jual beli tersebut terjadi pada sebagian tertentu. Alasan lainnya adalah orang-orang membutuhkan transaksi jual beli ini. Apabila jual beli ini dilarang, akan terjadi mudharat yang cukup besar. Sementara itu, Penetap syariat tidak mengharamkan apa yang diperlukan manusia hanya karena ketidakjelasan yang kadarnya tidak banyak.

Oleh karena itu, dibolehkan menjual buah di pohon setelah tampak matangnya dan terus dibiarkan sampai dipetik, walaupun sebagian yang terjual belum ada. Sebagian ulama juga membolehkan jual beli yang masih ada dalam tanah, seperti wortel dan sejenisnya. Demikian pula jual beli buah yang kulitnya menjadi pelindungnya, seperti anggur, delima, pisang, semuanya masih dengan kulitnya. Ini adalah kesepakatan ulama.

Apalagi jika pada barang yang dijual ada sesuatu yang menunjukkan hal yang tidak terlihat, jual belinya diperbolehkan menurut kesepakatan ulama. Demikian pula tentang sebuah perusahaan yang keberhasilan atau kegagalannya bisa ditunjukkan oleh apa yang tampak.

Di samping itu, jual beli gharar dilarang karena mengakibatkan tindakan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Apabila hal ini tidak dilakukan dan mengakibatkan mudarat yang lebih besar, hal tersebut boleh dilakukan demi menanggulangi mudarat yang lebih besar dengan melakukan mudarat yang lebih kecil. Ini merupakan kaidah yang telah tetap dalam syariat.

 

Hukum Jual Beli Obligasi

Telah dijelaskan di atas bahwa obligasi merupakan utang yang berbunga karena obligasi merupakan utang atas perusahaan. Pemegang obligasi berhak mendapatkan suku bunga tertentu setiap tahun, sama saja apakah perusahaan beruntung atau merugi.

Berdasarkan hal ini, obligasi merupakan transaksi ribawi sehingga sejak awal penerbitannya sudah tidak syar’i. Dengan demikian, jual belinya pun tidak syar’i, dan pemegangnya tidak boleh menjualnya.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab ar-Riba wal Mu’amalat al-Mashrafiyyah, karya Dr. Umar bin Abdul Aziz al-Mutrik, wafat 1405 H)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi