Saling Menasihati, Jalan Keselamatan

KHUTBAH PERTAMA:

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Ad-Din_An-Nashihah

Kaum muslimin rahimakumullah!

Pemberian paling berharga dari seseorang untuk saudaranya yang tidak bisa dinilai dengan emas dan perak adalah nasihat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sebab, nasihat merupakan urusan yang paling pokok di dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.” ( HR. Muslim dari Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu)

Upaya saling menasihati dalam kebaikan merupakan salah satu jalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kerugian dunia dan akhiratnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَٱلۡعَصۡرِ ١   إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢   إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1—3)

Sikap saling meminta dan saling memberi nasihat adalah interaksi kemasyarakatan kaum muslimin yang dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menyebutkan enam perkara yang merupakan hak dan kewajiban seorang muslim atas saudaranya,

فَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ أَخُوكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu meminta nasihatmu, berilah nasihat untuknya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Sudah tidak asing bagi kita tentang keutamaan menyampaikan nasihat, karena nasihat adalah salah satu bentuk perwujudan amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak sekali dalilnya baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Akan tetapi, yang ingin kita tekankan dalam khutbah ini adalah pentingnya mendengar dan menerima nasihat serta tercelanya sikap menolak dan mengabaikan nasihat.

 nasihat

Ayyuhal muslimun rahimakumullah!

Nasihat yang benar, yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, wajib didengar dan diterima, karena nasihat tersebut adalah agama dan pemberian yang sangat berharga dari saudara kita. Orang yang menerima nasihat berarti dia telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan kerugian.

Sebaliknya, orang yang menolak nasihat berarti dia telah menghadapkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana yang dialami oleh umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ketika menolak nasihat dari para nabi. Contohnya ialah kaum Tsamud ketika menolak nasihat Nabi Shalih ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٧٨ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ٧٩

Lalu datanglah goncangan gempa menimpa mereka sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah mereka. Nabi Shalih pun pergi berpaling meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan risalah dari Rabbku. Aku telah berusaha untuk menyampaikan nasihatku kepada kalian. Namun, kalian tidak menyukai orang yang memberi nasihat.” (Al-A’raf: 78—79)

Di dalam ayat tersebut, terdapat anjuran untuk mencintai nasihat dan mencintai para pemberi nasihat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membuka hati kita sehingga diberi kelapangan dada untuk menerima nasihat kebenaran, karena hal itu merupakan tanda keimanan.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Sungguh demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan dirimu (Nabi Muhammad) sebagai penengah dari apa yang mereka perselisihkan. Kemudian, tidaklah ada keberatan di hati mereka untuk menerima apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.” (An-Nisa’: 65)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan,

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٨

“Orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka itulah orang yang memiliki akal sehat.” (Az-Zumar: 18)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم،ِ أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Hendaknya kita memperbanyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dikaruniai hidayah dan taufik sehingga kita mudah menerima nasihat dan kebenaran. Di antara faktor yang menghalangi seseorang menerima nasihat adalah tidak mendapatkan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Sepantasnya pula kita sering memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari tipu daya setan yang senantiasa berusaha menghalangi manusia dari nasihat dan kebenaran. Sebab, Iblis telah menyatakan—sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam al-Qur’an,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih.” (Shad: 82—83)

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦

Iblis berkata, “Karena Engkau (Allah) telah menyesatkanku, aku pasti akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Hendaknya pula kita senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu sangat kuat berperan dalam menghalangi seseorang untuk menerima nasihat.

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣

“Sesungguhnya hawa nafsu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Rabbku.” (Yusuf: 53)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Jauhilah sikap sombong dan angkuh, karena kesombongan menyebabkan seseorang menolak nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍالْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Seseorang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk surga…. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 arang-api

Hadirin rahimakumullah!

Hasad (iri, dengki) juga merupakan faktor penghalang seseorang untuk menerima nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Tinggalkanlah hasad (sifat iri), karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar.”

Di antara faktor yang membantu seseorang mudah menerima nasihat adalah sifat jujur. Sebaliknya, dusta adalah sebab yang menyulitkan seseorang menerima nasihat dan kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

… عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ 

“Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa ke surga…”

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Tinggalkanlah kedustaan, karena dusta akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِ وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami bahwa kebenaran itu kebenaran, dan berilah rezeki kepada kami untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kebatilan itu kebatilan, dan berilah rezeki kepada kami untuk menjauhinya.”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Seorang hamba tidak terlepas dari menjalankan perintah yang wajib dia laksanakan, larangan yang wajib untuk dia tinggalkan, takdir yang pasti terjadi, dan kenikmatan yang wajib dia syukuri kepada Pemberinya. Karena semua keadaan ini tidak mungkin lepas darinya, dia pun wajib bersabar sampai meninggal. Lanjutkan membaca Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Merasa Nyaman dengan Hukuman

Hukuman terberat adalah ketika seorang yang dihukum tidak merasakan hukuman tersebut. Parahnya lagi ketika ia justru senang dengan hukuman itu. Ini seperti seorang yang bahagia dengan harta yang haram dan merasa nyaman dengan dosanya. Orang yang semacam ini tidak akan beruntung.

Sungguh, saya perhatikan keadaan kebanyakan ulama dan ahli zuhud, saya memandang mereka berada dalam suatu hukuman tetapi mereka tidak merasakannya. Kebanyakannya karena mereka punya orientasi mencari kepemimpinan.

Seorang yang berilmu dari mereka marah ketika kesalahannya dibantah. Seorang penceramah membuat-buat keindahan dalam ceramahnya. Seorang yang ahli zuhud, ternyata munafik dan mengharap pujian.

Awal hukuman bagi mereka adalah berpalingnya mereka dari kebenaran karena sibuk mencari perhatian makhluk. Barang siapa yang hukumannya tidak tampak, ia akan kehilangan manisnya bermunajat dengan Allah ‘azza wa jalla, dan kehilangan kelezatan ibadah.

Kecuali orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, Allah ‘azza wa jalla menjaga bumi dengan mereka. Batin mereka sama dengan lahiriah mereka. Bahkan, batin mereka lebih tampak. Yang tersembunyi sama dengan yang tampak, bahkan lebih jelas. Cita-cita mereka setinggi bintang kejora, bahkan lebih tinggi lagi.

Apabila dikenal. mereka justru tidak suka. Jika Anda lihat karamah (hal keluarbiasaan) pada mereka, mereka merasa tidak punya karamah.

Manusia tidak sadar dengan keberadaan mereka, sementara mereka sudah jauh melintasi padang sahara.

Mereka dicintai belahan bumi dan para malaikat di langit berbangga dengan mereka.

Kami memohon kepada Allah taufik-Nya untuk bisa mengikuti jejak mereka dan menjadikan kita termasuk pengikut mereka. (Ibnul Jauzi, kitab ash-Shaid)

ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Kalbu yang Selamat

Kalbu yang selamat yang terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang pasrah kepada Rabbnya, yang tunduk kepada perintah-Nya dan tidak ada padanya rasa penentangan terhadap perintah-Nya; tidak pula ada pengingkaran terhadap kabar yang datang dari-Nya. Dialah kalbu yang selamat dari selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada yang ia inginkan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah dia berbuat kecuali apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan. Allahlah satu-satunya yang ia tuju. Perintah dan syariat-Nya ia jadikan sebagai wasilah dan jalan hidupnya. Tidak ada sedikit keraguan yang mejadi penghalang baginya untuk membenarkan berita yang datang dari-Nya. Tidaklah keraguan datang kecuali hanya terlintas sejenak saja. Kemudian ia tahu bahwa ia tidak bisa menetap di kalbu tersebut. Demikian pula hawa nafsu, ia tidak mampu menghalangi kalbu tersebut dari mengikuti keridhaan Allah.

Tatkala kalbu itu demikian keadaannya, ia akan selamat dari kesyirikan, kebid’ahan, penyimpangan, dan kebatilan. Seluruh pendapat yang menafsirkan makna qalbun salim tercakup dalam penjelasan di atas.

Pada hakikatnya, kalbu yang selamat adalah kalbu yang tunduk dan pasrah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh rasa malu, takut, dan harap. Ia mencukupkan diri dengan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari kecintaan kepada selain-Nya, dengan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari takut kepada selain-Nya, dan dengan rasa harap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari berharap kepada selain-Nya.

Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sebagai bentuk keimanan dan ketaatannya. Ia menerima segala takdir dan ketetapan-Nya sehingga ia tidak berprasangka buruk, tidak menentang atau marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia senantiasa berserah diri kepada Allah dengan penuh ketaatan, kerendahan diri, kehinaan, dan penghambaan.

Ia menyerahkan setiap keadaan, perkataan, perbuatan, perasaan, dan daya-upayanya, baik lahir maupun batin, kepada tuntunan Rasul-Nya dan menolak segala sesuatu yang datang dari selainnya. Yang sesuai dengan tuntunan Rasulnya ia terima, dan apa yang menyelisihinya ia tolak. Adapun sesuatu yang belum jelas baginya apakah itu sejalan dengan tuntunan Rasulnya ataukah bertentangan, ia menunda dan mengakhirkannya sampai hal itu menjadi jelas.

Ia senantiasa sejalan dengan wali-wali Allah dan golongan-Nya yang beruntung, yang senantiasa membela agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya serta menegakkannya.

Ia pun memusuhi musuh-musuh Allah yang selalu menyelisihi kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, yang keluar dari bimbingan keduanya, bahkan menyeru manusia untuk menyelisihi keduanya.

 

(Diambil dari kitab Miftah Daris Sa’adah, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, hlm. 54, cet. Darul Hadits, Kairo)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Anakku, Kokohkan Fondasi Hidupmu

Anakku…

Hidup di dunia hanya satu kali. Yang telah berlalu tidak mungkin akan terulang kembali. Yang telah luput pun sulit untuk bisa diraih lagi. Ingat bahwa ujian hidup selalu ada,  kian hari kian bertambah. Waspadalah kalian, karena di belakang ujian itu ada kelulusan dan kegagalan. Bercita-citalah engkau menjadi orang yang lulus dan berhasil.

Anakku… Sungguh, terlalu banyak anak yang sebaya denganmu telah hancur masa depannya, rusak moral dan akhlaknya, terjatuh ke dalam jurang kehancuran dan kehinaan. Masa depanmu adalah masa yang sangat berharga, terlebih masa depan di akhiratmu. Masa depanmu di akhirat tidak akan didapatkan selain dengan kelurusan di dunia ini.

Anakku… Ingatlah, kelulusan itu adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan yang berujung kalah atau menang, dan pengorbanan yang berakhir dengan untung atau merugi. Tidak sedikit orang yang kalah dan menyerah dalam perjuangannya; tidak sedikit pula yang rugi besar dalam pengorbanannya. Dengarkan pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab suci-Nya,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Maukah kami beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat amalnya di dunia dan mereka menyangka telah melakukan yang terbaik.” (al-Kahfi: 103—104)

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

“Dan kami hadirkan apa yang mereka telah kerjakan dari amal-amal dan kami menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Korbankanlah segala yang engkau miliki untuk menyelamatkan diri dan agamamu dan. Engkau tidak akan bisa bangkit berjuang dan mau berkorban apabila tidak memiliki mesin penggerak. Mesin penggerakmu tidak akan berarti besar apabila tidak ditopang dengan penyangga yang kokoh, kuat, dan handal.

Ada empat hal yang harus engkau perhatikan sebagai dasar melangkah yang akan menjadi pelitamu dalam kegelapan dan menjadi senjatamu ketika berjuang dan berkorban.

  1. Engkau harus berilmu tentang Rabbmu, tentang Nabimu, dan agamamu dengan dalil-dalilnya.
  2. Engkau harus berani dan kuat untuk mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui.
  3. Engkau harus berani menyuarakan kebenaran yang telah engkau ilmui dan amalkan.
  4. Engkau harus berhias dengan kesabaran baik ketika mendalami ilmu atau saat beramal dan menyuarakan kebenaran.

Empat pilar inilah yang akan menjadi pelita hidupmu dan senjatamu saat bertarung. Pada akhirnya engkau termasuk orang yang berhasil dan lulus dengan, izin Allah subhanahu wa ta’ala. Empat pilar ini telah dirangkum oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab suci-Nya dalam satu surat, yaitu surat al-‘Ashr.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Zadul Ma’ad (4/38), menyebutkan, “Berjuang ada empat tingkatan: (1) berjuang melawan diri sendiri, (2) berjuang melawan setan, (3) berjuang melawan orang kafir, dan (4) berjuang melawan kaum munafik.” Adapun berjuang melawan diri sendiri ada empat tingkatan pula.

 

  1. Berjuang agar dirinya mau belajar petunjuk dan agama yang benar.

Tidak ada kemenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat selain dengannya. Jika ini luput darinya, dia akan celaka di dua negeri tersebut.

 

  1. Berjuang agar dirinya tunduk beramal setelah mengetahui ilmu.

Sebab, sebatas berilmu tanpa amal, jika tidak mendatangkan mudarat, minimalnya akan menjadi tidak berguna.

 

3 . Berjuang agar dirinya mendakwahkan ilmu tersebut dan mengajari orang yang tidak mengetahuinya.

Jika dia tidak melakukannya, niscaya dia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Berjuang agar dirinya bersabar menanggung beban ketika berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bersabar dari gangguan manusia serta menanggung semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, dia tergolong rabbaniyyin. Telah ijma’ (sepakat) ulama salaf umat ini bahwa seorang alim tidak dikatakan sebagai rabbani sampai dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengilmui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya, dia dipuji dalam kehidupan penduduk langit.

Anakku…

Engkau hidup di dunia ini akan berhadapan dengan kenyataan yang pahit dan manis, yang kamu sukai dan kamu benci. Jadilah engkau orang yang memiliki hati dan dada yang lapang untuk menerimanya. Ketentuan yang engkau akan hadapi itu adalah pasti dan tidak akan berubah dan tersalah. Sebab, semua itu telah ada dalam suratan takdirmu sejak 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Anakku…

Di sinilah engkau membutuhkan fondasi hidup yang kokoh dan kuat sehingga tidak bimbang dan goyah saat berhadapan dengan kenyataan pahit yang dibenci. Fondasi hidup itu adalah akidah yang kokoh dan kuat.

Bagaimanapun badai ujian mengempas, duri-duri hidup menusuk, kerikil-kerikil tajam merintangi; apabila memiliki fondasi hidup yang kuat, engkau bagaikan karang di laut, tidak akan goyah dengan ombak yang besar. Engkau bagaikan gunung yang tinggi menjulang yang tidak akan oleng oleh badai topan. Engkau bergembira saat orang-orang dirundung kesedihan. Engkau tenang dan tenteram saat kebanyakan orang gundah gulana. Engkau selalu tersenyum saat orang banyak dirundung kesedihan dan meneteskan air mata. Engkau pun tegar dan tabah ketika kebanyakan orang dihantui ketakutan.

Anakku…

Pentingnya membangun hidup di atas fondasi akidah ini tecermin dalam beberapa nuansa sejarah yang besar.

 

Pengutusan Para Nabi dan Rasul

Saat dunia ini berada dalam krisis kerusakan dan kehancuran, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk menjawab segala kerusakan tersebut dan melakukan perombakan dan perbaikan. Tugas besar disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang bertugas) menyerukan mereka agar beribadah kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain Allah.” (an-Nahl: 36)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa agama para rasul adalah satu, tugas yang mereka emban pun sama. Tugas mereka yang besar tersebut adalah mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.

Jika ada yang lebih penting dari persoalan tauhid dan akidah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya mandat pertama dan utama kepada para rasul yang diutus. Saat kita tidak menemukan hal itu, berarti masalah tauhid dan akidah menjadi persoalan yang inti dan fundamental.

Kejahatan besar dalam hidup ini adalah saat sebagian kaum muslimin menganggap persoalan akidah dan tauhid sebagai qusyur (kulit agama); meremehkan dan mengentengkan permasalahannya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menjadikannya perkara yang sangat besar dalam agama.

Sungguh, betapa jahat ucapan ini dan betapa jelek sikap tersebut. Ucapan yang akan menyebabkan seseorang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Lantunan Doa Nabi Ibrahim

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini adalah negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku serta anak keturunanku dari menyembah patung-patung’.” (Ibrahim: 35)

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah bapak orang-orang yang bertauhid. Semua kehidupan beliau digunakan untuk berdakwah kepada tauhidullah.

Beliau harus berhadapan dengan bapak yang kufur dan ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau juga menghadapi penguasa yang menobatkan dirinya menjadi tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Amanat yang besar dan tugas yang berisiko tinggi beliau hadapi dengan penuh keberanian dan ketegaran, ketabahan, dan kesabaran. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah dalam kehidupan manusia.

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibrahim adalah imam sebagaimana dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah (Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin atas manusia). Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nubuwwah, menurunkan kitab-kitab, dan risalah pada anak keturunan beliau. Mereka semua dari keluarga beliau, yaitu keluarga yang telah diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (Amradhul Qulub, hlm. 61)

Kendati demikian. beliau tetap mendoakan anak keturunannya agar terpelihara dan terlindungi dari perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Wasiat Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

“Dan ingatlah tatkala Luqman berkata kepada anaknya dan dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, jangan kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar’.” (Luqman: 13)

 

Warisan Ya’qub kepada Putra-Putranya

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

“Apakah kalian menyaksikan saat kematian mendatangi Ya’qub, saat dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’

Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, dan kami kepada-Nya berserah diri.” (al-Baqarah: 133)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Saat orang-orang Yahudi mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim dan Ya’qub, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengingkari mereka, ‘Apakah kalian menghadiri saat tanda-tanda kematian datang kepada Nabi Ya’qub ‘alaihissallam, ketika itu beliau menguji anak-anaknya agar menyejukkan matanya saat masih hidup dalam melaksanakan wasiat-wasiatnya.’

Mereka memberikan jawaban yang menyejukkan mata beliau yaitu, ‘Menyembah kepada Ilahmu dan Ilah bapakmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, kami tidak menyekutukan- Nya dan tidak meninggalkan-Nya.’

Mereka menghimpun antara tauhid dan amal.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 49)

 

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ؛ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Suatu hari saat saya berada di belakang Rasulullah, beliau berkata, “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. (Yaitu) jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu. Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukmu. Jika mereka bersatu untuk memudaratkanmu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Telah terangkat pena dan telah kering lembaran.” (HR. at-Tirmidzi no. 2440)

Pendidikan yang agung nan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sahabat yang lain serta umatnya. Ini adalah penanaman fondasi hidup yang agung dan mulia pada diri Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang akan menjadi cikal bakal imam dalam agama setelah itu.

Ada beberapa pelajaran berharga buat kita melalui pendidikan nabawi yang langsung dilakoni oleh imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pelajaran pertama

احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, dan jagalah Allah subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menemukannya di depanmu.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Jagalah perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakannya dan tinggalkan segala larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu dalam semua keadaan dan menjagamu di dunia dan di akhirat.”

Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah berkata, “Jadilah kamu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jagalah hukum-hukum dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga agamamu, keluargamu, hartamu, dan dirimu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga orang yang berbuat baik dengan sebab kebaikannya. Dari sini diketahui bahwa siapa saja yang tidak menjaga Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak berhak mendapatkan pemeliharaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di sini juga terdapat dorongan untuk menjaga hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 224)

Tentu saja ini adalah nasihat besar bagi kita sebagai orang tua dan bagi para pendidik anak kaum muslimin, agar kita melindungi putra, putri, serta anak didik kita untuk tidak melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala sekecil apa pun. Jangan meremehkan dosa dan pelanggaran tersebut. Jangan suka memberi atau membuat-buat alasan untuk mereka. Misalnya, anak masih kecil dan belum dikenai dosa, anak tidak boleh dipaksa dan terlalu ditekan, atau alasan-alasan yang lain.

Saudaraku, dosa adalah masalah besar, kita tidak boleh berkompromi dengannya. Kita wajib melakukan pengingkaran terhadap dosa siapa pun yang mengerjakannya dan bagaimana pun bentuk dosa tersebut, besar atau kecil.

 

Pelajaran kedua

 إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; dan apabila kamu minta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa manusia selalu memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia. Di sinilah letak pendidikan akidah, yaitu menggantungkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dalam urusan kecil dan yang besar, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang akan memberikan kecukupan kepadanya.” (ath-Thalaq: 3)

Apabila seseorang cenderung kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala ketika membutuhkan sesuatu walaupun kecenderungan itu hanya dalam hati dan angan-angannya, seukuran itu pula dia berpaling dari Rabbnya kepada makhluk yang tidak mampu memberi mudharat dan manfaat.

Apabila engkau menginginkan bantuan, janganlah kamu memintanya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, di Tangan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang menolongmu apabila Dia menghendaki. Apabila engkau mengikhlaskan diri dalam meminta pertolongan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, niscaya Dia akan menolongmu. Apabila engkau meminta pertolongan kepada makhluk dan dia mampu, yakinilah bahwa itu semua sebagai sebab, dan Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang telah menundukkannya untukmu. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 225)

 

Pelajaran ketiga

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah jika umat ini bersatu atau sepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup memberikan manfaat kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah untukmu. Apabila mereka bersepakat untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak sanggup melakukannya kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah atasmu.

Dari sini kita ketahui bahwa manfaat yang kita rasakan dari uluran tangan makhluk sesungguhnya bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dialah yang telah menentukan hal itu untukmu. Selain itu, kita dianjurkan menyandarkan semua urusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tahu bahwa manusia tidak akan bisa memberikan satu kebaikan kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, apabila engkau mendapatkan suatu bahaya dari seseorang, sadarilah bahwa itu adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Oleh karena itu, hendaknya engkau ridha dengan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan keputusan-Nya.

Tidak mengapa pula engkau menolak sesuatu yang membahayakanmu, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

“Imbalan kejelakan itu adalah kejelekan yang serupa.” (Syarah Arbain Nawawiyyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 228)

 

Pelajaran keempat

رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Telah terangkat pena dan dan telah kering lembaran-lembaran.

Segala ketentuan dalam hidup ini sudah terangkum dalam catatan takdir dan telah selesai ditulis. Lembaran catatan sudah mengering dan tidak akan ada lagi perubahan dan kesalahan setelahnya. Semuanya berjalan di atas kepastian dan apa yang telah dicatat.

Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan takdir sebagai rukun iman yang keenam. Merugilah orang-orang yang menentangnya dan tidak memercayainya.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Dana Sedekah Tidak Jadi Dipakai

DIBERI DANA UNTUK BEROBAT, TIDAK JADI DIGUNAKAN

 Seseorang mengurusi orang sakit yang harus berobat ke luar negeri. Dia diberi dana 9.000 real untuk transportasi, biaya berobat, dan ongkos bagi pendampingnya. Akan tetapi, si sakit sudah meninggal sebelum sempat pergi berobat. Pertanyaannya, apa yang harus dia perbuat terhadap dana tersebut?

 Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Apabila urusannya seperti yang disebutkan oleh penanya dalam pertanyaan bahwa dana tersebut diberikan kepada si sakit untuk berobat ke luar negeri, namun dia meninggal sebelum sempat pergi berobat; orang tersebut harus mengembalikannya kepada pihak yang memberi.

Sebab, dana itu sudah tidak mungkin digunakan sebagaimana tujuan semula.Dia tidak boleh mengambil dana itu sedikit pun karena sama sekali tidak berhak atasnya.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Sulaiman bin Mani’

(Fatawa al-Lajnah 25/100, fatwa no. 505)

Tanya Jawab Ringkas Edisi 97 (1)

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Daging Akikah untuk Orang Kafir

Apakah kita boleh memberikan daging akikah kepada saudara kita yang bukan muslim?

08522xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan niat untuk hadiah atau melembutkan hati mereka. Begitu pula daging hewan kurban. Jadi, akikah dan hewan kurban sebagian menjadi sedekah untuk fakir miskin, sebagian menjadi hadiah untuk orang kaya, termasuk di dalamnya orang yang kafir.

 

Kuas Sisir

Semir Rambut Hitam Kecoklatan

Bolehkah menyemir rambut dengan warna coklat kehitaman karena rambut sudah mulai memutih? Ini atas permintaan suami agar terlihat lebih muda.

081327xxxxxx

  • Jawaban:

Dalam Islam rambut yang memutih karena uban disunnahkan untuk disemir, tetapi dilarang memakai warna hitam. Selama bukan warna hitam, diperbolehkan baik untuk laki-laki maupun perempuan.

 

Sandal Wanita

Wanita Shalat Memakai Sendal

Apakah shalat memakai sendal hukumnya sunnah? Jika wanita sesekali tidak memakai sendal, apakah bisa dihukumi seperti Yahudi?

08539xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena hukumnya sunnah. Yang tidak melakukannya tidak mendapatkan dosa, apalagi dihukumi seperti Yahudi. Yang dinasihatkan ketika hendak shalat menggunakan sendal adalah mempertimbangkan maslahat dan muadarat dalam pandangan masyarakat umum.

 

Derajat Hadits Tentang Talak

Bagaimana kedudukan hadits, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak”?

08781xxxxxxx

  • Jawaban:

Hadits ini mursal, termasuk riwayat mursal Muharib bin Ditsar. Mursal termasuk golongan hadits dhaif.

 

Berlepas Diri dari Hizbiyah

Apakah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya berkonsekuensi bahwa saya juga harus berlepas diri dari mereka yang berdakwah tentang agama, namun dalam wadah atau kelompok baru yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Abu Abdillah—Lampung

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Benar, itu temasuk konsekuensi tauhid kita. Kita harus berlepas diri dari kaum musyrikin dan kesyirikan serta dari kebid’ahan dan ahli bid’ah.

koko-batik-biru

Shalat Memakai Pakaian Bermotif

Bagaimana hukumnya memakai pakaian, seperti sarung, songkok, jubah, gamis yang bermotif/tidak polos dalam shalat?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama motifnya tidak ramai dan tidak mengganggu orang yang shalat, tidak mengapa. Afdalnya memakai yang polos sehingga tidak menganggu pandangan orang yang shalat.

 

Partai Politik = Ashabiyah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bukan dari golongan kami, orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan).” (HR. Abu Dawud)

Apakah orang-orang yang masuk ke partai politik tertentu dan mengampanyekan partainya termasuk dalam hadits ini?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya. Semua riwayat yang melarang kita dari ashabiyah maka termasuk di antaranya adalah partai-partai politik yang ada ini.

kaus-kaki-pria

Kaos Kaki Tinggi = Musbil?

Jika seseorang memakai celana sampai setengah betis kemudian memakai kaos kaki tinggi, apakah termasuk musbil?

08154xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena menggunakan kaos kaki diperbolehkan. Selain itu, diperbolehkan pula menggunakan khuf (sepatu yang menutupi mata kaki). Yang dilarang adalah yang dari atas, baik itu celana, sarung, jubah, maupun gamis.

 

Antara Umrah & Membantu Orang Miskin

Saya pelanggan Majalah Asy Syariah ingin bertanya. Sekarang ada fenomena adanya ibadah umrah. Yang saya tanyakan, lebih penting mana antara menjalankan ibadah umrah sementara di sekitar kita, bahkan mungkin saudara di sekitar kita, masih banyak yang hidup miskin?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Dikerjakan dua-duanya. Kita sisihkan uang untuk membantu orang lain yang membutuhkan, di sisi lain kita juga melakukan umrah. Ringkasnya, ibadah umrah sangat besar keutamaannya dan tidak bertentangan dengan ibadah sedekah.

 

Perempuan Mendakwahi Lelaki

Bolehkah seorang perempuan mendakwahi laki-laki? Sebab, wanita tersebut lebih berilmu dan tidak tahan dengan kemungkaran yang dilakukan oleh si lelaki.

08967xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan syarat aman dari fitnah (godaan) dan dengan cara yang hikmah.

 

Orang Tua Ingin Anak Belajar ke Luar Negeri

Orang tua saya menyuruh saya untuk belajar di Yaman bersama para ulama. Namun, saya merasa belum pantas untuk pergi ke sana karena ilmu saya yang masih sedikit dan umur saya masih 17 tahun. Saya masih merasa takut apabila pergi terlalu jauh. Apa nasihat ustadz, sikap terbaik yang harus saya lakukan?

08237xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika menunda keberangkatan dalam rangka memperdalam ilmu yang dirasa penting sehingga lebih mudah ketika belajar di Yaman, itu alasan yang tepat. Akan tetapi, jika ketidaksiapan tersebut karena takut, alasan itu kurang tepat. Sebab, keberangkatan biasanya bersama teman-teman dari Indonesia.

Di Yaman juga sudah ada teman-teman dari Indonesia yang akan membagikan pengalaman kepada kita. Kuatkan hati, azamkan tekad, ambil kesempatan ini sebelum hilang.

 

Wanita Memakai Sendal Lelaki

Wanita memakai sendal seperti laki-laki, apakah itu termasuk tasyabuh?

08579xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika sendal tersebut khusus laki-laki, tidak boleh. Jika bukan sendal khusus laki-laki, boleh. Tasyabuh tidak hanya terjadi dalam hal pakaian, tetapi dalam hal yang lain pula.

 

Suami Merantau, Istri Menyuruh Pulang

Apakah seorang istri berdosa menyuruh suaminya pulang apabila suami tersebut tidak bekerja di rantau. Suami masih menunggu mendapatkan pekerjaan.

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Hal ini kembali terserah kerelaan istri. Jika istri meridhai suami tidak pulang, tidak masalah berada di rantauan. Jika tidak rela, hal itu tidak boleh. Sebab, istri punya hak terhadap suaminya. Jika dalam kondisi yang demikian istri meminta suami pulang, suami harus pulang. Demikian juga ketika suami menimba ilmu agama dan istri memintanya pulang, suami harus pulang. Sebab, itu adalah hak istri.

 

Menasihati Murid di Depan Umum

Apakah boleh seorang pengajar menasihati murid di hadapan orang banyak, seperti di majlis taklim umum? Padahal murid itu tidak senang dengan yang seperti itu, walaupun memang dia bersalah.

08236xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal menasihati seseorang adalah secara sembunyi-sembunyi, bukan di forum umum karena akan menimbulkan banyak mudarat, timbul kesan mencerca, melecehkan, dan menghina. Akan tetapi, dikecualikan (dibolehkan) jika nasihat tersebut menggunakan bahasa yang umum (tidak menunjuk orang tertentu) sehingga bermanfaat bagi semua pihak. Demikian pula ketika menasihati di depan umum memiliki maslahat yang besar.

 

Makanan Orang Kafir

Tiap daerah ada makanan khasnya, gudeg khasnya Yogya; empek-empek khasnya Palembang; rujak cingur khasnya Surabaya, dst. Demikian pula di negara kafir Eropa dan Amerika ada makanan khas masing-masing, spaghetti, makaroni, dan pizza khas Italia; hotdog, hamburger, dan fried chicken khas USA, dst. Demikian halnya di negara kafir Asia punya kekhasan, misalnya sukiyaki dan tenpura hana adalah khas Jepang.

Pertanyaan:

  1. Apakah memasak, membeli, dan mengonsumsi makanan khas negeri kafir tersebut adalah bentuk tasyabuh dan mendukung syiar mereka?
  2. Bagaimana dengan makan di restoran Pizza Hut, McDonald, KFC, dan semacamnya?

0815xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal makanan adalah halal kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Selagi makanan itu halal maka boleh dikonsumsi, baik itu makanan yang dibuat oleh kaum muslimin maupun yang dibuat oleh orang kafir. Demikian pula makan di Pizza Hut dan yang semisalnya; jika makanan yang dimakan adalah makanan halal, tidak ada hal-hal yang negatif, diperbolehkan.

 

Mengaji di Tempat Kematian

Kami pelanggan Asy Syariah mau tanya, mengaji di tempat orang meninggal itu boleh atau tidak? Katanya untuk “sangu” orang yang meninggal. Apa pula hukumnya peringatan 7 hari sampai 1000 harinya orang yang meninggal.

08783xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua yang disebutkan dalam pertanyaan Anda tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Zikir Khusus Setelah Witir

Apakah ada zikir khusus setelah shalat sunnah witir?

08232xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada zikir tertentu setelah shalat sunnah. Yang ada zikir khusus adalah setelah shalat fardhu.

 

Makna Hadits Roh Ibarat Pasukan

Apa maksud hadits, “Roh-roh ibarat sebuah pasukan kokoh. Jika saling kenal, akan bertemu. Jika tidak mengenal, akan berpisah”? (HR. al-Bukhari)

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kecocokan hati kepada setiap roh. Roh orang baik akan mencari orang baik yang semisalnya. Roh orang yang jelek juga akan mencari yang jelek semisalnya. Ini adalah introspeksi bagi diri kita, siapa yang kita cintai? Jika kita mencintai orang saleh, patut disyukuri. Akan tetapi, kalau kita mencintai orang yang tidak baik, tandanya roh kita juga tidak baik; perlu segera diperbaiki.

 

Menabung Untuk Kurban

Bolehkah menabung untuk kurban? Bagaimana jika ada orang yang berkata, “Daripada menabung untuk kurban, lebih baik menabung untuk thalabul ilmi.”

08570xxxxxxx

  • Jawaban:

Keduanya boleh. Boleh menabung untuk kurban karena hukumnya sunnah muakkadah; dan boleh menabung untuk thalabul ilmi. Jadi, dua amalan tersebut tidak bertentangan. Kita bisa melakukan kedua-duanya.

 

Suara Manusia Menyerupai Musik

Tidak diragukan lagi bahwa alat musik hukumnya haram. Bagaimana hukumnya suara manusia yang menyerupai suara alat musik (misal acapella atau beatbox)?

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Sebaiknya ditinggalkan, karena suaranya adalah suara musik.

 

Masbuk Satu Rakaat

Bagaimana cara shalat makmum yang masbuk satu rakaat saat shalat Isya?

08526xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika maksudnya tertinggal satu rakaat, ketika imam salam dia bangkit menyelesaikan rakaat keempat sampai salam. Jika maksudnya tertinggal tiga rakaat, dia bangkit untuk rakaat kedua dan tasyahud awal, lalu melanjutkan rakaat ketiga dan keempat hingga salam.

 

Tobat Pemelihara Tuyul

Apa dosa seseorang yang memelihara tuyul masih bisa diampuni?

08773xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua dosa masih bisa bertobat darinya, asal bertobat dengan taubatan nasuha. Di antara cara tobat memelihara tuyul, dia melepaskan semua tuyul itu dan tidak ada lagi keterkaitan dengan tuyul-tuyul tersebut. Tinggalkan semua klenik yang selama ini dilakukan. Tinggalkan semua bentuk kesyirikan dan khurafat. Kembalilah kepada agama yang benar, bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan banyak beramal saleh.

 

Cara Berjamaah Dua Orang

Bagaimana tatacara shalat berjamaah dengan dua orang? Saya pernah membaca buku tuntunan shalat, jika berjamaah hanya dua orang, imam dan makmum berdiri berjajar. Akan tetapi, yang ada di masyarakat luas sekarang, imam berdiri di depan, makmum di belakangnya. Kalau seperti itu shalatnya mendapat pahala jamaah atau tidak?

08771xxxxxxx

  • Jawaban:

Yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam berdiri sejajar dengan makmum. Adapun imam di depan dan makmum di belakang, hal itu menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Definisi Ahlul Bait

Apa makna ahlul bait? Apa saja ketentuan-ketentuan ahlul bait? Apa yang harus dilakukan jika dia diberi suatu barang atau makanan?

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Ahlul bait adalah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah keluarga Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Aqil bin Abi Thalib, dan Harits bin Abi Thalib. Ahlul bait yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimuliakan karena dua alasan:

(1) di atas sunnah, dan

(2) keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika mereka termasuk ahli bid’ah, tidak dimuliakan. Ahlul bait tidak boleh memakan barang sedekah, tetapi boleh menerima dan memakan hadiah.

 

Tata Cara Azan

Apakah gugur syariat menengok ke arah kanan dan kiri ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘ala….” karena sekarang menggunakan pengeras suara?

08572xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, sebab itu adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tetap dikerjakan. Hikmahnya memang untuk mengeraskan suara.

 

Lafadz Azan Subuh

Apakah azan subuh hanya 1 kali, menggunakan lafadz ash-shalatu khairun min an-naum?

08125xxxxxxx

  • Jawaban:

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan, lafadz tersebut pada azan pertama, ada pula yang mengatakan pada azan kedua ketika masuk waktu subuh. Pendapat tersebut sama-sama kuat sehingga perlu dikaji. Pendapat yang dianggap kuat diamalkan, dengan tetap toleransi terhadap pendapat yang lain.

 

Antara Infak dan Sedekah

Mohon penjelasan antara infak dan sedekah, manakah yang lebih utama?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:

Infak ada yang sunnah dan wajib. Infak yang wajib contohnya menafkahi keluarga yang kita tanggung. Infak yang sunnah contohnya infak kepada fakir miskin. Sedekah ada yang wajib (zakat fitrah dan zakat mal) dan sedekah sunnah (sedekah kepada fakir miskin). Jadi, yang lebih afdal adalah yang wajib, kemudian yang sunnah setelahnya.

 

Tobat dari Dusta

Ustadz, bagaimana cara bertobat dari dosa dusta?

08586xxxxxxx

  • Jawaban:

Tinggalkan sifat dan akhlak berdusta, jangan lagi berdusta di kemudian hari. Gantilah dengan kejujuran.

 

Meminjam Uang di Bank

Apa hukum meminjam uang di bank untuk modal usaha?

08536xxxxxxx

  • Jawaban:

Meminjam uang di bank adalah riba, baik untuk usaha, menikah, atau apa pun; baik dalam bentuk rupiah, dolar, maupun mata uang lainnya.

 

Jam Warna Kuning

Apa boleh laki-laki memakai jam berwarna kuning tanpa mengandung emas?

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama bukan emas, diperbolehkan.

 

Syahwat Terhadap Wanita

Bagaimana cara menjaga diri dari syahwat terhadap wanita?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:
  1. Tundukkan pandangan.
  2. Cepat-cepat menikah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.

Keadaan Seorang Mukmin

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Manusia terdiri dari tiga golongan: mukmin, kafir, dan munafik. Orang mukmin, Allah Subhanahu wata’ala memperlakukan mereka sesuai dengan ketaatannya. Orang kafir, Allah Subhanahu wata’ala telah menghinakan mereka sebagaimana kalian lihat. Adapun orang munafik, mereka ada di sini, bersama kita di rumah-rumah,

jalan-jalan, dan pasar-pasar. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Demi Allah, mereka tidak mengenal Rabb mereka. Hitunglah amalan jelek mereka sebagai bentuk ingkar mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sungguh, tidaklah seorang mukmin memasuki waktu pagi melainkan dalam keadaan cemas, meski telah berbuat baik. Tidak pantas baginya selain demikian. Ia pun memasuki waktu sore dalam keadaan khawatir, meski telah berbuat baik. Sebab, dia berada di antara dua kekhawatiran:

• Dosa yang telah berlalu; dia tidak tahu apa yang akan Allah Subhanahu wata’ala lakukan terhadap dosanya (apakah diampuni atau tetap dibalasi dengan azab, -red.).

• Ajal yang tersisa (dalam hidupnya); dia tidak tahu kebinasaan apa saja yang akan menimpanya pada masa yang akan datang.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

Yang Terpenting, Selamatkan Diri Anda! : 10 Bahan Renungan

Renungan Keenam

Bisa jadi, seseorang merenungi nenek moyang atau para pendahulunya, lalu bersedih dan khawatir akan keselamatan dirinya di akhirat, karena keadaan mereka yang buruk. Bisa jadi pula, ia senang dan merasa bangga karena keadaan mereka yang baik. Janganlah demikian . Anda mempertanggungjawabkan amal Anda sendiri. Selamatkan diri Anda, itu yang terpenting.

Asy-Syaikh Abdurrahman al- Mu’allimi berkata, “Ingatlah selalu, yang terpenting bagi seseorang dan yang hendak dia pertanggungjawabkan kelak adalah keadaan dirinya sendiri. Tidak akan mencelakakan Anda—baik di sisi Allah Subhanahu wata’ala, di hadapan para ulama, tokoh agama, maupun para cendekia— apabila ada kekurangan pada guru Anda, pembimbing Anda, nenek moyang Anda, atau syaikh Anda. Para nabi saja tidak selamat dari kekurangan tersebut. Generasi paling afdal umat ini, yakni para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, nenek moyang mereka dahulu musyrik.

Padahal bisa jadi, nenek moyang Anda ada alasan dalam kekurangan itu, apabila memang mereka tidak diingatkan dalam kekurangan tersebut dan hujah pun belum tegak atas mereka. Anggaplah para pendahulu Anda berada dalam kesalahan yang tidak diampuni. Apabila Anda mengikuti dan fanatik terhadap mereka, hal itu tidak memberi manfaat kepada mereka sedikit pun. Hal itu justru sangat mencelakakan mereka, karena mereka akan ditimpa seukuran dosa yang menimpa Anda dan dosa orang yang mengikuti Anda dari kalangan anak-anak Anda dan pengikut pengikut Anda sampai hari kiamat.

Di samping tertimpa dosa Anda sendiri, Anda juga tertimpa dosa orang yang mengikuti Anda sampai hari kiamat. Tidakkah Anda memandang bahwa tindakan Anda kembali kepada kebenaran itu berarti kebaikan juga untuk para pendahulu Anda, bagaimanapun keadaan mereka?

Wallahul muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.