Akidah Syiah Meruntuhkan Tauhid

Kaum muslimin sepakat bahwa fondasi Islam adalah dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

        بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَا ةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَ الْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berhaji, dan (5) berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Saat fondasi rusak atau runtuh, niscaya segala yang dibangun di atasnya akan runtuh pula. Barang siapa berupaya atau telah berupaya merusak atau meruntuhkannya, dia adalah seseorang yang telah keluar dari Islam.

Dua kalimat syahadat sebagai fondasi Islam mengandung makna yang besar dan agung. La ilaha illallah mengandung makna tauhidullah dan Muhammad rasulullah mengandung makna tauhidurrasul. Tauhidullah maknanya mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala bentuk peribadahan. Adapun makna tauhidurrasul adalah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya anutan dan teladan dalam menjalankan tauhidullah.

Di atas dua kalimat inilah dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dijalankan, bendera jihad dikibarkan, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditegakkan. Di atas dasar ini pula dibangun dan dinilai semua bentuk ibadah, ketaatan, serta segala bentuk pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdoa, berzikir, membaca al-Qur’an, berinfak, dan bentuk ketaatan lainnya.

Tauhidullah merupakan fondasi dakwah para rasul. Ia menjadi asas untuk memperbaiki segala bentuk perusakan dan kerusakan di muka bumi ini. Untuk tauhidullah, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jin dan manusia, seluruh makhluk, langit dan bumi, adanya pahala dan dosa, adanya surga dan neraka.

Sekali lagi, sebagai fondasi dan dasar berislam, kapan saja ia runtuh dan tumbang, segala amalan yang dibangun di atasnya akan ikut runtuh. Pelaku perusakan fondasi tersebut menjadi kafir, keluar dari koridor Islam.

Contohnya, para ulama sepakat bahwa apabila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berzakat, berpuasa, namun menentang ibadah haji, berarti dia telah keluar dari Islam.

Contoh lain, apabila dia mengakui semua rukun Islam, namun mengingkari adanya azab di dalam kubur atau mengingkari adanya hari kebangkitan, dia telah kafir dan keluar dari Islam.

Misal yang lain, para sahabat bersepakat memerangi Bani Hanifah. Bani Hanifah adalah murid-murid para sahabat dan belajar agama dari mereka. Bani Hanifah mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berpuasa, berhaji, bahkan berjihad bersama, beriman pada semua yang terkait dengan kehidupan akhirat. Akan tetapi, mereka diperangi karena mengangkat Musailamah al-Kadzdzab setara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini menyebabkan darah mereka halal untuk ditumpahkan, harta mereka halal untuk dirampas, dan kehormatan mereka direnggut.

Dengan gambaran di atas, jelaslah bahwa murtad (keluar dari Islam) bukan hanya pindah agama menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, atau agama yang lain. Para ulama setiap mazhab menyebutkan pembahasan fikih tentang “Hukum Orang Murtad”, murtad adalah seorang muslim yang keluar dari agamanya menjadi kafir. Para ulama setiap mazhab juga menyebutkan sekian perkara yang akan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara sebab kemurtadan adalah ucapan yang mengandung kekufuran dan kesyirikan, baik secara serius (karena keyakinan) maupun secara senda gurau dan main-main belaka. Simak ayat di bawah ini.

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, katakan (Muhammad) apakah kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada maaf bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah berimannya kalian.” (at-Taubah: 65—66)

Ayat ini turun terkait dengan kaum yang berangkat berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, lantas lisan mereka mengucapkan kalimat yang mengandung olokan dan ejekan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka pun menjadi kafir karenanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Nawaqidhu al- Islam, setelah menyebutkan sepuluh dari pembatal-pembatal keislaman yang besar menjelaskan, “Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal keislaman ini antara orang yang bermain-main, bersungguh-sungguh, dan takut; kecuali orang dipaksa. Semua ini adalah pembatal keislaman yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Sepantasnya setiap muslim berhati-hati, merasa takut akan ditimpa pembatal-pembatal tersebut. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari murka-Nya yang pasti dan azab-Nya yang pedih.” (Lihat Nawaqidhu al-Islam dan Kasyfu asy-Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha wa Nawaqidhu al-Islam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Seseorang akan menjadi kafir-murtad karena menentang satu bagian dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dua kalimat syahadat yang telah diucapkannya menjadi tidak berguna, apabila yang ditentang adalah dua kalimat syahadat itu sendiri. Padahal kedua kalimat ini adalah bagian agama yang paling besar dan agung. Bukankah dia lebih pantas untuk dikafirkan dan menjadi murtad?

Contoh pelanggaran terbesar terhadap tauhidullah ialah mengangkat seorang manusia setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala; meminta-minta di kuburan; menggantungkan nasib dan hidup di tangan para dukun dan paranormal; beristighatsah kepada ruh-ruh leluhur; menyembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala, baik untuk jin, tempat keramat, maupun kuburan tertentu;bernadzar untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala seperti bernadzar untuk kuburan tertentu; mengangkat para wali sebagai perantara dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala atau menjadikannya sebagai tujuan dalam berdoa, berharap, dan takut.

 

Propaganda Para Perusak Tauhidullah

Muncullah nama dan tokoh “pujaan” yang berbaju muslim di panggung dunia. Mereka menampilkan diri sebagai pejuang Islam, penyelamat kaum muslimin, penentang segala bentuk kezaliman, penegak keadilan, pembela hak kaum muslimin, dan menyuarakan permusuhan terhadap kaum non-Islam.

Slogan-slogannya yang penuh polesan seringkali menipu kaum muslimin sehingga para tokoh itu dianggap sejalan dengan apa yang diucapkannya. Padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang siap menerkam mangsanya.

Siapakah mangsa mereka? Kaum muslimin yang tidak bergabung dalam lingkaran mereka secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Mereka siap melakukan pembantaian kapan dan di mana pun saat ada peluang.

Sebutlah sejarah berdarah pada 312 H. Jamaah haji yang berangkat pulang dibantai, kaum lelakinya dibunuh, kaum wanitanya ditawan, dan harta benda mereka lebih dari 1 juta dinar dirampas.

Pada 317 H terulang peristiwa berdarah, yaitu pembantaian orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji pada 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Mayat-mayat mereka dibuang ke sumur Zamzam.

Siapakah dalangnya? Pasukan Qaramithah, sekte Syiah, yang dipimpin Abu Thahir al-Qirmithi, yang mendengungkan slogan cinta keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berlagak sebagai pejuang hak kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, justru kaum muslimin yang menjadi mangsa dan incaran mereka.

Jangan kita menganggap bahwa kampanye mereka dengan mengangkat slogan-slogan yang gagah seolah membela Islam itu tidak mendulang hasil dan memetik buah. Mereka telah berhasil mengikat akal pikiran kaum muslimin dan menancapkan kesesatan mereka di dalam sanubari orang-orang Islam.

Ini semua karena kaum muslimin tidak memiliki standar penilaian yang akurat dan benar karena jauhnya mereka dari ilmu agama. Ini adalah dampak dari sikap pembodohan yang ditanamkan oleh para tokoh-tokoh tersebut dengan penuh manipulasi dan dusta.

Propaganda para perusak tauhidullah itu sesungguhnya akhlak dan penampilan yang kotor, walaupun para tokoh kekafiran itu menampilkan diri kepada para pengikutnya sebagai penyelamat. Sementara itu, para rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dituduh sebagai juru perusak dan penukar keyakinan yang benar.

Tidak ada yang menerima cara kotor seperti ini kecuali orang-orang yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai orang fasik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ٥٤

        “Lalu Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (az-Zukhruf: 54)

Bukankah Fir’aun yang telah mengatakan,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Dia mengaku dengan penuh kedustaan,

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata,“Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

Kaum munafik yang hidup sebagai kaum perusak di muka bumi juga memproklamirkan dirinya sebagai ahli perbaikan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

        Dan apabila dikatakan kepada mereka, jangan kalian melakukan pengrusakan di muka bumi, mereka menjawab,“Sesungguhnya kami hanya melakukan perbaikan. Ketahuilah bahwa mereka adalah para perusak namun mereka tidak menyadari.” (al-Baqarah: 11—12)

Saudaraku, ini adalah propaganda lama yang diikuti oleh kaum perusak tauhidullah di masa sekarang. Mereka menempuh cara kotor seperti ini dengan tujuan-tujuan berikut.

  1. Ingin mendapatkan dukungan dari semua pihak.
  2. Ketakutan dan kekhawatiran apabila para pengikutnya lari meninggalkan dirinya.

radhiallahu ‘anhuma. Menyingkirkan dan melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi segala keinginan dan tujuan jahatnya, baik muslim maupun kafir.

Langkah seperti ini, menurut as-Sa’di, adalah memutarbalikkan fakta kebenaran. Jika dia sekadar mengajak orang lain untuk mengikutinya dalam kekafiran dan kesesatannya, kejahatan itu akan lebih ringan. Namun, dia mengajak untuk mengikutinya sekaligus menanamkan bahwa dengan mengikuti dirinya berarti pengikutnya telah mengikuti kebenaran, padahal sejatinya mengikuti kesesatan. (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 43)

Beliau mengatakan juga, “Ini adalah hal yang paling aneh terjadi. Bagaimana bisa manusia yang paling jahat menasihati orang yang mengikuti hamba terbaik? Ini termasuk langkah pengaburan dan sikap melariskan (kekufuran dan kesesatan). Tidak ada yang terpikat selain akal orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya, ‘Maka Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya, karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.” (Lihat Tafsir as-Sa’di)

 

Keyakinan Kaum Elite Iran Meruntuhkan Tauhidullah

Iran adalah negara yang identik dengan ajaran Syiah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Sekte Syiah yang ada di Iran adalah Syiah Rafidhah yang telah dikafirkan oleh para ulama sunnah.

Kerusakan yang mereka perbuat terhadap kaum muslimin melebihi kerusakan yang diperbuat oleh Yahudi dan Nasrani. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin, lebih-lebih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kebencian mereka sangat mengakar dan mendalam. Kebencian mereka bukan seumur jagung, tetapi sudah ada sejak para sahabat masih hidup menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Prinsip yang fundamen dalam ajaran mereka adalah “Tidak ada cinta kecuali dengan kebencian”. Yang mereka maksud dengan kata “benci” adalah membenci Abu Bakr dan Umar. Loyalitas dalam agama mereka adalah dengan membenci sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal membenci mereka adalah kekafiran.

Siapakah di umat ini yang pertama kali mengikuti jejak ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i, pencetus pertama kesyirikan di jazirah kelahiran Rasulullah?

Jawabannya adalah kaum Rafidhah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdur Rahman bin Hasan alu Syaikh mengatakan, “Yang pertama kali mengadakan kesyirikan di umat adalah kelompok ini (Syiah Rafidhah). Mereka meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan).” (Lihat Mulakhkhash Minhajus Sunnah karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan hlm. 153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan semua kebid’ahan dibangun di atas dusta dan mengada-ada. Karena itu, siapa yang jauh dari tauhid dan sunnah, dia akan lebih dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan sikap mengada-ada.

Contohnya, Syiah Rafidhah. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang paling pendusta dan yang paling besar tingkat kesyirikannya. Tidak ada para pengekor hawa nafsu yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan dengan mereka.

Mereka keluar dari rumah-rumah Allah subhanahu wa ta’ala (masjid-masjid), tempat yang disebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya. Mereka kosongkan masjid dari shalat jum’at dan shalat berjamaah, lalu meramaikan bangunan-bangunan yang berada di atas kuburan-kuburan, sebuah perbuatan yang telah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Lihat Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 501)

Beliau rahimahullah menjelaskan pula (hlm. 545), “Sungguh, Umar telah datang ke negeri Syam lebih dari satu kali, sejumlah sahabat juga telah tinggal (di negeri tersebut). Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang melakukan hal itu (mengagungkan kuburan). Kaum muslimin tidak pernah membangun sebuah masjid pun di atas kuburan.

Namun, kaum Nasrani bisa berkuasa di semua tempat pada akhir abad ke-4 dengan merampas Baitul Maqdis. Ini disebabkan berkuasanya kaum Rafidhah di Syam dan Mesir.

Rafidhah adalah umat yang terhina, tidak memiliki akal yang jelas, dalil yang sahih, agama yang diterima, dan tidak memiliki dunia yang terjaga. Kaum Nasrani menjadi kuat dan merampas daerah-daerah pantai dan selainnya dari kaum Syiah Rafidhah.

Mereka berulah dengan melubangi kamar al-Khalil ‘alaihissalam lalu membuat pintu—dan bekas lubang tersebut tampak di pintunya—dan menjadikannya tempat beribadah. Penampilan ini adalah sebuah rekayasa kaum Nasrani, bukan perbuatan salaf umat ini dan orang terbaik mereka.”

Dari uraian singkat ini jelaslah bahwa keyakinan kaum elite Iran adalah meruntuhkan tauhidullah demi menyembah dan mengagungkan kuburan-kuburan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Jangan Dekati Zina!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penyampai risalah dari langit, pernah bersabda,

        إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Mahacemburu. Cemburunya Allah subhanahu wa ta’ala adalah apabila seseorang (dari hamba-Nya) melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan atasnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Manusia yang paling tahu tentang Sang Rabb ini memberitakan bahwa Dia Yang Mahasuci memiliki sifat cemburu sebagai suatu sifat yang hakiki bagi-Nya. Jangan merasa heran apabila Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan sifat ini! Apabila Anda heran, pastilah Anda sedang membayangkan cemburunya manusia.

Sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah sama dengan cemburu kita, para makhluk.

        لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia….” (asy-Syura: 11)

Cemburu Allah subhanahu wa ta’ala sangat agung dan mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai kewajiban. Dia mengharamkan atas mereka apa yang buruk, dan Dia menghalalkan apa yang baik dalam hukum-Nya.

Semua yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala pastilah baik bagi kita untuk agama dan dunia kita. Itu pastilah baik bagi kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sebaliknya, yang diharamkan-Nya pastilah buruk bagi kita untuk semuanya; agama, dunia, waktu sekarang, dan masa yang akan datang.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengharamkan sesuatu lantas masih saja seorang hamba melakukannya, Dia subhanahu wa ta’ala cemburu. Mengapa si hamba berbuat demikian padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya demi kemaslahatan si hamba?

Allah subhanahu wa ta’ala sendiri tidaklah termudaratkan dengan maksiat si hamba, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tidak beroleh manfaat dari ketaatan hamba.

Lantas, mengapa Allah subhanahu wa ta’ala cemburu?

Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Penyayang. Dia tidaklah melarang hamba-Nya dari sesuatu karena kikir terhadap mereka, tetapi demi kemaslahatan mereka.

Kemudian datanglah hamba yang lancang. Dengan kebodohan dan hawa nafsunya, dia terjang larangan Sang Khaliq. Dia lampaui batasan yang ditetapkan ar-Rahman. Dia bermaksiat kepada Rabbnya yang sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala cemburu karenanya.

 

Allah Cemburu Bila Hamba-Nya Berzina

Ada satu perbuatan haram yang dikaitkan secara khusus dengan sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ

“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa demikian? Karena zina adalah perbuatan yang keji, amat rendah, dan sangat buruk. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zina, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada zina[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Janganlah kalian mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (al-Isra: 32)

Apabila seorang hamba berzina, na’udzubillah, Allah subhanahu wa ta’ala sangat cemburu dan lebih besar kecemburuan-Nya daripada jika seorang hamba melakukan perbuatan haram selain zina. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/338—339)

 

Mut’ah=Zina

Anehnya, ada zina yang dilegalkan atas nama agama. Ya , mut’ah namanya. Boleh kita sebut kawin kontrak; kontraknya bisa setahun, sebulan, sepekan, bahkan semalam, na’udzubillah. Setelah itu berpisah begitu saja, tanpa ada pertanggungjawaban. Lantas bagaimana jika perempuan yang dimut’ah itu akhirnya hamil?

Ada juga yang tidak menetapkan waktu. Artinya sesukanya, kalau sudah bosan ya pisah, cari yang lain lagi, sebagaimana praktik mut’ah yang terdata dilakukan oleh mahasiswa di universitas tertentu yang terkena racun Syi’ah.

Pada praktiknya, mut’ah dilakukan tanpa wali, tanpa saksi, tanpa pemberitahuan kepada orang-orang (tidak disebarkan beritanya), tanpa memberitahu wali si perempuan, dan tidak ada hubungan waris-mewarisi antara kedua pihak. Jadi, bagaimana hakikatnya? Si perempuan hanyalah berstatus istri sewaan.

Masih ragu bahwa mut’ah adalah zina?

Memang benar, dahulu pernikahan dengan cara mut’ah ini pernah dibolehkan[2]. Akan tetapi, kebolehannya telah dihapus dan diharamkan sampai hari kiamat. Kaum yang gemar mengumbar hawa nafsu, hanya mengejar kesenangan perut dan kemaluan, justru melegalisasi zina dengan istilah mut’ah. Merekalah Syiah Rafidhah.

Menurut mereka, seseorang yang melakukan mut’ah memiliki keutamaan yang besar. Tiga kali bermut’ah ganjarannya akan dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sebaliknya, mereka mengklaim siapa yang tidak pernah bermut’ah, dia bukanlah seorang muslim, dan siapa yang tidak menerima mut’ah berarti dia kafir. (sebagaimana disebutkan dalam kitab pegangan Syi’ah: Man La Yahdhuruhu al-Faqih, ash-Shaduq al-Qummi 3/366, dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 33—34)

Mereka membolehkan lelaki bermut’ah tidak hanya dengan para gadis atau janda. Bahkan, boleh bermut’ah dengan istri orang dan yang afdal tanpa sepengetahuan suaminya. Inna lillahi…. (kitab Syi’ah Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 5/463, dinukil dalam Lillahi Tsumma lit Tarikh hlm. 41)

Dilegalkannya mut’ah atas nama agama di kalangan orang-orang Syi’ah Rafidhah di Iran, sampai menyeret kepada pembolehan i’aratul farj (menyewakan farji). Pembolehannya difatwakan oleh tokoh ulama mereka, seperti as-Sayyid Luthfullah ash-Shafi.

Bagaimana bentuk i’aratul farj ini? Seorang lelaki memberikan istri atau budak perempuannya kepada lelaki lain dan memperbolehkan si lelaki “berhubungan” dengan istrinya atau melakukan terhadap istrinya sekehendak si lelaki.

Apabila seorang suami hendak safar, dia menitipkan istrinya kepada lelaki tetangganya, temannya, atau siapa saja yang dipilihnya. Dia membolehkan lelaki tersebut melakukan apa saja terhadap istrinya selama dia safar. Tujuannya agar dia bisa tenang dalam safarnya dan tidak khawatir istrinya melakukan perzinaan selama dia tinggalkan. Lho!

Bentuk yang kedua, apabila suatu kaum atau keluarga kedatangan tamu dan mereka hendak memuliakan tamu tersebut, si tuan rumah meminjamkan istrinya kepada si tamu selama dia tinggal bersama mereka. Si tamu boleh melakukan apa saja terhadap si istri. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 46—47)

Apa hakikat dari semua itu kalau bukan zina? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas mengharamkan zina?!

 

Liwath Lebih Parah daripada Zina

Ada lagi yang lebih keji dari perbuatan zina yaitu liwath, perbuatan kaum Luth. Allah subhanahu wa ta’ala menukilkan ucapan Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya,

أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١

“Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang tidak ada seorang pun dari penghuni alam semesta ini yang mendahului kalian (melakukannya).

Sungguh, kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan syahwat kalian, bukannya mendatangi perempuan. Sungguh, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

Perhatikan ayat di atas! Perbuatan liwath disebut dengan fahisyah memakai alif lam (ma’rifah, yang berarti sudah tertentu), sedangkan zina dalam surat al-Isra ayat 32, disebut tanpa alim lam (nakirah, masih umum, tidak tertentu). Apa bedanya?

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Zina adalah satu fahisyah/perbuatan keji dan kotor dari sekian banyak perbuatan fahsiyah. Adapun liwath adalah fahisyah yang paling besar.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/339)

Ternyata, kaum liberal dan yang sebarisan dengan mereka sama suaranya dengan Syiah ketika menyerukan agar LGBT dilegalkan di negeri tercinta ini—semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan negeri ini.

Mengapa demikian? Syi’ah adalah penyuka liwath, “berhubungan” sesama lelaki, terutama dengan amrad (anak muda belia yang belum tumbuh jenggotnya). Hal ini telah difatwakan oleh kebanyakan ulama mereka, seperti as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. (Lihat Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 52—54)

Laa haula wa laa quwwata illa billah! Lengkap sudah kebejatan Syi’ah Rafidhah. Kalau mereka tidak mengaku Islam, tentu lebih ringan. Yang parah, mereka mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan kebejatan akhlak mereka sebagai ajaran Islam.

Mereka membawakan riwayat-riwayat palsu penuh kedustaan atas nama para imam ahlul bait terkait penyimpangan moral yang diabsahkan. Hakikatnya, mereka ingin menjatuhkan kehormatan imam-imam ahlul bait dengan riwayat yang dibuat-buat oleh para zindiq. Sebab, kerendahan akhlak dan penyimpangan moral nantinya akan dianggap sebagai seruan dan ajaran para imam.

Mengapa para hamba demikian lancang berbuat dosa?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan wasilah (sarana yang mengantarkan) kepada zina, seperti memandang lawan jenis yang bukan mahram, ikhtilath (campur baur) lelaki dan perempuan tanpa hijab, khalwat (berdua saja) lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dengan berjabat tangan misalnya, perempuan melembutkan suaranya saat berbicara dengan lelaki, perempuan keluar rumah bertabarruj, memakai wangi-wangian, dsb. Semua itu dalam rangka mencegah terjadinya zina.

[2] Silakan baca kembali Rubrik “Mengayuh Biduk” edisi ini yang membawakan sedikit riwayat tentang mut’ah.

Syiah Menistakan Kaum Hawa

Jika ingin tahu di mana ajaran yang ‘aneh tapi nyata’, jawabannya ada di agama Syiah. Kalau mau tahu ajaran sesat-menyesatkan, semuanya ada di Syiah.

Bagaimana tidak? Syiah mengoleksi demikian banyak keanehan, kejanggalan, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, penyimpangan akidah, moral dan akhlak, serta menyelisihi fitrah manusia. Pun begitu, Syiah dianggap bagian dari Islam padahal Islam berlepas diri dari Syiah.

Berikut ini beberapa daftar kejahatan kaum yang rendah tersebut.

Dalam agama Syiah, kesyirikan bukanlah sesuatu yang dimungkiri. Seruan “Ya Husain!” biasa mereka ucapkan dalam perkumpulan mereka, dalam acara Husainiyat misalnya, seraya menepuk-nepuk dada. Lebih ngeri lagi syiriknya, mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib, ayahanda Husain, adalah Rabb mereka pada hari kiamat.

Dalam agama Syiah ada pengagungan terhadap kuburan. Bahkan, beribadah dan sujud kepada kuburan tokoh-tokoh mereka adalah sesuatu yang biasa.

Dalam agama Syiah ada tuduhan bahwa al-Qur’an yang di tangan kaum muslimin itu kurang, tidak lengkap. Dalam agama Syiah ada penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait beliau.

Dalam agama Syiah ada pengafiran terhadap orang-orang terbaik dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, kecuali sedikit dari mereka.

Dalam agama Syiah ada legalisasi dusta dengan nama taqiyah. Bahkan, barang siapa tidak bertaqiyah, dia tidaklah beragama. Demikian anggapan mereka.

Dalam agama Syiah ada penghalalan darah orang-orang yang tidak mengikuti agama mereka, terutama darah Sunni (Ahlus sunnah) musuh besar Syiah.

Dalam agama Syiah ada kecintaan kepada Yahudi karena Syiah memang terlahir dari rahim Yahudi.

Dalam agama Syiah ada tindakan memakan harta manusia dengan cara batil yang dilakukan oleh tokoh agama mereka. Mereka menyebutnya khumus.

Dalam agama Syiah, shalat Jum’at tidak disyariatkan kecuali sekadar taqiyah, berpura-pura saja tanpa keyakinan. Bahkan, shalat lima waktu dikurangi menjadi tiga waktu. Yang lebih ngeri lagi, shalat dilakukan dengan menghadap foto atau poster tokoh agama mereka.

Dalam agama Syiah ada ritual menyantap najis, yaitu makan dan minum “kotoran” imam mereka. Mereka menganggap, barang siapa memakannya, ia akan selamat dari api neraka.

Dalam agama Syiah ada ritual sadis dengan memukul-mukul dahi dan punggung dengan benda tajam dalam peringatan Asyura.

Dalam agama Syiah ada kejahatan dan kezaliman yang diatasnamakan agama terhadap anak-anak kecil dengan menjadikan mereka berdarah-darah akibat pukulan pedang di dahi mereka. Anehnya, ini dilakukan sendiri oleh orang tua mereka dalam ritual acara Asyura.

Dalam agama Syiah dibolehkan sodomi, perbuatan kaum Luth (homoseks) juga dianggap halal.

Dalam agama Syiah ada penghalalan zina, penistaan terhadap perempuan atas nama mut’ah. Yang terakhir inilah yang ingin kita bicarakan secara khusus.

 

Nasib Perempuan Sebelum dan Setelah Islam

Islam dibawa oleh Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tengah manusia dalam keadaan nasib perempuan demikian terpuruk. Terkhusus di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliah. Mereka membenci kelahiran bayi perempuan. Ada yang mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Ada pula yang membiarkannya hidup tetapi dalam keadaan terhina.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ ٥٨ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ٥٩

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) wajahnya dan dia sangat marah.

Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak perempuan tersebut dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (an-Nahl: 58—59)

Kalau ada bayi perempuan yang selamat dari penguburan hidup-hidup, dia tidak dipelihara dengan baik. Dia dibiarkan tumbuh dalam keadaan sengsara dan tersia-siakan.

Dia tidak berhak beroleh warisan dari kerabatnya yang meninggal walaupun kerabatnya tersebut kaya raya dan si perempuan fakir. Sebab, yang berhak mendapat warisan hanyalah kaum lelaki . Bahkan, apabila suaminya meninggal, si perempuan dan hartanya (apabila punya harta) menjadi warisan yang akan diambil oleh ahli waris suaminya. Mereka akan berbuat sesuka hati mereka kepadanya.

Di masa sebelum datangnya Islam, seorang lelaki bisa semaunya menikahi perempuan tanpa pembatasan dan tanpa peduli dengan keadaan istri-istri; kesempitan dan kezaliman, tidak ada mahar yang bisa dimiliki, tidak ada hak dan tidak ada pergaulan yang baik.

Keadaan pun berganti. Tatkala cahaya Islam bersinar menerangi bumi yang gulita, diangkatlah kezaliman terhadap perempuan. Islam menetapkan bahwa perempuan adalah manusia sebagaimana lelaki, keduanya berserikat dalam membentuk keturunan bangsa manusia.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan….” (al-Hujurat: 13)

Keduanya pun berserikat dalam hal mendapatkan pahala atau hukuman atas perbuatan yang dilakukan.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

          لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَ

“…sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan….” (al-Ahzab: 73)

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perempuan dijadikan barang warisan.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan dengan cara paksa….” (an-Nisa: 19)

        Bahkan, perempuan menjadi ahli waris atas harta yang ditinggalkan oleh kerabatnya yang wafat sebagaimana halnya kaum lelaki.

          لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا ٧

“Bagi para lelaki ada bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat. Dan bagi perempuan ada pula bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisa: 7)

        Dalam urusan nikah, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi seorang lelaki untuk mengumpulkan maksimal empat orang istri, dengan syarat suami bisa berlaku adil di antara istri-istrinya dan bisa bergaul dengan baik dengan mereka.

          وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

        “Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (an-Nisa: 19)

Diwajibkan bagi seorang lelaki untuk menyerahkan mahar kepada perempuan yang dinikahinya.

          وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ

“Berikanlah mahar kepada perempuan yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan….” (an-Nisa: 4)

Selain itu, suami diwajibkan memberi makan dan pakaian kepada istrinya, menurut penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hak istri dalam hadits beliau yang agung. (Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 5—6)

 

Perempuan dalam Ajaran Syiah

Lain perempuan dalam ajaran Islam, lain pula dalam ajaran Syiah. Syiah memperlakukan perempuan tidak seperti nilai-nilai yang ditanamkan oleh Islam. Mereka menjadikan perempuan sebagai budak nafsu mereka yang kotor. Namun, mereka menyembunyikan kebusukan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Mut’ah namanya. Dibuatlah riwayat-riwayat yang palsu oleh para zindiq tentang keutamaan mut ’ah, lalu mereka sandarkan secara dusta kepada para imam ahlul bait yang mulia.

Dengan mut’ah, seorang lelaki dalam agama Syiah—apalagi sekelas Sayyid atau Ayatullah—bisa sesukanya “menikahi” perempuan, tidak harus ada wali dan tanpa harus ada saksi. Ketemuan berdua di jalan, suka sama suka, si lelaki berkata, “Aku ingin mut’ah denganmu.”

Jika si perempuan setuju, disepakatilah maharnya (baca: sewanya) dan bisa ditentukan berapa lama ingin menjalani mut’ah tersebut, hanya satu jam, semalam, atau lebih dari itu.

Disebutkan riwayat dari kitabrujukan utama mereka “al-Kafi[1], Khalaf bin Hammad berkata, “Aku mengutus seseorang untuk bertanya kepada Abu Hasan tentang batas minimal waktu mut’ah. Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan?” Jawabnya, “Ya, boleh.” (al-Kafi, 5/460)

Perempuan yang dinikahi secara mut’ah memang tidak layak disebut istri, tetapi perempuan sewaan (lantas apa bedanya dengan pelacur?). Mereka meriwayatkan secara jahat dan dusta lalu mereka sandarkan kepada Abu Abdillah al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma. Kata riwayat dusta itu, Abu Abdillah berkata, “Menikahlah dengan seribu perempuan, karena perempuan yang dimut’ah adalah perempuan sewaan.” (al-Kafi, 5/452)

Setelah kontrak mut’ah habis, terus bagaimana? Ya, bubar begitu saja. Tidak ada hak dan kewajiban, tidak ada hubungan waris-mewarisi. Demikian pernyataan Ayatullah mereka, Ali as-Sistani, dalam bukunya, Minhaj as-Salihin (3/80, masalah ke-255).

Bagaimana kalau ternyata si perempuan yang dimut’ah hamil akibat hubungan tersebut, apakah si lelaki bertanggung jawab menafkahi anak yang dikandung?

Kata Ali as-Sistani dalam masalah ke-256 di kitab yang sama, “Laki-laki yang nikah mu’tah dengan seorang perempuan tidaklah wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya, walaupun sedang hamil dari bibitnya.”

Bahkan, banyak kejadian di negeri Syiah sana, tidak diketahui siapa lelaki yang berhasil menanamkan benih di rahim si perempuan karena si perempuan berulang kali melakukan mut’ah dengan banyak lelaki dalam sebulan. Na’udzu billah.

Yang lucu, untuk mengobati hati perempuan pelaku mut’ah yang mungkin ‘hancur lebur’ karena hamil tanpa suami yang sah/permanen, dibuatlah ‘riwayat’ bahwa anak yang terlahir dari nikah mut’ah lebih utama daripada anak yang lahir dari pernikahan yang sah. Imam Ja’far versi mereka di kitab mereka berkata, “Dan anak hasil mut’ah lebih utama daripada anak dari istri da’im (dari nikah permanen).” (Tafsir Minhajus Shadiqin, al-Mulla al-Kasyani, 2/495)

Di negeri pengekspor ajaran Syiah atau yang mayoritas penduduknya beragama Syiah, anak-anak perempuan yang terlahir dari hasil mut’ah dibuatkan perkumpulan yang dinamakan Zainabiyat. Para perempuan Zainabiyat ini kelak siap dan suka hati menjadi “istri-istri” mut’ah.

Di sisi lain, para suami sah-sah saja menjadi dayyuts yang telah kehilangan akal sehatnya. Telah hilang rasa cemburu kepada istri-istri mereka. Mereka rela meminjamkan istrinya kepada tetangga, sahabat, atau siapa pun laki-laki yang dititipi selama si suami safar. Terserah yang dititipi mau berbuat apa saja terhadap istrinya.

Ini terjadi karena adanya fatwa ulama mereka tentang bolehnya i’aratul farj (menyewakan kemaluan). Ketika lelaki yang dititipi tersebut menggauli si istri, perbuatannya tidak dianggap zina, tetapi menikah sementara alias mut’ah selama suaminya safar. Na’udzu billah.

Lebih jauh lagi, mut’ah tidak hanya dilakukan dengan seorang gadis atau perempuan yang tidak memiliki suami sah. Mut’ah boleh dilakukan dengan istri orang lain, walau tanpa sepengetahuan dan ridha suaminya. Tidak hanya perempuan baligh yang menjadi korban ganasnya mut’ah, bahkan gadis kecil berusia kurang dari sepuluh tahun pun boleh dimut’ah, menurut fatwa ulama mereka.

Bahkan dikisahkan oleh Husain al-Musawi[2], Khomeini—imam Syiah yang sangat jahat dan Allah subhanahu wa ta’ala cukupkan kita dari kejahatannya dengan kematiannya—pernah melakukan mut’ah dengan bocah perempuan berusia 4 atau 5 tahun. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi, hlm. 35—37)

Melengkapi kejahatannya, Khomeini memandang bolehnya mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu sekalipun, sebagaimana dalam bukunya Tahrir al-Wasilah (2/241, masalah no. 12).

Apa yang kita simpulkan dari pemaparan di atas?

Perempuan, dari bayi sampai yang dewasa, tidak memiliki kehormatan di sisi Syiah. Perempuan dihinakan, hanya menjadi objek pemuas nafsu setan. Kalau si lelaki masih suka, dia tahan dalam hubungan mut’ah. Apabila sudah bosan, ditinggalkan begitu saja. Sungguh sengsara!

Betapa banyak lelaki yang melakukan mut’ah dengan seorang perempuan dan dengan ibunya. Dia melakukan mut’ah dengan si ibu dan dengan putri si ibu. Terjadi juga perempuan bersaudara dimut’ah oleh lelaki yang sama. Bahkan, ada seorang perempuan dimut’ah oleh seorang lelaki. Di belakang hari, si lelaki memut’ah putrinya sendiri dari hasil mut’ah sekian tahun sebelumnya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Husain al-Musawi memberikan persaksian, “Pernah datang kepadaku[3] seorang ibu, meminta penjelasan dariku tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia beritakan kepadaku bahwa seorang tokoh agama Syiah, yaitu Sayyid Husain ash-Shadr, pernah mut’ah dengannya lebih dari 20 tahun yang lalu. Dia hamil dari hasil hubungan tersebut. Ketika Sayyid Husain ash-Shadr sudah tidak menginginkan dirinya, dia pun ditinggalkan.

Beberapa waktu kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa anak itu adalah hasil hubungannya dengan Sayyid Husain ash-Shadr karena waktu itu tidak ada seorang lelaki pun yang melakukan mut’ah dengannya selain Sayyid Husain.

Setelah si anak perempuan tumbuh besar, menjadi seorang remaja putri yang cantik dan siap menikah, ternyata si ibu mengetahui bahwa putrinya telah hamil. Saat ditanya sebab hamilnya, putrinya memberitakan bahwa Sayyid Husain ash-Shadr telah melakukan mut’ah dengannya hingga hamil. Si ibu bingung, apa yang semestinya dia lakukan?”

Kemudian al-Musawi mengatakan bahwa kejadian seperti di atas sering sekali terjadi. Ada yang melakukan mut’ah dengan seorang remaja putri yang ternyata adalah saudari perempuannya dari hasil mut’ah. Ada yang melakukan mut’ah dengan istri ayahnya. Di Iran, kejadian seperti ini tidak mampu dihitung karena banyaknya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Demikian gambaran penistaan kaum Syiah terhadap kaum wanita. Maka dari itu, wahai kaum Hawa, jagalah dirimu jangan sampai mengikuti ajaran sesat Syiah! Jangan sampai engkau tertipu oleh mulut manis saudara setan dengan dalih agama.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Merupakan kitab hadits dan riwayat. Al-Kafi ini kedudukannya seperti Shahih al-Bukhari dalam agama Syiah. Penulisnya, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, digelari Tsiqatul Islam.

[2] Beliau mantan ulama Syiah yang sudah bertobat. Beliau menulis buku berjudul Lillahi Tsumma lit Tarikh, yang membeberkan kebobrokan Syiah.

[3] Saat beliau masih bergabung dengan Syiah.

Nasib Malang Anak-Anak dalam Cengkeraman Syiah

Berbicara tentang anak-anak, tentu yang tergambar di benak adalah sesosok makhluk yang lemah. Cinta dan kasih sayang, itu yang terlintas untuk diberikan kepada mereka. Namun, apakah manusia-manusia yang terbelenggu pemahaman Syiah seperti itu juga?

Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan cinta dan kasih sayang yang amat besar kepada seorang anak melalui kedua orang tuanya. Syariat ini pun memuji setiap orang yang memiliki rasa kasih sayang kepada anak-anak.

Bila kita membuka lembaran kitabullah, tercantum ayat-ayat tentang kisah Luqman tatkala mewujudkan kasih sayangnya kepada anaknya dalam bentuk bimbingan yang penuh hikmah. Luqman menyampaikan wasiat kepada putranya, seseorang yang paling dikasihi dan dicintainya serta paling berhak mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling utama. Karena itulah, wasiat pertama yang dia sampaikan adalah agar sang putra hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 6/192)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga keluarga—termasuk anak-anak mereka—dari ancaman api neraka.

        يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di neraka itu ada malaikat-malaikat penjaga yang keras lagi kasar, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya dan senantiasa melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Karena itulah, seorang hamba yang beriman harus menjaga dirinya dengan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala , menjauhi segala larangan Allah subhanahu wa ta’ala, serta bertobat dari setiap perbuatan yang membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala dan mendatangkan azab-Nya. Diiringi pula dengan upaya menjaga istri dan anak-anak dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta mengharuskan mereka melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

Dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa mudahnya kita menemukan berbagai bimbingan dan teladan untuk orang tua dalam mencurahkan kecintaan dan kasih sayang kepada anak-anak.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengungkapkan, bagaimana rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putranya yang lahir dari rahim Mariyah al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ، فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيَدَّخِنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ

“Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Anas berkata lagi, “Waktu itu Ibrahim sedang dalam penyusuan di daerah ‘Awali dekat Madinah. Beliau berangkat untuk menjenguknya dan kami menyertai beliau. Kemudian beliau masuk rumah yang saat itu tengah berasap hitam, karena ayah susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Kemudian beliau merengkuh Ibrahim dan menciumnya, lalu beliau kembali. (HR. Muslim no. 2316)

Tak hanya kepada putra-putri beliau sendiri, bahkan pada keumuman anak-anak para sahabat. Tak cukup satu-dua lembar untuk mengungkapkan teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wujud kasih sayang dan bimbingan beliau kepada mereka. Begitu pula anjuran beliau terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk memupuk kasih sayang pada anak-anak.

Demikianlah Islam menjaga dan memupuk anugerah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang tua, berupa rasa kasih sayang yang besar kepada anak-anak.

Namun, betapa tersayat jika kita menyaksikan perlakuan penganut agama Syi’ah terhadap anak-anak, baik anak sendiri, terlebih lagi anak-anak kaum muslimin. Sungguh, hampir tak sanggup tangan menuliskan ungkapan gambaran kebengisan dan kekejaman mereka. Tak sekadar merusak fisik dan mental, agamanya pun mereka berangus.

 

Syiah Mengajari Anak Kekufuran dan Kesesatan

Dalam Islam, orang tua memikul kewajiban untuk mengajari anak mengucapkan kalimat tauhid. Ketika anak beranjak dewasa, orang tua berkewajiban memahamkan makna kalimat mulia tersebut. Orang tua juga berkewajiban menanamkan kecintaan dan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang mencipta, memberi rezeki, dan menolong saat berada dalam kesusahan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Namun, apa yang diajarkan oleh penganut agama Syiah kepada anakanak? Amat jauh bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana tidak? Karena mereka bukan Islam, tentu yang mereka ajarkan pada anak-anak mereka adalah akidah dan agama kufur. Agama yang jauh dari sebutan agama rahmah, tetapi agama sadis dan bengis!

Dalam perayaan hari Asyura, dengan dalih mengenang penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, mereka tak sekadar membacok dan melukai kepala mereka sendiri. Sampai hati pula mereka mengarahkan dan mengayunkan pisau besar nan tajam atau sebilah pedang, lalu membacok dan melukai kepala anak-anak dan bayi-bayi mereka. Sembari tersenyum mereka menyaksikan anak-anak itu bersimbah darah, seakan-akan itu bukan buah hati mereka!

Mendapatkan bukti tentang hal ini insya Allah tidaklah sulit bagi yang menginginkannya. Berbagai media informasi yang tersebar di seluruh penjuru dunia telah memuatnya.

Masih berkenaan dengan hari Asyura, mereka mengajari anak-anak mereka melakukan ritual penyiksaan diri. Diiringi dendangan “Ya Husain… Ya Husain…!” dengan bertelanjang dada, anak-anak laki-laki itu sepenuh tenaga memukuli tubuhnya sendiri dengan segepok besi berbentuk pisau.

(lihat http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=jgtOlAiJnhs)

Nas’alullaha as-salamah!

Penindasan terhadap agama anak tak hanya terjadi pada anak-anak mereka. Sebutlah apa yang terjadi di Suriah, negeri yang hancur di bawah kekuasaan seorang Syiah Nushairiyah. Pemerintahnya memaksa rakyat untuk menuhankan pemimpin negerinya, sebagai bagian dari akidah sesat mereka.

Yang menolak mengikrarkan atau bersujud pada potret penguasa, niscaya akan berhadapan dengan beragam bentuk siksaan atau pembunuhan yang sadis. Wal ‘iyadzu billah… Kaum muslimin di sana benar-benar tertindas dan terusir.

Kekufuran semacam itu tidak hanya mereka jejalkan kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak. Suatu ketika, seorang anak kaum muslimin tertangkap oleh tentara Syiah. Dia pun diancam dan dipaksa menyatakan ucapan kufur. Akhirnya terjadi dialog antara orang-orang Syiah dengan anak yang malang ini. Berikut ini kurang lebih isi dialog itu.

“Siapakah penciptamu?”

“Bashar Assad.”

“Kepada siapa kamu berdoa?”

“Bashar Assad.”

“Siapa yang kamu sembah?”

“Bashar Assad.”

“Sekarang kamu paham…. Siapa Allah?”

“Bashar Assad.”

“Siapa Muhammad?”

“Bashar Assad.”

“Siapa        yang lebih kuat? Allah atau Bashar?”

“Allah Syria, Bashar.”

“Siapakah yang lebih baik? Allah atau Bashar?”

“Bashar.”

Anak itu pun dipaksa mengatakan, “Laa ilaha illa Bashar!”

(https://youtu.be/nkB0in0mtkg)

Sungguh, sekali lagi terasa berat untuk menukilkan dan menuliskan peristiwa semacam ini. Suatu peristiwa yang akan menghunjamkan luka yang tak terperikan sakit dan pedihnya dalam kalbu seorang yang bertauhid. Ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di sana.

 

Syiah Melegalkan Prostitusi terhadap Anak

Salah satu syariat yang menunjukkan rusaknya agama Syiah adalah nikah mut’ah. Nikah yang telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pun dianggap sebagai bagian dari agama mereka. Bahkan, mereka hiasi dengan sederet janji palsu bagi pelakunya.

Kenyataan ini semakin menyesakkan dada orang yang mengetahui kebenaran, manakala melihat pelaksanaan mut’ah tak hanya pada wanita dewasa. Anak-anak balita, bahkan bayi yang masih menyusu pun menjadi incaran pelampiasan syahwat mereka.

Sayyid Husain al-Musawi, seorang ulama Syiah yang akhirnya kembali kepada kebenaran, adalah satu di antara murid dan orang terdekat pemimpin besar Syiah pada masanya, Khomeini. Dia menuturkan apa yang pernah terjadi pada pemimpin besar Syiah ini dalam perjalanan pulang dari salah satu lawatannya.

Ketika tiba di Baghdad, mereka melepas lelah di rumah Sayyid Shahib, seorang lelaki asal Iran, yang berada di kawasan al-’Athifiyah. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah yang memang kenal dekat dengan Khomeini. Singkat cerita, dituturkan oleh al-Musawi berikut ini.

Menjelang waktu tidur, saat semua hadirin meninggalkan tempat kecuali sang tuan rumah, Imam Khomeini melihat gadis kecil berusia empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta kepada ayahnya, Sayyid Shahib, untuk mut’ah dengan gadis kecil itu. Ayahnya pun menyetujui dengan amat gembira.

Imam Khomeini bermalam dan gadis kecil itu berada dalam dekapannya. Sementara itu, kami mendengar suara tangisan dan teriakannya! Yang jelas, imam telah melalui malam itu.

Ketika pagi tiba, kami duduk sarapan pagi bersama. Imam memandangku dan melihat tanda ketidaksenangan tampak jelas di wajahku. Bagaimana dia bisa melakukan mut’ah dengan seorang anak kecil, sedangkan di rumah itu banyak wanita muda yang baligh, berakal, yang memungkinkan bagi Khomeini melakukan mut’ah dengan salah seorang dari mereka? Mengapa dia tidak berbuat demikian?

Dia pun bertanya, “Sayyid Husain, apa pendapatmu tentang mut’ah dengan anak kecil?”

Aku menjawab, “Kata pemutus adalah ucapan Anda, kebenaran adalah perbuatan Anda, dan Anda adalah imam mujtahid. Orang seperti saya tidak mungkin berpandangan dan berpendapat kecuali sebagaimana pandangan dan pendapat Anda.”

Amat tidak memungkinkan bagiku untuk membantahnya saat itu.

Dia lalu mengatakan, “Sayyid Husain, sesungguhnya dibolehkan mut’ah dengan anak kecil, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman, dan tafkhidz (menghimpitkan kemaluan di antara dua paha, –pent). Adapun jima’, dia belum mampu melakukannya.”

Imam Khomeini juga membolehkan mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu. Dia mengatakan, “Tidak mengapa mut’ah dengan bayi yang masih menyusu, dengan pelukan, tafkhidz, dan ciuman.” Lihat kitabnya Tahrirul Wasilah 2/241, masalah no. 12. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 36—37)

 

Syiah Membenarkan Hubungan sejenis

Satu lagi yang menunjukkan tindakan amoral Syiah kepada anak-anak. Dituturkan oleh al-Musawi, ulama Syiah tidak hanya membolehkan menggauli

istri melalui duburnya, bahkan membolehkan liwath (hubungan seks sejenis) dengan laki-laki atau anak lelaki yang masih belia. Pembolehan itu didukung dengan riwayat palsu yang mereka sandarkan kepada imam mereka, Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq.

Dalam kitabnya ini, al-Musawi juga menuturkan kejadian-kejadian liwath yang dilakukan oleh para sayyid kepada anak-anak lelaki yang masih belia. (Lillahi tsumma lit Tarikh, hlm. 52—55)

Apakah masih ada orang yang sehat akalnya dan bersih jiwanya merasa aman dan yakin dengan agama palsu ini? Nas’alullaha as-salamah!

 

Syiah Membantai Anak-anak Kaum Muslimin

Apabila kaum muslimin hidup di negeri yang dikuasai oleh orang-orang Syiah, mereka hidup dalam keadaan dinistakan, dianiaya, bahkan dibunuh dengan berbagai cara yang sungguh jauh dari kata beradab. Sebutlah negeri-negeri seperti Iran, Lebanon, dan Suriah. Peperangan dilancarkan oleh penguasa Syiah beserta kaki-tangannya untuk menindas kaum muslimin, tanpa pandang bulu. Tak memandang usia, wanita, anak-anak dan lanjut usia, semua dibinasakan tanpa sedikit pun belas kasihan.

Sudah terlalu banyak bukti terpampang di berbagai media. Keterangan saksi mata, foto dan video sudah banyak tersebar berbicara kepada dunia, mengungkap tindakan sadis dan bengis mereka terhadap anak-anak. Padahal mereka bukanlah orang yang dibolehkan dibunuh dalam peperangan.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

Didapati seorang wanita terbunuh di salah satu peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah pun melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. al-Bukhari no. 3015)

Memang, Syiah bukan Islam. Mereka sangat membenci Islam dan kaum muslimin. Karena itu, mereka tumpahkan kebencian itu dalam tindakan-tindakan yang sesuai dengan ajaran agama mereka, yang tentu saja jauh dari kata beradab sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Masihkah kita akan percaya dengan agama amoral seperti ini?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

Pernikahan Rasulullah & Zainab Dalam Pandangan Syiah Rafidhah

Setahun sudah masa yang dilalui oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu mengayuh bahtera rumah tangganya bersama sang istri, Zainab bintu Jahsy al-Asadiyah radhiallahu ‘anha. Hanya saja ketidakcocokan di antara keduanya terus membayangi keutuhan rumah tangga tersebut. Pernikahan keduanya yang sebenarnya diurus langsung oleh insan termulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di ambang kehancuran.

Masalahnya mungkin bisa dirunut sebelum rumah tangga itu terbentuk. Zaid bin Haritsah al-Kalbi radhiallahu ‘anhuma adalah bekas budak yang kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Saking sayangnya, sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala , beliau mengangkat Zaid sebagai anak sehingga sempat disebut Zaid bin Muhammad.

Demikian keadaannya sampai turun ayat yang melarang menisbatkan nasab kepada selain ayah kandung.

وَمَا جَعَلَ أَدۡعِيَآءَكُمۡ أَبۡنَآءَكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ قَوۡلُكُم بِأَفۡوَٰهِكُمۡۖ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلۡحَقَّ وَهُوَ يَهۡدِي ٱلسَّبِيلَ ٤ ٱدۡعُوهُمۡ لِأٓبَآئِهِمۡ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ

“Allah tidaklah menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kandung kalian. Hal itu sekadar ucapan di mulut-mulut kalian. Dan Allah mengucapkan yang haq (ucapan yang adil) dan Dia memberi petunjuk kepada jalan (yang lurus).

Panggillah mereka (anak-anak angkat tersebut) dengan menasabkan mereka kepada bapak-bapak (kandung) mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah.” (al-Ahzab: 4—5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mencarikan pendamping hidup untuk orang yang beliau kasihi tersebut. Pilihan beliau jatuh kepada Zainab bintu Jahsy radhiallahu ‘anha yang masih kerabat dekat beliau, saudari sepupu. Ibu Zainab adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayah, Umaimah bintu Abdil Muththalib.

Awalnya, saat dipinang untuk Zaid, Zainab keberatan. Sebab, dari sisi nasab dia merasa lebih mulia. Dia dari keturunan bangsawan, sementara Zaid adalah maula, bekas budak. Kemudian turunlah ayat menegur keengganan tersebut,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman dan tidak pula bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu perkara, lalu ada pilihan lain bagi mereka (tidak tunduk kepada pilihan Allah dan Rasul-Nya). Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)[1]

Zainab radhiallahu ‘anha akhirnya menerima pinangan tersebut dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mewujudkan harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menginginkan agar pinangan beliau untuk maulanya bisa diterima.

Singkat cerita, keduanya menikah. Namun, memasuki tahun pertama, pilar rumah tangga itu tidak mampu lagi berdiri tegak. Mengadulah Zaid kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Zainab menyakitiku dengan ucapannya, dia melakukan ini dan itu. Aku ingin menceraikannya,” ujar Zaid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Zaid dari keinginannya tersebut dan menyuruhnya bersabar dengan istrinya. “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah engkau kepada Allah!” nasihat sang Rasul.

Sementara itu, kabar dari atas langit telah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Zaid akan menceraikan Zainab dan setelah ‘iddah berlalu, Zainab akan menjadi istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kabar samawi tersebut membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir dan takut dengan omongan orang bahwa beliau menikahi bekas istri anak beliau. Hal tersebut tabu dan terlarang di masa jahiliah.

Allah subhanahu wa ta’ala menegur dan mengingatkan Rasul-Nya dalam ayat berikut ini,

          وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِيٓ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَيۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِي فِي نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِيهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah!” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang akan Allah tampakkan. Engkau takut kepada manusia padahal Allah-lah yang lebih patut engkau takuti. (al-Ahzab: 37)

مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ مِنۡ حَرَجٖ فِيمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِي ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرٗا مَّقۡدُورًا ٣٨

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi terdahulu. Dan adalah keputusan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegur oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena menyembunyikan apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala beritahukan kepada beliau, yaitu terjadinya perceraian Zaid dan Zainab, kemudian beliau akan menikahi Zainab.

وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

“Engkau khawatir dengan ucapan manusia dan celaan mereka kepadamu padahal Allah subhanahu wa ta’ala lah yang lebih pantas untuk engkau takuti. Karena itu, sampaikanlah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepadamu tanpa peduli dengan celaan manusia,” demikian makna ayat.

Setelah berlalu masa ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminangnya untuk diri beliau. Allah subhanahu wa ta’ala yang menikahkan keduanya dari atas Arsy-Nya, dengan Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk menemui Zainab yang telah sah menjadi istrinya dengan titah Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Pernikahan istimewa lagi khusus’ tanpa ada wali, tanpa akad, tanpa mahar, dan tanpa saksi dari kalangan manusia.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيۡدٞ مِّنۡهَا وَطَرٗا زَوَّجۡنَٰكَهَا لِكَيۡ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ حَرَجٞ فِيٓ أَزۡوَٰجِ أَدۡعِيَآئِهِمۡ إِذَا قَضَوۡاْ مِنۡهُنَّ وَطَرٗاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولٗا ٣٧

“Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, agar supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka. Dan perkara yang telah Allah tetapkan dan tentukan, pastilah terlaksana.” (al-Ahzab: 37)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan,

لمَاَّ انْقَضَتْ عِدَّةُ زَيْنَبَ قَالَ رَسُوْلُ الله لِزَيْدٍ: فَاذْكُرْهَا عَلَيَّ قَالَ: فَانْطَلَقَ زَيْدٌ حَتَّى أَتَاهَا وَهِيَ تُخَمِّرُ عَجِيْنَهَا. قَالَ: فَلَمَّا رَأَيْتُهَا عَظُمَتْ فِي صَدْرِيْ حَتَّى مَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَنْظُرَ إِلَيْهَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرَهَا فَوَلَّيْتُهَا ظَهْرِيْ وَنَكَصْتُ عَلَى عَقَبِي . فَقُلْتُ: يَا زَيْنَبُ، أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ يَذْكُرُكِ. قَالَتْ: مَا أَنَا بِصَانِعَةٍ شَيْئًا حَتَّى أُوَامِرَ رَبِّي. فَقَامَتْ إِلَى مَسْجِدِهَا وَنَزَلَ القُرْآنُ. وَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا بِغَيْرِ إِذْنٍ

Ketika selesai ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, “Sampaikan kepada Zainab, aku ingin meminangnya.”

Zaid pun pergi menemui Zainab yang sedang memberi ragi ke adonannya. Kata Zaid, “Ketika aku melihat Zainab, dia begitu agung dalam dadaku hingga aku tidak sanggup memandangnya[2], karena Rasulullah menyebutnya.” Aku pun memunggunginya dan berbalik ke belakang, lalu berkata, “Wahai Zainab, Rasulullah mengutusku, beliau ingin meminangmu.”

Zainab menjawab, “Saya tidak akan melakukan apa-apa sampai saya memohon petunjuk kepada Rabbku.”

Zainab pun bangkit menuju tempat shalatnya. Ketika itu al-Qur’an telah turun. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu masuk menemui Zainab tanpa meminta izin. (Shahih Muslim, no. 3488)

Dengan pernikahan yang mubarak tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala membatalkan kebiasaan mengangkat anak yang dikenal di kalangan orang-orang jahiliah dengan menasabkan anak angkat kepada ayah angkatnya[3], dengan penghalalan menikah dengan istri anak angkat setelah si anak angkat menceraikan istrinya atau dia meninggal dunia (cerai mati).

Yang haram dinikahi hanyalah mantan istri anak kandung sebagaimana firman-Nya tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi,

            وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“(Diharamkan pula bagi kalian untuk menikahi) istri-istri dari putra-putra kalian yang terlahir dari sulbi kalian (anak lelaki kandung).” (an-Nisa: 23)

Demikianlah kisah pernikahan yang penuh hikmah Ilahi tersebut. Kisah yang melapangkan hati orang-orang beriman dan membuat takjub mereka. Pernikahan yang tidak ada duanya. Bayangkan! Allah subhanahu wa ta’ala yang langsung menikahkan kedua mempelai dengan menurunkan ayat dari atas langitnya,

زَوَّجۡنَٰكَهَا

     “Kami nikahkan engkau (wahai Muhammad) dengannya (Zainab).”

Orang-orang yang menyimpan kebenc ian dan dendam kepada Islam tidak senang kecuali sesuatu yang memperkeruh atau mencoreng kebaikan Islam. Di antara yang tidak senang tersebut adalah Syiah Rafidhah. Mereka mencari celah untuk memburukkan Islam dan Nabi umat Islam, walau dengan cara dusta dan khianat.

Terkait dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha, ada riwayat batil yang menyenangkan hati orang-orang Rafidhah. Apakah itu?

Disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mencari Zaid di rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab sedang berdiri. Zainab adalah wanita yang berkulit putih, cantik, dan berpostur bagus, termasuk wanita Quraisy yang paling sempurna keindahannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyukainya dan berkata, “Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati.”

Zainab mendengar ucapan tasbih tersebut maka dia menceritakannya kepada Zaid. Zaid pun paham. Dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk menceraikan Zainab, karena pada dirinya ada sifat sombong, merasa lebih mulia daripada saya, dan dia menyakiti saya dengan ucapannya.”

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah berkata, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Adapula riwayat batil lain yang menyebutkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Zaid, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus angin sehingga terangkatlah gorden yang menutupi dalam rumah. Ketika itu Zainab mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh seorang istri dalam rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat Zainab hingga jatuh hati kepadanya.

Saat itu Zainab merasa bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertarik kepadanya. Ketika Zaid pulang, Zainab menceritakan hal tersebut, maka Zaid ingin menceraikan Zainab.“Engkau sembunyikan dalam jiwamu rasa cinta kepada Zainab dan engkau takut, merasa malu kepada manusia.“ Demikian ayat mereka tafsirkan.

Lihatlah kisah di atas. Entah siapa yang pertama kali mengarangnya. Tanpa melihat sanad riwayat pun, hati orang-orang beriman pastilah menolaknya.

Dusta! Tidak mungkin!

Apalagi tidak ada satu pun jalur yang sahih untuk kisah di atas.

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, justru yang dipegangi oleh ahlu tahqiq dari kalangan mufassirin dan ulama rasikhin (yang mendalam ilmunya) seperti az-Zuhri, al-Qadhi Bakr ibnu al-‘Ala’ al-Qusyairi, al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi, adalah kisah yang telah kita bawakan di awal tulisan.

Riwayat yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab bersumber dari orang yang tidak tahu tentang kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan semacam itu, atau dari orang yang ingin merendahkan kehormatan/kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 14/124)

Para nabi adalah orang-orang yang kedudukannya agung, paling menjaga ‘iffah, paling mulia akhlaknya, paling tinggi dan paling mulia martabatnya untuk melakukan hal yang disebutkan oleh kisah dusta di atas.

Selain itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminang Zainab untuk Zaid? Seandainya dari awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terpaut hatinya kepada Zainab, tentu beliau yang akan menikahi Zainab, bukan malah diberikan kepada Zaid. Apalagi Zainab pada awalnya keberatan menikah dengan Zaid. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/138—140)

Kalau dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru melihat kecantikan Zainab setelah diperistri Zaid, ini mustahil. Sebab, dekatnya hubungan kekerabatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab memberi kemungkinan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu “bagaimana” Zainab. Bukankah saat itu syariat hijab belum turun?

Dengan demikian, makna ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, bukanlah rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab yang masih berstatus sebagai istri Zaid; bukan pula keinginan kuat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Zaid menceraikan Zainab sehingga beliau bisa memperistri Zainab.

Yang benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kabar dari langit bahwa Zaid akan menceraikan Zainab, kemudian akan diperistri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sembunyikan? Karena khawatir dan malu, apa kata orang apabila beliau menikah dengan mantan istri anak angkatnya?

Ketika Zaid mengutarakan keinginannya untuk bercerai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengiyakan. Beliau justru mengatakan, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Dalil kebenaran penafsiran ini dari dua sisi, kata al-Imam asy-Syinqithi,

  1. Ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, ternyata yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan adalah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha pada firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya….”

Allah ‘azza wa jalla sama sekali tidak menampakkan kebenaran tuduhan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab. Seandainya demikian, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menunjukkannya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala secara jelas menyebutkan dalam ayat bahwa Dia-lah yang menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah ilahi dalam pernikahan tersebut adalah untuk memutus anggapan haramnya menikahi mantan istri anak angkat.

Firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka.”

Firman-Nya, “supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman…”, adalah alasan yang jelas Allah ‘azza wa jalla menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah agung pernikahan ini juga menunjukkan secara nyata bahwa sebab pernikahan itu bukanlah karena Rasulullah jatuh cinta kepada Zainab—yang mereka katakan sebagai sebab Zaid menceraikan Zainab.

Yang lebih memperjelas hal ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya….

Ayat ini menunjukkan bahwa Zaid sudah menyelesaikan urusannya dengan Zainab. Tidak tersisa lagi keinginan kepada Zainab, lalu Zaid menceraikan Zainab dengan kemauan sendiri. (Adhwa’ul Bayan, 6/582—583)

Kalau ditanya, apa bukti bahwa kaum Rafidhah memiliki tuduhan jelek kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait hubungan beliau dengan Zainab?

Dalam kitab pegangan Rafidhah yang berjudul ‘Uyun Akhbar ar-Ridha (hlm. 113) disebutkan bahwa ash-Shaduq menukilkan dari ar-Ridha tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat al-Ahzab ayat 37, “Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah.” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya.

Ar-Ridha menafsirkan ayat ini, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Zaid bin Haritsah untuk suatu urusan yang beliau inginkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab, istri Zaid, sedang mandi.

Beliau berkata shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab, “Mahasuci Dzat yang menciptakanmu.” (Sebagaimana dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 20, karya as-Sayyid Husain al-Musawi[4])

As-Sayyid Husain al-Musawi mengomentari setelah itu, “Apakah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang istri seorang muslim, menyukainya, dan terkagum-kagum kepadanya dengan mengatakan kepadanya, ‘Mahasuci Dzat yang telah menciptakanmu’?! Bukankah ini celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!”

Kemudian Sayyid Husain menukilkan celaan-celaan lain yang diarahkan Syiah Rafidhah kepada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia[5]. Semuanya menjadi bukti bahwa Syiah tidak memuliakan dan tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ahlul bait beliau.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber Bacaan:

  • Adhwaul Bayan, al-Imam asy-Syinqithi
  • al-Jami’ li Ahkamil Quran, al-Imam al-Qurthubi
  • ash-Shahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
  • Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta
  • Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi
  • Shahih Muslim, al-Imam Muslim an-Naisaburi
  • Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir

[1]              Ada sebab lain yang disebutkan sebagai sababun nuzul ayat ini, selain kejadian Zainab di atas, yaitu kisah Julaibib yang meminang seorang gadis dari kalangan Anshar. Kedua kejadian tersebut bisa tercakup dalam ayat, sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini umum dalam seluruh urusan. Sebab, apabila Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum sesuatu, tidak boleh bagi seorang pun menyelisihinya. Tidak ada lagi pilihan lain bagi seorang pun, tidak pula pendapat dan ucapan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemutus dalam apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati adanya keberatan dalam jiwa mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan sebenar-benarnya.” (an-Nisa: 65)

[2]               Saat itu belum turun perintah hijab. Ayat tentang hijab baru turun ketika walimah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[3]               Ayatnya telah turun terlebih dahulu dan ditekankan lagi dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mantan istri anak angkat beliau.

[4] Mantan ulama Syiah yang bertobat dan kembali kepada al-haq kemudian membongkar kesesatan Syiah.

[5] Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 21

Mut’ah Lebih Keji Daripada Zina

Pada Rubrik Akhlak edisi ini, redaksi akan berusaha melengkapi beberapa artikel terkait dengan nikah mut’ah yang pernah dimuat di Majalah Asy-Syariah. Penulis mengharapkan hidayah, taufik, dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala semata.

 Islam Menjaga Kehormatan dan Kesucian

Seorang muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu berkeyakinan bahwa Islam datang membawa syariat yang mulia dan sempurna.

Di antara bukti kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri dari berbagai hal yang keji, seperti zina, mut’ah, hubungan sesama jenis, dan onani.

Di antara dalil-dalil dari al-Qur’an yang memerintahkan menjaga kehormatan dan kesucian adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya….” (an-Nur: 30—31)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-Nya,

“… Agar mereka menjaga kemaluan mereka tidak bersetubuh dengan cara yang haram, pada kemaluan, dubur, atau lainnya. Demikian pula, mereka tidak membiarkan orang lain meraba dan melihatnya. Sebab, menjaga pandangan dan kemaluan lebih terhormat dan lebih suci, serta akan menumbuhkan amalan-amalan yang baik bagi mereka.

Sebab, barang siapa menjaga kemaluan dan pandangan mata, niscaya dia akan suci dari hal-hal yang keji/kotor. Amalan-amalannya pun akan bersih karena dia menjauhi hal-hal yang haram tersebut.

Meski demikian, hawa nafsu tentu tetap akan condong dan mengajak melakukan yang diharamkan itu. Maka dari itu, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat-sifat para pewaris surga,

          وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (al-Mu’minun: 5—6)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dari perbuatan zina. Termasuk yang akan menyempurnakan penjagaan kehormatan adalah menjauhi segala sesuatu yang akan menyeret pada perbuatan zina, seperti memandang, meraba, dan lainnya.

Mereka menjaga kehormatan dari siapapun selain istri dan budak perempuan yang mereka miliki sepenuhnya. ‘Mendekati’ istri dan budak perempuan tidaklah tercela karena Allah subhanahu wa ta’ala menghalalkan keduanya.

Barang siapa mencari selain itu—selain istri dan budak perempuan miliknya—berarti telah melampaui batas yang dihalalkan oleh Allah, menuju hal-hal yang diharamkan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang lancang terhadap keharaman yang Allah tetapkan.”

Selanjutnya, beliau rahimahullah mengatakan, “Keumuman ayat menunjukkan haramnya nikah mut’ah. Sebab, wanita yang dinikah mut’ah bukanlah istri hakiki yang diniatkan untuk terus mendampinginya, bukan pula budak yang dimiliki.”

Menjaga kehormatan adalah salah satu prinsip dasar yang diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terkhusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tecermin dari kisah pertemuan Heraklius penguasa Romawi di Syam dengan Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu yang saat itu belum masuk Islam.

Heraklius bertanya, “Apa yang dia (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) perintahkan”

Abu Sufyan menjawab, “Dia berkata, ‘Tinggalkanlah kepercayaan nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintah kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim.” (Muttafaqun alaih)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan perintahnya untuk menjaga kehormatan dalam sabdanya,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa menjaga apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan/mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga.” (Muttafaqun alaih dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengharamkan Mut’ah

Sebelum kita paparkan beberapa dalil yang mengharamkan nikah mut’ah, kita perlu membaca dan memahami penjelasan asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Alu Bassam dalam kitabnya, Taudhihul Ahkam (5/294) tentang nikah mut’ah.

“Mut’ah adalah pecahan kata dari التمتع بالشيء (bersenang-senang dengan sesuatu). Ikatan perjanjan tersebut disebut mut’ah karena seorang lelaki bertujuan untuk bersenang-senang dengan seorang wanita dengan perjanjian tersebut sampai waktu tertentu.

Pengertian ikatan perjanjiannya adalah seorang lelaki menikahi seorang wanita sampai waktu tertentu atau waktu yang belum ditentukan. Aturannya menurut Syiah Rafidhah, adalah menikah dengan batas waktu tertentu, baik yang disepakati maupun belum, dan paling lama adalah 45 hari. Setelah itu, ikatan perjanjian tersebut secara otomatis selesai dengan berakhirnya batas waktu tersebut.

Menurut mereka, ikatan tersebut

  • tidak berkonsekuensi pemberian nafkah kepada si wanita,
  • tidak mengakibatkan saling mewarisi (jika salah satu pihak meninggal saat masih dalam ikatan perjanjian),
  • (jika si wanita hamil karena hubungan itu) anaknya tidak dinasabkan kepada si lelaki,
  • tidak memiliki masa iddah, hanya memastikan bahwa rahim bersih dari janin.”

Di antara dalil yang mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Rabi’ bin Sabrah, dari ayahnya radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سِالْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku dahulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah terhadap para wanita. Dan sungguh, sekarang Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya sampai hari kiamat.

Barang siapa masih memiliki suatu ikatan dengan mereka, hendaknya dia melepaskannya. Apabila kalian telah memberikannya kepada mereka, jangan kalian ambil sedikit pun.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah pada tahun Perang Khaibar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Zina Berujung Kerusakan Dunia & Agama

Allah subhanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya berbuat zina,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas dalam Tafsir-nya,

“Allah menyebutkan zina dan kejelekannya sebagai perbuatan yang keji dan kotor. Maksudnya, ia adalah perbuatan dosa besar yang dianggap keji oleh syariat, akal sehat, dan fitrah. Sebab, zina mengandung sikap lancang terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak wanita yang dizinai, dan hak keluarga atau suaminya. Selain itu, zina merusak rumah tangga, dan menyebabkan tercampurnya nasab dan berbagai kerusakan lainnya. “

Karena itu, pantas apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengancam para pezina dengan hukuman yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah Yang Mahaperkasa berfirman,

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.” (an-Nur: 2)

Hukuman yang Allah ancamkan dalam ayat di atas adalah bagi pelaku zina laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Adapun pelaku zina yang sudah menikah dan telah merasakan kehidupan suami istri, di dunia mendapat hukuman dibunuh dengan cara dirajam.

Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada beliau. Termasuk wahyu yang Allah turunkan kepada beliau adalah ayat rajam. Kami telah membaca, menghafal, dan memahaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, kami pun akan merajam sepeninggal beliau.

Dengan berlalunya masa yang panjang pada umat manusia, aku khawatir akan ada yang berkata, ‘Kami tidak mendapati hukum rajam dalam Kitabullah.’ Lantas mereka tersesat karena meninggalkan kewajiban yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan ini.

Hukum rajam benar adanya dalam Kitabullah, terhadap pelaku zina yang sudah menikah, baik lelaki maupun perempuan; apabila telah tegak para saksi, atau (si wanita) hamil, atau mengakuinya.” (Muttafaqun alaih)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan berbagai kerusakan akibat zina. Kata beliau, “Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina bertentangan dengan kepentingan hidup manusia. Jika berzina, seorang wanita telah memasukkan hal yang sangat memalukan terhadap keluarga, suami, dan sanak kerabatnya. Dia membuat mereka sangat malu di hadapan masyarakat.

Jika dia hamil karena zina, lantas dia membunuh anaknya itu, dia telah mengumpukan dosa zina dan dosa membunuh anak. Jika dia menisbahkan si anak kepada suaminya, berbarti dia telah memasukkan orang asing ke dalam keluarga suami dan keluarganya sendiri.

Selanjutnya, si anak akan mendapatkan warisan dari mereka padahal dia bukan ahli waris. Selain itu, si anak akan melihat dan berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang dari mereka. Si anak akan menisbahkan diri kepada mereka padahal bukan bagian mereka. Dan masih ada berbagai kerusakan lain yang ditimbulkan oleh wanita yang berzina.

Lelaki yang berzina juga akan mengakibatkan rusaknya nasab. Dia juga telah merusak seorang wanita yang terjaga. Dia telah menghadapkan si wanita pada kebinasaan dan kerusakan. Jadi, perbuatan dosa besar ini akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam hal dunia dan agama.” (ad-Da’u wad Dawa’ hlm. 232)

Di samping itu, perbuatan zina juga merusak kesehatan masyarakat dengan munculnya berbagai jenis penyakit seperti AIDS, gonorrhea, dan sipilis.

 

Nikah Mut’ah Lebih Keji & Kotor daripada Zina

Berbagai kerusakan dunia dan agama yang ditimbulkan oleh perbuatan zina sebagaimana disebutkan di atas, juga ditimbulkan oleh nikah mut’ah yang diajarkan oleh Syiah Rafidhah. Bahkan, dalam beberapa hal, nikah mut’ah lebih keji dan kotor daripada zina.

Mengapa demikian?

Sebab, mut’ah adalah bid’ah yang dianggap sebagai ajaran agama Islam, padahal telah dihapus hukumnya (dimansukh). Adapun zina, setiap muslim, bahkan nonmuslim pun, mengakui bahwa itu adalah perbuatan keji, kotor, dan menjijikkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan kedustaan orang yang mengada-ada dalam urusan agama,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang kezaliman dan kejahatan mereka,

          وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٧ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 7—8)

Di sisi lain, Syiah Rafidhah telah menjadikan imam-imam mereka sebagai rabb dan tandingan bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Tentang kaum yang menjadikan pembesar mereka sebagai tandingan bagi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah….” (at-Taubah: 31)

Oleh karena itulah, para imam kaum muslimin senantiasa memperingatkan umat dari bid’ah dan ahli bid’ah. Peringatan mereka terhadap bid’ah dan ahli bid’ah lebih keras daripada terhadap kemaksiatan dan pelakunya.

Di antara para imam tersebut ialah al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. Beliau berkata, “Bid’ah lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Sebab, kemaksiatan (masih diharapkan pelakunya) bertobat, sedangkan bid’ah (hampir tidak mungkin pelakunya) bertobat darinya.”

Di antara mereka pula ialah Yunus bin Ubaid rahimahullah. Dia menasihati anaknya, “Aku melarangmu berzina, mencuri, dan meminum khamr. Sungguh, apabila engkau bertemu dengan Allah membawa dosa ini, lebih aku senangi daripada engkau bertemu dengan-Nya membawa bid’ah pemikiran Amr bin Ubaid dan para muridnya.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ahli bid’ah lebih keras azabnya daripada pelaku kemaksiatan. Sebab, bid’ah lebih jahat daripada maksiat. Bid’ah lebih disukai oleh setan daripada maksiat. Pelaku maksiat (ada harapan) untuk bertobat. Adapun ahli bid’ah, amat sedikit yang bertobat (dari bid’ahnya) karena dia merasa berada di atas kebenaran.

Berbeda halnya dengan pelaku kemaksiatan, dia menyadari bahwa dirinya melakukan kemaksiatan. Adapun ahli bid’ah berkeyakinan bahwa yang dilakukannya adalah ketaatan. Dia meyakini dirinya di atas ketaatan.

Oleh karena itu, bid’ah lebih jelek daripada maksiat. Karena itu pula, para ulama salaf (senantiasa) memperingatkan umat dari ahli bid’ah karena mereka akan mempengaruhi teman-teman duduknya untuk mengikuti bid’ahnya. Jadi, bahaya mereka lebih besar.

Tidak ada keraguan lagi bahwa bid’ah lebih jelek/berbahaya daripada kemaksiatan. Bahaya ahli bid’ah lebih besar daripada bahaya pelaku kemaksiatan terhadap umat manusia.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 26)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai bid’ah yang menyesatkan dari jalan-Nya yang lurus. Amin.

Syiah dan Tanah Karbala

Apa itu tanah Karbala? Menurut kaum Syiah, Karbala adalah tempat yang paling terhormat dan mulia di muka bumi ini.

Lantas, bagaimana halnya dengan Baitullah al-Haram? Dalam pandangan Syiah, Karbala tetap lebih utama. Karbala adalah sebuah kota yang terletak di Irak. Karbala sangat bersejarah bagi pemeluk agama Syiah, tempat terbunuhnya seorang yang suci dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma.

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi penganut Syiah, sudah barang tentu tanah Karbala memiliki nilai kesakralan dalam pandangan mereka. Sudah menjadi ciri, seseorang dikenal sebagai Syiah melalui lempengan tanah Karbala yang dijadikan tempat sujudnya.

Ada beberapa riwayat palsu yang mereka jadikan pijakan keyakinan sesat mereka. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau Silsilah Ahadits Shahihah (4/146) membawakan riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu tentang berita akan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu di Karbala. Riwayat tentang hal ini sahih dengan semua jalannya.

Setelah itu beliau menjelaskan bahwa tidak ada sedikit pun dari semua riwarat tersebut yang menunjukkan tentang sucinya Tanah Karbala, keutamaan sujud di atasnya, dan dianjurkannya mengambil satu lempeng Tanah Karbala untuk sujud saat shalat; sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah di masa sekarang.

Kalaulah perbuatan itu dianjurkan, tentu tanah dari dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah) lebih pantas. Perbuatan ini termasuk bid’ah yang ada pada Syiah. Selain itu, kenyataan ini juga menunjukkan sikap keterlaluan dan melampaui batas terhadap keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peninggalan-peninggalan mereka.

Lebih mengherankan lagi, mereka menjadikan akal sebagai sumber syariat. Mereka menimbang baik dan jeleknya sesuatu sesuai dengan akal. Mereka membawakan riwayat-riwayat tentang keutamaan sujud di Tanah Karbala; riwayat yang dipastikan kebatilannya oleh akal sehat.

Asy-Syaikh al-Albani menemukan tulisan salah seorang mereka yang bernama Sayyid Abdur Ridha al-Mar’asyi asy-Syahrastani berjudul as-Sujud ‘Ala Turbatul Husainiyah. Pada halaman 15, dia mengatakan, “Terdapat riwayat bahwa sujud di atasnya lebih utama karena kemuliaan, kesucian, dan sucinya orang yang dimakamkan di tempat tersebut.

Terdapat hadits dari para imam ahli bait yang suci ‘alahimus salam bahwa sujud di atas tanahnya akan menerangi sampai bumi yang tujuh. Hadits yang lain menyebutkan bahwa—sujud di atasnya—akan melubangi hijab yang ketujuh. Hadits yang lain menyebutkan bahwa Allah menerima shalat orang yang sujud di atasnya melebihi orang yang shalat dan tidak sujud di atasnya. Hadits yang lain menyebutkan bahwa sungguh shalat di atas tanah kuburan al-Husain akan menerangi semua lapisan bumi.”

Tentu saja hadits seperti ini sangat jelas kebatilannya menurut kami. Para imam ahli bait pun berlepas diri darinya. Hadits-hadits tersebut tidak memiliki sanad yang bisa dikritisi melalui tinjauan ilmu hadits dan dasar-dasar ilmu hadits. Semuanya adalah riwayat mursal dan mu’dhal, yang termasuk bagian dari riwayat-riwayat yang lemah.

Bahkan, pengarangnya membawakan riwayat dengan penuh dusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti hadits, “Yang pertama kali menjadikan alas sujud lempengan Tanah Karbala adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ketiga hijriah tatkala terjadi perang yang mengerikan antara kaum muslimin dan kafir Quraisy di Uhud. Terbunuhlah seorang pilar terbesar Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh setiap istrinya untuk meratap setiap sore, sampai ke taraf memuliakannya dan menjadikan tanah kuburnya untuk bertabarruk dan bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas tanahnya. Mereka menjadikan tanah tersebut alat bertasbih.”

Coba renungkan, bagaimana dia berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menganggap bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali menjadikan lempengan Tanah Karbala sebagai tempat sujud. Dia tidak membawakan penopang ucapannya selain kedustaan lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah istri-istrinya untuk meratapi kematian Hamzah radhiallahu ‘anhu setiap sore. Ini semuanya jelas tidak ada keterkaitannya dengan lempengan Tanah Karbala.

Asy-Syaikh al-Albani lalu mengatakan, “Kedustaan dan penipuan kaum Syiah terhadap umat ini hampir-hampir tidak terhitung banyaknya.”

Beliau juga mengatakan, “Jelaslah bagimu benarnya ucapan para imam umat yang menyifati kaum Syiah: kelompok yang paling pendusta adalah Rafidhah.”

 

Syiah dan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari asyhurul hurum (bulan haram). Allah subhanahu wa ta’ala memuliakannya dengan tidak bolehnya melakukan pertumpahan darah pada bulan tersebut. Bahkan, pada 10 Muharram, hari Asyura’, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan berpuasa dengan pahala yang sangat besar.

Bagi kaum Syiah, hari Asyura’ dinilai bersejarah karena bertepatan dengan terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H.

Menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, beliau meninggal sebagai syahid. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, al-Hasan, adalah dua pemuda surga. Ternyata kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

        أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah yang paling berat cobaannya?”

Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, dan setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek, diringankan ujiannya. Terus-menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.” (HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023)

Sungguh, al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma menyandang predikat yang mulia dan tinggi. Sebuah kenikmatan bagi keduanya tatkala mendapat ujian serupa dengan yang menimpa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang dibunuh sebagai syahid dengan penuh kezaliman.

Setelah Abdurrahman bin Muljam al-Khariji membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra beliau. Namun, beliau rela melepaskan kepemimpinan itu demi menjaga darah kaum muslimin agar tidak tidak tertumpah dalam perang saudara. Inilah sikap seorang pahlawan agama yang harus kita teladani.

Sikap ini adalah realisasi dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang beliau,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِدٌ وَسَيُصْلِحُ اللهُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sungguh, putraku ini (cucu beliau, al-Hasan) adalah seorang pemimpin, dan dengan perantaraan dirinya Allah subhanahu wa ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 2704, Ahmad 5/49, Abu Dawud, dan an-Nasai 3/107)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengatur perjalanan hidup setiap hamba. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan, pasti akan terjadi. Allah subhanahu wa ta’ala berbuat sekehendak-Nya, tidak terkait dengan kehendak makhluk-Nya sedikit pun. Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan bahwa akhir kehidupan al-Husain menyedihkan dan memilukan.

Sebuah peristiwa yang tidak kita inginkan terjadi. Akan tetapi, Allah Mahabijaksana. Semua keputusan-Nya mengandung banyak hikmah. Dia subhanahu wa ta’ala telah menentukan bahwa al-Husain terbunuh dalam sebuah makar.

Terbunuhnya beliau juga menjadi ujian bagi dua kelompok manusia, yaitu yang benar-benar meniti jejak kebenaran dan kelompok yang mengikuti penyimpangan dan penyelewengan.

Setelah al-Hasan meninggal, sebagian penduduk Kufah menulis surat kepada al-Husain. Mereka berjanji memberi pertolongan dan pembelaan apabila al-Husain mau menjadi pemimpin mereka. Al-Husain mengutus putra paman beliau, Muslim bin Aqil bin Abu Thalib, kepada mereka. Ternyata mereka menyelisihi janji-janjinya. Mereka justru membantu dan bergabung dengan orang yang akan membunuh beliau.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dan selain keduanya telah menasihatinya agar tidak berangkat menuju mereka dan agar tidak menerima apa pun. Akan tetapi, terjadilah apa yang terjadi. Semuanya telah ada dalam ketentuan dan keputusan Ilahi yang tidak mungkin berubah.

Beliau sendiri menyaksikan makar di balik itu semua. Beliau meminta di hadapan mereka yang sudah bersiap membunuhnya agar membiarkan beliau kembali, bergabung dengan bala tentara yang berjaga di perbatasan atau bergabung dengan putra pamannya, Yazid.

Mereka menolak permintaan beliau dan tetap memeranginya. Beliau memberikan perlawanan bersama orang yang menyertainya sampai akhirnya terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid.

Kematian beliau memunculkan berbagai bentuk kejelekan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Muncul orang-orang bodoh, sesat, dan menyimpang. Mereka menampakkan diri sebagai orang yang cinta kepada keluarga beliau. Mereka menjadikan hari kematian beliau sebagai hari berkabung, bersedih, dan berduka. Pada hari itu, mereka menampakkan syiar-syiar jahiliah: memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek kerah baju, dan meratap dengan ratapan kaum jahiliah. (Lihat Majmu’ Fatawa 25/302—307)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dengan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu, setan mengambil kesempatan dengan memunculkan dua jenis kebid’ahan di tengah-tengah manusia, yaitu

(1) Bid’ah berduka dan meratap pada 10 Muharram dalam bentuk memukul pipi, berteriak histeris, menangis, menjadikan diri kehausan, mengucapkan kalimat-kalimat belasungkawa.

Buntutnya ialah mencela pendahulu yang saleh dan melaknat mereka, menggabungkan orang yang tidak berdosa ke dalam barisan para pendosa. Mereka mencela para pendahulu. Dibacakan pula syair-syair perjalanan hidup al-Husain yang kebanyakannya dusta. Tujuan orang yang menghidupkan bid’ah ini adalah membuka pintu fitnah dan memecah belah umat.

Semua ini tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan, menurut kesepakatan kaum muslimin. Mengadakan acara hari berduka dan meratapi musibah yang telah lampau termasuk keharaman yang paling besar.

(2) (Jenis bid’ah yang dimunculkan oleh setan adalah) bid’ah bersenang-senang dan bergembira.” (Lihat Minhajus Sunnah 2/322—323)

 

Kesyirikan Karena Mengagungkan Manusia

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab at-Tauhid menulis bab “Sebab Kekufuran Bani Adam dan Sebab Mereka Meninggalkan Agama adalah Berlebih-Lebihan Menyikapi Orang-Orang Saleh” dan bab “Sikap Keras terhadap Seseorang yang Menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di Sisi Kuburan Orang Saleh dan Bagaimana Jika Menyembahnya?”

Dua bab ini mengingatkan kita tentang perbuatan Syiah yang mengaku mencintai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengangkat para imam ahli bait pada martabat yang lebih tinggi dari martabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sampai dituhankan. Mereka mengagungkannya, menyembah kuburannya, mengklaim bahwa ahlu bait mengetahui ilmu gaib, bahkan sebagai penjamin masuk ke dalam surga.

Bukankah ini adalah kesyirikan dan kekafiran yang sangat jelas?

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat berbagai gambar. Kami menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya apabila ada orang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, melukis gambargambar tersebut. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk di sisi Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat.” ( HR. al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kesyirikan terhadap kuburan orang yang diyakini kesalehannya akan lebih dekat ke dalam jiwa dibanding dengan kesyirikan terhadap pohon atau batu. Kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dilarang shalat di sisi kuburan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan kuburan di atas masjid. Bahkan, termasuk kebid’ahan yang paling besar dan sebab-sebab kesyirikan adalah shalat di sisi kuburan, menjadikan kuburan itu sebagai masjid, dan membangun masjid di atasnya.” (Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim 2/674)

 

Kesyirikan Merusak Ibadah

Beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah hikmah diciptakannya bangsa manusia dan jin. Kedua makhluk ini memiliki kewajiban untuk memikul semua beban syariat. Untuk keduanya diadakan hukuman dan ganjaran di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, Aku menciptakan mereka agar Aku perintah mereka beribadah kepada-Ku. Dan itu bukan karena Aku membutuhkan mereka.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Beribadah adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul untuk mengajak mereka beribadah, yang mencakup berilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala dan mencintai-Nya, kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menghadapkan diri kepada-Nya, dan menyingkirkan segala sesuatu selain-Nya.

Ibadah mencakup berpengetahuan tentang Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, kesempurnaan ibadah itu sesuai dengan kesempurnaan pengetahuan kita tentang Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin bertambah pengetahuan hamba tentang Allah subhanahu wa ta’ala, ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin sempurna. Inilah yang menjadi tujuan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan bangsa jin dan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menciptakan mereka karena membutuhkan mereka.”

Ibadah akan nihil dari nilai tatkala dicampuri oleh perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Qawa’id al-Arba’, “Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah, ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah melainkan bersama tauhid. Sebagaimana halnya shalat tidak dikatakan shalat melainkan dengan bersuci. Apabila kesyirikan masuk dalam sebuah ibadah, niscaya ibadah tersebut akan rusak, sebagaimana ketika hadats masuk dalam bersuci.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Menjauhkan Penganut Syiah dari Lingkaran Kekuasaan

Betapa kuat pengaruh teman dekat dan sahabat karib, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الَّهلَ لَم يَبْعَث نَبِياً وَ خَلِيفَةً إِ وَلَهُ بِطَانَتَان: بِطَانَةٌ تَأمُرَهُ بالمَعروفِ وتَنْهَاهُ عَن المُنْكَر، وبِطَانَةٌ تَألُوهُ خَبَا ،ًال وَمن يُوقَ بِطَانَةَ السُّوء فَقَد وُقي

“Sungguh, Allah tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemunkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga. ”

 

Takhrij Hadits

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kata per katanya sesuai dengan riwayat al-Imam al-Bukhari dalam karya beliau al-Adabul Mufrad (256).

Hadits di atas juga disebutkan oleh at-Tirmidzi dalam as-Sunan (2/58—59) dan asy-Syama-il al-Muhammadiyah (134), ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/195—196) , al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/131), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/17/2).

Seluruh ulama hadits di atas meriwayatkan hadits ini dari berbagai jalur riwayat yang berbeda. Namun, semuanya kembali dan bermuara pada jalur riwayat Abdul Malik bin Umair, dari Abu Salamah bin Abdur Rahman, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian. Hadits ini—walhamdulillah—dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1641).

Sabda Rasulullah subhanahu wa ta’ala di atas, sebenarnya mempunyai asbabul wurud (kronologi kejadian) yang juga disebutkan dalam riwayat. Saat itu, Rasululllah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada sahabat Abul Haitsam, “Apakah engkau mempunyai budak pelayan?”

Ternyata Abul Haitsam tidak memilikinya.

“Apabila tiba nanti rombongan tawanan, silahkan engkau menemui saya,” pesan Rasulullah.

Selanjutnya, ada dua orang tawanan yang dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abul Haitsam yang mendengar berita tersebut segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi kesempatan Abul Haitsam untuk memilih salah satunya. Namun, Abul Haitsam memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkenan memilihkannya.

“Sungguh, orang yang dimintai pendapatnya adalah orang yang memperoleh amanat. Silakan engkau ambil budak yang ini, karena aku melihatnya mau mengerjakan shalat. Berbuat baiklah engkau kepadanya!” demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil keputusan sekaligus berpesan.

Sepulang ke rumah dan setelah bercerita, istri Abul Haitsam menyampaikan, “Sungguh, engkau belum akan bisa melaksanakan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk berbuat baik), kecuali dengan cara memerdekakan budak itu.”

Abul Haitsam lantas memerdekakan budak tersebut.

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan sabda di atas, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

 

Makna Hadits

An-Nawawi rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul Riyadhus Shalihin, menuliskan sebuah judul untuk hadits ini, “Bab tentang anjuran bagi penguasa tertinggi, qadhi, atau jajaran pemerintahan untuk mengangkat penasihat yang baik, serta berhati-hati menerima masukan dari para pembisik yang buruk.”

Dalam keterangannya, Ibnu Utsaimin (Syarah Riyadhus Shalihin) menyatakan, “Hal ini merupakan fakta yang nyata. Anda menyaksikan seorang pemimpin, kepribadian aslinya mulia dan mempunyai keinginan yang baik. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengujinya dengan penasihat-penasihat yang buruk—wal ‘iyadzu billah. Mereka menghalang-halanginya dari keinginan yang baik, dan justru membujuknya untuk melakukan perbuatan buruk.”

Sebaliknya juga, masih keterangan dari Ibnu Utsaimin, “Anda bisa menyaksikan seorang pemimpin yang wataknya kurang baik, tetapi di sekelilingnya berdiri para penasihat yang baik. Mereka mengarahkan kepada kebaikan. Mereka menyarankan dia untuk melakukan program yang melahirkan kecintaan antara dirinya dan rakyat. Akhirnya, dirinya dan keadaannya akan lurus dan baik.”

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Utsaimin menasihati kita semua bahwa hal ini tidak hanya berlaku di kalangan penguasa atau di jajaran pemerintahan. Beliau mengatakan, “Oleh sebab itu, silakan introspeksi dirimu sendiri! Jika Anda melihat sahabat-sahabat dekatmu selalu mengarahkan kepada kebaikan, mendukung Anda dalam kebaikan, bila Anda lupa mereka segera mengingatkan, dan kalau Anda tidak mengetahui mereka langsung berbagi ilmu; pegang erat-erat ikat pinggang mereka dan gigitlah dengan gigi geraham!”

Setelah itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengingatkan kita tentang pengaruh negatif dari teman-teman yang buruk. Kita harus menjauh dan menghindar dari mereka karena sedikit banyak pengaruh buruk mereka akan terlihat pada cara berpikir, tingkah laku, dan pola bicara kita.

 

Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Demikian?

Barangkali hadits di atas sempat dipertanyakan, bagaimana mungkin seorang nabi ada kemungkinan untuk mempunyai bithanah yang buruk?

Al-Munawi rahimahullah dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa tidak mungkin seorang nabi mengikuti masukan orang yang jahat atau melaksanakan sarannya.

Mengapa? Sebab, nabi adalah hamba yang maksum; terjaga dari dosa.

Buktinya? Bukankah di akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan?

Beliau bersabda, “Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

Oleh sebab itu, al-Munawi mengingatkan kita bahwa seorang nabi atau seorang khalifah saja mungkin diuji dengan pembisik jahat, apalagi kita sebagai orang biasa. Karena itu, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dari pengaruh orang-orang buruk di sekitar kita.

 

Sejarah Kaum Syiah sebagai Bithanah yang Jahat

Memberi akses untuk kaum Syiah dalam berperan di kehidupan bermasyarakat atau bernegara adalah langkah yang tidak boleh diambil. Memberi peluang untuk kaum Syiah sama saja menanam bibit-bibit kehancuran. Kaum Syiah tidak boleh mendapat pintu untuk tampil di hadapan publik. Kaum Syiah mesti ditekan, dilarang, dan diminimalkan.

Kita tidak boleh lupa, pura-pura lupa atau berusaha menutup mata dari sejarah Syiah. Mereka melakukan konsep clandestine di tubuh pemerintahan. Menyusupkan kader-kadernya, menggalang para simpatisan dan mengondisikan hukum perundang-undangan, sudah mereka lakukan sejak zaman dahulu. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menghancurkan Islam.

Sebagai contoh adalah dua tokoh Syiah yang bernama Ibnul Alqami dan at-Thusi (al-Bidayah wan Nihayah). Mereka berdua secara licik masuk menyusup dalam struktur pemerintahan di zaman Kekhalifahan Abbasiyah. Perlahan tapi pasti, mereka menapaki jenjang demi jenjang struktur pemerintahan. Itu semua dilakukan dengan menyembunyikan paham dan ideologi Syiahnya.

Sampai kemudian mereka berdua mencapai kedudukan seorang menteri di masa Khalifah al-Mush’tashim al-Abbasi. Apa yang mereka lakukan?

Mereka mengajukan usulan agar jumlah pasukan Islam dikurangi dengan alasan efisiensi. Terutama pasukan inti yang berada di pusat pemerintahan, di kota Baghdad, pengurangan pasukan terlihat secara besar-besaran. Sampai yang tersisa hanya sekira sepuluh ribu prajurit.

Dalam kesempatan yang sama, kedua menteri yang berideologi Syiah ini bersurat kepada pasukan Tatar untuk menyerang Baghdad. Gambar kota Baghdad dikirimkan, lengkap dengan struktur pertahanan, benteng, dan pos-pos keamanan turut dibocorkan. Titik-titik kelemahan kota Baghdad juga mereka jual kepada pasukan Tatar.

Saat pasukan Tatar benar-benar datang mengepung Baghdad, kedua menteri Syiah ini berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa kedatangan pasukan Tatar tidak untuk berperang. Mereka bertujuan untuk membangun persahabatan, kata kedua menteri Syiah ini.

Mereka berdua juga membujuk Khalifah untuk keluar menemui pasukan Tatar dengan diiringi para penasihat dan orang-orang pentingnya. Sementara itu, kedua menteri beragama Syiah ini meyakinkan pasukan Tatar untuk membunuh Khalifah bersama para pengiringnya. Mereka diminta untuk memerangi penduduk Baghdad dan menguasainya.

Akhirnya, Khalifah dan seluruh pengiringnya pun terbunuh. Bahgdad dikuasai, dihancurkan, dan dijadikan hangus arang. Apa sebenarnya tujuan kedua menteri beragama Syiah ini?

Mereka ingin menggunakan kekuatan Tatar untuk menguasai Baghdad. Harapannya, mereka berdua dianggap berjasa lalu diberi kesempatan untuk memimpin Baghdad. Setelah itu tercapai, mereka bercita-cita untuk membangun Kerajaan Syiah!

Lihat kelicikan dan kejahatan kaum Syiah! Jika diberi peluang, andai diberi angin, mereka akan melakukan tindak pengkhianatan. Demi membangun paham dan kekuasaan Syiah, mereka korbankan nyawa kaum muslimin. Tahukah Anda berapa jumlah korban yang jatuh dalam peristiwa Baghdad? Sekitar dua juta jiwa muslim hilang. Wanita dan anak-anak dalam jumlah besar ditawan dan dijadikan budak.

Hasilnya? Kedua menteri itu pun terbunuh.

Tahukah Anda bahwa kedua menteri di atas, Ibnul Alqami dan ath-Thusi, diagung-agungkan dan dipuja oleh kaum Syiah?

Khomeini dalam tulisannya, al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 133) mengatakan, “Umat merasa sangat rugi dengan kehilangan seorang tokoh agung, yakni Nusharuddin at-Thusi dan al-Alqami serta orang-orang yang semisalnya. Mereka telah memberikan jasa-jasa yang banyak untuk Islam.”

 

Contoh Lain

Pada masa kekhalifahan ar-Rasyid, seorang menteri berpemahaman Syiah yang bernama Ali bin Yaqthin, hanya dalam satu malam memerintahkan untuk membunuh kurang lebih lima ratus orang atas dakwaan menentang keinginannya.

Lima ratus orang tersebut sedang menjalani hukuman penjara. Menteri Ali memerintah pengikutnya untuk meruntuhkan atap penjara sehingga menimpa mereka yang sedang dipenjara dan mengakibatkan kematian.

Apakah bukti-bukti sejarah semacam ini belum cukup?

Lihatlah konflik perang di Suriah dan Yaman dalam beberapa waktu terakhir ini. Suriah misalkan. Dalam kurun waktu dua tahun (1432—1434 H), korban meninggal mencapai lebih dari seratus ribu orang. Belum lagi yang luka atau cacat.

Itu semua terjadi, salah satu sebabnya adalah karena salah memilih penasihat, keliru dalam mengangkat kawan dekat.

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berpesan, “Orang-orang dekatmu yang engkau ajak musyawarah, hendaknya mereka yang bertakwa, dipercaya, dan mempunyai rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mengenai hadits di atas, al-Imam Ibnu Baththal (Syarah Shahih al-Bukhari 8/272) mengatakan, “Mestinya, setiap orang yang mendengar hadits ini untuk bersikap tunduk. Hendaknya dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar selalu dijaga sehingga terhindar dari bithanah (orang dekat) yang buruk.”

 

Kita dan Penguasa

Salah satu kewajiban kita sebagai warga negara adalah selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah. Kita selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar pemerintah kita selalu diberi taufik dan hidayah dalam memimpin dan mengelola negeri Indonesia ini. Kita yakin, apabila ratusan juta kaum muslimin di Indonesia ini selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah, pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.

Sayangnya, ajaran Islam semacam ini tidak ditegakkan. Yang ada malah mencela dan melaknat pemerintah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abu Darda’,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuannya kecuali malaikat akan mengatakan, ‘Untukmu seperti (yang engkau doakan untuk saudaramu)’.” (HR. Muslim)

Salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah menyatakan, “Seandainya aku memiliki doa (yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala), tidaklah aku tujukan doa itu kecuali untuk kebaikan penguasa.”

Bahkan, suatu saat beliau mengemukakan sebuah keinginan mulia, “Seandainya aku memperoleh bagian harta dari Baitul Mal, akan aku ambil lalu aku manfaatkan untuk membuat jamuan makan. Kemudian, aku akan mengundang orang-orang yang saleh dan terpandang.

Setelah selesai, aku akan mengajak mereka, ‘Marilah kita berdoa kepada Rabb kita, agar Dia melimpahkan taufik untuk pemimpin kita dan seluruh (pihak) yang mengatur urusan-urusan kita’.”

Demikianlah bimbingan indah Islam dalam menyikapi pemerintahnya. Semua ini diajarkan oleh Islam, tentu untuk meciptakan stabilitas keamanan dan demi ketertiban hidup bermasyarakat.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan taufik dan hidayah untuk para pemimpin kita di dalam pemerintahan agar selalu bersikap adil dan mengedepankan keadilan.

Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita didekatkan dengan para penasihat yang baik, para penasihat yang selalu mengarahkan pemerintah dalam kebaikan dan ketakwaan. Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita dijauhkan dari para pembisik yang jahat, para pembisik yang berusaha mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Allahumma amin.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Sahabat Nabi di Mata Syiah

Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala pun telah meridhai mereka.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim (4/1967) no. 2541)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

 

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 

  1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta’dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144.

          وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12—13, dinukil dari asy-Syi’ah al- Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

 

  1. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

 

  1. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata, “Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah. Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 519, Muhammad Baqir al-Majlisi)

 

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114) wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….”[1] (al-Khuthuth al-’Aridhah, hlm. 18, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu telah membunuh istri beliau sendiri, Ruqayyah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani Mauqif asy-Syi’ah minal Ash-hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu terhadap putrinya, Ruqayyah radhiallahu ‘anha. Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenarnya mereka telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran. Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para ibunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?”

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa mendidik istriistrinya? “Apakah Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “Tidaklah Allah menjadikan Aisyah sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali karena beliau sosok wanita yang baik, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik di antara manusia terbaik. Seandainya Aisyah adalah seorang yang buruk, niscaya tidak pantas menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demikian nukilan-nukilan celaan mereka terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum. Yang sangat aneh dan sangat menjijikkan, Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, adalah pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (sang pemberani dan pembela agama).

Berikutnya, hari kematian ‘Umar mereka jadikan sebagai hari Iedul Akbar, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari berkah, dan hari bersukaria. (al-Khuthuth al-’Aridhah hlm. 18)

Demikian keji dan kotor mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka adalah sekelompok orang yang berambisi untuk menghabisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya, agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh juga.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

 

Khatimah

Demikian beberapa kesesatan Syiah Rafidhah. Semua yang telah kita sebutkan adalah pokok-pokok agama yang mereka selisihi. Masih banyak kesesatan mereka yang lain, di antaranya:

  • keyakinan tentang imamah,
  • kebencian yang sangat besar terhadap para ulama ahlu hadits, seperti al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim,
  • pengkafiran seluruh kaum muslimin (Ahlus Sunnah),
  • pengagungan terhadap Tanah Karbala (yang mereka yakini sebagai tempat terbunuhnya sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma) melebihi Tanah Suci Makkah dan Madinah,
  • pengagungan terhadap makam yang mereka yakini sebagai makam ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
  • pengagungan makam para pemimpin mereka melebihi Ka’bah Baitullah al-Haram,
  • penyakralan hari yang mereka anggap sebagai hari terbunuhnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib (hari Asyura, 10 Muharram),
  • perayaan hari tersebut besar-besaran.
  • syirik dalam peribadatan,
  • keyakinan bolehnya nikah kontrak (nikah mut’ah), yaitu akad nikah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk jangka waktu tertentu (sehari, dua hari, atau lebih) tanpa wali, bahkan sangat mengagungkannya,
  • penamaan diri mereka sebagai Jamaah Ahlul Bait yang mengaku mencintai ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) padahal mereka sangat mencela ahlul bait.

 

Saudaraku muslim, inilah potret Syiah Rafidhah, sekaligus potret Iran sebagai perwujudan Negara Syiah Rafidhah.

Kekufuran yang nyata dari kaum Syiah Rafidhah dan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah tentang kesesatan mereka menunjukkan bahwa kampanye taqrib (penyatuan dan persaudaraan) antara Sunni dan Syiah Rafidhah di Indonesia adalah sebuah makar besar untuk menghancuran negeri ini dan kaum muslimin di dalamnya.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan Hafshah radhiallahu ‘anha

Kedustaan di Balik Revolusi Iran

Banyak orang tertipu dengan revolusi Iran. Mereka menyangka itu adalah revolusi Islam. Revolusi Iran adalah kedustaan, seakan-akan memperjuangkan kemuliaan Islam melawan Amerika, antek Yahudi, namun sejatinya adalah revolusi untuk menyebarkan Syiah dan menancapkan kekuasaan Syiah di dunia.

Dengan lantang Khomeini meneriakkan slogan la syarqiyah wa la gharbiyah Islamiyah Islamiyah, (Tidak timur tidak barat, namun perjuangan Islam, perjuangan Islam). Bahkan, dengan lantang Khomeini berani mengatakan bahwa Amerika adalah setan besar.

Luar biasa, di saat negara-negara Islam tidak terdengar perlawanannya, dengan penuh keberanian Khomeini menantang Amerika.

Manusia terkagum-kagum hingga lupa hakikat Syiah Rafidhah yang demikian dengki dan licik dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin. Manusia tersihir dengan bualan kosong Khomeini. Semua itu hanya kamuflase. Revolusi Syiah mengesankan bahwa Iran bermusuhan dengan Amerika, senyatanya ia adalah sekutu.

Sejenak kita renungkan, sejak revolusi 1979 hingga saat ini, pernahkah terjadi perang antara Amerika dan Iran? Pernahkah rudal nuklir Iran diarahkan kepada Amerika dan sekutunya? Tidak sama sekali. Semua ini adalah sandiwara dan kedustaan Syiah Rafidhah.

 

Hakikat Syiah Rafidhah

Jangan tertipu dengan sandiwara Rafidhah. Sesungguhnya mereka memiliki keyakinan-keyakinan kufur yang sangat bertolak belakang dengan Ahlus Sunnah. Secara resmi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa Syiah bukan sekadar kelompok biasa. Ia adalah aliran yang telah divonis sesat dan keluar dari akidah Islam oleh para ulama.

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional pada Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang paham Syiah sebagai berikut.

Paham Syiah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya:

  1. Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait[1], sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membeda-bedakan, asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadits.
  2. Syiah memandang “Imam” itu maksum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syiah tidak mengakui ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam.”
  4. Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
  5. Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Baar as-Shiddiq, Umar Ibnul Khaththab, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakr, Umar, Usman, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah (Pemerintahan)” Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah.

Demikian pernyataan MUI dalam Rapat Kerja Nasional Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984. Pada bulan April 2013 MUI juga menerbitkan membagi-bagikan buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia.”

Dalam Kata Pengantar buku tersebut hlm. 7, dikatakan, “Buku ini berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah, yang disusun berdasarkan referensi primer dan data yang valid, serta yang dapat diketahui dari aktivitas Syiah di Indonesia. Buku saku ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi umat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah, sebagaimana yang terjadi di Indonesia, sebagai ‘Bayan’ resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tujuan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh paham Syiah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI.”

Kesesatan Syiah Rafidhah sejatinya perkara yang terang benderang dan tidak perlu diperdebatkan. Pernyataan MUI telah memberikan gambaran umum kepada masyarakat tentang bahaya Syiah Rafidhah.

Untuk lebih mengenal kekufuran kaum Syiah Rafidhah, berikut ini kita ulas kembali beberapa kesesatan mereka dan perbandingannya dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

Pertama: Tentang Al-Qur’an

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, al-Qur’an adalah kitab hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji menjaga lafadz-lafadznya dari penambahan atau pengurangan, demikian pula menjaga maknanya hingga hari kiamat. Al-Qur’an dinukilkan kepada umat secara mutawatir. Allah subhanahu wa ta’ala mudahkan dada-dada kaum muslimin, bahkan anak-anak kecil, menghafalkannya. Allah subhanahu wa ta’ala menyiapkan para ulama yang gigih memperjuangkan dan menjaga al-Qur’an.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sedikit pun kebatilan dalam al-Qur’an sebagai sumber utama dalam memahami Islam.

Adapun Rafidhah, keyakinan mereka terhadap al-Qur’an adalah keyakinan kufur. Mereka meyakini para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah ditambah dan dikurangi. Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjaga al-Qur’anul Karim.

Menurut mereka, al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan. Al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah. Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Keyakinan-keyakinan kufur ini bukan tuduhan tanpa bukti. Keyakinan ini tertera dalam kitab-kitab induk Syiah Rafidhah. Dalam kitab al-Kafi karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini diriwayatkan bahwa Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])

Dari Abu Abdillah, ia berkata, “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu.”

Abu Bashir berkata, “Apa mushaf Fathimah itu?”

Ia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian….” (al-Kafi 1/239—240, dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Abu Abdillah berkata, “Surat al-Ahzab membuka keburukan-keburukan wanita Quraisy. Surat itu lebih panjang daripada surat al-Baqarah, tetapi oleh para sahabat dikurangi dan diubah.” (Bihar al-Anwar, 89/50)

Bahkan, ahli hadits mereka, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum Syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarang pada 1292 H itu mengumpulkan sekian banyak riwayat dusta dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah diubah dan menyimpang.

Keyakinan ini sesungguhnya merupakan celaan dan tikaman terhadap Ali bin Abi Thalib dan ahlul bait, bahkan merupakan celaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun celaan kepada Ali, karena mereka telah menuduh Ali berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar. Bukankah beliau ketika itu menjadi khalifah? Mengapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Mengapa al-Hasan dan al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi mereka?

Mereka juga mencela Allah subhanahu wa ta’ala dengan keyakinan tersebut. Sebab, makna ucapan mereka adalah Allah subhanahu wa ta’ala telah berdusta dan tidak memenuhi janji untuk menjaga al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala lemah, tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?

Wahai Syiah Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangka itu? Empat belas abad lamanya disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah menurut akidah kalian—yang batil—mereka maksum (terbebas dari dosa)? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan dosa yang besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.

Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab? Apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabad-abad manusia dalam keadaan tidak tahu kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian?

Sungguh, ini adalah celaan kalian kepada Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan, celaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Kedua: Metode Memahami Al-Qur’an

Dalam memahami al-Qur’an, Ahlus Sunnah selalu berpegang dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ahlus Sunnah menjauhi jalan orang-orang yang berbicara tanpa ilmu. Ahlus Sunnah mengembalikan tafsir al-Qur’an kepada hadits-hadits Rasul yang sahih dan pemahaman salaful ummah. Ahlus Sunnah sangat jauh dari jalan-jalan Yahudi dan Nasrani yang selalu mengubah ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan Syiah Rafidhah, mereka seperti Yahudi dan Nasrani. Menambah lafadz dan menguranginya. Mereka juga lancang menafsirkan ayat al-Qur’an sekehendak akal dan hawa nafsu mereka.

Siapa saja yang membaca tafsir Syiah Rafidhah, akan mendapati bahwa pengubahan terhadap agama Allah subhanahu wa ta’ala dan al-Qur’an yang mereka lakukan lebih parah daripada yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani.

Pada kesempatan ini kita coba ketengahkan beberapa contoh penyimpangan tafsir Rafidhah sekaligus menjelaskan tentang beberapa ushul tafsir Syiah Rafidhah dan perubahan yang telah mereka lakukan terhadap al-Qur’an.

Di awal surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

“Alif Laam Mim. Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 1—2)

Orang-orang yang bertakwa, mereka tafsirkan sebagai ‘pengikut Ali radhiallahu ‘anhu’ yakni kaum Syiah Rafidhah! Selain Syiah Rafidhah, kafir!

Masih dalam surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.” (al-Baqarah: 26)

Mereka mengatakan yang dimaksud nyamuk adalah Ali radhiallahu ‘anhu, sedangkan yang lebih rendah dari nyamuk adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiallahu ‘anhu mereka anggap seperti nyamuk, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih rendah dari itu. Ini termasuk perbuatan zindiq sekaligus dan cercaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mengherankan penafsiran mereka. Terkadang Ali radhiallahu ‘anhu dianggap sebagai binatang yang melata di muka bumi. Terkadang Ali adalah bintang, terkadang matahari, terkadang langit, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai buah Tin dan Ali radhiallahu ‘anhu sebagai buah zaitun, para imam (mereka) sebagai bukit Sinai.

Masih dalam surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah Musa dan kaumnya,

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُواْ بَقَرَةٗۖ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” (al-Baqarah: 67)

Syiah Rafidhah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sapi betina yang diperintahkan untuk disembelih adalah Aisyah binti Abu Bakr ash-Siddiq radhiallahu ‘anha.

Penafsiran al-Qur’an mereka benar-benar mencapai puncak kekufuran. Dengan penafsiran itulah mereka mengubah-ubah al-Qur’an, lebih keji daripada perbuatan Yahudi dan Nasrani. Semua ayat tentang tanda-tanda kemunafikan, kekufuran, siksaan, ayat-ayat celaan dan ancaman, diterapkan kepada para sahabat, terkhusus Abu Bakr radhiallahu ‘anhu. Mereka meyakini bahwa Abu Bakr akan disiksa dengan siksaan yang paling keras, seperti Iblis. Penyebutan setan dalam ayat-ayat al-Qur’an mereka tafsirkan dengan Umar bin al-Khaththab.

Ayat-ayat tentang Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan, menurut mereka adalah keluarnya sang penegak hukum, yakni Imam Mahdi versi mereka! Dan berbagai macam penyelewengan yang tak terhitung banyaknya terhadap kitab Allah.

 

Ketiga: Penetapan Sifat Rububiyah bagi Imam Mereka

Ahlus Sunnah wal Jamaah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, serta dalam nama-nama dan sifat-Nya. Terhadap para nabi dan orang-orang saleh, Ahlus Sunnah mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka sesuai dengan koridor syariat. Ahlus Sunnah tidak mengultuskan dan mengangkat derajat mereka lebih dari yang semestinya, apalagi memberikan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka.

Adapun Syiah Rafidhah memiliki keyakinan syirik. Sifat khusus bagi Allah subhanahu wa ta’ala mereka berikan untuk imam-imam mereka. Mereka meyakini bahwa para imam mengetahui perkara yang gaib. Di samping itu, mereka menetapkan kemaksuman untuk seluruh imam mereka. Keyakinan ini tertera dalam literatur-literatur utama Syiah Rafidhah dan terucap dari lisan tokoh-tokoh mereka.

Salah satu kalimat kekufuran terlontar dari tokoh besar Syiah Rafidhah, Khomeini. Dia berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang maksum, sejak ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia, al-Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman—baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (al-Washiyah al-Ilahiyah, hlm. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

 

Keempat: Tentang Taqiyah

Taqiyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka kemunafikan, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan asy-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah, hlm. 80)

Tokoh mereka, Khomeini mendefinisikan keyakinan sesatnya, “Taqiyah maknanya berkata sesuatu yang menyelisihi kenyataan, atau mengamalkan amalan yang menyelisihi timbangan syariat (agama Syiah Rafidhah). Itu semua dilakukan untuk menjaga darah, kehormatan, dan harta.” (Kasyful Asrar hlm. 147)

Akidah ini sangat bermanfaat bagi penganut agama Syiah Rafidhah. Apabila bersendiri di tengah-tengah Ahlus Sunnah, mereka berpura-pura bersama Ahlus Sunnah. Mereka berkata dan berbuat sesuatu yang tidak mereka yakini, sembari mencari celah untuk memasukkan kerancuan-kerancuan agama dan kesesatan mereka.

Taqiyah hakikatnya adalah kemunafikan, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (al-Baqarah: 14)

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah berusaha menetapi perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk selalu jujur dan bersama dengan orang-orang yang jujur. Ahlus Sunnah jujur dalam mengucapkan kalimat tauhid, jujur dalam beramal, jauh dari kemunafikan, riya, dan kesyirikan. Ahlus Sunnah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ahlus Sunnah mengatakan bahwa yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil.

Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa taqiyah (kedustaan dan kemunafikan) adalah bagian dari agama. Bahkan, mereka meyakini bahwa taqiyah adalah sembilan per sepuluh dari agama.

Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami, “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya 9/10 dari agama ini adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyah.” (al-Kafi 2/175, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)

Lebih keji lagi, mereka menisbatkan taqiyah (baca: kedustaan dan kemunafikan) kepada imam-imam mereka.

Ketika Syiah Rafidhah ditanya, “Mengapa Ali bin Abi Thalib tidak terang-terangan menampakkan keyakinannya? Mengapa beliau tidak mengeluarkan al-Qur’an Fathimah, justru mendiamkan para sahabat mengubah al-Qur’an? Mengapa beliau membiarkan umat dalam kesesatan?”

Syiah Rafidhah akan menjawab bahwa Ali melakukan hal itu karena taqiyah, menyembunyikan hakikat keyakinan beliau. Artinya, Ali berbuat kemunafikan di hadapan seluruh manusia dan berpura-pura bersama yang lain. Beliau melakukan itu karena takut terancam harta, jiwa, dan kehormatannya dengan sebab kezaliman Abu Bakr, Umar, dan Utsman yang ketika itu menjadi khalifah.

Allahu akbar! Celaan yang luar biasa terhadap Ali radhiallahu ‘anhu.

Syiah telah menyematkan sifat pendusta kepada Ali radhiallahu ‘anhu dan menuduhnya sebagai penakut. Padahal beliau orang yang sangat pemberani. Beliaulah orang yang dengan berani menggantikan posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, siap untuk dibunuh. Beliaulah pembawa bendera Perang Khaibar sekaligus penakluk benteng Khaibar.

Kemudian kita tanyakan lagi kepada Syiah Rafidhah, “Wahai Syiah Rafidhah, setelah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjadi khalifah, mengapa beliau tetap saja berdusta kepada umat, tidak menyatakan bahwa Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum telah berkhianat merebut kekhalifahan dari Ali dan mengubah al-Qur’an? Mengapa pula al-Qur’an Fathimah masih tetap beliau pegang?”

Demikianlah keadaan Syiah Rafidhah. Agama mereka dibangun di atas kedustaan. Oleh karena itu, ketika ditanya tentang mereka, al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka. Jangan pula meriwayatkan dari mereka. Sebab, sungguh mereka itu selalu berdusta.”

Demikian pula al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam hal persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27—28, karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah)

 

Kelima: Tentang Raj’ah (Reinkarnasi)

Di antara keyakinan sesat Syiah Rafidhah adalah keyakinan raj’ah. Raj’ah adalah keyakinan bahwa orang-orang yang telah meninggal akan hidup kembali di dunia.

Tentang surat al-Qashash ayat 85,

          إِنَّ ٱلَّذِي فَرَضَ عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لَرَآدُّكَ إِلَىٰ مَعَادٖۚ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.”

‘Ahli tafsir’ mereka, al-Qummi berkata, “Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah raj’ah (hidup kembali di dunia setelah kematian).”

Kemudian dia menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini, “Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘alar Riwayatit Tarikhiyah, hlm. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

Mereka meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan imam-imam mereka akan datang lagi dan hidup di dunia. Di antara yang mereka yakini, kelak pada zaman Imam Mahdi (versi Syiah Rafidhah) Abu Bakr dan Umar akan dibangkitkan lalu disalib pada tiang salib, karena kekufuran keduanya dan perampasan hak imamah dari Ali bin Abi Thalib. (al-Khuthuth al-‘Aridhah)

 

Keenam: Tentang al-Bada’

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu. Ilmu Allah Mahasempurna. Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala meliputi segala sesuatu: yang belum terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah juga Maha Mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi. Tidak ada sedikit pun yang tersembunyi di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang baru bagi Allah subhanahu wa ta’ala, yang sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak tahu kemudian menjadi tahu.

Adapun Syiah Rafidhah memiliki keyakinan kufur tentang Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Bada’.

Al-Bada’ maknanya mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Artinya, mereka menetapkan sifat jahil (bodoh) bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Akidah kufur ini sebelumnya telah diyakini oleh Yahudi.

Mereka benar-benar melampaui batas dalam hal menetapkan akidah al-Bada’. Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Abdillah, “Tidak ada pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang melebihi al-Bada’.” (al-Kafi 1/111, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252)

Apa manfaat akidah ini bagi Syiah Rafidhah? Akidah ini sangat penting untuk menolak semua nas (dalil-dalil tegas) syariat yang tidak sesuai dengan kesesatan mereka.

Sebagai contoh, Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dijamin masuk jannah (surga), sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih. Akan tetapi, Rafidhah meyakini bahwa Abu Bakr, Umar, dan Utsman adalah kafir, kekal dalam neraka dan mendapatkan azab yang terpedih sebagaimana halnya Iblis.

Ketika Ahlus Sunnah mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak percaya wahyu Allah subhanahu wa ta’ala bahwa mereka dijamin masuk surga?”

Syiah Rafidhah mengatakan, “Kita yakin degan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Rasul-Nya. Hanya saja, sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala memberi jaminan jannah, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala baru mengetahui bahwa mereka lebih pantas untuk kekal di dalam neraka. Allah subhanahu wa ta’ala lalu mengubah keputusan-Nya sesuai dengan ilmu yang baru saja Allah subhanahu wa ta’ala ketahui.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Ahlul Bait yang dimaksud tentu saja menurut versi Syiah Rafidhah yang menyimpang. Di antara penyimpangan Rafidhah dalam masalah ahlul bait, mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari lingkaran ahlul bait, bahkan mengatakan bahwa istri-istri Rasul adalah pezina dan kafir. Wal ‘iyadzubillah.