Tata Cara Sujud Sahwi

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara dan bacaan sujud sahwi yang benar? Saat sujud sahwi, apakah juga membaca bacaan duduk di antara dua sujud?

Jawaban:

Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud. Tata caranya sama dengan tata cara sujud dalam shalat, dari sisi cara duduk, bacaan, membaca takbir ketika hendak sujud dan ketika bangkit, kemudian diakhiri dengan salam.

Baca juga: Bacaan Duduk di Antara Dua Sujud Sahwi

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang tata cara sujud sahwi. Beliau menjawab,

“Sujud sahwi seperti halnya sujud shalat, dua kali sujud. Sama persis dengan sujud shalat.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, rekaman no. 343, pertanyaan no. 35)

Akan tetapi, sujud sahwi ada yang dilakukan sebelum salam dan ada yang dilakukan setelah salam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam karya beliau berjudul Risalah fi Sujud Sahwi secara makna sebagai berikut.

Sujud sahwi sebelum salam dilakukan pada dua keadaan.

  1. Apabila dia lupa sehingga melakukan pengurangan.

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengimami mereka shalat Zuhur. Tiba-tiba, setelah dua rakaat pertama beliau langsung berdiri, tidak duduk (tasyahud awal). Orang-orang pun ikut berdiri bersama beliau. Ketika sudah sempurna shalat, mereka menunggu beliau salam. Ternyata, beliau bertakbir dalam posisi duduk, kemudian sujud dua kali sebelum salam, lalu salam. (HR. al-Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570):

Baca juga: Imam Tidak Tasyahud Awal
  1. Apabila mengalami keraguan dan tidak bisa menetapkan mana yang lebih kuat dari dua keraguan tersebut.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalatnya sehingga tidak mengetahui berapa jumlah rakaatnya, tiga atau empat; hendaknya dia menyingkirkan keraguannya. Kemudian, dia melanjutkan shalatnya berdasarkan yang paling meyakinkan (yakni jumlah yang paling sedikit). Setelah itu, dia melakukan sujud dua kali sebelum salam. Kalau ternyata dia sudah shalat lima rakaat, sujud sahwi tersebut menjadi penggenapnya. Namun, jika dia ternyata shalat empat rakaat, sujud sahwi tersebut menjadi pukulan bagi setan.” (HR. Muslim)

Baca juga: Masbuk, Ragu Mendapat Rukuk Imam Ataukah Tidak

Adapun sujud sahwi setelah salam juga dilakukan pada dua keadaan.

  1. Apabila lupa sehingga dia melakukan penambahan.

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا، فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ؟ قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالُوا: صَلَّيْتَ خَمْسًا. فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur lima rakaat. Kemudian, ada yang bertanya, “Apakah shalatnya ditambah?” Beliau balik bertanya, “Memangnya ada apa?” Mereka menjawab, “Baginda telah shalat lima rakaat.” Kemudian, beliau sujud dua kali setelah salam. (HR. Muslim no 572)

Baca juga: Imam Menambah Rakaat Shalat, Apa yang Dilakukan Makmum?

Demikian juga ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lupa dalam shalat Zuhur sehingga salam pada rakaat kedua. Setelah diingatkan, beliau menyempurnakan kekurangan dua rakaat, kemudian salam. Selanjutnya, beliau melakukan sujud sahwi setelah salam. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu sahabat Hurairah radhiallahu anhu)

Penambahan yang terjadi pada kasus seperti ini ialah salam sebelum waktunya.

Baca juga: Menyadari Kesalahan dalam Shalat Setelah Salam
  1. Apabila dia mengalami keraguan, tetapi bisa menetapkan mana yang paling besar kemungkinannya.

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ

“Apabila salah seorang dari kalian ragu ketika shalat, hendaknya dia berusaha memperkirakan mana yang lebih kuat kemungkinannya. Setelah itu, sempurnakanlah. Selanjutnya, dia salam, kemudian melakukan sujud (sahwi) dua kali, kemudian salam.” (HR. al-Bukhari no. 401 dan Muslim, ini adalah lafaz al-Bukhari)

Baca juga: Jika Imam Sujud Sahwi Setelah Salam

Sebagai pelengkap rincian di atas, kami tambahkan bahwa Ibnu Abdil Bar dan al-Mawardi menukilkan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang sahnya sujud sahwi, di mana pun penempatannya. (Maksudnya, yang semestinya sebelum salam, tetapi dilakukan setelah salam; atau sebaliknya). Hanya saja, yang lebih utama ialah sebagaimana rincian di atas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)