Makna Hadits Bukan Kefakiran yang Aku Khawatirkan

Pertanyaan:

Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, yang khawatirkan adalah dunia akan dibentangkan atas kalian…., dst.”

Apakah maknanya kita dilarang menjadi kaya?

Jawaban:

Hadis tersebut tidak menunjukkan tidak boleh menjadi kaya, tetapi menunjukkan:

Memang hadits tersebut juga mengandung keutamaan bersabar di atas kefakiran. Akan tetapi, tentunya berbeda antara tidak boleh kaya dan anjuran untuk bersabar di atas kefakiran.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Apabila Allah memberikan kekayaan kepada seseorang, dan dia menjadikan kekayaannya tersebut sebagai sarana untuk taat kepada Allah, dia menyalurkan hartanya pada jalan kebenaran dan fi sabilillah (di jalan Allah); dunia (kekayaan) menjadi baik baginya. Oleh karena itu, orang yang memiliki kekayaan dunia dan menginfakkan hartanya di jalan Allah dan keridhaan-Nya, merupakan orang kedua (yang boleh iri kepadanya), setelah orang alim yang Allah karuniai hikmah dan ilmu lantas dia ajarkan kepada manusia.” (Syarah Riyadhush Shalihin hlm. 588 terbitan ad-Dar al-Alamiyah)

Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas merujuk pada hadits,

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak ada (tidak boleh) hasad (iri) kecuali terhadap dua orang: (1) seorang yang Allah karuniai harta, kemudian dia habiskan hartanya tersebut dalam kebenaran, dan (2) seorang yang Allah karuniai hikmah (ilmu) kemudian dia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari no. 1409 dan Muslim no. 816 dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu. Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar dalam Shahih al-Bukhari no. 5025 dan Shahih Muslim no. 815)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata,

“Tentu ada perbedaan antara orang yang hidupnya fokus pada dunia lantas berpaling dari akhirat dan orang yang Allah karunai kekayaan lantas kekayaan tersebut menjadi sebab kebahagiaannya dan dia berinfak di jalan Allah.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201) (Syarah Riyadhush Shalihin hlm. 588 terbitan ad-Dar al-Alamiyah)

Sebagaimana yang kita ketahui, di antara sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam ada yang mendapat karunia berupa kekayaan, seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)