Hamba-hamba Ar-Rahman

Surah al-Furqan adalah salah satu surah yang biasa kita baca atau bahkan kita hafal dari al-Qur’an yang mulia, kalam Rabbul Alamin.

Surah ini dinamakan al-Furqan yang bermakna pembeda (antara yang haq dengan yang batil) karena ayat pertama memuat kata tersebut,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

        “Mahasuci Dzat yang telah menurunkan al-Furqan (yakni al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi peringatan bagi segenap alam.” (al-Furqan: 1)

 

Saudariku muslimah…

Entah sudah berapa kali kita menamatkan bacaan surah tersebut bila mengkhatamkan al-Qur’an merupakan kebiasaan kita. Namun, adakah sesuatu yang kita dapat dari surah tersebut yang bisa menjadi bahan renungan?

Tentu saja, jawabannya, banyak sekali! Nah, kita ingin membicarakan salah satunya, yaitu ayat-ayat yang memuat sifat-sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang (ar-Rahman), yang selanjutnya kita sebut dengan ‘ibadurrahman.

Al-Allamah al-Muhaddits Imam aljarh wat ta’dil zaman ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga beliau dan memanjangkan usianya dalam berkhidmat kepada sunnah—pernah menyampaikan keterangan tentang ayat-ayat tersebut dalam beberapa majelis di rumah beliau pada Ramadhan 1430 H.

Terkesan dengan keterangan beliau, kami menyusun tulisan ini dengan berbekal sebuah kitab yang memuat keterangan beliau yang berjudul Nafahat al-Huda wa al-Iman min Majalis al-Qur’an (hlm. 437—449).

Bacalah terlebih dahulu surah al-Furqan ayat 63—76. Itulah ayat-ayat yang memuat sifat-sifat ‘ibadurrahman, akhlak mereka, dan interaksi mereka dengan Rabb mereka serta dengan sesama manusia.

 

Tawadhu dalam Berjalan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا

        “Dan hamba-hamba ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (al-Furqan: 63)

Berjalan dengan rendah hati yang mereka lakukan tumbuh dari sifat tawadhu’ kepada Allah ‘azza wa jalla. Sifat ini adalah satu sifat yang terpuji dalam agama ini, bahkan terpuji dalam seluruh ajaran agama terdahulu. Tengoklah salah satu wasiat Luqman kepada putranya terkait adab ini.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan angkuh (merasa besar diri/tinggi hati).” (Luqman:18)

Dalam surah al-Isra’, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak pula engkau bisa mencapai tingginya gunung-gunung.” (al-Isra’: 37)

Ayat ini menunjukkan Allah ‘azza wa jalla menghinakan orang yang angkuh yang merasa dirinya besar, “Siapa kamu hingga kamu merasa besar diri dan meremehkan orang lain? Bukankah kamu tidak bisa mencapai tingginya gunung-gunung?”

Adapun ‘ibadurrahman berjalan di atas bumi-Nya Allah ‘azza wa jalla ini dengan penuh tawadhu kepada Allah ‘azza wa jalla , menghinakan diri di hadapan-Nya ‘azza wa jalla, dan rendah hati kepada orang-orang beriman.

Mereka berjalan dengan tenang, penuh kesantunan, tanpa dibuat-buat, sebagaimana orang sombong berjalan dengan gaya yang dibuat-buat.

 

Tidak Membalas Kebodohan dengan Kebodohan

Karena sempurnanya akhlak dan mulianya jiwa mereka, mereka tidak membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada mereka dengan keburukan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣

“Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka (menujukan kepada mereka ucapan-ucapan buruk), mereka mengatakan, ‘salaman’ (perkataan yang baik).” (al-Furqan: 63)

Mereka menjaga lisan mereka dari dosa dan dari ucapan yang dapat mencacati kehormatan dan kemuliaan mereka dengan tidak membalas ucapan buruk dengan keburukan.

Sebab, melayani perkataan buruk dari orang-orang bodoh yang tidak paham kemuliaan jiwa, akan mencacati kemuliaan orang-orang yang cerdas. Walaupun orang-orang bodoh itu mencaci dan menujukan kata-kata keji kepada mereka, mereka justru membalasnya dengan akhlak yang tinggi berupa kesabaran, kelembutan, dan ucapan yang baik. Saat dicaci orang bodoh, sebagian orang yang mulia berkata, “Assalamu ‘alaikum.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥

        “Salamun ‘alaikum, kami tidak ingin bergaul (melayani) orang-orang jahil.” (al-Qashash: 55)

Janganlah engkau menjadi orang bodoh yang membalas cacian dengan cacian. Akan tetapi, tetaplah tenang dan sabar. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Balaslah (keburukan itu) dengan yang lebih baik. (Jika engkau berbuat demikian) engkau dapati orang yang tadinya antara engkau dan dia ada permusuhan, (di belakang hari) seolah-olah merupakan teman yang sangat setia. Sifat itu (membalas keburukan dengan kebaikan) tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Inilah akhlak yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kita. Dia menerangkan sifat-sifat kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya agar kita menirunya.

Ayat ke-63 dari surah al-Furqan di atas memuat dua interaksi yang dilakukan hamba: dengan Allah ‘azza wa jalla dan dengan sesama hamba Allah ‘azza wa jalla.

 

Menggunakan Sebagian Malamnya untuk Shalat

Ayat berikutnya (ayat 64) dalam surah al-Furqan khusus menyebutkan hubungan hamba dengan Rabbnya,

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤

        “Orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan banyak sujud dan berdiri.” (al-Furqan: 64)

Mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan qiyamul lail.

Bermalam untuk Rabb mereka’, bukanlah maknanya mereka shalat sepanjang malam, tetapi sebagian waktu malam, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa?

Karena syariat agama kita ini mudah dan ringan, tidak memberati pemeluknya. Islam adalah agama yang pertengahan antara sifat meremehkan dan sifat berlebih-lebihan.

Karena itulah, tatkala sebagian sahabat ingin membebani diri dengan ibadah tertentu, ada yang berkata, “Aku akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur.”

Yang lain berkata, “Aku akan selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.”

Yang satunya lagi berkata, “Aku akan fokus ibadah dan tidak akan menikah.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada mereka dengan menyatakan,

        مَا بَالُ أَقْوَامٌ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنّيِ أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa orang-orang itu mengatakan ini dan itu? Aku shalat dan aku juga tidur. Aku puasa dan aku juga berbuka. Aku pun menikahi banyak wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukanlah temasuk golonganku.” (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401 dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dan ini adalah lafadz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan puasa dan shalat yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla, dalam sabda beliau kepada Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma,

        أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يَوْمًا. وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari. Shalat (malam) yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah shalat Dawud ‘alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun shalat (setelahnya) selama dua pertiga malam dan tidur lagi (setelah shalat) seperenam malam (yang tersisa).” (HR. al-Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

 ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan penuh khusyuk. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

        “Sungguh, beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam mengerjakan shalat.” (al-Mukminun: 1—2)

Senantiasa Berdoa agar Dijauhkan dari Neraka

        ‘Ibadurrahman mengimani adanya surga dan neraka. Mereka yakin akan dahsyatnya azab neraka dan kesengsaraan para penghuninya, hingga mereka memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Doa yang mereka lantunkan,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥

        Dan orang-orang yang berdoa, “Wahai Rabb kami, palingkanlah dari kami (jauhkanlah) azab Janannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.” (al-Furqan: 65)

Orang-orang kafir akan diazab dalam neraka selama-lamanya. Azab itu senantiasa menyertai mereka. Mereka ingin rehat walau sebentar dari azab, namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tidak mati dalam neraka, namun hidup yang semestinya pun tidak. Mereka terus diazab sebagai balasan kekufuran mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, kesyirikan mereka, dan gelimang maksiat saat hidup di dunia.

Adapun hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang saat di dunia beriman kepada-Nya, beramal saleh, menjauhi perbuatan buruk dan tercela—terutama kekafiran—sembari memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari api neraka. Sebab, seseorang tidak bisa menjamin dirinya selamat dari azab, apa pun amalannya.

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa untuk dibaca pada akhir setiap shalat sebelum salam, baik shalat fardhu atau nafilah, sebagaimana yang tersampaikan lewat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الَحْمْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahhud akhir, hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (yaitu); dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

 ‘Ibadurrahman tidaklah teperdaya dan silau dengan iman, amal saleh, dan ibadah mereka yang banyak. Mereka juga tidak tertipu oleh qiyamul lail yang mereka lakukan hingga dengan percaya diri mengatakan, “Kami pantas masuk surga dengan kelebihan yang ada pada kami.” Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dungu, ahlul bid’ah dan kesesatan, yang merasa yakin masuk surga.

Becerminlah kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul, yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka tidak merasa aman dengan diri-diri

mereka.

Seorang tabi’in, Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan menimpa diri-diri mereka.”

Demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dia tidak merasa aman terhadap dirinya, tidak bangga diri dan membanggakan amalnya.

Kata al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Tidaklah khawatir dari kemunafikan, kecuali seorang mukmin. Tidak ada yang merasa aman dari tertimpa kemunafikan, kecuali seorang munafik.”

Sungguh, kita tidak merasa aman dengan diri kita.

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

        “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Perbanyaklah berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا

        “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan kalbu kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.” (Ali Imran: 8)

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan kalbu, tetap kokohkanlah kalbu kami di atas agama-Mu.”

Tidak ada jaminan bagi kita hingga bisa merasa aman dari azab. Siapa kita bila dibandingkan dengan sahabat mulia, Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Meski telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja Umar merasa takut akan nasibnya. Karena itu, menjelang wafatnya beliau berkata,

        وَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي طِلاَعَ الْأَرْضِ ذَهَبًا لَافْتَدَيْتُ بِهِ مْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ أَرَاهُ

“Demi Allah,seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya aku akan jadikan tebusanku dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”

Bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tidak takut, sementara azab neraka demikian pedih.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦

        “Sesungguhnya neraka itu sejelek-jelek tempat menetap dan tempat berdiam.” (al-Furqan: 66)

Apabila neraka merupakan tempat yang demikian buruk, jangan tanya tentang nasib penghuninya. Neraka adalah rumah abadi bagi orang-orang kafir, tempat azab yang pedih yang tidak sanggup kita bayangkan.

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

        “Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Di atasnya ada para malaikat (penyiksa) yang keras, kasar, dan kaku. Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jangan dikira api neraka sama dengan api di dunia. Api dunia hanyalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam (manusia) ini adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843, ini adalah lafadz riwayat Muslim)

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِي الصَّيْفِ. فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ

Neraka mengeluh kepada Rabbnya dengan berkata, “Duhai Rabbku, sebagian aku melahap sebagian yang lain.”

Allah pun mengizinkan neraka untuk bernapas dua kali; satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Panas yang sangat yang kalian dapatkan dan dingin yang sangat yang kalian dapatkan (itu dari napas neraka). (HR. al-Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 615 & 617, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢  كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ ٣٣

        “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seakan-akan bunga api yang terlontar itu berupa iringan unta yang berwarna kuning.” (al-Mursalat: 32—33)

Ya Allah, lindungi kami dari api neraka-Mu!

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menyembah Allah Tanpa Keteguhan

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan nikmat agung yang dianugerahkan-Nya kepada seorang hamba. Bagaimana tidak, sementara keimanan yang membuahkan amal saleh itu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Siapa yang mengerjakan amalsaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sungguh-sungguh Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh Kami akan beri balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang calon penghuni negeri kenikmatan nan abadi,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Keimanan menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Hanya saja, di antara manusia yang mengaku beriman ada yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di pinggir saja.

Bagaimanakah itu? Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini.

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١

        “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia mendapatkan kebaikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Namun, jika menimpanya suatu ujian/bencana, berbaliklah dia telungkup ke belakang. Dia menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Mujahid, Qatadah, dan pakar tafsir selain keduanya menjelaskan, “Orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dalam keraguan (tidak di atas keyakinan).”

Adapula yang menafsirkan bahwa orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala ibarat berada di tepi gunung. Orang yang berdiri di situ tentu tidak aman, dikhawatirkan dia akan jatuh. Dia masuk ke dalam agama ini pada pinggirnya saja, enggan masuk lebih dalam.

Orang tersebut dinyatakan dengan permisalan seperti ini karena orang tersebut bimbang dan goncang dalam agamanya, tidak mantap dan tenang. Dia tidak yakin akan janji dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia mendapatkan apa yang disenanginya, dia pun tetap pada posisinya. Bila tidak, dia segera mundur meninggalkan apa yang semula dia ada padanya. Orang seperti ini adalah seorang munafik.

Jika dalam Islam dia melihat ada kelapangan dan ketenangan, dia pun girang dan mangatakan kepada orang-orang beriman, “Aku bagian dari kalian. Aku bersama kalian.”

Namun, jika dia melihat dalam Islam ada kesempitan atau musibah, dia tidak bisa bersabar. Dia kembali kafir dan meninggalkan keadaannya yang semula.

Berbeda halnya dengan seorang mukmin yang hakiki. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas keyakinan dan bashirah/ilmu. Apapun yang diperoleh, dia tetap tenang, istiqamah di atas Islam, dan kokoh beribadah. (Mahasin at-Ta’wil, 6/294, Tafsir Ibni Katsir, 5/295, Fathu al-Qadir, 3/548—549, karya al-Imam asy-Syaukani, dan Tafsir al-Qur’an al-Aziz, 3/73—74, karya al-Imam Ibnu Abi Zamanin)

Orang yang memiliki sifat yang tersebut dalam ayat di atas tidaklah kokoh di dalam agama ini. Layaknya seseorang yang berada di pinggir pasukan yang sedang berlaga.

Dia merasa cukup berada di bagian paling belakang, bagian yang paling jauh dari musuh. Dia enggan maju ke tengah, apalagi ke depan. Jika dia merasa kemenangan akan diraih dan ghanimah akan berada dalam genggaman, dia pun tetap di posisinya. Sebaliknya, jika dia melihat pasukan akan kalah, dia pun kabur. Dia berbalik ke belakang, melarikan diri tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan duniawi seperti kelapangan hidup, kesehatan, beroleh keturunan, dan semua yang diidamkan di kehidupan dunia. (Rauhul Ma’ani, 9/564, karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi)

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas bahwa di antara manusia yang berislam ada yang lemah imannya. Iman belum masuk menyentuh kalbunya. Karena itu, ketika datang ujian, dia tidak bisa kokoh di atas iman. Bilamana dia mendapat kebaikan, berupa rezeki yang lancar dan tidak ditimpa sesuatu yang dibencinya, dia merasa tenang dengan kebaikan atau kesenangan tersebut, bukan tenang karena iman. Sebaliknya, apabila ditimpa ujian berupa keburukan atau kehilangan apa yang disenanginya, dia pun murtad dari agamanya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 534)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahihnya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Dahulu ada seseorang datang ke Madinah. Saat istrinya melahirkan anak lelaki dan kudanya beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang baik’. Namun, saat istrinya tidak juga melahirkan keturunan yang dinantikan dan kudanya tidak kunjung beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang buruk’.” (Shahih al-Bukhari no. 4742)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan riwayat yang sampai sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berkisah, “Dahulu ada orang-orang dari kalangan Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam. Saat kembali ke negeri mereka dan mendapati tahun turunnya hujan, tahun kesuburan, dan tahun bagusnya perkembangbiakan (hewan), mereka mengatakan, ‘Sungguh, agama kita ini adalah agama yang bagus’. Mereka pun tetap berpegang dengan agama Islam.

Ketika mereka mendapati tahun kekeringan, tahun buruknya perkembangbiakan, dan tahun paceklik, mereka berkata, ‘Tidak ada kebaikan pada agama kita ini’. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat di atas.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik yang jika penghidupan dunianya bagus, dia tegak di atas ibadah (tetap melakukannya). Namun, jika rusak dunianya (mendapat kesusahan), dia pun berubah, tidak seperti keadaan semula. Dia tidaklah mengerjakan ibadah terkecuali bila baik dunianya. Jika dia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, dan kesempitan, dia meninggalkan agamanya dan kembal i kepada kekafiran. (Tafsir Ibni Katsir, 5/296)

Orang yang seperti ini dalam hal beriman akan menuai kerugian. Dia rugi di dunia karena tidak berhasil mendapatkan hal yang diangankan. Padahal dia sudah menukar agamanya dengan kemurtadan, namun ternyata dia tidak mendapatkan dunia kecuali sekadar apa yang sudah ditetapkan sebagai bagiannya.

Adapun kerugian di akhirat berupa terhalang dari surga yang seluas langit dan bumi karena tempat tinggalnya telah diganti dengan neraka. Sungguh, orang ini berada pada puncak kesengsaraan dan kehinaan. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan, “Yang demikian itu adalah kerugian besar yang nyata.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/296 dan Taisir al-Karimir Rahman hlm. 593)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat tidaklah memiliki keyakinan. Sebab, keyakinan adalah tsabat (keteguhan) dan keimanan yang tidak ada keraguan sama sekali. Seakan-akan dia melihat hal yang gaib hadir di depan matanya.

Keyakinan seperti ini akan membuahkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan yakin dan tawakal, seseorang dapat mencapai tujuannya di dunia dan akhirat. Dia merasa tenteram dan hidup dengan tenang lagi bahagia karena yakin dengan seluruh berita Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Sebagai ibrah, lihatlah keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala ditimpa kesulitan yang besar karena dikepung pasukan sekutu dalam Perang Ahzab. Sekitar 10 ribu orang kafir Quraisy dan selain mereka mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum yang bertahan dalam kota Madinah. Sungguh, musibah dan goncangan yang sangat besar bagi orang-orang beriman kala itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkannya dalam ayat,

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١

        “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan mereka dengan goncangan yang sangat.” (al-Ahzab: 11)

Keadaan yang mencekam dan ketakutan sangat terasa sebagaimana digambarkan dalam ayat,

إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠

        “(Yaitu) tatkala mereka (musuh-musuh) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan kalbu kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.” (al-Ahzab: 10)

Bagaimanakah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum? Mereka tidak mundur, ragu, dan meninggalkan keimanan. Mereka justru semakin mantap dalam iman sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Hal itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan. (al-Ahzab: 22)

Bedakan dengan keadaan kaum munafik yang berpura-pura menampakkan keimanan sementara kalbu mereka menyimpan kekafiran. Bedakan pula dengan keadaan orang-orang yang beriman namun di hati mereka ada penyakit dan kurang keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka ini, Allah subhanahu wa ta’ala katakan,

          وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢

        Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Seakan-akan mereka meragukan janji Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan menjadikan Kisra (penguasa Persia), Kaisar (penguasa Romawi) dan penguasa Yaman bertekuk lutut. Batin mereka membisikkan, “Bagaimana bisa semua itu akan terwujud, sementara kita sekarang dikepung dan terkurung oleh musuh yang sebanyak ini?”

Saat datang ujian, orang yang kuat imannya tidak akan mundur dari keimanan. Imannya justru bertambah kuat. Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum?.

Sepulang mereka dari Perang Uhud, ada kabar bahwa orang-orang musyrikin Quraisy akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar untuk menghabisi penduduknya yang beriman. Sementara itu, kepenatan safar dan kepayahan perang belum hilang dari diri mereka, luka-luka belum pula sembuh. Apakah kemudian mereka gentar dan ragu?

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan mereka,

ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

        (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapatkan luka (dalam perang Uhud). Untuk orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengabarkan, “Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172—173)

Demikianlah keadaan seorang mukmin yang benar imannya. Semakin besar ujian menerpa, imannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin menebal. Sebab, dia percaya bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu datang bersama kesabaran; kelapangan itu ada bersama musibah; dan bersama kesulitan itu ada kemudahan yang pasti menyusul. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/371—372)

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Di mana posisi kita dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Baiknya Kalbu Baiknya Seluruh Jasad

Anda tentu pernah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah penggalan akhir dari sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Abdillah an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang awalnya berbicara tentang halal, haram, dan musytabihat (syubhat, tidak jelas halal haramnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa di dalam tubuh kita ada mudhghah, yaitu potongan daging yang ukurannya bisa dikunyah. Ukurannya kecil, namun kedudukannya besar. Dialah kalbu atau dalam bahasa kita jantung. Dalam ungkapan sehari-hari, sering disebut dengan istilah “hati”, meski sebenarnya jantung.

Jantung adalah organ yang vital bagi makhluk hidup. Di dalam jantung, Allah ‘azza wa jalla meletakkan pengaturan kemaslahatan yang diinginkan makhluk hidup. Anda dapati hewan dengan beragam jenisnya bisa mengetahui apa yang maslahat baginya. Ia dapat membedakan antara maslahat dan mudarat.

Adapun makhluk hidup yang bernama manusia, saya, Anda dan kita semua, Allah ‘azza wa jalla mengistimewakan dengan akal, yang Dia letakkan di jantung.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ

“Tidakkah mereka berjalan di muka bumi hingga mereka memiliki jantung-jantung yang dengannya mereka bisa berpikir (berakal) atau telinga yang dengannya mereka bisa mendengar?” (al-Hajj: 46) (Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, karya al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah, hlm. 30—31)

 

Bagaimanakah keterkaitan jantung dengan akal?

Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kita mengimani keterangan al-Qur’an bahwa akal terletak dalam jantung, meski kita tidak mengetahui bagaimana keterkaitannya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 134)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan seluruh tubuh tunduk patuh kepada jantung. Apa yang menetap di dalam jantung akan tampak pada pergerakan tubuh. Jika jantung tersebut baik, tubuh baik pula. Sebaliknya, apabila buruk, tubuh pun buruk. Sebab, jantung merupakan sumber gerakan tubuh dan keinginan jiwa. Jika jantung menginginkan hal yang baik, tubuh bergerak dengan pergerakan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Kesimpulannya, kata sebagian ulama, jantung seperti raja dan tubuh seperti rakyat. Adapula yang mengatakan, jantung adalah raja, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah tentaranya yang sangat patuh, mengikuti semua titah sang raja tanpa sedikit pun menyelisihinya.

Jantung bisa pula seperti sumber air, sementara tubuh adalah ladangnya. Atau ungkapan lain, jantung adalah tanah, sedangkan gerakan tubuh adalah tetumbuhan yang ada di atasnya.

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ

“Tanah yang baik akan keluar (tumbuh subur) tanam-tanamannya dengan izin Allah dan tanah yang jelek tidak bisa tumbuh (di atasnya) tumbuh-tumbuhan kecuali dalam keadaan merana.” (al-A’raf: 58)

Ada yang mengatakan, baiknya jantung bisa dicapai dengan lima hal:

  1. Membaca al-Qur’an dengan mentadabburinya,
  2. Mengosongkan perut (dengan banyak berpuasa),
  3. Shalat malam,
  4. Merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla ketika waktu sahur, dan
  5. Bermajelis dengan orang-orang salih.

Satu lagi sebagai pokoknya adalah memakan makanan yang halal. (al-Mu’in ‘ala Tafahhum al-Arba’in, al-Allamah Ibnul Mulaqqin rahimahullah, hlm. 126—127)

Hadits tentang kalbu alias jantung di atas mendorong agar kita memerhatikan kalbu kita lebih dari perhatian kita terhadap amalan anggota tubuh. Sebab, kalbu itulah poros amalan. Apa yang tersimpan dalam kalbu, itulah yang akan ditampakkan kelak pada hari kiamat.

أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ٩ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ١٠

“Maka apakah dia (manusia yang ingkar) tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan (ditampakkan) apa yang ada di dalam dada.” (al-‘Adiyat: 9—10)

إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجۡعِهِۦ لَقَادِرٞ ٨  يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩

“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya setelah mematikannya). Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (ath-Thariq: 8—9)

Karena itu, pesan untuk kita semua: bersihkanlah kalbu dari noda syirik, kotoran bid’ah, sampah maksiat, dan kerendahan akhlak.

Satu lagi yang perlu menjadi perhatian kita. Hadits ini memuat bantahan kepada para pelaku maksiat yang ketika dilarang dari maksiat mereka berkata, “Yang penting itu yang di sini!” sembari menunjuk dada mereka. Seperti perempuan yang tidak berhijab, ketika dinasihati untuk menutup aurat, dia berkata, “Bagi saya yang paling penting adalah menghijabi hati.”

Subhanallah! Memang benar, yang penting adalah apa yang ada di dalam dada, yaitu kalbu. Di dalamnyalah letak takwa. Akan tetapi, apabila kalbu bertakwa, niscaya akan tampak pengaruhnya pada amalan tubuh. Pastilah amalan tubuhnya pun berupa ketakwaan.

Bagaimana bisa seseorang yang tubuhnya dia bawa berbuat maksiat, tubuhnya tidak dihijabi dari pandangan yang bukan mahram, lalu berdalih, “Yang penting yang di dalam, yang penting hijab hati.” Wallahul musta’an. (Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 133—134)

Kalbu yang Sehat

Jika kalbu hamba sehat, tidak ada di dalamnya selain kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla, mencintai apa yang dicintai-Nya, takut kepada-Nya, dan takut apabila terjatuh dalam perbuatan yang dibenci-Nya, niscaya akan baik gerakan seluruh anggota tubuhnya.

Ini akan mengantarkan hamba untuk menjauhi seluruh yang diharamkan dan menjaga diri dari syubhat karena khawatir jatuh ke dalam yang haram.

Adapun kalbu yang rusak dan dikuasai oleh hawa nafsu, lantas mengikuti semua kesenangan jiwa walaupun dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla , niscaya akan rusak seluruh gerakan anggota tubuhnya. Disusul pula dengan melakukan seluruh maksiat, mendekati yang syubhat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.

Di sisi Allah ‘azza wa jalla kelak, tidak bermanfaat selain qalbun salim, kalbu yang sehat, sebagaimana firman-Nya,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Hari yang tidak bermanfaat padanya harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara: 88—89)

Maksudnya, kalbu yang selamat dari penyakit-penyakit dan seluruh hal yang dibenci. Kalbu yang tidak ada di dalamnya selain mahabbatullah (cinta kepada Allah ‘azza wa jalla), takut kepada-Nya, dan khawatir jatuh ke dalam urusan yang dapat menjauhkan dari Allah ‘azza wa jalla.

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah (mengenal Allah ‘azza wa jalla ), mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sebagai penutup, kita nukilkan ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berikut ini. Beliau rahimahullah menghikayatkan dirinya, “Tidaklah aku memandang mataku, tidaklah lisanku berucap, tidak pula tanganku menggenggam, dan tidaklah kakiku melangkah, hingga aku memikirkan, apakah ini di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah di atas maksiat? Jika untuk ketaatan, aku lakukan. Jika ternyata untuk maksiat, aku mundur, tidak jadi melanjutkannya.”

Masya Allah! Saya, Anda, dan kita semua, bagaimana?

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah tergolong orang yang tatkala baik kalbunya dan tidak menyisakan keinginan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, akan baiklah anggota tubuhnya yang lain. Anggota badannya tersebut tidak bergerak kecuali karena Allah ‘azza wa jalla, untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya. Wallahu a’lam. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, hlm. 119—121)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 

Jangan Dekati Zina!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penyampai risalah dari langit, pernah bersabda,

        إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Mahacemburu. Cemburunya Allah subhanahu wa ta’ala adalah apabila seseorang (dari hamba-Nya) melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan atasnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Manusia yang paling tahu tentang Sang Rabb ini memberitakan bahwa Dia Yang Mahasuci memiliki sifat cemburu sebagai suatu sifat yang hakiki bagi-Nya. Jangan merasa heran apabila Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan sifat ini! Apabila Anda heran, pastilah Anda sedang membayangkan cemburunya manusia.

Sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah sama dengan cemburu kita, para makhluk.

        لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia….” (asy-Syura: 11)

Cemburu Allah subhanahu wa ta’ala sangat agung dan mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai kewajiban. Dia mengharamkan atas mereka apa yang buruk, dan Dia menghalalkan apa yang baik dalam hukum-Nya.

Semua yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala pastilah baik bagi kita untuk agama dan dunia kita. Itu pastilah baik bagi kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sebaliknya, yang diharamkan-Nya pastilah buruk bagi kita untuk semuanya; agama, dunia, waktu sekarang, dan masa yang akan datang.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengharamkan sesuatu lantas masih saja seorang hamba melakukannya, Dia subhanahu wa ta’ala cemburu. Mengapa si hamba berbuat demikian padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya demi kemaslahatan si hamba?

Allah subhanahu wa ta’ala sendiri tidaklah termudaratkan dengan maksiat si hamba, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tidak beroleh manfaat dari ketaatan hamba.

Lantas, mengapa Allah subhanahu wa ta’ala cemburu?

Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Penyayang. Dia tidaklah melarang hamba-Nya dari sesuatu karena kikir terhadap mereka, tetapi demi kemaslahatan mereka.

Kemudian datanglah hamba yang lancang. Dengan kebodohan dan hawa nafsunya, dia terjang larangan Sang Khaliq. Dia lampaui batasan yang ditetapkan ar-Rahman. Dia bermaksiat kepada Rabbnya yang sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala cemburu karenanya.

 

Allah Cemburu Bila Hamba-Nya Berzina

Ada satu perbuatan haram yang dikaitkan secara khusus dengan sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ

“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa demikian? Karena zina adalah perbuatan yang keji, amat rendah, dan sangat buruk. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zina, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada zina[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Janganlah kalian mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (al-Isra: 32)

Apabila seorang hamba berzina, na’udzubillah, Allah subhanahu wa ta’ala sangat cemburu dan lebih besar kecemburuan-Nya daripada jika seorang hamba melakukan perbuatan haram selain zina. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/338—339)

 

Mut’ah=Zina

Anehnya, ada zina yang dilegalkan atas nama agama. Ya , mut’ah namanya. Boleh kita sebut kawin kontrak; kontraknya bisa setahun, sebulan, sepekan, bahkan semalam, na’udzubillah. Setelah itu berpisah begitu saja, tanpa ada pertanggungjawaban. Lantas bagaimana jika perempuan yang dimut’ah itu akhirnya hamil?

Ada juga yang tidak menetapkan waktu. Artinya sesukanya, kalau sudah bosan ya pisah, cari yang lain lagi, sebagaimana praktik mut’ah yang terdata dilakukan oleh mahasiswa di universitas tertentu yang terkena racun Syi’ah.

Pada praktiknya, mut’ah dilakukan tanpa wali, tanpa saksi, tanpa pemberitahuan kepada orang-orang (tidak disebarkan beritanya), tanpa memberitahu wali si perempuan, dan tidak ada hubungan waris-mewarisi antara kedua pihak. Jadi, bagaimana hakikatnya? Si perempuan hanyalah berstatus istri sewaan.

Masih ragu bahwa mut’ah adalah zina?

Memang benar, dahulu pernikahan dengan cara mut’ah ini pernah dibolehkan[2]. Akan tetapi, kebolehannya telah dihapus dan diharamkan sampai hari kiamat. Kaum yang gemar mengumbar hawa nafsu, hanya mengejar kesenangan perut dan kemaluan, justru melegalisasi zina dengan istilah mut’ah. Merekalah Syiah Rafidhah.

Menurut mereka, seseorang yang melakukan mut’ah memiliki keutamaan yang besar. Tiga kali bermut’ah ganjarannya akan dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sebaliknya, mereka mengklaim siapa yang tidak pernah bermut’ah, dia bukanlah seorang muslim, dan siapa yang tidak menerima mut’ah berarti dia kafir. (sebagaimana disebutkan dalam kitab pegangan Syi’ah: Man La Yahdhuruhu al-Faqih, ash-Shaduq al-Qummi 3/366, dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 33—34)

Mereka membolehkan lelaki bermut’ah tidak hanya dengan para gadis atau janda. Bahkan, boleh bermut’ah dengan istri orang dan yang afdal tanpa sepengetahuan suaminya. Inna lillahi…. (kitab Syi’ah Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 5/463, dinukil dalam Lillahi Tsumma lit Tarikh hlm. 41)

Dilegalkannya mut’ah atas nama agama di kalangan orang-orang Syi’ah Rafidhah di Iran, sampai menyeret kepada pembolehan i’aratul farj (menyewakan farji). Pembolehannya difatwakan oleh tokoh ulama mereka, seperti as-Sayyid Luthfullah ash-Shafi.

Bagaimana bentuk i’aratul farj ini? Seorang lelaki memberikan istri atau budak perempuannya kepada lelaki lain dan memperbolehkan si lelaki “berhubungan” dengan istrinya atau melakukan terhadap istrinya sekehendak si lelaki.

Apabila seorang suami hendak safar, dia menitipkan istrinya kepada lelaki tetangganya, temannya, atau siapa saja yang dipilihnya. Dia membolehkan lelaki tersebut melakukan apa saja terhadap istrinya selama dia safar. Tujuannya agar dia bisa tenang dalam safarnya dan tidak khawatir istrinya melakukan perzinaan selama dia tinggalkan. Lho!

Bentuk yang kedua, apabila suatu kaum atau keluarga kedatangan tamu dan mereka hendak memuliakan tamu tersebut, si tuan rumah meminjamkan istrinya kepada si tamu selama dia tinggal bersama mereka. Si tamu boleh melakukan apa saja terhadap si istri. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 46—47)

Apa hakikat dari semua itu kalau bukan zina? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas mengharamkan zina?!

 

Liwath Lebih Parah daripada Zina

Ada lagi yang lebih keji dari perbuatan zina yaitu liwath, perbuatan kaum Luth. Allah subhanahu wa ta’ala menukilkan ucapan Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya,

أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١

“Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang tidak ada seorang pun dari penghuni alam semesta ini yang mendahului kalian (melakukannya).

Sungguh, kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan syahwat kalian, bukannya mendatangi perempuan. Sungguh, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

Perhatikan ayat di atas! Perbuatan liwath disebut dengan fahisyah memakai alif lam (ma’rifah, yang berarti sudah tertentu), sedangkan zina dalam surat al-Isra ayat 32, disebut tanpa alim lam (nakirah, masih umum, tidak tertentu). Apa bedanya?

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Zina adalah satu fahisyah/perbuatan keji dan kotor dari sekian banyak perbuatan fahsiyah. Adapun liwath adalah fahisyah yang paling besar.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/339)

Ternyata, kaum liberal dan yang sebarisan dengan mereka sama suaranya dengan Syiah ketika menyerukan agar LGBT dilegalkan di negeri tercinta ini—semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan negeri ini.

Mengapa demikian? Syi’ah adalah penyuka liwath, “berhubungan” sesama lelaki, terutama dengan amrad (anak muda belia yang belum tumbuh jenggotnya). Hal ini telah difatwakan oleh kebanyakan ulama mereka, seperti as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. (Lihat Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 52—54)

Laa haula wa laa quwwata illa billah! Lengkap sudah kebejatan Syi’ah Rafidhah. Kalau mereka tidak mengaku Islam, tentu lebih ringan. Yang parah, mereka mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan kebejatan akhlak mereka sebagai ajaran Islam.

Mereka membawakan riwayat-riwayat palsu penuh kedustaan atas nama para imam ahlul bait terkait penyimpangan moral yang diabsahkan. Hakikatnya, mereka ingin menjatuhkan kehormatan imam-imam ahlul bait dengan riwayat yang dibuat-buat oleh para zindiq. Sebab, kerendahan akhlak dan penyimpangan moral nantinya akan dianggap sebagai seruan dan ajaran para imam.

Mengapa para hamba demikian lancang berbuat dosa?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan wasilah (sarana yang mengantarkan) kepada zina, seperti memandang lawan jenis yang bukan mahram, ikhtilath (campur baur) lelaki dan perempuan tanpa hijab, khalwat (berdua saja) lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dengan berjabat tangan misalnya, perempuan melembutkan suaranya saat berbicara dengan lelaki, perempuan keluar rumah bertabarruj, memakai wangi-wangian, dsb. Semua itu dalam rangka mencegah terjadinya zina.

[2] Silakan baca kembali Rubrik “Mengayuh Biduk” edisi ini yang membawakan sedikit riwayat tentang mut’ah.

Merasa Diawasi Allah

Muraqabah, sebuah kata yang asing bagi kita karena memang bukan berasal dari bahasa kita. Kata ini berasal dari bahasa Arab.

Lantas apa gerangan makna kata ini hingga kita bisa menjawab pertanyaan pada judul di atas?

Muraqabah memiliki dua sisi:

  1. Engkau selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, engkau selalu mawas diri, memerhatikan dirimu yang engkau sadar dirimu senantiasa diawasi oleh-Nya.
  2. Engkau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengawasimu, sebagaimana firman-Nya,

          وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab: 52)

Dengan muraqabah ini, engkau yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala tindak tandukmu, apakah itu ucapanmu, perbuatanmu, ataupun keyakinan yang tersembunyi dalam kalbumu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨  وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩

“Bertawakallah engkau kepada Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang Dia melihatmu ketika engkau berdiri (melakukan ibadah). Dan Dia melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 217—219)

Allah subhanahu wa ta’ala melihat apa yang engkau lakukan di tengah malam yang gulita saat tidak ada seorang pun melihat dirimu. Saat engkau berdiri untuk ibadah kepada-Nya, Dia tahu. Saat engkau sujud, Dia pun tahu.

Dengan muraqabah, engkau yakin Allah subhanahu wa ta’ala mendengar semua yang terucap oleh lisanmu. Karena itu, engkau jaga lisanmu agar tidak berucap kecuali kebenaran atau diam, sebagaimana bimbingan agung sang Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam.”

Dengan muraqabah, engkau jaga pandangan matamu agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan walau sembunyi-sembunyi. Sebab, engkau yakin dengan firman-Nya,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ ١٩

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersimpan dalam dada.” (Ghafir: 19)

Dengan muraqabah, engkau selalu memerhatikan kalbumu. Adakah di dalamnya penyakit yang harus dibasmi seperti syirik, riya, penyimpangan, iri dengki, benci, amarah, loyal kepada orang kafir, dan semisalnya, yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala ridhai?

Engkau selalu memerhatikan kalbumu dan berusaha memperbaikinya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.” (Qaf: 16)

Bagaimana pun rapatnya engkau menyimpannya, di sudut hatimu yang paling dalam, Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengetahuinya. Jangankan yang ada di kalbu, semua yang di bumi dan di langit, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia Yang Mahaagung berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٥

“Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit yang tersembunyi bagi-Nya.” (Ali Imran: 5)

Segala sesuatu yang di bumi dan di langit itu ada yang dirinci-Nya sebagaimana dalam ayat berikut,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩

“Di sisi-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, tidak pula biji dalam kegelapan bumi, tidak pula yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Apabila demikian keluasan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah setiap mukmin senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Dia takut kepada-Nya di saat sendirian, sebagaimana halnya takut kepada-Nya saat terang-terangan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah gaib dari hamba-hamba-Nya. Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (al-Hadid: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala bersama kita tentu bukan maknanya Dia di bumi, satu tempat dengan kita. Tidak sama sekali! Ini pemahaman yang sesat dan batil. Mahasuci Dia!

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala di atas segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman-Nya, di antaranya,

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

“Ar-Rahman beristiwa (tinggi) di atas Arsy.” (Thaha: 5)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ

“Dia Maha Memaksa di atas hamba-hamba-Nya.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (al-Baqarah: 255)

Allah subhanahu wa ta’ala tinggi dalam kedekatan-Nya dan dekat dalam ketinggian-Nya. Dzat Allah subhanahu wa ta’ala di atas sana, di atas seluruh makhluk-Nya, namun Dia senantiasa bersama para hamba-Nya karena ilmu-Nya meliputi mereka. Demikian pula pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, pengaturan-Nya, dan selainnya. Tidak ada yang lepas dari-Nya subhanahu wa ta’ala.

Barang siapa memiliki muraqabah ini, niscaya dia dapat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ihsan. Apa ihsan itu?

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan, beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa merasa melihat-Nya, (yakinlah) bahwa Dia melihatmu.”

Al-Ihsan adalah derajat yang paling tinggi dalam dienul Islam, setelah derajat al-islam (amaliah zahir) dan aliman (amaliah batin).

Maka dari itu, beribadahlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan derajat ihsan, seakanakan engkau melihat dan menyaksikan-Nya dengan mata kepala. Inilah ibadah karena berharap dan rindu kepada Dzat yang diibadahi (ibadah raghbah).

Jika tidak bisa demikian, turunlah kepada derajat yang kedua, yaitu meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihatmu dalam ibadahmu. Inilah ibadah karena takut kepada Dzat yang diibadahi (ibadah rahbah).

Dengan muraqabah, seorang hamba akan berupaya menjadi pribadi yang senantiasa bertakwa kepada Rabbnya, menjalankan semua yang diperintahkan karena berharap pahala dari-Nya dan menjauhi semua yang dilarang karena takut akan siksa dan azab-Nya. Dia bersegera menyambut seruan kebaikan dan meninggalkan ajakan kepada keburukan.

Kalau pun terjatuh dalam kejelekan, sebagai layaknya anak Adam, dia segera bangkit menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Rabbnya, bertobat dengan sebenarnya (taubatan nashuha), beristighfar, dan memperbanyak kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Ikutkanlah (susullah) keburukan dengan (perbuatan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan.”

Setelah penjelasan ini, sudahkah kita memahami apa itu muraqabah dan sudahkah kita memilikinya?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Kemurahan dan Keadilan-Mu, Ya Rabb!

Rabb kita ‘azza wa jalla, senantiasa mencurahkan kebaikan kepada para hamba. Dia selalu memberi dengan kemurahan dan keutamaan-Nya. Kalaupun tidak memberi, maka dengan keadilan-Nya.

Setiap hamba di muka bumi ini merasakan atsar dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, siapa pun dia, orang baik atau orang jahat, mukmin atau kafir.

Cobalah kita renungkan, setiap hamba bisa menghirup udara sepanjang hari, merasakan manfaat sinar matahari, beroleh rezeki, merasakan keamanan, menikmati kesehatan dan fisik yang kuat, dan sebagainya. Semua itu jelas pemberian-Nya, Dzat Yang Maha Pemurah.

Ada lagi nikmat lain yang dilimpahkan-Nya dalam hidup di dunia ini, namun hanya untuk hamba pilihan, seperti nikmat iman dan takwa, nikmat yakin akan Dia subhanahu wa ta’ala dan saat perjumpaan dengan-Nya.

Hadits berikut ini termasuk hadits yang menunjukkan besarnya keutamaan dan kemurahan Allah ‘azza wa jalla, di samping menunjukkan keadilan-Nya.

Abul Abbas Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berita yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala (hadits qudsi), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ.ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشَرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهُ اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya, Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan kejelekankejelekan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya[1],  “Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat niat baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat untuk berbuat baik lalu dia kerjakan, Allah subhanahu wa ta’ala catat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak. (Sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek, namun tidak dikerjakannya (dalam amal nyata), Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Apabila dia berniat jelek lalu dia lakukan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya satu kejelekan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kita selami kandungan hadits yang mulia di atas melalui keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah[2] berikut ini.

Pencatata shallallahu ‘alaihi wa sallam (kitabah) yang disebutkan dalam hadits mencakup dua makna,

  1. Kitabah sabiqah, yaitu pencatatan atau penulisan di al-Lauh al-Mahfuzh.

Di dalamnya, Allah subhanahu wa ta’ala mencatat segala sesuatu sebelum terjadinya sebagaimana firman-Nya,

وَكُلُّ صَغِيرٖ وَكَبِيرٖ مُّسۡتَطَرٌ ٥٣

 “Dan semua yang kecil dan yang besar tercatat.” (al-Qamar: 53)

Pencatatan di sini tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Kitabah lahiqah, adalah pencatatan yang dilakukan saat si hamba telah berbuat.

Amalnya dicatat untuknya sesuai dengan kandungan hikmah, keadilan, dan keutamaan.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bagaimana pencatatan tersebut. Seseorang yang ingin berbuat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, maka dia beroleh satu kebaikan. Misalnya, seseorang berniat mengerjakan shalat dhuha namun tidak jadi melakukannya. Dicatat untuk orang ini satu kebaikan.

Contoh lain, seseorang berniat membaca al-Qur’an namun tidak jadi melakukannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Mengapa demikian, padahal dia tidak jadi beramal?

Jawabannya adalah sungguh keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala itu luas. Niat dalam kalbu untuk berbuat baik teranggap sebagai kebaikan. Kalbu adalah tempat keinginan dan niat—yang baik dan yang buruk. Manakala kalbu ingin berbuat baik, hal tersebut terhitung satu kebaikan.

Apabila orang yang berniat benar-benar melakukan apa yang diniatkan kalbunya, dia ingin shalat witir dan dia benar-benar melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.

Bahkan, bisa dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat atau lebih, hingga berlipat-lipat yang tidak terhitung, sesuai dengan kadar keikhlasan, ketakwaan, dan mutaba’ah (pengikutan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manakala seseorang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ikhlas untuk-Nya semata, niscaya pahalanya lebih besar. Seseorang yang bersemangat mengikuti ajaran sunnah dalam beribadah, tentu ibadahnya sempurna dan beroleh pahala yang besar.

Adapun terkait dengan kejelekan yang diniatkan oleh jiwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa (sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek namun tidak dikerjakan (dalam amal nyata), Allah catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.

Sebagai contoh, seseorang berniat mencuri milik orang lain, namun kemudian dia ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Muncul rasa takut di hatinya. Dia pun meninggalkan niat mencuri tersebut. Orang ini mendapat satu kebaikan karena dia meninggalkan maksiat karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang perlu diperhatikan, apabila seseorang tidak jadi bermaksiat karena tidak mampu melakukannya, bukan karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak mendapatkan kebaikan. Dia tetap berdosa.

Misalnya, seseorang ingin mencuri, namun urung dilakukannya karena tenyata di tempat tersebut ada pengamanan ketat dari pihak sekuriti. Seandainya tidak ada sekuriti, niscaya dia akan menjalankan niatnya. Orang seperti ini tidak diberi pahala, justru dihukumi berdosa.

Kita ingat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu berikut ini.

       إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُوْلِ؟ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيْصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang muslim berhadapan dengan pedang masingmasing (untuk saling membunuh), si pembunuh dan yang terbunuh samasama di neraka.”

Abu Bakrah bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau si pembunuh yang di neraka (maka jelas), namun yang terbunuh juga di neraka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, (Dia di neraka) karena sungguh dia berambisi untuk membunuh lawannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Si terbunuh tidak jadi membunuh karena didahului oleh lawannya, sementara dia sangat berambisi untuk membunuh. Ini terbukti dengan pedang yang dibawanya dalam pertarungan.

Hanya saja, pedang lawannya terlebih dahulu menghabisi nyawanya. Meski niatnya tidak terlaksana, dia teranggap sebagai pelaku pembunuhan, sehingga dia dan pembunuhnya sama-sama di neraka.

Siapa yang berniat jelek dan dilakukannya, maka dicatat baginya satu kejelekan saja, tidak lebih. Hal ini berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Siapa yang berbuat satu kebaikan maka dia akan beroleh (pahala setara) sepuluh kebaikan dan siapa yang berbuat satu kejelekan maka dia tidaklah dibalas kecuali dengan satu kejelekan yang sebanding, dalam keadaan mereka tidaklah dizalimi.” (al-An’am: 160)

Duhai Rabbi, betapa penyayang Engkau, dan betapa zalim diri ini dengan tidak mensyukuri-Mu.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 [1] Yakni bagaimana penulisan tersebut.

[2] Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/46, hlm. 50—51.

Sabar yang Indah

“Sabar, ya?” demikian ucapan yang biasa kita dengar dari orang yang hendak menenangkan seseorang yang sedang emosi atau tengah dilanda duka. Sebenarnya apa hakikat sabar yang biasa terucap itu?

Menurut syariat, sabar adalah menahan diri dalam tiga urusan:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  2. Sabar dalam menjauhi apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala
  3. Sabar dalam menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang pahit.

Kita lihat satu per satu macam kesabaran di atas.

Sabar Menjalankan Ketaatan

Seorang insan harus bersabar ketika menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, ketaatan itu sebenarnya berat dan sulit bagi jiwa. Terkadang, berat pula bagi jasmani karena pada diri seseorang ada kelemahan dan kepayahan. Ibadah yang harus mengeluarkan harta juga berat, seperti mengeluarkan zakat dan berhaji.

Intinya, dalam ketaatan itu ada rasa berat bagi jiwa dan jasmani sehingga dibutuhkan kesabaran untuk menjalankannya.

Sabar Menjauhi Larangan

Seseorang harus menahan jiwanya dari berbuat maksiat. Sementara itu, jiwa itu ammarah bis su’, suka mengajak kepada kejelekan. Oleh karena itu, seorang insan harus membuat sabar jiwanya. Contoh hal yang diharamkan ialah berdusta, berkhianat, ghibah, memakan riba, mendengarkan musik, zina, mencuri, dan sebagainya.

Seseorang harus menahan jiwanya agar tidak melakukan semua itu. Dia harus berjuang untuk melawan ajakan berbuat haram dan mesti mengekang hawa nafsunya. Sabar di atas ketaatan lebih utama daripada sabar dalam menjauhi maksiat.

Sabar Menghadapi Takdir

Ketahuilah, ada dua macam takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang mengenai manusia: mula’imah dan mu’limah. Mula’imah adalah yang sesuai dengan keinginan dan menyenangkan seorang insan. Orang yang menerima takdir ini harus bersyukur. Syukur termasuk amal ketaatan. Dengan demikian, sabar dalam hal ini termasuk jenis kesabaran yang pertama.

Mu’limah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, pahit dirasakan. Seseorang diuji pada tubuh, harta, dan keluarganya. Dia harus bersabar menghadapi musibah tersebut dengan tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu berkeluh kesah, menampakkan marah atas musibah tersebut, apakah diucapkan dengan lisan, disimpan dalam kalbu, ataupun ditunjukkan dengan perbuatan anggota badan.

Tingkatan Manusia Menghadapi Musibah

Saat terjadi musibah, manusia berada di antara salah satu dari empat keadaan berikut.

 

  1. Dia murka atas musibah yang menimpanya.

Kemurkaan tersebut bisa terjadi dalam hati, terucap dengan lisan, atau diperbuat oleh anggota badan. Marah dengan kalbu terwujud dengan tersimpan dalam hatinya protes kepada Allah subhanahu wa ta’ala, marah, tidak terima, serasa ingin menuntut, menyalahkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan merasa dizalimi dengan musibah tersebut. Na’udzu billah.

Marah dengan lisan terwujud dengan terucap doa kejelekan untuk dirinya karena musibah tersebut, “Duhai, celaka aku!”, “Betapa sengsaranya diri ini!”, atau “Mengapa harus datang musibah ini?”

Marah dengan anggota tubuh, terwujud dengan menampar pipi, menarik-narik rambut, merobek baju, meraung-raung, berguling-guling di lantai sambil meratap, dan sebagainya.

Orang yang berbuat hal-hal seperti di atas kala musibah melandanya adalah  orang yang diharamkan mendapatkan pahala. Sudah pun tidak “sukses” dengan musibah tersebut, dia justru berdoa kejelekan untuk dirinya. Akhirnya, dia tertimpa dua musibah, yaitu musibah pada agamanya dengan marah tersebut dan musibah pada dunianya dengan ditimpa hal yang menyakitkan.

 

  1. Dia bersabar atas musibah tersebut.

Kesabaran ini dilakukan dengan menahan diri dari apa yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Sebenarnya dia benci dan tidak suka dengan musibah tersebut, tetapi dia menyabarkan dirinya. Lisannya ditahan agar tidak mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala. Anggota tubuhnya dikekang agar tidak berbuat sesuatu yang mendatangkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala. Di hatinya tidak ada prasangka yang buruk kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia sabar walau dia tidak suka dengan musibah tersebut.

Sabar yang seperti ini wajib dimiliki oleh setiap muslim saat menghadapi musibah.

 

  1. Ridha dengan musibah tersebut.

Dadanya merasa lapang dengan musibah yang menimpanya. Dia ridha sepenuhnya atas musibah, seakan-akan dia tidak tertimpa musibah.

 

  1. Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah yang menimpa.

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ditimpa apa yang tidak disenangi, beliau berucap,

الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas seluruh keadaan.”

Dia bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas pahala yang diterimanya karena musibah tersebut jauh lebih besar dari musibah itu sendiri.

Syukur merupakan tingkatan yang tertinggi. Hukumnya sunnah sebagaimana halnya tingkatan ketiga, yaitu ridha.

 

Sabar Hukumnya Wajib

Sebagaimana disebutkan bahwa sabar itu hukumnya wajib karena diperintahkan oleh agama ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam tanzil- Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian (dalam menjauhi apa yang Allah haramkan), perkuatlah kesabaran (dalam menjalani ketaatan kepada-Nya), dan perbanyaklah kebaikan serta terus meneruslah di atasnya….” (Ali ‘Imran: 200)

Musibah merupakan keniscayaan sebagai ujian kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)

Dengan ujian, akan tampak para pemenang dan nyata orang-orang yang kalah.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui (menampakkan) orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang bersabar di antara kalian.” (Muhammad: 31)

Pemenangnya adalah orang-orang yang bisa bersabar. Mereka dijanjikan akan beroleh pahala yang sangat besar tanpa perhitungan sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)

Itulah pahala berlipat ganda dari Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak mungkin manusia membilangnya. Bergembiralah orang-orang yang mau bersabar dengan kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus, yaitu kebersamaan-Nya dengan para hamba pilihan-Nya,

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 153)

Perlu diketahui, ma’iyatulah (kebersamaan Allah dengan hamba-Nya) ada dua macam.

  1. Kebersamaan yang umum (ma’iyah ‘ammah)

Kebersamaan yang umum ini mencakup seluruh hamba-Nya. Contohnya seperti tersebut dalam ayat,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٤

“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian dia beristiwa di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (al-Hadid: 4)

مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ

“Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempat. Dan tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang melainkan Dia yang keenamnya. Dan tidak pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.” (al-Mujadilah: 7)

Tidak ada satu makhluk pun kecuali Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya dengan ilmu-Nya, yang meliputi mendengar, menguasai, mengatur, dan melihat seorang hamba dari makna rububiyah-Nya.

 

  1. Kebersamaan yang khusus

Ini adalah kebersamaan yang berkonsekuensi pertolongan dan pengokohan dari-Nya. Ma’iyah ini khusus untuk para rasul dan pengikut mereka.

Contohnya ialah ayat yang mengabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bersama orang-orang yang bersabar. Seorang yang bersabar akan beroleh pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan dan membantunya hingga sempurna kesabarannya sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi kabar gembira kepada orang yang sabar. Siapakah mereka yang sabar itu?

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang beroleh pujian dari Rabb mereka (dipuji-puji di hadapan para malaikat) dan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Berikanlah kabar gembira, wahai Nabi dan orang-orang yang sampai kepadanya ayat ini. Berilah kabar gembira kepada orang yang sabar atas musibah yang menimpa, tidak menghadapinya dengan kemarahan tetapi dengan kesabaran. Lebih sempurna lagi dari itu adalah orang yang menghadapi musibah dengan perasaan ridha. Lebih sempurna lagi adalah yaitu menghadapinya dengan rasa syukur.

Karena itu, apabila Anda ingin menjadi hamba yang utama dan mendapat pahala tiada batas, jika Anda ditimpa suatu musibah yang membutuhkan kesabaran, bersabarlah dan tanggunglah semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dan ingatlah selalu,

أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Pertolongan itu bersama kesabaran. Kelapangan itu bersama musibah. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, tiada rugi Anda menyabar-nyabarkan diri.

(Faedah dari keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarhu Riyadhis Shalihin, Bab “ash-Shabr”, hlm. 89—99)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Untaian Doa yang Agung

Anda pernah mendengar atau bahkan mungkin telah menghapal dan mengamalkan doa berikut?

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.

Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami.

Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.

Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.

Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).

Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.

Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.

Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.

Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”

Untaian doa yang bermakna luar biasa, bukan? Coba Anda cermati baik-baik artinya. Sebuah doa ma’tsur (ada atsarnya) yang pernah dilantunkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian banyak doa yang lainnya.

Sahabat yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, menyampaikan kepada kita tentang pengamalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap doa di atas,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ، حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلآءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ

“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabat beliau.”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3502) dan al-Hakim (1/258).

At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini, “Hasan gharib”.

Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Hadits ini derajatnya sahih menurut al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’, dan al-Misykat.

Maksud ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap mengucapkan doa-doa di atas sebelum beliau berdiri meninggalkan majelis. Hanya sesekali beliau tidak membaca doa-doa tersebut.

Kandungan Doa

Coba kita tengok kalimat yang terkandung dalam doa di atas.

  1. Rasa takut yang menghalangi untuk berbuat maksiat

Dalam senandung doa yang agung di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dianugerahi khasyah, rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab, kalbu yang berperan sebagai pimpinan bagi tubuh[1] itu bila dipenuhi dengan khasyah. Kalbu akan mengekang anggota tubuh yang lain dari berbuat maksiat. “Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.”

Sebaliknya, kalbu yang kosong dari khasyah akan berselancar dalam maksiat. Tiada rasa takut yang mengekang dan tidak pula khawatir akan akibat yang akan diperoleh. Yang ada di benak hanyalah bagaimana memuaskan jiwa dengan hawa nafsu syahwatnya.

 

  1. Ketaatan yang bisa menyampaikan ke surga

Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam untaian doa indahnya, “Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.”

Surga adalah cita-cita tertinggi dan teragung setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah negeri asal yang dirindukan, tempat tinggal awal bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Surga dengan segala kenikmatannya tidaklah bisa dicapai dengan amalan ketaatan semata, karena amalan kita tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Amal kita terlalu sedikit nilainya untuk membeli surga. Bayangkan, kita beramal sedikit lagi ringan, sementara ganjaran yang disiapkan di surga demikian besar.

Satu contohnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Shalat dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim no. 1685)

Karena pahalanya yang sangat besar bersamaan dengan ringannya shalat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyatakan,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا

“Dua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada (perhiasan) dunia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1686)

Contoh lain adalah hadits tentang dilipatgandakannya amalan kebaikan sebagaimana disampaikan lewat sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya beliau menyatakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Barang siapa berkeinginan untuk berbuat satu kebaikan namun dia tidak melakukannya, niscaya Allah akan mencatat keinginan baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berkeinginan berbuat satu kebaikan lalu dia melakukannya, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan Allah akan melipatgandakannya) sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat yang sangat banyak… (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Amal ketaatan hanyalah sebab, adapun masuk surga bisa tercapai berkat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada si hamba. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati si hamba karena dia telah menempuh sebab untuk masuk ke surga-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun memasukkannya ke dalam surga.

Karena surga itu hanya dicapai dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala , seorang hamba tentu tidak layak merasa telah berbuat sesuatu yang besar dengan amalannya dan merasa pantas masuk surga karena telah beramal ini dan itu.

Sungguh, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun besarnya amalan ketaatan kita, tetap saja tidak sebanding dengan ganjaran yang diperoleh di surga. Allah subhanahu wa ta’ala memberi lebih banyak dan sangat banyak daripada apa yang kita lakukan.

 

  1. Keyakinan yang menjadikan semua musibah terasa ringan

Yang diminta selanjutnya adalah ‘keyakinan’. Yakinlah bahwa tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah bahwa tidaklah menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditetapkan-Nya dalam takdir-Nya.

Apa yang ditakdirkan-Nya tidak lepas dari hikmah dan maslahat bersamaan dengan adanya tambahan pahala untuk si hamba yang terkena musibah.

Dengan keyakinan seperti ini terasa mudahlah semua musibah dunia, dikarenakan yakin adanya balasan pahala. Si hamba yang yakin tidak menjadi gundah-gulana dengan apa yang menimpanya dan tidak pula terlalu bersedih.

Yang terucap dari lisannya saat menimpanya sesuatu yang tidak mengenakkan adalah kalimat yang syar’i ,

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menakdirkan dan apa saja yang Dia kehendaki Dia lakukan.”

Sebagaimana bimbingan Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih riwayat al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلَاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Jika sesuatu menimpamu (yang tidak kamu sukai atau tidak sesuai dengan keinginanmu), janganlah kamu katakan, “Seandainya aku melakukan itu, niscaya hasilnya akan begitu dan begitu.” Akan tetapi, katakanlah, “Qaddarullah wa masya’a fa’ala…”

 

  1. Indra dan kekuatan digunakan untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Pendengaran dan penglihatan dengan alatnya masing-masing merupakan nikmat yang besar yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba. Demikian pula kekuatan tubuh, apalagi bila digunakan untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk pendengaran, penglihatan, dan kekuatan tersebut,

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا

“Berikanlah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.”

Indra yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan tidak hanya telinga dan mata, tetapi dalam permohonan di atas keduanya disebutkan secara khusus tanpa menyebut indera yang lain, karena memang petunjuk-petunjuk yang menyampaikan kepada ma’rifatullah (mengenal Allah subhanahu wa ta’ala) dan mentauhidkan-Nya hanyalah dicapai lewat jalan keduanya (mata dan telinga).

Burhan/bukti yang nyata diperoleh dari ayat-ayat sam’iyah (wahyu berupa al-Qur’an dan as-Sunnah) dan dilakukan lewat jalan mendengar. Ayat-ayat yang dipancangkan di ufuk dan di jiwa-jiwa (ayat-ayat kauniyah berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala) diperoleh lewat penglihatan.

Menurut Ibnul Malik, permohonan tamattu’ (beroleh kenikmatan) dengan pendengaran dan penglihatan juga bermakna meminta agar keduanya tetap sehat (tidak rusak/mengalami cacat) sampai meninggal dunia.

Seorang hamba memohon tamattu’ dengan keduanya karena khawatir dirinya terjatuh pada jalan orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tutup kalbu mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan di atas pendengaran dan penglihatan mereka terdapat ghisyawah/penutup sebagaimana dalam ayat,

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka pun punya telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-Araf : 179)

Ketika dicapai ma’rifatullah lewat mata yang melihat dan telinga yang mendengar, tentu berkonsekuensi si hamba harus menegakkan ibadah kepada sang Rabb. Dia pun harus memohon kekuatan kepada sang Rabb agar memungkinkan baginya melaksanakan ibadah kepada-Nya, karena ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’.

Ath-Thibi berkata, “Yang dimaukan dengan kekuatan adalah kekuatan seluruh anggota tubuh dan indra, atau seluruhnya.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon,

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

“Jadikan (semua itu) pewaris bagi kami,yakni tetap ada pada kami sampai meninggal.

Kisah Al-Imam Al-Albani rahimahullah

Al-Imam al-Albani rahimahullah setelah membawakan hadits,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 tahun sampai 70 tahun, sedikit di antara mereka yang melampaui umur tersebut.”[2]

Ibnu Arafah berkata, “Aku termasuk yang sedikit tersebut.”

Beliau rahimahullah memberikan komentar terhadap ucapan Ibnu Arafah di atas, “Aku juga termasuk yang sedikit tersebut. Umurku telah melebih 84 tahun. Aku memohon kepada al-Maula (yakni Allah subhanahu wa ta’ala) agar termasuk orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun, sungguh. bersamaan dengan itu hampir-hampir aku mengangankan kematian, tatkala melihat kaum muslimin ditimpa musibah berupa penyimpangan dalam hal agama dan kehinaan yang turun kepada mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang rendah.

Akan tetapi, tentu amat jauh bagiku untuk mengangankan hal tersebut, sementara hadits Anas radhiallahu ‘anhu ada di hadapanku sejak aku masih muda remaja. Tidak pantas bagiku untuk mengatakan kecuali sebagaimana yang diperintah oleh Nabiku shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كاَنَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan ini baik bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian lebih baik bagiku.’[3]

Seraya berdoa dengan doa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku,

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keutamaan dengan mengabulkan permohonanku dan memberiku kenikmatan serta manfaat dengan seluruhnya (pendengaran, penglihatan dan kekuatan).

Sampai saat ini (sebelum beliau meninggal dunia –pent.) aku terus menerus diberi kemampuan untuk meneliti, mentahqiq, dan menulis dengan penuh semangat yang jarang ada yang menandinginya.

Aku tetap bisa mengerjakan shalat nafilah dengan berdiri. Aku menyetir mobil sendiri dengan jarak tempuh yang jauh, dengan laju kecepatan yang membuat sebagian orang-orang tercinta[4] menasihatiku untuk menguranginya.

Aku sampaikan hal ini sebagai bentuk pengamalan ayat,

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

(bukan untuk menyombongkan diri–pent.).

Aku berharap kepada al-Maula subhanahu wa ta’ala agar menambahkan kepadaku keutamaan-Nya; dan menjadikan semua itu sebagai pewaris dariku; mewafatkan aku dalam keadaan muslim, di atas sunnah yang aku telah menazarkan hidupku untuk sunnah dalam bentuk berdakwah dan menulis; agar menggabungkan aku bersama para syuhada dan shalihin. Mereka itulah adalah sebaik-baik teman. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Dinukil dari Fawaid wa ‘Ibar min Hayah al-Imam al-Albani, hlm. 287)

  1.  Tidak berbuat melampaui batas walau kepada orang yang menzalimi

Sebab, apabila melampaui batas berarti dia berpindah dari keadaan terzalimi menjadi orang yang zalim. Sementara itu, ada peringatan dalam hadits,

اتَّقُوْا الظًّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan demi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

  1. Ditolong dari musuh

Apa jadinya apabila Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan kita dengan musuh kita, tidak menolong kita?

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita, tidak akan ada yang dapat mengalahkan, sebagaimana firman-Nya,

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kalian, tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, apabila Allah menghinakan kalian (tidak menolong bahkan membiarkan kalian), siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya? Karena itu, hendaknya hanya kepada Allah-lah orang-orang beriman itu bertawakal.” (Ali ‘Imran: 160)

 

  1. Musibah tidak menimpa agama

Kebaikan agama adalah modal keselamatan di akhirat. Apa jadinya apabila modal tersebut rusak karena musibah yang menimpanya?

Karena itu, kita diajari untuk memohon kepada Rabb agar yang menimpa kita bukan musibah yang mengenai agama sehingga mengurangi, melunturkan, atau merusaknya. Di antara musibah dalam hal agama ialah penyimpangan dari al-haq, keyakinan yang buruk, memakan makanan yang haram, malas beribadah, dan semisalnya.

 

  1. Dunia tidak menjadi tujuan utama, prioritas tertinggi, dan puncak ilmu

Dunia dinamakan dunia karena dua sebab.

  • Karena keberadaan dunia mendahului akhirat

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ٤

“Akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang awal (dunia).” (adh-Dhuha: 4)

  • Karena dunia itu rendah, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan akhirat

Hal ini digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari al-Mustaurid ibnu Syaddad radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia berikut isinya.”

Tempat cambuk, tempat tongkat yang pendek lagi kecil, di surga nanti lebih baik daripada dunia berikut isinya dari awal sampai akhirnya. Itulah nilai dunia (tidak ada apa-apanya). (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 2/249)

Demikian rendahnya nilai dunia. Tidak sepantasnya dunia menjadi tujuan hidup, target utama, prioritas tertinggi, dan yang dipikirkan siang malam.

Karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon pertolongan Sang Khaliq agar mencari harta dan kedudukan tidak menjadi tujuan yang terbesar dalam kehidupan. Yang diminta ialah agar amalan akhirat dan mengejar keutamaannya menjadi tujuan yang utama dan terbesar.

Jangan pula, ya Allah, Engkau jadikan puncak ilmu kami adalah urusan dunia sehingga tidak ada yang kami tahu dan kami pikirkan kecuali urusan dunia. Justru yang kami mohon adalah Engkau jadikan kami memikirkan keadaan akhirat, mempelajari ilmu yang terkait dengan-Mu dan negeri akhirat.

 

  1. Tidak dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim

Jangan sampai kami dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim; atau jangan jadikan orang zalim sebagai pemimpin kami, karena seorang yang zalim tidak akan menyayangi rakyatnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Nukilan dari Tuhfah al-Ahwazi, kitab ad-Da’wah, bab 80 disertai tambahan yang banyak dari beberapa rujukan)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalbu (jantung),

ألآ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَ هِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam tubuh itu adalah segumpal daging. Jika baik daging tersebut, baik pula seluruh tubuh. Sebaliknya jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah kalbu. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat yang mulia an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhu)

[2] HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, al-Bazzar dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[3] Muttafaqun ‘alaih.

[4] Di antaranya ialah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (-ed.)

Dia Tidak Riya

Tentang Riya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberikan penjabaran, “Riya adalah seseorang beribadah kepada Rabbnya, tetapi dia membaguskan ibadahnya saat manusia melihatnya hingga mereka memujinya dengan berkata, ‘Alangkah rajinnya dia beribadah!’, ‘Bagusnya ibadahnya!’, dan pujian semisalnya.

Si pelaku riya menginginkan manusia memujinya karena ibadah yang dilakukannya, bukan ingin taqarrub atau mendekatkan diri kepada mereka dengan ibadah tersebut[1]. Dia menginginkan pujian dan penilaian baik dari manusia. Dia beramal untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi tidak ikhlas untuk-Nya.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 4/262)

Berbicara tentang hukum riya, ada dua perincian.

  1. Jika riya itu ringan atau sedikit, termasuk syirik ashghar/kecil.
  2. Jika riya tersebut banyak, sudah termasuk syirik akbar/besar.

Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari terjatuh ke dalamnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, condong kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan….” (al-Bayyinah: 5)

Ayat di atas menunjukkan, kita diperintah untuk ikhlas dalam beribadah. Kita shalat ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berpuasa ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berhaji ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Semuanya harus ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Senantiasa riya dalam beramal hanyalah perilaku munafik. Karena riyalah mereka beramal dari awal sampai akhir.

Adapun orang beriman, mereka beramal kebajikan karena Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi riya bisa mendatangi mereka di tengah-tengah amalan.

Selanjutnya, apakah mereka menghalau riya tersebut, membenci, dan berusaha menghilangkannya sehingga mereka selamat ataukah membiarkan dan ridha dengan riya tersebut sehingga rusaklah amalan mereka.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang beramal suatu amalan yang dia menyekutukan-Ku dengan yang lain dalam amalan tersebut, Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan amalannya tersebut’.” (HR. Muslim)

Hadits di atas adalah ancaman bagi orang yang berbuat riya dalam amalannya, yaitu amalannya tidak akan diterima.

Oleh karena itu, hendaknya kita  berhati-hati dan menjaga diri. Jangan sampai kita merasa telah beramal saleh, ternyata di akhirat kelak kita tidak beroleh apa-apa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, justru mendapat dosa karena amal kita dikotori oleh noda riya.

Satu hal pula yang perlu kita ingat, jangan sampai kita meninggalkan beribadah karena takut riya. Setan biasa mendatangi sebagian orang yang ingin beramal saleh lantas membisikkan,

“Jangan kamu bersedekah, kamu riya ‘kan?”

“Jangan baca al-Qur’an, nanti kamu riya.”

“Jangan shalat sunnah, nanti riya.”

“Sudah, tidak usah bantu orang itu, daripada kamu riya, lebih baik ditinggalkan.”

Mengapa setan membisikkan hal itu? Tujuannya adalah menghalangi manusia beramal saleh.

Karena itu, janganlah kita memberi kesempatan kepada setan. Tetaplah beramal, baik dalam bentuk bersedekah, membaca al-Qur’an, shalat, maupun lainnya, dengan tetap berusaha ikhlas lillahi ta’ala.

Jika setan datang menggoda untuk riya, tolaklah dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan berbuat seperti itu, setan akan mundur, bi idznillah.

Terkait dengan amalan ibadah, manusia memang dilingkupi dua hal.

  1. Sebelum dia melakukan ibadah, setan membisikan kepadanya agar dia mengurungkan ibadahnya, “Jangan kamu lakukan amal itu, nanti riya. Kamu ingin orang-orang melihatmu lalu memujimu ‘kan? Sudahlah, tinggalkan amal tersebut!”
  2. Saat dia mulai beribadah, setan datang lagi untuk menggodanya agar ibadahnya rusak sama sekali atau berkurang pahalanya.

Sebelum dan saat kita sedang beramal, setan pasti datang menggoda. Tolaklah bisikan setan tersebut. Mohonlah perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari gangguannya. Teruslah beramal dan jangan memutusnya.

Bahagia setelah Beramal     

Ketika seseorang telah selesai melakukan suatu amal ibadah, dia mendengar ada orang yang memuji dan menyanjungnya karena ibadah yang telah dilakukannya.

Jawabannya, tidak berbahaya. Sebab, ibadahnya sudah selesai ditunaikan dalam keadaan selamat dari riya. Adapun pujian manusia kepadanya setelahnya, hal tersebut adalah kabar gembira yang disegerakan untuknya asalkan ibadahnya benar-benar telah selesai ditunaikan.

Bagaimana pula jika seseorang setelah beribadah timbul rasa bahagia di hatinya dengan ibadahnya tersebut? Apakah rasa ini teranggap ujub yang membatalkan amalnya?

Jawabannya, tidak membatalkan ibadah yang telah dilakukannya, karena bukan ‘ujub.

‘Ujub adalah merasa kagum selesai beribadah. Dia merasa kagum dengan dirinya. Dia menganggap dirinya hebat. Dia merasa telah memberikan anugerah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadahnya tersebut sehingga merasa pantas mendapatkan kebaikan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Inilah ujub yang membatalkan amalan, na’udzu billah. Adapun orang yang ditanyakan di atas, tidaklah terbetik di hatinya perasaan tersebut. Dia hanyalah memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan merasa bahagia karena Allah subhanahu wa ta’ala memberinya taufik kepada kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan,

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمنُ.

“Siapa yang kebaikannya membahagiakannya dan kejelekannya menyusahkannya, dia adalah orang yang beriman.” (Dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6294)

Dianggap Riya, Ternyata Bukan

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ يُشْرَى الْمُؤْمِنِ

“Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal satu amalan kebaikan dan manusia memujinya atas amalan tersebut?”

Rasulullah menjawab, “Itu adalah penyegeraan berita gembira bagi si mukmin.” (HR. Muslim)

Hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ini menjadi dalil bagi masalah yang kita bawakan di atas tentang seseorang yang dipuji oleh manusia setelah dia beramal.

Gambaran hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ini adalah sebagai berikut. Ada seseorang beramal saleh untuk Allah subhanahu wa ta’ala tanpa memedul ikan apakah manus ia mengetahui amalannya atau tidak mengetahuinya, apakah manusia melihatnya atau tidak melihatnya, manusia mendengarnya atau tidak mendengarnya, sama sekali dia tidak peduli.

Yang ada dalam keinginannya adalah ikhlas beramal karena Allah subhanahu wa ta’ala semata. Setelah beramal, ada orang-orang yang membicarakan amalannya dan memujinya, seperti berkata, “Memang si Fulan itu muslim yang taat,” “Dia banyak melakukan ibadah.”Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, “Itu adalah penyegeraan berita gembira bagi si mukmin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tidak mengatakannya riya, tetapi berita gembira. Ya, pujian manusia tersebut adalah berita gembira bagi si mukmin yang telah beramal saleh.

Sebab, jika orang-orang yang beriman memuji seseorang (yang beriman juga) dengan kebaikan, mereka adalah saksi-saksi Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi-Nya.

Tatkala di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum lewat rombongan manusia yang mengusung sebuah jenazah, para sahabat radhiallahu ‘anhum memuji jenazah tersebut dengan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Pasti, pasti, pasti.”

Setelah itu, lewat rombongan lain yang membawa jenazah pula. Mereka menyebutnya dengan kejelekan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata yang sama,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Pasti, pasti, pasti.”

Ketika hal ini ditanyakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau menjawab,

مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ. أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ، أَنْتُمْ شُهََدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ، أَنْتُمْ شُهََدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ

“Jenazah yang kalian puji dengan kebaikan pasti masuk surga. Jenazah yang kalian sebut dengan kejelekan[2] pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ada dua pendapat ulama tentang makna hadits di atas.

  1. Pujian kebaikan untuk si jenazah diucapkan oleh orang-orang yang memiliki keutamaan.

Pujian mereka tidak mungkin mengada-ada. Artinya, memang sesuai dengan perbuatan si jenazah tatkala hidupnya. Jenazah tersebut termasuk penghuni surga. Jika ternyata amalan jenazah tersebut tidak sesuai dengan pujian yang ditujukan kepadanya, niscaya bukanlah dia yang dimaksudkan dalam hadits ini.

  1. Pendapat yang sahih lagi terpilih, hadits ini berlaku umum dan mutlak.

Maksudnya, setiap muslim yang meninggal dunia lalu Allah subhanahu wa ta’ala ilhamkan kepada kebanyakan manusia untuk memujinya, niscaya itu adalah dalil

bahwa muslim yang meninggal tersebut termasuk penghuni surga.

Sama saja, baik perbuatannya semasa hidup menunjukkan hal tersebut maupun tidak. Kalaupun perbuatan seorang muslim ketika hidupnya tidak menunjukkan dia pantas masuk surga, kita tidak boleh memastikan orang tersebut akan mendapat hukuman, karena dia tergantung pada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, apakah Dia berkehendak mengampuninya atau tidak[3].

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengilhamkan manusia untuk memujinya, kita mendapatkan bukti dengan hal tersebut bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan untuk mengampuninya. Dengan ini, tampaklah faedah pujian[4]. (al-Minhaj, 7/23)

Apa Bedanya dengan Riya?

Jelas berbeda. Orang yang riya beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia sehingga dalam niatnya ada kesyirikan yakni menyertakan yang lain bersama Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bangkit berdiri untuk shalat, di awal atau tengah shalat, dia ingin manusia melihat dan mengetahui shalatnya tersebut.

Dia berucap kebaikan, kalimah thayyibah keluar dari lisannya, membaca al-Qur’an, tetapi dia ingin manusia mendengar ucapannya tersebut dan memujinya karenanya. Ini adalah riya.

Adapun yang satu ini, niatnya ikhlas lillahi ta’ala, tidak terlintas di benaknya dia akan dipuji atau dicela oleh manusia. Namun, ternyata ada manusia yang mengetahui amalannya dan memujinya. Ini bukanlah riya, melainkan kabar gembira untuknya bahwa dia memang orang baik.

Sebab, siapa yang dipuji dengan kebaikan oleh manusia, dia pantas menjadi penghuni surga.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Jika tujuannya seperti ini, hukumnya syirik akbar.

[2] Bagaimana mengompromikan penyebutan kejelekan orang mati dalam hadits ini dengan hadits dalam Shahih al-Bukhari dan selainnya yang berisi larangan mencela orang mati?

Jawabannya, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Larangan mencela orang mati adalah pada selain munafik, orang kafir, dan orang yang menampakkan kefasikan atau kebid’ahan. Sebab, orang-orang yang dikecualikan ini tidaklah haram menyebutkan kejelekan mereka dalam rangka tahdzir/memperingatkan manusia agar tidak mengikuti jalan mereka, tidak meniru jejak mereka, dan tidak berakhlak seperti mereka.

Hadits ini dipahami bahwa jenazah yang disebut dengan kejelekan itu adalah jenazah yang terkenal dengan kemunafikan atau semisalnya sebagaimana disebutkan di atas.

Inilah jawaban yang benar tentang masalah ini, yang dengan tepat menggabungkan hadits ini dengan hadits lain yang berisi larangan mencela orang yang telah meninggal.” (al-Minhaj, 7/23)

[3] Hal ini terkait dengan dosa besar selain syirik.

Apabila orang yang meninggal tersebut belum sempat bertobat dari dosa besar selain syirik, menurut pendapat yang benar, orang tersebut di bawah kehendak Allah. Adapun jika dosa yang dilakukannya adalah kesyirikan dan dia belum bertobat, pastilah dia tidak diampuni berdasarkan nash al-Qur’an al-Karim.

[4] Sebab, kalau pujian kebaikan itu harus ditunjukkan oleh amalan si mayat ketika hidup dahulu, niscaya pujian tidak ada faedahnya.

Artinya, seseorang yang dahulunya ketika hidup baik, dia dipuji ataupun tidak, tetap akan beroleh balasan kebaikan. Sementara itu, dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menetapkan adanya faedah pujian tersebut bagi si jenazah dengan ucapan beliau, “Jenazah yang kalian puji dengan kebaikan pasti masuk surga. Jenazah yang kalian sebut dengan kejelekan pasti masuk neraka.

Terkait pujian terhadap mayat, al-Imam al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa pujian kebaikan untuk mayat dari sekumpulan muslimin yang jujur, minimal dua orang: dari tetangga si mayat atau orang yang dekat dengannya dan mengenalinya, yang memiliki kesalehan dan ilmu; menunjukkan si mayat pantas masuk surga dengan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, dengan dalil hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu di atas dan hadits yang lain.

Adapun ucapan sebagian orang kepada hadirin setelah shalat jenazah, “Apa yang kalian persaksikan terhadap si mayat? Persaksikanlah baginya kebaikan!” Hadirin menjawab, “Dia orang saleh,” “Dia termasuk orang baik.” Ini bukanlah yang dimaukan oleh hadits di atas. Perbuatan ini adalah bid’ah yang jelek. Sebab, dahulu salaf tidak pernah melakukannya.

Selain itu, mereka yang mempersaksikan demikian terhadap si mayat, umumnya tidak mengenali si mayat. Bahkan, terkadang mereka mempersaksikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka ketahui dari si mayat, karena semata-mata memenuhi harapan orang yang meminta persaksian agar mempersaksikan si mayat dengan kebaikan. Mereka menyangka, hal tersebut bermanfaat bagi si mayat.

Karena kebodohan mereka pula, persaksian yang bermanfaat hanyalah apabila yang dipersaksikan sesuai dengan kenyataan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyatakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki para malaikat yang berbicara lewat lisan Bani Adam tentang seseorang, apakah orang itu baik atau buruk.” (Ahkam al-Janaiz wa Bida’uha, hlm. 61-62

Jalan Menuju Kebahagian

Banyak jalan diciptakan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Lanjutkan membaca Jalan Menuju Kebahagian

Wasiat untuk Pendamba Surga

Kenikmatan surga luar biasa tak terbayangkan.

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kenikmatan yang menyenangkan pandangan mata….” (as-Sajdah: 17)

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bertitah tentang kenikmatan surga. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (kenikmatan yang) tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karena mengetahui nikmat yang sangat agung tersebut, setiap insan yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan percaya adanya hari akhir hendaknya menjadikan surga sebagai impian puncak dan cita-cita tertinggi.

Bagaimana tidak, surga adalah kenikmatan yang tidak ada duanya, kekal abadi, tiada pernah berakhir. Barang siapa masuk ke dalamnya, dia akan terus bersenang-senang dan tidak pernah keluar darinya. Barang siapa dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung karena selamat dari kengerian api neraka.

Apabila Anda, wahai muslimah, termasuk pendamba surga abadi, ada sebuah wasiat yang perlu Anda cermati. Wasiat ini disampaikan oleh sayyidul basyar, pemuka dan junjungan anak manusia, yang memiliki sifat pengasih penyayang kepada umatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]. Apakah wasiat tersebut?

Sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma meridhai beliau dan ayahnya, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمنُ باِللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya dalam keadaan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir saat kematian mendatanginya. Hendaklah dia berbuat kepada manusia apa yang dia suka untuk diperbuat terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

Dalam wasiat yang terangkum dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua sebab meraih kesuksesan hakiki—dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada hari akhir.
  2. Berbuat baik kepada manusia, dalam bentuk ucapan, perbuatan, harta, muamalah, dan sebagainya.

Dengan demikian, sebab pertama agar seseorang dimasukkan ke dalam surga mengandung penunaian terhadap hak Allah ‘azza wa jalla. Adapun sebab kedua mengandung penunaian hak sesama insan. (Bahjah Qulub al-Abrar, asy-Syaikh al-Allamah as-Sa’di, hlm. 218)

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla mencakup beriman akan wujud-Nya, beriman akan hak rububiyah-Nya[2], beriman akan uluhiyah-Nya[3], dan beriman akan nama dan sifat-Nya[4]. Apabila hilang salah satu dari empat pokok ini pada diri seorang hamba, niscaya cacatlah keimanannya kepada Allah ‘azza wa jalla. (Syarh Tsalatsah al-Ushul, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)

Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir mencakup tiga hal:

  • Mengimani adanya kebangkitan dari dalam kubur,
  • Mengimani adanya hisab atau perhitungan amalan dan balasannya, dan
  • Mengimani adanya surga dan neraka.

Termasuk dalam keimanan kepada hari akhir adalah memercayai seluruh kejadian setelah kematian, seperti adanya fitnah (ujian) kubur—pertanyaan dua malaikat kepada si mayat tentang tiga masalah—dan mengimani adanya nikmat dan azab kubur. (Syarh Tsalatsah al-Ushul)

Keimanan terhadap hari akhir ini berkonsekuensi seseorang beramal untuk “menyambut” hari tersebut. Tidaklah bermanfaat sekadar percaya tanpa dibarengi usaha.

Berbuat Baik kepada Manusia

Timbangan yang menjadi tolok ukur berbuat baik kepada manusia adalah lakukan kepada manusia apa yang Anda suka dilakukan kepada Anda.

Di sisi lain, tinggalkan semua kelakuan atau perbuatan kepada manusia yang Anda tidak suka apabila Anda diperlakukan demikian.

Semua yang Anda suka untuk diperbuat kepada Anda, maka lakukanlah kepada manusia. Sebaliknya, apa saja yang Anda tidak sukai untuk diperlakukan kepada Anda, jangan lakukan hal tersebut kepada manusia.

Abu Hamzah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, sahabat yang sejak berusia 10 tahun berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , menyampaikan sebuah hadits dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apabila ada sebuah kejelekan yang Anda tidak sukai jika menimpa Anda, tetapi Anda lakukan hal tersebut kepada manusia, berarti Anda telah menyianyiakan pokok yang agung ini.

Hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan wajibnya mencintai untuk saudara seiman apa yang kita sukai untuk diri kita. Sebab, ditiadakannya keimanan (yang sempurna) dari orang yang tidak sukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, menunjukkan bahwa hal tersebut hukumnya.

Selain itu, hadits di atas memperingatkan kita dari sifat hasad dan iri dengki kepada sesama saudara seiman. Sebab, orang yang hasad jelas tidak suka kebaikan diperoleh orang lain, dan justru menginginkan yang sebaliknya.

Apabila ada yang menganggap bahwa hal ini sulit, yakni beratnya mencintai kebaikan agar diperoleh orang lain, sebenarnya tidak demikian. Tidak ada kesulitan asalkan seseorang mau melatih jiwanya untuk berbuat demikian. Apabila sudah terlatih, dengan izin Allah ‘azza wa jalla akan mudah. Sebaliknya, apabila seseorang mengikuti keinginan jiwa dan hawa nafsunya, tentu akan sulit baginya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Fadhilatusy Syaikh al-Allamah Ibnu Utsaimin, hlm. 186—187)

Hasil dari menjalankan dua sebab di atas (iman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, serta mencintai kebaikan untuk manusia) tentulah sangat kita impikan. Sebab, itulah kesuksesan sejati. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ

“Siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah sukses/beruntung.” (Ali ‘Imran: 185)

Makna “zuhziha” (زُحۡزِحَ ) adalah didorong mundur. Sebab, neraka dikelilingi oleh syahwat yang jiwa sebenarnya condong kepadanya. Jiwa ini sebenarnya sangat suka dan menyenanginya. Hampir-hampir seorang insan tidaklah berpaling dari syahwat ini kecuali karena didorong mundur agar menjauhinya. Allah ‘azza wa jalla mengatakan,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ

Maknanya, dia didorong mundur agar menjauh dari neraka.

Dia pun kemudian dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, dia meraih kesuksesan, selamat dari apa yang ditakuti dan mendapat apa yang dicari. (Tafsir al-Qur’an al-Karim, al-‘Allamah Ibnu Utsaimin, 2/512)

Kesuksesan atau keberuntungan tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal, yaitu diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Telah dimaklumi, siapa yang diselamatkan dari neraka, tentulah akan dimasukkan ke dalam surga. Sebab, di akhirat hanya ada dua negeri, yaitu surga dan neraka.

Hendaknya setiap kita melihat diri masing-masing. Apabila kita dapati diri kita beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, dan suka memperlakukan manusia dengan apa yang kita sukai untuk diperbuat kepada kita, hendaknya kita bergembira dengan hadits ini. Sebaliknya tentunya….

Wallahul musta’an. (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 515)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan sifat Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri-diri kalian, terasa berat atas Rasul tersebut apa yang menyusahkan kalian, dia sangat bersemangat agar kalian beroleh kebaikan, terhadap orang-orang beriman beliau memiliki sifat pengasih lagi penyayang.(at-Taubah: 128)

[2] Dia bersendiri dalam hak rububiyah ini. Dia-lah sendiri yang menciptakan, yang memiliki, memerintah, mengatur, memberi rezeki, dan sebagainya. Secara ringkas, bisa dikatakan tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam perbuatan-Nya.

[3] Hanya Dia sendiri yang pantas dan berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam seluruh macam ibadah. Hak uluhiyah bisa dimaknakan mengesakan Dia dalam perbuatan hamba. Sebab, ibadah adalah perbuatan hamba; dan semuanya secara total ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla semata.

[4] Allah ‘azza wa jalla sajalah yang memiliki al-Asma’ul Husna, nama-nama yang baik yang mencapai puncak kebaikan; Dia sajalah yang memiliki ash-Shifah al-Ulya, sifat-sifat yang tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut (sesuai dengan kabar yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) ditetapkan untuk Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan sisi yang layak bagi-Nya, tanpa memalingkannya, menolaknya, memisalkan, ataupun menyerupakannya dengan makhluk.

Sebab, Dia Yang Mahasuci berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.” (asy-Syura: 11)

Seperti Menggenggam Bara Api

Pernahkan Anda mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini?

يَأْتِي عَلى النَّاسِ زَمَانٌ اَلصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang pada manusia suatu zaman,saat orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Hadits di atas tersampaikan kepada kita lewat sahabat yang mulia Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Hadits ini dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunannya (no. 2260). Namun, dalam sanadnya ada Umar ibnu Syakir (perawi yang meriwayatkan dari Anas bin Malik), seorang rawi yang dhaif/lemah sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib.

Kata al-Imam at-Tirmidzi, “Hadits ini gharib dari sisi ini….”

Namun, alhamdulillah, hadits ini memiliki syawahid yang menguatkannya sehingga kedudukannya menjadi sahih sebagaimana dijelaskan dalam ash-Shahihah (no. 957)[1].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa di suatu masa, orang yang bersabar menjaga agamanya dengan meninggalkan dunia seperti sabarnya orang yang menggenggam bara api dalam hal kesulitan dan puncak ujian. Demikian diterangkan dalam Tuhfah al-Ahwadzi (2/1822).

Ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah sebagaimana tidak sanggupnya orang yang menggenggam bara api untuk bersabar karena bara api tersebut akan membakar tangannya, demikian pula orang yang beragama pada waktu tersebut. Dia tidak mampu kokoh di atas agamanya karena dominannya orang-orang yang bermaksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, dan kelemahan iman.”

Al-Qari berkata, “Yang tampak, makna hadits ini adalah sebagaimana tidak mungkinnya orang yang menggenggam bara api kecuali harus bersabar dengan sangat dan siap beroleh kesulitan, demikian pula di zaman tersebut. Tidaklah tergambar orang yang menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 2/1822)

Mungkinkah zaman yang dimaksud adalah zaman kita sekarang?

Sebab, betapa susahnya berpegang dengan agama yang haq dan menetapi sunnah al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman kita ini! Betapa beratnya bersabar dalam keterasingan memegang al-haq di tengah manusia yang menyelisihi!

Apapun dan bagaimana pun keadaan di zaman kita ini, yang jelas hadits di atas terkandung di dalamnya berita dan bimbingan.

 

Berita yang terkandung ialah sebagai berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di akhir zaman yang namanya kebaikan dan sebab kebaikan itu sedikit. Sebaliknya, kejelekan dan sebabnya banyak. Ketika itu, orang-orang yang berpegang dengan agama Islam yang haq sangat sedikit, dalam keadaan mereka harus menanggung keadaan yang payah dan kesulitan yang besar, seperti orang yang menggenggam bara api, karena kuatnya orang-orang yang berpaling atau menentang mereka, banyaknya fitnah yang menyesatkan, baik fitnah syubhat, keraguan dan penyimpangan, maupun fitnah syahwat. Manusia mencari dunia. Manusia menceburkan diri ke dalamnya, tenggelam jauh ke dasar jurangnya, baik zahir maupun batin, sementara iman demikian lemah.

Orang-orang yang berpegang dengan agama ketika itu demikian terasing, sendiri di tengah kebanyakan manusia, atau sedikit di kumpulan manusia yang banyak, sedikit yang mau menolong dan membantu mereka.

Akan tetapi, orang yang tetap teguh berpegang dengan agama di masa tersebut, yang tetap berdiri kokoh menolak setiap yang menentang dan menghalau segala rintangan, mereka itu tidak lain adalah orang yang memiliki bashirah, ilmu, dan keyakinan, orang yang beriman dengan kokoh, orang yang paling utama, paling tinggi derajatnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan paling agung kadarnya. Tidak ada yang bisa kokoh di atas agama dalam keadaan demikian kecuali mereka yang disebutkan ini.

 

Adapun bimbingan yang termuat, berikut ini penjelasannya.

Hadits ini merupakan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau agar mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang demikian dahsyat. Mereka harus tahu bahwa masa itu pasti akan terjadi. Siapa yang menghadapi segala aral melintang di masa tersebut, tetap sabar di atas agama dan imannya walau demikian dahsyat keadaannya, dia akan beroleh derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Sebab, pertolongan itu sesuai dengan kadar kesabaran menghadapi kesulitan.

Demikian yang diterangkan oleh al-Allamah Abdurrahman Ibnu Nashir Sa’di rahimahullah tentang hadits di atas (Bahjah Qulub al-Abrar hlm. 234).

Beliau berkata tentang keadaan di zaman beliau[2], “Alangkah miripnya keadaan yang disebutkan (dalam hadits) dengan zaman kita ini. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang tersisa dari Islam kecuali namanya, tidak pula al-Qur’an kecuali simbolnya, iman yang lemah, hati yang bercerai-berai, permusuhan dan kebencian di antara kaum muslimin, serta musuh yang lahir dan batin. “

“Para musuh melakukan makar rahasia dan terang-terangan untuk menghancurkan agama Islam. Adanya penyimpangan dan pandangan materialisme, propaganda, dan seruan menuju kerusakan akhlak, kemudian manusia menghadapkan diri kepada perhiasan dunia.“

“Dunia telah menjadi puncak ilmu mereka, cita-cita mereka yang terbesar. Mereka ridha dan marah karena dunia. Seruan untuk zuhud/tidak butuh kepada akhirat, sikap totalitas untuk memakmurkan dunia, menghancurkan agama, menghina dan mengolokolok orang yang berpegang dengan agamanya,… dst.”

Ucapan al-Allamah as-Sa’di rahimahullah di atas menggambarkan kerusakan di zaman beliau. Kalau semua itu sudah terjadi di zaman beliau, lantas bagaimana halnya dengan zaman kita sekarang? Sungguh kita dapati kebenaran hadits di atas! Ya Allah, selamatkan kami!

Akan tetapi, bagaimana pun “kengerian zaman”, seorang mukmin tidak boleh putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak patah arang mengharapkan pertolongan-Nya. Pandangan seorang mukmin tidak hanya dibatasinya pada sebab-sebab yang zahir.

Akan tetapi, kalbunya di sepanjang waktu senantiasa bergantung kepada Zat yang menciptakan sebab, Zat Yang Maha Pemurah lagi Pemberi anugerah. Dengan demikian, dia dapati kelapangan dan jalan keluar ada di hadapan kedua matanya. Janji Rabb yang tidak pernah mengingkari janji diingatnya, bahwa Dia subhanahu wa ta’ala akan menjadikan setelah kesulitan ada kemudahan, kelapangan ada bersama kesulitan, serta lepas dari marabahaya ada bersama dahsyatnya marabahaya.

Ketika menghadapi kesulitan dan masa yang genting, tetap kokoh di atas agamanya, seorang mukmin berucap,

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah bagi kami Allah dan Dialah sebaik-baik Zat yang diserahkan urusan.”

عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا

“Hanya kepada Allah kami bertawakal.”

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَبِكَ الْمُسَتَغَاثُ، وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian dan hanya kepada-Mu kami mengadu. Engkau-lah Zat yang dimintai pertolongan. Hanya Engkau-lah tempat kami meminta bantuan dari kesulitan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

Seorang mukmin akan tegar dengan keimanannya. Ia berusaha sekuat kemampuan untuk memberikan nasihat dan mengajak manusia kepada kebaikan. Dia merasa cukup dengan yang sedikit, apabila tidak mungkin mendapatkan yang banyak. Dia merasa bersyukur dengan hilangnya sebagian kejelekan dan berkurangnya sedikit kejelekan, apabila dia tidak mampu melakukan lebih dari itu. Bukankah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (ath-Thalaq: 3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan untuknya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4) (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 235)

Kesimpulannya, kita harus sadar sepenuhnya bahwa berpegang dengan al-haq itu tidak mudah. Karena tidak mudah, pemegang al-haq yang tetap kokoh itu sedikit dari masa ke masa, apalagi di akhir zaman. Ya Allah, selamatkan kami! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk golongan itu. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini dengan syawahidnya shahih tsabit/pasti/kokoh, karena tidak ada satu pun dari jalur-jalur haditsnya seorang rawi yang muttaham (tertuduh berdusta), lebih-lebih lagi sebagian jalurnya dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Wallahu a’lam.” (ash-Shahihah, 2/647)

[2] Al-Allamah Abdurrahman ibnu Nashir Sa’di rahimahullah wafat sebelum fajar hari Kamis, 22 Jumadal Akhirah, 1376 H.

Rezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya?

Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda! Pasti Anda akan dapati perbedaan tingkat kehidupan orang-orangnya.

Ada yang kaya raya, punya rumah mewah, kendaraan berderet bak showroom di garasinya. Uangnya jangan ditanya, perhiasannya pun membuat mulut kita menganga. Sementara itu, makanan yang tersaji di meja hidangannya membuat kita geleng-geleng kepala. Dia bisa bepergian ke mana dia suka, berlibur dari satu negara ke negara lain adalah hal yang biasa.

Anda dapati ada lagi si miskin papa, berumah reyot dengan dinding hampir roboh, berpakaian kusam dan penuh tambalan, makan cukup dengan sepotong tempe atau krupuk.

Yang lebih prihatin ada lagi, mereka yang Anda lihat menggelandang di emperan, tidur di atas tanah berhampar koran, langit yang menjadi atap. Tak terbayang dingin menusuk saat malam tiba, apatah lagi ketika hujan turun sementara tubuh mereka hanya dibungkus pakaian yang compang-camping. Makan hanya dengan mengharap belas kasih orang-orang. Makanan basi penghuni tong sampah tidak ditolak sebagai pengganjal perut daripada harus menanggung sakitnya rasa lapar. Sungguh mengenaskan!

Ada lagi yang hidupnya pertengahan, tidak kaya berlebihan, tidak pula kekurangan.

Bisa jadi, pernah terpikir di benak Anda, mengapa harus ada si miskin dan si kaya? Si ‘papa’ dan si konglomerat? Mengapa manusia tidak disamakan saja rezekinya?

Jawabannya, Allah ‘azza wa jalla ar-Razzaq, Dzat yang memberikan rezeki dan membagi-baginya di antara para hamba-Nya, memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan, dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki para hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam hukum dan penetapan syariat. Seluruh hukum syariat-Nya adil, penuh rahmat dan sarat hikmah, serta memberi kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.

Uang

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Dia Maha Terpuji dalam pemberian-Nya kepada para hamba dan Maha Terpuji pula ketika Dia menahan pemberian-Nya. Kewajiban para hamba adalah mensyukuri-Nya ketika Dia memberi kelapangan rezeki kepada mereka disertai dengan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya kepada mereka dalam rezeki tersebut.

Sebaliknya, para hamba wajib bersabar dengan takdir Allah ‘azza wa jalla ketika Dia menyempitkan rezeki mereka. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu apa yang paling bermaslahat bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah ‘azza wa jalla lebih sayang kepada mereka daripada sayangnya ibu dan ayah kandung mereka.

Allah ‘azza wa jalla memang tidak menyamakan pembagian rezeki di antara para hamba-Nya. Ada yang dilapangkan dan ada yang disempitkan karena hikmah-Nya yang agung dan bernilai tinggi.

Berikut ini kita petikkan apa yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah khutbah beliau yang tersimpan dalam kitab adh- Dhiya’u al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ (1/169—171) tentang hikmah pembagian rezeki yang berbeda-beda.

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki tidak sama di antara para hamba-Nya, agar mereka mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla lah yang mengatur seluruh urusan. Di tangan-Nya lah penguasaan dan pengaturan langit serta bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menolak takdir dan ketetapan-Nya.

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٢

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syura: 12)

Allah ‘azza wa jalla membedakan pembagian rezeki-Nya agar manusia mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak.

Di dunia ini manusia berbeda-beda penghidupannya. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah nan menjulang, menaiki kendaraan yang mewah dan mahal, berbolak-balik dalam kebahagiaan dan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat bernaung, tidak ada keluarga, tidak ada harta, tidak ada anak, hidup sebatang kara. Di antara mereka ada yang pertengahan, di antara itu dan ini, dengan derajat yang berbeda.

Demikian pula derajat di akhirat kelak, lebih besar, lebih nyata, dan lebih kekal.

ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Isra: 21)

Apabila sepeti itu keadaan akhirat dibandingkan dengan dunia, sepantasnya manusia berlomba-lomba untuk meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat. Orang yang cerdas tentu mendambakan yang lebih kekal. Untuk perlombaan inilah orang-orang yang cerdas rela berlomba, tidak untuk dunia!

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki dengan berbeda-beda, agar orang yang kaya dapat menghargai kadar nikmat yang dimudahkan kepadanya. Dia pun bersyukur kepada Dzat Yang Memberikan nikmat sehingga tergolong hamba-hamba yang bersyukur.

Sebaliknya, orang yang fakir mengetahui ujian yang diterimanya berupa kefakiran, lalu bersabar sehingga mencapai derajat hamba-hamba yang bersabar. Telah diberitakan bahwa orang yang bersabar akan beroleh pahala tanpa batas.

Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir harus terus memohon kemudahan kepada Rabbnya dan menanti kelapangan dari-Nya tanpa pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah ‘azza wa jalla membagi-bagi rezeki-Nya agar tercapai maslahat agama dan dunia para hamba-Nya. Andai semuanya beroleh kelapangan rezeki dan menjadi orang kaya, niscaya manusia akan melampaui batas di muka bumi dengan berbuat kekafiran, kezaliman, dan kerusakan. Kelapangan dan kemudahan hidup membuat mereka lupa diri.

Sebaliknya, apabila semua mereka disempitkan rezekinya dan semua menjadi orang miskin, niscaya akan timbul ketimpangan dalam tatanan hidup mereka.

Apabila semua manusia rezekinya sama, niscaya sebagiannya tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai ejekan, sehingga tidak ada ujian sebagai tempaan keimanan. Sebagiannya tidak bisa menjadikan yang lain sebagai pekerja. Sebagiannya tidak menjadi pelayan bagi yang lain. Yang satu tidak membuat sesuatu untuk yang lain, karena semuanya berderajat sama.

Apabila seperti itu keadaannya, di mana rasa kasih sayang si kaya terhadap si miskin? Andai semua berderajat sama, bagaimana penerapan menyambung silaturahmi dengan menginfakkan harta kepada karib kerabat?

Jelas sekali, banyak kemaslahatan akan hilang seandainya manusia sama rezekinya. Karena itulah, wajib bagi kita kaum muslimin untuk ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb kita, ridha dengan pembagian rezeki-Nya, ridha dengan hukum-Nya, serta beriman dengan hikmah dan rahasia-Nya.

ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٦٢

“Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ankabut: 62)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menjaga Diri Dari Ujian & Godaan

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

debu

Anda pernah menghadapi soal-soal tes yang diujikan oleh penguji Anda? Bagaimana rasanya menghadapi ujian tersebut, menegangkan bukan? Akan tetapi, alhamdulillah kita tidak mesti menghadapinya. Kalaupun harus menjalani tes seperti itu karena satu urusan, sebagai pelajar misalnya, itu pun tidak setiap hari. Betul bukan?

Nah, ada ujian yang mau tidak mau akan kita jumpai, siapa pun kita.

Ketahuilah wahai saudariku, dunia yang sedang kita huni ini adalah ujian yang sesungguhnya. Tentu saja, kita diuji bukan dengan soal tes tertulis atau tes lisan, melainkan dengan beragam kesenangan dan kesulitan. Apakah kita bersyukur ataukah kita bersabar? Siapakah yang memberi ujian tersebut? Jelas jawabannya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah berfirman, Alif laam miim. Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman,” sementara mereka belum diuji? (al-Ankabut: 1—2)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.”

Ujian yang dihadapi oleh seorang mukmin dalam kehidupan dunia ini bisa jadi besar dan bisa pula kecil. Bisa jadi datang dari dalam (internal kaum muslimin) dan dari luar (dari nonmuslim).

Karena dahsyatnya akibat ujian ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dalam sabda beliau,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الْمَرْءُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ أَحَدُكُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ قَلِيْلٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal, sebelum datang ujian seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu seseorang di pagi hari beriman, namun di sore harinya dia kafir. Ada yang sorenya beriman, ketika pagi hari dia telah kafir; salah seorang dari kalian menjual agamanya dengan harta dunia yang sedikit.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dengan rinci ujian tersebut. Beliau telah pula memberikan solusinya, dan melarang kita menceburkan diri ke dalamnya. Beliau telah menerangkan sebab-sebab terjadinya, di antaranya:

  1. Sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan
  2. Ditinggalkannya aturan Islam
  3. Banyaknya diperbuat dosa dan maksiat
  4. Adanya pelanggaran kehormatan

Dua sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dan Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, memberitakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ؛ الْهَرْجُ الْقَتْلُ

“Menjelang hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun kebodohan, ilmu diangkat (hilang), dan banyak al-harj. Al-Harj adalah pembunuhan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ujian dan godaan akan sampai pada puncaknya hingga seorang muslim berangan-angan mati daripada hidup dipenuhi ujian. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَهُ

Tidak akan tegak hari kiamat sampai seseorang melewati kubur orang lain lantas berkata, “Duhai kiranya aku yang menempati tempatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di masa fitnah (ujian) berkecamuk, akal manusia hilang. Mereka dikuasai olehnya, tercampur dan kaburlah yang baik dari yang buruk. Sampai-sampai seorang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh, dan orang yang dibunuh pun tidak tahu sebab dia dibunuh.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيْمَ قَتَلَ وَلاَ الْمَقْتُوْلُ فِيْمَ قُتِلَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah dunia ini hilang sampai datang kepada manusia suatu hari di mana orang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh dan orang yang dibunuh tidak tahu mengapa dia dibunuh.” (HR. Muslim)

Hati-hati dari Dua Macam Ujian

Ujian dan godaan itu bisa berupa syubhat (kerancuan pemikiran) dan bisa berupa syahwat (keinginan hawa nafsu).

  1. Ujian syubhat datang dari arah keyakinan (i’tiqad) dan ibadah yang berdampak pada kebimbangan dan keguncangan.

Selanjutnya, syubhat mengantarkan pelakunya kepada perbuatan bid’ah dalam agama dan menggiringnya kepada suul khatimah (akhir hidup yang buruk). Na’udzu billah.

  1. Godaan syahwat datang dari jalan harta, ketenaran, dan hal-hal lain yang dapat dirasakan indra.

Dalam menghadapi dua ujian ini, manusia terbagi dua:

  1. Orang yang imannya kokoh dan tidak terguncang ketika godaan menghampiri.

Dia menolak syubhat dengan al-haq yang ada padanya. Demikian pula ketika syahwat mengajak pada maksiat dan dosa atau hal yang memalingkan dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, dia pun beramal dengan kandungan imannya dan memerangi syahwatnya. Hal ini menunjukkan kejujuran dan kesahihan imannya.

  1. Syubhat yang datang berdampak pada munculnya keraguan dalam kalbunya.

Ketika syahwat menghampiri, dia menceburkan dirinya dalam maksiat atau berpaling dari kewajiban. Hal ini menunjukkan kelemahan imannya.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengucapkan salam di dalam shalat adalah memohon perlindungan dari fitnah kehidupan.

“(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari)… dari fitnah kehidupan…”

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah ujian yang menguji manusia dalam hidupnya. Ujian ini beredar di atas dua hal: (1) kebodohan, syubhat/kerancuan, dan tidak mengetahui al-haq/kebenaran. Orang yang keadaannya demikian akan terjatuh dalam kebatilan. Akibatnya, dia pun binasa; (2) syahwat, yaitu hawa nafsu. Seseorang sebenarnya mengetahui al-haq, tetapi dia tidak menginginkannya. Yang dia inginkan hanyalah kebatilan.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 3/559)

Berbagai Ujian yang Datang

Harta, kedudukan, anak, dan istri termasuk ujian dalam kehidupan, karena manusia akan diuji dengan halhal tersebut.

Seorang muslim akan diuji dan dicoba dengan harta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan di antara mereka ada orang-orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sungguh jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kamitermasuk orang-orang yang saleh.”

Setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya, merekakikir dengan karunia itu dan berpaling. Memang mereka itu adalah orang-orang yang suka membelakangi kebenaran. (at-Taubah: 75—76)

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan bagi kalian.Dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Seorang muslim akan diuji dengan kedudukan, maka ada di antara mereka yang berambisi memperolehnya walauharus mengorbankan agamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia….” (al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya dua ujian ini (harta dan kedudukan/tahta) dalam sabda beliau yang agung,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ بِغَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di sekawanan kambing lebih merusak kawanan tersebut daripada rusaknya agama seseorang karena rakusnya terhadap harta dan kemuliaan (kedudukan).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 3/460, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 5496)

Maksud hadits di atas, ambisi seseorang untuk beroleh kedudukan dan harta lebih merusak agamanya daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala lapar yang dilepas di tengah sekawanan kambing. Anda bisa membayangkan serigala yang lapar ketika berhasil beroleh mangsanya. Tentu dia akan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun dan tanpa belas kasih.

Berbeda halnya dengan orang yang berambisi terhadap dunia. Dia tidak akan berhenti memangsa, karena dunia tidak pernah membuatnya kenyang. Dia terus memburu dan memburu dunia tanpa peduli halal haram hingga rusaklah agamanya. Sungguh mengerikan akibatnya.

Seorang muslim akan diuji dengan istri dan anak-anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kaliandan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah dari mereka….” (at-Taghabun: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَلَدُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَحْزَنَةٌ

“Anak itu membuat seseorang menjadi penakut, pelit, dan sedih.” (HR. Abu Ya’la, 2/305, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 3073)

Seseorang diuji dengan istri dan anaknya, apakah dia perintah mereka untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau tidak? Apakah dia telah berusaha melindungi mereka dari api neraka? Apakah dia memerintah mereka mengerjakan shalat pada waktunya? Apakah dia melarang mereka berteman dan duduk-duduk dengan orang yang jelek?

Ujian bagi seorang muslim bisa pula datang dari orang-orang zalim. Semakin kuat imannya, semakin besar pula cobaannya. Kita teringat kisah umat terdahulu yang dikisahkan oleh Allah dalam surat al-Buruj berikut ini.

“Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk-duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Mereka tidaklah menyiksa orang-orang yang beriman itu melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Dzat Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Buruj: 4—9)

Luar biasa ujian sakitnya fisik yang mendera mereka demi mempertahankan keimanan dan keyakinan. Bagaimana halnya dengan kita?

Para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah merasakan ujian keimanan dari orang-orang kafir. Bilal bin Abi Rabah, Khabbab ibnul Art, Ammar bin Yasir dan kedua orang tuanya—semoga Allah meridhai mereka semuanya—termasuk deretan dari sekian namayang harus menanggung siksa demi mempertahankan keimanan mereka.

Khabbab radhiallahu ‘anhu misalnya, orang-orang kafir menyiksanya dengan menempelkan punggung Khabbab di batu yang panas membakar hingga hilang daging yang ada di punggungnya.

Said bin Jubair rahimahullah, seorang tabi’in yang mulia, pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Apakah orang-orang musyrik dahulu menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan yang sampai pada taraf mereka diberi uzur untuk berpura-pura meninggalkan keimanan mereka?”

Dijawab oleh Ibnu Abbas, “Ya, demi Allah! Orang-orang kafir dahulu memukuli orang-orang beriman, membuat mereka kelaparan dan kehausan (tidak diberi makan dan minum). Sampai-sampai di antara mereka ada yang tidak bisa duduk dengan lurus karena hebatnya rasa sakit yang dirasakannya. Karena siksaan demikian keras, mereka terpaksa mengikuti kemauan orang-orang kafir.

Orang-orang kafir berkata kepada mereka yang disiksa, ‘Latta dan Uzza adalah sembahanmu selain Allah?!’

Yang disiksa pun terpaksa menjawab, ‘Ya.’

Sampai-sampai ketika ada seekor kumbang melewati mereka, orang-orang kafir berkata, ‘Kumbang ini adalah sesembahanmu selain Allah?!’

Dia pun terpaksa menjawab, ‘Ya’.

Mereka menjawab demikian karena sudah tidak mampu lagi menanggung sakitnya siksaan. Demikianlah perbuatan orang-orang kafir, orang-orang zalim, dan orang-orang yang melampaui batas terhadap orang-orang beriman di setiap zaman sampai datangnya hari kiamat.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang fitnah yang akan terjadi antara masaku dan hari kiamat. “ (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat orang-orang bertanya tentang kebaikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu bertanya tentang keburukan karena khawatir tertimpa oleh kejelekan tersebut. (HR. al-Bukhari)

Tameng dari Ujian & Godaan

Berikut ini beberapa hal yang dengan izin Allah akan menjaga diri kita dari fitnah:

  1. Menguatkan keimanan dalam jiwa dan beramal untuk menambah keimanan.
  2. Mempersenjatai diri dengan ilmu yang bermanfaat, banyak berzikir, dan terus-menerus dalam keadaan berzikir.
  3. Bersegera dan tidak menunda-nunda beramal saleh.
  4. Mengenali jalan orang-orang yang beriman dan berusaha mengikutinya. Di sisi lain, mengenali jalan orang-orang pendosa agar bisa menjauhinya.
  5. Berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ikhlas dalam melakukannya.
  6. Tolong-menolong dalam hal kebaikan dan takwa.
  7. Menjauhi perpecahan dan perselisihan.

Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.

  1. Mensyukuri kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
  2. Berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari fitnah.
  3. Memerangi hawa nafsu dan kebid’ahan, serta menjaga diri dari syubhat.
  4. Menolak syahwat, sangat berhati-hati darinya dan menjauh dari tempat-tempatnya.
  5. Berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauh dari orangorang yang jelek.

Inilah yang bisa kami kumpulkan dari sebab-sebab menjaga diri dari fitnah. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Jangan Berharap Mati

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

liang-lahat

Kematian merupakan kepastian, tak satu pun makhluk benyawa yang luput darinya, karena Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan,

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.(Ali Imran: 185)

Kematian pun telah ditentukan waktunya atas setiap jiwa, masing-masingnya memiliki ajal.

“Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian Dia menetapkan dan menentukan ajal (waktu tertentu untuk kematian)….” (al-An’am: 2)

Tak kan ada satu jiwa yang dapat berlari dari ajalnya ketika waktunya sudah tiba. Mati merupakan keniscayaan, diinginkan atau tidak, dia pasti datang. Diharapkan atau dihindari; kalau sudah waktunya, maka pasti tidak terelakkan.

Namun kematian tidak boleh diangan-angankan, bagaimana pun keadaan atau kondisi seseorang. Rasul yang amat mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits agung beliau yang tersampaikan lewat sahabat yang mulia, Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Anas menyatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengangankan kematian karena suatu kemudaratan yang menimpanya. Kalaupun dia terpaksa menginginkan mati, maka hendaknya dia berdoa, ‘Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Memang, biasanya saat seseorang ditimpa musibah atau kesulitan dan merasa tidak sanggup memikulnya, dia berangan-angan untuk mati. “Lebih baik aku mati saja,” demikian kalimat yang terucap dari lisannya. Bisa jadi, dia berseru, “Ya Rabb, cabutlah nyawaku daripada menderita seperti ini!”

Bolehkah berucap demikian?

Ternyata syariat melarangnya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas. Mengapa? Bisa jadi, musibah, mudarat, ataupun kesulitan itu justru baik bagi si hamba. Seharusnya dalam keadaan seperti itu, bukan mati yang diangankan, namun hendaknya dia berdoa, misalnya, “Ya Allah, tolonglah hamba untuk dapat bersabar menghadapi kesulitan ini.”

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada hamba kesabaran yang indah untuk dapat melewati ujian ini. Duhai beratnya wahai Rabbku, andai Engkau tidak menolong hamba niscaya hamba akan binasa.”

Terus-menerus lisan dan kalbunya memohon demikian, hingga Allah ‘azza wa jalla mendatangkan pertolongan-Nya. Musibah pun dapat dilalui dengan kesabaran. Hal ini tentu lebih baik baginya.

Apabila saat susah dia berangan-angan untuk mati, bisa jadi kematian justru buruk baginya. Dia tidak bisa beristirahat dengan kematian tersebut, karena memang tidak semua kematian itu adalah rahah (istirahat), sebagaimana kata penyair,

Tidaklah orang yang mati itu beristirahat dengan kematiannya

Hanyalah orang mati itu mati dari orang-orang yang hidup

Bisa jadi, kematian membawa seseorang menuju hukuman dan azab kubur. Padahal kalau dia masih hidup, dia berkesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Allah ‘azza wa jalla. Dengan demikian, tetap hidup justru lebih baik baginya.

Apabila berangan-angan untuk mati saja tidak boleh, bagaimana halnya dengan orang yang mengakhiri hidupnya (bunuh diri) ketika mendapatkan kesulitan?

Seperti orang-orang dungu yang saat ditimpa kesusahan, meminum racun, gantung diri, dan semacamnya untuk “menyegerakan ajal” mereka.

Mereka yang berbuat seperti ini berpindah dari satu azab kepada azab yang lebih pedih. Mereka tidaklah beristirahat dengan kematian tersebut. Sebab, orang yang bunuh diri diazab dengan apa yang digunakannya untuk mengakhiri hidupnya di neraka Jahannam kelak dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya sebagaimana kabar yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari sesuatu, termasuk kebiasaan beliau yang mulia, beliau memberikan ganti dengan hal yang mubah. Ada contoh dari Rabb beliau dalam hal penggantian ini. Bacalah firman Allah ‘azza wa jalla berikut ini,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan “Ra’ina”, namun katakanlah, “Unzhurna”… (al-Baqarah: 104)

Ketika Allah ‘azza wa jalla melarang dari kalimat “ra’ina”, Dia memberi ganti dengan kalimat “unzhurna”.[1]

Saat didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kurma yang bagus, beliau terheran dan bertanya, “Apakah semua kurma Khaibar sebagus ini?”

Para sahabat menjawab, “ Tidak, tetapi kami biasa membeli satu sha’ kurma bagus ini dengan ganti dua sha’ kurma biasa; dua sha’ kurma ini dengan tiga sha’ kurma biasa. “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan lagi kamu melakukan hal tersebut. Seharusnya kamu jual kurma (yang jelek) dengan harga beberapa dirham, kemudian dengan uang tersebut bisa kamu belikan kurma yang bagus.”

Ini contoh lain dari pelarangan sesuatu kemudian diganti dengan hal lain yang mubah.

Demikian pula dalam hadits yang sedang menjadi pembicaraan kita. Setelah melarang dari mengangankan mati, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi, ‘bagaimana kalau seseorang benar-benar terpaksa menginginkan mati?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan seuntai doa,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيًْرا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيًْرا لِي

“Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membukakan untukmu satu pintu yang selamat, tidak terlarang, karena sekadar ingin mati menunjukkan keputusasaan dan ketidaksabaran terhadap ketetapan Allah ‘azza wa jalla. Berbeda halnya dengan doa ini, terkandung di dalamnya penyerahan urusan hamba kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, manusia tidak mengetahui urusan yang gaib, dia pun menyerahkannya kepada Zat Yang Maha Mengetahui yang gaib.

Berangan-angan mati adalah sikap isti’jal atau tergesa-gesa dari seseorang sehingga ingin hidupnya segera berakhir. Padahal, bisa jadi, dengan itu dia terhalang dari memeroleh kebaikan yang besar. Bisa jadi, hal itu menghalanginya dari tobat dan menambah amal saleh.

Dalam doa tersebut dinyatakan, “Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”

Memang hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu apa yang akan terjadi dan manusia tidak tahu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65)

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang dia usahakan besok dan tidak ada satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memberitakan.” (Luqman: 34)

Kita semua tidak tahu, bisa jadi kehidupan itu lebih baik bagi kita; dan mana tahu juga apabila ternyata kematian lebih baik bagi kita. Karena itulah, apabila seseorang mendoakan umur panjang bagi orang lain, sepantasnya dia tidak mendoakannya secara mutlak, tetapi dengan pengikat dengan menyatakan, “Semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepada-Nya.”

Dengan doa seperti ini, jadilah umur yang panjang tersebut membawa kebaikan.

Apabila ada yang beralasan dengan perbuatan Maryam bintu Imran ibunda Isa w yang berucap,

“Duhai kiranya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan.” (Maryam: 23)

Lantas mengapa mengangankan mati tidak diperbolehkan?

Ada beberapa jawaban.

  1. Kita harus mengetahui bahwa apabila syariat umat terdahulu diselisihi oleh syariat kita, syariat umat terdahulu tidak bisa dijadikan hujah atau alasan. Sebab, syariat kita menghapus seluruh syariat umat terdahulu sebelum kita.
  2. Maryam tidaklah mengangankan mati saat itu. Yang dia inginkan adalah mati sebelum terjadinya ujian tersebut sehingga dia mati tanpa terkena fitnah. Hal ini sama dengan ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam,

 “Engkau adalah Penolongku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Untaian doa Nabi Yusuf ‘alaihissalam ini tidak bermakna bahwa beliau memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar segera mewafatkannya. Namun, beliau memohon agar Allah ‘azza wa jalla mewafatkannya di atas Islam. Hal ini tentu tidak apa-apa. Seperti halnya Anda berdoa,

“Ya Allah! Wafatkanlah aku di atas Islam dan iman, di atas tauhid dan ikhlas.”

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”

Jadi, bedakan antara seseorang yang menginginkan mati karena kesempitan hidup yang menimpanya dan seseorang yang ingin mati di atas sifat atau keadaan tertentu yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla. Yang pertama dilarang, sedangkan yang kedua diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang pertama karena orang yang ingin mati di saat demikian berarti dia tidak memiliki kesabaran. Sementara itu, sabar menanggung kesempitan hidup adalah kewajiban.

Selain itu, hendaknya seorang hamba berharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla ketika menghadapi musibah. Kesulitan apa pun yang menimpa seseorang, baik berupa kesedihan, gundah gulana, sakit, maupun yang semisalnya, akan menghapuskan kesalahannya. Jika hamba mengharapkan pahala, niscaya akan terangkat derajatnya. Lagi pula, kesulitan yang menimpa seseorang tidaklah kekal selamanya, tetapi akan berakhir.

Apabila musibah telah berakhir dalam keadaan Anda memeroleh kebaikan karena berharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla atas musibah tersebut dan kesalahan Anda diampuni; tentu musibah itu baik bagi Anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ. إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin. Sungguh semua urusannya baik. Jika dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, hal itu baik baginya. Jika dia diberi kelapangan, dia bersyukur, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim dari Abu Yahya Shuhaib ar-Rumi radhiallahu ‘anhu)

Pada seluruh keadaan, seorang mukmin memang berada dalam kebaikan, apakah dalam keadaan susah ataupun senang. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Faedah penjelasan Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsamin rahimahullah pada hadits ke-40 kitab Riyadh ash-Shalihin, 1/138—142)


[1] Keduanya bermakna “perhatikan kami”, tetapi ungkapan yang pertama bisa dipelesetkan kepada makna yang jelek. (-ed.)

Janji Surga untuk Perempuan yang Sabar

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

bunga

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Demikianlah standar kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla, Sang Pencipta manusia, menyelisihi pandangan mayoritas manusia yang melihat seseorang karena statusnya, kekayaan, kedudukan, dan keturunannya. Bisa jadi, seseorang yang “berkantong tebal”, berkedudukan, dari kelas bangsawan, demikian mulia di mata mereka, walaupun dari sisi agama si orang “mulia” tersebut kosong melompong, jauh dari kesalehan dan ketakwaan.

Sebaliknya, bisa jadi ada seseorang yang tidak bernilai di mata mereka, ibarat manusia buangan atau pinggiran, karena kemiskinannya atau karena fisiknya yang mengundang cela. Padahal karena takwa yang ada dalam kalbunya sebenarnya berderajat mulia di langit sana.

Ada satu kisah di masa nubuwwah tentang seorang perempuan hitam yang mungkin di mata manusia dia tidak ‘berharga’ karena fisiknya dan sakitnya.

Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkisah sebagai berikut. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang perempuan yang termasuk penduduk surga?”

“Tentu,” jawabku.

Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Perempuan yang berkulit hitam itu. Dia pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengeluh, ‘Saya menderita kesurupan (ash-shar’), kalau sedang kambuh tersingkap auratku. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menyembuhkanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi pilihan kepadanya, “Apabila mau, engkau bersabar dan ganjaranmu adalah surga. Namun, apabila engkau tetap ingin sembuh dari sakitmu, aku akan memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menyembuhkanmu.”

Si perempuan menjawab, “Aku pilih bersabar.” Kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Namun, auratku tersingkap saat kambuh. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar auratku tidak terbuka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Subhanallah! Sebuah pilihan yang luar biasa, memilih bersabar dalam derita di dunia demi meraih kebahagiaan di negeri sana. Betapa besarnya keyakinan si perempuan atas janji yang diberikan,

“Apabila mau, engkau bersabar dan ganjaranmu adalah surga.” Dengan pilihannya untuk bersabar menunjukkan si perempuan termasuk orang yang beroleh syahadah atau dipersaksikan dan diberi kabar gembira oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga.

Terkait dengan hadits di atas, perlulah kita ketahui bahwa syahadah sebagai penghuni surga itu ada dua macam:

  1. Syahadah ‘ammah atau persaksian yang umum, yaitu orang yang dipersaksikan masuk surga dengan menyebut sifat-sifat mereka.

Siapakah mereka? Mereka adalah semua orang yang beriman dan bertakwa. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang surga,

“(Surga itu) telah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Jadi, setiap mukmin yang bertakwa dan beramal saleh kita persaksikan termasuk penduduk surga. Namun, kita tidak menyebut nama-nama tertentu,  “Si A”, atau “Si B”, karena kita tidak tahu akhir keadaan seseorang ketika menutup umurnya dan kita tidak tahu apakah batinnya sama dengan lahiriahnya. Karena itu, apabila ada seorang yang baik meninggal dunia, kita katakan, “Kita berharap dia termasuk penghuni surga.” Adapun memastikan dengan mempersaksikan, “Dia pasti masuk surga,” ini tidak diperbolehkan.

  1. Syahadah khashah atau persaksian yang khusus, yaitu mereka yang dipersaksikan dengan ta’yin (menyebut namanya).

Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga dengan menyebut namanya atau menunjuk orangnya, seperti para sahabat yang digelari al-Asyrah al-Mubasysyarina bil Jannah, yaitu Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Said bin Zaid, Sa’d ibnu Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah Amir ibnul Jarrah, dan az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhum.

Contoh yang lain, Tsabit bin Qais bin Syammas, Sa’d bin Mu’adz, Abdullah bin Salam, Bilal bin Rabah, dan selain mereka radhiallahu ‘anhum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikan bahwa mereka penghuni surga, maka tanpa ragu kita mengatakan, “Abu Bakr radhiallahu ‘anhu masuk surga”, “Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu masuk surga”, dan seterusnya.

Termasuk pula perempuan hitam yang disebutkan dalam hadits di atas, kita yakin dia pasti termasuk penduduk surga.

Perempuan berkulit hitam mungkin tidak bernilai dalam pandangan manusia. Apalagi ia memiliki penyakit dan tersingkap auratnya saat penyakitnya kambuh. Karena itu, dia menginginkan kesembuhan dengan meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kesembuhannya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan sesuatu yang jauh lebih nikmat apabila bisa bersabar, yaitu ‘masuk surga’.

Siapakah yang tidak ingin masuk surga?

Si perempuan hitam itu pun memilih bersabar walau harus menanggung derita di dunia dengan penyakit shar’nya[1].

Demikianlah hadits ini berbicara tentang seorang wanita yang di mata manusia bisa jadi tidak bernilai, dipandang hina dan direndahkan, apatah lagi dengan saki rahimahullah yang dideritanya. Namun, ternyata menurut pandangan syariat dia begitu bernilai, karena kuatnya keyakinannya kepada Allah ‘azza wa jalla, keimanannya akan janji surga dan kesabarannya menanggung derita di dunia demi sebuah asa yang paling tinggi; masuk surga. Bagaimana dengan kita? Tentunya kita harus yakin bahwa kesabaran itu pasti berbuah kebaikan di dunia dan terlebih lagi di akhirat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawwab.

(Faedah dari penjelasan Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah terhadap hadits ini dalam kumpulan hadits pada kitab Riyadhush Shalihin, 1/131—134)


[1] Penyakit ash-shar’ (mengamuk seperti yang dialami orang yang kesurupan atau gila) ada dua macam:

Karena gangguan saraf. Penyakit ini bisa diobati, dengan izin Allah ‘azza wa jalla, oleh para dokter dengan memberikan obat kepada penderitanya sehingga bisa menenangkannya atau membuat sakitnya hilang sama sekali.

Karena gangguan jin/setan. Setan merasuki tubuh si penderita sehingga dia kesurupan dan kehilangan kesadarannya.

Untuk macam yang kedua (kesurupan karena gangguan jin) ini, apabila belum menimpa seseorang, perlu dilakukan pencegahan; dan apabila sudah telanjur terkena, perlu dilakukan pengobatan untuk menghilangkannya.

Pencegahan dilakukan dengan senantiasa mengamalkan wirid-wirid harian: pagi dan petang. Demikian pula membaca ayat kursi pada malam hari sebelum tidur, karena siapa yang mengamalkannya niscaya Allah ‘azza wa jalla terus memberikan penjagaan kepadanya dan setan pun tidak dapat mendekatinya hingga pagi hari. Termasuk pula membaca surah al-Ikhlash dan al-Mu`awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas).

Pengobatan dilakukan dengan meruqyah penderita, yaitu membacakan padanya al-Qur’an dan doa-doa yang ma’tsur (ada atsarnya).

Tempatkan Manusia Sesuai Kedudukannya

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

susun puzzle

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْزِلُوْا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

“Tempatkan manusia pada posisi mereka.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud rahimahullah dalam Sunannya no. 4842, dari hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun sayang sekali hadits ini dhaif, kata Abu Dawud sendiri, “Maimun Ibnu Abi Syubaib yang membawakan hadits ini dari Aisyah radhiallahu ‘anha, tidak bertemu dengan Aisyah.”

“Jadi, riwayat Maimun dari Aisyah radhiallahu ‘anha tidak muttashil (tidak bersambung sanadnya),” kata Ibnu Abi Hatim rahimahullah dalam al-Marasil (hlm. 214).

Karena hadits di atas lemah, kita tidak dapat berhujah dengannya. Namun, dalam nash-nash syariat yang lain, kita memang disyariatkan untuk bersikap hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memosisikan sesuatu pada posisinya. Bukankah Allah ‘azza wa jalla, Rabb kita, adalah Dzat yang Mahahakim (memiliki hikmah) dalam penciptaan dan takdir-Nya, Mahahakim dalam syariat-Nya, Hakim dalam perintah dan larangan-Nya?

Dia ‘azza wa jalla memerintah hamba-Nya untuk bersikap hikmah dan memerhatikan sikap ini dalam segala sesuatu. Demikian pula perintah dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruhnya beredar di atas hikmah.

Kita juga diperintah untuk bersikap hikmah dalam menghadapi manusia, dalam seluruh muamalah.

Perlu kita ketahui, manusia itu terbagi dua:

  1. Yang memiliki hak khusus, seperti kedua orang tua, anak-anak, karib kerabat, tetangga, teman-teman, ulama, dan lain-lain.

Mereka ditempatkan pada kedudukannya, dengan menunaikan hak-hak mereka yang diakui oleh syariat dan kebiasaan manusia, yaitu berbuat baik, menyambung hubungan rahim, memuliakan, memberi kelapangan, dan hak lainnya. Mereka yang masuk bagian pertama ini memiliki keisitimewaan dari manusia yang lain dalam sisi hak mereka yang khusus.

  1. Kelompok yang tidak memiliki kelebihan yang berupa hak khusus.

Yang ada hanyalah hak Islam dan hak insaniyah (hak sebagai manusia). Mereka yang masuk ke dalam kelompok ini haknya sama atau berserikat. Mereka tidak diganggu dan tidak dimadarati; baik dengan ucapan maupun perbuatan, kita sukai untuk mereka apa yang kita sukai untuk diri kita, dan sebaliknya membenci untuk mereka apa yang kita benci untuk diri kita.

Termasuk sikap hikmah adalah bergaul dengan manusia sesuai dengan kedudukan dan posisi mereka. Orang yang lebih tua dihormati, yang lebih muda dikasihi.

Berbicara kepada para pemimpin, apakah raja atau orang yang memegang tampuk kekuasaan, haruslah dengan ucapan yang lembut sesuai dengan martabat mereka. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk mendakwahi Fir’aun, raja yang durjana,

“Pergilah kalian berdua (Musa bersama Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (Thaha: 43—44)

Adapun kepada ulama, orang-orang yang berilmu tentang syariat ini, muamalah dengan mereka dalam bentuk memuliakan mereka, bersikap tawadhu kepada mereka, menampakkan kebutuhan kita terhadap ilmu mereka yang bermanfaat, dan mendoakan kebaikan untuk mereka; terlebih lagi saat mereka sedang memberikan taklim dan fatwa.

Termasuk sikap hikmah adalah memerintah anak kecil kepada kebaikan dan melarangnya dari keburukan dengan cara yang lembut. Di samping itu, kita melakukan cara-cara yang diperkenankan guna mendorong mereka kepada kebaikan. Kita menjauhi cara kasar dan keras, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (apabila tidak mengerjakan shalat) saat usia mereka sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud dan Ahmad 2/187, dari riwayat ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dan sanad ini hasan. Hadits ini memiliki syawahid/pendukung. Lihat Irwa’ul Ghalil no. 247)

Ketika bergaul dengan mualaf, orang yang dibujuk hatinya kepada Islam agar senang dengan Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan sifat hikmah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan kepada mereka harta yang banyak. Dengan itu, diharapkan mereka bertambah senang dalam berislam sehingga akan diperoleh kemaslahatan. Sementara itu, untuk para sahabat beliau yang sudah dikenal kejujuran imannya justru tidak beliau berikan.

Hal ini dikisahkan dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan harta untuk beberapa orang, sementara saat itu Sa’d sedang duduk di majelis tersebut. Ada seseorang yang lebih baik dari mereka yang mendapat bagian, ternyata tidak diberi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bertanyalah Sa’d karena heran, “Mengapa Anda tidak memberi si Fulan? Padahal demi Allah, saya memandangnya adalah seorang mukmin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah seharusnya engkau mengatakan bahwa dia seorang muslim[1]?”

Sa’d pun terdiam sejenak. Akan tetapi, apa yang diketahuinya tentang orang yang tidak diberi tersebut mendorongnya untuk mengulangi ucapannya, “Mengapa Anda tidak memberi si Fulan? Padahal demi Allah, saya memandangnya adalah seorang mukmin.”

Tiga kali Sa’d mengulanginya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan jawaban yang sama, “Tidakkah seharusnya engkau mengatakan bahwa dia seorang muslim?”

Setelah itu, baru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

يَا سَعْدُ، إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ

“Wahai Sa’’d! Aku memberi seseorang padahal orang yang selainnya lebih aku cintai, karena khawatir (apabila orang tersebut tidak aku beri) Allah akan menelungkupkannya dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 27 dan Muslim no. 150)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melapangkan pemberiannya kepada orang yang menampakkan keislaman dalam rangka membujuk hatinya. Suatu ketika, saat memberikan harta kepada mualaf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan bagian kepada seorang lelaki dari kalangan Muhajirin. Sa’d mengajak bicara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang urusan orang tersebut karena Sa’d memandang justru orang itu lebih berhak mendapat bagian daripada yang lain. Karena yakin akan apa yang dipandangnya, Sa’d sampai mengulang-ulangi pernyataannya.

Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing Sa’d kepada dua hal:

  1. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu Sa’d tentang hikmah pemberian beliau kepada mereka yang diberi dan alasan orang yang lebih beliau cintai tidak diberi; yaitu apabila seorang mualaf tidak diberi bagian, dikhawatirkan dia akan murtad dari Islam sehingga temasuk penghuni neraka.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing Sa’d untuk tidak menyanjung seseorang dalam urusan batin. Adapun untuk perkara zahir, tidak terlarang. (Fathul Bari, 1/109—110)

Kembali kepada masalah hikmah. Ketika mengajak bicara istri dan anak-anak yang masih kecil, gunakanlah hikmah, yaitu ucapan yang layak untuk mereka dan bisa menyisipkan kebahagiaan pada diri mereka.

Di antara sikap hikmah dalam hal sedekah dan hadiah ialah tidak menyamakan pemberian kepada pengemis yang berkeliling meminta-minta kepada manusia dan cukup diberi satu-dua butir kurma atau satu-dua suapan, dengan pemberian kepada seorang fakir yang menjaga diri dari meminta-minta.

Termasuk sikap hikmah pula, membedakan pemberian kepada seseorang yang berjasa bagi kaum muslimin dan sering memberi kemanfaatan kepada orang banyak, dengan orang yang keadaannya tidak seperti itu.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Faedah dari Bahjah Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar, karya al-Allamah as-Sa’di, hlm. 40—43)


[1] Bukan memastikan dia seorang mukmin, karena kalimat demikian merupakan tazkiyah yang memastikan bahwa iman telah benar-benar menghujam dalam kalbu orang tersebut, yang dengan itu dia pasti masuk surga. Padahal, urusan kalbu siapa yang tahu selain Allah ‘azza wa jalla ?

Mencintai Allah

Hidup di dunia hanyalah untuk beribadah menghamba kepada Sang Khaliq, untuk itulah kita diciptakan.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Dia Yang Mahasuci diibadahi dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’) dan cinta (mahabbah). Tiga rasa ini tidak boleh ada yang hilang salah satunya, ketiganya harus komplet ada pada diri si penghamba.

Untuk khauf dan raja’ akan ada pembicaraan tersendiri di waktu-waktu mendatang, insya Allah. Adapun kali ini, secara ringkas kita akan berbicara tentang mahabbah.

Mencintai Allah subhanahu wa ta’ala yang selanjutnya kita sebut dengan mahabbatullah, bagaimanakah hakikatnya? Apakah diri kita sudah mencinta-Nya dengan semestinya? Ataukah diri kita malah tenggelam dalam mengejar cinta makhluk atau kalbu kita disesaki dengan mabuk cinta kepada makhluk sehingga tidak tersisa tempat untuk-Nya?

Jujur kita akui, kebanyakan dari umur kita telah kita lalui dengan pembicaraan tentang cinta kepada makhluk dan ambisi untuk beroleh cinta makhluk. Ketika cinta kita kepada si makhluk bertepuk sebelah tangan, gayung tiada bersambut, patahlah hati kita, serasa sesak dada kita. Demikianlah cinta dan mencinta makhluk, kita bisa “sakit” karenanya.

Adapun cinta yang selama ini sering kita abaikan dan terluputkan dari pikiran kita, padahal dia merupakan cinta teragung, sungguh tiada membekaskan sakit yang melukai kalbu. Itulah cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak akan patah arang seorang hamba yang mencintai-Nya ketika mengejar cinta-Nya. Karena siapa yang jujur dalam cintanya, Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan membalas. Sebuah cinta yang berbuah kemanisan, kelapangan, dan kebahagiaan di dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak.

Mahabatullah adalah sebuah kelaziman bagi yang mengaku beriman kepada-Nya, baik dia lelaki maupun perempuan. Bahkan cinta ini termasuk syarat Laa ilaaha illlallah[1] dan merupakan asas atau landasan dalam beramal. (ad-Da’u wa ad-Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 303) Yang namanya mencinta-Nya bukanlah sekadar pengakuan lisan atau ucapan di bibir saja, namun harus sebagaimana yang dinyatakan-Nya dalam tanzil-Nya,

Katakanlah (ya Muhammad), “Jika benar-benar kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian….” (Ali Imran: 31)

Kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim pemutus (yang memberikan penghukuman) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, sementara orang itu tidak di atas thariqah muhammadiyah (yaitu jalan yang ditempuh oleh Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Orang itu dusta dalam pengakuan cintanya sampai dia mau mengikuti syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tunduk pada ajaran nabawiyah dalam seluruh ucapan, perbuatan dan keadaannya, sebagaimana berita yang datang dalam kitab Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan tidak di atas perintah/perkara kami maka amalan itu tertolak.”[2]

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“… niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Dengan mencintai-Nya, yang dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian akan mendapatkan lebih daripada apa yang kalian upayakan yaitu kalian akan mendapatkan cinta- Nya, dan ini lebih agung daripada yang pertama (cinta kalian kepada-Nya), sebagaimana kata sebagian ulama ahli hikmah,

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبَّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَبَّ

“Tidaklah penting bagaimana kamu mencinta, yang penting hanyalah bagaimana kamu dicinta.”

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan selainnya dari pendahulu umat ini yang salih berkata, “Ada orang-orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala uji mereka dengan ayat ini (ayat 31 dari surat Ali Imran). “

Karena itulah, ayat ini dinamakan ayat mihnah/ujian, kata al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Tafsir Ibni Katsir, 2/24—25)

Bila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kalian maka itu merupakan bukti cinta kalian jujur kepada-Nya. Adapun bukti cinta kalian kepada-Nya adalah ittiba’ (mengikuti) kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ittiba’ tersebut, kalian beroleh buahnya yaitu cintanya Dzat yang mengutus sang Rasul. Bila kalian tidak mau ittiba’ kepada sang Rasul, lalu kalian mengaku cinta kepada-Nya maka cinta kalian tidaklah benar sehingga Dia pun tidak mencintai kalian. (Madarij as-Salikin, 3/20)

Ada sepuluh sebab yang dengannya seorang hamba akan beroleh cintanya Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan al-Hafizh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah,

  1. Membaca al-Qur’an dengan tadabbur, memahami maknanya dan apa yang diinginkan dengannya.
  2. Mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan nawafil setelah mengerjakan yang fardhu, karena ini akan mengantarkan kepada derajat dicintai setelah mencintai[3].
  3. Terus-menerus mengingat-Nya dalam seluruh keadaan dengan lisan, kalbu, dan amalan. Bagian yang diperoleh seorang hamba dari cinta-Nya sesuai dengan bagiannya dalam mengingat Dzat yang dicinta.
  4. Mengutamakan apa yang dicintai-Nya daripada apa yang kamu cintai tatkala hawa nafsu sedang bergejolak.
  5. Kalbu berusaha mempersaksikan dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta berbolak-balik dalam taman pengetahuan ini.

Siapa yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya, dia pasti akan mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, karena itulah kelompok sesat al-mua’thilah dan fir’auniyah serta jahmiyah[4] merupakan perampok atau pembegal jalanan bagi kalbu untuk sampai kepada Dzat yang dicintai.[5]

  1. Menyaksikan dan mengakui kebaikan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang zahir maupun batin.
  2. Ini yang paling mengagumkan, yaitu hancur luluhnya kalbu secara total di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, merasa tidak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Tiada tersisa kesombongan sedikit pun karena menyadari diri ini tidak ada apa-apanya sama sekali di hadapan kebesaran dan kekuasaan Sang Khaliq.
  3. Bersepi-sepi (khalwat) dengan-Nya di waktu turun-Nya[6] untuk bermunajat kepada-Nya dan membaca kalam-Nya, kemudian menutupnya dengan istighfar dan tobat.
  4. Duduk-duduk (bermajelis) dengan para pecinta-Nya, orang-orang yang jujur dalam keimanan mereka, dan memetik buah yang indah dari ucapan mereka sebagaimana buah yang bagus dipilih dari yang selainnya.
  5. Menjauhi segala sebab yang dapat memisahkan kalbu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18)

Sebagai penutup, sama kita ingat agar saya, Anda, dan siapa saja dari para hamba janganlah sibuk mencinta dan mencari cinta makhluk, namun mengabaikan untuk mencintai-Nya dan beroleh cinta-Nya.

Sungguh, siapa yang mencintai-Nya dengan jujur, Dia pun akan mencintai si hamba dan menjadikan penduduk langit dan bumi mencintai si hamba, sebagaimana dalam hadits,

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: يَا جِبْرِيْلُ، إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. قَالَ: ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ الْسَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ. ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ…

Sungguh, apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, lalu berkata, “Wahai Jibril, sungguh, Aku mencintai Fulan maka cintailah dia.” Jibril pun mencintai si Fulan. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit, “Sungguh, Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah penerimaan (rasa cinta) penghuni bumi kepada si Fulan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Tidak diterima dan tidak bermanfaat ucapan Laa ilaaha illlallah seseorang sampai dia mencintai kalimat ini berikut makna yang dikandungnya.

[2] HR. Muslim, dan al-Bukhari membawakannya secara mu’allaq.

[3] Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتُرِضَ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ بَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan

yang diwajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan nawafil (sunnah) hingga Aku mencintainya.(HR. al-Bukhari)

[4] Kelompok yang menolak sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, seluruhnya atau sebagiannya, bahkan ada yang sampai menolak nama-nama-Nya yang husna (mencapai puncak kebaikan).

[5] Mereka yang menolak nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya, bagaimana bisa mencintai-Nya dengan sebenar-benarnya?

[6] Pada sepertiga malam yang akhir, sebagaimana diberitakan dalam hadits yang sahih.

Sepuluh Hak yang Harus Dipenuhi (2)

           Telah kita bicarakan dari ayatul huquq al-’asyrah ini hak Allah dan hak kedua orang tua. Masih tersisa delapan hak yang akan kita bawakan semuanya secara ringkas dalam pembahasan kali ini.

Purple Ribbon 

Hak Karib Kerabat

Karib kerabat adalah orang yang memiliki hubungan nasab dengan kita, baik dari pihak ayah maupun ibu. Mereka adalah kakek dan nenek, saudara sekandung, saudara seayah atau seibu dan anak-anak mereka (keponakan), paman, bibi dan anak-anak mereka.

Silaturahim dengan mereka harus dijaga, tidak diperkenankan untuk diputus. Allah ‘azza wa jalla akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambung hubungan rahimnya. Sebaliknya, Allah ‘azza wa jalla akan memutus orang yang memutus hubungan rahimnya. Hal ini disebutkam dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya,

Allah berfirman kepada rahim, “Siapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Siapa yang memutusmu, Aku akan memutusnya.”

Abdullah ibnu ‘Amr c menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang menyambung hubungan (silaturahim) bukanlah yang membalas dengan yang setimpal. Akan tetapi, orang yang menyambung hubungan adalah orang yang bila terputus hubungan rahimnya, dia menyambungnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa menyambung hubungan dengan kerabat yang menyambung hubungan dengan kita disebut sebagai mukafaah, bukan silaturahim. Sebab, silaturahim hakikatnya adalah menyambung hubungan rahim dengan kerabat yang semula terputus.

Yang disebut silaturahim adalah apa yang menurut ‘urf atau kebiasaan masyarakat muslimin setempat sebagai silaturahim, karena al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menerangkan macam, jenis, dan kadarnya.

Ahlul ilmi menyebutkan bahwa di antara bentuk silaturahim tersebut ialah berbuat baik kepada karib kerabat, misalnya dengan memberi nafkah kepada mereka yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan dan kelapangan si pemberi, mengunjungi mereka, memberikan kebahagiaan kepada mereka, menghormati dan menunjukkan penghargaan kepada mereka.

 

Hak Anak Yatim & Orang Miskin

Anak yatim adalah anak kecil yang ayahnya meninggal sebelum dia baligh. Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjadi pengganti ayah mereka dalam hal memberikan perhatian dan menutupi kebutuhannya. Adapun orang miskin adalah orang yang tidak mendapati nafkah yang bisa mencukupinya. Berbuat baik kepadanya orang miskin diwujudkan dengan memberikan apa yang bisa mencukupinya.

Terpenuhinya hak keduanya akan meringankan derita dan kesusahan dua golongan yang lemah ini di tengahtengah masyarakat muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri diperintah oleh Allah untuk berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Adapun anak yatim janganlah engkau memberatkannya. Dan adapun seorang peminta maka janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9-10)

Di antara sifat orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak menghiraukan anak yatim dan tidak mengajak orang lain untuk memberi makan orang-orang miskin, sebagaimana firman-Nya,

“Tahukah kamu, (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1-3)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sekali-kali tidak, bahkan kalian tidak memuliakan anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang-orang miskin.” (al-Fajr: 17-18)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hak orang miskin adalah diberi makanan dan dipenuhi kebutuhannya, sedangkan anak yatim diberikan pemuliaan. Orang yang memelihara anak yatim akan beroleh janji berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan ibu jari beliau,

“Aku dan orang yang memelihara/menanggung anak yatim[1] di surga (dekatnya) seperti ini[2].” (HR. al-Bukhari)

Berbuat baik kepada golongan yang lemah ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam kalbu, kelunakan dan kelembutan hati, serta perasaan inabah/kembali dengan bertobat kepada Allah. Hal ini tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang telah mencobanya. Dengan mengasihi mereka yang lemah, tentu kasih Allah pun akan diperoleh, sebagaimana dalam hadits,

“Orang-orang yang penyayang akan disayang/dirahmati oleh ar-Rahman (Dzat Yang Maha Penyayang). Sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’, no. 3522)

 

Hak Tetangga yang Ada Hubungan Dekat / Kerabat dan Tetangga yang Jauh / Bukan Kerabat

Tetangga adalah orang yang tinggal bersebelahan atau dekat dengan tempat tinggal kita. Tetangga itu, kata ahlul ilmi, terbagi tiga,

  1. Tetangga beragama Islam yang ada hubungan kerabat. Dia memiliki tiga hak: hak sebagai tetangga, sebagai kerabat, dan hak sebagai muslim.
  2. Tetangga muslim yang bukan kerabat. Dia memiliki dua hak: hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim.
  3. Tetangga yang kafir Dia memiliki hak sebagai tetangga. Apabila ada hubungan kerabat dengannya, dia memiliki hak tambahan sebagai kerabat.

Jibril terus-menerus berpesan kepada Rasulullah tentang hak tetangga sampai-sampai beliau menyangka akan turun wahyu yang menyebutkan hak tetangga untuk turut mendapat warisan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara bentuk memenuhi hak tetangga adalah berbuat baik kepada mereka dengan menghadiahkan apa yang mungkin dihadiahkan, walaupun hanya mengirimkan kuah masakan daging atau selainnya, sebagaimana pesan Rasulullah kepada Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak makanan berkuah, perbanyaklah airnya, dan jangan lupa untuk mengirimkannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Diharamkan bagi kita menyakiti tetangga, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dengan ucapan, misalnya membuat suara gaduh yang mengganggu ketenangan tetangga, atau memutar radio/tape recorder dengan keras, walaupun yang diputar adalah kaset kajian/ceramah Islam atau tilawah al-Qur’an. Apalagi jika yang diputar adalah musik. Adapun dengan perbuatan, seperti melempar kotoran atau sampah di halaman tetangga, mengetuk pintu rumah mereka dengan keras, membiarkan dahan pohon kita merusak genting/atap rumah tetangga, dan sebagainya.

Barangsiapa mengganggu tetangganya, dia tidak memiliki sifat orang-orang beriman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman.”

Ada yang bertanya, “Siapa orang itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

 

Hak Teman Sejawat

Hak berikutnya yang tersebut dalam ayat al-huquq al-’asyrah adalah hak shahib bil janbi. Ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah istri. Ada pula yang mengatakan kawan dalam safar dan ada pula yang berpendapat teman yang salih. Kata ahli tafsir yang lain, maknanya adalah teman dudukmu saat mukim dan kawanmu ketika safar.

Seorang teman memiliki hak tambahan selain hak Islam (hak sebagai seorang muslim), berupa hak untuk dibantu dalam urusan agama dan dunianya, mendapat nasihat, setia kepadanya (tidak berkhianat) dalam keadaan lapang atau sempit, ketika senang atau susah, menyenangi untuknya apa yang disenangi untuk dirinya, dan membenci untuknya apa yang dibenci oleh dirinya. Semakin dekat pertemanan atau persahabatan, maka semakin ditekankan hak tersebut dan semakin bertambah.

 

Hak Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah tamu atau musafir yang melintas melewati tempat Anda. Apabila si musafir kehabisan bekal dalam safarnya, berbuat baik kepadanya dilakukan dengan memberinya zakat atau sedekah yang cukup untuk menyampaikannya ke tujuan, walaupun dia adalah orang yang berharta di negeri tempat tinggalnya.

Ibnu sabil memiliki hak terhadap kaum muslimin karena musafir biasanya memiliki kebutuhan/keperluankeperluan. Selain itu, dia adalah orang asing yang perlu dibantu untuk menunaikan maksud/tujuannya, atau sebagian dari tujuannya. Dia pantas dimuliakan dan dibuat tidak merasa asing di negeri yang sebenarnya asing (bukan negerinya sendiri).

 

Hak Hamba Sahaya

Perbudakan dalam Islam memang ada, namun jangan dibayangkan di benak kita gambaran yang kelam penuh kelaliman. Sungguh, semua itu tidak didapatkan dalam Islam. Perbudakan tidak manusiawi yang sarat kezaliman itu hanyalah ada di luar Islam, agama kekafiran yang memperbudak manusia dan memperlakukannya layaknya binatang.

Islam sebagai agama yang dipenuhi keadilan memberikan hak kepada budak atau hamba sahaya dan menanggungkan kewajiban kepada tuan pemiliknya untuk berbuat baik kepadanya. Banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan keharusan memperhatikan hak hamba sahaya ini. Satu bukti Islam tidak mengabaikan hak hamba sahaya adalah adanya dorongan untuk memerdekakannya. Bahkan, dalam Islam, banyak perkara pelanggaran yang ditebus dengan memerdekakan budak, seperti melanggar sumpah, tidak memenuhi nazar, dan bersetubuh di siang hari Ramadhan.

Ketika Rasulullah memberi Abu Dzar radhiallahu ‘anhu seorang hamba sahaya, beliau berpesan, “Terimalah wasiatku dalam urusan budak ini agar engkau berbuat baik dan bermuamalah kepadanya dengan baik pula.”

Ternyata Abu Dzar radhiallahu ‘anhu memerdekakan hamba sahaya tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang engkau perbuat terhadap hamba sahayamu?”

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu menjawab, “Anda memerintahku berbuat baik kepadanya, maka saya memerdekakannya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 121)

Rasulullah pernah bersabda kepada pemilik hamba sahaya tentang urusan hamba sahaya mereka, “Berilah para hamba sahaya makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian yang kalian pakai.” (HR. Muslim)

Pemilik hamba sahaya diperintah untuk tidak membebani hamba sahayanya pekerjaan yang di luar kemampuan mereka. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba sahaya memiliki hak untuk beroleh makanan dan pakaian. Dia tidak boleh dibebani pekerjaan yang tidak dia sanggupi.” (HR. Muslim)

Cukuplah ayat-ayat berikut ini menunjukkan mahasinul Islam (kebaikan Islam) kepada hamba sahaya dengan memberi dorongan untuk memerdekakannya, di samping menyebut tentang berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin,

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) dia menempuh ‹aqabah (jalan yang mendaki lagi sukar)? Tahukah kamu , apakah ‹aqabah itu? (Yaitu) melepaskan (memerdekakan) budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (al-Balad: 11-16)

Allah menawarkan, tidakkah kita ingin menempuh jalan menuju kesuksesan dan kebaikan? Kemudian Allah menerangkan jalan tersebut, yaitu membebaskan atau memerdekakan hamba sahaya dari perbudakan.

Banyak pula hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan memerdekakan budak. Satu di antaranya ialah hadits berikut ini.

“Siapa yang memerdekakan hamba sahaya yang beriman (dari perbudakan), maka itu menjadi tebusannya dari api neraka.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’ no. 6050)

Jalan kebaikan lain yang Allah tawarkan dalam ayat di atas ialah memberi makan anak yatim yang ada hubungan kerabat dan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa pada hari terjadi kelaparan.

Satu lagi yang menunjukkan keluhuran ajaran Islam, Islam menjadikan hamba sahaya sebagai saudara pemiliknya. Karena itu, layaknya saudara, ia harus diperlakukan dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Mereka adalah saudara-saudara kalian yang Allah jadikan mereka di bawah kekuasaan kalian….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber:

  • al-Qur’an al-Karim
  • Muhadharat fil ‘Aqidah wad Da’wah, asy-Syaikh

Shalih Fauzan

  • Shahih al-Adab al-Mufrad
  • Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani
  • Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin
  • Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di
  • Tafsir Ibnu Katsir

[1] Memelihara dan menanggung anak yatim adalah dengan menunaikan segala sesuatu yang dapat memberikan kemaslahatan dan kebaikan bagi agama dan dunia si yatim. Untuk urusan agamanya adalah dengan memberikan pendidikan, bimbingan, pengajaran, dan semisalnya. Adapun untuk urusan dunianya, dengan memberinya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semisalnya.

 [2] Seperti dekatnya ibu jari dan jari telunjuk.