Mewaspadai Bahaya Gerakan Syiah

Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?

Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.

1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syiah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)

2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (yakni Syiah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

3. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orangorang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

4. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)

5. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ) itu orang Islam.” (as- Sunnah karya al-Khallal 1/493)

6. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda berkata, “Itu kan versi ulama Sunni! Bagaimanakah keterangan ulama ahlul bait tentang mereka?” Baiklah, kalau begitu simaklah keterangan berikut ini.

1. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syiah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka dari itu, gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku…” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

2. Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah! Menurutku, Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syiah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syiah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

3. Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syiah) kehidupan hingga saat ini, porakporandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syiah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta untuk membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab terbunuhnya kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy- Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

4. Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin rahimahullahberkata, “Mereka (Syiah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

5. Al-Imam Muhammad al-Baqir rahimahullah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syiah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

6. Al-Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala berlepas diri dari orang-orang yang membenci Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi 6/260) Bisa jadi, Anda heran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syiah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda. Jawaban ringkasnya, karena Syiah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini.

 

Kedekatan Syiah dengan Yahudi

Syiah sangat dekat dengan Yahudi. Kedekatan itu setidaknya dalam dua hal yang sangat prinsip:

1. Pendirinya

2. Prinsip keyakinannya (akidahnya).

Pendiri agama Syiah adalah seorang peranakan Yahudi kota Shan’a, Yaman. Dia bernama Abdullah bin Saba’ al- Yahudi al-Himyari.2 Ibunya seorang wanita yang berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda’ (putra seorang wanita yang berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba’ berkarakter buruk, licik, dan penuh makar terhadap Islam dan umat Islam. Dia menyusup di tengah-tengah umat Islam untuk merusak tatanan agama dan masyarakat. Awal kemunculannya di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah) dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan di tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu hingga terbunuhlah beliau.

Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia menampakkan kecintaan dan loyalitas yang tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai syi’atu Ali (para pengikut Ali). Dengan kedok kecintaan dan loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlul bait itulah agama Syiah terus menggurita di tengah umat. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 8/479, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 490, dan Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 123)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Para ulama menyebutkan bahwa latar belakang Rafdh (Syiah) adalah dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba’) yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan identitas Yahudinya. Dia berupaya merusak Islam sebagaimana Paulus (seorang Yahudi, -pen.) yang menampakkan diri sebagai seorang kristiani untuk merusak agama Kristen.” (Majmu’ Fatawa 28/483)

Adapun prinsip keyakinan (akidah) Syiah, banyak kesamaannya dengan prinsip keyakinan (akidah) Yahudi. Hal ini tentu tidak aneh, sebab pendirinya adalah seorang Yahudi. Di antara prinsip keyakinan (akidah) mereka yang sama dengan Yahudi adalah sebagai berikut.

1. Tentang washiy

Washiy adalah seseorang yang mendapat wasiat untuk melanjutkan tugas atau misi si pemberi wasiat. Dalam agama Yahudi, adanya washiy adalah satu keharusan. Demikian pula dalam agama Syiah. Kalau washiy dalam agama Yahudi adalah Yusya’ bin Nun yang didaulat sebagai pengganti Nabi Musa ‘Alaihissalam, maka washiy dalam agama Syiah adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, dalam prinsip keyakinan (akidah) Syiah, para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib rahimahullah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman g adalah perampas kekuasaan dan mereka telah kafir. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/169—197)

2. Tentang kepemimpinan umat

Dalam agama Yahudi, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Nabi Dawud q. Dalam agama Syiah, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Demikianlah kondisi 12 imam mereka yang diyakini ma’shum (terlindungi dari dosa), termasuk Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/201—224)

3. Tentang raj’ah

Raj’ah adalah hidup kembali setelah mati sebelum hari kiamat. Dalam agama Yahudi, orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Demikian pula menurut agama Syiah. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati dan tinggi keimanannya akan dihidupkan kembali di masa Imam Mahdi (akhir zaman) untuk dimuliakan. Demikian pula orang-orang yang sudah mati dan tinggi tingkat kejahatannya akan dihidupkan kembali untuk dihinakan. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/275—312)

4. Tentang al-bada’

Al-bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam agama Yahudi, al-bada’ terjadi pada Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula menurut agama Syiah. Bahkan, mereka menjadikannya bagian dari tauhid. Berbeda halnya dengan agama Islam, ilmu Allah Subhanahu wata’ala sangat luas, tak dibatasi oleh sesuatu pun. Ilmu Allah Subhanahu wata’ala bersifat azali (tak bermula dan berakhir). Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari ilmu- Nya. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al- Jumaili 1/317—352)

5. Tentang mengubah Kitab Suci

Mengubah Kitab Suci adalah sifat tercela yang melekat pada ulama Yahudi, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah l dalam banyak ayat-Nya. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengubah al-Qur’an hingga berlipat jumlah ayatnya. Anehnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islamlah yang telah mengalami pengubahan. Wallahul musta’an. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/355—438)

6. Tentang kecintaan dan kebencian

Kaum Yahudi berlebihan dalam hal mencintai sebagian nabi mereka dan membenci sebagian yang lainnya. Demikian pula sikap mereka terhadap para ulama yang membimbing mereka. Kaum Syiah tak jauh berbeda. Mereka berlebihan mencintai para imam mereka, bahkan memosisikan mereka di atas para malaikat dan para nabi. Di sisi lain, mereka membenci para sahabat , bahkan mengafirkan mereka. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/443—513)

7. Tentang pengagungan diri mereka

Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka adalah manusia terbaik, bahkan mereka mengklaim sebagai anak-anak Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengklaim sebagai orang-orang pilihan Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Kaum Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina.

Demikian pula halnya dengan kaum Syiah, mereka mengklaim sebagai manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/517—554)

8. Tentang pengafiran selain mereka

Kaum Yahudi memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. Demikian pula halnya kaum Syiah, memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/559—597)

9. Tentang kedustaan yang ada pada mereka

Sifat dusta sudah menjadi karakter kaum Yahudi, baik dalam kehidupan beragama maupun keseharian. Tak beda jauh dengan kaum Syiah, mereka menjalankan kehidupan beragama dengan kedustaan yang mereka sebut dengan taqiyah. Oleh karena itu, al-Imam asy-Syafi’I rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam hal persaksian palsu.” (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al Jumaili 2/631—669)

Patut dicatat di sini bahwa semua yang telah disebutkan tentang kesamaan agama Syiah dengan agama Yahudi di atas, tak didapati pada umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab, mereka meyakini kewajiban menyelisihi kaum Yahudi dalam kehidupan ini, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Anehnya, seiring dengan banyaknya kesamaan antara agama Syiah dengan agama Yahudi, sebanyak itu pula perbedaannya dengan agama Islam. Perbedaan itu bukan dalam hal yang kecil, melainkan dalam hal mendasar yang merupakan prinsip dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan! Al-Qur’an mereka berbeda dengan al-Qur’an umat Islam, azan dan iqamat mereka berbeda dengan azan dan iqamat umat Islam, tata cara berwudhu mereka berbeda dengan tata cara berwudhu umat Islam, kaifiyah shalat mereka berbeda dengan kaifiyah shalat umat Islam, dan hari wukuf mereka di Arafah (ketika berhaji) pun berbeda dengan hari wukuf umat Islam. (Lihat VCD Bahaya Kesesatan Syiah dan VCD Ada Syiah di Indonesia)

Syiah Merobohkan Tiga Pilar Utama Umat Islam

Ada tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah). Bagaimanakah upaya Syiah merobohkan tiga pilar itu? Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya. Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Disebutkan juga dari Abu Abdillah ( 1 / 2 3 9 — 2 4 0 ) , dia berkata , “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.” Abu Bashir bertanya, “Apa mushaf Fatimah itu?” Dia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf yang isinya tiga kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath- Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah terjadi pengubahan dan penyimpangan. Adapun terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya:

1. Mengklaim bahwa para istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan. Disebutkan dalam kitab mereka, Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya ath-Thusi (hlm. 57—60), dinukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

2. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Tentu saja, dengan dikafirkannya para sahabat berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan melalui mereka. Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian dia menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy- Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka cela dan laknat. Bahkan, mereka berlepas diri dari keduanya adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…. (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al- ‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mmampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasul bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka (Syiah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Lebih dari itu, dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa pun akan kesulitan untuk memahami agama Islam dengan baik dan benar. Sebab, melalui merekalah ilmu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diwariskan dan melalui mereka pula pemahaman yang benar tentang agama ini didapatkan. Tanpa itu, kesesatanlah kesudahannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al- Andalusi rahimahullah berkata, “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah Subhanahu wata’ala (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi pertama dari umat ini.” (al-Marqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 36—37)

Pengkhianatan Syiah Terhadap Umat Islam

Syiah tercatat kerap melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. (Lihat ungkapan kekecewaan mereka pada pembahasan sebelumnya)

Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami, yang beragama Syiah. Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.

Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama. Selama 40 hari pembantaian terus menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam. Sementara itu, sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya. Wallahul musta’an. (Untuk lebih rincinya, silakan membaca al- Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335)

Demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Salafy Menilai Seorang Dari Temannya

Musa bin Uqbah ash-Shuri datang ke Baghdad. Hal ini disampaikan kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kata beliau,

انْظُرُوا عَلَى مَنْ نَزَلَ وَإِلَى مَنْ يَأْوِي

“Perhatikan, kepada siapa dia singgah dan kepada siapa dia berlindung.” (al- Ibanah, 2/479—480 no. 511)

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah mengatakan,

مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعََتَهُ لَمْ تَخْفَ عَلَيْنَا أُلْفَتُهُ

“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita, tidak akan tersembunyi dari kita pertemanannya.” (al-Ibanah, 2/476, no. 498)

Yahya bin Sa’id al-Qaththan menceritakan, tatkala Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengunjungi Bashrah, beliau memerhatikan keadaan ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di mata manusia. Beliau pun bertanya, “Apa mazhabnya?” Mereka menjawab, “Mazhabnya tidak lain adalah as-Sunnah.” Beliau rahimahullah bertanya lebih lanjut, “Siapa teman dekatnya?” Mereka menjawab, “Para pengingkar takdir.” “Jika demikian, dia adalah pengingkar takdir juga,” tukas beliau rahimahullah. (al- Ibanah, 2/453 no. 421) (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 53—55)

Keteladanan Sang Ulama

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Salah seorang ulama masa kini yang dikenal ahli dalam fikih adalah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi, atau yang lebih dikenal dengan nama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin atau asy-Syaikh Utsaimin.  Darah ulama memang seakan sudah mengalir pada dirinya. Kakeknya, asy-Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali ad-Damigh t, adalah ulama. Kepada kakeknya, Utsaimin kecil belajar al-Qur’an. Kemudian dia banyak belajar pada ulama-ulama yang lain hingga kepada guru utama beliau yang terkenal sebagai ulama tafsir, yakni asy- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.

Menginjak remaja, Utsaimin belajar kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Kepada asy-Syaikh bin Baz, beliau banyak menimba ilmu hadits dan fikih. Kesabaran dan keuletan adalah salah satu sifat asy-Syaikh Utsaimin yang menonjol. Saat di Unaizah—tempat kelahiran beliau—, di awal dakwah, beliau hanya diikuti oleh beberapa murid. Namun dengan kesabaran, akhirnya dakwah beliau berkembang hingga memiliki ribuan murid. Kadang meskipun dalam keadaan kurang sehat, asy-Syaikh al-’Utsaimin tetap bersemangat untuk memberikan khutbah Jum’at di al-Jami’ al-Kabir, memimpin doa, dan menemui tamu-tamu untuk menjawab pertanyaan ataupun memberikan penjelasan. Semua ini memang kemauan dari beliau sendiri. Ketika diingatkan untuk istirahat, beliau menjawab, “Istirahat adalah dengan tetap memberikan pelayanan kepada umat.”

Suatu saat, ketika sedang melakukan rekaman untuk acara radio (Nur ‘ala Darb), asy-Syaikh al-Utsaimin tampak diserang rasa kantuk. Kesabaran, sifat toleran, dan semangat beliau untuk segala sesuatu yang di dalamnya terdapat manfaat untuk umat, demikian tampak. Beliau berusaha melawan rasa kantuknya dengan meminta berhenti sebentar dan meminta kabel mikrofon dipanjangkan sehingga beliau bisa menjawab pertanyaan sambil berdiri. Dengan mikrofon kecil yang bisa ditempelkan di baju dengan kabel yang lebih panjang, beliau melanjutkan menjawab pertanyaan sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan untuk menghilangkan rasa kantuk. Ini dilakukan beliau sampai proses rekaman selesai.

Kebesaran jiwa dan kesabaran beliau tak pelak mengantarkan beliau menjadi ulama besar yang disegani. Beliau pernah ditawari oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh (mufti pertama Kerajaan Arab Saudi) agar menduduki jabatan qadhi (hakim) tinggi, bahkan telah dikeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Ahsa, namun asy- Syaikh Utsaimin menolaknya secara halus. Tidak menjadi qadhi, beliau malah diberi amanah yang lebih besar, yakni anggota di Hai’ah Kibarul Ulama (semacam MUI) di Kerajaan Arab Saudi. Bukan semata-mata jabatan, setidaknya ini menjadi bukti akan kapasitas keilmuan beliau. Lebih-lebih, beliau mengiringi keilmuan itu dengan amaliah dan keteladanan.

Sebagai ulama yang teguh dalam memegang tauhid dan sunnah, membuat beliau sering menjadi “sasaran bidik” musuhmusuh dakwah tauhid dan sunnah. Berbagai celaan atau hujatan sering dialamatkan kepada beliau, terutama oleh mereka para pengusung kesyirikan dan pengusung dakwah fanatisme kelompok (partai). Fatwafatwa kontemporer beliau yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dimentahkan. Namun, keteguhan di atas hujah, mampu mementahkan kembali semua tuduhan dan fitnah itu. Umat pun insya Allah akan selalu merindukan sosoknya yang tak hanya sarat ilmu, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam keteladanan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 91

Rubrik SHI Hilang?

Bismillah. Afwan, mengapa rubrik “Seputar Hukum Islam” (untuk empat edisi terakhir) sering tidak ada? Mohon rubrik ‘Khazanah’ dibukukan. Abu Ibrahim-Tegalan 085728xxxxxx

Jawaban redaksi

Kami memohon maaf jika dalam beberapa edisi terakhir, Pembaca tidak menjumpai rubrik “Seputar Hukum Islam”. Ini karena ada hal-hal teknis keredaksian yang membuat rubrik tersebut tidak termuat. Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.

 

Ungkapan Berlebihan?

Bismillah. Di Asy-Syariah edisi lama no. 77 (Ulama Hadits Dinista) pada hlm. 11. Tema wafatnya ulama, sungguh benar kita sangat kehilangan, ilmu mulai dicabut. Hanya saja pada paragraf ke-2 tertulis ‘matahari itu kini tenggelam’, bukankah hal ini berlebihan? Pada hlm. 54 paragraf ke-2 ‘ulama adalah rembulan di langit…’, jika ada tambahan kata ‘ibarat/seperti’ maknanya akan lebih tepat. Wallahu a‘lam. 085692xxxxxx

Jawaban redaksi

Ungkapan semacam ini hal yang sudah dimaklumi di kalangan ulama, dan yang dimaksud bukan matahari atau bulan yang sebenarnya. Al-Imam asy- Syafirahimahullah pernah berucap, “Apabila disebutkan tentang para ulama, maka (al-Imam) Malik adalah bintang.” Lihat kitab Jami’ Ushul fi Ahadits ar-Rasul (1/182). Contoh pemakaian lainnya adalah nama/julukan para ulama, semisal Ibnul Qayyim rahimahullah yang dijuluki Syamsuddin (matahari agama). Perlu kita perhatikan, sebaiknya kita tidak bermudah-mudah menyikapi sebuah masalah berdasarkan perasaan atau pemahaman yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Kita sangat perlu melihat bagaimana para ulama kita menyikapi hal-hal semacam ini. Barakallahu fikum.

Koreksi

Pada edisi Asy-Syariah edisi 89 rubrik doa sama seperti edisi sebelumnya? 08988xxxxxx

Ada sedikit kesalahan cetak pada majalah Asy-Syariah edisi 90 hlm. 29, teks dalam kotak terlihat kacau. 081392xxxxxx

Jawaban redaksi

Ya, Anda benar. Ini murni kesalahan redaksi. Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.

Pada edisi 89 hlm. 12-13, dalam ayat al-Baqarah ayat 29, lafadznya “tsummastawa ilassamai, terjemahannya “Dia berkehendak menciptakan langit”? Tolong jelaskan makna istiwa dalam ayat tersebut. Barakallahu fikum. Abu Abdillah – Sulawesi 085299xxxxxx

Anda benar, ada kesalahan dari Redaksi. Kalimat tersebut hasil copy paste dari program terjemahan, dan qaddarallah lolos dari editan. Makna istiwa sebagaimana yang menjadi akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah tinggi dan berada di atas. Kami bertobat kepada Allah atas kesalahan tersebut. Jazakumullah khairan atas koreksi Anda.

Berkaca Pada Ulama

Ulama adalah sosok manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasa takut yang lekat pada dirinya adalah rasa takut yang lahir dilatari oleh ilmu yang dimilikinya. Ulama adalah sosok manusia yang benar-benar mengetahui dan memahami siapa yang ditakuti. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan hal itu melalui firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena itu, ulama adalah sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa menerapkan ilmunya di dalam kehidupan sehari-hari. Tindak-tanduk, perbuatan, tutur kata, dan amaliah hatinya senantiasa bersendi pada apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan disabdakan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu yang disandangnya tidak semata tecermin dari lisannya. Tak semata dari kefasihannya berbicara. Lebih dari itu, segenap amal perbuatan mencerminkan bahwa sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala tersebut adalah seorang alim. Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaim bin Abdirrahman al-‘Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi termasuk salah seorang ulama. Apa yang telah beliau rahimahullah perbuat, memberikan manfaat yang teramat banyak pada umat ini. Lebih dari 90 kitab, baik dalam bentuk risalah maupun yang berjilid, telah beliau rahimahullah wariskan kepada kaum muslimin. Kecintaan beliau rahimahullah terhadap ilmu telah tampak sejak usia pertumbuhan. Al-Qur’an telah dihafal pada usia dini.

Belum menginjak usia 15 tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan kitab Zadul Mustaqni’ dan Alfiyah Ibn Malik. Beliau rahimahullah telah mendapat bimbingan dari para ulama sejak usia yang teramat muda. Meski hidup dalam kesederhanaan, beliau tetap bersemangat menuntut ilmu hingga menyelesaikan pendidikan di Universitas al-Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Beliau adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang hidup diselimuti kezuhudan. Meski demikian, sebagai seorang yang mencintai ilmu dan amal, beliau senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri. Sikap zuhud beliau tergambar saat beliau menerima bantuan dari Raja Khalid bin Abdul Aziz. Setelah diterima, bantuan tersebut beliau wakafkan untuk kepentingan para penuntut ilmu syar’i.

Demikian pula saat diberi sesuatu dalam jumlah besar, beliau langsung mengumumkan bahwa pemberian itu digunakan untuk para penuntut ilmu syar’i. Pemberian itu tidak dijadikan sebagai milik pribadi, tetapi diserahkan kepada umat. Sikap zuhud yang sedemikian agung. Sikap zuhud demikian tertanam pada diri beliau rahimahullah. Sikap itu pula yang beliau ajarkan kepada umat. Kata asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Seseorang wajib menjadi manusia yang zuhud. Dia zuhud dalam urusan dunia dan lebih mencintai urusan akhirat. Apabila Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai harta, jadikanlah harta itu sebagai pembantu ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hendaklah dia jadikan dunia sebatas di tangannya, tidak sampai merasuk ke dalam hati, sehingga dirinya meraup dua keberuntungan, yaitu keberuntungan dunia dan keberuntungan akhirat.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Zuhud, kata beliau rahimahullah adalah upaya meninggalkan sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin I/790 dan 799, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah) Suatu hari, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyerahkan bantuan dalam jumlah yang besar. “Wahai Abdullah, aku dan engkau di sini hanya berdua. Tak ada yang melihat selain Allah Subhanahu wata’ala. Ambillah dana ini. Bantuan ini murni dari hartaku. Belikan mushaf al-Qur’an dan bagikan mushaf tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan di penjara-penjara yang berada di Amerika,” ucap beliau kepada orang yang diamanati membagikan bantuan tersebut. Beliau berpesan, “Engkau yang bertanggung jawab membelikan dan membagikannya. Aku minta kepadamu, demi Allah, agar tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 23)

Beliau zuhud, dermawan, suka membantu, dan rendah hati. Sedemikian kokoh ketawadhuan menyelimuti beliau hingga membentuk sikap tak suka memamerkan keadaan diri. Jauh dari publisitas, sebuah sikap terpuji nan luhur yang patut ditiru. Sebagai seorang ulama yang banyak dikenal masyarakat luas, beliau sangat dekat dengan umat. Kemasyhuran namanya tak lantas menjadikan dirinya tinggi hati. Kisah berikut menggambarkan sikap “hangat” beliau terhadap umat. Kejadian ini di kota Makkah sebelum asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah wafat. Setelah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah, beliau hendak pergi ke satu tempat. Karena tempat yang dituju cukup jauh, beliau naik taksi. Di tengah perjalanan, sang pengemudi taksi menyapa dan ingin mengenal lebih dekat penumpangnya. Terjadilah obrolan di antara keduanya.

Pengemudi taksi itu bertanya, “Siapakah Anda, wahai syaikh (panggilan akrab untuk orang yang telah tua, red.)?” Jawab asy-Syaikh, “Muhammad bin ‘Utsaimin.” Mendengar nama tersebut, sang pengemudi taksi heran dan bertanya, “Syaikh (Ibnu Utsaimin yang itu)?” Pengemudi taksi menyangka bahwa penumpangnya membohonginya. “Ya, saya asy-Syaikh,” kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menegaskan guna meyakinkannya. Namun, pengemudi taksi itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya lantaran heran dan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, asy-Syaikh berbalik tanya kepada pengemudi taksi, “Siapakah Saudara?” Pengemudi taksi menjawab, “Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz!” Mendengar jawaban tersebut, asy- Syaikh ‘Utsaimin tertawa. “Engkau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?” tanya asy-Syaikh. Sang pengemudi berbalik tanya, “Apakah engkau juga asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin?” Kata asy-Syaikh, “Akan tetapi, asy- Syaikh bin Baz memiliki keterbatasan fisik (buta). Beliau tentu tidak mampu mengemudikan mobil.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 39—40)

Dialog ringan di atas begitu cair mengalir bagaikan air, menggambarkan salah satu akhlak beliau. Kesabaran beliau teramat kental kala menghadapi orang awam. Dengan santun penuh rahmat dan ramah, ungkapan-ungkapan polos itu ditanggapi dengan bijak. Tidak ada ketersinggungan apalagi amarah. Semua dihadapi secara wajar. Saat menjelaskan firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku “Wahai  mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Beliau sebutkan bahwa ‘ala bashirah bermakna ‘ilmu’. Dakwah ini harus diliputi keikhlasan dan ilmu. Sungguh, kebanyakan dakwah ini hancur berderai lantaran hampa dari keikhlasan dan ilmu. Yang dimaksud ‘ala bashirah adalah ilmu, bukan semata ilmu syar’i. Namun, meliputi pula ilmu tentang mad’u (orang yang didakwahi). Ilmu yang mengantarkan pada keberhasilan meraih yang dituju, yaitu hikmah. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat hendak mengutus Abu Musa al- Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma ke negeri Yaman,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi dan HR. Muslim, Kitab al-Iman, dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat kitab karya beliau al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabi at-Tauhid, hlm. 85)

Keutamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin terekam pula dari kebiasaannya dalam beribadah. Beliau rahimahullah senantiasa menegakkan ibadah yang bersifat fardhu, sunnah, dan ketaatan lainnya. Hal itu tergambar di antaranya dari amalan haji yang dilakukannya setiap tahun dalam jangka waktu yang panjang. Demikian pula umrah, beliau selalu berumrah saat Ramadhan atau waktu lainnya saat musim liburan. Bagaimana dengan shalat malam? Tentu, shalat malam selalu beliau tunaikan walau saat kelelahan mendera. Asy- Syaikh Hamd al-‘Utsman, salah seorang murid beliau bertutur, bahwa saat safar bersama asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ke Riyadh, mereka menyempatkan singgah ke Jeddah untuk selanjutnya menunaikan umrah di Makkah (sekadar diketahui, jarak Riyadh-Jeddah sekitar 851 km, dan Jeddah-Makkah sekitar 66 km, -red.).

Setelah selesai menunaikan umrah, keadaan fisik diliputi kelelahan yang sangat sehingga mereka tertidur pulas. Namun, tengah malam asy-Syaikh Hamd al-‘Utsman terbangun karena ada keperluan ke kamar kecil. Saat itulah beliau melihat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin tengah menegakkan shalat malam. Melihat peristiwa tersebut, asy- Syaikh Hamd al-Utsman berkata, “Subhanallah, saya masih muda, tetapi justru tidur nyenyak. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah lanjut usia. Dalam keadaan fisik kepayahan, beliau tetap menegakkan shalat malam.” Apa yang dilakukan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin malam itu memberi dorongan kepada teman seperjalanannya untuk menunaikan shalat malam. Dia pun bersegera mengambil air wudhu, lantas berusaha untuk shalat malam walau kantuk hebat menerpanya. (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 29—30)

Prinsip untuk senantiasa mengerjakan amal kebaikan secara berkesinambungan termasuk nasihat emas beliau rahimahullah. Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Hendaklah seseorang senantiasa mengerjakan kebaikan.” (Syarhu Riyadhi as-Shalihin, hlm. 403) Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

‘Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan. Dahulu ia senantiasa shalat malam, lantas ia tinggalkan kebiasaannya’.” (HR. al-Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 185)

Yang diperbuat oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin adalah dakwah berupa keteladanan. Beliau memberi contoh dengan landasan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wata’ala. Keteladanan beliau, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, telah mampu menyadarkan hamba Allah Subhanahu wata’ala yang terlelap. Membangunkan jiwa yang tertidur untuk kemudian bangkit menegakkan ketaatan. Betapa dalam dampak keteladanan pada umat. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam dakwah ini manakala para pendakwah hanya mampu menyampaikan pada tataran lisan atau yang diserukan oleh lisan tidak diikuti oleh amalan. Tak ada kesesuaian antara kata dan amal nyata. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Dalam menyikapi ahlul bid’ah, asy- Syaikh bin ‘Utsaimin memiliki pandangan bahwa ahlul bid’ah wajib di-hajr. Makna hajr menurut beliau adalah menjauhi mereka, tidak mencintai, tidak berloyalitas, tidak memberi salam, mengunjungi, menengok mereka, dan lainnya. Menghajr ahlul bid’ah wajib berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling menyayangi dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadilah: 22)

Kepada yang bukan ahli bid’ah pun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerapkan hajr terhadap sahabat Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua orang temannya tatkala mereka enggan mengikuti Perang Tabuk. (HR. al-Bukhari no. 4418 dan HR. Muslim no. 2869 dan no. 53) Termasuk dalam kerangka hajr pula, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berpandangan bahwa seseorang dilarang menelaah bukubuku ahlul bid’ah. Sebab, dikhawatirkan akan terpengaruh dengan buku-buku tersebut. Terlarang pula menyebarkan dan mengedarkan buku ahlul bid’ah. Akan tetapi, manakala dibaca untuk dibantah dan diluruskan ke arah pemahaman yang benar, selama pelakunya mampu, tidak mengapa buku tersebut diteliti. Sebab, bagaimana pun, membantah kebid’ahan itu adalah kewajiban. (Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabili ar-Rasyad, disyarah oleh asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin, hlm. 157—158)

Sikap ini diajarkan kepada umat, tak lain demi menjaga umat dari berbagai penyimpangan dalam memahami Islam. Beliau menghendaki agar umat berada di atas pemahaman salafus shalih, pemahaman yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para imam terdahulu. Inilah tugas ulama. Kini, beliau telah tiada di tengah umat. Namun, karya-karya beliau tetap menjadi rujukan. Karya-karya beliau memberi pencerahan terhadap umat, mengalir tiada henti. Sudah sepantasnya apabila kita berkaca pada ulama. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Pelita Di Tengah Umat

Wafatnya Ulama,Musibah Bagi Umat

Diriwayatkan dari Salman radhiyallahu ‘anhu, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi awal masih ada sehingga generasi berikutnya belajar darinya. Jika generasi pertama mati sebelum yang berikutnya belajar, manusia akan hancur.” (Riwayat ad-Darimi dalam Sunan-nya) Saat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meninggal, Ibnu Abbas c berkata, “Demikianlah hilangnya ilmu. Pada hari ini ilmu yang banyak telah dikubur.” (Riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak) Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pelajarilah ilmu oleh kalian sebelum ilmu itu dicabut. Dicabutnya itu dengan diwafatkannya para pemiliknya….” sampai beliau katakan, “Mengapa aku melihat kalian kenyang dengan makanan tetapi lapar dari ilmu?” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Wafatnya seorang ulama adalah celah dalam Islam yang tidak dapat ditutup oleh apa pun, selama malam dan siang silih berganti.” Ayyub as-Sikhtiani t mengatakan, “Sungguh, apabila sampai kepadaku berita kematian seorang Ahlus Sunnah, seolah-olah satu bagian tubuhku terlepas.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Alam ini menjadi baik dengan adanya ulama. Apabila tidak ada mereka, tentu manusia ibarat hewan ternak, bahkan lebih jelek. Maka dari itu, kematian seorang ulama adalah musibah, tidak ada yang menambalnya melainkan ada penggantinya yang lain. Demikian pula para ulama, merekalah yang mengatur manusia, negeri-negeri, dan budakbudak. Jadi, kematian mereka berarti kerusakan tatanan alam.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menancapkan para ulama dalam agama ini, yang belakangan menggantikan yang terdahulu. Dengan mereka, Allah Subhanahu wata’ala menjaga agama-Nya, kitab-Nya, dan para hamba-Nya. Renungkanlah, jika di alam ini ada seseorang yang mengungguli yang lain di dunia ini dalam hal kecukupan (harta) dan kedermawanan. Sementara itu, orang-orang sangat membutuhkannya dan dia selalu memberikan apa yang dia mampu. Lantas dia mati dan bantuan kepada mereka berhenti. Musibah kematian seorang ulama jauh lebih besar daripada kematian orang semacam itu. Padahal kematian orang yang semacam ini saja akan menyebabkan kematian banyak orang.” (Miftah Daris Sa’adah, dikutip dari buku asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

 

 Nama dan Nasab Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Shalih bin Sulaiman bin Abdurahman bin Utsman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muqbil, dari keluarga besar al-Wahbah dari bani Tamim. Kakek beliau yang keempat, yaitu Utsman, biasa dipanggil dengan sebutan Utsaimin. Akhirnya, keluarga tersebut populer dengan sebutan al-Utsaimin. Jadi, Utsaimin terambil dari nama Utsman. Beliau sendiri lebih dikenal sebagai Ibnu Utsaimin, anak Utsaimin. Maksudnya, anak keturunan Utsaimin. Dalam adat Arab penasaban langsung kepada kakek dan melewati ayah adalah hal yang biasa. Kuniah beliau ialah Abu Abdillah.

 

Tumbuh Kembang & Masa Belajar

Beliau terlahir di kota Unaizah, sebuah kota setingkat kabupaten (muhafazhah) yang termasuk dalam wilayah manthiqah (setingkat provinsi) al-Qashim. Unaizah termasuk kota tertua di manthiqah al- Qashim, kota yang sangat bersejarah bagi Kerajaan Saudi Arabia. Letaknya juga memiliki posisi strategis, yakni di tengah-tengah wilayah Kerajaan Saudi Arabia, tepatnya di sebelah timur laut pegunungan Najed. Beliau lahir pada 27 Ramadhan 1247 H. Beliau tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang menjalankan bisnisnya antara Unaizah dan Riyadh, lalu pekerjaannya menetap di Unaizah. Sebelum wafatnya, ayah beliau bekerja di Darul Aitam di Unaizah. Pernah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, “Apakah Anda berdagang di samping kegiatan belajar Anda?” Beliau menjawab, “Tidak, karena ayah dalam keadaan ekonomi yang lancar di Riyadh.” Suatu saat, beliau menyebutkan kondisi ruang belajarnya, “Sebuah kamar yang terbangun dari tanah dan dapat melihat langsung ke kandang sapi.” Di samping itu, keluarga tersebut dikenal dengan keistiqamahan dan perhatian mereka terhadap urusan agama. Keluarga besar Utsaimin adalah bibi asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Kakek beliau dari pihak ibu, yaitu asy-Syaikh Abdurahman bin Sulaiman al-Damigh t, adalah seorang guru dan imam masjid al-Khazirah di kota Unaizah.

Oleh karena itu, ayah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin memercayakan pendidikan anaknya kepada sang kakek. Jadi, beliau terhitung sebagai guru pertama asy- Syaikh Ibnu Utsaimin. Dari sang kakek ini, beliau belajar al-Qur’an sampai selesai menghafalnya dalam usia yang sangat muda, sebelum genap 14 tahun. Dari beliau pula, Ibnu Utsaimin kecil belajar beberapa bidang ilmu yang lain, seperti menulis, berhitung, dan dasar-dasar bahasa. Semua itu terjadi sebelum beliau melanjutkan thalabul ilmi (menuntut ilmu) di madrasah asy-Syaikh Ali bin Abdullah asy-Syuhaitan. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau kecerdasan, kesucian fitrah, dan semangat yang tinggi untuk mendapatkan ilmu dari para ahlinya. Dengan itu, ayahnya pun mengarahkan beliau untuk konsentrasi belajar agama. Beliau pun belajar langsung dari seorang ulama besar di negeri itu, yakni asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, penulis kitab Taisir al-Karimir-rahman fi Tafsiri Kalamil- Mannan dan berbagai karya lain yang agung lagi bermanfaat.

Kegiatan belajar mengajar asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di dilakukan di masjid al-Jami’ al-Kabir di kota Unaizah dan perpustakaan. Beliau memercayakan pengajaran anak-anak kepada dua orang muridnya: asy-Syaikh Ali ash-Shalihi dan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Muthawwa’. Dari keduanya, asy-Syaikh Utsaimin belajar kitab Mukhtashar al-Aqidah al-Wasithiyyah dan Minhajus Salikin— keduanya karya as-Sa’di—, kitab al- Ajurrumiyah dan al-Alfiyah dalam bidang nahwu, serta ilmu sharaf. Setelah itu, beliau mulai duduk di majelis asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di dan belajar dari beliau beberapa bidang ilmu, di antaranya: tafsir, hadits, tauhid, fikih, ushul fiqih, sirah nabawiah, faraidh (ilmu waris), dan nahwu.

Beliau pun menghafal matan-matan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. As-Sa’di dianggap sebagai syaikh besar pertama yang berpengaruh pada manhaj (metode) beliau dalam hal mengikuti dalil dan tata cara mengajar. Beliau juga sempat belajar dari asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan dalam bidang faraidh, yaitu saat asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan menjabat sebagai qadhi (hakim) di Unaizah. Selain itu, beliau juga pernah menimba ilmu nahwu dan balaghah dari asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi—kelak menjadi wakil mufti di masa asy-Syaikh bin Bazyaitu saat asy-Syaikh Abdurrazzaq berada di kota Unaizah sebagai guru. Ketika dibuka al-ma’hadul ilmi— jenjang setara SMA—di kota Riyadh, beliau melanjutkan thalabul ilmi di sana pada 1372 H, tentu setelah mendapat izin dari sang guru, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di. Beliau berkisah, “Aku masuk ke al-ma’had al-ilmi langsung di kelas dua. Aku melanjutkan belajar di sana setelah bermusyawarah dengan asy- Syaikh Ali ash-Shalihi dan setelah memohon izin dari guruku, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Saat itu, al-ma’had al-ilmi dibagi menjadi dua, bagian umum dan bagian khusus. Aku saat itu berada di bagian khusus. Saat itu juga, bagi siapa yang ingin melompat (ke jenjang berikutnya), dipersilakan. Artinya, dia diperbolehkan mempelajari kurikulum tahun berikutnya pada saat liburan, lalu mengikuti ujian pada awal tahun berikutnya. Apabila lulus, dia bisa mengikuti kelas berikutnya lagi.

Dengan demikian, aku mempersingkat waktu. Setelah itu, aku melanjutkan di jurusan syariah di Riyadh dengan sistem intisab, sampai lulus.” Dengan demikian, beliau belajar di kelas dua, lalu pada liburan musim panas mempelajari kurikulum kelas tiga, kemudian diuji pada awal tahun, dan beliau lulus. Kemudian pada tahun ajaran baru, beliau sudah masuk ke kelas empat. Keberadaan beliau di al-ma’had al-ilmi memberikan kesempatan bagi beliau untuk menimba ilmu dari sebagian ulama terkemuka yang mengajar di sana, di antaranya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan. Beliau mengisahkan perjumpaan awalnya dengan asy – Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi yang berpenampilan tidak meyakinkan. Ibnu Utsaimin bergumam, “Aku tinggalkan guruku, as-Sa’di, lalu aku duduk di depan Arab badui ini?” Akan tetapi, ketika beliau memulai pelajaran, bertaburanlah mutiara-mutiara faedah ilmiah dari lautan ilmunya yang dalam. Saat itulah kami tahu, kami sedang berada di hadapan salah seorang dari ulama besar dan jantan. Kami pun dapat mengambil manfaat dari ilmu, penampilan, akhlak, kezuhudan, dan sifat wara’ beliau.”

Beliau pun bisa belajar kepada asy- Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid, penulis at-Tanbihat as-Saniyyah Syarah al-Aqidah al-Washitiyyah, yang juga seorang qadhi, dan seorang syaikh ahli hadits, Abdurrahman al-Ifriqi. Di saat itu pula beliau berkesempatan menjalin hubungan dengan asy-Syaikh bin Baz sehingga beliau berkesempatan besar menimba ilmu dari beliau di masjid. Beliau pun belajar dari asy-Syaikh bin Baz tentang kitab Shahih al-Bukhari, bukubuku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab-kitab hadits dan pendapat-pendapat para ahli fikih serta perbandingan mazhab. Karena begitu besarnya pengaruh asy-Syaikh bin Baz terhadap diri beliau, asy-Syaikh bin Baz dianggap sebagai syaikh besar kedua yang berpengaruh terhadap beliau dalam bidang ilmu agama dan manhaj. Beliau membenarkan hal itu, “Sungguh, aku sangat terpengaruh oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah dalam hal perhatian terhadap hadits, akhlak, dan kelapangan dadanya terhadap orang lain.” Setelah itu, beliau pulang ke Unaizah dan kembali berguru dengan syaikh beliau, asy-Syaikh Abdurahman as- Sa’di. Di saat yang sama dibuka al- Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1373 H. Beliau ikut mengajar di ma’had tersebut. Di saat yang sama pula beliau melanjutkan belajar di jurusan syariah di Fakultas Syariah di Riyadh—kelak menjadi bagian dari Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Suud—dengan sistem intisab, semacam sistem kejar paket, yakni hanya mengikuti ujian saat diadakannya ujian, sampai beliau lulus dan mendapatkan ijazah aliyah.

Terjun Berdakwah

Sang guru, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, menangkap kecerdasan beliau dan perolehan yang besar dalam mencari ilmu, sehingga beliau memotivasi sang murid, Ibnu Utsaimin, untuk mulai mengajar. Beliau pun mulai mengajar di masjid al-Jami’ al-Kabir di Unaizah pada 1370 H, walaupun beliau masih berstatus sebagai murid as-Sa’di, di masjid yang sama. Setelah beliau lulus dari al-Ma’hadul Ilmi Riyadh, beliau ditunjuk menjadi pengajar di al-Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1374 H. Pekerjaan ini terus berlangsung sampai 1398 H. Saat itulah beliau pindah mengajar di Fakultas Syariah dan Ushuluddin di kota al-Qashim, cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud. Beliau menjadi dosen di universitas tersebut sampai wafat. Pada 1376 H, sang guru besar, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, meninggal. Setelah itu, beberapa syaikh dicalonkan untuk menggantikan asy- Syaikh as-Sa’di mengimami masjid. Namun, hal itu berjalan sangat singkat. Akhirnya, ditunjuklah beliau sebagai pengganti asy-Syaikh di masjid tersebut, sebagai imam dan khatibnya. Selain itu, beliau juga menggantikan posisi as-Sa’di sebagai pengajar di perpustakaan al-Wathaniyah yang secara struktural masuk ke dalam kepengurusan masjid. Perpustakaan tersebut didirikan oleh asy-Syaikh as-Sa’di pada 1359 H. Ketika para penuntut ilmu semakin banyak, perpustakaan tidak lagi menampung mereka. Beliau memindahkan pelajarannya di masjid sehingga terkumpullah banyak penuntut ilmu. Jumlah mereka semakin banyak dengan datangnya para penuntut ilmu dari dalam Kerajaan Saudi Arabia dan mancanegara. Duduklah ratusan orang di majelis ilmu tersebut.

Pelajarannya berlangsung pada waktu pagi, setelah asar, dan setelah maghrib. Pelajaran setelah maghrib terus berlangsung dan tidak pernah berhenti sepanjang tahun, kecuali saat beliau safar. Keistimewaan dari pelajaran beliau adalah pembekalan ilmu yang serius, bukan sekadar mendengar uraian mauizhah. Asy-Syaikh al-Abbad mengatakan, “Total masa mengajar beliau di masjid al-Jami’ al-Kabir ialah 45 tahun. Adapun total masa mengajar beliau di al-ma’hadul ilmi dan universitas ialah 47 tahun.” Di sela-sela kegiatan beliau, ketika datang bulan Ramadhan, beliau menyempatkan diri untuk menghabiskan mayoritas waktu Ramadhan di Makkah, yaitu mengajar di Masjidil Haram. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkisah, “Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin sering pergi ke Makkah pada beberapa kesempatan yang berbeda dan mengajar di Masjidil Haram, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Di antara kebiasaan beliau setelah berlalu sebagian dari bulan Ramadhan, beliau pergi ke Makkah dan mengajar di sana. Beliau banyak dikerumuni oleh para penuntut ilmu yang bersemangat mengambil ilmu beliau secara langsung. Apabila datang ke Madinah untuk memberikan ceramah atau keperluan yang lain, beliau juga mengajar di Masjid Nabawi. Para penuntut ilmu pun senang dengan kehadiran beliau di Madinah. Mereka menghadiri pelajaran dan mengambil faedah dari ilmu beliau. Saya sendiri adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi, maka para penuntut ilmu meminta saya untuk meliburkan pelajaran saya supaya mereka bisa mengikuti pelajaran beliau.

Saya pun meliburkan pelajaran saya agar para pelajar dapat mengambil faedah dari beliau. Saya sendiri terkadang ikut menghadiri pelajaran beliau bersama para penuntut ilmu tersebut.” Beliau mulai mengajar di al-Masjidil Haram dalam kesempatan-kesempatan tersebut sejak 1402 H sampai meninggal, yaitu bulan Ramadhan yang Syawwalnya beliau meninggal dunia. Saat itu kaum muslimin hanya mendengar suaranya karena beliau dalam keadaan sakit dan berceramah dalam ruangan tertutup. Penulis pun mengetahui hal itu hanya dari suaranya. Saat penulis mengikuti pelajaranpelajaran beliau—alhamdulillah—baik di Madinah maupun di Masjidil Haram, ada ciri khas yang jarang penulis dapati pada ulama yang lain:

1. Majelis yang sangat hidup

Pelajaran beliau tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan beliau kepada pada pendengar di sela-sela pelajaran. Hal ini tentu menggugah konsentrasi para penunut ilmu terhadap pelajaran yang beliau sampaikan dan membuat mereka bersiap menjadi sasaran pertanyaan.

2. Membahas sebagian ayat yang dibaca oleh imam dalam shalat.

Sebagaimana diketahui, di Masjidil Haram beliau memberikan pelajaran usai shalat tarawih dan usai shalat subuh. Bacaan surat imam menjadi bahan pembahasan. Biasanya beliau memulai pelajaran setelah pembukaan dengan mengatakan, “Qara’a imamuna….” (Imam kita membaca…) lalu beliau membahasnya. Hal ini tentu menunjukkan beberapa hal. Paling tidak, konsentrasi dalam shalat terhadap bacaan imam dan keluasan ilmu beliau, karena beliau bisa menjabarkan ayat-ayat secara langsung tanpa persiapan. Hal ini karena ilmu sudah berada di dada beliau sehingga tinggal menyampaikan. Di samping kegiatan dakwah tersebut, beliau juga memberikan ceramahceramah di beberapa kota dan beberapa negara Eropa dan AS melalui telepon. Di antara lahan dakwah yang beliau terjuni—sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, “Ikut serta dalam muktamar-muktamar di Saudi Arabia dalam tau’iyatul (bimbingan) para jamaah haji.

Di Jami’ah Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) sendiri telah dilangsungkan tiga muktamar: dua muktamar dengan tema bimbingan dakwah dan persiapan para dai; satu muktamar lagi dengan tema memerangi narkoba. Beliau menghadirinya dan memberi banyak faedah dengan pembahasanpembahasan dan diskusinya. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaan beliau dalam tau’iyatul haj di musim haji dengan berfatwa, memberikan kajian, dan ceramah-cermah. Terkadang beliau memimpin para dai dalam kegiatan tau’iyatul haj di beberapa tahun yang asy-Syaikh Ibnu Utsaimin termasuk di dalam kepanitiaannya. Aku sendiri saat itu juga masuk dalam kepanitiaan itu. Para anggota berkumpul untuk mempelajari permasalahan-permasalahan seputar urusan haji sehingga syaikh memberikan faedah dengan pandangan-pandangan beliau dan ilmunya. Di antara lahan dakwah beliau adalah memberikan faedah kepada kaum muslimin berupa fatwa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sampai kepada beliau, baik dari dalam maupun dari luar Saudi Arabia, baik dengan suratmenyurat, bertemu langsung, maupun melalui telepon. Beliau memberikan waktu khusus untuk berfatwa lewat telepon dan disiplin dengan jadwal tersebut untuk memberikan fatwa sedangkan beliau berada di kotanya, Unaizah.

Apabila beliau keluar kota, beliau meninggalkan pesan pada pesawat teleponnya untuk menyambungkan ke nomer telepon di kota tempat beliau berada. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaannya yang banyak dan bermanfaat dalam acara radio (Idza’atul Qur’an al-Karim), yaitu dalam acara “Nurun’Ala Darb” (yang berisi jawaban atas pertanyaan pendengar melalui surat), “Su’al ala Hatif” (Tanya Jawab Interaktif), dan “Min Ahkamil Qur’anil Karim” (Tafsir al-Qur’an). Beliau juga memiliki jadwal acara yang tidak tetap di radio dalam beragam tema. Acara “Min Ahkamil Qur’an” sendiri sangat penting dan berfaedah besar. Acara tersebut sangat menitikberatkan pada kandungankandungan al-Qur’an dan mengungkap berbagai hikmah dan hukumnya. Ini menunjukkan kekokohan pemahaman beliau pemahaman terhadap agama. (Untuk acara ini) beliau telah sampai pada akhir juz ke-3 dari al-Qur’anil Karim. (Lihat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

Jasa dan Jabatan

Selama kiprahnya dalam berkhidmah kepada Islam dan muslimin, beliau sempat menduduki beberapa jabatan penting:

1. Anggota Hai’ah Kibar Ulama (badan ulama ulama besar) di Kerajaan Arab Saudi di Saudi Arabia sejak 1407 H sampai wafatnya.

2. Anggota al-Majlisul Ilmi di Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Su’ud selama dua tahun akademik, 1398—1400 H.

3. Anggota Majlis Fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas Islam Muhammad bin Su’ud cabang al-Qashim, sekaligus sebagai Dekan Fakultas Akidah.

3. Di akhir masa mengajar di alma’hadul ilmi, beliau ikut menjadi anggota panitia penyusunan kurikulum al-Ma’had al-Ilmi dan sempat menulis beberapa buku paket.

4. Anggota panitia tau’iyatul haj pada tahun 1392 H sampai wafatnya.

5. Pimpinan Jum’iyyah (organisasi) Tahfidzul Qur’an al-Khairiyyah di kota Unaizah sejak didirikannya pada 1405 H sampai wafatnya.

Kedudukan Ilmiah

Satu hal yang tidak diragukan adalah kedudukan ilmiah beliau. Para ulama abad ini, baik yang lebih tinggi dari beliau, sepadan, ataupun yang di bawah beliau, sangat mengakui keilmuan beliau. Asy-Syaikh al-Albani dalam salah satu majelisnya menyebut beliau sebagai salah seorang faqih yang langka pada abad ini. Beliau mengatakan, “Bumi kosong dari ulama sehingga aku tidak tahu dari ulama tersebut kecuali beberapa orang yang sedikit jumlahnya. Aku sebut secara khusus di antara mereka adalah al-Allamah Abdul Aziz bin Baz dan al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.” (Fatawa Ulama al-Akabir hlm. 6) Bahkan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim t, berulang kali meminta beliau untuk menjabat sebagai qadhi (hakim), namun beliau menolaknya. Bahkan, sempat terbit surat keputusan yang menetapkan beliau sebagai pimpinan mahkamah di wilayah al-Ahsa’. Namun, beliau momohon agar surat keputusan tersebut dibatalkan. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan beliau dikabulkan. Ini menujukkan sikap wara’ yang tinggi pada beliau. Di kemudian hari, beliau memperoleh kehormatan dengan diberikan kepada beliau Jaizah Malik Faishal al-Alamiyah (Penghargaan Internasional Raja Faishal) untuk khidmat terhadap Islam pada 1414 H. Disebutkan padanya prestasi-prestasi sebagai berikut.

1. Berhias dengan akhlak ulama yang mulia, yang paling menonjol adalah sifat wara’, kelapangan dada, menyuarakan kebenaran, bekerja demi maslahat kaum muslimin, dan keinginan baiknya terhadap orang-orang khususnya serta muslimin pada umumnya.

2. Banyakmya orang yang mengambil manfaat dari ilmunya, baik dari pelajaran yang disampaikan, fatwa atau buku yang ditulis.

3. Penyampaian ceramah-ceramah umum yang bermanfaat di berbagai wilayah Saudi Arabia.

4. Keikutsertaan beliau yang sangat bermanfaat dalam banyak muktamar Islami.

5. Memiliki ciri yang khas dalam metode berdakwah menuju jalan Allah l dengan hikmah dan mauizhah alhasanah, serta mempersembahkan teladan hidup bagi manhaj as-salafus shalih, dalam bentuk pemikiran dan perilaku. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad pernah menyampaikan sebuah ceramah di Universitas Islam Madinah yang kemudian dibukukan dengan judul asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin. Di antara yang beliau sampaikan, “Beliau adalah seorang ulama besar dan seorang ahli fikih yang mapan, seorang yang dihormati oleh para penguasa dan para ulama serta para penuntut ilmu. Di antara penghormatan para penguasa di negeri ini kepada beliau, ketika melakukan kunjungan ke kota al-Qashim, mereka mengunjungi beliau di rumahnya. Raja Khalid dahulu pernah mengunjunginya, demikian pula Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah, dan Pangeran Sulthan. Beliau sendiri memang pantas untuk dihormati dan dihargai. Namun, beliau orang yang sangat tawadhu’, mencintai kebaikan dan manfaat untuk manusia, serta orang yang penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu, bersemangat memberi mereka faedah, ilmu, serta menggabungkan antara ilmu dan amal.”

Wafat Beliau

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap jiwa pasti merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)

Apabila saatnya ajal datang, Allah Subhanahu wata’alal pun menyiapkan sebab-sebabnya. “Sakit kronis menimpa beliau sehingga beliau pergi ke AS untuk berobat selama beberapa hari saja. Itulah satu-satunya safar beliau ke luar Saudi Arabia. Beliau pun memanfatkan keberadaannya di AS untuk berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menyampaikan khutbah jumat di sana. Sesampainya di kerajaan Saudi Arabia, beliau langsung menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus di Riyadh. Namun, sakit beliau semakin parah. Setelah lewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau ingin pergi ke Makkah untuk kembali mengajar di Masjidil Haram, sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Dipersiapkanlah ruang khusus di masjid untuk beliau. Beliau pun menyampaikan pelajaran dengan berbaring di atas kasurnya menggunakan pengeras suara. Orang-orang pun mendengar suaranya yang tampak berubah karena sakit tanpa melihat beliau. Usai Ramadhan, beliau dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Jeddah dan meninggal di sana, saat senja hari Rabu, 25 Syawwal 1421 H. Beliau dishalatkan pada hari Kamis selepas shalat ashar, lalu dimakamkan di permakaman al-Adl, Makkah. Telah menyalatkan dan mengiringi jenazah beliau—semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya— sejumlah besar manusia. Saya termasuk orang yang berkesempatan ikut menyalati dan mengiringi jenazah beliau. Saya melihat banyak orang saat menyalatinya dan saat di permakaman. Sungguh, banyak orang merasa sedih dengan wafat beliau karena tingginya kedudukan dan besarnya manfaat ilmu beliau bagi muslimin,” demikian tutur asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad. Beliau meninggalkan seorang istri, 5 anak laki-laki, dan 3 anak perempuan. Kelima anak laki-lakinya adalah Abdullah, Abdurrahman, Ibrahim, Abdul Aziz, dan Abdurrahim.

Karya Ilmiah

Beliau meninggalkan karya ilmiah yang cukup banyak, baik dalam bentuk buku kecil maupun karya besar yang berjilid-jilid, baik dalam bidang akidah, hukum fikih, tafsir, musthalah hadits, akhlak, dakwah, maupun lainnya. Karyakarya beliau sangat bermanfaat karena beliau sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sangat jelas, mudah dinalar, di samping bobot ilmiah yang sangat kuat dan menggabungkan antara manqul dan ma’qul. Secara garis besar, karya beliau ada dua macam: hasil tulisan beliau sendiri dan hasil transkrip dari pelajaran-pelajaran beliau yang terekam. Di antaranya adalah:

1. Fathu Rabbil Bariyyah ringkasan dari kitab al-Hamawiyyah, dan ini adalah karya pertama beliau.

2. Asy-Syarhul Mumti’ syarah Zadul Mustaqni’, terdiri dari beberapa jilid.

3. Al-Qaulul Mufid syarh Kitab at-Tauhid.

4. Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah.

5. Al-Ushul min Ilmil Ushul. Masih banyak lagi karya beliau. Dalam kitab yang berjudul Ibnu Utsaimin, al-Imam az-Zahid disebutkan sampai 56 karya. Sementara itu, dalam situs Maktabah asy-Syamilah disebutkan mencapai angka 78.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akidah Salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Asy-Syaikh Utsaimin adalah seorang ulama yang punya perhatian besar terhadap akidah. Karya, ceramah, dan syarah (penjelasan) beliau terhadap matan-matan akidah sangatlah banyak, menyangkut akidah dalam bidang uluhiyah, rububiyah, dan asma wa shifat, atau akidah secara umum. Tentu, akidah yang beliau yakini dan dakwahkan adalah akidah salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti para sahabat nabi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya di atas jalan lurus yang sangat terang malamnya bagaikan siangnya.

Tidaklah tergelincir darinya melainkan orang yang binasa. Umatnya yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya berjalan di atas jalan tersebut. Mereka adalah makhluk pilihan Allah Subhanahu wata’ala dari kalangan para sahabat dan tabi’in, serta yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka menegakkan syariatnya dan berpegang dengan ajarannya serta menggigitnya dengan gigi geraham, dalam hal akidah, ibadah, akhlak, dan adab, sehingga mereka menjadi kelompok yang selalu unggul di atas kebenaran. Tidak mencelakakan mereka orang yang mengacuhkan mereka atau menyelisihi mereka, sampai datang ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan mereka tetap di atasnya. Kami—segala puji bagi Allah— berjalan di atas jejak mereka. Kami mencontoh perilaku mereka yang didukung oleh al-Qur’an dan sunnah. Kami katakan hal itu sebagai bentuk menyebutkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala dan menerangkan terhadap kewajiban yang semestinya di atasnya seorang mukmin.”

Demikian jelas jalan yang beliau tempuh. Karya-karya beliau menjadi bukti tentang akidah yang beliau anut. Karya yang lain dalam bab akidah sangat banyak, kecil maupun besar, dalam bentuk syarah (penjelasan) buku-buku akidah, Kitabut Tauhid, al-Aqidah al-Wasithiyah, dan Lum’atul I’tiqad; atau dalam bentuk ringkasan buku akidah, semacam Fathu Rabbil Bariyah ringkasan Hamawiyah, Taqrib Tadmuriyah ringkasan kitab Tadmuriyah; atau buku-buku yang khusus beliau tulis dalam bab akidah, seperti Syarh Ushulil Iman, al-Iman bil Qadar, dan al-Qawaid al-Mutsla. Ciri khas yang sangat tampak pada tulisan-tulisan beliau adalah sangat sistematis, sederhana, jelas, dan selalu didukung dengan dalil aqli dan naqli.

 

Fikih Ibadah dan Ittiba’

Sekilas, jika seseorang melihat beliau, mungkin akan menganggap beliau sebagai ulama Hanbali. Sebab, beliau tumbuh di lingkungan yang sarat dengan mazhab Hanbali dan perhatian besar terhadap buku-buku ulama Hanbali. Namun, apabila seseorang menyelami karya-karya beliau dan mendengar pelajaran-pelajaran fikih beliau, dia pasti mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang sangat terikat dengan dalil dan selalu ittiba’ dengannya, serta sangat memerangi takllid buta dan fanatik golongan. Taklid hanya dibolehkan pada kondisi tertentu. Untuk melihat hal itu secara nyata, bisa kita baca kitab asy-Syarhul Mumti’. Betapa sering beliau menyatakan lemahnya pendapat penulis Zadul Mustaqni’. Beliau mengatakan, “Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atas kita, yang hal itu di atas hak kedua orang tua kita, adalah kita memurnikan ittiba’ kepadanya. Artinya, kita tidak boleh mendahuluinya. Jadi, kita tidak boleh mensyariatkan dalam agamanya sesuatu yang tidak beliau syariatkan dan tidak melampaui apa yang beliau syariatkan, atau menyepelekan syariatnya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kalian (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31).”

Tentang taklid, beliau katakan, “Dalam atsar ini terdapat peringatan dari taklid buta dan fanatik mazhab yang tidak terbangun di atas dasar yang selamat. Sebagian orang melakukan kesalahan yang parah, saat dikatakan kepadanya, “Rasulullah bersabda…,” ia menjawab, “Tetapi, dalam kitab fulan begini dan begini….” Hendaklah ia bertakwa kepada Allah l yang berfirman dalam kitab-Nya,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Allah Subhanahu wata’ala tidak mengatakan, apa jawaban kalian terhadap fulan dan fulan.” “Jika suatu hukum tidak tampak bagi seseorang, dia wajib bertawaqquf. Ketika itulah taklid baru diperbolehkan dalam kondisi darurat. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Salah satu contoh praktik beliau dalam mengikuti dalil adalah dalam hal batas berhentinya darah di masa haid jika kurang dari satu hari, apakah menjadi tanda suci atau tidak. Beliau mengatakan, “Yang masyhur dalam mazhab Hanbali bahwa ‘darah berarti haid dan bersih berarti suci,’ kecuali apabila penggabungan antara keduanya melebihi masa kebiasaan haid, berarti darah yang lewat dari masa tersebut adalah darah istihadhah. Tetapi, dalam kitab al-Mughni disebutkan, masa suci yang kurang dari satu hari tidak perlu dianggap. Pendapat itulah yang benar, insya Allah. Sebab, darah itu terkadang mengalir dan terkadang berhenti, dan mewajibkan mandi atas orang yang suci sesaat demi sesaat adalah hal yang memberatkan. Ini adalah sebuah keberatan yang mestinya ditiadakan berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.” (al-Hajj: 78)

Jadi, atas dasar ini terhentinya darah yang kurang dari satu hari bukan berarti suci, kecuali engkau melihat hal yang menunjukkan kesuciannya. Misalnya, apabila kesuciannya itu di akhir kebiasaan masa haidnya atau engkau melihat cairan lendir putih.” (Risalah Fi Dima ath-Thabi’iyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Beliau berkeyakinan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah tonggak agama. Beliau mengatakan, “(Dan saling menasihati dengan kebenaran serta saling menasihati dengan kesabaran) keduanya mengandung amar ma’ruf dan nahi mungkar, yang merupakan tonggak bagi umat ini serta kebaikan dan kemenangannya. Dengan keduanya akan diperoleh kemuliaan dan keutamaan. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran: 110)

Beliau juga berkeyakinan bahwa kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar baru bisa ditegakkan apabila terpenuhi syarat-syaratnya. Beliau menyebutkan lima syarat, di antaranya amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada mendiamkannya…. Demi mewujudkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, beliau menulis beberapa kitab yang langsung terkait dengan kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di masyarakat.

Di antaranya adalah kitab al-Manahi al-Lafzhiyyah, yang membahas tentang kemungkaran-kemungkaran dalam ucapan, dan kitab Akhtha’ Yartakibuha Ba’dhul Hujjaj tentang kemungkaran-kemungkaran yang terjadi selama ibadah haji. Bahkan, saat terjadi peledakanpeledakan di Saudi Arabia yang dilakukan oleh para pengikut Usamah bin Ladin, beliau bersama para ulama yang lain serempak bangkit mengingkari aksi-aksi tersebut. Terbitlah pernyataan-pernyataan Hai’ah Kibar Ulama yang dengan keras mengingkari aksi tersebut. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah adalah salah satu dari para ulama yang menerbitkan pernyataan tersebut, terkait dengan peledakan di kota Khubar, Sabtu, 9/2/1417 H, dan kota Ulayya, Senin, 20/6/1416 H.

Bahkan, dalam khutbah jumat, beliau membahas masalah ini secara khusus. Beliau juga pernah mengatakan dalam salah satu pelajaran, “Pertanyaannya sekarang, apakah agama Islam sampai kepada orang kafir secara benar, dalam keadaan tidak tercoreng? Jawabnya, tidak sama sekali. Ketika muncul orangorang yang bertindak tanpa hikmah, bertambah tercorenglah Islam dalam pandangan orang-orang Barat dan selain mereka. Yang saya maksud adalah mereka yang meledakkan bom di kerumunan manusia dengan beranggapan bahwa ini adalah jihad fi sabilillah. Padahal pada hakikatnya mereka mencoreng Islam atau membuat mereka (orang-orang nonmuslim) semakin lari dari Islam.” (Fatawa al-Aimmah fin Nawazil al- Mudlahimmah hlm. 55)

 

Memperingatkan dari Bahaya Takfir

Ideologi takfir (ideologi Khawarij; mudah mengafirkan umat) amat berbahaya bagi muslimin dan umat secara umum. Oleh karena itu, ideologi ini menjadi salah satu sasaran Ibnu Utsaimin dalam ingkarul munkar. Beliau mengatakan, “Yang wajib adalah berhati-hati dari pemberian vonis kafir kepada sebuah kelompok atau individu tertentu, hingga benarbenar terwujud syarat-syaratnya (untuk disebut kafir) pada dirinya dan tidak ada penghalangnya.” “Ketahuilah, wajib atas setiap orang untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam seluruh vonisnya, tidak terburu-buru memastikannya, lebih-lebih dalam hal menvonis kafir. Sebagian orang-orang yang punya ghirah dan perasaan (agamis) melontarkan vonis kafir tanpa pikir panjang dan perenungan. Padahal, jika seseorang menghukumi orang lain (dengannya) sementara dia tidak pantas mendapatkan hukum tersebut, vonis itu justru akan kembali kepadanya. Selain itu, mengafirkan seseorang itu juga terkait dengan banyak hukum, sehingga orang yang dikafirkan berarti halal darahnya, halal hartanya, dan seluruh hukum kekafiran.” Beliau mengatakan pula, “Pengkafiran harus terpenuhi padanya empat syarat:

1. Kepastian atas suatu perkataan, perbuatan (sebagai kekafiran), atau meninggalkan (sesuatu yang dengan meninggalkannya) merupakan kekafiran menurut dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.

2. Hal tersebut benar-benar ada pada orang yang mukallaf.

3. Hujah telah sampai kepadanya.

4. Tidak ada penghalang pada dirinya untuk dihukumi kafir.”

Demikian penjelasan beliau dengan penuh kehati-hatian. Di antara penghalang-penghalang yang beliau maksud adalah lawan dari tiga syarat pertama.

 

Membenci Hizbiyah

Beliau memperingatkan dengan keras bid’ah yang satu ini, yaitu hizbiyah atau ikatan loyal dan antipati karena kelompok. Beliau berkata, “Wajib atas setiap penuntut ilmu untuk membebaskan diri dari kekelompokan dan hizbiyah, yang membuat ikatan al-wala’ dan albara’ berdasarkan kelompok atau partai tertentu. Tidak diragukan lagi, hal ini menyelishi manhaj salafus shalih, yang mereka tidak berkelompok-kelompok. Mereka satu hizb, tergabung di bawah firman Allah Subhanahu wata’ala,

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini.” (al-Hajj: 78)

Karena itu, tidak ada hizbiyah, tidak ada ta’addud (kelompok yang berbilang), tidak ada saling berloyal atau saling membenci kecuali dengan ukuran apa yang datang dalam al-Qur’an dan as- Sunnah. Di antara manusia ada yang berhizbiyah dengan kelompok tertentu. Dia mengokohkan manhajnya dan mencari-cari dalilnya, padahal dalil itu justru menghujatnya, tidak mendukungnya. Lalu dia berlindung dan menganggap sesat selainnya walaupun mereka lebih dekat kepada kebenaran darinya. Dia berprinsip, “Barang siapa tidak bersama kami, berarti musuh kami.” Ini adalah dasar yang jelek. Sebab, ada posisi tengah antara bersama kami dan musuh kami. Seandainya pun seseorang memusuhimu dengan benar, dia memang menjadi lawanmu. Namun, dia adalah lawan yang sesungguhnya bersamamu. Sebab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِماً أَوْ مَظْلُوماً

“Tolonglah saudaramu yang menzalimi dan yang dizalimi.”

Menolong yang menzalimi adalah dengan mencegahnya dari perbuatan zalim. Dengan demikian, tidak ada hizbiyah dalam Islam. Oleh karena itu, ketika muncul hizb-hizb di tengah muslimin maka jalan-jalan (baca: aliran) menjadi banyak. Umat terpecah sehingga sebagian menyesatkan sebagian yang lain dan memakan daging saudaranya yang telah menjadi bangkai. Kegagalan pun menimpa mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul- Nya dan janganlah kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al- Anfal: 46) (Kitabul Ilm hlm. 81)

 

Taat Kepada Pemerintah Muslim

Menjadi salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah taat kepada pemerintah muslim. Oleh karena itu, beliau pun sangat gemar mengajak muslimin untuk menaati pemerintahnya selama dalam hal yang bukan maksiat serta memperingatkan dari sikap memberontak. Saat beliau menerangkan hadits,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.”

Beliau mengatakan, “Nasihat (keinginan baik) terhadap para umara dengan beberapa hal, di antaranya:

1. Meyakini kepemimpinan mereka. Barang siapa tidak meyakini bahwa mereka adalah umara, berarti tidak bersikap nasihat terhadap mereka.

2. Menebar kebaikan mereka di antara masyarakat karena akan mengarahkan kecintaan manusia kepada mereka. Apabila manusia sudah mencintai para pemimpin, mereka akan mudah tunduk kepada perintah-perintahnya. Berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh sebagian manusia yang menebar aib-aib dan menyembunyikan kebaikan. Ini adalah ketidakadilan dan perbuatan yang zalim. Sebagai contoh, dia menyebutkan satu kejelekan untuk mencela penguasa, namun melupakan banyak kebaikan yang mereka lakukan. Inilah sikap yang tidak adil.

3. Melaksanakan apa yang mereka perintahkan dan menjauhi apa yang mereka larang, kecuali bila hal itu dalam lingkup maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Melaksanakan ketaatan kepada mereka adalah ibadah, bukan sekadar sikap berpolitik. Dalilnya firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (an- Nisa: 59)

Dalam ketaatan, tidak disyaratkan mereka harus bebas dari maksiat. Jadi, taati perintah mereka walaupun mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kalian diperintahkan untuk menaati mereka walaupun mereka pribadi bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

4. Menutup aib mereka sebisa mungkin. Bukan sikap nasihat jika engkau menyebarkan aib mereka. Sebab, hal itu akan memenuhi kalbu dengan rasa marah, dengki, dan sesak dada terhadap para penguasa. Jika kalbu penuh dengan itu, akan terjadi pembangkangan, bahkan mungkin pemberontakan terhadap penguasa sehingga terjadi kejelekan dan kerusakan yang tidak diketahui selain oleh Allah. Ucapan kita ‘menutup aib’ tidak berarti kita diam terhadap aib. Kita melakukan nasihat kepada penguasa secara langsung apabila hal itu memungkinkan. Kalau tidak mungkin, melalui perantara ulama atau orang yang punya keutamaan yang bisa menyampaikan. Oleh karena itu, di antara sikap hikmah adalah kamu melakukan nasihat kepada para penguasa, tanpa engkau sebutkan hal itu kepada orang-orang. Sebab, hal itu mengandung mudarat.

5. Tidak melakukan pemberontakan. (dinukil dengan diringkas) Beliau juga mengatakan, “Nikmat keamanan dan ketenteraman tidak bisa ditandingi oleh nikmat apa pun setelah kenikmatan agama. Maka dari itu, kita wajib menjauhi segala sesuatu yang akan membuat gejolak di masyarakat. Kita tidak menganggap para penguasa itu bebas dari kesalahan. Para waliyyul amr dari kalangan ulama dan umara punya banyak kesalahan. Tetapi, sebuah riwayat menyebutkan, ‘Sebagaimana kondisi kalian maka akan seperti itulah pimpinan kalian.’ Lihatlah keadaan manusia. Di antara hikmah Allah Subhanahu wata’ala bahwa penguasa dan rakyat itu sama,

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang lalim itu sebagai penguasa terhadap sebagian orang lalim yang lain karena apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Yang wajib kita lakukan adalah mendoakan para penguasa secara diamdiam ataupun terang-terangan. Kita doakan mereka agar mendapat taufik, kebaikan, dan dapat memperbaiki,….

Disebutkan bahwa al-Imam Ahmad rahimahullah dahulu mengatakan, “Kalau aku tahu bahwa aku punya doa yang pasti terkabul, pasti akan aku gunakan untuk mendoakan penguasa.” Sebab, apabila penguasa itu baik, akan baik pula bagi umat. Dan ini benar. (al-Imam az-Zahid hlm. 118—119 dengan diringkas) Atas dasar itu, beliau sangat mengingkari praktik-praktik penentangan terhadap penguasa, seperti berbagai aksi peledakan yang terjadi di Saudi Arabia, baik di Ulayya, Khubar, maupun kejadian sejenis di masa itu. Demikian pula pengingkaran beliau terhadap apa yang terjadi di Aljazair kala itu, saat sekelompok muslimin melakukan aksi pemberontakan melawan penguasa.

Di antara yang beliau sampaikan kepada rakyat Aljazair melalui telepon adalah, “Memberontak terhadap penguasa— sekalipun kekafirannya nyata seperti matahari—itu butuh syarat-syarat. Di antara syaratnya adalah tidak berakibat mudarat yang lebih besar…. Kemudian apa timbangannya (penguasa tersebut) dikatakan kafir? Bukan timbangan perasaan…. Hukum kekafiran tidak lain kecuali dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Itu pun ada syaratsyaratnya…. Kekafiran menurut banyak saudarasaudara kita, lebih-lebih anak-anak muda, hanya dinilai dari perasaan; tidak berdasarkan pengetahuan terhadap syarat-syarat pengkafiran. Jadi, hukum pengkafiran tidak muncul dari pengetahuan terhadap syarat-syarat pengkafiran. Oleh karena itu, kami anjurkan kepada saudara-saudara kami di Aljazair agar meletakkan senjata, merangkul kedamaian, dan memperbaiki semampu mungkin tanpa menumpahkan darah. Inilah yang wajib kami lakukan sebagai nasehat kepada mereka.” Beliau juga sempat menuliskan beberapa surat kepada pimpinan gerakan pemberontakan agar menghentikan gerakan mereka. (Fatawa Ulama al- Akabir)

 

Perhatian Beliau Terhadap Nasib Muslimin di Belahan Dunia

Suatu saat, dengan perasaan gundah, dan kecemburuan terhadap Islam dan muslimin terutama di Palestina, beliau naik mimbar dan berkhutbah, “Wahai manusia, telah berlangsung penjajahan Yahudi terhadap Masjidil Aqsha selama lebih dari delapan tahun. Selama itu pula mereka membuat kerusakan di dalamnya dan menyiksa penduduknya. Di hari-hari ini, mahkamah Yahudi mengeluarkan keputusan tentang bolehnya Yahudi melakukan peribadatan di dalam Masjidil Aqsha. Keputusan thaghut ini artinya menampilkan syiar-syiar kekafiran di dalam masjid yang termasuk salah satu masjid yang terbesar kehormatannya dalam Islam.” Di akhir khutbah, beliau mengatakan, “Ya, Yahudi Israel tidak akan turun kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak ada pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala kecuali bila kita menolong agamanya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Sungguh, pertolongan Allah Subhanahu wata’ala kepada kita bukan dengan pidato-pidato yang menyilaukan dan meluap-luap, yang mengubah persoalan Palestina menjadi semata persoalan politik, kekalahan materi, dan konflik regional. Masalah Palestina, demi Allah, adalah masalah agama Islam bagi muslimin seluruhnya.” (al-Imam az-Zahid hlm.103)

Saat terjadi pembantaian terhadap muslimin di Bosnia oleh Kristen Serbia, beliau sangat sedih. Kesedihan beliau terungkap dalam kata-katanya, “Tetapi disayangkan, sebagaimana kalian lihat sekarang, kaum muslimin tak acuh. Mereka tidak punya kekuatan dan tekad yang dengannya mereka dapat membela diri mereka. Tidak ada yang lebih bisa menunjukkan kepada kita tentang hal itu daripada apa yang kita berada padanya sekarang.

Di negeri-negeri Islam sekarang, ada yang kehormatan mereka dihinakan, masjid mereka dihancurkan, harta mereka dirampas, dan anak-anak mereka ditawan oleh orang-orang Nasrani, sedangkan kita umat (Islam) tidak mengatakan sesuatu yang harus kita katakan. Apa yang diperbuat terhadap muslimin sekarang di Bosnia adalah sesuatu yang merobek-robek hati pada kenyataannya…. Orang-orang Nasrani bukan musuh Bosnia saja, dan musuh itu bukan hanya Nasrani Bosnia. Nasrani adalah musuh muslimin di seluruh negeri Allah Subhanahu wata’ala, sama saja mereka dari Nasrani Serbia Bosnia atau yang lain. Tetapi, sayang, banyak kaum muslimin tidak tahu hal itu.” Beliau sering menganjurkan muslimin untuk banyak berdoa siang dan malam, serta dalam qunut nazilah untuk kebaikan muslimin di sana, selama belum terbuka pintu untuk melakukan jihad fi sabilillah di sana. (al-Imam az-Zahid hlm. 99)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Memerangi Bid’ah

Seorang yang menjunjung tinggi ittiba’ tentu berkonsekuensi memerangi bid’ah, karena bid’ah dengan ittiba’ adalah ibarat dua kutub yang saling menjauh. Sebagaimana halnya ittiba’ terhadap sunnah sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, maka bid’ah sangat dibenci oleh Allah l. Itulah yang menjadi prinsip beliau, sampai-sampai beliau menulis sebuah buku khusus untuk memperingatkan umat dari bid’ah, dengan judul al-Ibda’ fi Bayani Kamalisy Syar’ wa Khatharil Ibtida’. Di antara yang beliau tulis, “Apabila hal itu sudah jelas bagimu, wahai seorang muslim, ketahuilah bahwa setiap yang membuat syariat yang baru dalam agama Allah Subhanahu wata’ala walaupun dengan tujuan yang baik, bid’ahnya ini sesat. Di samping itu, juga teranggap sebagai celaan terhadap agama Allah Subhanahu wata’ala dan termasuk mendustakan firman Allah Subhanahu wata’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Sebab, pembuat bid’ah tersebut membuat syariat dalam agama Allah Subhanahu wata’ala padahal itu bukan dari agama Allah. Dengan perbuatannya, seolah-olah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya agama ini belum sempurna, karena masih tersisa syariat ini’, yakni yang dia buat (katanya) untuk mendekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Beliau tegaskan juga, “Apakah setelah adanya kata kullu (yang berarti semua) dibenarkan bagi kita membagi bid’ah menjadi 3 bagian atau 5 bagian? Selamanya tidak! Ini tidak benar.” Apa yang dianggap oleh ulama bahwa ada bid’ah hasanah, maka tidak lepas dari dua keadaan:

1. Sebenarnya itu bukan bid’ah, tetapi disangka bid’ah.

2. Benar-benar bid’ah dan hal itu jelek, tetapi tidak diketahui letak kejelekannya.

Jadi, setiap yang dianggap bid’ah hasanah, seperti inilah jawabannya. Atas dasar ini, tiada celah bagi mereka untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, sementara di tangan kita ada pedang terhunus dari Rasulullah,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Semua bid’ah adalah sesat.”

Maka dari itu, agar ibadah tidak menjadi bid’ah, dia harus sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam enam hal: sebabnya, jenisnya, ukurannya, kaifiyahnya (tata caranya), waktunya, dan tempatnya. Demikian penjelasan beliau dalam kitab tersebut.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Keindahan Akhlak dan Sifat Tawadhu’

Tidak hanya ucapan, perbuatan beliau pun menjadi bukti sifat tawadhu dan akhlak mulianya. Beliau berkata, “Demikianlah seorang dai, hendaknya bersifat lembut dan wajah berseri serta berlapang dada. Dengan demikian, ia lebih mudah diterima oleh orang yang didakwahi menuju jalan Allah Subhanahu wata’ala… Maka dari itu, nasihat saya kepada saudara-saudara saya para dai, hendaknya memiliki perasaan ini. Hendaknya mereka mendakwahi manusia dengan perasaan kasih sayang kepada mereka, dan dalam rangka mengagungkan agama Allah Subhanahu wata’ala, serta menolong agama-Nya.” Inilah yang kemudian beliau terapkan dalam diri beliau. Beliau adalah sosok yang menyenangkan, sederhana, murah senyum, tawadhu’, menghormati manusia, bahkan kepada yang lebih muda sekali pun.

Tidak hanya itu, beliau juga suka bercanda dengan mereka. Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau datang ke Jeddah. Setelah pertemuan, beliau diundang oleh sekian banyak orang-orang berpangkat. Namun, dengan baik beliau menolak tanpa menyinggung perasaan mereka dan mengatakan, “Undangan kalian telah didahului. Aku sudah diundang oleh salah seorang anak muda.” Lalu beliau berjalan menuju seorang anak muda yang masih sekolah di bangku tsanawiyah (setingkat SMA di sini, -red.), kemudian memegang tangannya dan mengatakan kepada mereka, “Dia lebih dahulu mengundangku daripada kalian, dan aku menyambut undangannya.” Orang-orang sangat heran terpana melihat ketawadhuannya. Di kesempatan yang lain, saat beliau di Makkah di musim haji, seseorang bertemu beliau dan mengundangnya, “Ya Syaikh, saya berharap, Anda mau menyambut undangan saya walau sekali saja, dan Anda mau duduk bersama saudara-saudara dan keluarga saya,” pinta orang itu. Beliau pun menjawab, “Di mana alamatmu?” “Di Jeddah,” jawabnya. Syaikh menyahut, “Kalau engkau mau menunggu sampai selesai haji, saya akan datang. Atau kalau engkau undang saya di Makkah, saya juga akan datang.”

Akhirnya orang tersebut mengundang beliau di Makkah seraya berucap, “Wahai syaikh, kapan saya mesti datang untuk menjemput Anda?” tanya orang itu. Beliau justru mengatakan, “Tidak, aku yang akan mendatangimu.” Lalu beliau mengambil alamat rumahnya. Pada waktu yang ditentukan beliau datang. Beliau dipersilahkan masuk. Tuan rumah pun menyiapkan perekam untuk merekam nasihat-nasihat beliau. Sejenak, tuan rumah masuk untuk mengambil suguhan teh dan memanggil saudarasaudaranya. Setelah keluar, ternyata Syaikh telah pindah dari tempat duduknya dan menyiapkan sendiri alat rekam untuk didekatkan ke stopkontak. Tuan rumah pun begitu terkesan dengan sikap tawadhu beliau. Syaikh lalu mengatakan, “Jangan kamu memberat-beratkan diri. Bubur kacang di Makkah ini enak. Itu sudah cukup untuk makan malamnya.” Tawadhu yang luar biasa. Ibarat sihir, kata-kata dan sikap yang sangat mengena pada jiwa tuan rumah.

 

Sesekali Bercanda

Walau asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berwibawa, terkadang kewibawaannya diselingi oleh canda yang membuat orang-orang dekatnya tidak merasa kaku bergaul dengan beliau. Pernah terjadi kejadian unik yang membuat beliau tertawa. Suatu saat, datang kepada beliau seseorang dari salah satu negara Arab. Serta-merta dia bertanya, “Anda asy-Syaikh Ibnu Utsaimin?” “Ya,” jawab beliau. Orang itu pun menyambung dengan pertanyaan, “Demi Nabi, wahai Syaikh, apa hukumnya thawaf wada’?” Sebelum menjawab, karena orang itu bersumpah dengan selain nama Allah Subhanahu wata’ala, terlebih dahulu Syaikh mengingkari kebiasaan tersebut dan mengatakan, “Wahai saudara, semoga Allah Subhanahu wata’ala membalasi Anda dengan kebaikan. Tidak boleh bagimu mengatakan, ‘Demi Nabi’. Anda harus membiasakan diri meninggalkan kebiasaan mengucapkan kata-kata ini, karena ini adalah kalimat kesyirikan.” Beliau juga menasihatinya dengan lembut dan bagus. Orang itu pun berterima kasih seraya berkata, “Siap, wahai syaikh. Tetapi, apa hukum thawaf wada’ itu, demi Nabi?” Akhirnya Syaikh tertawa. Ternyata lisan orang tersebut memang terlalu terbiasa mengucapkan sumpah yang salah. Di waktu lain datang kepada beliau seorang wartawan dan mengatakan, “Wahai Syaikh, kami berharap, bisa menjalankan bersama Anda hiwar (maksud si wartawan: wawancara, tetapi kata tersebut memiliki makna lain, yaitu anak unta).” Syaikh menjawab, “Wahai anakku, hiwar itu kan anak unta. Bagaimana engkau akan menjalankannya bersama saya?! Yang mungkin, engkau ingin melakukan muhawarah (wawancara) bersamaku.”

 

Unik dan Berkesan

Suatu saat seorang wanita dari Maroko menemuinya ketika di Masjidil Haram dan mengatakan, “Anda Ibnu Utsaimin?” tanyanya. “Ya, saya,” jawab beliau. Wanita itu pun menukas, “Orangorang mengatakan bahwa Anda sudah mati dan kami telah menyalati Anda dengan shalat gaib ba’da maghrib.” “Tidak—wallahi—inilah saya,” tegas Ibnu Utsaimin. Wanita itu heran sambil mengatakan, “Jadi, bagaimana?” Dengan bercanda beliau mengatakan, “Ya, saya setiap hari mati, lalu Rabbku menghidupkanku.” Terdiamlah wanita itu dan kaget. Sambil berpaling wanita itu mengatakan, “Syaikh telah pergi, syaikh telah pergi, syaikh telah pergi.” Sementara itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin tersenyum melihatnya. Namun, Syaikh khawatir wanita itu menanggapinya serius dan salah paham, maka beliau utus seseorang untuk memanggilnya. Setelah wanita itu datang lagi, beliau menjelaskan, “Saya tadi bercanda denganmu. Saya mati lalu hidup tiap hari. Artinya, saya tidur lalu bangun tiap hari, karena Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tandatanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (az-Zumar: 42)

Menjadi tenanglah wanita tersebut. Ia berterima kasih kepada syaikh lalu pergi.

 

Rindu yang Terobati

Musim haji 1416 H.

Sebagaimana biasa, beliau menemui para jamaah haji, bertanya dan menjawab pertanyaan mereka. Beliau mencurahkan perhatian kepada mereka. Suatu saat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, beliau masuk ke ruang tunggu. Di sana ada rombongan jamaah haji dari salah satu negara yang dahulu masuk wilayah Uni Soviet. Yang paling kecil di antara mereka berumur dua tahun. Tidak seorang pun dari mereka yang bisa berbicara dengan bahasa Arab. Syaikh bertanya, kalau-kalau ada orang yang bisa berbahasa Arab yang dapat menerjemahkan apa yang hendak beliau sampaikan. Ternyata tidak didapati selain seorang anak muda warga negara Saudi yang menyambut mereka. Dialah yang kemudian menerjemahkan.

Di sela-sela ceramah, datang seorang anak muda dari mereka sambil berlari kecil dan meminta agar dia yang menerjemahkan. Ternyata, anak muda ini pandai berbahasa Arab dan kemudian diketahui bahwa dialah pimpinan rombongan ini. Penerjemahan lantas dia ambil alih. Setelah selesai, barulah dia diberi tahu bahwa syaikh yang dia terjemahkan nasihatnya adalah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin. Terkejutlah dia. Kedua matanya terbelalak sambil menatap Syaikh dengan penuh keheranan. Rupa-rupanya, terjadi sesuatu yang tidak pernah dia kira sebelumnya. Sambil terheran, dia memastikan, “Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin?” Para pendamping Syaikh pun terheran-heran, dari mana anak muda ini tahu nama tersebut.

Mereka pun mengiyakan. Saat itulah, dengan segera, dia memeluk Syaikh erat-erat. Air mata bercucuran dari kedua matanya seraya berucap, “Asy-Syaikh al-Utsaimin.” Berulang-ulang dia ucapkan dengan penuh kebahagiaan. Segera dia mengambil pengeras suara dan mengumumkan kepada jamaah rombongannya dengan bahasa mereka yang tak terpahami, selain sebutan nama Syaikh yang terulang-ulang. Linangan air mata mereka berderai. Suara mereka bersahutan, mengulang-ulang nama ‘asy-Syaikh Ibnu Utsaimin’.

Anak muda itu lalu berkata, “Wahai Syaikh, mereka adalah murid-muridmu. Mereka bersama-sama mempelajari kitab-kitabmu di persembunyian bawah tanah saat kami dilarang mempelajari Islam. Mereka sangat rindu untuk mengucapkan salam kepadamu. Apakah Anda mengizinkan?” Syaikh pun mengizinkan. Segeralah mereka mendatangi Syaikh, satu demi satu. Mereka kecup dahi beliau dengan air mata yang berlinangan dan mulut mereka yang terus bergumam, “Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Ibnu Utsaimin.” Tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak menangis. Mereka sangat terkesan dengan apa yang mereka dengar dan lihat. (al-Imam az-Zahid hlm. 110) Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa merahmati Anda dan menempatkan Anda di surga-Nya, surga Firdaus….

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.