Dunia dalam Pandangan Penghuninya

Dunia memang manis, indah, dan hijau, seperti kata Rasulullah n:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ …
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau….” (HR. Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Tak heran, banyak manusia yang tertipu dengannya sehingga mereka mati-matian mengejarnya. Padahal yang mereka kejar hanyalah tsaman qalil atau mata’un qalil, kata kitab suci kita, yakni harga yang murah dan perhiasan yang sedikit.

“Janganlah kalian menjual/menukar ayat-ayat Kami dengan harga yang murah (dunia)….” (al-Baqarah: 41)
Katakanlah, “Perhiasan dunia itu kecil (remeh tiada bernilai) dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa….” (an-Nisa: 77)
Cara pandang manusia terhadap dunia ada dua macam.
1. Pandangan materialisme
Pikiran/pandangan seseorang terbatas dan terfokus untuk mencapai kenikmatan-kenikmatan dunia. Perbuatannya pun semata-mata untuk meraih angan-angan duniawinya. Pikirannya tidak bisa melampaui apa yang ada di balik ambisi dunianya, yaitu akibat-akibat buruk yang bakal diperoleh. Tidak pula ia berbuat untuk kehidupan setelah hidup di dunia, bahkan menaruh perhatian pun tidak! Ia tidak tahu bahwa Allah l menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Seharusnya ia menjadikan dunia sebagai negeri amal sedangkan akhirat sebagai negeri balasan.
Siapa yang menyibukkan dirinya di dunia ini dengan amal saleh maka ia akan beroleh keberuntungan di dua negeri. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan dunia (tidak dipakai untuk beramal saleh) maka akan hilang akhiratnya. Allah l berfirman:
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Allah l tidaklah menciptakan dunia ini sia-sia. Dia menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah l berfirman:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalan/perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)
Dalam kehidupan dunia ini, Allah l menciptakan berbagai perhiasan: harta, anak, kedudukan, kekuasaan, dan seluruh kelezatan yang hanya Allah l yang tahu.
Umumnya, manusia membatasi pandangannya hanya kepada lahiriah kehidupan dunia berikut kesenangan-kesenangan dunia yang menipu. Ia menyenangkan dirinya dengan dunia tanpa merenungkan rahasia penciptaan dunia. Ia pun tersibukkan meraih dunia, mengumpulkan serpihan-serpihannya, dan bernikmat-nikmat dengannya, hingga lalai dari beramal untuk hidup setelah kehidupan di dunia. Lebih parah lagi, ia mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana Allah l berfirman:
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Tidak ada kehidupan selain kehidupan kita di dunia ini dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” (al-An’am: 29)
Allah l telah memberikan ancaman atas materialisme seperti ini dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya, terhadap ayat-ayat Kami pun mereka melalaikannya, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang dahulunya selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7—8)
Ancaman ini tertuju kepada orang-orang yang memiliki paham materialisme, baik dalam bentuk melakukan amalan akhirat namun bertujuan ingin beroleh dunia—seperti yang dilakukan orang munafik dan orang yang riya’—maupun orang-orang kafir yang sama sekali tidak beriman dengan hari kebangkitan dan hisab/perhitungan amalan, seperti keadaan orang-orang jahiliah dan pengikut pemikiran sesat dari kalangan komunis, atheis, dan mulhidin.
Mereka tidak mengetahui kadar kehidupan. Pandangan mereka tidak mampu menjangkaunya, seperti halnya pandangan hewan ternak. Bahkan, lebih bodoh daripada hewan karena menyia-nyiakan akal, kemampuan, dan membuang-buang waktu mereka dalam hal yang tidak berfaedah. Mereka tidak beramal untuk (mempersiapkan) tempat kembali yang menanti mereka dan pasti bersua dengan mereka. Adapun hewan (yang dijadikan sebagai perbandingan dengan orang-orang itu) tidak memiliki tempat kembali yang menantinya. Hewan juga tidak punya akal yang bisa dipakai untuk berpikir. Berbeda halnya dengan orang-orang tersebut.
Oleh karena itu, Allah l berfirman tentang mereka:
“Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu bisa mendengar atau memahami (berakal)? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)
Allah l menyebutkan bahwa orang-orang yang berpikir materi duniawi semata sebagai orang-orang yang tidak memiliki ilmu, alias bodoh. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (zahir) saja dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai.” (ar-Rum: 6—7)
Orang-orang tersebut—walau dianggap punya kelebihan dalam industri dan teknologi—hakikatnya adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas disebut berilmu karena ilmu yang mereka ketahui tidak lebih dari lahiriah kehidupan dunia. Ilmu yang seperti ini adalah ilmu yang kurang. Pemiliknya tak pantas menyandang sebutan yang mulia, yaitu ulama, karena yang berhak disebut ulama/orang yang berilmu adalah orang yang mengenal Allah l dan takut kepada-Nya, sebagaimana Allah l berfirman:
“Yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Termasuk pandangan materialisme terhadap kehidupan dunia adalah apa yang disebutkan tentang kisah Qarun dan perbendaharaan harta yang dilimpahkan oleh Allah l kepadanya.
ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Andai kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (al-Qashash: 79)
Para penonton ‘pamer kekayaan’ yang dilakukan oleh Qarun berangan-angan ingin menjadi semisal Qarun. Mereka iri terhadap apa yang ada pada Qarun. Mereka menyebut Qarun sebagai orang yang beroleh keberuntungan yang besar. Anggapan mereka ini dibangun di atas materialisme, sebagaimana keadaan negeri-negeri kafir sekarang dengan kemajuan industri dan kepesatan ekonominya. Kaum muslimin yang lemah imannya memandang orang-orang kafir di negeri ‘maju’ tersebut dengan pandangan kagum, tanpa mau menoleh kepada kekafiran mereka berikut tempat kembali yang buruk yang menanti.
Pandangan yang salah ini membangkitkan sikap pengagungan terhadap orang-orang kafir, menyimpan keseganan dan rasa minder terhadap orang-orang kafir. Buntutnya adalah sikap tasyabbuh/menyerupai atau membebek kepada mereka dalam hal akhlak dan kebiasaan mereka yang buruk. Akan tetapi, kesungguh-sungguhan, etos kerja, persiapan kekuatan, dan hal-hal bermanfaat lain berupa penemuan dan industri yang ada pada orang-orang kafir justru tidak diikuti/ditiru.

2. Pandangan yang benar terhadap kehidupan dunia
Seseorang menganggap apa yang ada dalam kehidupan dunia: harta, kekuasaan, dan kekuatan materi sebagai perantara yang dapat digunakan untuk beramal akhirat.
Oleh karena itu, pada hakikatnya dunia tidak dicela kelezatannya. Pujian dan celaan hanyalah ditujukan kepada perbuatan hamba dalam kehidupan dunia. Dunia merupakan jembatan dan alat penyeberangan yang dapat mengantarkan ke akhirat. Dari dunia, kita beroleh bekal menuju surga. Kehidupan yang baik bergelimang nikmat yang diperoleh penduduk surga hanya didapatkan dengan apa yang mereka tanam di dunia. Dengan demikian, dunia menjadi negeri berjihad, menunaikan shalat, puasa, infak fisabilillah, dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
Allah l berfirman kepada penduduk surga:
(Dikatakan kepada penghuni surga), “Makan dan minumlah kalian dengan nikmat disebabkan amal saleh yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 24)
Yakni, amal saleh yang dahulunya dikerjakan di dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga kita termasuk orang-orang yang berpandangan dengan pandangan yang kedua ini.
(Sumber: Kitabut Tauhid, karya Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, hlm. 58—61. Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)