Tahdzir, Syariat yang Dicibir

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Islam menyuguhkan keseimbangan. Agama ini mengajarkan kebaikan sekaligus memperingatkan dari keburukan. Islam mengajak kepada tauhid, juga menyeru untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Islam mendekatkan umatnya ke jalan yang lurus, di sisi lain juga menjauhkan umatnya dari jalan kesesatan. Lanjutkan membaca Tahdzir, Syariat yang Dicibir

Mendidik dengan Hati

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Perlu disadari, pendidikan tidak hanya di ruang kelas atau lembaga pendidikan, tetapi dimulai dari keluarga. Keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak untuk mengenal kebaikan dan keburukan.

Ketika anak sudah mulai belajar tentang kehidupan yang diikuti dengan keteladanan orang tuanya, maka anak akan merasakan bahwa keluarga adalah rumah pertama dan lembaga pendidikan adalah rumah kedua yang membantu dirinya menemukan kesejatian hidup.

Maka dari itu, peran orang tua menjadi demikian penting karena nyaris tidak tergantikan oleh siapa pun. Lebih-lebih kebaikan seseorang itu dimulai dari apa yang paling ditekankan orang tua kala masih belia.

Karena itu, pendidikan agama menjadi tanggung jawab utama yang ada di pundak orang tua. Orang tua dengan segala kebaikan dan keburukannya, akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Jika orang tua cara mendidiknya baik yang diiringi dengan keteladanan yang baik pula, dengan izin dan hidayah Allah subhanahu wa ta’ala, anak akan tumbuh dalam kebaikan, yang mewujud dalam watak dan karakter mereka yang baik.

Salah kaprah jika orang tua zaman sekarang justru menggantungkan harapan yang demikian besar kepada lembaga pendidikan semata. Sefavorit apa pun lembaga pendidikan, seislami apa pun sekolah anak, bukanlah alasan untuk abai terhadap anak, termasuk alasan sibuk mencari nafkah sekalipun.

Menjadi ironi, dengan keterbatasan waktu—dan tentunya ikatan batin antara orang tua dan anak—banyak orang tua malah memaksakan anaknya agar berprestasi di lembaga pendidikan.

Mindset orang tua saat ini faktanya masih jalan di tempat, yakni ketakutan tentang masa depan duniawi mereka. Sudah saatnya orang tua mengubah pola pikir yang selama ini dimiliki. Pendidikan agama adalah yang terpenting bagi masa depan anak.

Yang perlu dikhawatirkan orang tua terhadap anak bukan soal profesi atau pekerjaannya di masa depan. Lebih dari itu adalah agama dan kemanfaatan mereka bagi masyarakat dan umat.

Mendidik butuh keikhlasan. Keikhlasan akan membuat sesuatu yang berat menjadi lebih ringan. Sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah. Lebih-lebih jika kita senantiasa mendoakan mereka serta berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberi kemudahan dan kesabaran dalam mendidik buah hati kita.

Kita memang tidak bisa melihat masa depan, tetapi masa kini mereka terpampang di depan kita. Mendidik dan mengasuh anak merupakan sebuah investasi masa depan. Apa yang kita tanam saat ini akan kita tuai juga nantinya.

Saatnya kita berbenah. Mari didik buah hati kita dengan hati, meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pendidik umat yang tiada duanya.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

DICARI: Suami Ideal

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Banyak suami yang merasa telah berperan besar dengan mencari nafkah, lalu merasa mendapat pembenaran untuk tidak mau tahu dengan urusan rumah. Mengurus anak, pekerjaan rumah tangga, hingga hal-hal yang lebih kecil dari itu, seperti “wajib” dibebankan pada istri semata.

Itulah salah satu “egoisme” suami yang banyak kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga saat ini. Terlihat sepele, namun sejatinya cukup menggerogoti harmonisasi dalam keluarga. Apalagi bara  egoisme itu terus disulut dengan sikap suami yang lebih senang menuruti kesenangan pribadi:  menonton sepak bola, memancing, main game, internetan, nongkrong bersama teman-temannya,  atau malah terlampau asyik dengan pekerjaan kantornya. Alih-alih bicara kepedulian, waktu pun  seperti tiada untuk keluarga.

Patut disadari, suami dengan segala karakternya, jelas dominan memberi warna dalam rumah  tangganya, karena ia adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya kepemimpinan itu berada, pada  dirinya keteladanan harus ditampakkan, dan di pundaknya tugas mencari nafkah itu dibebankan. Dengan sederet tanggung jawab yang besar itu, rumah tangga jelas membutuhkan karakter suami  yang bisa memimpin, membimbing, tegas, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, bisa memberi teladan, tidak pantang menyerah, ulet dalam bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya. Sudahkah ini semua dimiliki seorang suami?

Pada kenyataannya, kita justru menjumpai yang sebaliknya. Banyak suami yang tidak punya visi  dalam berumah tangga, hingga terkesan nekat ketika memasuki gerbang pernikahan. Usaha/pekerjaan apa yang akan ditekuni, akan tinggal di mana setelah berumah tangga, seperti  jauh  dari rencana. Ada suami yang masih tinggal jadi satu dengan orang tua dalam keadaan belum punya pekerjaan, justru merasa nyaman-nyaman saja padahal segala kebutuhan rumah tangganya  masih di-support orang tuanya. Galibnya, sebagai kepala rumah tangga, ia dituntut untuk menafkahi  keluarganya, tidak berlindung di balik kata tawakal untuk menutupi kemalasan dan  keputusasaannya.

Parahnya, dalam keadaan yang serba kekurangan ini banyak suami yang justru emosional. Menuruti  emosi, ancaman cerai sedikit-sedikit ditebar. Seolah-olah cerai itu adalah perkara remeh yang tidak punya konsekuensi apa pun. Seakan-akan dengan ancaman cerai dia telah menjadi  laki-laki sejati, superior, dan membuat wanita tak berdaya. Bahkan, ada yang menjadi ringan tangan  demi menutupi “kegagalannya”.

Ada pula yang sebaliknya. Suami dikaruniai rezeki yang luas, namun dia justru pelit memberi nafkah kepada keluarganya. Bahkan, dia menyalahgunakan kepercayaan istri untuk bermaksiat di luar  rumah, berfoya-foya hingga selingkuh. Ada juga tipe suami yang tertutup, tidak mau terbuka kepada istrinya, dari soal pekerjaan atau penghasilannya, lebih-lebih uangnya ke mana saja dibelanjakan.

Padahal istri butuh tipe suami yang terbuka, mau mendengarkan dan mengajaknya bermusyawarah, perhatian, tidak otoriter, dan tidak selalu merasa benar sendiri. Akan tetapi, alih-alih penuh pengertian, sabar, dan pemaaf, banyak suami yang justru tidak mau menganggap, bahkan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali.

Itu baru soal karakter. Pertengkaran rumah tangga yang bisa berujung perceraian juga tidak jarang dipicu dari kebiasaan sepele. Seperti suami yang jorok, kurang memerhatikan penampilan, kerapian  rambut atau pakaian, dsb.

Sederet sifat atau kebiasaan jelek suami bisa jadi akan panjang dibeberkan di sini. Intinya, sebisa  mungkin kita menghindari hal-hal yang bisa menyuntikkan kebencian dalam rumah tangga.  Menjadi ideal tidak berarti menjadi pribadi yang sempurna, tetapi ini tetap bisa diupayakan selama  kita mau berusaha, insya Allah.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Segalanya Mudah dengan Sabar

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hidup tak selamanya mulus. Setiap saat, kesulitan atau ujian hidup bisa datang menghampiri, baik itu berupa musibah maupun godaan berbuat maksiat. Lebih-lebih, di zaman yang konon katanya serbasulit, godaan untuk menempuh jalan pintas dalam mencari rezeki demikian kuat. Demikian pula di zaman yang penyalahgunaan teknologi sudah mengepung, kemaksiatan pun seakan dalam genggaman.

Tinggal mencet keypad handphone atau keyboard komputer, kerusakan dengan mudah kita akses. Bahkan, saking rusaknya manusia dan jauhnya umat dari ajaran Islam, menjalankan ketaatan pun butuh kesabaran ekstra. Yang menjalankan ketaatan siap-siap dituding sesat, eksklusif, tekstual, tidak berjiwa kebangsaan, dianggap suka benar sendiri, dan sebagainya.

Itulah di antara saat-saat kesabaran kita diasah. Betapa sabar laksana memegang bara api. Dipegang panas, tidak dipegang akan membakar semuanya. Akan tetapi, sabar juga ibarat matahari, bersifat panas namun mampu menumbuhkan tanaman di muka bumi. Oleh karena itu, muncullah anekdot, orang yang sabar jiwanya akan subur, dan orang yang tidak sabaran akan cepat masuk kubur.

Lepas dari itu, orang yang beriman memang harus meyakini bahwa manusia pasti diuji. Dia pun harus bersedia menerima ujian dari Allah Subhanahu wata’ala dan memupuk kekuatan untuk bersabar. Kita juga perlu merenungi, ujian yang kita terima belum ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang sebelum kita. Betapa banyak contoh ujian berat yang dialami para nabi. Bagaimana pula dengan kisah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disiksa karena keimanan mereka?

Seberat apa pun ujian itu, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahasabar kepada hamba-Nya. Walaupun hamba-Nya bergelut kemaksiatan, namun Allah Subhanahu wata’ala masih saja memberikan kita banyak kenikmatan. Kalau toh ada sekelompok manusia yang diberi azab, itu lebih karena manusianya yang sudah bertindak melampaui batas. Memang, sabar mudah diucapkan, namun tidak mudah dipraktikkan. Saking sulitnya bersikap sabar, Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan banyak ganjaran bagi orangorang yang bersabar, di antaranya janji surga dan ampunan dosa.

Adapun di dunia, banyak hal yang bisa kita petik kala kita bisa bersabar. Orang yang bersabar tidak akan mudah putus asa dengan suatu masalah yang sedang dihadapi, bahkan masalah lebih bisa teratasi dengan baik. Selanjutnya, dia akan lebih hati-hati dan tetap semangat dalam menghadapi masalah hidup. Dengan sabar, kita juga bisa menumbuhkan empati atau merasakan penderitaan orang lain, sehingga tumbuh rasa syukur bahwa ternyata kita masih lebih beruntung daripada orang lain. Konflik rumah tangga yang biasanya “diselesaikan” dengan kekerasan dan sikap tidak mau kalah pun, bisa dicairkan dengan sikap sabar.

Intinya, sebagaimana dalam hadits, tiada pemberian yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya daripada kesabaran. Dengan kesabaran, jiwa seseorang akan tenang dan tidak akan goyah saat mendapat cobaan. Sabar juga menjadi ukuran iman dan takwa seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin tinggi pula tingkatan masalah yang dihadapi, dan semakin besar pula kesabaran yang dibutuhkan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali “mencari masalah”. Namun, apabila ada masalah, kita harus siap menghadapinya. Yakin dan percayalah, dengan bersabar, kitaakan mendapat pemecahan dan kemudahan.Di sinilah letak kesabaran itu diuji,sehingga kita berharap dapat menjadi pribadi yang kokoh dan tangguh, serta tidak mudah tergiur dengan hal-hal yang memupus kesabaran yang telah kita pupuk.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Salah Kaprah Mukjizat dan Karamah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Masih banyak salah kaprah dalam keberagamaan masyarakat kita. Salah satunya adalah soal karamah. Karamah selama ini identik dengan “kesaktian” seorang wali. Definisi wali sendiri juga tergolong salah kaprah. Selama ini dikesankan, wali adalah orang yang punya keluarbiasaan, titik. Wali pun menjelma menjadi gelar yang bisa disematkan pada seseorang. Muncullah khurafat-khurafat yang tumbuh di atas salah kaprah ini. Ada “wali” yang fisiknya berada di Indonesia, namun diyakini juga mempunyai jasad lain yang tengah beribadah di Makkah, ada “wali” yang bisa bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam keadaan terjaga maupun mimpi, “wali” yang kuat “bermujahadah”, tidak tidur selama 33 tahun, bisa mengkhatamkan al-Qur’an dalam sehari sebanyak 8 kali, dan sebagainya.

Berangkat dari pemahaman yang keliru tentang wali ini, muncul beragam cerita dan tontonan menyesatkan: ada tokoh—yang direpresentasikan sebagai kyai atau orang beserban putih—tasbihnya bisa berubah jadi pisau, biji tasbihnya menjadi ular, dan lain sebagainya. Kekeliruan demi kekeliruan yang muncul ini bersambung terus menjadi mata rantai kesesatan. Muncul sikap-sikap yang berlebihan dalam menyikapi “wali” ini. Ada yang menjadikan “wali” tersebut sebagai wasilah (perantara) dalam doa mereka, dengan keyakinan bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dengan perantaraannya.

Bahkan, ada yang melambungkan kedudukannya layaknya ilah. Ada pula yang meninggininggikan derajat seorang wali—dalam anggapannya—di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, atau setidaknya melebihi para sahabat . Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rasul paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh manusia mana pun. Juga para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mereka adalah manusia-manusia terbaik sesudah para nabi dan rasul. Demikian juga dengan mukjizat. Istilah ini juga ikut-ikutan tereduksi. Mukjizat yang sejatinya lebih sempit maknanya dari ayat, bayyinat, atau burhan—istilah yang seharusnya dipakai—mengalami bias. Mukjizat jamak dipakai sebagai nama lain (sinonim) dari keajaiban. Alhasil, mukjizat bisa terjadi atas manusia, siapa pun dia. Kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh penumpang mobil misalnya, namun ada balita selamat. Maka orang-orang menyebutnya dengan mukjizat.

Perlu digarisbawahi, salah kaprah ini bukan sekadar soal penggunaan istilah, namun sudah merembet pada persoalan akidah. Yang jelas, kesaktian dan keluarbiasaan yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karamah atau kewalian, namun harus dilihat ketaatan dan kesesuaian pelakunya dengan ajaran Islam. Karena itu, tidak semua peristiwa luar biasa atau aneh yang terjadi dinamakan karamah. Bisa jadi, itu adalah tipu daya setan berupa sihir. Bagi setan, amat mudah untuk mewujudkan keanehan atau keajaiban dalam pandangam manusia.

Setan bisa membantu manusia menghilang dari pandangan orang lain. Inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beriman untuk menipu dan menyesatkan manusia. Oleh karena itu, mari kita kaji lebih dalam perkara mukjizat dan karamah ini, agar kita mendudukkan perkara mukjizat dan karamah ini dengan semestinya. Karamah bukanlah sesuatu yang kita cari, bukan pula tujuan kita. Kita berbeda dengan kalangan sufi. Yang harus kita yakini, keanehan atau keluarbiasaan bukanlah syarat wali Allah Subhanahu wata’ala dan bukan syarat kesempurnaan iman. Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Syiah Berlumuran Darah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hingga kini, Syiah masih dipahami oleh masyarakat awam sebagai “mazhab kelima” dalam Islam. Artinya, Syiah dianggap sekadar beda fikih dengan keumuman masyarakat muslim lainnya. Apalagi, Syiah acap menampilkan diri sebagai pembela ahlul bait, sebuah wajah yang terlihat “mulia”. Muncullah anggapan bahwa perbedaan Syiah dan Sunni (Ahlus Sunnah) adalah “sekadar” pembela dan bukan pembela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika masih saja muncul pembelaan yang dilakukan sebagian masyarakat terhadap Syiah. Di kalangan elite Islam, malah gencar ajakan untuk menyatukan Sunni (baca: Islam) dengan Syiah. Jika orang-orang yang masih punya semangat terhadap Islam mau lebih dalam menyelami agama bentukan Yahudi ini, niscaya dia akan menentang keras Syiah. Membincangkan Syiah bukanlah semata soal kekhalifahan Ali. Bukan pula sesederhana bahwa Syiah melakukan kultus individu kepada Ali. Terlalu dangkal jika kita beranggapan seperti itu.

Syiah demikian sarat dengan ajaran menyimpang. Agama ini mengafirkan hampir seluruh sahabat, menganggap istri-istri Rasulullah Subhanahu wata’ala sebagai pelacur, menganggap imam-imam punya kedudukan tertinggi yang tidak dicapai nabi/rasul dan malaikat yang terdekat, menganggap imam-imam mereka sebagai pemilik dunia dan isinya, menganggap kenabian Muhammad salah alamat karena Jibril berkhianat dan tidak memberikannya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, serta sederet kesesatan lainnya. Itu semua baru dari satu sisi. Jika mau berkaca dari sisi sejarah, Syiahlah yang menjadi biang keladi pertumpahan darah di dalam Islam. Pembunuh Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah pemeluk agama Majusi yang merupakan akar agama Syiah.

Pembantaian Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, adalah hasil provokasi tokoh Yahudi pendiri Syiah, Abdullah bin Saba’. Jatuhnya Daulah Abbasiah adalah hasil pengkhianatan perdana menterinya yang Syiah, dan sebagainya. Demikian juga sekarang ini, pembantaian muslimin di Yaman, Syria, bergolaknya suhu politik di Timur Tengah, pembantaian minoritas Ahwaz di Iran yang Sunni, juga tak lepas dari tangan Syiah yang berlumur darah.

Tidak cukupkah sejarah menyuguhkan episode demi episode berdarah Syiah, untuk kemudian kita “melek” terhadap Syiah? Orang-orang bisa tertipu dengan “heroisme” Syiah (baca: Iran) dalam “melawan” hegemoni AS di panggung politik dunia, tapi kami, Ahlus Sunnah tidak. Orang-orang bisa kagum dengan pasukan Hizbullah (baca: Syiah) yang “melawan” tentara pendudukan Israel, tapi kami tidak. Semua berita politik itu tak lebih hasil goreng-menggoreng penguasa opini dunia, Yahudi. Bagaimana pun, Syiah satu rahim dengan Yahudi. Yahudi akan sangat senang ada tangan (yang dianggap) Islam yang selalu menjadi duri dalam daging dalam tubuh Islam.

Walau Syiah terpecah menjadi beberapa sekte, namun mayoritasnya adalah sekte Imamiyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok ini terusmenerus menebarkan berbagai macam kesesatannya—termasuk nikah mut’ah yang dijadikan daya tarik. Lebih-lebih kini didukung Iran, Irak, dan Syria yang kendali politiknya berada di tangan mereka—Syiah Rafidhah. Oleh karena itu, jangan teriak-teriak toleransi jika tidak tahu Syiah sama sekali, jangan teriak-teriak kebebasan beragama dan berkeyakinan jika kita tidak paham agama “made in Yahudi” ini, jangan sok teriak persatuan dan ukhuwah jika itu hanya demi simpati berbuah kursi. Toleransi ada tempatnya. Namun, faktanya, tidak ada tempat untuk toleransi dengan Syiah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Keteladanan Sang Ulama

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Salah seorang ulama masa kini yang dikenal ahli dalam fikih adalah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi, atau yang lebih dikenal dengan nama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin atau asy-Syaikh Utsaimin.  Darah ulama memang seakan sudah mengalir pada dirinya. Kakeknya, asy-Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali ad-Damigh t, adalah ulama. Kepada kakeknya, Utsaimin kecil belajar al-Qur’an. Kemudian dia banyak belajar pada ulama-ulama yang lain hingga kepada guru utama beliau yang terkenal sebagai ulama tafsir, yakni asy- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.

Menginjak remaja, Utsaimin belajar kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Kepada asy-Syaikh bin Baz, beliau banyak menimba ilmu hadits dan fikih. Kesabaran dan keuletan adalah salah satu sifat asy-Syaikh Utsaimin yang menonjol. Saat di Unaizah—tempat kelahiran beliau—, di awal dakwah, beliau hanya diikuti oleh beberapa murid. Namun dengan kesabaran, akhirnya dakwah beliau berkembang hingga memiliki ribuan murid. Kadang meskipun dalam keadaan kurang sehat, asy-Syaikh al-’Utsaimin tetap bersemangat untuk memberikan khutbah Jum’at di al-Jami’ al-Kabir, memimpin doa, dan menemui tamu-tamu untuk menjawab pertanyaan ataupun memberikan penjelasan. Semua ini memang kemauan dari beliau sendiri. Ketika diingatkan untuk istirahat, beliau menjawab, “Istirahat adalah dengan tetap memberikan pelayanan kepada umat.”

Suatu saat, ketika sedang melakukan rekaman untuk acara radio (Nur ‘ala Darb), asy-Syaikh al-Utsaimin tampak diserang rasa kantuk. Kesabaran, sifat toleran, dan semangat beliau untuk segala sesuatu yang di dalamnya terdapat manfaat untuk umat, demikian tampak. Beliau berusaha melawan rasa kantuknya dengan meminta berhenti sebentar dan meminta kabel mikrofon dipanjangkan sehingga beliau bisa menjawab pertanyaan sambil berdiri. Dengan mikrofon kecil yang bisa ditempelkan di baju dengan kabel yang lebih panjang, beliau melanjutkan menjawab pertanyaan sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan untuk menghilangkan rasa kantuk. Ini dilakukan beliau sampai proses rekaman selesai.

Kebesaran jiwa dan kesabaran beliau tak pelak mengantarkan beliau menjadi ulama besar yang disegani. Beliau pernah ditawari oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh (mufti pertama Kerajaan Arab Saudi) agar menduduki jabatan qadhi (hakim) tinggi, bahkan telah dikeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Ahsa, namun asy- Syaikh Utsaimin menolaknya secara halus. Tidak menjadi qadhi, beliau malah diberi amanah yang lebih besar, yakni anggota di Hai’ah Kibarul Ulama (semacam MUI) di Kerajaan Arab Saudi. Bukan semata-mata jabatan, setidaknya ini menjadi bukti akan kapasitas keilmuan beliau. Lebih-lebih, beliau mengiringi keilmuan itu dengan amaliah dan keteladanan.

Sebagai ulama yang teguh dalam memegang tauhid dan sunnah, membuat beliau sering menjadi “sasaran bidik” musuhmusuh dakwah tauhid dan sunnah. Berbagai celaan atau hujatan sering dialamatkan kepada beliau, terutama oleh mereka para pengusung kesyirikan dan pengusung dakwah fanatisme kelompok (partai). Fatwafatwa kontemporer beliau yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dimentahkan. Namun, keteguhan di atas hujah, mampu mementahkan kembali semua tuduhan dan fitnah itu. Umat pun insya Allah akan selalu merindukan sosoknya yang tak hanya sarat ilmu, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam keteladanan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Meluruskan Sikap Iman kepada Para Nabi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengimani para nabi dan rasul tak semata memercayai adanya para nabi dan rasul yang diutus. Ada beberapa hal yang mesti kita wujudkan dalam sikap dan keyakinan kita sebagai konsekuensi keimanan tersebut, terutama menyangkut kedudukan manusia-manusia termulia di muka bumi itu. Adalah wajib bagi kita untuk meyakini bahwa mereka adalah manusia termulia, pilihan Allah Subhanahu wata’ala. Namun, tidak berarti kita mendudukkan mereka secara berlebihan.

Sikap ghuluw (berlebihan) sehingga mendudukkan mereka seperti Rabb yang disembah adalah sikap yang menggelincirkan kaum Nasrani kepada kekafiran. Keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah awal kejadian, alam semesta diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lah alam itu diciptakan, juga salah satu bentuk ghuluw lain yang beraroma Nasrani. Inilah akidah Ibnu Arabi dan orangorang Sufi pengikutnya. Sufi mengangkat derajat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian tinggi sehingga seolah-olah sama kedudukannya dengan Yesus (Anak Allah) dengan Tuhan Bapak menurut kepercayaan Kristen.

Ada juga sufi ekstrem yang meyakini bahwa wali mereka punya derajat yang lebih tinggi dari nabi dan rasul. Demikian juga Syiah Rafidhah yang menganggap imam mereka mempunyai derajat yang tidak dicapai oleh nabi dan rasul dan malaikat yang terdekat. Wali versi sufi dan imam versi Syiah (Rafidhah), bahkan diyakini mempunyai sifat rububiyah, turut mengatur alam semesta, mematikan dan menghidupkan, mengetahui urusan gaib. dsb., sebuah keyakinan yang tentu saja lebih sesat daripada Nasrani. Berseberangan dengan itu adalah Yahudi dan yang membebek kepada mereka. Yahudi menjadi bangsa yang suka menista dan menghujat para nabi, bahkan membunuh sebagian di antaranya. Kelakuan bangsa Yahudi, tentu tidak pantas diikuti. Menyematkan karakter-karakter buruk kepada para nabi Allah sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthub, kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam— berarti menghujat pilihan Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala tidak mungkin salah pilih. Dia pasti memilih hamba-Nya yang terbaik guna menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Tak perlu banyak dalil untuk membantah omongan penghujat nabi.

Cukuplah sebuah cermin dihadapkan pada mereka, siapakah nabi dan siapa yang menghujat? Keimanan kepada para nabi dan rasul dipungkasi dengan keimanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad, seorang muslim wajib pula meyakini bahwa Muhammad n adalah khatamun-nabiyyin (penutup para nabi), tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya sampai hari kiamat. Maka dari itu, keimanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa disejajarkan dengan keimanan kepada nabi palsu pengidap waham, semacam Mirza Ghulam Ahmad dan yang sejenisnya. Keimanan kepada nabi juga harus melingkupi seluruh nabi. Mengingkari seorang nabi saja yang disebutkan al-Qur’an dan as-Sunnah berarti mengingkari nabi dan rasul seluruhnya. Ketika Nasrani dan Yahudi mengingkari kerasulan Muhammad, mereka sama saja mengingkari seluruh nabi, yang berarti keluar dari lingkup keislaman.

Keyakinan aneh dalam hal keimanan kepada para nabi yang banyak bertebaran di sekitar kita, tentunya tak bisa didiamkan dengan dalih ukhuwah. Keyakinan-keyakinan semacam inilah yang jika dibiarkan justru akan memecah belah umat. Jangan sampai kita salah bersikap. Dakwah yang mencegah umat dari kesesatan justru dianggap memecah belah, sedangkan dakwah yang mendiamkan kesesatan justru dianggap merajut ukhuwah. Semoga kita lebih bisa menyayangi umat, tumbuh kecemburuan manakala saudara-saudara kita terperangkap jerat kesesatan Sufi atau Syiah. Mari kita buang sikap diam terhadap kesesatan dengan dalih ukhuwah.

Dengan itu kita berharap, pemahaman dan akidah umat bisa lurus sesuai yang dimaukan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Syar’i atau Trendi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Jilbab (baca: kerudung) telah menjadi komoditas mode. Banyak wanita yang lantas latah mengikuti perkembangan mode kerudung. Sejumlah artis pun menjadi trendsetter (acuan) berkerudung. Muncullah kerudung Inneke, kerudung Manohara, kerudung Marshanda, dsb.

Produsen-produsen kerudung dengan teramat santai mengemasnya dengan slogan trendi dan syar’i, smart dan syar’i, praktis dan Islami, syar’i dan girlie, funkies namun syar’i, dsb. Karena laris, bisnis kerudung pun menjanjikan untung segunung. Yang menyedihkan, segala kerudung itu turut dikampanyekan sejumlah media Islam. Iklan kerudung hampir memenuhi seluruh isi majalah. Iklan kerudung bikin untung, memang. Namun, sadarkah kita sebagai media Islam, iklan itu menjadi semacam tazkiyah (rekomendasi) akan berbusana seperti ini? Belum dengan model menawan yang bisa mengundang godaan bagi laki-laki yang memandangnya.

Apakah kita siap mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Allah Subhanahu wata’ala? Bicara “fikih” mending, memang mending pakai kerudung daripada tidak sama sekali. Daripada mengumbar aurat lebih mending jika “menutup” aurat. Namun, masalahnya adalah munculnya jilbabjilbab gaul telah membelokkan semangat berpakaian yang syar’i. Banyak “hijaber” dengan kerudung seperti itu telah merasa menutup aurat, walaupun hakikatnya hanya menutup kepala. Tanpa disadari, kita bahkan menjadi “iklan berjalan” dari makar musuhmusuh islam yang berupaya membelokkan makna hijab yang syar’i. Alih-alih memakai jilbab yang longgar dan menutup dada, malah muncul model “berjilbab” yang ala kadarnya. Atasnya kerudung mini, bawahnya koboi.

Atasnya kerudung, bawahnya transparan. Atasnya kerudung, bawahnya celana pensil. Jilbab yang sedianya demi menjaga kehormatan diri tanpa mengundang daya tarik laki-laki mengalami anomali. Kini berjilbab itu justru wajib good looking (enak dilihat), modis, atau stylish. Belum dengan aksesoris yang Syar’i atau Trendi? “mempermanis” penampilan. Pernahkah kita sejenak merenung, kita sudah merasa menutup aurat namun nyatanya kita masih giat mengundang daya tarik laki-laki? Alhasil, tak hanya beranomali, gaya “berjilbab” sekarang benar-benar belok kiri. Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak mau mengenakan jilbab dengan dalih yang penting ketakwaan bukan penampilan. Kalau penampilan dianggap tidak penting, mengapa wanita yang beralasan semacam itu tiap pekan ke salon dan spa; dan kenapa tiap keluar rumah selalu bermake-up? Pakaian takwa memang yang paling utama. Namun jangan lupa, pakaian yang tampak adalah bagian dari ketakwaan seseorang.

Lebih lebih, berhijab adalah perintah Allah Subhanahu wata’ala, dan tanda ketakwaan adalah ketaatan kita dalam menjalankan perintah-Nya. Problem yang sama juga dialami kaum pria. Sekarang banyak busana pria yang hanya meniru-niru model yang sedang ngetren, entah itu berasal dari Barat atau Korea. Belum rasa malu yang sudah tanggal, laki-laki kemana-mana menggunakan celana yang menampakkan aurat, entah itu celana pendek, ketat, atau yang berlubang di sanasini. Belum dengan model potongan yang melebihi mata kaki. Sekali lagi, kesadaran menutup aurat atau taat kepada aturan syar’i tenggelam dalam gempita fesyen.

Giliran ketemu jilbab syar’i atau jubah dituding adat Arab, seakan-akan celana jeans atau jas lengkap dengan dasinya adalah adat asli Indonesia. Intinya, memang ada rasa minder dalam hal ini. Oleh karena itu, mari kita perbaiki diri, sempurnakan hijab atau busana kita sesuai aturan syar’i. Semakin kita menutup rapat aurat kita, semakin tinggi harga diri kita sebagai seorang muslim/ muslimah. Lebih-lebih, hijab adalah suatu kebaikan besar, kehormatan, kemuliaan, sekaligus identitas seorang muslimah. Ketidaksiapan tidaklah pantas dijadikan alasan. Jika niat kita lurus, Allah Subhanahu wata’ala lah yang akan memberikan kita kesiapan dan kemantapan. Kata “syar’i” dan “trendi” bagaimanapun sulit bersenyawa. Jadi, kita pun diharuskan memilih: syar’i atau trendi?

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ulama Kita Bukan Berhala

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ada saja tuduhan dari orang-orang yang asal bunyi (asbun) dalam menentang dakwah tauhid ini. Caci-maki, hujatan, hingga fitnah sudah menjadi menu keseharian bagi “Ahlul Asbun”. Yang paling asbun adalah tuduhan bahwa sejumlah ulama dituding sebagai berhala kaum Wahabi. Na’udzubillah.

Memahami apa itu Wahabi saja masih belepotan, bisa-bisanya tudingan keji itu terlontar oleh mereka yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Sebagai “Ahlus Sunnah”, semestinya mereka mengagungkan sunnah. Tetapi, alih-alih mengagungkan sunnah, mereka acap berada di barisan terdepan dalam mengolok-olok sunnah dan gandrung dengan ritual-ritual bid’ah (dan syirik), termasuk ritual-ritual yang bersumber dari agama Hindu, na’udzubillah. Dalam menyikapi ulama, Ahlus Sunnah bukanlah orang yang membabi buta, bukan orang yang membebek alias taklid seperti orang-orang “asbun” tadi. Berfatwa nyeleneh— bahkan menjurus kufur—justru diikuti, dibela mati-matian, dianggap wali, dan kuburannya dikeramatkan.

Kalau begitu, siapa yang lebih pantas disebut memberhalakan? Ahlus Sunnah juga bukan orang yang gemar mengultuskan. Percaya diri menggelari tokoh tertentu dengan “asy-Syahid”, menganggap imam seorang tokoh hanya karena tokoh itu meletup-letup kebenciannya terhadap Amerika Serikat dan mengampanyekan terorisme, atau menyematkan gelar ahli fatwa terhadap tokoh yang hanya tahu soal “politik”. Kapasitas keilmuan, seperti ilmu hadits, akidah, tafsir, fikih, dll., menjadi tidak penting lagi. Yang dipegangi Ahlus Sunnah sejatinya adalah kebenaran, bukan individunya. Jadi ia bersikap dengan tarjih, memilih dalil mana yang paling sahih. Jadi sangat mungkin dalam amaliah tertentu—seperti gerakan shalat—, ia mengikuti pendapat ulama A, namun dalam gerakan shalat yang lain, ia memegangi pendapat ulama B.

Sikap ini juga yang dipegangi asy- Syaikh bin Baz, salah satu ulama masa kini yang dimiliki umat ini. Walaupun dalam memahami fikih beliau memakai thariqah (mazhab) Ahmad bin Hanbal rahimahullah (mazhab secara istilah, bukan mazhab syakhshi, yaitu mengambil semua pendapatnya), namun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, beliau tetap memakai metodologi tarjih, dengan mengambil pendapat yang didukung oleh dalil yang paling sahih. Demikian pula ketika mengeluarkan fatwa, karena sebagaimana kata beliau, al-haq itulah yang pantas diikuti. Kebutaan total yang dialami beliau sejak usia dua puluh tahun, tak menyurutkan semangat beliau dalam menggali banyak ilmu. Alhasil, kealiman ulama yang bernama lengkap Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah Ali Baz ini tidak diragukan lagi.

Penjelasan dan fatwa beliau sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat. Semangat ibadah, kesungguhan, kedermawanan, dan kasih sayang beliau menjadi teladan bagi kaum muslimin. Akidah dan manhaj dakwah beliau tecermin dari tulisan atau karya-karyanya. Aqidah Shahihah dan at-Tahdzir minal Bida’ adalah di antara karya beliau yang menunjukkan pembelaan beliau kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan, serta komitmennya yang kuat dalam menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Jabatan Rektor Universitas Islam Madinah, Ketua Hai’ah Kibaril ‘Ulama (Majelis Ulama Besar), Ketua al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Kerajaan Saudi Arabia, dan pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami yang pernah disandangnya, setidaknya menunjukkan kapasitas beliau, sekaligus kepercayaan dan keridhaan umat terhadapnya.

Maka dari itu, kala menyikapi ulama, yang terpenting, kita tidak terperangkap dalam jeruji taklid. Menutup seluruh dinding hati dari menerima kebenaran, hanya karena ulama tersebut berfatwa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Hanya karena dia berasal dari Arab Saudi kemudian aroma kebencian kita tersulut, sedikit-sedikit langsung berkomentar, “Ini ajaran Wahabi,” tanpa melihat bahwa dalil yang beliau bawa demikian gamblang dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Jangan sampai fanatisme melilit mati hati kita, sehingga kita justru memberhalakan kesesatan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته