Hakekat Pencela Sahabat

Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan,

“Apabila engkau melihat seseorang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia seorang zindiq (munafik). Yang mereka inginkan adalah men-jarh (mencacat) para saksi kita (yakni para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampai syariat Islam, -red.) sehingga gugurlah al-Kitab dan as-Sunnah. Justru mereka lebih berhak di-jarh. Mereka adalah orang-orang zindiq.”

 

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,

Aku bertanya kepada ayahku, “Siapakah yang disebut Rafidhi (penganut agama Syiah Rafidhah)?”

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab, “Orang yang mencerca dan mencela Abu Bakr dan Umar.”

Aku bertanya lagi, “Kalau mencela salah seorang sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab, “Aku tidak memandang dia di atas agama Islam.”

(Lammud Durril Mantsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 97—98)

Kekayaan dan Kefakiran

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

“Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang kaya, tiada seorang fakir pun di antara kalian. Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki pula, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang fakir, tiada seorang kaya pun di antara kalian. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menunjuki para hamba-Nya kepada akhlak yang mulia.

Dia ‘azza wa jalla berfirman,

 ‘Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung’.” (al-Hasyr: 9)

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

“Dahulu kami menganggap bahwa orang yang bakhil di antara kami ialah orang yang meminjamkan dirham kepada saudaranya. Sebab, dahulu kami bermuamalah dengan kebersamaan dan mendahulukan kepentingan orang lain. Demi Allah, sungguh, salah seorang yang pernah aku lihat dan aku bersahabat dengannya, membelah izar (pakaian bagian bawah, semacam sarung, -pent.)nya lantas memberikannya kepada saudaranya….”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 65—66)

Bahaya Memuji Ahli Bid’ah & Mendiamkan Kebid’ahan

Dalam kitabnya, Mukhtashar Firaqil Fuqaha, Abul Walid Sulaiman al-Baji menyebutkan tentang al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani sebagai berikut.

Abu Dzar ‘Abd bin Ahmad al-Anshari al-Harawi cenderung kepada mazhab Asy’ariyah. Aku pun bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan (mazhab) ini?”

Abu Dzar al-Harawi menjawab, “Dahulu aku pernah berada di Baghdad bersama dengan al-Hafizh Abul Hasan Ali bin Umar ad-Daraquthni. Kami berjumpa dengan al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Thayyib (al-Baqillani). Ad-Daraquthni kemudian memeluk dan mencium wajah serta kedua mata orang tersebut. Setelah kami berpisah dengannya, aku bertanya kepada ad-Daraquthni, ‘Siapa orang tadi, yang aku sangka engkau tidak akan memperlakukannya demikian rupa padahal engkau adalah imam di masamu?’

Ad-Daraquthni menjawab, ‘Dia adalah imam kaum muslimin, pembela agama. Dialah al-Qadhi Abu Bakr bin ath-Thayyib’.”

Abu Dzar al-Harawi mengatakan kepada al-Baji, “Sejak saat itulah aku bolak-balik mendatanginya bersama ayahku. Aku pun mengikuti mazhabnya.” (as-Siyar, 17/558—559; Tadzkiratul Huffazh, hlm. 997; Nafhu ath-Thayyib, 2/70)

Penulis Lammud Durril Mantsur mengatakan, “Sikap diam terhadap ahli bid’ah dan tidak menjelaskan keadaan mereka akan memerdaya orang yang tidak tahu sehingga mereka jatuh dalam bid’ah tersebut. Akan lebih parah dan lebih pahit lagi apabila ahli bid’ah dipuji oleh orang yang lahiriahnya baik dan bertakwa.” (Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 187)

Umar bin al-Khaththab dan Shabigh

Nafi’ rahimahullah, maula Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan,

Shabigh bin ‘Asal al-‘Iraqi suka mempertanyakan beberapa hal (yang mutasyabih) tentang al-Qur’an di kota-kota kaum muslimin, hingga dia sampai di Mesir. ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu (Gubernur Mesir saat itu) kemudian (menangkap dan) mengirimnya kepada Khalifah Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu (di Madinah).

Ketika sang utusan menemui ‘Umar radhiallahu ‘anhu membawa surat (dari ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu), beliau membacanya kemudian bertanya, “Mana orangnya?” Sang utusan menjawab, “Di kendaraan.”

Umar mengatakan, “Periksalah, jangan sampai dia melarikan diri sehingga engkau akan mendapatkan hukuman yang menyakitkan dariku.” Sang utusan pun membawanya kepada Umar radhiallahu ‘anhu.

Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepada Shabigh, “Engkau menanyakan sesuatu yang muhdats (bid’ah).”

Beliau lantas meminta diambilkan pelepah kurma yang masih basah, lalu memukul punggung Shabigh dengannya. Beliau membiarkannya hingga sembuh. Kemudian beliau mengulanginya dan membiarkannya hingga sembuh.

Kemudian Umar radhiallahu ‘anhu meminta Shabigh didatangkan untuk beliau pukul kembali. Shabigh berkata, “Jika Anda ingin membunuhku, bunuhlah dengan cara yang baik. Namun, jika Anda ingin mengobatiku (dari bid’ah), sungguh aku telah sembuh.”

Shabigh pun diizinkan pulang ke negerinya. Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu (gubernur negeri tempat tinggal Shabigh) agar melarang kaum muslimin duduk bermajelis dengan Shabigh. Hal ini sangat berat dirasa oleh Shabigh.

Abu Musa radhiallahu ‘anhu kemudian menulis surat kepada kepada Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Shabigh telah bertobat dengan baik. Setelah itu, barulah Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu agar mengizinkan kaum muslimin bermajelis dengan Shabigh.

 

(Riwayat ad-Darimi no. 148, Ibnu Wadhdhah no. 63, al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/194, diambil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur hlm. 146)

Sifat-sifat Sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya, “Kabarkanlah kepada kami tentang sifat-sifat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

Beliau rahimahullah menangis lalu berkata,
“Tampak tanda-tanda kebaikan pada tampilan luar dan perilaku mereka. Terlihat pula petunjuk dan kejujuran mereka. Mereka berpakaian kasar karena sederhana. Cara berjalan mereka menunjukkan kerendahan hati. Ucapan mereka sesuai dengan amalan. Makanan dan minuman mereka berasal dari rezeki yang baik. Tampak pula ketundukan mereka dengan melakukan amalan ketaatan kepada Rabb mereka. Mereka patuh terhadap kebenaran, baik dalam hal yang mereka sukai maupun tidak. Mereka juga menunaikan hak orang lain yang ada pada mereka.

Siang hari mereka lalui dalam keadaan haus (karena berpuasa). Tubuh mereka pun kurus.

Demi meraih ridha al-Khaliq, kemarahan makhluk mereka anggap ringan. Kemarahan tidak menyebabkan mereka melampaui batas. Kezaliman pun tidak membuat mereka sewenang-wenang (membalas). Mereka tidak pernah melampaui batasan hukum Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an.

Mereka korbankan darah ketika Allah ‘azza wa jalla meminta mereka membela (agama-Nya, -red.). Mereka serahkan harta ketika Allah ‘azza wa jalla meminjamnya (yakni berinfak fi sabilillah, -red.). Mereka tidak terhalangi oleh rasa takut kepada para makhluk.

Akhlak mereka bagus. Bahan makanan mereka dari kualitas yang rendah. Mereka merasa cukup dengan sedikit dari dunia demi akhirat mereka.”

(Hilyatul Auliya 2/150, dan Tahdzib al-Hilyah 1/336, dari Mawa’izh

al-Hasan al-Bashri, hlm. 42—44)

Sebab Penyimpangan

Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah mengatakan,

“Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, saya telah merenungkan sebab yang mengeluarkan sekelompok orang dari as-Sunnah dan al-Jamaah, memaksa mereka menuju kebid’ahan dan keburukan, membuka pintu bencana yang menimpa hati mereka, dan menutupi cahaya kebenaran dari pandangan mereka.

Saya temukan sebabnya dari dua sisi:

  1. Mencari-cari, berdalam-dalam, dan banyak bertanya yang tidak perlu (tentang masalah tertentu), yang tidak membahayakan seorang muslim kalau ia tidak tahu, serta tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin seandainya ia tahu.

  2. Duduk bersama dan bergaul dengan orang yang tidak dirasa aman dari kejelekannya, yang berteman dengannya akan merusak kalbu.”

(al-Ibanah, karya Ibnu Baththah rahimahullah, 1/390)

Lanjutkan membaca Sebab Penyimpangan

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud hlm. 351)

Beliau rahimahullah menyatakan pula,

“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud hlm. 337)

 

(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah)

Keadaan Seorang Mukmin

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Manusia terdiri dari tiga golongan: mukmin, kafir, dan munafik. Orang mukmin, Allah Subhanahu wata’ala memperlakukan mereka sesuai dengan ketaatannya. Orang kafir, Allah Subhanahu wata’ala telah menghinakan mereka sebagaimana kalian lihat. Adapun orang munafik, mereka ada di sini, bersama kita di rumah-rumah,

jalan-jalan, dan pasar-pasar. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Demi Allah, mereka tidak mengenal Rabb mereka. Hitunglah amalan jelek mereka sebagai bentuk ingkar mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sungguh, tidaklah seorang mukmin memasuki waktu pagi melainkan dalam keadaan cemas, meski telah berbuat baik. Tidak pantas baginya selain demikian. Ia pun memasuki waktu sore dalam keadaan khawatir, meski telah berbuat baik. Sebab, dia berada di antara dua kekhawatiran:

• Dosa yang telah berlalu; dia tidak tahu apa yang akan Allah Subhanahu wata’ala lakukan terhadap dosanya (apakah diampuni atau tetap dibalasi dengan azab, -red.).

• Ajal yang tersisa (dalam hidupnya); dia tidak tahu kebinasaan apa saja yang akan menimpanya pada masa yang akan datang.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

Berlomba dalam Kebaikan

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam sebuah kebaikan, saingilah mereka. Namun, jika engkau melihatnya berada padasebuah kebinasaan, janganlah engkau menyaingi mereka dan pilihan mereka.”

“Sungguh, kami telah melihat beberapa kaum lebih memilih bagian mereka yang disegerakan (di dunia) daripada yang diakhirkan (di akhirat). Akhirnya, mereka menjadi hina, binasa, dan terkenal (keburukannya).”

Beliau mengatakan rahimahumallah pula,

“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”

Beliau mengatakan rahimahumallah pula,

“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.”

(Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)