Manfaat Rasa Lapar

Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ rahimahullah bahwa dia berkata, “Siapa yang sedikit makannya dia akan bisa memahami, membuat orang lain paham, bersih, dan lembut. Sungguh, banyak makan akan memberati seseorang dari hal-hal yang dia inginkan.”

Diriwayatkan dari Utsman bin Zaidah rahimahullah, dia berkata bahwa Sufyan ats- Tsauri rahimahullah mengirim surat kepadanya (di antara isinya), “Apabila engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit, kurangilah makan.”

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Siapa yang menjaga perutnya, dia bisa menjaga agamanya. Siapa yang bisa menguasai rasa laparnya, dia akan menguasai akhlak yang terpuji. Sungguh, kemaksiatan akan jauh dari orang yang lapar, dekat dengan orang yang kenyang. Rasa kenyang akan mematikan hati. Akan muncul pula darinya rasa senang, sombong, dan tawa.”

Diriwayatkan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah, “Jika jiwa merasakan lapar dan dahaga, kalbu akan bersih dan lembut. Jika jiwa merasakan kenyang dan puas minum, kalbu menjadi buta.”

Diriwayatkan pula dari asy-Syafi’i rahimahullah, “… Rasa kenyang akan memberati badan, menghilangkan kewaspadaan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan pemiliknya dari beribadah.”

(Jami’ al-Ulum wal Hikam, hlm. 576—577)

Syiah Berlumuran Darah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hingga kini, Syiah masih dipahami oleh masyarakat awam sebagai “mazhab kelima” dalam Islam. Artinya, Syiah dianggap sekadar beda fikih dengan keumuman masyarakat muslim lainnya. Apalagi, Syiah acap menampilkan diri sebagai pembela ahlul bait, sebuah wajah yang terlihat “mulia”. Muncullah anggapan bahwa perbedaan Syiah dan Sunni (Ahlus Sunnah) adalah “sekadar” pembela dan bukan pembela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika masih saja muncul pembelaan yang dilakukan sebagian masyarakat terhadap Syiah. Di kalangan elite Islam, malah gencar ajakan untuk menyatukan Sunni (baca: Islam) dengan Syiah. Jika orang-orang yang masih punya semangat terhadap Islam mau lebih dalam menyelami agama bentukan Yahudi ini, niscaya dia akan menentang keras Syiah. Membincangkan Syiah bukanlah semata soal kekhalifahan Ali. Bukan pula sesederhana bahwa Syiah melakukan kultus individu kepada Ali. Terlalu dangkal jika kita beranggapan seperti itu.

Syiah demikian sarat dengan ajaran menyimpang. Agama ini mengafirkan hampir seluruh sahabat, menganggap istri-istri Rasulullah Subhanahu wata’ala sebagai pelacur, menganggap imam-imam punya kedudukan tertinggi yang tidak dicapai nabi/rasul dan malaikat yang terdekat, menganggap imam-imam mereka sebagai pemilik dunia dan isinya, menganggap kenabian Muhammad salah alamat karena Jibril berkhianat dan tidak memberikannya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, serta sederet kesesatan lainnya. Itu semua baru dari satu sisi. Jika mau berkaca dari sisi sejarah, Syiahlah yang menjadi biang keladi pertumpahan darah di dalam Islam. Pembunuh Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah pemeluk agama Majusi yang merupakan akar agama Syiah.

Pembantaian Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, adalah hasil provokasi tokoh Yahudi pendiri Syiah, Abdullah bin Saba’. Jatuhnya Daulah Abbasiah adalah hasil pengkhianatan perdana menterinya yang Syiah, dan sebagainya. Demikian juga sekarang ini, pembantaian muslimin di Yaman, Syria, bergolaknya suhu politik di Timur Tengah, pembantaian minoritas Ahwaz di Iran yang Sunni, juga tak lepas dari tangan Syiah yang berlumur darah.

Tidak cukupkah sejarah menyuguhkan episode demi episode berdarah Syiah, untuk kemudian kita “melek” terhadap Syiah? Orang-orang bisa tertipu dengan “heroisme” Syiah (baca: Iran) dalam “melawan” hegemoni AS di panggung politik dunia, tapi kami, Ahlus Sunnah tidak. Orang-orang bisa kagum dengan pasukan Hizbullah (baca: Syiah) yang “melawan” tentara pendudukan Israel, tapi kami tidak. Semua berita politik itu tak lebih hasil goreng-menggoreng penguasa opini dunia, Yahudi. Bagaimana pun, Syiah satu rahim dengan Yahudi. Yahudi akan sangat senang ada tangan (yang dianggap) Islam yang selalu menjadi duri dalam daging dalam tubuh Islam.

Walau Syiah terpecah menjadi beberapa sekte, namun mayoritasnya adalah sekte Imamiyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok ini terusmenerus menebarkan berbagai macam kesesatannya—termasuk nikah mut’ah yang dijadikan daya tarik. Lebih-lebih kini didukung Iran, Irak, dan Syria yang kendali politiknya berada di tangan mereka—Syiah Rafidhah. Oleh karena itu, jangan teriak-teriak toleransi jika tidak tahu Syiah sama sekali, jangan teriak-teriak kebebasan beragama dan berkeyakinan jika kita tidak paham agama “made in Yahudi” ini, jangan sok teriak persatuan dan ukhuwah jika itu hanya demi simpati berbuah kursi. Toleransi ada tempatnya. Namun, faktanya, tidak ada tempat untuk toleransi dengan Syiah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 92

Koreksi

Bismillah.

Pada edisi 91 hlm. 11 tertulis tahun kelahiran asy-Syaikh ‘Utsaimin 1247 H? Mohon dicek lagi, setahu saya beliau lahir tahun 1347 H. 08538xxxxxxx

Jawaban redaksi

Anda benar, ada salah cetak. Redaksi juga menerima beberapa SMS senada. Jazakumullah khairan atas koreksi Anda. Ini sekaligus sebagai ralat.

 

Kovernya Bagus

Asy Syariah edisi 91 kovernya tampak menawan sekali, menambah minat baca. Jazakumullahu khairan kepada para ustadz semua yang berkenan berbagi ilmu kepada kami yang bodoh ini dan bersemangat untuk memperbaiki umat. Asy Syariah semoga tetap istiqamah. Amin. Semoga Allah tetap menjaga kita semua di atas istiqamah.

 

Pertanyaan Tidak Dijawab

Syarat/kriteria yang bagaimanakah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh Asy Syariah? Saya beberapa kali bertanya via SMS atau email tentang masalah yang memang kami belum paham ragu, berdasarkan rubrik yang disediakan Asy Syariah, tetapi tidak pernah ada jawaban. Jazakumullah khairan.

Jawaban redaksi

Pada dasarnya, tidak ada kriteria khusus tentang pertanyaan yang masuk. Terkait dengan SMS dan email pertanyaan ke rubrik “Tanya Jawab Ringkas” atau “Problema Anda” yang telah mencapai ribuan, kami memohon kesabaran para Pembaca. Kami tidak bisa menjanjikan bahwa SMS tersebut akan dibalas pada hari itu juga, dalam sekian hari, atau dalam sekian minggu. Kami harap para Pembaca lebih mencermati pertanyaan dan jawaban yang dimuat di edisi cetak, agar pertanyaan sejenis tidak sering terulang.

Demikian juga dengan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya telah termuat di artikel edisi-edisi lama. Bagaimana pun kami terus berupaya maksimal untuk tidak mengecewakan seluruh Pembaca. Namun, dengan banyaknya pertanyaan yang masuk dan keterbatasan kami, kami memprioritaskan pertanyaan “ringan” yang langsung bisa dijawab; bersifat mendesak; atau muatannya sering ditanyakan karena hal itu sering dijumpai di masyarakat, walau pertanyaan semacam ini juga ratusan kami terima.

Kami juga mohon pengertian dari Pembaca, menjawab pertanyaan yang bersifat keagamaan jelas butuh kehatihatian, butuh waktu untuk membuka referensi, sehingga tidak bisa dilakukan secepat kilat dan serampangan. Oleh karena itu, sekali lagi, kami mohon pengertian dari para Pembaca, dan kami memohon maaf kepada para Pembaca yang hingga saat ini pertanyaannya belum kami jawab.

 

Bundel Terbit Lagi

Kapan Asy Syariah menerbitkan lanjutan bundelnya? Saya punya saran, bagaimana bila bundel majalah Asy Syariah diterbitkan setahun sekali? Jazakumullahu khairan. Herry Setiawan – Bogor

Jawaban redaksi

Insya Allah bundel Asy Syariah ketiga (edisi 07–12) akan segera terbit. Semoga Allah memudahkan kami memenuhi harapan Anda.

Syirik Kaum Syiah

Mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dalam beribadah adalah inti ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Setiap nabi yang diutus Allah Subhanahu wata’ala mendapat perintah dari Allah Subhanahu wata’ala agar menyerukan dakwah tauhid kepada umatnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (an- Nahl: 36)

Firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Rabb (yang berhak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (al-Anbiya: 25)

Tauhid adalah syarat diterimanya ibadah, sebagaimana firman-Nya,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Rabbmu itu adalah Rabb Yang Esa.’ Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)

Tauhid adalah fondasi keselamatan hidup. Tidak akan selamat seorang yang menyekutukan Allah k dalam beribadah kepada-Nya. Seorang hamba yang mati dalam keadaan tidak bertobat dari perbuatan syirik yang dilakukannya, ia tidak akan mendapat ampunan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa’: 48)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 116)

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (al-Maidah: 72)

Namun, berbeda halnya dengan agama Syiah. Ayat-ayat yang menjelaskan perintah untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak menyekutukan dalam beribadah kepada-Nya, mereka palingkan maknanya dan membawanya kepada makna ke-imamah-an. Menurut mereka, meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai penerus kepemimpinan setelah Rasulullah n adalah prinsip utama yang harus diyakini. Sebagai contoh, firman Alah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Disebutkan dalam kitab paling sahih menurut kalangan Syiah, al-Kafi, dan kitab mereka lainnya, menjelaskan tafsir dari ayat ini sebagai berikut. “Jika engkau menyekutukan selainnya (selain Ali, -pen.) dalam kepemimpinan”, pada lafadz yang lain, ”Jika engkau memerintahkan kepemimpinan seseorang bersama kepemimpinan Ali setelahmu, niscaya terhapus amalanmu.” (Ushul al-Kafi, 427/1, Tafsir al-Qummi, 251/2)

Penulis kitab al-Burhan fi Tafsir al-Qur’an juga menyebutkan empat riwayat yang menafsirkan ayat tersebut dengan yang semakna dengan tafsir ini. (al-Burhan, 4/83; Ushul Madzhab Syiah, 427)

Contoh lain, firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (an-Naml: 61)

Ayat ini sangat jelas menunjukkan pengingkaran Allah Subhanahu wata’ala terhadap kaum musyrikin yang berbuat syirik dalam beribadah kepada-Nya. Namun, disebutkan dalam tafsir ayat ini, dari Abu Abdillah berkata, “Yang dimaksud adalah Imam hidayah dan imam sesat pada satu masa.” (Biharul Anwar, 23/391; Ushul Madzhab Syiah, 431)

Masih banyak lagi model penafsiran kaum Syiah yang seperti ini. Jadi, adalah hal yang wajar jika agama Syiah tidak bisa membedakan antara tauhid dan syirik, antara amalan yang saleh dan amalan yang batil karena metode penafsiran kaum Syiah yang sangat menyimpang dari kebenaran.

Para Imam sebagai Perantara Seorang Hamba dengan Rabbnya

Dalam agama Islam, ibadah dilakukan langsung kepada Allah Subhanahu wata’ala tanpa melalui perantara. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada- Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah- Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Barang siapa menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dia dan Allah k, dia memohon dan meminta kepada mereka, sungguh dia telah kafir berdasarkan kesepakatan para ulama. Hal itu seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin, sebagaimana yang disebut dalam firman-Nya,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekatdekatnya.” (az-Zumar: 3)

Berbeda halnya dengan agama Syiah, berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala melalui perantara para imam adalah sebuah kewajiban. Mereka berkata tentang imam-imam mereka, “Barang siapa berdoa kepada Allah melalui kami maka dia beruntung, dan siapa yang berdoa tanpa melalui kami maka dia binasa.” (Biharul Anwar, 23/103, Wasail asy-Syiah, 4/1142)

Bahkan , mereka berkata , “Sesungguhnya doa para nabi itu terkabulkan dengan cara bertawassul dan meminta syafaat mereka (para imam,m -pen.).” (Ini adalah judul salah satu bab dalam kitab Biharul Anwar, 26/319)

Mereka juga menyebutkan bahwa tatkala Allah k menempatkan Nabi Adam ‘Alaihissalam di dalam surga, ditampakkan di hadapannya permisalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali, Hasan, dan Husain, maka Adam melihat mereka dengan pandangan hasad. Lalu diperlihatkan kepadanya wilayah (kepemimpinan para imam Syiah, -pen.) dan Adam ‘Alaihissalam mengingkarinya sehingga ia pun dilempar dari surga dengan dedaunannya. Tatkala ia telah bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dari penyakit hasadnya dan mengakui wilayah para imam, serta berdoa dengan bertawassul dengan kedudukan lima hamba: Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain, maka Allah Subhanahu wata’ala pun mengampuninya. Itulah yang dimaksud dengan firman-Nya,

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 37)

Beristighatsah Kepada Para Imam

Agama Syiah menjelaskan tentang keutamaan dan tugas setiap imam mereka, “Adapun Ali bin al-Husain, itu untuk keselamatan dari para penguasa dan bisikan setan. Adapun Muhammad bin Ali dan Ja’far bin Muhammad, itu untuk akhirat dan apa yang dicari berupa ketaatan kepada Allah k. Adapun Musa bin Ja’far, mintalah darinya kesehatan dari Allah Subhanahu wata’ala. Adapun Ali bin Musa mintalah darinya keselamatan, baik di darat maupun di lautan. Adapun Muhammad bin Ali, mintalah rezeki dari Allah Subhanahu wata’ala melalui dia. Adapun Ali bin Muhammad, untuk amalan-amalan sunnah, berbuat baik kepada sesama saudara dan apa yang dituntut berupa ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Adapun Hasan bin Ali, itu untuk akhirat. Adapun pemilik zaman (Imam Mahdi, -pen.), jika pedang telah sampai ke sembelihannya maka mintalah tolong kepadanya, ia akan segera menolongmu.” (Biharul Anwar, 33/94)

Padahal Islam mengajarkan kita untuk meminta pertolongan untuk meraih sebuah manfaat atau menolak kemudaratan hanyalah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai hari pembalasan.” (al-Fatihah: 4)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. at-Tirmidzi no. 2516, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Ziarah Kubur Para Imam dan Keutamaannya Menurut Syiah Benar apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Orang-orang yang tepercaya telah memberitakan kepadaku, di antara kaum Syiah ada yang berpandangan bahwa berhaji ke kuburan yang dimuliakan itu lebih utama daripada berhaji ke Baitul ‘Atiq (Ka’bah). Mereka memandang bahwa menyekutukan Allah k lebih mulia daripada beribadah hanya kepada Allah k semata. Ini adalah perkara terbesar dalam beriman kepada thagut.” (Minhajus Sunnah, 2/124)

Benar apa yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Hal ini dibuktikan oleh riwayat-riwayat yang disebutkan dalam kitab-kitab kaum Syiah yang berlebihlebihan dalam hal memuliakan kuburan. Disebutkan dalam kitab al-Kafi bahwa berziarah ke kuburan Husain menyamai haji dua puluh kali dan lebih utama dari dua puluh kali haji dan umrah.” (Furu’ al-Kafi, 1/324)

Tatkala salah seorang Syiah berkata kepada imamnya, “Sesungguhnya aku telah berhaji sembilan belas kali dan umrah sembilan belas kali.” Imamnya menjawab seakan-akan mengejek, “Berhajilah sekali lagi dan umrahlah sekali lagi, dan itu semua akan dicatat bagimu sama dengan berziarah ke kuburan al- Husain.” (Wasail asy-Syiah, 10/348, Biharul Anwar, 38/101, Ushul Madzhab asy-Syiah, 454)

Bahkan, mereka juga meriwayatkan, “Barang siapa mendatangi kuburan Husain dalam keadaan dia mengetahui haknya, maka keutamaannya seperti orang yang berhaji bersama Rasulullah n seratus kali.” (Tsawabul A’mal, 52, Wasail asy-Syiah, 10/350. Ushul Madzhabi Syiah, 455)

Lebih dari itu, mereka menganggap bahwa berziarah ke kuburan Husain pada hari Arafah lebih utama daripada amalan haji berlipat-lipat kali. Mereka meriwayatkan, “Barang siapa mendatanginya (kuburan Husain, -pen.) pada hari Arafah dalam keadaan dia mengetahui haknya, maka Allah Subhanahu wata’ala mencatat baginya seribu kali haji, seribu kali umrah mabrur yang diterima, dan seribu kali berperang bersama nabi yang diutus atau imam yang adil.” (Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 1/324, Man La Yahdhuruhul Faqih, Ibnu Babawaih al- Qummi, 1/182)

Mereka juga meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq bahwa ia berkata, “Seandainya aku beritakan kepada kalian keutamaan ziarah ke kuburannya dan keutamaan kuburannya, niscaya kalian meninggalkan amalan haji. Tidak seorang pun dari kalian yang akan menunaikan haji. Celaka engkau, tidakkah engkau tahu bahwa Allah k telah menjadikan tanah Karbala sebagai tanah haram yang aman dan penuh berkah sebelum Makkah dijadikan sebagai tanah haram?!” (Biharul Anwar, 33/101)

Shalat di Kuburan

Bahkan, tingkat kesyirikan yang mereka lakukan hingga menyebutkan keutamaan shalat di sisi kuburan imam mereka. Di antara riwayat yang mereka sebutkan, “Shalat di tanah haram kuburan Husain bagimu, pada setiap rakaat yang kamu lakukan mendapatkan pahala di sisi-Nya seperti pahala seribu kali haji, seribu kali umrah, membebaskan seribu budak, dan seakan-akan dia berwakaf di jalan Allah Subhanahu wata’ala sejuta kali bersama nabi yang diutus.” (al-Wafi, 8/234; Ushul Madzhab Syiah, hlm. 469)

Bagaimana mungkin Islam membenarkan hal ini padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya shalat di pekuburan dan shalat menghadapnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

“Jangan kalian shalat menghadap kuburan dan jangan kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim no. 972, dari Abu Martsad al-Ghanawi radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Permukaan bumi seluruhnya adalah tempat shalat kecuali pekuburan dan kamar mandi.” (HR. at-Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, dan yang lainnya, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu) Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Al Quran Al Karim

Telah disepakati oleh kaum muslimin bahwa Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menjaga al-Qur’an al-Karim dari berbagai upaya yang hendak mengubah dan menyusupkan ke dalam al-Qur’an sesuatu yang tidak termasuk dari al- Qur’an al-Karim tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menantang seluruh manusia untuk mendatangkan satu surat seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an,

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ () فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), datangkanlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak dapat mendatangkan(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat mendatangkan(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 23—24)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapasiapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Yunus: 38)

Maka dari itu, siapa yang berusaha meragu-ragukan keotentikan al-Qur’an al-Karim, sungguh ia telah keluar jauh dari Islam meskipun masih mengaku sebagai seorang muslim. Sebab, tidak mungkin ada seorang yang masih menjadi muslim sementara dia ragu terhadap kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang terpelihara dan terjaga. Namun, pemeluk agama Syiah berusaha memadamkan cahaya Islam dengan lisan dan tulisan mereka yang meragu-ragukan keotentikan al-Qur’an al-Karim. Mereka melemparkan tuduhan dusta dan penuh fitnah terhadap pedoman utama Islam, al-Qur’an al-Karim. Mereka anggap telah terjadi perubahan dan pengurangan di dalamnya. Mereka mengatakan pula bahwa al-Qur’an yang sempurna berada di tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu diwariskan kepada para imam setelahnya, yang menurut mereka sekarang ini ada di tangan Imam Mahdi yang selalu mereka tunggu. Hal ini sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pembesar-pembesar Syiah Rafidhah dalam kitab-kitab mereka. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah:

• Dalam kitab al-Kafi karya Muhammad Ya’qub al-Kulaini—yang bagi kaum Syiah kedudukannya seperti kitab Shahih al-Bukhari bagi kaum muslimin—, al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far as-Shadiq, ia berkata,

أَنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفِ آَيَةٍ

“Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril ‘Alaihisslam kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, karya al-Kulaini, Kitab Fadhlul Qur’an, bab an-Nawadir, 2/134)

Para ulama Syiah menyatakan riwayat mereka ini sahih. Al-Majlisi berkata, “Berita ini sahih.” (Mir’atul Uqul Syarah al-Ushul wal Furu’, 2/536) Pengarang kitab asy-Syafi Syarah Ushul al-Kafi berkata, “Berita ini dibenarkan seperti sahih.” (7/227) Sementara itu, kita mengetahui bahwa jumlah ayat al-Qur’an hanya enam ribu lebih. Artinya, hampir dua pertiga bagian yang hilang dari al-Qur’an, menurut ajaran kaum Syiah. Keyakinan adanya perubahan al- Qur’an tersebut dikuatkan lagi oleh riwayat yang disebutkan oleh al-Kulaini dalam al-Kafi (1/457), dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq, -red.)  ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?” Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?” Ia menjawab, “Mushaf Fatimah dibandingkan Qur’an kalian ini lebih banyak tiga kali lipat. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam Qur’an kalian.” Aku menjawab, “Demi Allah, ini adalah ilmu.”

• Muhammad Shalih al-Mazindarani berkata, “Sesungguhnya ayat-ayat al- Qur’an yang berjumlah enam ribu lima ratus, dan selebihnya telah hilang karena terjadinya tahrif (perubahan).” (Syarah Jami’ alal Kafi, 11/76)

• Al-Majlisi berkata setelah menyebutkan riwayat diatas , “Sesungguhnya berita ini, dan masih banyak lagi berita yang sahih, dengan jelas menyebutkan terjadi kekurangan dan perubahan pada al-Qur’an. Menurut saya, berita-berita dalam bab ini mutawatir secara makna.” (Mir’atul ‘Uqul, 12/525)

• Syaikh al-Mufid berkata, “Sesungguhnya terdapat berita-berita yang masyhur, diriwayatkan dari para imamul huda dari keluarga Muhammad n, tentang adanya perubahan al-Qur’an dan apa yang dilakukan oleh beberapa orang zalim yang menghapus dan mengurangi al-Qur’an.” (Awa’il al-Maqalat, hlm. 91)

• Abul Hasan al-Amili berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, bahwa telah terjadi perubahan pada al- Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah wafat beliau, menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam tafsir Miratul Anwar wa Misykatul Asrar hlm. 36)

• Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril, -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir, yang menunjukkan dengan jelas tentang terjadinya perubahan dalam al-Qur’an, baik ucapan, kata-kata, maupun i’rabnya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)

• Mulla Muhsin al-Kasyi Muhammad bin Murtadha mengatakan dalam mukadimah tafsirnya, ash-Shafi (1/32), setelah menyebutkan beberapa riwayat yang menerangkan adanya perubahan dan kekurangan al-Qur’an, “Kesimpulan dari seluruh berita ini dan yang lainnya dari berbagai riwayat yang berasal dari jalur keluarga Nabi alaihimus salam, al- Qur’an tidak lagi sempurna sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya justru ada yang menyelisihi apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ada pula yang telah diubah, dan banyak yang dihapus. Di antara yang dihapus ialah penyebutan nama Ali dalam banyak tempat, lafadz ‘keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam’ tidak hanya sekali, dan nama-nama orang munafik di beberapa tempat, dan lainnya. Selain itu, susunannya tidak sesuai dengan susunan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Ini pula pendapat Ali bin Ibrahim al-Qummi.”

• Menurut kaum Syiah, tidak ada yang dapat mengumpulkan seluruh al- Qur’an selain Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini (1/441), dari Jabir berkata, “Aku mendengar Abu Ja’far berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang mengaku bahwa dia telah mengumpulkan seluruh al-Qur’an sebagaimana turunnya kecuali pendusta besar. Tidak ada yang bisa mengumpulkan dan menjaganya sebagaimana yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, selain Ali bin Abi Thalib  dan para imam setelahnya’.”

• Bahkan, pada masa ini, salah seorang tokoh Rafidhah yang bernama Husain ath-Thabarsi menulis sebuah risalah yang ia beri judul Fashlul Khithab fi Tahrif Kitab Rabbil Arbab. Seluruhnya membahas tentang bukti-bukti—menurut versi kaum Syiah—yang menunjukkan perubahan al-Qur’an. Berikut ini beberapa contoh yang disebutkan dalam kitab-kitab kaum Syiah yang menuduh adanya perubahan dalam al-Qur’an—yang justru itu adalah ayat-ayat palsu Syiah.

• Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitabnya, al-Kafi (2/372), dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah ketika menyebut firman Allah Subhanahu wata’ala (al-Ahzab: 71),

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِ يَالَةِ عَلِيٍّ وَوِ يَالَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kekuasaan Ali dan kekuasaan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

Ia berkata, “Demikianlah ayat ini diturunkan.”

• Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi (2/379), dari Abdullah bin Sinan, dari Abu Abdillah q ketika menyebut firman Allah Subhanahu wata’ala (Thaha: 115),

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِم فَنَسِيَ

“Sungguh Kami telah menetapkan janji kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat untuk Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan para imam dari keturunannya, lalu dia lupa.” Abu Abdillah berkata, “Demi Allah, demikianlah ayat ini turun kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

• Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi (2/383), dari Muhammad bin Sinan, dari ar-Ridha  dalam menyebut firman Allah Subhanahu wata’ala (asy-Syura: 13),

كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ بِوِ يَالَةِ عَلِيٍّ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ يَا مُحَمَّدُ مِنْ وِ يَالَةِ عَلِيٍّ

“Alangkah beratnya bagi kaum musyrikin terhadap kepemimpinan Ali, apa yang engkau ajak mereka, wahai Muhammad, yaitu kepemimpinan Ali.”

Ia berkata, “Demikianlah yang terpelihara dalam al-Kitab.” Sungguh, masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab-kitab kaum Syiah bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin sekarang ini telah berubah. Memang benar, di antara ulama Syiah ada yang mengingkari terjadinya perubahan dan pengurangan di dalam al-Qur’an al-Karim. Di antara yang mengingkari adanya perubahan al- Qur’an adalah salah satu tokoh Syiah yang hidup di abad ke-4, seorang ahli hadits Syiah yang digelari ash-Shaduq. Ia bernama Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi. Kaum Syiah menyebutnya sebagai “pemimpin para ahli hadits” (wafat 381 H). Ia berkata, “Keyakinan kami terhadap al-Qur’an bahwa apa yang ada di antara dua sisinya, itulah yang ada di tangan manusia dan tidak lebih dari itu. Barang siapa menisbatkan kepada kami bahwa kami mengatakan al-Qur’an lebih dari yang ada, dia telah berdusta.” (al- I’tiqadat li ash-Shaduq, dari Kitab Muhsin al-Amin, hlm. 161. Lihat Mas’alatu at-Taqrib Baina Ahlis Sunnah wa asy- Syiah, hlm. 183)

Ucapan ash-Shaduq ini telah menggugurkan tuduhan sekian banyak tokoh Syiah yang menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an, seperti al-Kulaini, Ibrahim al-Qummi, al- ‘Ayyasyi, dan lainnya. Ucapan ini memang mengandung salah satu dari tiga kemungkinan:

1 . Riwayat – riwayat yang menyebutkan adanya perubahan al- Qur’an adalah riwayat-riwayat palsu yang disusupkan ke dalam kitab-kitab Syiah tersebut oleh kaum zindiq (munafik) untuk merusak keyakinan mereka. Jika demikian, ini berarti bahwa kitab-kitab kaum Syiah tidak bisa dijadikan sebagai rujukan karena telah disusupi banyak riwayat palsu sehingga tidak lagi terpelihara. Anehnya, mereka justru menganggap kitab-kitab tersebut sebagai kitab-kitab yang sahih. Kedudukannya seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari kitabkitab hadits kaum muslimin. Anehnya lagi, mayoritas kitab Syiah yang menjadi rujukan mereka menyebutkan berita tentang adanya perubahan pada al- Qur’an.

2. Ucapan ash-Shaduq ini hanyalah taqiyah untuk menyembunyikan keyakinannya di hadapan kaum muslimin. Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh Rafidhah, Ni’matullah al-Jazairi. Ia berkata, “Ya, pendapat ini diselisihi oleh al-Murtadha, ash-Shaduq, dan Syaikh Thabarsi. Mereka menghukumi bahwa apa yang ada di antara dua sisi mushaf, itulah al-Qur’an yang diturunkan, tidak ada yang lainnya, dan tidak terjadi perubahan dan pengurangan…. Yang tampak, ini mereka ucapkan dengan tujuan mendapat kemaslahatan yang banyak. Di antaranya, menutup pintu celaan terhadapnya, bahwa jika hal ini bisa terjadi pada al-Qur’an, lantas bagaimana mungkin kaidah dan hukum al-Qur’an diamalkan padahal telah terjadi perubahan di dalamnya…. Sebab, jika tidak (dibawa kepada pemahaman seperti ini), para tokoh ini telah meriwayatkan sedemikian banyak riwayat dalam karya mereka tentang terjadinya perubahan di dalam al-Qur’an dan bahwa ayat ini diturunkan demikian lalu diubah.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357—358)

3. Ash-Shaduq telah nyeleneh karena berpendapat menyelisihi ijma’ kaum Syiah yang menetapkan adanya perubahan dalam al-Qur’an. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang tokoh mereka, Ni’matullah al-Jazairi. Ia berkata, “Sesungguhnya pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur’an terjaga dan terpelihara akan menyebabkan dibuangnya berita-berita yang masyhur, bahkan mutawatir, yang dengan jelas menunjukkan terjadinya perubahan pada al-Qur’an…. Padahal para sahabat kami—semoga Allah k meridhai mereka—telah sepakat tentang keabsahan dan kebenarannya.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, Ni’matullah al-Jazairi, 2/357—358)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Imamah

Keimaman dalam agama Syiah adalah prinsip yang paling utama. Seluruh keyakinan dan seluruh riwayat mereka kembali kepada masalah keimamahan ini. Masalah imamah (kepemimpinan) inilah yang menjadi inti ajaran dan asal muasal lahirnya pemikiran Syiah yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’. Kitab-kitab Syiah mengakui bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang pertama memopulerkan keyakinan wajibnya meyakini kepemimpinan (keimamahan) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, menampakkan sikap berlepas diri dari musuh-musuhnya, dan menyingkap para penentangnya, serta mengafirkan mereka. (Rijal al-Kisysyi, hlm.108—109, al- Maqalat wal Firaq, hlm. 20 karya an Nubakhti, Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 654)

Itu pula yang ditetapkan oleh Ahlus Sunnah, sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan pendapat tentang keimamahan Ali radhiyallahu ‘anhu. (al-Milal wa an-Nihal,1/174)

Menurut kaum Syiah, pengangkatan imam adalah janji yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka satu per satu. Dalam kitab al-Kafi disebutkan sebuah bab dengan judul “Imamah Adalah Janji dari Allah Subhanahu wata’ala yang Telah Ditetapkan dari Seseorang kepada yang Lain”. Ada juga bab “Nash yang Disebutkan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Terhadap Para Imam Satu Persatu”. (al-Kafi, 1/227 dan 1/286)

Salah seorang tokoh rujukan Syiah, Muhammad Husain Alu Kasyifil Ghitha, berkata, “Imamah adalah kedudukan ilahiah seperti halnya kenabian. Sebagaimana halnya Allah Subhanahu wata’ala memilih siapa yang Dia kehendaki dari parahamba-Nya menjadi nabi dan rasul, lalu menguatkannya dengan mukjizat sebagai pembuktian nash dari Allah Subhanahu wata’ala…, demikian pula Dia memilih siapa yang dikehendaki-Nya menjadi imam dan memerintah Nabi-Nya untuk menyebutkannya secara tegas, dan mengangkatnya sebagai pemimpin bagi umat manusia setelahnya.” (Ashlus Syiah wa Ushuluha, hlm. 58, Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 655)

Kedudukan Imamah dalam Agama Syiah

Di dalam agama Syiah, kedudukan imamah jauh lebih mulia dari kedudukan seorang nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala. Inilah yang dijelaskan oleh para tokoh Syiah. Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Keimamahan yang bersifat umum yang merupakan kedudukan di atas tingkatan kenabian dan kerasulan….” (Zahrur Rabi’, hlm. 12)

Hadi at-Taharani berkata, “Keimaman lebih agung daripada kenabian. Sebab, keimamahan adalah kedudukan ketiga yang Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Ibrahim dengannya setelah kedudukan nabi dan khalil.” (Wadayi’ an-Nubuwah, hlm. 114)

Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya yang paling agung dalam agama yang Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi-Nya ini adalah masalah imamah.” (Wadayi’ an-Nubuwah, hlm. 115)

Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam dibangun di atas lima hal: shalat, zakat, puasa, haji, dan keimaman (kepemimpinan). Tidak ada sesuatu yang lebih penting untuk didakwahkan selain kepemimpinan. Namun, manusia mengambil yang empat dan meninggalkan yang satu ini.” (Ushul al-Kafi, 2/18)

Perhatikanlah riwayat yang mereka sebutkan di atas… Mereka menjadikan masalah imamah sebagai pengganti dua kalimat syahadat!! Di samping itu, menjadikannya sebagai rukun Islam yang terpenting. Adakah kesesatan yang melebihi kesesatan mereka ini?

Berapa Jumlah Imam?

Kaum Syiah berselisih pendapat dalam menyebutkan jumlah imam mereka. Disebutkan dalam Mukhtashar at-Tuhfah, “Ketahuilah bahwa Imamiyah berpendapat bahwa jumlah imam itu terbatas, namun mereka berselisih tentang jumlahnya. Sebagian mengatakan lima, sebagian lagi mengatakan tujuh, sebagian lagi mengatakan delapan, sebagian lagi mengatakan dua belas, dan sebagian mengatakan tiga belas.” (Mukhtashar Tuhfah, hlm.193, Ushul Madzhab asy- Syiah, hlm. 666)

Kemudian terjadi kesepakatan bahwa jumlah imam terbatas menjadi dua belas, setelah meninggalnya al-Hasan al-Askari yang dianggap sebagai imam kesebelas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Tidak ada seorang pun dari keturunan keluarga Nabi dari bani Hasyim,baik di masa Rasulullah n, Abu Bakr, Umar, Utsman, maupun Ali g, yang berpendapat bahwa imam itu berjumlah dua belas.” (Minhajus Sunnah, 2/111) Beliau juga berkata, “Sebelum wafatnya al-Hasan (yakni al-Hasan bin Ali al-‘Askari yang dianggap sebagai imam kesebelas kaum Syiah), tidak seorang pun yang berpendapat imam muntazhar sebagai imam mereka yang kedua belas. Tidak ada seorang pun di zaman Ali dan zaman bani Umayyah yang menetapkan jumlah imam dua belas.” (Minhajus Sunnah, 4/209) Dua belas imam yang ditetapkan oleh kaum Syiah Imamiyah adalah:

1. Ali bin Abi Thalib, Abul Hasan al-Murtadha

2. Al-Hasan bin Ali, Abu Muhammad az-Zaki

3. Al-Husain bin Ali, Abu Abdillah asy-Syahid

4. Ali bin al-Husain Abu Muhammad, Zainul Abidin

5. Muhammad bin Ali Abu Ja’far al-Baqir

6. Ja’far bin Muhammad, Abu Abdillah ash-Shadiq

7. Musa bin Ja’far Abu Ibrahim al-Kazhim

8. Ali bin Musa Abul Hasan ar-Ridha

9. Muhammad bin Ali, Abu Ja’far al-Jawad

10. Ali bin Muhammad Abul Hasan al-Hadi

11. Al-Hasan bin Ali, Abu Muhammad al-Askari

12. Muhammad bin al-Hasan Abul Qasim al-Mahdi

Namun, disebutkan dalam kitab yang paling pertama yang tampak dari kalangan Syiah, yaitu kitab Salim bin Qais, dia justru menetapkan bahwa jumlah imam itu ada tiga belas. Bahkan, dalam sebagian riwayat kaum Syiah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidak masuk dalam daftar sebagai imam yang berjumlah dua belas. Dalam kitab yang paling sahih menurut versi Syiah, terdapat riwayat

yang menerangkan bahwa imam mereka berjumlah tiga belas. Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku dan dua belas imam dari keturunanku. Adapun engkau, wahai Ali, adalah kancingnya bumi, yaitu sebagai pancang dan bukitnya. Dengan kami, Allah Subhanahu wata’ala mengokohkan bumi agar tidak lenyap bersama penghuninya. Jika dua belas dari keturunanku telah pergi, bumi ini akan lenyap beserta penghuninya dan mereka tidak memerhatikannya.” (Ushul al-Kafi, 1/534)

Demikian pula yang diriwayatkan dari Abu Ja’far, dari Jabir, ia berkata, “Aku masuk bertemu Fatimah. Di hadapannya ada lempengan yang di dalamnya bertuliskan nama-nama (imam) yang diberi wasiat dari keturunannya. Fatimah menghitungnya berjumlah dua belas. Yang terakhir adalah al-Qaim. Tiga di antara mereka bernama Muhammad, dan tiga di antara mereka bernama Ali.” (Ushul al-Kafi, 1/532)

Lihatlah, riwayat ini menyebutkan bahwa imam dua belas itu berasal dari keturunan Fatimah. Jadi, Ali bin Abi Thalib tidak termasuk dari kalangan imam mereka karena beliau adalah suami Fatimah, bukan anaknya. Adanya perselisihan penentuan jumlah imam, menunjukkan bahwa pembatasan dua belas imam tersebut sama sekali tidak dibangun di atas landasan yang jelas dari kitabullah atau sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas bagaimana bisa hal ini dianggap sebagai bagian rukun Islam, bahkan menggantikan posisi dua kalimat syahadat?

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Kemaksuman Para Imam

Kaum Syiah Rafidhah meyakini bahwa 12 imam mereka memiliki sifat ishmah (maksum). Menurut mereka, maksum adalah tidak pernah berbuat dosa besar ataupun kecil, bahkan tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali, baik ucapan maupun perbuatan. Disebutkan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Syiah Imamiyah (Rafidhah, -pen.) bersepakat atas kemaksuman para imam—‘alaihimus salam—dari dosa-dosa, yang kecil dan yang besar. Mereka sama sekali tidak memiliki dosa, baik secara sengaja, lupa, keliru dalam penakwilan, maupun Allah Subhanahu wata’ala yang menjadikannya lalai.” (Biharul Anwar, 25/211, Ushul Madzhab asy-Syiah, 775)

Demikian pula yang ditegaskan oleh seorang tokoh Syiah yang hidup di abad keempat, Ibnu Babawaih. Ia berkata, “Agama Syiah Imamiyah menyatakan, ‘Keyakinan kami tentang para imam, mereka adalah maksum, disucikan dari setiap kotoran, tidak pernah berbuat dosa kecil ataupun besar, dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal yang Allah l perintahkan, serta senantiasa mengerjakan apa saja yang diperintahkan. Siapa yang mengingkari kemaksuman mereka dalam keadaan apa pun, sungguh ia telah menuduh mereka jahil. Siapa yang menuduh mereka jahil, sungguh ia telah kafir. Keyakinan kami terhadap mereka bahwa mereka maksum, memiliki sifat yang sempurna dan ilmu yang sempurna dari awal urusan mereka hingga akhirnya. Setiap keadaan mereka tidak memiliki sifat kekurangan, maksiat, dan tidak pula kejahilan’.” (al-I’tiqadat, hlm. 108—109, Ushul Madzhab Syiah, 780)

Mereka juga berkata, “Sesungguhnya para sahabat kami dari kalangan Syiah Imamiyah telah bersepakat bahwa para imam itu maksum dari berbagai dosa kecil ataupun besar, secara sengaja, keliru, ataupun lupa, sejak mereka lahir hingga bertemu Allah Subhanahu wata’ala.” (Biharul Anwar, 25/350—351)

Kesimpulan dari apa yang disebutkan di atas, bahwa:

1. Yang dimaksud maksum menurut versi Syiah adalah tidak pernah berbuat dosa apa pun, kecil atau besar, bahkan tidak pernah keliru, lalai, dan lupa.

2. Kemaksuman para imam adalah hal yang telah disepakati/ijma’ ulama.

3. Siapa yang mengingkari kemaksuman para imam, dia kafir dan keluar dari Islam.

Anehnya, tatkala menafikan adanya sifat sahwu (lupa) dari para imam, mereka menetapkan bahwa Nabi n mengalami kelupaan. Mereka anggap pendapat yang mengingkari adanya sifat lupa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai mazhab yang ghuluw dan melampaui batas. Al-Majlisi berkata dalam kitabnya, Man La Yahdhuruhul Faqih, “Sesungguhnya para ghulat (kelompok yang berlebihlebihan) dan ahli tafwidh—semoga Allah Subhanahu wata’ala melaknat mereka—mengingkari sifat lupa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka berkata, ‘Seandainya bisa terjadi kelupaan di dalam shalat, bisa pula terjadi kelupaan dalam menyampaikan agama. Sebab, shalat adalah kewajiban sebagaimana halnya meyampaikan agama juga kewajiban… Lupanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sama dengan lupanya kita karena lupa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mberasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala yang menjadikannya lupa dalam rangka mengabarkan bahwa beliau adalah manusia biasa dan seorang makhluk, sehingga tidak dijadikan sebagai Rabb yang disembah selain-Nya.

Selain itu untuk menerangkan kepada manusia hukum sujud sahwi saat terjadi kelupaan. Adalah Syaikh kami, Muhammad bin al-Hasan bin Ahmad bin al-Walid berkata, ‘Tingkatan ghuluw yang pertama adalah mengingkari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lupa. Aku mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wata’ala untuk menulis sebuah kitab khusus yang menetapkan sifat lupa bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bantahan terhadap para pengingkarnya’.” (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/234)

Bahkan, ar-Ridha menetapkan bahwa sifat lupa dapat dialami oleh siapa saja, bahkan para imam mereka sekalipun. Ia berkata, “Sesungguhnya yang tidak pernah lupa hanyalah Allah Subhanahu wata’ala. Kitabkitab Syiah banyak meriwayatkan berita tentang lupanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat.” (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/233)

Oleh karena itu, dalam kitab-kitab Syiah sendiri banyak sekali dinukil bahwa para imam mereka mengalami kesalahan dan kelupaan.Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balaghah—salah satu kitab kebanggaan kaum Syiah—tentang doa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي فَإِنْ عُدْتُ فَعُدْ عَلَيَّ باِلْمَغْفِرَةِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا وَأَيْتُ مِنْ نَفْسِي وَلَمْ تَجِدْ لَهُ وَفَاءً عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا تَقَرَّبْتُ بِهِ إِلَيْكَ بِلِسَانِي ثُمَّ خَالَفَ قَلْبِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي رَمَزَاتِ الْأَلْحَاظِ وَسَقَطَاتِ الْأَلْفَاظِ وَشَهَوَاتِ الْجِنَانِ وَهَفَوَاتِ اللِّسَان

“Ya Allah, ampunilah aku sesuatu yang Engkau lebih mengetahui dariku, dan jika aku mengulanginya, kembalilah kepadaku dengan ampunan-Mu. Ya Allah, ampunilah aku terhadap apa yang aku janjikan pada diriku lalu Engkau mendapatiku tidak menepatinya. Ya Allah, ampunilah aku terhadap sesuatu yang aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan lisanku, tetapi hatiku menyelisihinya. Ya Allah, ampunilah aku dari cibiran mata (merendahkan atau mengolokolok, –pen.), dan ketergelinciran lafadz ucapan, syahwat hati, dan kekeliruan lisan.” (Nahjul Balaghah, hlm. 104)

Seandainya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dianggap sebagai imam yang maksum, lantas mengapa beliau berdoa memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana yang disebutkan oleh riwayat ini? Demikian pula, mereka meriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq bahwa beliau berkata,

إِنَّا لَنُذْنِبُ وَنَسِيءُ ثُمَّ نَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا

“Sesungguhnya kami berbuat dosa dan keburukan, lalu kami bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya.” (Biharul Anwar, 25/207)

Kaum Syiah juga meriwayatkan dari salah seorang imam mereka, Abul Hasan Musa al-Kazhim, ia berkata, “Wahai Rabbku, aku bermaksiat kepada-Mu dengan lisanku. Seandainya Engkau berkehendak, tentu Engkau telah menjadikanku bisu. Aku bermaksiat kepada-Mu dengan pandanganku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku buta. Aku telah bermaksiat kepada-Mu dengan pendengaranku,jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku tuli. Aku bermaksiat kepadamu dengan tanganku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku buntung. Aku telah bermaksiat kepada- Mu dengan kemaluanku, jika Engkau ingin, Engkau telah menjadikanku mandul. Aku bermaksiat kepada-Mu dengan kakiku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku lumpuh. Aku telah bermaksiat kepada-Mu dengan seluruh anggota tubuhku yang telah Engkau berikan kepadaku sebagai kenikmatan, dalam keadaan aku tidak mampu membalas-Mu.” (Biharul Anwar, 25/203)

Masih banyak riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab kaum Syiah sendiri yang menetapkan bahwa para imam pun tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, al-Majlisi bingung menyikapi masalah kemaksuman para imam ini karena banyak riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mereka pun mengalami kelupaan dan kesalahan. Sementara itu, di sisi lain dia harus berhadapan dengan pernyataan para tokoh Syiah lainnya yang menganggap hal ini sebagai ijma’ dan mengafirkan orang yang mengingkari kemaksuman para imam. Ia berkata, “Masalah ini memang sangat rumit. Sebab, banyak riwayat dan ayat yang menunjukkan adanya kelupaan yang mereka (para imam, -pen.) alami, padahal para sahabat kami bersepakat—kecuali yang ganjil pendapatnya—tidak bolehnya hal tersebut terjadi pada mereka.” (Biharul Anwar, 25/351, Ushul Madzhab Syiah, 782)

Maksum Versi Ahlus Sunnah

Adapun Ahlus Sunnah meyakini bahwa para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamterpelihara dan terjaga dalam menyampaikan wahyu yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa mereka (para Nabi) adalah maksum (terpelihara) dalam hal yang mereka sampaikan dari Allah l. Tidak mungkin Allah Subhanahu wata’ala membiarkan mereka salah menyampaikan risalah dari-Nya. Dengan ini, tercapailah tujuan diutusnya (par rasul). Adapun sebelum diutus sebagai nabi tidak pernah bersalah atau berbuat dosa, tidak ada keharusan seperti itu dalam sifat kenabian.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah, 2/395)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Sahabat Nabi

Kaum muslimin meyakini dengan sebenar-benar keyakinan bahwa sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia pilihan dari kalangan umat ini. Mereka adalah generasi terbaik yang telah dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mendampingi Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Adapun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan pula dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz “Sebaik-baik umatku”, Muttafaqun ‘alaihi)

Allah Subhanahu wata’ala melarang hamba-hamba- Nya untuk menyakiti kaum mukminin secara umum, baik dengan cara mencela, mengghibah, mengolok-olok, dan yang semisalnya. Lebih buruk lagi jika yang dicela adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa warisan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al- Ahzab: 58)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan ayat ini, “Betapa banyak manusia yang masuk ke dalam ancaman ini: orang-orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, kaum Rafidhah yang selalu mendiskreditkan para sahabat, mencela mereka dengan sesuatu yang Allah Subhanahu wata’ala telah membebaskan mereka darinya, dan melabeli mereka dengan sifat yang bertolak belakang dengan penjelasan Allah Subhanahu wata’ala tentang mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/241)

Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut, “Dari ayat ini, al-Imam Malik t—dalam sebuah riwayat—mengambil kesimpulan hukum tentang kafirnya kaum Syiah Rafidhah yang membenci para sahabat. Beliau berkata, ‘Sebab, para sahabat membuat mereka (Syiah) jengkel, dan siapa yang mengghibah para sahabat, dia kafir berdasarkan ayat ini.’ Sebagian ulama menyepakati beliau dalam hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 12/135) Larangan mencela sahabat Nabi  lebih ditegaskan lagi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ما بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud, tidak akan menyamai infak satu mud yang mereka keluarkan, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3470, Muslim no. 2541, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat Muslim disebut dengan lafadz, “Jangan kalian mencela seorang pun dari sahabatku”. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2540, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Namun, seluruh dalil yang menjelaskan keutamaan sahabat ini dibuang sejauh-jauhnya oleh kaum Syiah Rafidhah. Mereka sama sekali tidak memandang seluruh perjuangan yang telah dilakukan oleh para sahabat Nabi n untuk membela Islam. Menurut mereka, seluruh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang murtad dari Islam, kecuali segelintir dari mereka. Riwayat yang menyebutkan murtadnya para sahabat dalam kitabkitab Syiah sangat banyak. Di antara yang menjelaskan hal tersebut:

• Kaum Syiah meriwayatkan dari Abu Ja’far  bahwa ia berkata, “Manusia telah murtad setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang.” Ia ditanya, “Siapakah ketiga orang itu?” Ia menjawab, “Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al- Farisi, semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati dan memberkahi mereka.” (al-Kafi, karya al-Kulaini, kitab “ar-Raudhah”, 12/321—322, bersama Syarah Jami’, karya al-Mazindarani)

• Disebutkan pula dalam Rijal al- Kisysyi dari Abu Ja’far, ia berkata, “Manusia telah murtad kecuali tiga orang: Salman, Abu Dzar, dan Miqdad.” Ia ditanya, “Bagaimana dengan Ammar?” Ia menjawab, “Sebelumnya ia berbuat adil, namun dia kembali lagi.” (Rijal al- Kisysyi, hlm. 11—12)

Bahkan, tiga orang yang mereka bebaskan dari tuduhan murtad pun tidak selamat dari pembicaraan dan celaan mereka. Disebutkan dalam kitab Rijal al-Kisysyi (hlm. 15) bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Abu Dzar, jika Salman memberitakan sesuatu yang dia ketahui, niscaya aku akan berkata, ‘Semoga Allah merahmati pembunuh Salman’.” Disebutkan pula dari Ja’far, dari ayahnya , ia berkata, “Suatu hari mdisebut taqiyah di sisi Ali . Ali lantas berkata, “Seandainya Abu Dzar mengetahui isi hati Salman, niscaya ia akan membunuhnya.” (Rijal al-Kisysi, hlm. 17)

Disebutkan pula dari Abu Bashir bahwa ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah ‘Alaihissalam berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai Salman, kalau ilmumu diberikan kepada Miqdad, niscaya ia menjadi kafir. Wahai Miqdad, kalau ilmumu diberikan kepada Salman, niscaya ia menjadi kafir’.” (Rijal al-Kisysyi, 11)

Disebutkan pula dalam riwayat lain adanya tambahan nama Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat yang tidak dihukumi murtad oleh kaum Rafidhah. Disebutkan dari Fudhail bin Yasar dari Abu Ja’far ‘Alaihissalam berkata, “Sesungguhnya tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, manusia seluruhnya menjadi kaum jahiliah kecuali Ali, Miqdad, Salman, dan Abu Dzar.” Aku bertanya, “Bagaimana dengan Salman?” Ia menjawab, “Jika engkau memaksudkan orang yang tidak memiliki cela apa pun, mereka bertiga inilah orangnya.” (Tafsir al-‘Iyyasyi, 1/199, ash-Shafi,1/305)

Bahkan, sebagian riwayat-riwayat kaum Syiah menyebutkan secara ta’yin (definitif/penyebutan nama secara eksplisit) beberapa sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini, “Tiga macam manusia yang Allah Subhanahu wata’ala tidak akan melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan mereka mendapat siksaan yang pedih:

(1) orang yang mengakui kepemimpinan dari Allah Subhanahu wata’ala yang bukan miliknya,

(2) orang yang mengingkari imamah yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala, dan

(3) orang yang menyangka bahwa keduanya—Abu Bakr dan Umar c—memiliki kedudukan di dalam Islam.” (al-Kafi, Kitabul Hujjah, 1/373, Tafsir al-Iyyasyi, 1/178)

Disebutkan pula dalam Raudhatul Kafi, “Kedua Syaikh tersebut—yakni Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu—meninggal dunia tanpa bertobat. Keduanya tidak mengingat apa yang telah mereka perbuat terhadap Amirul Mukminin. Mereka mendapat laknat Allah Subhanahu wata’alal, para malaikat, dan seluruh manusia.” (Raudhatul Kafi, 12/323, bersama Syarah Jami’ oleh al-Mazindarani)

Syaikh kaum Rafidhah yang bernama Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Telah datang beberapa riwayat khusus yang menerangkan bahwa setan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi neraka Jahannam, lalu digiring ke Padang Mahsyar. Di sana setan melihat seorang lelaki di hadapannya yang sedang digiring oleh malaikat penyiksa dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari neraka Jahannam. Setan pun mendekat kepadanya dan bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh orang sengsara ini sehingga siksaannya lebih berat dariku, padahal akulah yang menyimpangkan seluruh makhluk dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan?’ Umar berkata kepada setan, ‘Aku tidak melakukan sesuatu pun selain merampas khilafah Ali bin Abi Thalib’.” (al-Anwar an- Nu’maniyah, 1/81—82)

Subhanallah. Perhatikanlah kedengkian dan kebencian pemeluk agama Syiah terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini menyebabkan mereka lancang membuat riwayat-riwayat palsu dan dusta lantas berusaha menyandarkannya kepada Islam. Hal ini mereka lakukan tidak lain untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Sebab, para sahabat adalah para pembawa dan penyambung lidah warisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk disampaikan kepada umat ini. Jika para sahabat yang dicerca, berarti al-Qur’an dan sunnah pun akan ditolak dan diragukan karena seluruhnya berasal dari jalur para sahabat .

Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah hati seseorang dengki terhadap salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali menunjukkan bahwa kedengkiannya terhadap kaum muslimin lebih kuat lagi.” (al-Ibanah hlm. 41, karya Ibnu Baththah)

Abu Zur’ah ar-Razi radhiyallahu ‘anhu juga berkata,

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا  أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا  اللهِ لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةُ

“Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq (munafik). Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurut kami adalah benar, al-Qur’an juga kebenaran, serta yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah kepada kita adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya mereka ingin mencerca saksi-saksi agama kita agar mereka dapat membatalkan al- Kitab dan as-Sunnah. Celaan justru lebih pantas untuk mereka, dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Taqiyah

Taqiyah adalah sikap kehati-hatian dengan tidak menampakkan keyakinan yang terdapat di dalam hati di hadapan orang lain. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 12/314)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Taqiyah dengan lisan, sedangkan hati tetap tenang dengan keimanannya.” Ini pula yang dikuatkan oleh Abu Aliyah, Abu Sya’tsa’, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas, dan yang lainnya. (Fathul Bari, 12/314, Tafsir Ibnu Katsir, 1/358) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl: 106)

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Taqiyah yang disebut oleh Allah k dalam ayat ini adalah taqiyah terhadap orang-orang kafir, bukan kepada selain mereka.” (Tafsir at-Thabari, 6/316, Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 806)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan takut dirinya akan dibunuh (jika tidak melakukannya), sementara hatinya tetap tenang dengan keimanan, ia tidak dihukumi kafir.” Namun, jika ia memilih dibunuh dan bersabar di atas siksaan tanpa melakukan taqiyah, hal tersebut lebih utama. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan lebih memilih dibunuh, ia mendapatkan pahala yang lebih besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala.” (Fathul Bari, 12/314)

Adapun versi agama Syiah, Syaikh Mufid menyebutkan definisi taqiyah adalah ‘menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinan, serta menyembunyikannya di hadapan orang-orang yang menyelisihinya dan tidak menampakkan sesuatu di hadapan mereka yang dapat menyebabkan bahaya bagi agama atau dunianya.’ (Syarah Aqaidis Shaduq, al-Mufid, hlm. 261)

Sebagian lagi mengatakan bahwa taqiyah adalah seseorang mengatakan atau mengucapkan selain apa yang diyakini agar diri dan hartanya tidak ditimpa kemudaratan, atau agar kehormatannya tetap terjaga. (Muhammad Jawad, asy- Syiah fil Mizan, hlm. 48. Lihat pula Mas’alatut Taqrib, hlm. 330)

Menurut agama Syiah, melakukan taqiyah adalah salah satu rukun agama yang harus diamalkan. Ibnu Babawaih berkata, “Keyakinan kami tentang taqiyah, ia adalah kewajiban. Siapa yang meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” (al-I’tiqadat, 114) Ash-Shadiq berkata, “Seandainya aku katakan bahwa meninggalkan taqiyah seperti meninggalkan shalat, aku benar.”

(as-Sarair, Ibnu Idris, 479; Man La Yahdhuruhul Faqih, Ibnu Babawaih, 2/80; Ushul Madzhabis Syiah, hlm. 807) (al-Kafi, 2/219)

Bahkan, mereka menganggap orang yang tidak melakukan taqiyah adalah orang yang tidak beragama. Al-Kulaini meriwayatkan bahwa Ja’far bin Muhammad berkata, “Sesungguhnya sembilan persepuluh agama ini dalam taqiyah. Tidak ada agama bagi yang tidak melakukan taqiyah.” (Ushul al- Kafi, 2/217)

Al-Kulaini juga meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata, “Taqiyyah itu termasuk agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak bertaqiyyah.” Ibnu Babawaih juga mengatakan, “Taqiyyah itu wajib dan tidak boleh dihapus (hukumnya) sampai al-Qaim (Imam Mahdi, -pen.) keluar. Barang siapa meninggalkannya sebelum keluarnya al- Qaim, sungguh ia telah keluar dari agama  Allah l dan agama Imamiyah (Syiah Rafidhah, -pen.). Dan ia menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan para imam.” (al-I’tiqadat, hlm. 114—115)

Mereka juga meriwayatkan dari Ali bin Musa ar-Ridha bahwa ia berkata, “Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling banyak melakukan taqiyah.” Ada yang bertanya kepadanya, “Wahai anak Rasulullah, sampai kapan?” Ia menjawab, “Sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu keluarnya al- Qaim. Barang siapa meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya al-Qaim, dia bukan dari kami.” (Ikmalu ad-Din, Ibnu Babawaih, hlm. 355; A’lam al-Wara, ath-Thabarsi, hlm. 408; Kifayatul Atsar,  Abul Qasim ar-Razi, hlm. 323. Lihat Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 808)

Jadi, wajar jika mayoritas kaum Syiah Rafidhah adalah para pendusta yang sangat mudah bersaksi palsu, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih-lebih lagi atas nama selain beliau. Benar apa yang  dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah,

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Aku tidak melihat seseorang yang lebih berani bersaksi palsu daripada kaum Syiah Rafidhah.” (Diriwayatkan al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/208; Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 9/114; al-Kifayah, al-Khatib al-Baghdadi, hlm. 126)  

UCAPAN ULAMA TENTANG KEDUSTAAN SYIAH RAFIDHAH

Diriwayatkan dari Yunus bin Abdil A’la bahwa al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku membolehkan seluruh persaksian ahli bid’ah, kecuali kaum Rafidhah.” (al- Kubra, al-Baihaqi, 10/208)

Al-Imam Malik rahimahullah ditanya tentang kaum Rafidhah. Beliau menjawab, “Jangan engkau berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka suka berdusta.” Yazid bin Harun t juga berkata, “Hadits setiap pelaku bid’ah (bisa) dicatat selama ia tidak mengajak kepada bid’ahnya, kecuali Rafidhah, karena mereka suka berdusta.” Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’id al-Asbahani bahwa Syarik berkata, “Aku mengambil ilmu (hadits, -pen.)

dari setiap yang aku temui kecuali Rafidhah, karena mereka memalsukan hadits dan menjadikan perbuatan itu sebagai bagian dari agama.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ulama riwayat dan pembawa sanad telah bersepakat bahwa kaum Rafidhah adalah kelompok yang paling pendusta. Dusta pada mereka adalah hal yang klasik. Oleh karena itu, para imam Islam mengetahui ciri khas kelompok ini adalah banyak berdusta.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah, 1/60—61)

Jelaslah bagi kita, bahwa ajaran taqiyah (baca: dusta) kaum Syiah Rafidhah adalah ajaran yang turun-temurun, diwariskan oleh para pendusta mereka melalui kitab-kitab hadits karya tokoh Rafidhah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Benarkah Syiah Mencintai Keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?

Agama Syiah menganggap dirinya sebagai pecinta keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menampakkan diri seolah-olah hanya merekalah yang cinta kepada ahlul bait. Setelah itu, mereka menuduh Ahlus Sunnah (Islam) sebagai kelompok nawashib, yang bermakna membenci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan membenci keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebenarnya, kalau menilai secara adil, kita akan mengetahui bahwa Ahlus Sunnah sangat mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak membenci seorang pun dari mereka yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalil-dalil tentang keutamaan ahlul bait sangat banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlus Sunnah, baik al- Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Yang tampak, ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh keluarga Nabi n, dari kalangan istri-istrinya dan yang lainnya.” (Tafsir al-Qurtubi, 14/183)

Ahlus Sunnah juga meriwayatkan dari jalur Adi bin Tsabit, dari Zir, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Demi Allah yang membelah biji-bijian dan yang menciptakan makhluk. Sesungguhnya janji Nabi yang ummi n kepadaku, bahwa tidak ada yang mencintaiku selain seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku selain seorang munafik.” (HR. Muslim no. 78)

Seandainya Ahlus Sunnah membenci Ali radhiyallahu ‘anhu, sudah tentu mereka tidak akan meriwayatkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan beliau radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Hampir setiap kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan Ahlus Sunnah menyebutkan keutamaan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara umum, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu secara khusus. Lantas bagaimana halnya dengan kaum Syiah? Jika kita memerhatikan riwayatriwayat dalam versi agama Syiah, kita akan mendapati sekian banyak riwayat yang justru melecehkan dan mendiskreditkan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah celaan mereka terhadap istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah disebutkan dalam Tafsir al-Qummi tatkala menjelaskan firman Allah Subhanahu wata’ala,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orangorang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya.” (at-Tahrim: 10)

Ali bin Ibrahim menjelaskan ayat ini, makna ‘Allah memberi perumpamaan’ yaitu perumpamaan terhadap keduanya— Aisyah dan Hafshah, dua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, Demi Allah, tidaklah yang dimaksud dengan ucapan ‘Keduanya telah berkhianat’ kecuali perbuatan keji (zina). Pasti akan ditegakkan hukum had terhadap si Fulanah ketika ia datang melalui jalan Bashrah, dan si Fulan menyukainya….tanpa ia menjelaskan siapa yang dimaksud ‘Fulan dan Fulanah’. Namun, perbuatan taqiyah ini disingkap oleh salah seorang Syaikh Syiah yang bernama al-Majlisi. Ia berkata, “Ucapannya ‘akan ditegakkan hukum had’, yang menegakkannya adalah al- Qaim  saat raj’ah. Dengan jelas Al-Majlisi menyebutkan dalam pasal tentang ghibah bahwa yang dimaksud adalah Aisyah Ummul Mukminin…. (Biharul Anwar, 22/241)

Yang dimaksud Raj’ah adalah keyakinan kaum Syiah tentang kembalinya Ali ke dunia setelah kematian. Syaikh al-Mufid berkata tentang keyakinan ini, “Siapa yang tinggi tingkat keimanannya dan yang paling besar membuat kerusakan, mereka semua akan kembali (ke dunia) setelah matinya.” (Awa’il al-Maqalat, hlm. 95)

Ibnul Atsir rahimahullah menyebutkan bahwa keyakinan ini berasal dari sebagian kaum Arab jahiliah. (an-Nihayah, 3/202) Bahkan, mereka mengafirkan sebagian kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah Abbas bin Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (al-Isra: 72)

Kata mereka, ayat ini turun tentang Abbas radhiyallahu ‘anhu. (Rijal al-Kisysyi, hlm. 53) Demikian pula anak beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Kitab al- Kafi mengisyaratkan tuduhan kekafiran terhadapnya dan menudingnya sebagai orang yang bodoh dan kurang akal. (Ushul al-Kafi, 1/247)

Disebutkan dalam kitab Rijal al- Kisysyi sebuah doa, “Ya Allah, laknatlah dua anak fulan, dan butakanlah penglihatan keduanya, sebagaimana Engkau telah membutakan hati keduanya. Butakanlah matanya sebagai tanda akan kebutaan hatinya.” Syaikh mereka yang bernama Husain al-Mushthafawi menerangkan doa ini, “Keduanya adalah Abdullah dan Ubaidullah bin Abbas.” (Rijal al-Kisysyi, hlm. 53)

Bahkan, dengan tegas disebutkan oleh pengarang kitab al-Kafi beberapa riwayat yang menerangkan bahwa barang siapa tidak beriman kepada imam dua belas, dia kafir, meskipun dia berasal dari keturunan Ali dan Fatimah. (al- Kafi, 1/372—374)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal