Shaf Shalat Jenazah Jika Makmum Satu Orang

Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat jenazah yang menyalatkan hanya dua orang? Jazakumullahu khairan.

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Sebagian ulama berpendapat, jika yang berjamaah menyalati jenazah adalah dua orang lelaki, keduanya berjamaah dengan dua shaf; imam berdiri sendiri di depan dan makmum berdiri sendiri di belakangnya, bukan satu shaf dengan berdiri sejajar seperti halnya pada shalat-shalat lainnya. Ini pendapat yang dipilih oleh al-Albani dalam kitab Ahkamul Jana’iz (hlm. 128).

Pendapat ini berdalil dengan hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ دَعَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى عُمَيْرِ بْنِ أَبِيْ طَلْحَةَ حِيْنَ تُوُفِّيَ، فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ فِيْ مَنْزِلِهِمْ، فَتَقَدَّمَ رَسُوْلُ اللهِ وَكَانَ أَبُوْ طَلْحَةَ وَرَاءَهُ وَأُمُّ سُلَيْمٍ وَرَاءَ أَبِيْ طَلْحَةَ، وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ غَيْرُهُمْ

“Sesungguhnya Abu Thalhah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyalati jenazah ‘Umair bin Abi Thalhah ketika wafatnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan menyalatinya di rumah mereka, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maju ke depan, sedangkan Abu Thalhah di belakangnya dan Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah, tidak ada orang lain selain mereka.” (HR . al-Hakim, al-Baihaqi, dan ath-Thabarani)

Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm. 126).

Al-Albani semakin memperkuatnya dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ahmad yang semakna dengannya.

Sebagian fuqaha Hanabilah menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk berpendapat disyariatkan bagi makmum bershaf seorang diri untuk merealisasikan tiga shaf saat menyalati jenazah.

Maksudnya, jika yang hadir Cuma tiga orang, lebih utama bershaf sendiri-sendiri; shaf imam, satu makmum di belakang imam, dan satu makmum di belakang makmum tersebut.

Ibnu Rajab al-Hanbali menukilnya sebagai pendapat al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu ‘Aqil. Begitu pula al-Mardawi dalam kitab al-Inshaf menukil hal yang sama dari sebagian fuqaha Hanabilah tersebut.

Adapun mazhab Hanbali yang merupakan pendapat jumhur fuqaha Hanabilah—sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Inshaf—menyatakan tidak boleh dan tidak sah seorang makmum bershaf seorang diri secara mutlak, yakni baik pada shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Walau dengan alasan ingin merealisasikan tercapainya tiga shaf dalam pelaksanaan shalat jenazah—yang menurut mazhab Hanbali disunnahkan berjamaah tiga shaf pada shalat jenazah—tetapi jika tiga shaf itu hanya dapat direalisasikan dengan bershaf sendiri-sendiri, hal itu tidak sah.

Pendapat ini yang benar, insya Allah, kendati tidak ada nash (dalil langsung dalam masalah ini) yang tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun hadits yang diriwayatkan sebagai nash dalam masalah ini adalah hadits yang keliru. Dalam kitab Fathul Bari, syarah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa dia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kuburan, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalati jenazah yang sudah terkubur itu dari atas kuburannya dan para sahabat bershaf di belakangnya, Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Hadits ini telah dikeluarkan pula oleh ad-Daraquthni dari jalan riwayat Syarik dari asy-Syaibani dengan sanad tersebut. Dia mengatakan pada haditsnya,

.فَقَامَ فَصَلَّى عَلَيْهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ

“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menyalatinya, kemudian aku berdiri (sejajar) di sebelah kirinya. Beliau lalu memindahkanku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya).”

Ini adalah lafadz tambahan yang ganjil/keliru. Aku tidak mengetahui rawi lain yang menyebutkannya selain Syarik padahal dia bukan hafizh (penghafal hadits). Seandainya riwayat ini benar, tentulah akan dijadikan dalil bahwa sifat susunan shaf pada shalat jenazah sama dengan sifat susunan shaf pada shalat-shalat lainnya. Dalam masalah ini, sahabat-sahabat kami (fuqaha Hanabilah –pen.) telah berbeda pendapat.”

Kemudian Ibnu Rajab menukil pendapat sebagian fuqaha Hanabilah yang menyatakan sama dengan sifat shaf pada shalat fardhu dan itu adalah lahiriah ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah. Ini yang telah kami sampaikan di atas sebagai mazhab Hanbali.

Ibnu Rajab juga menukil pendapat sebagian fuqaha Hanabilah lainnya yang telah kami sampaikan pula di atas.[1] Jadi, yang menjadi dalil dalam masalah ini adalah keumuman makna hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sifat susunan shaf dalam shalat berjamaah.

Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa jika shalat berjamaah didirikan oleh dua orang lelaki saja, imam dan makmum berdiri sejajar dalam satu shaf; imam di sebelah kiri dan makmum di sebelah kanannya.

Hadits-hadits tersebut adalah:

  1. Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu yang meriwayatkan safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada safar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat, Jabir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan,

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُوْلِ اللهِ فَأَخَذَ بِيَدِيْ فَأَدَارَنِيْ حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِيْنِهِ، ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُوْلِ اللهِ، فَأَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ  بِيَدِنَا جَمِيْعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

“Lalu aku datang hingga berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sejajar dengannya), lantas beliau memegang tanganku dan menggeserku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya). Selanjutnya datang Jabbar bin Shakhr, lalu dia berwudhu, kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sejajar dengannya), lantas Rasulullah memegang tangan kami berdua dan mendorong kami (ke belakang) hingga beliau memosisikan kami di belakangnya.” (HR. Muslim)[2]

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa ia pernah bermalam di rumah khalahnya (bibinya), Maimunah radhiallahu ‘anha yang merupakan salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun melaksanakan shalat malam.

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

.فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِينِهِ

“Kemudian aku datang dan berdiri di sebelah kirinya (sejajar dengannya), lantas beliau menggeserku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya).” (Muttafaq ‘alaih)

Kaidah syariat menyatakan bahwa hukum yang berlaku pada shalat wajib berlaku pula pada shalat sunnah, kecuali ada dalil yang membedakan. Begitu pula sebaliknya, hukum yang berlaku pada shalat sunnah berlaku pula pada shalat wajib, kecuali ada dalil yang membedakan.

Artinya, keumuman makna hadits-hadits ini menunjukkan hukum yang sama untuk sifat susunan shaf dalam shalat berjamaah pada seluruh jenis shalat; shalat wajib, shalat sunnah, dan shalat jenazah.

Pendalilan dengan keumuman makna hadits-hadits ini lebih kuat—insya Allah—daripada pendalilan pendapat pertama dengan hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma dan hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang keduanya memiliki kelemahan dari segi riwayat.

Benar, hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma telah dinyatakan sahih oleh sebagian ahli hadits. Al-Hakim menyatakannya sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, dibenarkan oleh adz-Dzahabi. Al-Muhaddits al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz meluruskan bahwa hadits ini sahih menurut syarat Muslim saja[3].

Namun, guru besar kami al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi’i menyatakan hadits ini dha’if (lemah) dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim[4] dengan alasan sanadnya mursal[5], karena ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma adalah sahabat kecil. Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha mengandungnya ketika Perang Hunain, sebagaimana dalam Tahdzib at-Tahdzib.

Artinya, dia belum mumayyiz (berakal) pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga belum paham dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, dia memiliki kemuliaan persahabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi riwayatnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terputus (mursal) dan hukumnya seperti mursal tabi’i (murid sahabat).

Adapun hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sanadnya dha’if (lemah), karena pada sanadnya ada periwayat lemah bernama ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari[6] dan periwayat majhulah (tidak dikenal) bernama Ummu Yahya[7].

Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan sifat susunan shaf pada shalat jenazah sama dengan shalat-shalat lainnya. Jika shalat berjamaah didirikan oleh dua orang lelaki saja, imam dan makmum berdiri sejajar dalam satu shaf; imam di sebelah kiri dan makmum di sebelah kanannya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat kitab Fathul Bari, syarah kitab al-Adzan, Bab “Wudhu’i ash-Shibyan” (8/24—25) karya Ibnu Rajab dan al-Inshaf karya al-Mardawi (2/289—290) dan (2/515).

[2] Adapun amalan Jabbar bin Shakhr radhiallahu ‘anhu pada hadits ini, hal itu karena pada mulanya disyariatkan bagi imam yang berjamaah dengan dua orang atau lebih agar berdiri satu shaf. Namun, hukum tersebut mansukh (dihapus) dengan hukum baru yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini, yaitu imam berdiri sendiri di depan dan para makmum (minimal dua lelaki) bershaf di belakangnya.

[3] Karena al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits ‘Imarah bin Ghuzayyah kecuali dalam bentuk ta’liq, yaitu dengan membuang sanadnya sehingga tidak termasuk hadits musnad yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

[4] Lihat kitab Tatabbu’ Auham al-Hakim al-Lati Sakata ‘Alaiha adz-Dzahabi fi al-Mustadrak (1/513—514).

[5] Sanad yang mursal adalah sanad yang terputus antara periwayat tabi’i (murid sahabat) dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tabi’i tidak mendapati zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Lihat kitab Taqrib at-Tahdzib, dan ini salah satu dari faedah yang kami dapatkan dari guru besar kami al-Muhaddits al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari berderajat dha’if. Walhamdulillah.

[7] Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (3/52, no. 4168, Maktabah Syamilah), “Diriwayatkan oleh Ahmad. Pada sanadnya ada Ummu Yahya dan aku tidak menemukan seorang pun yang menyebutkan biografinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata dalam Ta’jil al-Manfa’ah bi Zawa’id Rijal al-Aimmah al-Arba’ah (1/564, Maktabah Syamilah), “Ummu Yahya tidak dikenal dan yang meriwayatkan darinya adalah ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari.”

Aplikasi Mushaf Pada Ponsel Pintar

Apa hukumnya kita membaca al-Qur’an lewat handphone? Apakah sama pahalanya dengan membaca al-Qur’an dalam bentuk mushaf? Bolehkah kita membuka aplikasi al-Qur’an yg ada di HP kita dalam keadaan berhadats kecil/besar? Mohon penjelasannya.

imam********@gmail.com

 

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Para ulama telah berbeda pendapat tentang pemasangan aplikasi mushaf al-Qur’an pada perangkat elektronik. Sebagian ulama, di antaranya al-Lajnah ad-Daimah (Dewan Fatwa) Saudi Arabia yang diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dengan salah satu anggotanya ialah asy-Syaikh al-Fauzan, membolehkan hal tersebut. Hanya saja untuk menyentuhnya, seseorang tidak perlu dalam keadaan suci dari hadats. Sebab, aplikasi mushaf berbeda dengan mushaf kertas dalam beberapa sisi.

Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous hafizhahullah, salah seorang ulama Aljazair, menjelaskannya ketika menjawab pertanyaan berikut ini.

Smartphone (telefon pintar) telah tersebar di masyarakat muslim dan mengandung beberapa aplikasi islami, seperti mushaf elektronik secara lengkap. Apabila seseorang membuka mushaf dari smartphonenya, dia layaknya membuka mushaf kertas. Apakah orang yang membacanya mendapat pahala seperti yang membaca mushaf kertas? Apakah boleh membawanya ke WC (toilet), dan apakah boleh bagi orang yang berhadats menyentuhnya?

 

Berikut ini jawaban beliau.

Bisa jadi, definisi mushaf masa kini ialah semua sarana yang mencakup al-Qur’anul Karim dengan urutan ayat dan surat yang sesuai dengan tulisan al-Qur’an yang telah disepakati oleh umat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Tampak dari definisi di atas bahwa mushaf mencakup semua macam mushaf, sama saja baik itu mushaf kertas model terdahulu yang terdiri dari kertas dan huruf yang mencakup al-Qur’an di antara dua sampul yang menjaganya, maupun mushaf elektronik yang tersimpan dalam kartu elektronik maupun kepingan CD. Demikian pula ekstrusi yang digunakan dengan jarum braille pada kertas khusus bagi tuna netra.

Karena mushaf elektronik memiliki beberapa sifat yang berbeda dengan mushaf kertas dalam hal susunan dan hurufnya, tidak berlaku padanya hukum mushaf kertas kecuali setelah perangkat elektronik dihidupkan dan menampilkan ayat al-Qur’an yang tersimpan pada memori mushaf elektronik.

Apabila mushaf elektronik tampil dengan modelnya yang dapat dibaca, orang yang membacanya mendapatkan pahala seperti membaca mushaf kertas, sebagaimana yang disebutkan hadits Ibnu Mas’ud yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ مَالٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, dengan itu dia mendapatkan satu kebaikan. Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif itu satu huruf, huruf lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910)

Demikian pula hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ

“Barang siapa suka untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, hendaknya dia membaca dari mushaf.”

Selain itu, banyak hadits sahih yang menunjukkan keutamaan membaca al- Qur’an dan memperbanyaknya.

Perangkat tersebut memiliki hukum sama dengan mushaf kertas dari sisi tidak boleh dibawa masuk ke dalam wc (toilet) tanpa ada kebutuhan atau keperluan darurat. Hal itu dilarang selama perangkat tersebut hidup dan menampilkan ayat al-Qur’an.

Termasuk hal yang dilarang pula ialah menempelkan, meletakkan, atau mengotori mushaf dengan benda najis. Hal itu karena kehormatan al-Qur’an yang ada padanya dengan aktifnya perangkat tersebut dan tampilnya ayat dan surat al-Qur’an.

Hanya saja larangan di atas tidak berlaku saat apllikasi tidak aktif dan saat ayat tidak tampak dengan hilangnya tampilan huruf tersebut pada layar. Dalam kondisi tidak aktif dan mushaf tidak tampak padanya, tidaklah diperlakukan seperti mushaf kertas.

Dari sisi lain, orang yang berhadats kecil maupun besar diperbolehkan menyentuh bagian tertentu ponsel atau perangkat elektronik lain yang terdapat aplikasi mushaf, baik saat mati atau hidup. Sebab, huruf dalam mushaf elektronik yang tampak pada layar tidak lain adalah getaran elektronik yang diolah dan ditata serta tidak bisa tampak dan memantul pada layar kecuali dengan program elektronik. Atas dasar itu, menyentuh layar tidak dianggap menyentuh mushaf elektronik secara hakiki. Tidak tergambar penyentuhan secara langsung berdasarkan keterangan yang lalu.

Berbeda halnya dengan mushaf kertas, menyentuh kertas dan hurufnya tergolong penyentuhan secara langsung dan hakiki. Oleh karena itu, orang yang menyentuh mushaf elektronik tidak diperintah untuk berwudhu terlebih kecuali dalam rangka hati-hati.

Ilmu yang sesungguhnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Akhir ucapan kami, alhamdulillahi Rabbil alamin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan shalawat-Nya kepada Nabi- Nya, keluarganya, para sahabatnya sampai hari kiamat; serta memberikan salam- Nya kepadanya. -selesai jawaban asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous-

Sebagian ulama yang lain, di antaranya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, sebagaimana dinukilkan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, tidak membolehkannya. Inti alasannya, demi menghormati al-Qur’an supaya tidak terhinakan karena perangkat elektronik terkadang diletakkan di sembarang tempat.

Atas dasar itu, kami sarankan bagi yang memasang aplikasi al-Qur’an elektronik agar berusaha selalu menjaga kehormatan HP tersebut.

Wallahu a’lam.

Waktu Shalat Isyraq

  1. Bismillah. Afwan nanya kalau waktu syuruq jam 5.45 kapan kita shalat isyraqnya? Khawatirnya kita shalat di waktu yang terlarang (matahari terbit). Jazakallahu khairan wa barakallahu fik.

  2. Bismillah, bolehkah kita setelah shalat shalat subuh di rumah duduk ibadah sampai waktu syuruq, terus shalat isyraq, walaupun tidak dapat pahala seperti umrah, tetapi bolehkah shalat isyraq di rumah?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Syariat shalat isyraq datang pada hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah (di masjid), lalu duduk berzikir hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, adalah hal itu berpahala seperti pahala satu haji dan satu umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

Kata at-Tirmidzi, “Ini adalah hadits hasan gharib. Aku telah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il (yakni al-Imam al-Bukhari, pen) prihal Abu Zhilal. Ia menjawab, ‘Muqaribul hadits (riwayat haditsnya mendekati).’ Kata Muhammad, ‘Namanya adalah Hilal’.”

Kata al-Albani, “Akan tetapi, jumhur ahli hadits menvonis Abu Zhilal sebagai rawi yang dha’if (lemah riwayatnya). Oleh karena itu, adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya yang berjudul al-Mughni, ‘Mereka mendha’ifkan Abu Zhilal’.”

Namun, menurut al-Albani terdapat beberapa syahid (penguat) dari riwayat yang lain. Hal itu beliau sebutkan dalam kitab ash-Shahihah (no. 3403) dan menghukuminya sebagai hadits hasan dalam kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 586) dan hasan lighairih (hasan karena penguatnya) dalam kitab Shahih at-Targhib wat Tarhib (no. 464).

Di antara penguatnya adalah hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فِيْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيْهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سَبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah di masjid jami’, kemudian tetap tinggal di tempatnya hingga melaksanakan shalat dhuha (dua rakaat), adalah hal itu berpahala seperti pahala orang berhaji atau berumrah dengan haji dan umrah yang sempurna.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Abul Hasan ‘Ubaidullah al-Mubarakfuri menukil dalam kitab Mir’atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih[1] bahwa ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah lalu shalat setelah matahari meninggi seukuran batang tombak agar waktu terlarang telah berakhir. Shalat ini dinamakan shalat isyraq dan merupakan awal shalat dhuha.”

Begitu pula keterangan imam-imam ahli fikih di masa ini, seperti Ibnu ‘Utsaimin dan Ibnu Baz.

Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha. Namun, jika kamu menunaikannya di awal waktu saat matahari terbit dan telah meninggi (dari ufuk) seukuran batang tombak (menurut pandangan kasat mata), itu dinamakan shalat isyraq. Apabila ditunaikan di akhir waktu atau di pertengahan waktu, itu dinamakan shalat dhuha.

Akan tetapi, shalat isyraq tergolong shalat dhuha, karena ulama –rahimahumullah– mengatakan bahwa waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak sampai menjelang zawal (matahari bergeser ke ke arah barat).”[2]

Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Shalat isyraq adalah shalat yang dilaksanakan setelah matahari meninggi seukuran batang tombak. Lamanya menurut perhitungan jam sekitar lima belas menit atau semisal itu. Itu adalah shalat isyraq dan merupakan shalat dhuha, karena pelaksanaan shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak hingga menjelang zawal. Shalat dhuha lebih utama dilaksanakan di akhir waktu daripada di awal waktu.

Kesimpulannya, dua rakaat shalat isyraq adalah dua rakaat shalat dhuha. Hanya saja, jika disegerakan pelaksanaannya di awal waktu, yaitu saat matahari meninggi seukuran batang tombak, itu adalah shalat isyraq dan dhuha. Jika diakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, itu adalah shalat dhuha, bukan shalat isyraq.”[3]

Ibnu ‘Utsaimin menerangkan perbedaan istilah syuruq dan isyraq. Syuruq artinya terbitnya matahari tanpa meninggi seukuran batang tombak. Isyraq artinya terbitnya matahari dengan meninggi seukuran batang tombak.[4]

Kata asy-Syaikh Ibnu Baz, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha di awal waktu. Yang lebih utama adalah dilaksanakan ketika waktu dhuha telah meninggi dan terik matahari amat panas. Hal itu sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat orang-orang yang gemar bertobat adalah ketika anak-anak onta kepanasan dari teriknya matahari.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah ketika panas terik matahari menyengat anak-anak onta. Inilah makna hadits tersebut. Shalat dhuha setidaknya dua rakaat.”[5]

Kata asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazamul dalam kitabnya yang bertajuk Bughyatul Mutathawwi’ fi Shalatit Tathawwu’, Shalatul Isyraq, “Telah tsabit (tetap) penamaan shalat dhuha yang dilaksanakan di awal waktu sebagai shalat isyraq dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. ‘Abdullah bin Harits bin Naufal meriwayatkan,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ لَا يُصَلِّي الضُّحَى. فَأَدْخَلْتُهُ عَلَى أُمِّ هَانِئٍ، فَقُلْتُ: أَخْبِريْ هَذَا بِمَا أَخْبَرْتِنِيْ

بِهِ. فَقَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمَ الْفَتْحِ فِيْ بَيْتِيْ، فَأَمَرَ بِمَاءٍ، فَصَبَّ فِيْ قَصْعَةٍ، ثُمَّ أَمَرَ بِثَوْبٍ، فَأَخَذَ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ رَشَّ نَاحِيَةَ الْبَيْتِ، فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، وَذَلِكَ مِنَ الضُّحَى، قِيَامُهُنَّ وَرُكُوعُهُنَّ وَسُجُودُهُنَّ وَجُلُوسُهُنَّ سَوَاءٌ، قَرِيبٌ بَعْضُهُنَّ مِنْ بَعْضٍ.

فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ يَقُولُ: لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ، مَا عَرَفْتُ صَلاَةَ الضُّحَى إِلَّا الْآنَ: { يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ }، وَكُنْتُ أَقُولُ: أَيْنَ صَلاَةُ الْإِشْرَاقِ؟ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ: هُنَّ صَلاَةُ الْإشْرَاقِ.

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak pernah shalat dhuha. Lantas aku membawanya masuk ke Ummu Hani’, aku berkata, “Beritakan padanya apa yang kamu beritakan padaku.”

Ummu Hani’ berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui aku di rumahku pada hari penaklukan kota Mekah, lalu memerintahkan agar disiapkan air, lalu beliau menuangnya ke dalam bejana, lalu memerintahkan disiapkan pakaian, lalu mengambil tempat terpisah antara dirinya dan aku, lalu beliau mandi, lalu memerciki salah satu sudut rumah, lalu shalat delapan rakaat. Itu adalah shalat dhuha. Lama berdirinya, rukuknya, dan sujudnya hampir sama.”

Kemudian Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma keluar seraya berkata, “(Demi Allah) sungguh aku telah membaca di mushaf, tetapi tidaklah aku mengetahui shalat dhuha kecuali sekarang. (Allah berfirman),

يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ١٨

“Gunung-gunung itu bertasbih di pagi hari dan petang hari.” (Shad: 18)

Adalah aku sebelumnya bertanyatanya, ‘Mana shalat isyraq itu?’ Ternyata itulah shalat isyraq.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan al- Hakim[6]

Dari keterangan di atas tampaklah jawaban untuk pertanyaan pertama bahwa Anda bisa melaksanakan shalat isyraq ketika telah berlalu sekitar lima belas menit (seperempat jam) dari waktu syuruq (terbitnya matahari).

Adapun jawaban pertanyaan kedua, kami nukil fatwa al-Imam Ibnu Baz ketika ditanya dengan pertanyaan yang teksnya sebagai berikut, “Apakah tinggal di rumah setelah shalat fajar untuk membaca al-Qur’an hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat syuruq, akan mendapat pahala yang sama yang diraih dengan berdiam menunggu di masjid? Kami berharap dari kemuliaan Anda agar memberi faidah dalam masalah ini. Semoga Allah memanjangkan umur Anda di atas ketaatan kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Amal tersebut memiliki kebaikan yang banyak dan pahala yang besar. Akan tetapi, lahiriah hadits-hadits yang datang tentang hal itu menunjukkan bahwa amalan di atas tidak mendapat pahala yang dijanjikan untuk orang yang duduk di tempat shalatnya di masjid.

Namun, jika dia shalat subuh di rumah karena uzur sakit atau takut, kemudian duduk di tempat shalatnya berzikir atau baca Qur’an hingga matahari meninggi, kemudian shalat dua rakaat, ia meraih pahala yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu lantaran dia beruzur tatkala shalat di rumahnya.

Demikian pula halnya jika seorang wanita duduk di tempat shalatnya (di rumah) setelah shalat subuh, berzikir atau membaca Qur’an hingga matahari meninggi lalu shalat dua rakaat, sesungguhnya ia mendapatkan pahala tersebut yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu, bahwa Allah ‘azza wa jalla menuliskan bagi orang yang melakukannya pahala berhaji dan umrah yang sempurna.

Hadits-hadits dalam hal itu jumlahnya banyak, saling menguatkan satu sama lainnya dan tergolong dalam jenis hadits hasan lighairih (hasan karena penguatnya). Hanya Allah yang memberi taufik.”[7]

Wallahu a’lam.


[1] Pada Kitab ash-Shalah, Bab adz-Dzikri ba’da ash-Shalah, al-Fashlu ats-Tsani (3/328).

[2] Lihat kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (141/25).

[3] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/305).

[4] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/298-299).

[5] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/400-401).

[6] Kata guru besar kami al-Imam al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim (4/142, no. 6952), “Asal hadits ini dalam Shahih Muslim dari riwayat Ummu Hani’.”

[7] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/403-404).

Kitab yang Menjelaskan Manhaj Salaf

Apa kitab-kitab yang Anda sarankan untuk dibaca para penuntut ilmu dan kitab apa yang menjelaskan manhaj salaf?

quran_cover 

Jawab:

Saya nasihatkan untuk diri saya dan saudara-saudara saya, yang pertama untuk mempelajari Kitabullah, karena di dalamnya ada petunjuk dan cahaya; itulah pokok ajaran Islam.

Berikutnya, mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu merupakan penjelasan bagi al-Qur’an.

Selanjutnya, mempelajari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dua kitab shahih (Shahih Bukhari dan Muslim), kitab sunan yang empat (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah), kitab-kitab Musnad, dan kitab-kitab Jami’ dalam bab hadits.

Saya wasiatkan kepada para penuntut ilmu agar mempelajari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih dari beliau; mempelajari sebagian kitab-kitab induk, dan lebih memfokuskan lagi kitab induk tersebut dalam mempelajarinya. Sebab, kitab induk tersebut mengandung pengajaran terhadap pokok agama, seperti kitab Shahih Bukhari pada Kitabul Ilmi dan Kitabul Iman.

Dalam Kitabul Iman yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, beliau menyebutkan sekumpulan hadits untuk menerangkan manhaj Ahlus Sunnah dalam hal iman dan amal. Beliau rahimahullah menyebutkan bantahan terhadap golongan Murji’ah, kelompok sesat yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam pokok ajaran ini.

Demikian pula, seseorang hendaknya memfokuskan dalam Kitab al-I’thisam, Kitab Akhbarul Ahad, dan Kitabut Tauhid dari Shahih al-Bukhari. Sebab, pembahasan-pembahasan di dalamnya sangat terkait dengan pokok-pokok agama penting yang wajib kita pelajari setelah kitabullah ‘azza wa jalla.

Hendaknya dia berkonsentrasi pula dalam mempelajari bab sunnah, yakni Aqidah dari kitab Sunan Abi Dawud yang terletak pada akhir kitab. Ini juga merupakan pokok agama yang sangat penting. Yang disebutkan dalam Sunan Abi Dawud dalam bab-bab ini sesuai dengan yang disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam kitabnya. Abu Dawud mengisyaratkan dalam kitab tersebut adanya bid’ah, seperti bid’ah Jahmiyah, Khawarij, dan lainnya. Beliau juga memilah dan menjelaskan perbedaan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan manhaj atau keyakinan yang menyimpang.

Oleh karena itu, pokok agama dalam bab ini hendaknya dipelajari. Kitab al-Ittiba’ dalam Sunan Ibnu Majah dan kitab Khalqu Af’al al-‘Ibad karya al-Imam al-Bukhari hendaknya dipelajari.

Dengan demikian, seseorang akan mengetahui prinsip-prinsip agung yang menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan akidah kelompok yang menyimpang dari akidah salafus shalih, semacam akidah Jahmiyah dan lainnya.

Pelajari pula kitab Syarhus Sunnah karya al-Baghawi juz pertama. Juz pertama kitab tersebut lebih ditekankan, karena isinya menekankan masalah akidah dan keyakinan. Demikian pula kitab as-Sunnah karya al-Khallal dan kitab as-Sunnah karya al-Lalika’i rahimahumullah, yakni Syarhu I’tiqad Ahli Sunnah, kitab al-Hujjah karya al-Ashfahani, al-Ibanah karya Ibnu Baththah, dan yang semacamnya.

Setelah itu, buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, karena di dalam kitab mereka ada keterangan yang memuaskan terhadap pokok agama dan cabangnya. Ini adalah perkara ilmu.

Ini adalah perkara ilmiah yang menghidupkan ilmu tersebut. Pelajari al-Qur’an, akidah, manhaj, dan pokok agama, serta cabangnya seolah-olah dipelajari langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mempelajari buku-buku akidah yang kami sebutkan, seseorang seakanakan mempelajari langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula mempelajari seluruh kitab yang kami sebutkan, seolah-olah Anda mempelajarinya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat g, dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka.

Tidaklah Ibnu Taimiyah menonjol, luas ilmunya, dan mapan dalam menerangkan kebenaran kecuali setelah mempelajari kitab-kitab itu. Kita pun harus mempelajari kitab dan bab dari kitab yang disebutkan di atas.

Berikutnya, kita pelajari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita melihat dan mempelajari kitab fikih, tafsir, dan hadits. Semua adalah kitab penting. Akan tetapi, bab akidah perlu difokuskan lebih khusus; terlebih pada zaman sekarang, yang banyak penyimpangan dalam pokok agama yang dilakukan oleh ahli bid’ah, baik dalam hal pemikiran, politik, tasawuf, atau ahli bid’ah Syiah Rafidhah maupun yang lain. Mereka memiliki banyak kegiatan dan gerakan di masa ini yang sangat mengherankan. Terlebih lagi, mereka memiliki dan menggunakan banyak sarana untuk menyebarkan pemikiran mereka yang rusak.

Bid’ah, khurafat, dan berbagai kekacauan ini dapat kita hancurkan dengan ilmu yang diambil dari kitabullah, sunnah Rasul-Nya, pemahaman salaf, serta dari kitab-kitab yang telah kita sebutkan, yang mengandung ajaran al-Qur’an, hadits, dan pemahaman as-salafus shalih.

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar memberi kami dan kalian semua pemahaman yang benar terhadap agama Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, Allah pahamkan baginya urusan agama.”

(diterjemahkan dari Majmu’ Kutub wa Rasail asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah [15/79—81], oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Mengawetkan Hewan untuk Dipajang

Apa hukum mengawetkan hewan mati dengan tengkoraknya (muhannath) untuk dipajang sebagai hiasan?

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Pengawetan (tahnith) hewan mati dengan tujuan untuk dipajang sebagai hiasan telah difatwakan oleh ulama kibar masa ini. Berikut fatwa-fatwa yang dapat kami nukil di sini.

Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai oleh Ibnu Baz rahimahullah) dalam Fatawa al-Lajnah (1/715, 716) dan (13/35- 36). Mereka berfatwa bahwa hal itu tidak tergolong menggambar sesuatu yang terlarang (yaitu menggambar makhluk hidup), tidak pula tergolong menandingi ciptaan Allah ‘azza wa jalla, dan tidak tergolong menyimpan gambar makhluk hidup yang telah dilarang dalam hadits-hadits yang sahih. Namun, hal itu haram dengan alasan sebagai berikut.

  1. Membuang harta dengan sia-sia jika hewan itu tergolong hewan yang halal dimakan. Jika tergolong hewan yang bisa difungsikan untuk suatu manfaat, hal itu tergolong membinasakan hewan yang bermanfaat tanpa ada tujuan yang berguna.
  2. Biaya pemeliharaannya tergolong israf (pemborosan) dan mubazir yang tercela.
  3. Wasilah/faktor yang akan menyeret untuk menyimpan dan memelihara gambar/patung makhluk bernyawa yang merupakan perkara haram dan wasilah/faktor kesyirikan.

Ibnu ‘Utsaimin berfatwa pada Liqa’ Bab al-Maftuh (juz 147) bahwa hal itu bukan tergolong gambar makhluk hidup yang terlarang, melainkan makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla yang diawetkan.

Adapun hukumnya, Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan rincian. Beliau rahimahullah berkata, “Mengambil hewan mati yang diawetkan tidak termasuk menggambar sesuatu yang terlarang, karena sesungguhnya Anda hanyalah mengambil suatu makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Bukankah itu salah satu makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla?

Akan tetapi, tersisa peninjauan dari segi lain. Apabila termasuk hewan yang haram dimakan, itu tergolong najis yang tidak boleh disimpan.

Apabila termasuk hewan yang halal dimakan tetapi tidak disembelih secara syar’i, itu juga tergolong najis yang tidak boleh disimpan.

Jika termasuk hewan yang halal dimakan dan disembelih secara syar’i lalu diawetkan, itu tidak mengapa. Namun, jika hal itu menghabiskan biaya yang besar, tergolong membuang harta Cuma-cuma (haram).”

Lebih detail lagi dari rincian ini adalah fatwa beliau rahimahullah dalam kitab Majmu’ Fatawa wa ar-Rasa’il (12/358—359):

  1. Mengawetkan tengkorak hewan yang haram dimakan, seperti anjing, singa, dan serigala haram diperjualbelikan, karena tergolong bangkai (najis). Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang penjualan najis. Lagi pula tidak ada manfaatnya sehingga biaya yang digunakan tergolong membuang harta secara sia-sia, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari perbuatan membuang harta secara sia-sia.
  2. Mengawetkan tengkorak hewan yang halal dimakan jika mati tidak dengan cara penyembelihan syar’i, haram memperjualbelikannya karena tergolong bangkai (najis). Jika mati dengan cara penyembelihan syar’i, halal diperjualbelikan. Hanya saja, saya khawatir hal itu (dengan tujuan untuk hiasan) termasuk membuang harta secara sia-sia terkhusus jika menghabiskan biaya yang besar.

Alhasil, hal itu tidak boleh. Wallahu a’lam.

Ada tujuan lain yang diperbolehkan, yaitu untuk praktikum di laboratorium dalam rangka pelajaran anatomi dan lainnya.

Ibnu ‘Utsaimin dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb (Kitab al-‘Ilmi) berfatwa, “Boleh mengawetkan hewan untuk tujuan belajar dan menghasilkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan semua yang ada di muka bumi untuk kepentingan/maslahat kita.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dialah yang menciptakan seluruh yang di muka bumi untuk kepentingan kalian.” (al-Baqarah: 29)

Namun, wajib ditempuh cara termudah dalam membunuhnya untuk mencapai tujuan tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ.

“Maka dari itu, jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik.” (HR. Muslim dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu.)

Jika dibuat pingsan dengan dibius untuk praktik operasi/pembedahan, hal itu juga tidak mengapa, karena mengandung maslahat untuk para pelajar. Sementara itu, tidak ada mudarat besar terhadap hewan itu mengingat dibedah dalam keadaan sudah pingsan.”

Wallahu a’lam.

Harta dari Penghasilan Haram

HARTA DARI PENGHASILAN HARAM

Apa hukum memanfaatkan harta yang didapatkan dari penghasilan yang haram sedangkan pelakunya/pemiliknya telah bertobat?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Uang

Orang yang pemasukannya bersumber dari penghasilan yang haram berupa riba dan lainnya lantas bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla, ada beberapa rincian tentang hukum memanfaatkan harta penghasilannya tersebut.

  1. Jika selama ini dia jahil (tidak tahu) bahwa pemasukan/penghasilan itu haram karena kebodohannya, hasil ijtihad keliru atau taklid mengikuti fatwa keliru yang membolehkan, kemudian ia mengetahuinya dan bertobat, dia boleh memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya, seperti untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal, menghadiahkannya, mewakafkannya, dan lainnya.

Dalilnya ialah firman Allah ‘azza wa jalla,  “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka dari itu, barang siapa telah datang kepadanya wejangan dari Rabbnya kemudian dia berhenti (dari riba), harta riba yang telah lalu halal untuknya dan urusannya kembali kepada Allah.” (al-Baqarah: 275)

Hal ini telah difatwakan oleh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu al-Fatawa (19/274), “Adapun jika engkau jahil (tidak tahu hukum) kemudian mengetahuinya, halal bagimu apa yang telah lalu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,  “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka dari itu, barang siapa telah datang kepadanya wejangan dari Rabbnya kemudian dia berhenti (dari riba), harta riba yang telah lalu halal untuknya dan urusannya kembali kepada Allah. Barang siapa mengulanginya setelah itu, mereka adalah penghuni neraka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 275)

Jika demikian, apabila Anda punya pemasukan dari hasil riba dalam keadaan tidak tahu hukum, kemudian Allah ‘azza wa jalla memberimu petunjuk, halal bagimu apa yang telah lalu.”

Al-Lajnah ad-Da’imah (Ketua: Ibnu Baz, Wakil Ketua: ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh, Anggota: Shalih al-Fauzan dan lainnya) dalam Fatawa al-Lajnah (14/485) berfatwa kepada seorang wanita muslimah dari Somalia yang pernah menjadi pembantu rumah tangga keluarga Nasrani di Swedia. Di antara tugasnya adalah menghidangkan khamr (minuman keras) untuk mereka.

Kata al-Lajnah, “Adapun jika Anda tidak mengetahui haramnya hal itu kemudian Anda bertobat dan meninggalkan pekerjaan itu tatkala mengetahui hukumnya, tidak ada kewajiban apapun atasmu mengenai harta penghasilanmu yang telah lalu. Hal itu berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla tentang para pelaku riba,

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka dari itu, barang siapa telah datang kepadanya wejangan dari Rabbnya kemudian dia berhenti (dari riba), harta riba yang telah lalu halal untuknya dan urusannya kembali kepada Allah. Barang siapa mengulanginya setelah itu, mereka adalah penghuni neraka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 275)

Kata Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Tafsir al-Qur’an (Program Maktabah Syamilah) ketika memetik faedah dari penafsiran ayat tersebut, “Faedah kedelapan, harta yang didapatkan oleh seseorang dari hasil riba sebelum mengetahui hukumnya adalah halal untuknya, dengan syarat ia bertobat dan berhenti.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (29/412) berfatwa tentang harta yang dihasilkan dengan akad jual beli yang hakikat hukumnya haram, tetapi dilakukan oleh orang yang menyangkanya halal.

Kata beliau, “Demikian pula setiap akad yang diyakini oleh muslim pelakunya sebagai akad yang sah dengan penakwilan yang bersumber dari hasil ijtihad atau taklid (membebek), seperti muamalah ribawi yang diperbolehkan oleh para penghalal rekayasa riba secara halus—Ibnu Taimiyah menyebutkan contoh-contoh lainnya, seperti jual beli yang mengandung gharar (spekulasi terlarang).

Jika pada akad-akad tersebut telanjur terjadi taqabudh antara kedua belah pihak yang bertransaksi (sama-sama telah menggenggam/mengambil harta yang ditransaksikan) disertai keyakinan sahnya muamalah itu, tidak dituntut untuk dibatalkan setelahnya, baik dengan hukum maupun dengan rujuk dari ijtihad itu. Artinya, harta itu menjadi miliknya yang sah dan halal untuknya. Wallahu a’lam.

  1. Jika dia menghasilkan harta yang haram itu dalam keadaan tahu hukum kemudian bertobat, ia tidak boleh menggunakannya untuk kepentingan pribadi, baik untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal, menghadiahkannya, menghibahkannya, maupun yang semacamnya.

Tuntutan sempurnanya tobat Mengharuskannya membersihkan/mengeluarkan harta haram itu dari dirinya dengan cara:

  • Diberikan kepada fakir miskin atau orang yang terlilit/tidak mampu membayar utang. Hal ini bukan sebagai sedekah, melainkan pembersihan diri dari harta haram.
  • Disalurkan untuk program kepentingan/maslahat umum (masyari’ khairiyyah ‘ammah), seperti madrasah, pembangunan/perbaikan jalan, selokan, kamar mandi, kakus/WC, pagar kuburan, dan semisalnya. Hal ini bukanlah amal ibadah, melainkan pembersihan diri dari harta haram.

Ini rangkuman fatwa ulama terkemuka pada abad ini, yaitu al-Imam Ibnu Baz, al-Lajnah ad-Da’imah (yang diketuai al-Imam Ibnu Baz dan salah satu anggotanya al-‘Allamah Shalih al-Fauzan), dan Ibnu ‘Utsaimin. Secara lengkap dapat dilihat dalam kitab Fatawa al-Lajnah (13/431, 14/57, 60—63, 413—414), Majmu’ al-Fatawa libni Baz (19/267, 268, 273—274), Liqa’ Bab al-Maftuh libni ‘Utsaimin (6/18, 24/32, 221/17), dan Majmu’ Fatawa war Rasa’il (12/384—385).

 

Untuk Pembangunan Masjid?

Adapun untuk pembangunan masjid, terdapat perbedaan pendapat di antara mereka.

  1. Ada yang berpendapat tidak boleh. Al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai oleh Ibnu Baz) berfatwa dalam Fatawa al-Lajnah (13/431), “Diinfakkan untuk maslahat umum, yaitu di jalan-jalan kebaikan, selain masjid. Masjid tidak boleh dibangun darinya, demi menjaga kesucian masjid dari harta penghasilan yang haram.”
  2. Ada yang berpendapat boleh. Ibnu ‘Utsaimin berfatwa dalam kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (6/18), “Harta apa saja yang dihasilkan oleh seseorang dengan cara yang haram kemudian bertobat darinya, ia berlepas diri dari harta itu dengan menyalurkannya untuk jalan kebaikan, termasuk pembangunan masjid dan sedekah kepada fakir miskin.”

Ibnu ‘Utsaimin berfatwa dalam kitab Majmu’ Fatawa war Rasa’il (12/384— 385) mengenai hukum shalat di masjid yang dibangun dari harta haram, “Boleh shalat di dalamnya dan tidak mengapa, karena yang membangunnya dari harta yang haram, boleh jadi ia melakukannya demi membersihkan dirinya dari harta penghasilannya yang haram.

Membangun masjid dari harta penghasilan yang haram hukumnya halal, apabila dimaksudkan untuk membersihkan diri dari harta penghasilan yang haram, tetapi hal itu tidak terbatas dengan membangun masjid saja. Berlepas diri dari harta yang haram juga dapat dilakukan dengan menyalurkannya pada program kebaikan lainnya.” Wallahu a’lam.

 

Jika Tercampur dengan yang Halal

Tersisa sebuah masalah, apabila harta itu telah tercampur dengan harta penghasilan lainnya yang halal, sedangkan pelakunya tidak mampu menentukan mana yang haram dan tidak mampu berijtihad (menganalisa) untuk memisahnya dengan dugaan kuat sekalipun.

Dalam hal ini al-Lajnah ad-Da’imah (Ketua: Ibnu Baz, Wakil Ketua: ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh, Anggota: Shalih al-Fauzan dan lainnya) dalam Fatawa al-Lajnah (14/484—485) berfatwa kepada seorang wanita muslimah dari Somalia yang pernah menjadi pembantu rumah tangga keluarga Nasrani di Swedia. Di antara tugasnya adalah menghidangkan khamr (minuman keras) untuk mereka. Al-Lajnah menyatakan bahwa wajib atasnya membersihkan diri dari penghasilan yang haram itu.

Kemudian mereka berkata, “Apabila harta haram tersebut telah bercampur dengan harta yang halal; jika bisa diketahui kadar/nilai harta yang haram dari yang halal, keluarkan yang haram dan sedekahkan untuk membersihkan diri darinya serta membebaskan diri dari tanggung jawab.

Jika tidak dapat diketahui kadar yang haram dari yang halal, seluruh harta yang ada dibagi dua; setengahnya disedekahkan (untuk membersihkan diri darinya) dan setengahnya lagi Anda boleh manfaatkan dalam perkara yang halal. Hal ini jika Anda sudah tahu hukum ketika bekerja bahwa pekerjaan itu haram.”

Wallahu a’lam.

Ruqyah Adalah Kesyirikan?

RUQYAH ADALAH KESYIRIKAN?

Pada edisi 99 hlm. 62, poin 4 tertulis, “Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan thiyarah adalah perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud, sahih) Pertanyaan saya, apakah ruqyah termasuk syirik?

08238XXXXXXX

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Menjawab pertanyaan Saudara, kami katakan bahwa ruqyah ada dua macam. Ada yang mengandung kesyirikan dan ada yang tidak.

Sebab, pengobatan dengan ruqyah telah dilakukan juga oleh orang-orang jahiliah, yaitu pengobatan dengan bacaan atau mantra. Dengan datangnya Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah ala jahiliah, yaitu yang dengan mantra atau bacaan yang mengandung kesyirikan.

Pada saat yang sama, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan ruqyah dengan bacaan yang syar’i, misalnya dengan al-Qur’an atau doa yang diajarkan oleh Islam. Hal itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh riwayat berikut ini.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأ شْجَعِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ،لا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami dahulu meruqyah pada masa jahiliah. Kami mengatakan, Wahai Rasulullah, apa pandanganmu dalam hal itu?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, Perlihatkan kepadaku ruqyah kalian. Tidak mengapa dengan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Yang mengandung kesyirikan artinya adalah ruqyah yang terdapat permintaan pertolongan kepada selain Allah ‘azza wa jalla. (Fathul Majid hlm. 147)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang ruqyah, sebagaimana riwayat berikut ini.

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ فَقَالُوا:  يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِي بِهَاذ مِنَ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ فَقَالَ: مَا أَرَى بَأْسًا، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah dan adalah keluarga Amr bin Hazm memiliki bacaan ruqyah yang mereka pakai untuk meruqyah dari sengatan kalajengking. Mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari ruqyah dan kami memiliki bacaan ruqyah yang kami pakai untuk meruqyah dari sengatan kalajengking.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perlihatkan kepadaku bacaan ruqyah kalian.”

Mereka pun memerlihatkannya (membacakannya) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku lihat tidak apa-apa. Barang siapa di antara kalian yang mampu memberi manfaat kepada saudaranya, lakukanlah.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan yang lain. Lihat secara rinci dalam Silsilah ash-Shahihah, 472)

Tampak pula dalam riwayat di atas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah jenis tertentu dan pada saat yang sama membolehkan jenis yang lain.

 

Jenis Ruqyah yang Dilarang

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarah Muslim.

  1. (Ada sebuah pendapat) bahwa ruqyah dilarang kemudian beliau membolehkan bahkan melakukan dan ditetapkan dalam syariat bahwa itu boleh.
  2. Yang dilarang adalah ruqyah yang tidak diketahui maknanya.
  3. Larangan itu bagi mereka yang meyakini bahwa ruqyah itu dengan sendirinya memberi manfaat (tanpa kehendak Allah ‘azza wa jalla), seperti halnya yang diyakini oleh orang-orang jahiliah.

Di samping larangan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membolehkannya. Atas dasar itu al-Khaththabi mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah meruqyah dan pernah diruqyah, pernah memerintahkan dan pernah membolehkannya. Jika dengan al-Qur’an dan dengan menyebut-nyebut nama Allah ‘azza wa jalla, ini boleh atau bahkan diperintahkan. Dilarang atau dibencinya ruqyah hanyalah jika tidak menggunakan bahasa Arab. Sebab, bisa jadi lafadz yang dipakai ialah kata-kata kufur atau yang mengandung kesyirikan.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Termasuk hal yang terlarang adalah yang dilakukan orang-orang jahiliah yang meyakini bahwa ruqyah tersebut dapat menghilangkan penyakit. Mereka meyakini hal tersebut adalah bantuan dari jin (makhluk halus).”

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa seseorang tidak boleh meruqyah dengan menyebut semua nama yang tidak dikenal, lebih-lebih lagi berdoa dengannya. Sebab, berdoa dengan selain bahasa Arab hukumnya dimakruhkan. Itu hanya diperbolehkan bagi orang yang kurang bisa berbahasa Arab.

As-Suyuthi rahimahullah menyimpulkan bahwa ulama sepakat tentang bolehnya ruqyah selama memenuhi tiga syarat berikut.

  1. Menggunakan kalamullah atau dengan menyebut nama Allah ‘azza wa jalla dan sifat-Nya.
  2. Menggunakan bahasa Arab dan diketahui maknanya.
  3. Meyakini bahwa ruqyah tidak memberi manfaat dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah ‘azza wa jalla. (Fathul Majid, 147—148)

 

 

MENGHUKUMI SEBAGIAN IMAM AHLUS SUNNAH SEBAGAI AHLI BID’AH

Apa hukum menganggap sejumlah imam Ahlus Sunnah sebagai ahli bid’ah dengan alasan mereka terjatuh dalam kesalahan pada urusan akidah, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan selain keduanya?

 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab sebagai berikut.

 Barang siapa melakukan kesalahan, kesalahannya tersebut tidak boleh diambil. Kesalahan tetap tertolak, sebagaimana ucapan al-Imam Malik rahimahullah, “Tidak ada dari kita kecuali bisa diterima dan bisa ditolak, selain penghuni kubur ini.” Maksud beliau ialah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap ulama bisa salah dan bisa benar. Maka dari itu, kebenarannya diambil dan kesalahannya ditinggalkan. Apabila dia termasuk pemeluk akidah salafiyah namun terjatuh pada beberapa kesalahan, kesalahan itu ditinggalkan. Kesalahan tersebut tidak mengeluarkannya dari lingkup salafiyah selama dia dikenal mengikuti generasi salaf. Hanya saja, dia salah dalam menjelaskan beberapa hadits atau mengucapkan beberapa kalimat yang keliru. Ketika demikian, kesalahannya tidak diterima dan tidak diikuti.

Demikian pula halnya seluruh imam-imam agama—semisal asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, ats-Tsauri, al-Auza’i, atau yang selain mereka—ketika terjatuh dalam kesalahan. Kita ambil kebenaran yang ada pada mereka dan kita tinggalkan kesalahannya. Kesalahan (yang dimaksud di sini) ialah segala sesuatu yang menyelisihi dalil syariat, yaitu ucapan Allah ‘azza wa jalla dan ucapan Rasul-Nya. Tidak ada seorang pun yang boleh diambil kesalahannya yang menyelisihi dalil syariat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7)

Para ulama telah bersepakat bahwa ucapan setiap manusia bisa diambil dan bisa ditolak, selain ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, yang wajib ialah mengikuti syariat yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, menerimanya, dan tidak membantah  sesuatu pun darinya. Hal ini berdasarkan ayat di atas dan yang semakna dengannya. Demikian pula berdasarkan firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/254—255)

 

HUKUM BERMUAMALAH DENGAN PENGANUT SYIAH

Saya seorang pengajar. Bersama kami juga ada beberapa pengajar penganut Syiah. Saya bekerja bersama mereka. Saya memohon nasihat Anda tentang bermuamalah dengan mereka.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin menjawab sebagai berikut.

Anda hendaknya menasihati dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Anda ajari mereka bahwa menganut agama Rafidhah itu tidak diperbolehkan; memang kita wajib mencintai dan meridhai Ali radhiallahu ‘anhu, tetapi kita tidak boleh ghuluw (melampaui batas). Tidak boleh dikatakan bahwa Ali mengetahui perkara gaib dan maksum. Tidak boleh pula Ali dijadikan tujuan dipanjatkannya doa—bersama Allah—dan tidak boleh beristighatsah dengannya atau dengan Fathimah radhiallahu ‘anha, al-Hasan, al-Husain, Ja’far ash-Shadiq, dan selainnya.

Anda ajari mereka bahwa inilah yang wajib dilakukan. Anda nasihati mereka. Jika mereka bersikeras di atas bid’ah tersebut, Anda wajib meng-hajr (memboikot) mereka, meski mereka bekerja bersama dengan Anda. Anda meng-hajr mereka dengan tidak menjawab salam, tidak pula memulai mengucapkan salam kepada mereka.

Akan tetapi, apabila mereka tidak menampakkan bid’ah mereka dan secara lahiriah menampakkan kesamaan dengan Anda, mereka dihukumi sebagai munafik. Anda bermuamalah dengan mereka sebagaimana muamalah dengan orang munafik, tidak mengapa. Hal ini seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan kaum munafik di Madinah yang menampakkan keislaman dan tidak berbuat jahat (kepada kaum muslimin); Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan mereka layaknya kaum muslimin sedangkan urusan batin mereka diserahkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/265)

 

 HUKUM BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH

Bolehkah kita duduk bermajelis dan belajar kepada ahli bid’ah serta berserikat dengan mereka?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab sebagai berikut.

Tidak diperbolehkan duduk bermajelis dengan mereka. Tidak boleh pula menjadikan mereka sebagai teman. Mengingkari kebid’ahan mereka hukumnya wajib, demikian pula memperingatkan mereka dari kebid’ahan. Kita memohon keselamatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/266)

 PERIBADATAN BERHALA DALAM ISLAM?

Kaum orientalis menuduh bahwa Islam masih menyisakan sebagian bentuk paganisme (peribadatan kepada berhala). Contohnya ialah mencium Hajar Aswad. Bagaimana cara membantah mereka?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab sebagai berikut.

Contoh yang disebutkan ini bukanlah paganisme. Hal itu adalah perintah yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan bagi kita demi sebuah hikmah yang terang. Hal tersebut sama sekali berbeda dengan kebiasaan jahiliah, bukan pula bentuk peribadatan jahiliah.

Allah ‘azza wa jalla menghadapkan perintah-Nya kepada para hamba-Nya sesuai apa yang Dia kehendaki. Apabila Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan sesuatu, hal itu pun menjadi syariat tersendiri, tidak ada hubungannya dengan kebiasaan jahiliah.

Ada beberapa kebiasaan jahiliah yang termasuk perkara yang baik dan ditetapkan oleh Islam. Di antara kebiasaan jahiliah adalah diyat (tebusan) berupa seratus ekor unta, dan ini dikokohkan oleh Islam. Di antara kebiasaan jahiliah adalah al-qasamah (sumpah 50 orang untuk menolak tuduhan pembunuhan atas mereka, -ed.), yang juga dikokohkan oleh Islam.

Demikian pula mencium Hajar Aswad dan menyentuhnya, hal ini termasuk mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dan mencari keridhaan-Nya, bukan mencari berkah atau keridhaan dari Hajar Aswad. Hal ini adalah semata-mata menaati perintah Allah ‘azza wa jalla untuk menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Allah ‘azza wa jalla menguji para hamba-Nya dengan perintah ini, apakah mereka taat atau bermaksiat. Apabila Allah ‘azza wa jalla memerintahkan sesuatu, mereka melaksanakannya.

Allah ‘azza wa jalla menetapkan perintah agar mereka menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani, sebagai bentuk cobaan dan ujian, apakah mereka mendengar dan menaatinya? Apakah mereka melaksanakan perintah yang disyariatkan oleh Allah kepada mereka atau tidak?

Oleh karena itu, ketika Umar radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, beliau mengatakan, “Sungguh, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu, tidak bisa memberi madharat dan tidak bisa memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.”

Di antara kebiasaan jahiliah adalah memuliakan tamu. Memuliakan tamu masih ada dalam syariat Islam. Semua hal ini, dan akhlak mulia semisalnya yang dicintai oleh Allah dan dianjurkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta semua perkara terpuji lainnya, adalah kebiasaan jahiliah yang masih ada, bahkan ditetapkan oleh Islam.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/275—276)

BERSEDEKAH ATAS NAMA ORANG YANG PERNAH MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH

Seseorang bertanya kasus berikut. Ayahnya dahulu menyembelih untuk selain Allah, menurut kabar yang disampaikan kepadanya. Dia sekarang ingin bersedekah dan berhaji atas namanya. Dia menganggap, sebab ayahnya terjatuh dalam perbuatan tersebut ialah karena tidak adanya ulama, orang yang membimbing, atau orang yang menasihati ayahnya. Bagaimana hukum dari semua hal ini?

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab sebagai berikut.

Apabila ayahnya dahulu dikenal dengan kebaikan, keislaman, dan kesalehan, dia tidak boleh membenarkan orang—yang tidak dikenal ‘adalah (kebaikan dan kejujuran)nya—yang menukilkan kabar tentang perbuatan ayahnya itu kepadanya.

Disunnahkan baginya untuk mendoakan ayahnya dan bersedekah atas namanya, hingga dia tahu dengan yakin bahwa ayahnya meninggal di atas kesyirikan. Hal ini terwujud dengan adanya persaksian dua orang—atau lebih—yang baik dan tepercaya bahwa mereka melihat ayahnya menyembelih untuk selain Allah ‘azza wa jalla, yakni untuk para penghuni kubur atau lainnya; atau mereka mendengar ayahnya berdoa kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta izin kepada Rabbnya agar diperbolehkan memintakan ampunan bagi ibunya, namun tidak diizinkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Ibu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal pada masa jahiliah di atas agama kekafiran. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin agar dibolehkan menziarahi kuburnya. Ini menunjukkan bahwa orang yang meninggal di atas kesyirikan meski dia tidak tahu, maka tidak boleh didoakan, tidak boleh dimintakan ampunan, tidak boleh bersedekah dan berhaji atas namanya.

Adapun orang yang meninggal dalam keadaan dakwah belum sampai kepadanya, ini termasuk urusan Allah ‘azza wa jalla. Pendapat yang benar di kalangan ulama tentang orang yang seperti ini, dia akan diuji pada hari kiamat kelak. Jika taat, dia akan masuk surga; jika bermaksiat, dia akan masuk neraka. Hal ini berdasarkan hadits-hadits sahih yang menerangkan hal tersebut.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 28/289—290)

Kulit Bangkai yang Tersucikan dengan Disamak

Pertanyaan:

Mau tanya, kulit binatang haram apakah menjadi suci setelah disamak? Hujahnya? Syukran.

Ika—Pekalongan

 kulit-sapi

Dijawab oleh al-ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah kulit bangkai yang disamak diperselisihkan oleh ulama.

Di antara pendapat itu, pendapat yang mengatakan kulit bangkai secara umum tidak tersucikan dengan penyamakan. Ini riwayat yang paling masyhur dari Malik dan Ahmad yang menjadi mazhab bagi fuqaha Hanbali. Namun, keduanya membolehkan pemanfaatannya untuk sesuatu yang kering, tidak yang basah/lembab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Abdullah bin ‘Ukaim,

كَتَبَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِشَهْرٍ  :أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis kepada kami sebulan sebelum wafat, ‘Jangalah kalian memanfaatkan kulit bangkai dan urat syarafnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Mereka mengatakan bahwa hadits ini menghapus hadits-hadits pemanfaatan kulit bangkai setelah disamak. Akan tetapi, hadits ini diperselisihkan keabsahannya. Kebanyakan pakar hadits dari kalangan para hafizh (penghafal hadits), seperti Ibnu Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, al-Baihaqi, al-Khaththabi,dan Ibnu Hajar, menghukuminya dha’if (lemah).

Ibnu Ma’in mengatakan, “Hadits tersebut bukan sesuatu (hujah).”

Abu Hatim ar-Razi, al-Khaththabi, dan al-Baihaqi menyatakannya mursal (putus antara Ibnu ‘Ukaim dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena Ibnu ‘Ukaim bukan sahabat.

At-Tirmidzi menukil bahwa pada mulanya al-Imam Ahmad berpendapat dengan hadits ini karena merupakan hukum terakhir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi akhirnya beliau meninggalkan hadits ini tatkala mendapati kegoncangan (idhthirab) pada sanadnya dengan sebagian mereka meriwayatkannya dari Ibnu ‘Ukaim, dari sekelompok syaikh dari Juhainah yang datang kepada mereka kitab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisi hadits tersebut. Al-Khallal juga meriwayatkan hal yang sama dari Ahmad.

Sementara itu, al-Albani menghukuminya sebagai hadits sahih. Alasannya, perselisihan riwayat itu bukan kegoncangan yang mencacati hadits, sedangkan klaim mursal itu pun tidak tepat. Sekelompok syaikh dari Juhainah tersebut adalah sahabat yang datang kepada mereka kitab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas dibacakan kepada mereka, dan boleh jadi Ibnu ‘Ukaim hadir saat pembacaan kitab itu kepada mereka mengingat dia mendapati zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kendati tidak mendengar darinya—sebagaimana kata al-Bukhari dan lainnya.

Hal ini telah diakui sendiri oleh Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib at-Tahdzib pada biografi Ibnu ‘Ukaim, ia berkata, “Abdullah bin ‘Ukaim al-Juhani, Abu Ma’bad al-Kufi, mukhadhram[1], dia telah mendengar kitab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis kepada (kabilah) Juhainah.”

Alhasil, seandainya hadits itu sahih, tidak bisa dijadikan sebagai penghapus hadits-hadits yang menunjukkan bahwa penyamakan dapat menyucikan kulit bangkai. Sebab, tidak bisa dipastikan bahwa hadits ‘Ukaim datang belakangan setelah hadits-hadits tersebut.

Seandainya benar bahwa hadits ‘Ukaim yang terakhir datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap tidak bisa dijadikan sebagai penghapus hadits-hadits sebelumnya, karena kedua dalil yang seakan bertentangan tersebut masih bisa dipadukan dengan metode al-jam’u baina ad-dalilain, yaitu dengan mengatakan bahwa hadits ‘Ukaim pada dasarnya tidak mengandung larangan pemanfaatan kulit bangkai setelah disamak, tetapi larangan pemanfaatannya sebelum disamak. Menurut sebagian ahli bahasa, kata ‘ihab’ ( إِهَابٌ ) digunakan untuk kulit yang belum disamak, sedangkan kulit yang sudah disamak dinamakan ‘adim’ (أَدِيمٌ).

Jika sistem pemaduan tersebut enggan diterima, harus ditempuh metode tarjih (memilih yang terkuat). Jika begitu, tentu saja hadits-hadits sahih yang menunjukkan kesucian kulit bangkai yang telah disamak lebih kuat dan lebih pantas diamalkan daripada hadits ‘Ukaim yang diperselisihkan keabsahannya.

Ada sebuah diskusi ilmiah yang menarik antara al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ishaq bin Rahawaih. Kata Ibnul Mulaqqin dalam al-Badru al-Munir, “Al-Hazimi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu asy-Syaikh al-Hafizh bahwa ia berkata, ‘Telah dihikayatkan bahwasanya Ishaq bin Rahawaih berdebat ilmiah dengan asy-Syafi’i—sedangkan Ahmad bin Hanbal hadir—mengenai kesucian kulit bangkai apabila disamak.

Kata asy-Syafi’i, ‘Penyamakannya menjadikannya suci.’

Kata Ishaq, ‘Apa dalilnya?’

Kata asy-Syafi’i, ‘Hadits az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Maimunah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah kalian memanfaatkan kulit bangkai itu?’[2]

Lantas Ishaq berkata kepadanya, ‘Bagaimana dengan hadits Ibnu ‘Ukaim, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis kepada kami sebulan sebelum wafat, ‘Janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai dan urat syarafnya’.” Hadits ini semacam hukum baru yang menghapuskan hadits Maimunah radhiallahu ‘anha, karena datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebulan sebelum wafatnya.’

Kata asy-Syaifi’i, ‘Ini adalah kitab (ditulis oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sedangkan itu adalah sama’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didengar langsung darinya).’[3]

Kata Ishaq lagi, ‘Jika demikian, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menulis surat kepada Kisra dan Kaisar, lantas itu menjadi hujah di kalangan ahli hadits di sisi Allah.’

Akhirnya asy-Syafi’i terdiam.

Tatkala Ahmad mendengar hasil perdebatan keduanya, ia lantas berpendapat mengikuti hadits Ibnu ‘Ukaim dan berfatwa dengannya, sedangkan Ishaq sendiri justru rujuk kepada hadits (hujah) asy-Syafi’i.”

Wallahu a’lam.[4]

Jika telah jelas kelemahan mazhab ini, tampaklah bahwa yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa kulit bangkai akan tersucikan dari kenajisannya dengan penyamakan sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, baik untuk sesuatu yang kering maupun basah.[5] Ini adalah mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, riwayat lain dari Malik dan Ahmad, serta pendapat jumhur ulama. Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut:

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ.

“Jika kulit bangkai disamak, sungguh menjadi suci.” (HR. Muslim)

Pada riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafadz,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2711)

  1. Hadits Maimunah radhiallahu ‘anha:

مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّونَ شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ  :لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟ قَالُوا :إِنَّهَا مَيْتَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ.

“Beberapa pria Quraisy yang sedang menarik (bangkai) kambing sebesar keledai melintas di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sekiranya kalian memanfaatkan kulitnya?’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kambing ini adalah bangkai.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kulitnya dapat disucikan dengan air dan qarazh[6].” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan lainnya. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dengan penguatnya dalam ash-Shahihah)[7]

  1. Hadits Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari jalan riwayat Qatadah, dari al-Hasan, dari Jaun bin Qatadah, dari Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu. Riwayat Abu Dawud dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَتَى عَلَى بَيْتٍ فَإِذَا قِرْبَةٌ مُعَلَّقَةٌ، فَسَأَلَ الْمَاءَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا مَيْتَةٌ. فَقَالَ: دِبَاغُهَا طُهُورُهَا.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk mendatangi sebuah rumah, ternyata ada geriba yang digantung. Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minta air. Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya geriba itu dari bangkai.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penyamakannya adalah kesuciannya’.”

Riwayat Ahmad lainnya dengan lafadz,

دِبَاغُهَا طُهُورُهَا أَوْ ذَكَاتُهَا.

“Penyamakannya adalah kesuciannya atau penyembelihannya.”

Riwayat Ahmad dan an-Nasa’i dengan lafadz,

دِبَاغُهَا ذَكَاتُهَا.

“Penyamakannnya adalah penyembelihannya.”

Riwayat Ibnu Hibban dengan lafadz:

ذَكَاةُ الْأَدِيْمِ دِبَاغُهَ.

“Penyembelihan kulit bangkai adalah penyamakannya.”

Pada sanadnya terdapat Jaun bin Qatadah yang diperselisihkan keadaannya. Kata an-Nawawi dalam al-Majmu’, “Sanadnya sahih, hanya saja Jaun diperselisihkan. Ahmad mengatakan bahwa dia majhul (tidak dikenal), sedangkan Ibnul Madini mengatakan bahwa dia ma’ruf (dikenal).”

Ibnul Mulaqqin juga telah berbicara panjang lebar tentang Jaun lebih dari keterangan an-Nawawi dalam kitab al-Badru al-Munir, dan ia menyatakan hadits ini sahih.[8]

Kata al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taqrib at-Tahdzib, “Maqbul (diterima)”, yakni diterima jika riwayatnya diikuti oleh rawi lain.

Kata al-Albani dalam al-Misykat (no. 511), “Sanadnya hasan untuk penguat.” Terdapat hadits-hadits lain yang saling menguatkan dengannya sehingga dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud (no. 4125), Shahih Sunan an-Nasa’i (no. 4254), dan Ghayatul Maram (no. 26).

Di antara penguatnya adalah hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang juga datang dengan dua lafadz seperti di atas. Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban[9]:

سُئِلَ النَّبِيُّ عَنْ جُلُودِ الْمَيْتَةِ فَقَالَ: دِبَاغُهَا طُهُورُهَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kulit bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penyamakan adalah kesuciannya.”

Riwayat an-Nasa’i lainnya dengan lafadz:

ذَكَاةُ الْمَيْتَةِ دِبَاغُهَ.

“Penyembelihan bangkai adalah penyamakannya.”

Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 3432) dan Shahih an-Nasa’i (no. 4255, 4256, 4257, 4258).

Akan tetapi, ada perbedaan pendapat di antara jumhur ulama mengenai rincian kulit bangkai binatang apa saja yang dapat tersucikan dengan penyamakan.

  1. Kulit bangkai seluruh jenis binatang, termasuk kulit anjing dan babi.

Ini adalah mazhab Dawud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm azh-Zhahiri yang dirajihkan oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani. Dalilnya adalah keumuman makna hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.”

  1. Kulit bangkai binatang yang pada asalnya suci di masa hidupnya, termasuk hewan yang tergolong haram dimakan melalui penyembelihan, seperti kulit bangkai macan, ular, dan semacamnya.

Dalilnya adalah keumuman makna hadits-hadits tersebut di atas, kecuali hewan yang memang najis semasa hidupnya tidak bisa disucikan kulitnya dengan penyamakan selamanya. Pendapat ini adalah mazhab Abu Hanifah, salah satu riwayat dari asy-Syafi’i yang menjadi mazhab bagi ahli fikih mazhab Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Ini salah satu pendapat Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat dan al-Inshaf. Dalam hal ini asy-Syafi’i dan Ahmad memperkecualikan babi dan anjing karena meyakini keduanya najis, sedangkan Abu Hanifah hanya memperkecualikan babi karena meyakini anjing adalah suci kecuali air liurnya najis.

  1. Kulit bangkai binatang yang tergolong hewan yang halal dimakan melalui penyembelihan, seperti kulit bangkai sapi, kambing, buaya, dan semisalnya. Adapun kulit bangkai macan, ular, dan semisalnya tidak tersucikan dengan penyamakan, karena hewan-hewan tersebut tergolong haram dimakan melalui penyembelihan.

Ini adalah riwayat lain dari asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini pendapat kedua Ibnu Taimiyah yang menurutnya berhasil memadukan seluruh hadits-hadits dalam masalah ini—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa. Ini pula yang dipilih oleh as-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin.

Dalilnya adalah hadits Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas yang menyebutkan bahwa penyamakan kulit bangkai berkedudukan seperti penyembelihan hewan itu. Artinya, penyamakan dapat menyucikan kulit bangkai hewan yang tergolong halal dimakan melalui penyembelihan. Adapun yang haram dimakan meskipun disembelih secara syar’i, kulitnya tidak bisa disucikan dengan penyamakan. Apalagi anjing dan babi yang pada asalnya memang najis, lebih jelas lagi tidak bisa disucikan dengan penyamakan selamanya.

Hal ini semakin kuat dengan hadits al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu yang berkata kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma,

نَهَى shallallahu ‘alaihi wa sallam فَأَنْشُدُكَ بِاللهِ، هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ عَنْ لُبْسِ جُلُودِ السِّبَاعِ وَالرُّكُوبِ عَلَيْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Aku menyumpahmu demi Allah, apakah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari memakai kulit hewan buas dan menjadikannya sebagai pelana?”

Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Ya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dan memiliki penguat)[10]

Ibnu Baz rahimahullah berfatwa agar berhati-hati dalam permasalahan ini dengan memilih pendapat ini.

Alhasil, yang terbaik adalah pendapat ketiga demi kehati-hatian.

Wallahu a’lam.[11]


[1] Mukhadhram adalah orang yang hidup mendapati masa jahiliah dan masa kenabian tetapi tidak sempat berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia beriman dan mati di atas Islam.

[2] Hadits ini akan kami sebutkan nanti secara lengkap insya Allah.

[3] Maksudnya, hadits Maimunah radhiallahu ‘anha lebih kuat daripada hadits ‘Ukaim.

[4] Lihat kitab Talkhish al-Habir (1/76—78), al-Badru al-Munir (1/587—600), dan al-Irwa’ (1/76—79, no. 38).

[5] Seperti pada hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik, padahal sembelihan orang musyrik adalah bangkai.

[6] Sejenis tumbuhan. An-Nawawi menegaskan bolehnya penyamakan dengan apa saja yang dapat menyerap keluar kotoran yang ada dalam kulit bangkai, membersihkannya, dan mencegahnya dari kerusakan (mengawetkannya).

Contohnya, qarazh, kulit delima, syabb (batu tawas), dan obat-obatan yang suci semacamnya. Ibnu Qudamah juga menyatakan hal yang semakna dengan ini. Setelah itu, wajib dicuci dengan air untuk menyucikannya, menurut pendapat yang terkuat. Ini yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah.Wallahu a’lam.

Lihat kitab al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab ath-Thaharah, pada Bab “Thaharah Julud al-Maitah bi ad-Dibagh”), al-Majmu’ (1/276—281), dan al-Mughni (1/95—96).

[7] Pada sanadnya terdapat dua rawi yang tidak dikenal, tetapi memiliki penguat (syahid) dari hadits Ibnu ‘Abbas rahimahullah riwayat ad-Daraquthni dan al-Baihaqi dengan sanad yang dihukumi oleh al-Albani sebagai hadits sahih menurut syarat al-Bukhari-Muslim. Lengkapnya lihat ash-Shahihah (5/no. 2163).

[8] Lihat kitab al-Badru al-Munir (1/608—612, Darul Hijrah, program Maktabah Syamilah).

[9] Pada Kitab ath-Thaharah, Bab “Julud al-Maitah” , no. 1290.

[10] Lihat kitab ash-Shahihah (3/no. 1011).

[11] Lihat kitab al-Muhalla (1/no. 129), Bidayah al-Mujtahid (1/78—79), al-Mughni (1/89—95), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab ath-Thaharah, pada Bab “Thaharah Julud al-Maitah bi ad-Dibagh”), al-Majmu’ (1/268, 270—276), Majmu’ al-Fatawa (21/90—96), al-Ikhtiyarat (hlm. 42), Zadul Ma’ad (5/757—758), al-Inshaf (1/86—87), Nailul Authar (1/Bab “Ma Ja’a fi Tathhir ad-Dibagh”), Subulus Salam (Kitabath-Thaharah, Bab “al-Aniyah”, syarah hadits Ibnu ‘Abbas, hadits Salamah, dan haditsMaimunah), al-Mukhtarat al-Jaliyyah (hlm. 42—43), ats-Tsamar al-Mustathab (hlm. 6—7), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (6/354), asy-Syarh al-Mumti’ (1/85—92), dan Fath Dzil Jalal wal Ikram.