Doa Istiftah

 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ،

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ،

اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran-kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan salju.”

(HR. al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam asy-Syaukani ‘rahimahullah berkata, “Riwayat yang paling sahih (dari doa-doa istiftah) adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah disebutkan (di atas –red.).” (Nailul Authar, 2/11)

Sabar saat Berpisah dengan Permata Hati

Sabar Berpisah dengan Permata Hati

Ujian akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Bentuknya pun bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah kematian anak. Sabar adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil oleh seorang muslim agar mendapatkan kebaikan dari ujian yang menimpanya. Lanjutkan membaca Sabar saat Berpisah dengan Permata Hati

Hukum Melepas Hijab Dihadapan Sesama Wanita dan Budak yang Dimiliki

Seorang wanita terkadang bersikap kurang hati-hati dalam berhijab ketika berhadapan dengan sesama wanita. Sikap ini bisa jadi muncul karena memang wanita tersebut kurang sungguh-sungguh dalam berhijab atau memang karena ketidaktahuan dia sebatas mana seorang wanita boleh memperlihatkan auratnya di hadapan sesama wanita. Lanjutkan membaca Hukum Melepas Hijab Dihadapan Sesama Wanita dan Budak yang Dimiliki

Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah

Menghidupkan kembali karakter para wanita mulia dari kalangan sahabiyah di masa kini barangkali merupakan upaya yang sulit dilakukan, kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin. Segala sesuatunya memang telah demikian jauh berbeda. Namun tak ada salahnya kita senantiasa melakukan upaya perbaikan diri, di antaranya dengan mengetahui kemuliaan mereka dan sebisa mungkin kita mencontohnya. Mudahmudahan ini menjadi sebuah upaya positif di tengah kuatnya arus perusakan yang datang dari berbagai arah. Lanjutkan membaca Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah

Hikmah Ilahi dibalik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami

Musibah, betapa pun kecilnya, selalu akan meninggalkan duka. Lebih-lebih bila musibah itu skalanya besar, duka itu bisa menjelma menjadi nestapa yang berkepanjangan. Apa sebenarnya makna dari sebuah musibah? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa yang telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia dan harta yang demikian besar itu? Berikut ini penjelasan asy-Syaikh Muqbil tentang hakikat gempa, yang kita bisa mengambil pelajaran darinya dalam musibah gempa bumi dan tsunami. Lanjutkan membaca Hikmah Ilahi dibalik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami

Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya

Bagaimana hukum shalat di masjid yang di sekitarnya (depan, belakang, kanan atau kiri) ada kuburan walaupun hanya satu kuburan. Jadi masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan (kuburan berada di luar dinding masjid dengan jarak ±2 atau 3 meter) atau kuburan tersebut tidak berada di luar masjid?

Arif Rahmanto

arif…@yahoo.com

Pertanyaan senada datang dari Hadi, Bintaro)

  Lanjutkan membaca Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya

Hinanya Sesembahan Kaum Musyrikin

Hinanya Sesembahan Kaum Musyrikin

Barangkali kita pernah mendengar adanya sekelompok orang yang suka melakukan pemujaan terhadap seekor kerbau yang berwarna bule. Demikian hormatnya mereka terhadap kerbau itu sampai-sampai kotorannya pun menjadi rebutan karena diyakini memiliki berkah. Lanjutkan membaca Hinanya Sesembahan Kaum Musyrikin

Meninggalkan Jihad sebab Kehinaan dan Kerendahan

Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم

‘Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian’.”

  Lanjutkan membaca Meninggalkan Jihad sebab Kehinaan dan Kerendahan

Jihad Harus didasari Ilmu

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69)

 

Penjelasan Ayat

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini:

  1. Bahwa yang dimaksud adalah berjihad melawan kaum musyrikin untuk mencari keridhaan Kami (ridha Allah subhanahu wa ta’ala), sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qurthubi, al-Baghawi, dan ath-Thabari rahimahumullah.
  2. Mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan yang mengikutinya hingga hari kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa istiqamah berada di jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad dari Ahmad bin Abi al-Hawari, ia berkata, ‘Abbas al-Hamdani Abu Ahmad telah mengabari kami tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala ini, beliau mengatakan, “(Mereka adalah) orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang mereka ketahui, maka Allah subhanahu wa ta’ala memberi bimbingan terhadap apa yang mereka belum ketahui.” Ahmad bin Abi al-Hawari berkata,

Aku pun memberitakannya kepada Abu Sulaiman ad-Darani maka hal itu membuatnya takjub dan berkata, “Tidak sepantasnya bagi yang telah diilhami suatu kebaikan untuk mengamalkannya sampai ia mendengarnya dalam atsar (ada riwayatnya –pen.). Apabila dia telah mendengarnya dalam atsar dia pun mengamalkannya dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala agar sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/423)

  1. Maknanya adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata, “Orang-orang yang berjihad dalam melaksanakan ketaatan di jalan Kami (yakni jalan Allah ‘azza wa jalla), akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mendapatkan pahala.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini, dengan makna ketaatan secara umum berarti mencakup seluruh pendapat.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mengamalkannya.”

Berkata pula Sahl bin Abdillah rahimahullah, “Yaitu orang-orang yang berjihad dalam menegakkan sunnah, akan kami tunjukkan jalan menuju jannah (surga).”

Beberapa penafsiran di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling menguatkan satu sama lain dan saling melengkapi. Mereka yang menyebutkan jihad dengan makna perang tidak mengkhususkan hanya dalam perkara perang, namun menyebutkan salah satu jenis dari amalan jihad tersebut.

Sebab jihad meliputi keseluruhan kemampuan yang dikerahkan oleh seorang muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Baik itu berperang melawan kaum kuffar, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, menuntut ilmu syar’i, menegakkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang lainnya.

Dengan syarat, dalam mengamalkan semua itu harus ditopang dengan ilmu yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebab barang siapa yang berjihad dengan tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (tindakannya itu) akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan dan penyimpangan.

Oleh karena itu, Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Bukanlah jihad di dalam ayat ini hanya khusus jihad melawan orang-orang kafir saja. Namun menolong agama, membantah orang yang berada di atas kebatilan, mencegah orang yang zalim, dan yang mulia adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan di antaranya pula adalah berjihad melawan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan jihad akbar.” (Tafsir al-Qurthubi, 13/364—365)

Abu Karimah (penulis –red.) berkata, “Hadits yang berbunyi: ‘Kami telah kembali dari jihad kecil (yaitu berperang -pen.) menuju jihad yang paling besar (yaitu melawan hawa nafsu –pen.)’ adalah hadits mungkar, sebagaimana telah disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Hadits adh-Dha’ifah (5/2460).”

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah ‘azza wa jalla, berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan mengerahkan segala kemampuannya dalam mencari keridhaan-Nya, maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami, yaitu jalan yang akan menyampaikan kepada Kami. Karena mereka adalah para muhsinin (orang yang senantiasa berbuat kebaikan).

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala bersama dengan para muhsinin dengan pertolongan, bantuan, dan hidayah-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling layak dalam mencocoki kebenaran adalah orang yang berjihad.

Barang siapa berbuat kebaikan terhadap apa yang telah diperintahkan- Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah.

Barang siapa yang berusaha dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i, maka dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya berupa perkara-perkara Ilahiyyah, di luar jangkauan ijtihadnya, dan dimudahkan baginya urusan ilmu. Karena menuntut ilmu syar’i termasuk jihad fi sabilillah, bahkan merupakan salah satu dari dua jenis jihad, yang tidak ada yang melakukannya kecuali hamba-hamba-Nya yang khusus. Yaitu berjihad dengan perkataan dan lisan, melawan kaum kuffar dan munafikin, berjihad dalam mengajari (umat) perkara-perkara agamanya, dan membantah penyimpangan orang-orang yang menyelisihi kebenaran, walaupun mereka dari kalangan kaum muslimin.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, hlm. 636)

 

Beramal Saleh Sebelum Berperang

Demikianlah al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan salah satu judul bab dalam Kitabul Jihad dalam Shahih-nya, beliau berkata (menulis): Bab “Beramal Saleh Sebelum Berperang”.

Lalu beliau menyebutkan atsar dari Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu secara mu’allaq, bahwa beliau berkata,

إِنَّمَا تُقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya kalian berperang dengan amalan-amalan kalian.” (Disebutkan al-Imam al-Bukhari rahimahullah secara ta’liq, 6/29, bersama al-Fath. Lihat pula penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tentang hadits ini, 6/30)

Lalu al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menutup wajahnya dengan topi baja lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku berperang atau aku masuk Islam?”

Beliau menjawab, “Masuk Islamlah kemudian berperang.”

Dia pun masuk Islam lalu berperang hingga terbunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia beramal sedikit dan diberi pahala yang banyak.” (HR. al-Bukhari, Kitabul Jihad, 6/2808)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ibnu Ishaq di dalam kitab al-Maghazi meriwayatkan kisah ‘Amr bin Tsabit dengan sanad yang sahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, Mereka mengabariku tentang seorang lelaki yang masuk jannah (surga) padahal tidak pernah shalat sekalipun!”

Beliau berkata, “Dia adalah ‘Amr bin Tsabit.”

Ibnu Ishaq berkata, Hushain bin Muhammad berkata, Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid, “Bagaimana kisahnya?”

Beliau menjawab, “Dahulu beliau enggan masuk Islam. Tatkala (terjadi) Perang Uhud, dia pun berkeinginan (mengikutinya). Dia mengambil pedangnya, mendatangi kaumnya dan masuk ke kancah pertempuran lalu berperang hingga terluka. Kaumnya pun mendapatinya dalam peperangan lalu mereka bertanya, “Apa yang membuatmu ikut serta, rasa kasihan terhadap kaummu ataukah cinta kepada Islam?”

Dia pun menjawab, “Cinta kepada Islam. Aku berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga aku terluka.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dia termasuk penduduk jannah.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata, Dahulu ‘Amr enggan masuk Islam disebabkan karena riba yang dimilikinya di zaman jahiliah. Tatkala tiba Perang Uhud, dia bertanya, “Di manakah kaumku?”

Mereka menjawab, “Di Uhud.”

Lalu dia mengambil pedangnya dan menyusul mereka. Tatkala melihat ‘Amr, mereka berkata, “Jauhilah kami.”

Dia menjawab, “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.”

Dia pun berperang hingga terluka. Sa’ad bin Ubadah mendatanginya lalu berkata, “Engkau dalam keadaan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.”

Lalu dia meninggal dan masuk jannah dalam keadaan tidak pernah mengerjakan satu shalat pun. (al-Fath, al-Hafizh, 6/30—31)

Kisah di atas menjelaskan kepada kita pentingnya amalan saleh sebelum seseorang menuju ke medan peperangan. Hal ini disebabkan agar seorang mujahid senantiasa mendapatkan bimbingan dalam mengamalkan amalan yang mulia tersebut sehingga selalu istiqamah di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seseorang tidak mungkin membenarkan amalannya dan membedakan antara amalan saleh dengan yang buruk kecuali dengan ilmu syar’i, dengan bimbingan para ulama Rabbani yang senantiasa menuntun para mujahidin di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Sebab, tanpa ilmu syar’i dan bimbingan para ulama Salaf, seorang yang berjihad akan terjatuh dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan dalam keadaan dia merasa berada di atas kebenaran dan menganggap suatu amalan tersebut sebagai bagian dari jihad, meskipun sama sekali tidak termasuk ke dalamnya.

Bahkan bukan termasuk perkara yang disyariatkan. Perkara inilah yang menyebabkan banyak kalangan hizbiyyin (orang-orang yang jatuh dalam fanatisme kelompok, ed) terjatuh dalam kesesatan dan menyelisihi kebenaran, dalam keadaan mereka masih saja meneriakkan bahwa amalan itu termasuk jihad, dan yang mati ketika mengamalkan amalan tersebut mati syahid.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra: 36)

Jihad termasuk amalan mulia, bahkan merupakan semulia-mulia amalan. Namun dalam beramal harus mengikuti tuntunan syariat yang sahihah. Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang sangat cinta dengan jihad. Mereka terkenal sebagai pemberani sejak zaman para sahabat hingga zaman kita sekarang ini.

Cukuplah beberapa negeri yang menjadi saksi akan kejantanan mereka, seperti Kunar yang merupakan salah satu daerah di Afghanistan, Chechnya, dan Bosnia. Bahkan mereka terus melangkah ke medan jihad walaupun orang-orang yang membenci mereka tetap benci.

Maluku dan Poso pun turut menjadi saksi akan kesungguhan Ahlus Sunnah dalam menegakkan kalimat Allah subhanahu wa ta’ala. Seiring dengan bergulirnya waktu, aktivitas jihad di dua negeri ini yang tadinya berjalan mengikuti koridor as-Sunnah dengan tuntunan dan fatwa ulama, mulai disisipi kesalahan demi kesalahan.

Namun, inilah Ahlus Sunnah yang menjadikan ilmu sebagai landasannya berpijak. Ketika disadari kesalahan-kesalahan tersebut dapat menjauhkannya dari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, dengan jantan mereka mengakui berbagai kesalahan tersebut dan bertaubat darinya.

Dengan berbekal nasihat ulama (seperti asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al- Madkhali) pula, mereka dengan lapang dada menarik diri dari bumi Maluku dan Poso meski banyak masyarakat di sana menahan kepergiannya. Mereka kemudian kembali membuka ma’had-ma’had di berbagai daerah untuk mengkader para penuntut ilmu syar’i.

Tapi sekali lagi, apabila Ahlus Sunnah telah meyakini suatu kebenaran, mereka tidaklah memedulikan banyaknya orang-orang yang menyelisihinya dan membencinya. Ini semua menunjukkan bahwa dalam berjihad sangatlah membutuhkan ilmu yang mapan dan bimbingan para ulama dalam menghadapi berbagai problem yang mereka hadapi tersebut.

Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak menjadikan ilmu sebagai landasan amal mereka dan tidak menjadikan para ulama sebagai penasihat. Mereka malah mengangkat para tokoh kejahilan sebagai “ulama” pembimbing mereka. Mereka menganggapnya sebagai orang yang mengerti al-waqi’ (problema kekinian).

Sementara itu, para ulama Rabbani seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Saleh al-’Utsaimin, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dan yang lainnya, mereka anggap sebagai “ulama haidh dan nifas” atau “ulama wudhu’” atau “ulama yang tidak mengerti al-waqi’” atau “ulama yang tidak mengerti masalah jihad,” dan semisalnya. (seperti ucapan Imam Samudra dalam Aku Melawan Teroris, hlm. 64)

Dengan sebab inilah muncul berbagai fatwa menyesatkan dan menisbahkannya kepada amalan jihad. seperti ucapan “Jihad melalui parlemen,” “Bom bunuh diri termasuk amalan jihad,” “Kewajiban memerangi seluruh kaum kafir/musyrik,” dan yang semisalnya, yang keluar dari orang-orang jahil tentang syariat Allah ‘azza wa jalla. Na’udzu billahi minal khudzlan (kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari kehinaan).

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal al-Bugisi

Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama ‘Ulama Ahlussunnah

Siapa tak kenal Imam Samudra? Ia begitu populer karena menjadi tersangka dalam kasus Bom Bali. Sebuah buku atas namanya meluncur. Repotnya, buku yang sarat syubhat itu justru menggunakan berbagai ‘dalil’ yang kemudian ditafsiri seenak perut. Tujuannya tentu, mencari pembenaran atas aksi yang mengatasnamakan Islam itu!

Lanjutkan membaca Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama ‘Ulama Ahlussunnah

Meluruskan Cara Pandang Terhadap Jihad

Jihad adalah amalan yang sangat agung. Ia bahkan menjadi puncaknya Islam. Namun sayang, wajah Islam saat ini justru tercoreng dengan beragamnya paradigma tentang jihad oleh umat Islam sendiri. Keadaan ini memunculkan berbagai amalan yang diklaim oleh pelakunya sebagai jihad, padahal bila ditinjau dari ajaran Islam bukan termasuk jihad. Akibat lebih jauh, Islam kini dianggap sebagai agama teroris, biang kerusakan, dan anti-perdamaian. Berikut, kami mencoba mendudukkan persoalan jihad sesuai dengan paradigma orang-orang terbaik umat ini: para ulama yang mengikuti jejak Salafush Saleh. Pokok pangkal dari urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya yang tertinggi adalah jihad.”[1] Lanjutkan membaca Meluruskan Cara Pandang Terhadap Jihad

Jihad Bersama Penguasa

Sebagai sebuah amal besar, jihad mensyaratkan adanya seorang pemimpin. Dalam prinsip Ahlus Sunnah, pihak yang paling berhak untuk memimpin jihad adalah penguasa (pemerintah). Penguasa yang bagaimana yang pantas menjadi pemimpin jihad? Bila pemimpin itu seorang yang jahat, apakah kita tetap menaatinya atau boleh menolak perintahnya? Lanjutkan membaca Jihad Bersama Penguasa

Surat Pembaca edisi 13

Penyimpangan Ikhwanul Muslimin

Afwan, ana baru aja kenal dengan dakwah salaf ini, sebelumnya ana sudah pernah ikut tarekat dan tarbiyah dengan manhaj ikhwanul. Dan baru setelah mengenal dakwah salaf ini, ana merasa betul begitu tegasnya ajaran Islam dan begitu mulianya sehingga betul-betul merupakan rahmatan lil alamin. Langsung aja, ada beberapa hal yang ingin ana tanyakan:

  1. Tolong jelaskan secara singkat penyimpangan Ikhwanul Muslimin dan tolong siapa-siapa tokoh di Indonesia ini yang dapat dikategorikan sebagai orang ikhwanul?
  2. Jelaskan soal sikap menginjak-injak dan melecehkan sunnah? Apakah dengan tidak isbal lagi tetapi ana masih ngerokok, itu dapat dikatakan sebagai perbuatan menginjak-injak dan melecehkan sunnah? Syukran, sekian dari ana, ikhwan dari Makassar.

Nuzqur Abadi

abdillah_al…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Kajian khusus mengenai Ikhwanul Muslimin memang telah menjadi agenda redaksi. Jadi harap bersabar. Namun antum bisa membuka kembali Asy-Syariah edisi-edisi sebelumnya karena dalam beberapa artikel sempat disinggung kesesatan firqah tersebut. Jawaban untuk no. 2 yang jelas bahwa isbal dan merokok itu adalah terlarang dalam agama, namun untuk lebih rincinya akan kami teruskan kepada para ustadz.

Harga Berlangganan

Saya mau tanya, kalau mau berlangganan majalah Asy-Syariah berapa harganya?
Hadi Sutrisno

hd_sutri…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Redaksi menerima sejumlah pertanyaan sejenis. Untuk saat ini, redaksi memang belum bisa melayani langganan secara langsung. Pembaca dapat menghubungi agen terdekat kami.

Peningkatan Kualitas

Ana hanya ingin menyampaikan harapan agar kenaikan harga Majalah Asy-Syariah disertai dengan peningkatan kualitas. Terutama agar tidak lagi atau minimal mengurangi kesalahan cetak yang fatal, termasuk shalawat atas Rasulullah yang masih sering tertukar dengan subhanahu wa ta’ala. Allahul musta’an, barakallahu fikum, jazakallahu khairan katsira.

Abu Abdillah – Bogor

+62852162xxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Jazakumullahu khairan atas perhatian antum. Apa yang antum sampaikan memang murni kesalahan redaksi. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat atas tertukarnya font shalawat atas Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan font lafadz subhanahu wa ta’ala (subhanahu wa ta’ala), dan beberapa font serupa seperti radhiyallahu anhu (radhiallahu ‘anhu), radhiyallahu anha (radhiallahu ‘anha), dll, yang tertukar antara yang satu dengan yang lain. Juga atas kekeliruan penulisan nama Asy-Syaikh Muqbil dengan nisbah Al-Madkhali (pada hal. 21), seharusnya adalah Al-Wadi’i (sebagaimana tertulis pada hal. 20).

Adapun rencana kenaikan harga, sementara kami tunda hingga momen yang tepat, insya Allah.

Terbit Tidak Rutin di Madiun?

Untuk di Madiun kenapa terbitnya majalah Asy-Syariah tidak teratur/ rutin?

Kholidus – Madiun

081556523xxx@satelindogsm.com

  • Jawaban Redaksi:

Majalah ini memang sempat mengalami ketidakteraturan jadwal terbit. Namun insya Allah edisi-edisi terakhir ini kita sudah bisa terbit tepat waktu. Untuk lebih jelasnya antum bisa menghubungi agen kami: Burhanudin, Jl. Serayu Timur A-19 Palem Indah Madiun (0351) 368022.

Potret Buram Jihad

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jihad memang bukan lagi ‘sesuatu’ yang baru. Seiring maraknya aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia, jihad menjadi istilah yang sangat populer dan acap menghiasi berbagai media. Di sini, pandangan masyarakat sebenarnya beragam. Sebagian ada yang ‘memaklumi’ karena ada akumulasi motif yang melatari tindakan pelakunya, terlepas dari apa dan siapa sasaran aksinya. Namun, kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan jihad itu tak pelak memicu sentimen negatif terhadap salah satu amalan yang disyariatkan Islam ini. Terlebih, para pelaku umumnya mengklaim aksinya merupakan salah satu bentuk jihad melawan pihak-pihak (termasuk kepentingannya) yang selama ini dianggap telah banyak menistakan Islam. Berbekal klaim ini, masyarakat umum pun kian yakin bahwa jihad memang identik dengan kekerasan.

Di pihak lain, ada tokoh-tokoh Islam yang justru berusaha mempreteli amalan jihad dari bangunan syariat. Dengan berbagai argumen dan propaganda, mereka berusaha mereduksi jihad sedemikian rupa sehingga jihad tak lebih dari sekedar istilah belaka. “Jihad adalah kesungguhan,” kata mereka. Jadi orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam banyak hal. Demikian manis racun propaganda ini ditebarkan -meski secara etimologis dan terminologis salah- di kalangan kaum muslimin. Walhasil, mereka pun menutup mata ketika ada saudara-saudaranya seiman diperangi, dibunuh secara keji, diusir dari negeri-negeri mereka, dan seterusnya.

Potret ‘buram’ jihad di atas memang menuntut kita untuk meluruskannya. Karena itu, jihad menjadi tema yang layak diangkat sebagai Kajian Utama kita kali ini. Di dalamnya juga ada kajian khusus yang membantah tulisan-tulisan dalam buku “Aku Melawan Teroris”. Imam Samudra, sang penulis memang sangat populer karena terkait dengan sejumlah aksi peledakan bom di tanah air  Untuk itulah kami sengaja memuat bantahan ini mengingat racun yang ‘sang teroris’ tebarkan dalam bukunya itu amat berbahaya bagi umat.

Di rubrik Sakinah, pembaca juga akan disuguhi sejumlah tema menarik. Di antaranya adalah kiat-kiat menjadi istri yang baik. Galibnya, wanita memang mengangankan dirinya menjadi wanita/ istri yang shalihah. Namun kepada siapa mereka bercermin selama ini? Kepada artis X atau supermodel Y atau biduanita Z? Lalu siapakah sebaik-baik teladan bagi para muslimah? Jawaban lengkapnya dapat anda simak di rubrik Mengayuh Biduk.

Sakinah kali ini juga menyoroti hukum Melepas Hijab di hadapan sesama wanita dan budak yang dimiliki. Kajian ini menjadi urgen mengingat para muslimah cenderung mengabaikan hal ini, sehingga tanpa sadar mereka sering memamerkan auratnya meski itu dilakukan di depan sesama wanita. Sebagai agama nan sempurna, Islam sesungguhnya detil menjelaskan bagaimana batasan aurat wanita yang boleh diperlihatkan kepada sesama jenis. Lebih jauh, pembaca dapat menyelaminya dalam Wanita dalam Sorotan. Dan masih banyak kajian lainnya yang bisa anda simak.

Terakhir, redaksi mengajak pembaca  untuk turut membantu saudara-saudara kita di Aceh yang tengah mengalami musibah. Meski agak ‘terlambat’ karena terbentur jadwal terbit, Anda masih dapat mengirimkan sumbangan melalui rekening yang tertera dalam maklumat di majalah kita ini.
Selamat menyimak!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Musibah

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Apabila air laut telah meluap menerobos ke daratan, siapakah yang sanggup membendungnya?!” (Beliau inginkan dengan perkataan ini untuk memberi peringatan terhadap banyaknya kemungkaran). (Mawa’izh al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah hlm. 90)

Al-Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Menangislah kalian atas orang-orang yang ditimpa bencana. Jika dosa-dosa kalian lebih besar dari dosa-dosa mereka (yang ditimpa musibah -red.), ada kemungkinan kalian bakal dihukum atas dosa-dosa yang telah kalian perbuat, sebagaimana mereka telah mendapat hukumannya, atau bahkan lebih dahsyat dari itu.” (Mawa’izh al-Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hlm. 73)

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla benar-benar menjanjikan adanya ujian bagi hamba-Nya yang beriman, sebagaimana seseorang berwasiat akan kebaikan pada keluarganya.” (Mawa’izh al-Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hlm. 111)

“Tidak ada musibah yang lebih besar daripada musibah yang menimpa kita, (yang) salah seorang dari kita membaca al-Qur’an malam dan siang akan tetapi tidak mengamalkannya, sedangkan semua itu adalah risalah-risalah dari Rabb kita untuk kita.” (Mawa’izh al-Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hlm. 32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin itu berbeda dengan orang kafir dengan sebab dia beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, membenarkan apa saja yang dikabarkan oleh para rasul tersebut, menaati segala yang mereka perintahkan, dan mengikuti apa saja yang diridhai dan dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla, bukannya (pasrah) terhadap ketentuan dan takdir-Nya yang berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan-kemaksiatan. Akan tetapi, (hendaknya) dia ridha terhadap musibah yang menimpanya bukan terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang telah dilakukannya.

Terhadap dosa-dosanya, dia beristighfar (minta ampun). Adapun dengan musibah-musibah yang menimpanya, dia bersabar.”

(Makarimul Akhlaq, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 281)