Mari Beriman Sejenak

Sejarah telah menukilkan kepada kita gambaran nyata buah keimanan yang kokoh di hati sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai mereka. Mereka yang dahulunya, seperti digambarkan oleh Ja’far bin Abi Thalib, Dzul Janahain (Si Pemilik Dua Sayap) radhiallahu ‘anhu, dalam dialognya bersama Negus (Najasyi) Raja Habasyah masa itu,

“Wahai Baginda Raja, kami dahulu hidup di masa jahiliah, menyembah berhala, memakan bangkai (karena tidak disembelih dengan nama Allah –ed), melakukan perbuatan keji, memutuskan silaturrahmi (hubungan kasih sayang, kekerabatan), menyakiti tetangga, yang kuat di antara kami menindas yang lemah, memperturutkan syahwat, dan kami tetap dalam keadaan demikian sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami….”[1]

Lanjutkan membaca Mari Beriman Sejenak

Perumpamaan al-Haq Dan al-Bathil (2)

Sunnatullah yang Tak Berubah

Hari demi hari, dakwah yang penuh berkah ini semakin bersinar. Bertambah banyak kaum muslimin yang mulai menyadari hakikat agama yang seharusnya mereka yakini dan mereka anut.

Demikian pula semakin banyak orang-orang yang masih sehat akal dan masih bersih fitrahnya di antara orang-orang yang kafir (musyrik dan ahli kitab) kembali kepada fitrahnya, yaitu Islam.

Melihat hal tersebut, semakin besar kebencian dan dendam musuh-musuh dakwah ini. Berbagai gelar buruk disematkan kepada dakwah ini dan semua yang terlibat di dalam menyebarkan dan membelanya. Tidak perlu heran, karena sejak awal Islam ini didakwahkan ke tengah-tengah manusia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pertama kali, tidak luput dari berbagai gelar yang buruk yang dilemparkan masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil.

Bahkan, sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu, lalu beliau menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan khawatir sesuatu menimpa diri beliau, kemudian dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah bin Naufal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendengar keterangan Waraqah bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti disakiti; diusir atau dibunuh.

Sejak rasul pertama diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah masyarakat manusia, yaitu Nuh ‘alaihissalam, orang-orang yang didatangi Sang Utusan yang mulia ini menuduhnya dengan ungkapan yang buruk. Nabi Nuh ‘alaihissalam dianggap ingin meraih keutamaan melebihi masyarakatnya, atau dikatakan gila dan dusta. Begitu pula para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim sesudah beliau, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدۡ كُذِّبَ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ جَآءُو بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ١٨٤

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ٤٣

        “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (adz-Dzariyat: 52)

Orang-orang kafir di kalangan Quraisy menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merusak persatuan dan hubungan keluarga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh meretakkan kerukunan masyarakat Hijaz, khususnya penduduk Makkah.

Tuduhan ini pun sudah dialamatkan kepada nabi-nabi yang terdahulu. Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalam datang membawa kerusakan, ingin mengubah tatanan hidup masyarakat yang—menurut kebodohan dan kesombongan Fir’aun—mulia.

Seperti itu kecaman bahkan ejekan serta tuduhan yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendakwahkan agama yang lurus ini pertama kali. Seperti itu pula yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kapan dan di mana saja.

Seolah-olah, generasi kafir dan orang-orang yang durhaka yang datang belakangan ini mewarisi ungkapan-ungkapan buruk ini dari orang-orang yang kafir dan durhaka sebelum mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,

أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        “Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat: 53)

Tidak hanya melemparkan tuduhanburuk terhadap para pembawa dakwah yang penuh berkah ini, tetapi juga mengaburkan dan membuat manusia lari bahkan membenci dakwah ini sendiri. Berbagai ungkapan yang mengaburkan kebenaran dakwah ini disebarkan melalui tulisan dan lisan.

Dakwah ini dianggap sebagai ajaran sesat, mazhab baru yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Atau, dikatakan bukan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan diidentikkan sebagai ajaran kekerasan yang mengajak manusia menumpahkan darah satu sama lain.

Subhanallahi, hadza buhtanun ‘azhim. (Mahasuci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar).

Semua kecaman terhadap para dainya, ataupun terhadap dakwah yang diajarkan dan disebarkan ini, tidak lain karena kejahilan orang-orang yang menyuarakan tuduhan-tuduhan tersebut. Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Siapa yang tidak tahu (jahil) tentang sesuatu, dia tentu memusuhinya.”

Kalau tidak demikian, apa yang mendorong mereka membenci dan menutup diri terhadap dakwah yang sumbernya ada juga di hadapan mereka, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)?

Mereka begitu berang ketika banyak pemuda, bahkan sebagian tokoh mereka keluar dari barisan mereka, kembali kepada fitrahnya yang suci, jauh dari syubhat ilmu kalam dan filsafat serta bersih dari sikap taklid buta kepada tuan guru ataupun imamnya.

Mengapa mereka harus marah? Apakah karena mereka tidak tahu? Maka memang benarlah apa yang dikatakan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kalau tidak? Tentu, kalau bukan karena kejahilan, sudah pasti ada alasan lain yang mendorong mereka membenci dakwah yang penuh berkah ini. Wallahul musta’an.

Akan tetapi, sunnatullah yang tidak akan berubah di alam ini, kemenangan dan akhir yang baik (menyenangkan) adalah milik al-haq (kebenaran) beserta para pembelanya. Adapun yang batil, semua kesesatan—apa pun bentuknya—dan seluruh kejelekan, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Demikianlah yang diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia,

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

        “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)

 

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada akibat hukumnya, sebagaimana halnya pada yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Al-bathil adalah lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya, tidak diakui dan tidak disifati sebagai sesuatu yang sah, dan harus ditinggalkan serta tidak berhak untuk tetap ada. Semua itu sudah tentu dengan ketetapan syariat.

Dari uraian ini, al-haq meliputi semua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, sedangkan yang batil adalah semua yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan antara yang haq dan yang batil berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat ‘kerukunan’ antara yang haq dan yang batil tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing (al-haq dan al-bathil) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebatilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebatilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Boleh jadi pula, yang dimaksud dengan al-haq ialah pengertiannya secara umum, yaitu semua bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan al-bathil adalah semua bentuk ketaatan kepada setan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin bersatu selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

 

Kebatilan Pasti Lenyap

Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (dalam surat ar-Ra’du) dalam bentuk permisalan atau tamsil ini, dengan tegas menggambarkan bahwa kebenaran itu pasti kokoh, tetap eksis meskipun tertutupi oleh kebatilan. Dan kebatilan itu, betapapun banyaknya serta menarik perhatian manusia, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’anul Karim tidak akan dapat dipahami melainkan oleh orangorang yang berilmu. Karena itu, kami akan memaparkan sebagian keterangan ahli ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Wallahul Muwaffiq.

Dalam ayat yang mulia ini (ar-Ra’du: 17) Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang al-haq dengan dua hal terkait dengan kekekalan dan kekokohannya; juga tentang kebatilan, terkait dengan kefanaan dan keadaannya yang pasti semakin berkurang (menyusut) lalu lenyap.

Pernahkah kita memerhatikan air hujan saat turun dari langit? Ia membasahi bumi dan mengangkut semua sampah dan membawa buih-buih air di permukaannya. Buih-buih itu begitu banyak, menyelimuti permukaan air yang bening dan mengalir. Gelembung-gelembung udara dalam buih itu membuatnya terlihat besar, ikut bersama aliran dan genangan air.

Akan tetapi, pernahkah kita perhatikan bahwa buih-buih kecil yang tadinya menari-nari di atas permukaan air itu akhirnya pecah dan hilang? Ya, kita sering melihatnya, tetapi kita melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran yang tersirat di dalamnya. Wallahul Musta’an.

Coba kita lihat pula para pengrajin emas, ketika mereka melebur biji-biji emas yang mereka dapatkan dari tambang emas, atau saat proses pendulangan. Lihatlah pada wadah yang menampung emas-emas cair yang mendidih itu. Ada buih yang sangat banyak, terapung di atas cairan emas murni di bawahnya.

Ke mana akhirnya buih-buih peleburan emas, atau logam-logam dan mineral lain yang diambil manusia dari pertambangan? Hilang dan terbuang menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Kita cermati lagi buih-buih atau gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air atau logam-logam mulia yang sedang dilebur itu. Begitu ringan, menyelimuti permukaan air atau cairan emas dan logam mulia lainnya. Mereka begitu angkuhnya bermain-main di atas permukaan air itu, padahal gelembung buih itu kosong, hampa, dan tiada harganya.

Air dan cairan logam mulia yang diharapkan dan diperlukan manusia dalam tungku peleburan, tetap tenang. Dia percaya diri bahwa dia lebih berguna dan pasti dimanfaatkan manusia. Itulah sebagian dari kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dia menetapkan buih-buih itu mengambang, merasa besar dengan ukuran, bentuk, dan gelembung udaranya. Dia juga merasa lebih tinggi dari air yang ada di bawahnya.

Seperti itulah gambaran kebatilan, apa pun bentuknya. Bagaikan buih dan gelembung kecil yang terapung di atas aliran air, menjadi ujian bagi sebagian orang, mencuri hati dan perhatian mereka, lalu mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepadanya, demi mengharapkan kemuliaan atau kesuksesan bersamanya dan menginginkan kedudukan yang tinggi. Atau laksana busa atau buih yang mengambang di atas sejumlah barang tambang, ketika dipanaskan untuk mengeluarkan emas dan logam mulia darinya. Buih-buih itu akan menyusut dan lenyap, hilang tiada bekas atau terbuang tanpa ada harganya.

Adapun kebenaran, itulah yang bermanfaat bagi manusia, dia seperti air yang tetap tinggal dan tergenang di tanah. Atau seperti cairan emas dan logam mulia lainnya yang sudah dibersihkan dari kotorannya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan. Demikianlah al-Qur’an menjadikan peristiwa alam sebagai dalil tentang hakikat syariat, agar orang-orang yang berakal memahaminya lalu selamat dan berbahagia. Juga, mereka yang binasa karena bukti yang jelas dan hiduplah mereka yang hidup karena bukti yang jelas pula.

Dari perumpamaan di atas, jelaslah bahwa betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebatilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apa pun menghiasi sebuah kebatilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berjanji bahwa Dia pasti menampakkan hakikat kebenaran (al-haq),

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

        Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’: 81)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨

        “Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (al-Anbiya’: 18)

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨  قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

        Katakanlah, “Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.” Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Saba’: 48—49)

Bahkan, semakin keras tekanan kebatilan dan usahanya menutup-nutupi cahaya kebenaran, sinar kebenaran itu pasti menyeruak dari sela-sela kebatilan itu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak rela kecuali menampakkan cahaya kebenaran ini, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Lantas, apa yang membuat kaum muslimin minder dan rendah diri serta kecil hati melihat musuh-musuh Islam seolah-olah menguasai semua lini kehidupan, saat ini? Apakah karena sedikitnya jumlah orang-orang yang mengusung dan membela kebenaran? Ataukah karena kurangnya fasilitas dan sarana jika dia berpegang dengan kebenaran?

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

  1. Pertarungan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah sunnatullah yang tidak berubah. Kadang kebatilan yang menang, tetapi tetap saja pada akhirnya kebenaranlah yang berkuasa.

Oleh karena itu, bagaimanapun bangga dan bahagianya orang-orang yang memperjuangkan kesesatan, melihat banyaknya perlengkapan dan pengikut mereka, sesungguhnya itu hanya sementara. Seperti buih dan sampah yang hanya sementara berada di permukaan air ketika hujan turun, kemudian hilang dan tersingkir.

 

  1. Ayat yang mulia (ar-Ra’du: 17) ini boleh dikatakan sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah subhanahu wa ta’ala adalah pasti, dan Dia tidak pernah menyelisihi janji.

 

  1. Kebenaran itu tidak diukur dari jumlah orang-orang yang membela dan memperjuangkannya, tetapi dari hakikat kebenaran itu sendiri; sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, bahwa dia pasti eksis selamanya.

 

  1. Karena kejahilan kita, sering kita ditipu oleh pandangan mata kita sendiri. Kita hanya melihat buih-buih yang ada di atas air ketika hujan turun. Air yang ada di bawahnya tidak menjadi perhatian kita. Bahkan, kita tertarik melihat buih dan gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air tersebut.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Perumpamaan Al-Haq dan Al-Bathil (1)

Terhadap setiap kenikmatan yang dirasakan oleh seorang manusia tentu ada yang mendengkinya. Terutama kenikmatan yang paling utama yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang manusia, yaitu nikmat keimanan. Itulah salah satu bentuk ujian yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 1—2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا ٧

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)

          وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۗ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Hud: 7)

Ayat-ayat yang mulia ini menerangkan kepada kita bahwa di antara hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang ada di alam semesta ini tidak lain adalah sebagai ujian bagi para hamba-Nya, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya. Yang dimaksud dengan yang lebih baik amalnya ialah yang paling ikhlas (beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala) dan yang paling benar (paling sesuai dengan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Tidak ada satu pun manusia yang akan lolos dari ujian tersebut. Ujian-ujian yang diberikan kepada manusia beraneka ragam dan sesuai dengan keadaan iman yang ada di dalam hati setiap manusia. Semakin kuat keimanannya, semakin berat ujian yang diterima oleh seorang manusia.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”

Kata beliau, “(Yaitu) para nabi, kemudian orang-orang yang mulia dan baik (satu demi satu sesuai kedudukannya, –ed.). Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, ujiannya pun berat. Jika dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya.

Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa ada dosa melekat pada dirinya.” (HR. Ahmad (1607), at-Tirmidzi (2398), dinyatakan hasan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.)

Menurut ath-Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar[1], ujian yang disesuaikan dengan kadar iman ini, berlaku atas manusia biasa, bukan atas para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim. Alasannya, karena pada para nabi itu tidak ada kelemahan atau kerapuhan di dalam agama mereka. Di dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa kaum muslimin, selain para nabi dan rasul, dibersihkan dari dosa atau kesalahan mereka melalui ujian tersebut. Itu pun berlaku jika mereka mengharapkan pahala dan bersabar menghadapinya. Adapun para nabi tidak seperti orang biasa, karena para nabi itu tidak mempunyai dosa.

Karena kemaksuman inilah, sebagian ulama memandang bahwa ujian yang ditimpakan kepada para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim adalah untuk menaikkan derajat mereka lebih tinggi lagi. Jadi, bukan sebagai pembersih bagi dosa, karena mereka terpelihara dari dosa. Wallahu a’lam.

Ujian-ujian tersebut sudah dimulai sejak Allah subhanahu wa ta’ala menguji bapak kita, Adam ‘alaihissalam, dengan sosok Iblis yang enggan dan merasa tinggi (sombong) untuk meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya demi menghormati Adam. Padahal, sujud tersebut sejatinya adalah wujud ketaatan kepada Allah ’azza wa jalla yang telah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada.

Karena membangkang dan menolak perintah Allah ’azza wa jalla untuk sujud, Iblis diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sampai hari kiamat. Akan tetapi, bukannya bertobat, Iblis justru semakin angkuh karena dendam dan dengki melihat keutamaan Adam ‘alaihissalam.

Karena itu, dia bersumpah, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Mulanya, ketika dia mengucapkan sumpah tersebut, Iblis tidak yakin akan berhasil. Akan tetapi, pada kenyataannya, usahanya berhasil dan banyak manusia yang menjadi korban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan hal ini,

          وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقٗا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (Saba’: 20)

 

Antara Al-Haq dan Al-Bathil

Demikianlah perjalanan hidup manusia, dan sejak saat itu pula dimulailah pertentangan antara yang haq dan yang batil. Tidak akan pernah berhenti perseteruan dan pertarungan antara yang haq dan yang batil, kapan dan di mana pun.

Tidak mungkin pula al-haq dan al-bathil hidup rukun dan damai, selamanya. Pasti, salah satu dari keduanya akan berusaha menyingkirkan yang lain, karena keduanya bertolak belakang dan saling bertentangan.

Hal itu sudah pasti, meskipun kadang-kadang al-haq itu yang menang, tetapi tidak jarang pula kebatilan dan kesesatan itu yang merajalela. Al-haq dan para pembelanya terkucil, ditindas serta terusir dari kampung halaman mereka. Bahkan, tidak sedikit para pembela al-haq itu harus menanggung siksa atau dibunuh.

Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguji wali-wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya, atau sebaliknya, silih berganti. Terkadang musuh-musuh-Nya yang menang dan menindas para wali-Nya, tetapi tidak jarang pula para wali Allah subhanahu wa ta’ala itu yang berkuasa. Dan ujian itu terus berlangsung sampai Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mewarisi alam semesta ini.

Belakangan ini, dakwah salafiyah khususnya, dan Islam secara umum semakin gencar mendapat tekanan dan gangguan dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah. Dengan berbagai cara mereka berusaha memadamkan cahaya Islam dengan dakwah salafiyah ini melalui berbagai propaganda lisan dan tulisan mereka di berbagai media.

Musuh-musuh dakwah salafiyah yang penuh berkah ini bergandengan tangan dengan mesra sesama mereka. Tidak hanya di kalangan mereka yang masih mengaku muslim, tetapi juga dengan musuh-musuh dari luar diri mereka, baik itu musyrikin, ateis, maupun ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

Sungguh, tidak ada yang paling dibenci oleh mereka selain dakwah salafiyah yang ingin mengembalikan manusia kepada fitrah yang suci. Melalui dakwah ini mereka dikembalikan kepada keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan semua konsekuensi keimanan itu, sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 

 

[1] Syarh Musykilul Atsar (5/457).

Al-Amtsaaal; Perumpamaan-Perumpamaan

Sekilas Tentang Al-Qur’an

Segala puji hanya milik Allah Yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, Kitab yang memisahkan yang halal dari yang haram,  memisahkan pula antara orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka, serta antara yang haq dan yang batil.

Dengan rahmat-Nya, Dia menjadikan Kitabnya ini sebagai petunjuk bagi manusia secara umum dan bagi orang-orang yang bertakwa secara khusus. Dia menurunkan Kitab-Nya sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia, baik penyakit syahwat maupun penyakit syubhat. Juga sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang menimpa tubuh manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Kitab-Nya ini tidak ada keraguan di dalamnya, dari sisi manapun. Hal itu tidak lain adalah karena isinya yang mengandung kebenaran yang agung, baik dalam hal berita maupun perintah dan larangannya.

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan al-Qur’an ini dan menyebutkan sifatnya bahwa dia adalah majid, yaitu yang luas dan agung sifat-sifatnya. Hal itu tidak lain adalah karena luas dan agungnya makna-makna al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala juga menerangkan bahwa Kitab-Nya ini adalah dzu adz-dzikr, yaitu yang dengannya diingat ilmui-lmu Ilahiah, akhlak yang baik, amal saleh, dan orang-orang yang takut akan mendapatkan nasihat.[1]

Allah subhanahu wa ta’ala bahkan telah menjelaskan bahwa Kitab yang sarat dengan kebaikan ini diturunkan tidak lain adalah agar ditadaburi lalu menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)

Untuk tujuan tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjamin kemudahannya, mudah dibaca huruf-hurufnya dan mudah pula dipahami makna-maknanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ١٧

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٥٨

     “Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (ad-Dukhan: 58)

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ ٱلۡمُتَّقِينَ وَتُنذِرَ بِهِۦ قَوۡمٗا لُّدّٗا ٩٧

    “Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.” (Maryam: 97)

Alhasil, al-Qur’anul Karim adalah ayat-ayat yang mudah dan jelas menunjukkan kebenaran, baik dalam bentuk perintah, larangan maupun beritanya. Allah subhanahu wa ta’ala memudahkannya untuk dijaga oleh para ulama dengan menghafal, membaca, dan menafsirkannya.

Kitab ini mudah dicerna oleh akal manusia, membuat hati menjadi lembut, tidak membuat bosan dan jemu orang yang memerhatikan dan mendengarnya, meskipun di dalamnya sarat dengan rahasia dan ilmu-ilmu yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang kokoh ilmunya.

Oleh sebab itu, siapa yang ingin menjadi ahli dzikr, hendaklah dia memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang benar-benar membaca Kitab Allah, di masjid, rumah, tempat dia bekerja; dan tidak lalai dari al-Qur’an serta tidak membacanya hanya khusus pada bulan Ramadhan.

Sebagaimana disebutkan dalam surat Shad di atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang mengandung banyak kebaikan. Ia diturunkan adalah untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.

Maka dari itu, apabila lafadz-lafadz al-Qur’anul Karim ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang membaca atau mendengarnya, tentu tidak ada faedahnya perintah untuk mentadaburinya. Apabila tidak dapat ditadaburi, tentu tidak lagi akan menjadi hidayah bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Kitab-Nya yang mulia ini,

طه ١  مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢  إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)

Tujuan wahyu, diturunkannya al-Qur’an kepadamu (wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ditetapkannya syariat bukanlah agar kamu menjadi susah. Di dalam syariat ini tidak pula ada beban yang memberatkan orang-orang yang mukallaf (baligh dan berakal) serta tidak mampu dipikul oleh kekuatan manusia.

Wahyu, al-Qur’an dan syariat ini tidak lain diturunkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia menjadikan al-Qur’an ini sebagai pengantar menuju kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan. Bahkan, Dia memudahkannya dengan semudah-mudahnya, serta membentangkan pintu-pintu dan jalan-jalannya, juga menjadikannya sebagai gizi bagi hati dan ruhani serta ketenangan jasmani. Karena itu, fitrah-fitrah yang masih bersih menyambutnya, akal-akal yang sehat pun menerimanya dengan penuh ketundukan, karena mengetahui di dalamnya sarat dengan kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ

“Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

Dikhususkan penyebutan orang yang takut kepada Allah adalah karena selain mereka tidak akan dapat memetik manfaat dari Kitab Suci ini. Tentu saja, bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, tidak pula ada rasa takut—walaupun sebesar biji sawi—dalam hatinya kepada Allah?

Tidak mungkin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى ١١

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (al-A’la: 10—11)

Orang-orang yang takut kepada Allah ini, apabila disebut nama Allah dan diingatkan tentang Allah, tergetar hatinya. Dia segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan kepada Allah.

Siapakah mereka?

Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam firman-Nya,

          إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

Kemudian, sebagaimana dipaparkandi atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang banyak kebaikan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkannya untuk menjadi pedoman bagi manusia secara umum, dan orang-orang yang bertakwa secara khusus.

 

Obat Bagi Semua Penyakit

Di dalam Kitab Suci ini terkandung obat bagi semua penyakit yang diderita oleh manusia, lahir dan batin. Penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Isra: 82)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٧

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

          وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤

Dan jikalau Kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”

Apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab?

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat: 44)

Demikianlah al-Qur’anul Karim ini, dia adalah obat semua penyakit syubhat; yaitu apa saja yang mengotori keyakinan manusia tentang Rabbnya, sekaligus obat bagi penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada syariat-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menegaskan: Siapa yang mentadaburi al-Qur’an untuk memperoleh petunjuk (hidayah) dari al-Qur’an, tentu jelas baginya jalan kebenaran.[2]

Di dalamnya terkandung berbagai ilmu yang diperlukan oleh manusia untuk meraih kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Salah satu ilmu yang bermanfaat bagi manusia di dalam Kitab yang mulia ini adalah ilmu tentang al-amtsaal. Bahkan, dikatakan pula sebagai salah satu ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling utama, dan seorang mujtahid harus bisa memahaminya.[3] Wallahu a’lam.

Berbagai hakikat yang tinggi makna dan sasarannya menjadi lebih indah ketika dibuat dalam bentuk konkret yang mendekatkan kepada pemahaman melalui kias yang telah diketahui secara yakin. Tamsil adalah pola yang dapat menonjolkan berbagai pengertian dalam bentuk yang hidup dan mapan di alam pikiran, dengan menyerupakan hal-hal yang gaib atau abstrak dengan sesuatu yang nyata atau konkret, dan mengkiaskan sesuatu dengan yang serupa.

Betapa banyak makna yang indah menjadi lebih menarik karena pemaparannya menggunakan tamsil. Itulah sebabnya jiwa lebih terdorong untuk menerimanya dan akal merasa lebih puas mencernanya. Inilah salah satu uslub al-Qur’anul Karim mengungkapkan penjelasan dan kemukjizatannya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam bidang yang wajib diketahui oleh setiap mujtahid. Kata beliau, “Kemudian mengetahui perumpamaan-perumpamaan yang menunjukkan kepada ketaatan kepada-Nya….”[4]

Para ulama terdahulu ada yang menulis sebuah kitab khusus tentang tamsil ini, contohnya ialah al-Hasan bin Fadhl. Ada juga yang meletakkannya dalam salah satu bab dalam kitabnya, seperti Ibnul Qayyim rahimahullah.

 

Pengertian Secara Bahasa dan Istilah

Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal yang secara harfiah artinya perumpamaan atau tamsil. Dalam bahasa Arab, matsal, mitsil dan matsiil adalah sama dengan syibh, syabah, dan syabiih, baik lafadz maupun maknanya.

Kadang kata matsal dan syabah digunakan untuk mengungkapkan keadaan atau sifat sesuatu. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ٣٥

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orangorang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (ar-Ra’d: 35)[5]

Kadang kata mitsl digunakan juga untuk mengungkapkan sesuatu yang serupa dengan yang lainnya dalam salah satu makna, apa saja. Jadi, dia lebih umum untuk menerangkan kesamaan.

Akan tetapi, amtsalul Quran tidak bisa dibawakan kepada asal makna secara bahasa, yaitu keserupaan dan kesamaan. Sebab, matsal al-Qur’an juga bukan perkataan yang digunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan tersebut.

Kata Syaikh as-Sa’di, “Ketahuilah bahwa al-Qur’an berisi hal-hal yang sangat tinggi, sempurna, dan bermanfaat yang diperlukan oleh manusia. Di dalamnya terdapat metode pendidikan yang paling baik, penyampaian makna ke dalam hati dengan cara paling mudah dan jelas.

Di antara cara pendidikannya yang tinggi ialah membuat perumpamaan-perumpamaan. Terkait hal ini, disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Menciptakan manusia tentang urusan-urusan yang penting, seperti tauhid, keadaan orang-orang yang bertauhid, tentang syirik dan para pemujanya, serta amalan yang umum dan mulia.

Tujuannya semua itu adalah untuk menjelaskan makna-makna yang bermanfaat, menyerupakannya dengan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indra agar pembaca menyaksikannya seakan-akan melihatnya dengan mata kepalanya.

Ada pula ulama yang menyebutkan hakikat tamsil ini ialah mengeluarkan makna yang tersembunyi menjadi lebih terlihat. Tamsil terbagi dua:

  1. Tamsil yang bersifat zahir atau terang-terangan menyebutkan perumpamaan, dan
  2. Tamsil yang bersifat tertutup (kamin), yaitu yang tidak disebutkan padanya perumpamaan dengan tegas, tetapi hukumnya sama seperti amtsal.[6]

Jenis yang pertama sangat banyak terdapat dalam al-Qur’an. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِي ٱسۡتَوۡقَدَ نَارٗا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِي ظُلُمَٰتٖ لَّا يُبۡصِرُونَ ١٧ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ١٨ أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩ يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَٰرَهُمۡۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٠

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 17—20)

Di dalam ayat-ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dengan dua contoh, yaitu api dan air.

Jenis yang kedua, meskipun tidak terang-terangan menyebutkan perumpamaan, tetapi sudah menunjukkan kepada makna yang menarik meskipun diungkap dengan cara yang ringkas, namun tetap memberikan pengaruh tersendiri jika dipindahkan kepada halhal yang menyerupainya.

Misalnya ayat yang semakna dengan ungkapan

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

(sebagaimana kamu berbuat, seperti itu kamu dibalas) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (an-Nisa: 123)

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa Dia membuat sejumlah perumpamaan atau amtsal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ فَأَبَىٰٓ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ٨٩

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” (al-Isra: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ أَكۡثَرَ شَيۡءٖ جَدَلٗا ٥٤

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (al-Kahfi: 54)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِ‍َٔايَةٖ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ٥٨

Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata, “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.” (ar-Rum: 58)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٧

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (az-Zumar: 27)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut: 43)

Demikian pula dalam hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya,

مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهم وَتَعَاطُفِهمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْه عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan perasaan iba mereka, seperti satu jasad. Apabila satu anggota tubuh itu mengeluh (sakit), tentu seluruh jasad itu saling memanggil, merasakan tidak bisa tidur dan demam.”[7]

Demikianlah al-Qur’anul Karim, di dalamnya terdapat banyak hal yang mendidik dan membina jiwa manusia, meningkatkan pengertiannya untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus.

 

Hikmah dan Faedah Amtsal

Para ulama menyebutkan beberapa faedah yang dapat dipetik dari pemaparan tamsil ini, baik dari dalam Kitab Suci al-Qur’anul Karim, maupun sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih. Di antaranya ialah sebagai peringatan, nasihat, dorongan, sekaligus upaya mencegah dari suatu kejelekan.

Lebih lanjut, faedah adanya perumpamaan ini antara lain ialah:

  1. Menonjolkan makna yang abstrak (yang dipahami oleh akal) dalam bentuk yang tertangkap oleh indra.
  2. Amtsal akan menyingkap berbagai hakikat dan menampakkan sesuatu yang gaib sebagai sebuah keadaan yang nyata.
  3. Amtsal mendorong pihak yang diberi perumpamaan agar berbuat sesuai dengan isi perumpamaan. Misalnya, orang-orang yang beriman diperumpamakan dengan keadaan Maryam yang tidak dirugikan oleh tuduhan orang-orang Yahudi terhadapnya. Ini menjadi hiburan bagi Bunda ‘Aisyah yang menerima tuduhan orang-orang munafik.
  4. Amtsal al-Qur’an juga mencakup penjelasan tentang perbedaan pahala, pujian dan celaan, ganjaran dan siksa.
  5. Amtsal al-Qur’an menjadikan urusan yang dibuat perumpamaannya sebagai sesuatu yang besar dan penting; atau sebaliknya, merendahkan urusan tersebut.
  6. Amtsal al-Qur’an menunjukkan penegasan tentang suatu persoalan atau pembatalannya.
  7. Amtsal membuat orang yang diberi perumpamaan menjauh dari sesuatu yang disebutkan perumpamaannya.

Al-Qur’anul Karim juga mengarahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberikan perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman mereka kepada tujuan yang baik dan terpuji. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] Diringkas dari mukadimah Tafsir as-Sa’di rahimahullah.

[2] Lihat al-’Aqidah al-Wasithiyah.

[3] Lihat al-Itqan karya as-Suyuthi.

[4] al-Burhan, al-Imam az-Zarkasyi (1/486).

[5] Bashairu Dzawi Tamyiz, al-Fairuz Abadi (1/1401).

[6] Ibid.

[7] HR. al-Bukhari (no. 6011) dan Muslim (2586) (66)

Iblis vs Manusia (6) : Akhir Perseteruan, Kehinaan Tak Bertepi

Tidak ada jalan yang tak berujung. Sejauh apa pun kita berjalan, tentu ada batas untuk kita berhenti. Setelah melalui perjalanan panjang, sejak diturunkan ke dunia, sampailah pada suatu waktu yang tidak pernah tercatat dalam matematika manusia.

Sangkakala yang saat ini sudah ada di mulut Israfil, mengeluarkan suara yang menggoncang seluruh makhluk yang ada. Semua terkapar, mati dan binasa kecuali yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla.

Tinggal Israfil, menanti keputusan al-Malik ad-Dayyaan Tabaraka wa Ta’ala.

Akhirnya, semua binasa, kembali fana (tiada). Yang tinggal hanyalah al-Malik al-Jabbar, lalu Dia melipat langit dan menggenggamnya dengan Kanan-Nya serta berfirman,

أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثم يَطْوِي الْأَرْضَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

“Akulah Maharaja. Di mana para penindas itu? Di mana orang-orang yang takabur (merasa besar dan hebat) itu?” Kemudian Dia melipat bumi dengan Kiri-Nya, lalu berfirman, “Akulah Maharaja. Di mana para penindas itu? Di mana orang-orang yang takabur (merasa besar dan hebat) itu?” (HR. Muslim no. 2788 dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

Kemudian, Israfil meniup lagi sangkakalanya. Bangkitlah seluruh manusia dari kematian mereka, dan yang pertama kali dibangkitkan adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa beliau melihat Nabi Musa ‘alaihissalam berpegangan di tiang ‘Arsy, tanpa diketahui apakah Nabi Musa alaihissalam sudah lebih dahulu bangkit ataukah beliau.

Kemudian manusa digiring menuju Padang Mahsyar. Semua keluar dari kuburnya tanpa berpakaian, tidak beralas kaki, tidak berkhitan, dan tidak membawa sesuatu pun. Adapun yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Itulah hari ketika langit dan bumi diganti dengan langit dan bumi yang lain. Hari itu, pandangan manusia demikian tajamnya. Yang dahulu—di dunia—tidak mampu mereka lihat, hari itu mereka melihatnya.

Matahari didekatkan sejarak satu mil di atas kepala manusia. Persidangan mulai digelar. Hakimnya, Allah ‘azza wa jalla. Para saksi mulai berdiri, yaitu para nabi dan rasul terhadap umatnya masing-masing, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya yang menjadi saksi pula terhadap seluruh umat yang lain.

Tangan, kaki, dan kulit tubuh manusia ikut pula menjadi saksi. Tanah yang diinjak oleh kaki-kaki manusia juga turut menjadi saksi.

Tidak ada yang terzalimi, semua menyaksikan kemahaadilan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka yang mati ‘penasaran’, melihat kembali rekaman ulang, mengapa dia dibunuh, atau mengapa orang membunuhnya.

Setelah selesai persidangan, penghuni surga digiring menuju surga tempat tinggal abadi mereka. Hilanglah kepayahan dan kesedihan serta kesusahan yang seakan tiada henti menggayutnya di dunia. Kelegaan dan ketenangan menyelinap cepat dalam hatinya begitu dia menjejakkan kakinya di lantai surga.

Adapun penghuni neraka, mereka diseret dengan paksa, bahkan disungkurkan di atas muka-muka mereka lalu dilemparkan ke neraka. Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menzalimi mereka sedikit pun, baik di dunia maupun di akhirat.

Satu demi satu, rombongan demi rombongan penghuni neraka dilemparkan ke neraka. Setiap kali rombongan itu masuk, mereka saling melaknat. Saling menyalahkan, dan saling berlepas diri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِي ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ لِأُولَىٰهُمۡ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَ‍َٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلّٖ ضِعۡفٞ وَلَٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ ٣٨

Allah berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.” Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); hingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Wahai Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 38)

Namun, dengan semua itu, Allah subhanahu wa ta’ala tetap Maha Terpuji. Tidak ada yang salah ketika Dia memulai menciptakan segala sesuatu, dari tiada menjadi ada. Maha Terpuji pula ketika Dia melenyapkan semuanya, lalu memutuskan persoalan hamba-hamba-Nya; yang di neraka dikurung di dalamnya dengan selaksa azab. Yang di surga dimuliakan di dalamnya dengan beragam kenikmatan. Semuanya kekal di dalam tempat masing-masing, selama-lamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَرَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ حَآفِّينَ مِنۡ حَوۡلِ ٱلۡعَرۡشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡۚ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡحَقِّۚ وَقِيلَ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٧٥

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb mereka; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (az-Zumar: 75)

Demikianlah, seluruh penghuni neraka mulai mencaci dan mengutuk orang-orang yang dahulu mereka ikuti dan ternyata menyesatkan mereka. Akhirnya, mereka menujukan cercaan dan kutukan itu kepada Iblis. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٢

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencercaku, tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim: 22)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Khalqu ‘Af’alil ‘Ibad dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani radhiallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan keadaan manusia di padang mahsyar, hingga orang-orang yang kafir berkata,

هَذَا قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ يَشْفَعُ، فَمَنْ يَشْفَعْ لَنَا؟ مَا هُوَ إِلاَّ إِبْلِيسُ، هُوَ الَّذِي أَضَلَّنَا. فَيَأْتُونَ إِبْلِيسَ، فَيَقُولُونَ: هَذَا قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَهُمْ، ثُمَّ يَقُولُ الْكَافِرُونَ: فَقُمْ أَنْتَ فَاشْفَعْ لَنَا، فَإِنَّكَ أَضْلَلْتَنَا. فَيَثُورُ مَجْلِسُهُ أَنْتَنَ رِيحٍ شَمَّهَا أَحَدٌ قَطُّ، ثُمَّ يَعْظُمُ لِجَهَنَّمَ، فَيَقُولُ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ  }إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ  {الآيَة

“Inilah, orang-orang yang mukmin telah mendapatkan orang yang memintakan syafaat buat mereka, maka siapa yang akan memintakan syafaat untuk kita? Tidak lain adalah Iblis, Dialah yang telah menyesatkan kita.”

Lalu mereka mendatangi Iblis dan berkata, “Inilah, kaum mukminin telah mendapatkan orang yang memintakan syafaat buat mereka,” kemudian mereka berkata lagi, “Berdirilah kamu, mintakanlah syafaat buat kami, karena kamu yang telah menyesatkan kami.”

Tiba-tiba tempat duduk Iblis memancarkan bau yang sangat busuk yang pernah dicium oleh seseorang, kemudian tubuhnya diperbesar untuk Jahannam (seperti orang kafir lainnya untuk merasakan azab). Setan pun berkata setelah semua perkara diselesaikan (sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala),

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.”[1]

Siapa mutakabbir paling besar, paling jahat, dan paling buruk? Setan. Dia pula makhluk pertama yang diikuti dalam kesesatan dan semua penyimpangan. Dialah pemimpin orang-orang yang sesat dan merasa hebat (takabur), sehingga membuatnya dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sejauh-jauhnya.

Ketika semua perkara sudah diselesaikan, dengan keputusan, penduduk jannah segera masuk ke dalam istana dan tempat tinggal mereka, sedangkan penghuni neraka, segera masuk untuk merasakan azab dan penderitaan abadi. Setan berdiri di mimbar dari neraka di dalam neraka, menjawab semua caci maki dan kutukan yang ditujukan kepadanya.

“Sungguh, Allah Yang Mahasempurna dalam segala hal, telah menjanjikan kepada kalian semua janji yang haq (pasti dan benar), bahwa Dia akan mengutus para rasul kepada kalian, menurunkan bersama mereka bukti-bukti dan kitab-kitab yang di dalamnya Dia menerangkan kepada kalian bahwa Dia adalah Rabb (Yang Mencipta, Memberi rezeki, Mengatur dan Memelihara) kalian, Yang Mahatunggal lagi Mahaperkasa.

Para rasul itu mengajak kalian kembali kepada-Nya setelah kalian diseret oleh para setan. Mereka memberi kabar gembira bagi orang-orang yang menyambut seruan itu dan memperingatkan orang-orang yang menolak. Dan Dia Mahakuasa dengan kekuasaan yang sempurna. Semua yang dikatakan-Nya sesuai dengan kenyataan—sebagaimana yang kalian lihat dan alami—dan Dia menepati janji serta memberi balasan sempurna bagi kalian.

Adapun aku, memang memberi janji kepada kalian dengan membuat kalian memandang indah berbagai maksiat, dengan bisikan-bisikan dan janji-janji yang batil, lalu aku menyelisihi janjiku kepada kalian.

Tidaklah aku mengatakan sesuatu melainkan itu adalah penyelewengan, lalu kalian mengikutiku padahal aku jelas-jelas musuh kalian. Lalu kalian tinggalkan Rabbmu, padahal Dia adalah Rabb dan Wali (Pelindung dan Penolong) bagi kalian semua.”

Setelah menerangkan tipuannya, setan menerangkan pula betapa mudahnya menipu mereka, sehingga menambah penyesalan yang luar biasa dalam diri mereka.

Setan pun melanjutkan,

“Tidak ada sama sekali kekuasaanku terhadap kalian, sekecil apa pun. Aku hanya mengajak kalian dengan bisikan (waswas) yang menjadi sebab yang kuat mendorong kalian kepada kejahatan, lalu kalian menyambut ajakanku dengan antusias sambil menjadikan syahwat sebagai hakim, berpaling dari akal sehat dan seruan orang-orang yang memberi nasihat.

Seandainya kalian jadikan akal kalian sebagai hakim, niscaya kalian mengikuti orang-orang yang memberi petunjuk. Sebab, di jalan mereka ada cahaya yang membawa kepada hidayah.

Oleh sebab itu, janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Sebab, kalian sendirilah yang dihukum akibat perbuatan kalian. Sebab, sesungguhnya, kalian mempunyai kemampuan dan ikhtiar, tetapi kalian cenderung kepada kejelekan dan meninggalkan yang baik.

Aku tidak bisa menolong kalian dari azab ini, kalian juga tidak bisa menolongku dari azab ini. Sungguh, aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku dengan Allah subhanahu wa ta’ala sejak dahulu. Sungguh, orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

Allahu a’lam.

Dialog ini diceritakan tidak lain adalah agar orang-orang yang mendengar dan membacanya setiap kali melewati ayat ini, benar-benar bersiap dan mempersiapkan diri menghadapi hari yang dahsyat itu. Hari yang tidak ada lagi gunanya hubungan kekerabatan dan kasih sayang sedekat apa pun ketika di dunia. Hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibu dan ayahnya, dari kerabat-kerabatnya. Putus semua hubungan kasih sayang, persaudaraan dan ikatan sumpah setia, kecuali pada orang-orang yang bertakwa.

Sudah begitu rupa curang dan liciknya setan, masih juga ada yang terbuai dengan janjinya. Sebagaimana yang telah lalu, kalau boleh dikatakan, di antara janjinya yang batil itu adalah dia membentangkan 70 kebaikan untuk menjerumuskan manusia dalam satu kejahatan.

Lihatlah akibatnya, ketika mereka bermudah-mudahan dengan televisi, dengan alasan untuk dakwah. Apa yang terjadi?

Para suami menjadi dayyuts, membiarkan orang-orang yang di bawah kekuasaannya bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Muncul dari sebagian akhwat mad’u mereka ungkapan kagum kepada ustadz yang mengisi acara. Nasihat atau pelajaran apa yang diperoleh, ketika hati terkotori akibat melepaskan pandangan mata?

Dan itu bukan sekali dua kali. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menegaskan bahwa tidak ada fitnah (godaan/ujian) yang beliau tinggalkan yang lebih berbahaya bagi kaum pria dibandingkan dengan fitnah wanita?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa salah satu dari tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan dia mendapatkan azab yang pedih adalah para dayyuts?

Berita ini adalah dari Dzat Yang Mahabenar perkataan-Nya. Dia turunkan dalam kitab-Nya yang mulia, yang tidak disentuh kebatilan baik dari depan maupun belakangnya. Semua ini adalah peringatan bagi mereka yang masih mempunyai hati (akal), atau mencurahkan pendengarannya (perhatiannya) dan dia menyaksikan.

Sungguh, al-Qur’an ini hanya akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang hatinya takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan ancaman yang mengerikan di hari kiamat nanti.

Wallahul Muwaffiq

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. Abu Ya’la (5/332 no. 2956), ath-Thabarani (17/321 no. 887) dan dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Ziyad, dia lemah, sebagaimana juga dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad karya al-Imam al-Bukhari. Hadis ini sahih dengan beberapa syawahid-nya (lihat asy-Syafa’ah karya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah).

Iblis VS Manusia (5)

Sebagaimana sudah diceritakan bahwa setan menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan sekaligus menyeret mereka kepada kekafiran dan kesyirikan, tidaklah secara langsung. Tetapi berangsur-angsur, selangkah demi selangkah.

Enam pintu yang telah dijelaskan pada edisi sebelumnya adalah cara yang umum digunakan oleh setan menghancurkan manusia. Selain enam pintu ini masih ada jalan-jalan lain yang memperjelas pintu-pintu tersebut.

 

Berlindung dari Setan

Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak membiarkan kita begitu saja melawan musuh yang satu ini. Dengan rahmat-Nya, Dia mengajari manusia cara untuk menghadapi musuh yang paling berat ini.

Satu hal yang harus kita ingat, bagaimanapun banyaknya tipu muslihat setan untuk menghancurkan manusia, semua tipu muslihat itu lemah. Sangat lemah bagi orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tetap istiqamah di atas jalan yang lurus dan senantiasa istighfar dan bertobat.

Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya membimbing kita kepada hal-hal yang membuat kita terjaga dari makar dan godaan setan. Yang paling penting di antara upaya berlindung dari gangguan dan tipu daya setan itu adalah bertauhid, bertawakal dan bersandar sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta memurnikan (ikhlas) ibadah hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ٤٢

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 42)

Hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang bertakwa dan ikhlas mengabdi hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia menyandarkan mereka kepada-Nya dengan ungkapan عِبَادِي (hamba-hamba-Ku), sehingga tidak termasuk di dalamnya orang-orang yang ghawi (sesat, menyimpang setelah menerima ilmu).

Al-Qurthubi rahimahullah menukil pendapat ulama yang menerangkan bahwa kekuasaan tersebut adalah terhadap hati-hati mereka.

Merekalah yang dikecualikan oleh Iblis dalam sumpahnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 82—83)

Wallahu a’lam.

Sebagian ulama ada yang berbicara tentang tempat masuk setan ke dalam hati manusia. Beliau menerangkan, “Hati itu seperti sebuah benteng yang tinggi, sedangkan setan adalah musuh yang ingin menyelinap ke dalam benteng itu untuk menguasainya. Benteng itu tidak mungkin dipertahankan kecuali dengan menjaga semua pintu dan celah yang ada. Hal itu juga tidak mungkin kecuali dengan mengenal semua pintu dan celah atau setiap sudut benteng tersebut.

Kita tidak mungkin mampu mengusir setan itu kecuali dengan mengetahui arah dari mana dia biasanya memasuki hati kita. Oleh karena itu, memahami perkara ini menjadi sebuah hal yang wajib, karena melindungi dan menjaga hati dari gangguan setan adalah wajib.

Ulama menyebutkan bahwa pintu-pintu dan tempat jalan masuk setan adalah sifat-sifat yang ada pada manusia itu sendiri. Sifat-sifat itu melekat pada dirinya sejak dia diciptakan. Akan tetapi, sifat-sifat itu adalah sesuatu yang harus dikendalikan, bukan dibiarkan begitu saja. Di antaranya ialah syahwat, marah, sadis, rakus, dsb.

Ada sepuluh jalan yang disebutkan oleh ulama tersebut, yaitu:

 

  1. Dengki dan tamak (rakus) yang merupakan jalan utamanya.

Karena dengki inilah setan dilaknat menjadi makhluk yang terkutuk sampai hari kiamat, dan karena sifat rakus (tamak) ini dia memperoleh apa yang diinginkannya dari Adam ‘alaihissalam.

Dihalalkan semua yang ada di surga untuk Adam ‘alaihissalam kecuali satu pohon, lalu dia menggoda Adam ‘alaihissalam agar memakannya.

 

  1. Jalan yang kedua, syahwat dan hawa marah.

Keduanya adalah muslihat paling besar setan. Seberapa pun marahnya seseorang, setan tentu mempermainkannya, hingga seperti anak kecil memainkan bola yang ada di tangannya.

 

  1. Jalan yang ketiga, menyukai syahwat dan berhias dalam urusan dunia, pakaian, perabotan, rumah, dan kendaraan.

Ketika setan mengetahui bahwa hal itulah yang menguasai hati manusia, dia pun bersukacita. Lalu, dia pun tak henti-hentinya mengajak manusia itu agar meramaikan dunia dan menghiasi atap dan dinding serta meluaskan rumahnya. Atau, memperindah pakaiannya.

Setelah berhasil menenggelamkan manusia itu dalam kesenangan dunia, dia tidak lagi perlu mengulangi, karena sebagian dunia itu akan menyeret kepada yang lain, sampai orang itu mendekati ajal dan mati dalam keadaan berselimut angan-angan.

 

  1. Jalan yang keempat, sikap tamak, loba, atau rakus.

Apabila sifat-sifat ini sudah menguasai hati, setan akan selalu mendorongnya melakukan tindakan membuat-buat satu perilaku agar menarik simpati orang lain yang dia inginkan sesuatu darinya.

 

  1. Jalan yang kelima, sikap tergesa-gesa dalam banyak hal, sembrono, dan apatis.

 

  1. Jalan yang keenam, dinar dan dirham serta segala jenis harta, kendaraan dan tanah yang melebihi batas yang diperlukan.

 

  1. Jalan yang ketujuh, sifat kikir dan takut miskin, karena kikir adalah pangkal semua kesalahan.

 

  1. Jalan yang kedelapan, buruk sangka terhadap kaum muslimin.

Siapa yang memutuskan sesuatu terhadap orang lain dengan sangkaan, setan akan mendatanginya agar melakukan gibah, maka dia pun binasa. Atau, kurang dalam memenuhi hak orang lain atau enggan memuliakannya, atau merendahkannya, atau memandang dirinya lebih baik dari orang itu.

Jika Anda melihat seseorang berburuk sangka terhadap orang lain, mencari-cari aibnya, ketahuilah bahwa orang ini batinnya keji. Sebab, orang yang beriman itu justru mencari-cari uzur buat orang lain, dan orang yang munafik itulah yang suka mencari-cari aib orang lain.

 

  1. Jalan yang kesembilan, kekenyangan dan menyukai makanan mewah, karena kekenyangan akan menguatkan syahwat dan menjadi senjata setan.

 

  1. Jalan kesepuluh, menyeret orang awam memikirkan Dzat Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Bagaimana Cara Menolak Gangguan Setan?

Mungkinkah kita bisa mengusir setan setiap kali dia datang?

Ada sebuah perumpamaan diberikanoleh sebagian ulama kepada muridnya. Apabila engkau hendak melewati sebuah ladang gembalaan yang dijaga oleh anjing-anjing yang ganas, apa yang akan engkau lakukan? Sementara itu, tidak ada jalan lain kecuali melewati tempat penggembalaan itu.

Si murid berkata, “Aku akan berusaha mengusirnya dengan tongkat ataupun batu.”

“Dia pasti datang lagi,” kata gurunya.

“Aku akan mengusirnya lagi lebih keras,” kata muridnya.

“Sampai kapan, dan kapan kamu akan sampai tujuan?” tanya gurunya.

“Ada jalan yang lebih cepat, yaitu meminta pemilik anjing itu agar menahan anjingnya supaya tidak menggonggongmu atau mengejarmu.”

Itulah cara yang lebih tepat dan cepat, meminta pertolongan kepada Penguasa dan Pemilik setan tersebut agar menghalanginya untuk mendekati kita, yaitu dengan doa dan isti’adzah (meminta perlindungan).

Sudah tentu, lebih dahulu hati yang diincar oleh setan ini harus dibersihkan sebersih-bersihnya. Semua “makanan” setan yang ada di dalam hati harus benar-benar disingkirkan, sehabis-habisnya jangan sampai tersisa. Jika masih tersisa, bagaimana mungkin setan akan segera pergi ketika kita mengusirnya dengan doa dan isti’adzah karena apa yang diincarnya belum berhasil diraihnya.

Sebagian ulama mengumpamakan setan itu adalah anjingnya manusia. Apabila pada manusia itu ada sesuatu yang disukai oleh seekor anjing, berupa makanan atau apa saja, dia akan selalu berusaha mendekati manusia itu sampai dia memperolehnya. Anda mengusirnya, membentaknya, memukul atau melemparnya dengan batu, dia tetap akan kembali berusaha mendekat sampai Anda menyerahkan apa yang diinginkan anjing itu, atau dia memperolehnya.

Sebuah perumpamaan lain, tentang dua buah rumah. Yang satu berdiri megah, isinya penuh dengan perabotan dan makanan. Yang satu lagi, sudah runtuh atapnya, dindingnya banyak yang berlubang dan kosong, tidak ada barang dan makanan di situ selain sampah, puing-puing reruntuhan.

Manakah yang diincar oleh para perampok dan pencuri? Tentu rumah yang masih berdiri megah dengan isinya yang lengkap. Mereka akan berusaha memasuki rumah itu untuk mendapatkan makanan atau barang yang berharga, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Adapun rumah yang sudah tinggal puing-puing dan sampah, tidak lagi diincar oleh mereka, tetapi justru mereka jadikan markas, tempat menetap atau bersembunyi.

Seperti itu pula kalbu kita, yang selalu berdetak di balik tulang-tulang dada kita. Apabila kalbu itu masih hidup, bersih, dan sehat karena terisi keimanan dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tentu akan selalu menjadi incaran setan. Semakin seseorang berusaha membersihkan dan menjaga hatinya, seperti itu pula usaha setan berusaha menggagalkannya. Wallahul Musta’an.

Sebaliknya, jika hati itu sudah rusak, tidak ada lagi kehidupan dan cahayanya, dia menjadi sarang para setan.

Inilah sebabnya dikatakan bahwa shalat orang yang tidak dihinggapi waswas adalah shalat orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan sebagian sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf: 201)

Akan tetapi, zikir ini akan tumpul kekuatannya jika kalbu yang menggerakkannya tidak terisi dengan rasa khauf (takut) dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti orang yang meminum obat, tetapi lokasi tempat menguraikan dan mengolah obat itu rusak atau tidak berfungsi, tentu penyakitnya tidak akan sembuh.

Zikir itu diumpamakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah seperti obat, kemudian takwa adalah upaya menjaga diri. Ketika zikir itu digerakkan oleh kalbu yang selalu terjaga, terusirlah setan dan hilanglah gangguannya.

Wallahul Muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Manusia vs Iblis; bagian ke-3

Dua Tujuan Utama

Setan sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia. Seperti telah diuraikan pada tulisan sebelumnya, manusia mempunyai banyak kelemahan yang hakikatnya adalah penyakit yang menimpa hatinya. Akhirnya kelemahan-kelemahan itu menjadi sebagian pintu masuk setan.

Setan mempunyai dua tujuan: jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjangnya ialah menarik manusia sebanyak-banyaknya menjadi temannya di neraka. Adapun jangka pendeknya ialah menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran dan kesyirikan.

Dalam usahanya mencapai tujuan jangka panjang dan jangka pendek ini, setan tidak akan menyuruh manusia, “Tinggalkanlah shalat, jauhilah tauhid, kafirlah kepada Allah!” seandainya dia berbuat demikian, tentu tidak akan diikuti oleh banyak manusia. Sebab, manusia diciptakan di atas fitrahnya, mengakui keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb (Yang Maha Menciptakan, Memberi rezeki dan Mengatur)nya. Tentang hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan hal itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.” (al-A’raf: 172)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia mengeluarkan anak manusia dari tulang sulbi bapak-bapak mereka, menjadikan mereka saling berketurunan, generasi demi generasi. Ketika mengeluarkan mereka dari perut ibu mereka, Allah subhanahu wa ta’ala menekankan kepada mereka Rububiyah-Nya sebagaimana telah ditanamkan-Nya dalam fitrah mereka, bahwa Dia adalah Rabb mereka, Yang Menciptakan dan Menguasai serta Memiliki mereka, “Bukankah Aku adalah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki dan Pemelihara) kamu?”

Saat itu manusia mengatakan, “Betul, kami mengakui dan bersaksi.”

Siapa pun, telah diciptakan di atas fitrah tersebut. Akan tetapi, fitrah ini bisa berubah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيَ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sungguh, Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya, dan sesungguhnya setan mendatangi mereka lalu menarik mereka keluar dari agama mereka.” (HR. Muslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu)

Hadits ini menerangkan secara tegas bahwa manusia diciptakan dalam keadaan hanif (Islam dan bertauhid), tetapi setan menyeret mereka keluar dari agama mereka.

Upaya setan menyeret mereka keluar dari fitrah tersebut tidak serta-merta dengan seketika, tetapi bertahap dan berangsur-angsur, sebagaimana telah dijelaskan. Bahkan, dia akan datang dengan cara-cara yang licik, yang tidak pernah diperkirakan oleh manusia.

Di antara caranya yang keji untuk menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran atau pelanggaran adalah dengan menampakkan seolah-olah dia sedang memberi nasihat. Dia mendatangi seorang manusia untuk mengajaknya kepada maksiat, sementara manusia itu mengira bahwa setan sedang menasihati dan mengajaknya kepada kebaikan.

Dia selalu berusaha menjegal dakwah para nabi dan rasul dengan seluruh kemampuannya. Dialah yang menjadi sebab terbunuhnya Yahya dan Zakariya ‘alaihimassalam. Dia pula yang berusaha mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melemparkan api ke wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga yang membantu orang-orang Yahudi menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pintu-Pintu Setan

Tidak ada jalan untuk menghindar dari kejahatannya selain dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tidak mungkin membatasi jenis-jenis kejahatannya, apalagi menyebutnya satu per satu, karena semua kejahatan di alam ini, dialah sebabnya.

Akan tetapi, mungkin dapat diringkas, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, secara umum ada enam pintu kejahatan yang dimasukinya Sebab, dia ingin meraih kemenangan dengan menjerumuskan manusia melalui pintu-pintu kejahatan yang sebagiannya lebih sulit daripada yang lainnya. Setan tidak akan berpindah ke pintu yang lebih rendah, kecuali jika dia kesulitan untuk memasuki pintu yang di atasnya.

 

Pintu yang pertama adalah kekufuran dan kesyirikan serta memusuhi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Apabila dia berhasil menghancurkan manusia melalui kejahatan ini, tenanglah hatinya, redalah kesedihannya, dan dia dapat beristirahat dari kepayahannya melumpuhkan manusia. Inilah yang pertama kali diinginkannya terhadap diri manusia.

Setan tidak henti-hentinya membujuk dan merayu manusia sampai manusia itu jatuh dalam kekafiran, kesyirikan, dan permusuhan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Kalau berhasil, dia akan menjadikan manusia itu sebagai prajuritnya, bahkan menjadi pengganti setan untuk menghancurkan manusia lainnya.

Kaum musyrikin secara lahiriah terlihat menyembah patung dan berhala yang mereka buat dan mereka beri nama, tetapi sesungguhnya, mereka itu sedang beribadah kepada setan yang membuat mereka memandang indah dan baik kesyirikan tersebut.

Seandainya setan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu…

Pintu yang kedua ialah bid’ah.[1] Termasuk pula ide-ide sempalan yang menyelisihi pemahaman dan prinsip para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Mengapa setan menjadikannya sebagai jalan kedua untuk menghancurkan manusia?

Alasannya, karena bahaya bid’ah dan dosanya sangat besar jika menimpa agama seseorang. Bahkan, hampir dapat dipastikan pelakunya sangat sulit untuk bertobat dan berhenti dari suatu kebid’ahan atau pemikiran hizbiyah, karena pelakunya merasa yakin bahwa dia sedang melakukan sebuah kebaikan atau ketaatan yang mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahul Musta’an.

Dikisahkan, di masa tabi’in terkemuka, Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah, ada yang mengerjakan shalat sunah subuh di Masjid Nabawi berulang kali. Sa’id bin al-Musayyab menegur dan menasihatinya. Akan tetapi, orang itu membantah, “Wahai Imam, apakah saya akan disiksa karena mengerjakan shalat?”

Sa’id bin al-Musayyab berkata, “Engkau tidak disiksa karena mengerjakan shalat, tetapi disiksa karena menyelisihi perintah/sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Seperti itu juga yang pernah dialami oleh al-Imam Malik rahimahullah ketika ada seseorang yang bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, dari manakah saya ihram?”

 Beliau berkata, “Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ihram.”

Orang itu berkata lagi, “Saya ingin berihram dari masjid, dekat kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kata beliau, “Jangan lakukan, karena saya khawatir kamu ditimpa fitnah.”

Orang itu bertanya pula, “Fitnah apa yang ada dalam masalah ini? Bukankah saya hanya menambah jarak beberapa mil?”

Kata beliau, “Fitnah apa lagi yang lebih besar daripada kamu menganggap bahwa kamu telah bersegera menuju sebuah keutamaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang mendapatkannya?! Sungguh, aku mendengar Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”[2]

Secara bahasa, bid’ah adalah sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hadits dan perkataan para ulama Ahlus Sunnah adalah bid’ah dalam urusan agama, bukan dunia.

Oleh sebab itu, bid’ah yang dinyatakan sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semua ajaran yang menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ajakan untuk menyimpang dari ajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa.

Berdasarkan tinjauan inilah, sebagian ulama salaf mengatakan, “Bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Sebab, pelaku kemaksiatan itu, mungkin saja bertobat, sedangkan pelaku bid’ah tidak mungkin (susah) bertobat (karena merasa dirinya benar).”

Sebab itu pula, semua gagasan pemikiran atau kaidah yang menyalahi sunnah dan manhaj salaf termasuk bid’ah, yang diancam dengan neraka.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنّ اللهَ احَتَجَرَ التَّوْبَةَ على كلِّ صاحِبِ بِدْعَةٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi tobat setiap pelaku bid’ah.”[3]

Wallahul Musta’an.

Kalau setan berhasil melalui jalan ini, dia akan menjadikan manusia itu sebagai wakilnya yang mengajak manusia lain kepada kebid’ahan. Andaikata dia gagal, misalnya karena manusia itu diberi anugerah kecintaan kepada sunnah dan memusuhi bid’ah dan para pengusungnya, setan akan menggunakan arah berikutnya, yaitu;

Pintu yang ketiga ialah dosa-dosa besar (al-kabair) dengan semua bentuk dan tingkat perbedaannya. Setan sangat berambisi menjerumuskan seorang manusia ke dalamnya. Terutama apabila manusia itu dikenal sebagai seseorang yang berilmu dan diikuti. Setan sangat antusias membuat manusia lari meninggalkan orang tersebut.

Jika dia berhasil menjerumuskan orang yang berilmu itu hingga melakukan dosa besar, dia akan menyebarkan dosa itu di tengah-tengah manusia, bahkan menunjuk wakil-wakilnya di antara mereka untuk menyebarkannya ke seluruh penjuru dengan dalih taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, namun tanpa disadarinya dia menjadi wakil iblis.

Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (an-Nur: 11)

Inilah buahnya jika mereka senang menyebarkannya. Lalu, bagaimana jika mereka justru yang paling berperan menyebarkan aib itu tanpa memberinya nasihat, tetapi menuruti ajakan iblis agar membuat orang lari dari orang alim tersebut dan ilmunya? Adapun dosa yang dilakukan orang alim itu, meskipun sampai ke ujung langit, masih lebih ringan dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala daripada perbuatan mereka.

Dosa itu adalah kezaliman terhadap dirinya sendiri, yang seandainya dia meminta ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertobat kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala menerimanya dan mengganti kejelekannya dengan kebaikan. Adapun dosa mereka yang menyebarkan aib tersebut, adalah kezaliman terhadap orang-orang yang beriman dan mencari-cari aib mereka serta sengaja ingin mempermalukan mereka.

Wallahul Musta’an.

(Insya Allah Bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Yaitu perkara baru yang dibuat-buat di dalam urusan agama, menyerupai ajaran agama, dengan tujuan berlebih-lebihan dalam mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, bukan bid’ah dalam urusan dunia, sebagaimana anggapan sebagian kaum muslimin.

[2] Lihat Dzammul Kalam karya al-Harawi dan al-I’tisham karya asy-Syathibi, sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh al-Albani dalam adh-Dha’ifah (1/377).

[3] HR. ath-Thabarani dari Anas radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ (no. 1699).

Manusia vs Iblis; bagian ke-1

Setiap kenikmatan yang dirasakan oleh manusia, pasti ada yang berusaha merampas atau melenyapkannya. Demikian pula dalam perjalanannya di dunia yang tidak ringan ini, banyak musuh yang mengintai kelengahan seorang manusia, lebih-lebih seorang mukmin.

Ada musuh yang membisikkan di dalam dirinya dan mendorongnya ke jalan yang salah. Ada musuh yang tegak berdiri di hadapannya, merintangi langkahnya, atau membelokkannya ke arah yang salah. Kadang mereka bersatu padu untuk menjauhkan manusia dari tujuannya. Kadang mereka bekerja sendiri-sendiri dalam upaya untuk menggelincirkan manusia itu.

Kadang mereka menghiasi berbagai kejelekan agar terlihat indah lalu manusia tertarik untuk melakukannya. Atau, sebaliknya, membuat yang baik seakan-akan sebuah keburukan yang harus dijauhi dan dimusuhi.

Banyak hal yang merintangi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla. Ada dunia yang berhias secantik-cantiknya sehingga manusia terlena dan berjuang mengejarnya. Ada nafsu yang selalu mendorongnya dan tidak pernah merasa terpuaskan. Ada pula setan yang menipunya dengan janji-janji palsu, sehingga dia mengikuti bujukannya.

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah menyebutkan, “Musuh manusia itu ada tiga; dunia, setan, dan nafsunya. Bentengilah diri dari dunia dengan zuhud terhadap dunia, dari setan dengan menyelisihi perintahnya, dan dari nafsu dengan meninggalkan syahwatnya.”[1]

Secara bahasa, musuh (‘aduw) adalah lawan dari teman, pelindung, penolong (waliy), dan bentuk jamak dari ‘aduw ialah a’da`.

Di antara musuh-musuh yang dihadapi oleh manusia, ada yang kita memang diperintahkan untuk memusuhinya, bahkan memeranginya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

فَإِن كَانَ مِن قَوۡمٍ عَدُوّٖ لَّكُمۡ

“Maka jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang menjadi musuh bagi kamu….” (an-Nisa: 92)

Ada pula golongan yang memusuhi mereka bukan sebagai tujuan utama (harus dimusuhi). Akan tetapi, kadang-kadang seseorang terpaksa harus menghadapi sikap permusuhan (gangguan –red.) dari golongan ini, sebagaimana dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ

“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (at-Taghabun: 14)[2]

Mereka (istri dan anak-anak) pada dasarnya bukanlah musuh, tetapi digolongkan sebagai musuh, karena mendorong seorang suami atau ayah melakukan pelanggaran untuk menuruti kemauan istrinya; Atau menyebabkan seorang ayah bermaksiat demi menyenangkan anak-anaknya, hingga menjerumuskannya ke dalam kebinasaan abadi.

Hanya karena permintaan istri yang ingin memiliki rumah dan perabotan mewah, kendaraan yang bagus, atau perhiasan yang mahal, seorang suami tergerak melakukan penipuan, pencurian, penggelapan, pengkhianatan, bahkan pembunuhan. Hanya karena memenuhi keinginan anak kesayangannya yang ingin tampil di hadapan teman sebayanya, sang ayah rela merampok dan membunuh.

Akhirnya dia harus menjalani hukuman had, kisas, atau penjara. Itu baru di dunia, belum lagi di akhirat.

Lebih buruk lagi—dan ini terjadi—demi meraih impian duniawinya, seorang ayah atau suami ‘terpaksa’ menjual manhajnya, merendahkan dirinya, dan menghinakan ilmu yang dibawanya, hingga dia terlepas dari lingkup pergaulannya dengan Ahlus Sunnah. Bahkan, ia ikut menyebarkan fitnah dan syubhat di kalangan Ahlus Sunnah serta orang-orang awam. Wal ‘iyadzu billahi.

Menurut istilah, al-‘aduw (musuh) adalah siapa saja yang berusaha mencelakakan orang lain dan melawannya hingga menjerumuskan lawannya ke dalam kerugian.[3]

Bisa juga dikatakan bahwa musuh seseorang adalah siapa saja yang merasa senang melihat kesengsaraannya dan tidak senang dengan keberhasilannya. Sebagaimana salah satu sifat orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

Setelah menerangkan sifat-sifat orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan keimanan dan kasih sayang kepada orang-orang beriman, padahal hati mereka bertolak belakang dengan apa yang mereka tampakkan, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan pula betapa besarnya permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang mukmin.

Apabila kaum mukminin mendapatkan kesuburan, dukungan, dan pertolongan, serta bertambah banyak jumlah mereka, hal itu sangat menyusahkan dan merisaukan hati orang-orang munafik ini. Sebaliknya, jika kaum mukminin ditimpa paceklik (kekeringan, kemarau), atau dikalahkan oleh musuh, orang-orang munafik itu bergembira dan merasa senang.

Allah ‘azza wa jalla berfirman mengingatkan bahwa orang-orang munafik adalah musuh yang sesungguhnya bagi kaum mukminin,

وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٤

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (al-Munafiqun: 4)

Demikianlah kehidupan manusia, orang-orang beriman khususnya, dalam perjalanannya menuju Allah ‘azza wa jalla, senantiasa menghadapi musuh yang beragam. Permusuhan sampai kepada peperangan yang terjadi, akan senantiasa berlanjut hingga hari ketika Allah ‘azza wa jalla mewarisi alam semesta dan isinya.

Yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah permusuhan antara syaitan dan manusia. Apa sebabnya dan bagaimana bentuk permusuhan tersebut serta dari mana awalnya.

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang beriman sekaligus bekal agar selamat dari tipu daya musuh mereka, dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

(Insya Allah edisi berikutnya: Apa dan Siapa Setan itu?)

[1] Ihya ‘Ulumiddin (3/71).

[2] al-Mufradat (226—227).

[3] adz-Dzari’ah (259).

Nabi Sulaiman Wafat

(bagian ke-3)

 

Telah dikisahkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus Nabi dan Raja Bani Israil. Sebaik-baik hamba dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ١٢

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Setelah menerangkan karunia-Nya kepada Dawud ‘alaihissalam, Allah menerangkan pula karunia-Nya kepada Sulaiman putra Dawud ‘alaihissalam. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan angin baginya agar bertiup sesuai dengan perintahnya, agar membawanya dan apa saja yang menyertainya, melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat, dalam satu hari menempuh jarak yang seharusnya ditempuh selama satu bulan.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula untuk beliau cairan tembaga dan memudahkan berbagai sarana untuk mengeluarkan apa yang dapat dihasilkan dari tembaga itu, berupa bejana-bejana dan sebagainya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula para jin dan setan serta Ifrit, yang melakukan pekerjaan besar menurut keinginan beliau. Di antara jin dan setan itu ada yang diperintah oleh beliau agar menyelam dan mengeluarkan berbagai kekayaan alam yang ada di dasar laut, seperti mutiara dan permata berharga lainnya. Ada pula yang melakukan pekerjaan yang lain dan tidak ada satupun yang keluar dari perintah beliau. Siapa saja di antara mereka yang berani melanggar, niscaya terkena azab yang bernyala-nyala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Apa saja yang dikehendaki oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, pasti mereka kerjakan. Mereka membuat bangunan yang kokoh dan megah, patung-patung dalam berbagai bentuk. Mereka juga membuatkan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tidak bergeser dari tempatnya, karena sangat besar ukurannya.

Akan tetapi, sebagai sebuah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak akan berubah, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah fana. Yang kekal hanya Allah Yang Mahamulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

           كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27)

Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34)

Demikianlah kematian itu, apabila sudah tiba waktunya tidak mungkin dapat dipercepat ataupun ditunda, meskipun sesaat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Akhirnya, setiap orang pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pun wafat.

Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”

“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.

“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.

Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”

“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”

Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”

Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.

Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.

Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),

لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

 

Faedah

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana nabi lainnya, adalah manusia biasa yang pasti merasakan kematian.
  2. Yang menundukkan para jin agar bekerja menurut perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Dinukil dari Ibnu ‘Abbas c, Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan malaikat untuk mencambuk mereka dengan pecut api, jika mereka menentang perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

  1. Para jin yang sampai saat ini masih saja ada manusia yang meyakini mereka mengetahui hal yang gaib, sebetulnya tidak mengetahui yang gaib. Mereka juga tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri mereka atau orang lain.
  2. Siapa yang mengaku-aku mengetahui perkara gaib, dia kafir, bahkan termasuk salah satu dari lima pimpinan thaghut. Mengetahui perkara gaib adalah salah satu kekhususan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Tunduknya para jin mematuhi perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menunjukkan bahwa para jin itu adalah makhluk yang lemah sehingga tidak layak seorang manusia—yang lebih mulia daripada jin—meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ujian Nabi Sulaiman, bagian ke-2

bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Traditional-Arabic-Chair 

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala memuji-muji Nabi Dawud ‘alaihissalam, menerangkan apa yang diterima dan dirasakan oleh beliau, Allah subhanahu wa ta’ala memuji pula putra Nabi Dawud, yaitu Sulaiman ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman.” (Shad: 30)

Maksudnya, Kami memberinya karunia kepda Dawud berupa Sulaiman, dan Kami jadikan pandangan matanya sedap kepada Sulaiman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah sebaik-baik hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena beliau memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji. Beliau adalah hamba yang selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Terkait dengan hal ini, sebagian ulama menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya), (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’

‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad: 30-33)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dia adalah sebaik-baik hamba” adalah Sulaiman ‘alaihissalam, karena memang memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji, bahwa dia,

“Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),” selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Oleh sebab itulah, ketika diperlihatkan kepadanya kuda-kuda pacuan yang bagus dan tenang, yang selalu mengangkat salah satu kakinya ketika berdiri tegak, sehingga menjadi pemandangan yang menarik, keindahan yang menakjubkan, khususnya bagi mereka yang sangat memerlukannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu tidak henti-hentinya diperlihatkan kepada beliau sampai matahari terbenam, hingga beliau lupa shalat dan zikir di sore hari.

Akhirnya, beliau pun berkata dalam keadaan menyesali yang telah lalu, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena apa yang telah melalaikan beliau dari zikir kepada-Nya, serta demi mendahulukan cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala daripada cinta kepada yang lain,

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda).”

Kata أَحْبَبَتُ (menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (mementingkan). Artinya, aku lebih mementingkan kesenangan الخَيْرِ (terhadap barang yang baik), yang umumnya berupa harta, sedangkan di sini maknanya ialah kuda;

“Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,” mereka pun membawanya kembali;

فَطَفِقَ  “Lalu,” mulailah

“Ia potong kaki dan leher kuda itu.”

Artinya, beliau mulai menebaskan pedangnya ke kaki dan leher kuda itu. Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya memilih pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menafsirkan ayat ini dengan mengusap leher dan kaki kuda tersebut. Tidak mungkin beliau ‘alaihissalam akan menyiksa hewan dan membuang harta tanpa alasan selain hanya lalai shalat karena memerhatikan kuda yang tidak berdosa itu.

Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah mengomentarinya sebagai berikut.

Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir ini perlu diteliti kembali, karena bisa jadi dalam syariat mereka boleh berbuat demikian. Apalagi jika dilakukan dengan alasan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena membuatnya lalai hingga habis waktu shalat.

Oleh sebab itulah, ketika beliau tinggalkan semua itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu angin yang bertiup menurut perintahnya ke tempat-tempat yang pulang pergi jauhnya sebulan perjalanan.

Wallahu a’lam.

Telah dipaparkan pada edisi sebelumnya bahwa dunia ini adalah ladang ujian bagi setiap manusia. Adapun yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang paling mulia sesudah mereka dan berikutnya.

Itulah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Bahkan, setiap mereka yang telah menyatakan diri beriman, tidak akan lepas dari berbagai ujian, besar ataupun kecil, banyak ataupun sedikit.

Kadang, ada manusia yang lolos menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan. Begitu pula sebaliknya, dan ada pula yang berhasil menghadapi dua bentuk ujian tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat Shad ayat 34,

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman,” yakni Kami menimpakan bala dan cobaan kepadanya,

“dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),”

Ahli tahqiq meriwayatkan tentang maksud ayat ini dalam beberapa bentuk, di antaranya;

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam baru memiliki seorang putra setelah berkuasa selama dua puluh tahun. Kemudian, para setan berkata, “Kalau anak itu hidup, kita tidak pernah lepas dari petaka dan penindasan, maka kita harus membunuh anak itu.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengetahui rencana mereka, lalu memerintahkan awan untuk menjaganya dari gangguan setan. Tidak lama ternyata anak itu tergeletak di atas kursi beliau dalam keadaan mati. Nabi Sulaiman sadar akan kekeliruannya, yaitu tidak bertawakal kepada Rabbnya menghadapi gangguan setan. Beliau akhirnya meminta ampunan kepada Rabbnya dan bertobat.

  1. Riwayat kedua, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa NabiSulaiman ‘alaihissalam berkata, “Malam ini saya akan menggiliri tujuh puluh istri saya—ada yang menyebutkan seratus, ada pula yang mengatakan seribu. Semua akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala,” Beliau lupa mengucapkan, “Insya Allah.”

Mulailah beliau mendatangi istrinya satu per satu malam itu juga. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang mengandung, kecuali seorang istri yang melahirkan anak yang cacat.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, andaikata beliau mengatakan ‘Insya Allah’, niscaya benar-benar akan lahir anak-anak yang menjadi mujahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ahliahli berkuda, semuanya.”

  1. Ada juga riwayat yang ketiga yang menyebutkan beliau sakit berat hingga terduduk di kursinya tanpa daya.
  2. Yang masyhur di kalangan jumhur ulama adalah kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehilangan kekuasaannya selama empat puluh hari.

Namun, dalam kisah tersebut banyak kejanggalan yang tidak sesuai dengan kedudukan beliau sebagai Nabi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Sanad kisah ini kuat sampai pada Ibnu ‘Abbas, tetapi lahiriahnya dinukil beliau—kalaupun sahih—dari ahli kitab, sedangkan di kalangan ahli kitab itu ada kelompok yang tidak meyakini kenabian Sulaiman ‘alaihissalam. Jadi, yang tampak adalah bahwa mereka berdusta terhadap beliau.

Sebab itulah di dalam riwayat tersebut terdapat berita yang mungkar, bahkan yang paling beratnya adalah cerita tentang istri-istri Nabi Sulaiman yang didatangi oleh setan. Sebab, yang masyhur adalah bahwa jin/setan itu tidak diberi kekuasaan mendekati mereka, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi mereka dari setan tersebut, sebagai kemuliaan dan penghormatan terhadap Nabi-Nya ‘alaihissalam.”[1]

Oleh sebab itu, sebagian ahli tahqiq menguatkan bahwa ujian yang dimaksud adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana dalam bentuk kedua di atas.

Kata para ‘ulama, “Asy-Syiqq adalah jasad yang diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai hukuman atas kelalaian beliau mengucapkan ‘Insya Allah,’ karena sangat antusias dan dikalahkan oleh harapan yang sangat besar.”

 

Beberapa Faedah

Dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kejadian ini kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hiburan bagi beliau, menguatkan hati beliau, dan menenteramkan jiwa beliau serta menerangkan hebatnya ibadah dan kesabaran mereka dalam ketaatan, hingga mendorong beliau untuk berlomba dengan mereka.
  2. Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap urusan adalah sifat para nabi dan hamba Allah ‘azza wa jalla yang istimewa. Hendaknya orang yang datang sesudah mereka mengikuti petunjuk dengan apa yang telah mereka peroleh.
  3. Karamah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dengan menundukkan para jin untuk bekerja atas perintah beliau dan di bawah pengawasan beliau.
  4. Nikmat paling besar yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba adalah ilmu yang bermanfaat, mengenali hukum, dan kemampuan memutuskan perselisihan di antara manusia.
  5. Perhatian dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada para wali dan hamba pilihan-Nya, ketika muncul kekurangan dari mereka dengan memberikan ujian dan petaka yang menghilangkan kejelekan dari mereka, sehingga dengan ujian itu mereka justru kembali kepada keadaan yang lebih sempurna dari sebelumnya.
  6. Para nabi itu maksum (terjaga) dari dosa. Namun, mungkin saja muncul dari mereka dosa, sebagaimana tabiat manusia. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala segera menegur mereka dengan kelembutan-Nya.
  7. Istighfar dan ibadah, terutama shalat, termasuk amalan yang menghapus dosa.
  8. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah salah satu tanda kemuliaan Nabi Dawud ‘alaihissalam sekaligus karunia yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada beliau. Inilah salah satu karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar kepada seorang hamba, yaitu anak yang saleh.

Inilah yang selalu diharapkan dan senantiasa diminta oleh para nabi dan orang-orang yang saleh yang mengikuti mereka.

  1. Pujian Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam karena beliau senantiasa kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan. Itulah salah satu kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya, Dia memberi mereka taufik untuk beramal saleh dan akhlak yang mulia, kemudian memuji mereka ketika mereka mengerjakannya.
  2. Ditundukkannya setan hanya untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tidak untuk siapa pun sesudah beliau, sebagaimana permintaan beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Nabi Sulaiman adalah seorang raja sekaligus nabi, melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi tidak ada yang diinginkan beliau selain berbuat adil. Berbeda halnya dengan nabi yang statusnya hamba Allah subhanahu wa ta’ala biasa, bukan seorang raja, karena dia berbuat menurut perintah Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana keadaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang hebat dan jumlah pasukan yang besar. Akan tetapi, hati beliau selalu terikat kepada akhirat, sebagaimana doa beliau yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (Shad: 35)

Ini menunjukkan pula bolehnya meminta kekuasaan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat adanya kesiapan dan kekuatan menunaikan haknya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini.

Ujian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

kaki-kuda

Sunnatullah Pada Hamba-Nya

Silih berganti cobaan yang dialami oleh manusia, mukmin atau kafir. Kehidupan mereka bagai putaran roda yang tiada henti. Itulah kehidupan dunia. Cobaan-cobaan itu, bisa jadi dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan, tetapi tidak jarang pula yang menyusahkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Setiap manusia, siapapun adanya dan apapun kedudukannya, pasti diberi bala/ujian. Ujian-ujian itu bisa saja berupa kebaikan untuk mengetahui apakah dia bersyukur ataukah dia mengingkari (kufur terhadap) kebaikan tersebut. Bisa jadi pula bala itu adalah sesuatu yang berwujud kejelekan, untuk menguji apakah dia akan bersabar ataukah berputus asa.

Demikianlah keadaan manusia. Makhluk terakhir yang diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla sesudah langit, bumi dan segala isinya ini adalah makhluk yang paling mulia. Dengan segenap kelemahan dan kekurangannya, ternyata keberadaannya di alam semesta ini bukanlah untuk suatu hal yang sia-sia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

Subhanallah. Manusia, makhluk yang mulia ini, jelas tidak sama dengan makhluk lain yang telah diciptakan Allah ‘azza wa jalla. Karena itu pula, manusia ada di dunia ini bukan untuk sekadar makan, minum, berketurunan, dan bertempat tinggal, lalu mati dan selesailah semua urusan.

Tidak, manusia terlalu mulia untuk sekadar hidup dengan cara seperti itu.

Alangkah ruginya seorang manusia yang diberi kecerdasan dan kemampuan berpikir. Ditambah pula semua yang ada di alam ini boleh dimanfaatkannya untuk tujuan utama dia diciptakan, yaitu beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, hidupnya hanya untuk memuaskan seleranya, makan, minum, berkembang biak dan bertempat tinggal.

Alangkah ruginya, manusia yang dalam pikirannya hanya terisi bagaimana caranya dia makan, minum, bertempat tinggal, dan berketurunan.

Betapa tidak? Hanya untuk meraih tujuan yang ada dalam pikirannya itu, dia harus belajar pagi dan petang, bekerja siang malam, mengumpulkan harta, mengembangkannya, menjaganya lalu membelanjakannya untuk kepentingan seleranya.

Alangkah ruginya dia, karena waktu hidupnya yang berharga habis untuk memuaskan dirinya dengan makan, minum, bertempat tinggal, dan berketurunan.

Tidak sedikit dari mereka yang sudah berusaha dan bekerja siang malam, tetapi hanya mendapatkan sekadar kebutuhan perutnya satu atau dua jam. Tidak jarang pula yang rajin bekerja sekuat tubuhnya dan secerdas akalnya, tetapi tidak sempat merasakan hasilnya, apakah karena hasil itu dirampas, atau ajal menjemputnya.

Subhanallahi.

Alangkah bahagianya seekor ayam. Tanpa harus belajar pagi dan petang, atau bekerja siang malam, ke mana dia melangkah, di situ dia tentu mendapatkan makanannya. Di mana dia tinggal tentu ada pasangannya, anaknya dan tempatnya berteduh. Kemudian, jika dia mati, bangkainya jadi makanan; apabila sempat disembelih, halal bagi manusia, kalau tidak, binatang lain yang menyantapnya. Sesudah itu, selesailah urusannya. Di akhirat, tidak ada surga dan neraka baginya. Tuntas, lalu sirna menjadi debu.

Bagaimana dengan manusia? Apakah sesudah dia mati, terkubur di mana saja di bumi ini, akan selesai begitu saja semua urusannya? Selesaikah urusannya, ketika dia yang berjuang sekuat tenaganya, berusaha mencari pasangan, makanan dan minuman serta tempat tinggal lalu mati dalam keadaan belum merasakan hasil usahanya? Berhentikah langkahnya dengan kematian itu? Atau, selesaikan urusannya dengan kematian itu, setelah dia merasakan semua hasil usahanya di dunia, memanfaatkan fasilitas yang tersedia?

Tidak. Masih ada sekian rute perjalanan sesudah kematian menuju akhirat yang harus dia tempuh, mau atau tidak. Setelah itu, di akhirat dia pasti melihat hanya ada dua pilihan, surga atau neraka. Manakah yang akan dipilihnya?

Sayangnya, pilihan itu bukan saat itu waktunya. Pilihan itu, di sini. Di dunia, negeri ujian. Tempat dia bercocok tanam berupa amalan, yang panennya akan dia petik di akhirat, berupa dua pilihan tersebut, surga atau neraka.

Itulah hikmah Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia dengan kedua Tangan-Nya yang mulia. Menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, diizinkan memanfaatkan semua fasilitas yang ada.

Karena itu, keberadaannya di dunia ini dengan semua fasilitas yang tersedia menuntut adanya sebuah tanggung jawab yang harus diembannya.

Seakan-akan ada sebuah ketentuan di balik itu, yang harus diselesaikan oleh setiap manusia. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengingatkan kita:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai dia ditanya tentang empat perkara;

  • Tentang umurnya (waktunya), untuk apa dia habiskan?
  • Tentang ilmunya, apa yang diperbuatnya dengan ilmu itu?
  • Tentang hartanya, dari mana dia usahakan dan untuk apa dia belanjakan?
  • Tentang tubuh/jasadnya, untuk apa dia gunakan?”

(HR. at-Tirmdizi (no. 2417), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Sudahkah manusia itu menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan ini? Hanya Allah ‘azza wa jalla tempat kita meminta pertolongan dan kemudahan. Itulah sebagian ketetapan Allah ‘azza wa jalla yang berlaku bagi hamba-Nya.

Ternyata, ujian itu tidak sama untuk masing-masing manusia. Sebagaimana keadaan mereka yang bertingkat-tingkat, begitu pula ujian yang mereka terima.

Kedudukan yang berbeda-beda ini, bukan diukur berdasarkan penampilan duniawi yang terlihat pada manusia. Tidak.

Kita harus ingat kembali, bahwa tujuan utama manusia itu diciptakan Allah ‘azza wa jalla sebagai makhluk yang terakhir, setelah jagat raya dan seisinya tercipta adalah untuk beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Inilah yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla,  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Manusia yang paling tinggi kedudukannya—dan itulah sesungguhnya kemuliaan yang sejati—adalah orang yang berhasil merealisasikan hikmah dan tujuan penciptaan ini secara sempurna, dan dialah yang dikatakan sebagai Insan Kamil.

Sebaliknya, orang yang paling hina dan rendah kedudukannya, walaupun dia memiliki harta lebih banyak dari Qarun, atau kekuasaan lebih besar daripada Fir’aun, atau kedudukan yang lebih tinggi dari Haman, adalah mereka yang gagal dalam merealisasikan tujuan tersebut. Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari kehinaan dan kegagalan ini.

Sudah tentu, para nabi dan rasul berada pada jajaran yang paling tinggi ini. Dengan kata lain, kedudukan mereka yang agung itu mengandung konsekuensi bahwa mereka mau atau tidak mau, harus menerima ujian yang sesuai dengan kemuliaan mereka.

Demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya, “Siapakah yang paling berat ujiannya?”

الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih utama dan yang berikutnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Apabila agamanya kokoh, semakin beratlah ujiannya, dan jika dalam agamanya ada kelembekan, dia diuji sesuai dengan agamanya. Tiada henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai melepaskannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi (no. 2398) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.)

 

Bentuk-Bentuk Ujian

Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Anbiya’ ayat 35 di atas, manusia itu diuji dengan kebaikan dan keburukan. Yang dimaksud dengan kebaikan di sini ditinjau dari sisi manusianya, yaitu hal-hal yang sesuai dengan nafsunya, menyenangkan dan menggembirakannya. Adapun keburukan adalah semua yang tidak cocok dengan nafsunya, tidak membuatnya gembira dan senang.

Kita katakan ditinjau dari sisi manusia yang menerima ujian tersebut, karena dari sisi yang menurunkan ujian, sudah tentu sesuai dengan keadaan-Nya Yang Mahabaik, sehingga perbuatan-Nya tentu juga pasti baik, tidak ada yang buruk.

Dengan tabiat aslinya yang serba lemah, kurang dan selalu tergesa-gesa, bahkan sangat zalim dan jahil, manusia tidak pernah sepi dari dua keadaan yang merupakan ujian dari Allah ‘azza wa jalla ini.

Di antara mereka, ketika diuji dengan kesenangan atau kebaikan, dia merasa bahwa Allah ‘azza wa jalla sedang memuliakannya. Dia berani berkata, “Semua ini karena kepandaian saya,” “Saya memang berhak memperolehnya,” atau “Semua ini karena kedudukan saya di sisi Allah,” dan sebagainya.

Sebaliknya, ketika dia ditimpa kejelekan atau hal yang tidak disukainya, seperti: sakit, sedikitnya harta, jabatan yang rendah, dan popularitas yang rendah, dia merasa bahwa semua ini karena Allah ‘azza wa jalla menghinakannya atau Allah ‘azza wa jalla tidak suka kepadanya, sampai menuduh bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak adil.

Tentu saja, dua gambaran keadaan manusia ini, tidak berlaku mutlak bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali. Tidak.

Di tengah-tengah mereka, ada segelintir manusia yang dimuliakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Kemuliaan itu, bukan karena dia diberi dunia semata, melainkan karena iman dan cahaya yang Allah ‘azza wa jalla letakkan di dalam hati mereka.

Ujian-ujian itu, apakah berupa kebaikan atau kejelekan, juga menimpa mereka, bahkan lebih berat dari orang biasa. Hal itu tentu saja karena kedudukan istimewa mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Di antara mereka yang sedikit ini adalah Raja Besar yang diberi kekuasaan dengan bala tentara paling kuat di dunia. Belum pernah ada di dunia ini, kerajaan yang sehebat kerajaan beliau. Prajuritnya terdiri dari manusia, jin dan binatang. Semua berbaris rapi menerima titah beliau ‘alaihissalam. Semua bekerja sesuai perintah dan menjalankan tugas mereka masing-masing.

Sudah tentu, sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla, beliau tidak lepas dari ujian, sama seperti yang lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),

(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan,”

“Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.” Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertobat.

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendaki-Nya, Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam,

Dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.

Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shad: 30—40)

Demikianlah berita yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya ‘azza wa jalla dan umatnya.

Lantas, apakah sesungguhnya ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam?

Sebagian ahli tafsir menguraikan kisah seekor jin yang mencuri cincin Nabi Sulaiman ‘alaihissalam lalu menguasai kerajaan beliau selama beberapa waktu. Adapun Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sendiri, terusir dari kerajaan dan hidup terlunta-lunta.

Akan tetapi, beberapa kandungan kisahnya banyak yang tidak sesuai dengan status beliau sebagai nabi.

Insya Allah ‘azza wa jalla, ujian beliau akan kami paparkan berdasarkan keterangan ahli tahqiq di kalangan ulama kaum muslimin.

(insya Allah bersambung)

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Splash Bubble

Beberapa Faedah

Sebelum menguraikan faedah kisah Nabi Dawud yang diceritakan dalam surat Shad, kami uraikan sedikit alur kisah itu menurut sebagian ahli tafsir yang mencantumkannya dalam kitab mereka.

Nabi Dawud ‘alaihissalaam adalah seorang nabi sekaligus raja yang sangat luas kekuasaannya. Diceritakan bahwa beliau membagi waktunya untuk mengurus kerajaan, memutuskan perkara di antara rakyatnya, dan sebagian lagi untuk beribadah, bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla di dalam mihrabnya.

Adalah beliau, apabila sudah berada di dalam mihrab, tidak ada seorang pun yang masuk menemui beliau sampai beliau sendiri yang keluar kepada rakyatnya.

Pada suatu hari, beliau dikagetkan oleh kedatangan dua orang yang memanjat tembok istana dan masuk ke dalam mihrabnya yang terkunci. Beliau sempat merasa takut.

Kedua orang itu berkata, “Jangan takut. Kami adalah dua orang yang sedang berselisih. Sebagian dari kami berbuat zalim, melanggar hak yang lain. Kami datang menemui Anda untuk menyelesaikan perkara ini di hadapan Anda. Kami memohon agar Anda memutuskan persoalan ini dengan benar dan adil, jauh dari kecurangan dan mau menunjuki kami ke jalan yang benar.”

Setelah itu, salah seorang dari mereka mulai menerangkan duduk perkaranya, dia berkata, “Saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing, sedangkan aku mempunyai seekor. Lalu dia memaksaku agar menyerahkan kambing yang satu itu untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Dia mengalahkan dan menekanku.”

Begitu selesai dia bicara, Nabi Dawud ‘alaihissalaam segera memutuskan, “Dia memang telah menzalimi kamu, dengan memaksamu menyerahkan kambingmu yang hanya seekor agar digabungkan bersama kambing-kambingnya yang banyak. Memang, kebanyakan orang yang bekerja sama itu, suka menzalimi yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Tetapi, alangkah sedikitnya mereka ini.”

Itulah sekilas kisah yang disebutkan dalam al-Qur’an. Adapun yang dinukil oleh sebagian ahli tafsir, tidak ada yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, riwayatnya lemah dan kebanyakannya dusta, serta tidak layak dinisbahkan kepada seorang raja besar apalagi nabi yang maksum.

Kisah yang beredar dalam kitab-kitab yang ada di tangan ahli kitab penuh dengan pelecehan dan penodaan terhadap kemuliaan seorang nabi dan raja. Karena itu, kami tidak menukilkannya dalam ibrah ini.

Adapun faedah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah sebagai berikut. Peristiwa yang dialami oleh Nabi Dawud ‘alaihissalaam adalah pelajaran berharga sekaligus peringatan bagi para kepala negara, di mana saja mereka berada dan di zaman apa pun.

Hendaknya mereka memutuskan semua persoalan rakyatnya dengan aturan yang telah diturunkan oleh Allah k yang menciptakan dia dan rakyatnya. Para penguasa hendaknya ingat bahwa mereka pasti akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimpinnya. Mereka juga akan dihisab, bahkan lebih berat dari yang lain.

Dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya dari Ibnu Abi Hatim dari Ibrahim Abu Zur’ah yang pernah mempelajari kitab-kitab terdahulu dan mendalami al-Qur’an. Dia ditanya oleh al-Walid bin ‘Abdul Malik, “Apakah para khalifah (penguasa) itu juga akan dihisab? Bukankah engkau telah mempelajari kitab-kitab terdahulu, mendalami pula al-Qur’an dan menjadi fakih?”

Ibrahim berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah saya harus mengatakannya?”

“Katakanlah, dengan jaminan keamanan dari Allah ‘azza wa jalla.”

“Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla, Anda ataukah Nabi Allah Dawud ‘alaihissalaam? Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah mengumpulkan untuk beliau kenabian dan kekuasaan, kemudian memperingatkan beliau dalam Kitab-Nya yang mulia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

Oleh karena itu, apabila seorang nabi yang juga raja dan penguasa besar dihisab bahkan diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla, sudah tentu yang selain beliau pasti juga dihisab. Kalau Nabi Dawud ‘alaihissalaam sudah jelas perhitungan dan kepastian kedudukan beliau di sisi Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat Shad ayat 25,

“Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik,” bagaimana dengan orang-orang yang selain beliau yang bukan nabi?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pula dalam sabdanya,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ،

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang amir (penguasa) yang berkuasa atas orang banyak adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Tiada seorang pun hamba yang Allah jadikan dia sebagai pemimpin rakyat, lalu tidak menuntun rakyatnya dengan nasihat, melainkan dia tidak akan mendapatkan bau surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu)

Nasihat untuk mereka adalah dengan menjalankan semua upaya yang mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat, menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang menjerumuskan mereka ke dalam kerusakan, dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

Seseorang yang bertaubat dengan taubat yang benar dan jujur (nashuha), keadaannya lebih baik daripada keadaan sebelum dia terjatuh dalam kesalahan yang mendorongnya bertaubat. Sebagaimana keadaan Nabi Dawud ‘alaihissalaam dalam kisah ini.

Karena itu, dikatakan oleh sebagian ulama, taubat itu seperti kir yang membersihkan kotoran emas sehingga emas menjadi lebih murni dan cemerlang. Karena itu pula, orang yang terjatuh ke dalam dosa, janganlah berputus asa, sehingga enggan bertaubat dan memperbaiki dirinya.

Dalam surat Shaad ini, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi Dawud ‘alaihissalaam sebelum menerangkan berita tentang dua orang yang bertikai, sehingga itu saja sudah cukup untuk menepis semua tuduhan yang ditujukan kepada beliau melalui kisah palsu yang dibuat-buat oleh kaum Yahudi.

Watak Yahudi yang suka merendahkan seorang nabi, menurun kepada sebagian kelompok orang yang mengaku muslim. Syi’ah (Rafidhah, Itsna ‘Asyariah), termasuk golongan yang rendah dan menghinakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekeluarga. Mereka bersembunyi di balik topeng ‘mencintai ahli bait’, padahal mereka sangat dendam kepada ahli bait yang telah meruntuhkan dinasti Sasanid mereka.

Wallahu a’lam.

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-1

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

WALL

Pertempuran antara Thalut dan Jalut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin yang dipimpin Thalut (Saul). Jalut yang terkenal lalim dan ahli dalam peperangan tewas di tangan seorang prajurit muda, yaitu Dawud.

Sebagian ahli sejarah mengisahkan, ketika menghasung Bani Israil berperang dan menghadapi pasukan Jalut, Raja Thalut menjanjikan, siapa saja yang berhasil membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan akan diberi separuh dari kerajaannya. Setelah perang selesai, Raja Thalut menepati janji dan menikahkan Dawud dengan putrinya serta membagi dua kerajaan Bani Israil.

Para ahli sejarah berbeda-beda dalam menguraikan kisah yang terjadi sejak Bani Israil yang dipimpin oleh Thalut menyeberangi sungai sampai berkecamuknya pertempuran hingga terbunuhnya Jalut yang lalim dan berkuasanya Dawud sebagai Raja Bani Israil. Kisah tersebut telah dipaparkan pada beberapa edisi yang lalu.

Yang jelas, Nabi Dawud ‘alaihissalam akhirnya menjadi raja Bani Israil dan memimpin serta membimbing mereka di jalan Allah.

Sebelum menjadi raja, Nabi Dawud ‘alaihissalam hanya seseorang di antara rakyat jelata di kalangan Bani Israil. Di masa kecil dan remajanya, beliau bekerja menggembala kambing, tetapi Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kekuatan yang sangat besar pada tubuh beliau.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan nasab beliau adalah Dawud bin Isya bin ‘Uwaid bin ‘Abir bin Salmun bin Nahsyun bin ‘Uwainadib bin Iram bin Hashrun bin Faridh bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam.

Beliau diberi suara yang merdu oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga burung-burung berhenti terbang untuk mengiringi beliau bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla. Beliaulah yang pertama kali membuat perisai dan pakaian perang dari besi.

Beliau diberi karunia usia yang panjang, sampai seratus tahun, yang diambil dari usia bapaknya, Adam ‘alaihissalam, sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ جَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصاً مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هؤُلاَءِ؟ قالَ: هؤُلاَءِ ذُرِّيَّتُكَ. فَرَأَى رَجُلاً مِنْهُمْ أَعْجَبَهُ نُورُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ فِي آخِرِ الْأُمَمِ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ. قاَلَ: أَيْ رَبِّ، كَمْ عُمْرُهُ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً. قالَ: فَزِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً. قَالَ: إِذَنْ يُكْتَبُ وَيُخْتَمُ وَلاَ يُبَدَّلُ. فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ آدَمَ جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ؟ فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ آدَمَ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

Setelah Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggung Adam, maka bertaburanlah semua ruh yang Allahlah Yang menciptakannya sampai hari kiamat. Kemudian Dia letakkan di antara kedua mata masing-masing mereka itu seberkas cahaya, lalu Dia tunjukkan kepada Adam.

Adam pun bertanya, “Duhai Rabbku, siapakah mereka ini?”

Kata Allah, “Mereka ini adalah anak cucumu.”

Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya orang itu menakjubkannya, katanya, “Duhai Rabbku, siapakah dia ini?”

Kata Allah, “Dia salah seorang anak cucumu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.”

“Duhai Rabbku, berapakah panjang umurnya?”

“Enam puluh tahun.”

“Tambahkanlah untuk dia dari umurku sebanyak empat puluh tahun.”

“Kalau begitu, akan ditulis dan ditetapkan serta tidak akan diubah lagi.”

Ketika habis usia Adam, datanglah Malakul Maut. Beliau pun berkata, “Bukankah masih tersisa usiaku ini empat puluh tahun?”

“Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” jawab Malakul Maut.

Adam mengingkari, anak cucunya juga demikian. Adam lupa, maka lupa pula anak cucunya. Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah.[1]

Demikianlah, Nabi Dawud ‘alaihissalam hidup di dunia selama seratus tahun. Sebagian besarnya adalah sebagai seorang nabi sekaligus raja Bani Israil dengan kekuasaan yang sangat luas.

Akan tetapi, kehidupan sebagai seorang raja, bahkan nabi sekalipun, tidak membuat beliau berbeda dengan kebanyakan manusia. Beliau tetap sebagai manusia biasa, yang kadang sedih, marah, dan gembira. Beliau juga bisa lupa dan keliru. Begitulah sunnatullah dalam hidup manusia.

Tidak ada satupun yang lolos dari sunnatullah. Itulah kebaikan dan keburukan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya, sebagai ujian bagi mereka.

Memang demikianlah. Tiada satupun makhluk yang lepas dari ujian. Namun, ujian itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan keadaan iman dalam diri masing-masing. Itulah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ketika ditanya, “Siapakah yang sangat berat cobaan yang menimpanya?”

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih mulia setelah mereka, lalu yang lebih utama di bawahnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, beratlah ujian yang dirasakannya. Kalau dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Tidak henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan (hamba itu) tidak lagi mempunyai kesalahan.”[2]

Ada beberapa kejadian di masa pemerintahan beliau, seperti kisah petani dan penggembala kambing, juga tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Semua ini telah dikisahkan dalam edisi-edisi yang lalu bersama putranya Sulaiman ‘alaihissalam.

Karena itu, dalam edisi kali ini, kami paparkan sebuah kisah yang diabadikan dalam al-Qur’an tentang ujian yang beliau terima.

 

Dua Orang yang Bertikai

Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya,

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

Dawud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.”

Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 21—26)

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya. Memang benarlah sebuah berita yang menakjubkan.

Seperti biasa, Nabi Dawud ‘alaihissalam tidak lupa beribadah kepada Rabbnya. Pada waktu itu, tidak ada seorangpun boleh mengganggu. Namun, di luar istana, dua orang dengan tenang memanjat pagar tembok istana tanpa diketahui oleh siapapun. Dengan cepat keduanya menuju ruangan tempat Nabi Dawud ‘alaihissalam biasa beribadah.

Nabi Dawud yang sedang khusyuk beribadah tersentak kaget. Rasa takut mulai merayapi hati beliau, karena tiba-tiba melihat dua orang telah berada di mihrab tempat beliau beribadah.

Melihat kekagetan dan rasa takut Nabi Dawud ‘alaihissalam, dua orang ini berkata, “Jangan takut, kami adalah dua orang yang sedang bertikai. Salah satu dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil tanpa berpihak kepada salah satu dari kami. Jangan pula menyimpang dan tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”

Mendengar keterangan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran, Nabi Dawud tidak lagi marah dan takut. Kemudian salah satu dari mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Sesungguhnya saudaraku ini,” yang seiman dan satu manhaj, bukan senasab, sehingga apabila muncul sikap bermusuhan dari saudara tentu lebih besar urusannya. Dia melanjutkan (sebagaimana dalam ayat),

“Mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,” yakni istri, sebagaimana kebiasaan orang Arab. Tentu saja keadaan itu merupakan kebaikan dan mengharuskan dia merasa cukup serta bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya.

Orang itu melanjutkan, “Sedangkan aku hanya mempunyai seekor kambing betina,” yakni hanya seorang istri.

Lalu dia menginginkannya dan mengatakan, “Serahkanlah kambing itu (istrimu) untukku agar menjadi tanggunganku dan dia mengalahkan alasan-alasanku,” bahkan kalaupun aku memukul, dia lebih keras memukulku sampai dia berhasil memperolehnya.

Sebelum mendengarkan dari pihak yang lain, Nabi Dawud sudah mendahului berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu, ketika memaksa meminta kambingmu untuk menjadi milik dan tanggungannya. Sungguh, kebanyakan orang yang bekerja sama itu sebagin mereka berbuat zalim kepada yang lain. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, karena iman dan amal saleh itu akan mencegah mereka berbuat zalim. Akan tetapi, alangkah sedikitnya jumlah mereka di tengah-tengah manusia.”

Namun, seketika itu juga Nabi Dawud memahami, ketika memutuskan perkara di antara kedua orang tersebut, bahwa itu adalah ujian dari Allah. Segera saja, Nabi Dawud meminta ampunan dan tobat dengan sebenar-benarnya kepada Rabbnya dan menyungkur sujud sambil menangis.

Allah ‘azza wa jalla mengampuni dan menerima tobat Nabi Dawud. Sungguh, beliau memiliki kedudukan sangat dekat lagi mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla serta tempat kembali yang baik.

Kata asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, Allah tidak memaparkan dosa apa yang diperbuat oleh Nabi Dawud sehingga mendorong beliau meminta ampun dan bertobat, karena memang tidak ada gunanya diterangkan. Mencoba menguraikan hanya memberat-beratkan diri.

Yang jelas, faedah kisah ini ialah apa yang diterangkan Allah kepada kita ini, yaitu kelembutan-Nya kepada Nabi Dawud, tobat dan inabah (sikap kembali) beliau, serta terangkatnya kedudukan beliau. Bahkan, setelah bertobat, keadaan beliau lebih baik daripada sebelumnya. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau,

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,” memberlakukan padanya ketetapan agama dan dunia,

“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq,” yakni adil. Tentu saja, hal ini tidak mungkin beliau mampu melaksanakannya kecuali dengan mempunyai ilmu yang wajib dan ilmu-ilmu tentang persoalan kekinian (di masa itu), serta kemampuan untuk memberlakukan yang haq;

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.” Janganlah berjalan di belakang hawa nafsu dalam hal memberi keputusan, lalu berpihak kepada salah satu pihak, apakah karena dia kerabat, teman, orang yang dicintai, atau karena membenci pihak lain, karena hal itu akan membuatmu menyimpang dari jalan Allah dan menyebabkanmu tersesat dari jalan yang lurus.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah,” terutama orang-orang yang sengaja di antara mereka;

“Akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Sebab, andaikata mereka mengingatnya, lalu tumbuh rasa takut dalam hati mereka, niscaya mereka tidak akan menyimpang bersama hawa nafsu yang menyesatkan.

Begitu hebat tobat Nabi Dawud, hingga dalam sebagian riwayat yang sampai kepada Wahb bin Munabbih disebutkan, akibat tangis beliau begitu pilu dan panjangnya sujud beliau sambil menangis, tumbuhlah lumut di tempat sujud itu.

Demikianlah, seorang Nabi dan raja besar, yang tentu saja maksum, merasakan betapa dia memiliki kesalahan yang sangat besar, hingga mendorongnya menjatuhkan diri sujud kepada Rabbnya.

(insya Allah bersambung)


[1] HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 5208).

[2] HR. Ahmad (no. 1607), at-Tirmidzi (no. 2400) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 992).

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (2)

Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kasih sayang Nabi-Nya kepada sesama manusia, terutama kepada kaumnya, Bani Israil. Atas dasar itu, mungkin Nabi Musa akan terbawa kesedihan melihat keadaan Bani Israil yang telah didoakannya, sehingga mendorong beliau meminta agar dibatalkan hukuman itu, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan demikian. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 26)

Seakan-akan, beliau diingatkan agar jangan merasa menyesal dan sedih terhadap keadaan mereka, karena sesungguhnya mereka telah fasik; keluar dari sikap menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sedangkan kefasikan itu menyebabkan jatuhnya hukuman atas mereka, bukan kezaliman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah keadaan Bani Israil yang hidup di sahara yang sunyi dan terpencil. Semua itu berlangsung selama empat puluh tahun.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pemurah selalu merahmati mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menaungi mereka dari sengatan matahari dengan awan tipis yang senantiasa berarak di atas kepala mereka. Dia juga menurunkan manna dan salwa sebagai makanan terbaik mereka tanpa mereka harus bersusah payah.

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan pula untuk mereka pakaian yang tidak mudah rusak dan kotor. Setiap kali mereka ingin minum, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam agar memukul sebuah batu yang ada di tengah-tengah mereka dengan tongkatnya. Akibatnya, memancarlah dua belas mata air untuk minum masing-masing kabilah yang ada.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu al-manna dan as-salwa.” (al-Baqarah: 57)

Al-Manna ialah nama bagi semua rezeki yang baik dan diperoleh tanpa susah payah. Di antaranya adalah jahe, jamur, roti, dan sebagainya. Adapun as-salwa ialah burung kecil yang dinamakan juga as-sammani, dagingnya lezat. Turun kepada mereka dari manna dan salwa itu sesuatu yang mencukupi mereka dan menjadi makanan pokok mereka.

Akan tetapi, Bani Israil ketika itu kebanyakan tidak memelihara nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mensyukuri kesenangan dan kemudahan yang mereka rasakan dalam kondisi yang sebetulnya mereka sedang menerima hukuman. Muncullah rasa bosan dalam hati mereka melihat yang mereka santap setiap hari adalah itu-itu saja.

Mereka datang menemui Nabi Musa ‘alaihissalam mengeluhkan keadaan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Musa berkata, “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.”

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.

Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (al-Baqarah: 61)

Mendengar perkataan mereka itu, Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras, bahkan mencela mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah,” yaitu makanan yang kamu sebutkan (bawang merah, bawang putih, dan adasnya),

Bumbu Dapur

“Sebagai pengganti dari yang lebih baik?” yaitu al-manna dan as-salwa. Ini tidak layak bagimu, karena makanan yang kamu minta ini, kota mana pun yang kamu datangi, tentu kamu mendapatkannya. Adapun makanan kamu diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada kamu, adalah sebaik-baik makanan dan paling mulia, mengapa kamu meminta ganti yang lain?

Seakan-akan Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan, “Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian yang sangat tidak layak bagi kalian. Aku tidak akan menyampaikan permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar mengabulkan keinginan kalian.”

Kejadian ini adalah bukti terbesar kurangnya kesabaran mereka dan adanya sikap meremehkan perintah dan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, karena itu Dia membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista,” yang mereka saksikan terlihat pada penampilan tubuh mereka.

“dan kehinaan,” di hati mereka, sehingga Anda tidak akan melihat diri mereka dalam keadaan mulia, tidak pula mempunyai cita-cita yang tinggi. Bahkan sebaliknya, jiwa mereka begitu hina dan cita-cita mereka adalah cita-cita yang sangat rendah.

“Serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah,” yakni tidak ada keuntungan yang mereka bawa kembali melainkan kemurkaan-Nya terhadap mereka. Itulah seburuk-buruk ghanimah yang mereka peroleh dan seburuk-buruk keadaan yang mereka rasakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Hal itu (terjadi),” yaitu orang-orang yang berhak menerima kemurkaan-Nya.

“Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah,” yang menunjukkan kebenaran yang jelas bagi mereka. Akan tetapi, ketika mereka kufur kepadanya, Dia timpakan kepada mereka kemurkaan-Nya. Selain itu juga karena mereka dahulu

“Membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala , “yang memang tidak dibenarkan,’ menegaskan betapa buruknya perbuatan itu. Kalau tidak, seperti diketahui bahwa membunuh seorang nabi tidak mungkin dibenarkan, tetapi agar tidak ada yang menduga bahwa hal itu boleh karena kejahilan dan ketiadaan ilmu mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka,” yakni berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan melampaui batas,” terhadap hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya, kemaksiatan itu tarik-menarik satu sama lain. Adapun kelalaian akan memunculkan dosa yang kecil, lalu berkembang darinya dosa yang besar, dan dari situ muncullah berbagai kebid’ahan, kekafiran, dan sebagainya. Kita mohon keselamatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dari berbagai petaka.

Perlu diketahui bahwa dialog dalam ayat ini diarahkan kepada satu golongan Bani Israil yang ada pada masa-masa turunnya al-Qur’an. Adapun perbuatan-perbuatan yang diceritakan itu tertuju kepada para pendahulu mereka. Dihubungkannya hal itu kepada mereka karena beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Mereka dahulu sangat membanggakan dan menganggap suci diri mereka serta memiliki keutamaan yang lebih dari Muhammad n dan orang-orang yang beriman kepadanya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keadaan para pendahulu mereka yang telah mereka ketahui, yang menampakkan kepada siapa pun di antara mereka bahwa mereka bukan orang-orang yang sabar dan memiliki akhlak mulia serta amalan yang tinggi.

Maka dari itu, setelah diketahui demikianlah keadaan pendahulu mereka, padahal dianggap mereka itu lebih utama dan lebih mulia keadaannya daripada orang-orang yang datang setelahnya, bagaimana pula halnya dengan orang-orang yang ditujukan dialog ini kepadanya?

  1. Nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang terdahulu di antara mereka adalah nikmat yang dirasakan pula oleh orang yang datang belakangan. Nikmat yang dirasakan oleh bapak, nikmat pula bagi anak-anaknya.

Karena itulah, mereka diajak bicara dengan kalimat-kalimat ini. Sebab, semua itu adalah nikmat yang bersifat umum, meliputi mereka juga.

  1. Pembicaraan perbuatan orang lain dengan mereka menunjukkan bahwa sebuah bangsa yang bersatu di atas satu agama, saling membantu dan menjamin kemaslahatannya, hingga seolah-olah orang-orang yang datang lebih dahulu berada pada satu masa dengan yang belakangan, dan peristiwa yang menimpa sebagian mereka adalah kejadian yang dialami oleh mereka seluruhnya.

Di samping itu, kebaikan yang dikerjakan sebagian dari mereka kemaslahatannya juga kembali kepada seluruhnya. Demikian pula mudarat akibat kejahatan yang dikerjakan oleh sebagian dari bangsa itu, kembali kepada seluruhnya.

  1. Perbuatan jelek mereka itu sebagian besarnya tidak mereka ingkari. Padahal, orang-orang yang meridhai sebuah kemaksiatan adalah rekan bagi orang yang bermaksiat.

Tentu saja masih ada hikmah lain yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Di saat mereka hidup di Padang Tiih itulah Nabi Harun ‘alaihissalam wafat, yang disusul meninggalnya Nabi Musa ‘alaihissalam beberapa waktu kemudian. Sepeninggal kedua Nabiyullah ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam sebagai nabi Bani Israil. Melalui beliaulah Palestina berhasil dibebaskan dari tangan penjajah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (1)

Kisah ini terjadi setelah Bani Israil menyeberang lautan dan dihancurkannya patung anak sapi dari emas yang disembah oleh sebagian besar mereka. Kemudian, Bani Israil dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam menuju Tanah Air mereka yang telah dijanjikan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mereka, yaitu Palestina.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orangorang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Apabila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Berkatalah Musa, “Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.”

Allah berfirman, “(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka dari itu, janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 20—26)

Allah ‘azza wa jalla mengingatkan Bani Israil akan nikmat-Nya yang sangat besar, Dia menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir’aun, bahkan menyenangkan hati mereka dengan melihat sendiri kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya dalam satu hari. Tidak ada satupun musuh mereka itu yang selamat.

Tidak hanya itu, jenazah Fir’aun yang sudah mati diperlihatkan pula oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga saat ini, sebagai hiburan bagi Bani Israil, sekaligus peringatan bagi para penguasa di seluruh dunia sesudahnya. Kemudian, Nabi Musa ‘alaihissalam membawa mereka menuju tanah air mereka, Baitul Maqdis. Tanah suci yang ditinggalkan oleh bapak moyang mereka, Ya’qub (Israil) ‘alaihissalam. Belum berapa lama, setelah melewati sebuah negeri, Bani Israil melihat penduduknya sedang tirakat di sekitar berhala. Menyaksikan hal itu, terbit keinginan mereka, dan segera mereka utarakan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras. Bani Israil tidak lagi meminta hal itu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, dalam empat puluh hari, ketika mereka ditinggal oleh Nabi Musa ‘alaihissalam yang memenuhi panggilan dari Allah ‘azza wa jalla untuk bertemu dengan-Nya di bukit Thursina, tujuh puluh ribu orang ikut teperdaya oleh Samiri dan terjerumus dalam perbuatan syirik akbar tersebut.

Allah ‘azza wa jalla yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengilhamkan tobat kepada mereka dan menerima tobat tersebut. Dikisahkan, tujuh puluh ribu orang yang dihukum mati oleh saudara mereka sendiri dihidupkan kembali oleh Allah ‘azza wa jalla.

Wallahu a’lam.

Sesudah itu, patung anak sapi yang disembah oleh sebagian besar Bani Israil itu dibakar musnah dan abunya dibuang ke laut. Bani Israil sekali lagi dihadapkan kepada kenyataan bahwa memang tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Patung anak sapi yang selama ini mereka puja-puja tidak lebih dari sebuah benda mati, tidak bisa menjawab perkataan mereka, tidak pula mampu bersuara sedikit pun.

Kemarahan Nabi Musa ‘alaihissalam sudah pupus, beliau mengambil Taurat yang sempat dilemparkannya. Beberapa lembaran yang berukuran besar. Ada yang menyebutkan asalnya adalah permata surga. Di dalam tulisannya terdapat hidayah yang menerangkan mana yang hak mana yang batil, mana amalan yang baik, mana pula yang buruk, serta petunjuk kepada semua kebaikan. Lembaran itu juga sarat dengan akhlak dan adab yang luhur dan berisi pula rahmat serta kebahagiaan bagi yang mengamalkannya, memahami hukum dan makna-maknanya.

Akan tetapi, tidak semuanya siap dan mau menerima hidayah dan rahmat Allah tersebut. Sebab, yang hanya mau menerimanya ialah orang-orang yang takut dan tunduk merendahkan dirinya kepada Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi rezeki, Mengatur, dan Memelihara)nya.

Nabi Musa ‘alaihissalam mulai menerangkan kepada mereka kandungan Taurat yang beliau terima. Mulanya mereka menolak dan merasa perintah atau larangan tersebut sangat berat. Dengan sabar Nabi Musa ‘alaihissalam mengingatkan mereka bahwa itu semua ketetapan Allah ‘azza wa jalla, tetapi mereka tidak peduli dan masih menyanggah Nabi Musa ‘alaihissalam. Tiba-tiba, gunung yang ada di dekat mereka melayang tinggi di atas mereka seperti payung.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakanakan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf: 171)

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa dalam ayat ini seakan-akan dikatakan kepada mereka,”Kalau kamu tidak menerima Taurat dan kandungannya, gunung ini akan dihempaskan kepada kamu.”

Melihat bayangan hitam bukit Thursina di atas kepala mereka, Bani Israil ketakutan dan segera menjatuhkan diri bersujud sambil mengintip ke arah gunung itu. Mereka sangat khawatir gunung itu menimpa mereka. Akhirnya, mereka menerima ketetapan Taurat yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

Cara sujud sambil mengintip ke langit, menjadi kebiasaan mereka turuntemurun. Kata mereka, “Tidak ada sujud yang lebih agung daripada sujud yang karenanya azab itu terangkat dari kami.”

Demikianlah keadaan mereka. Akan tetapi, hal itu tidak bertahan lama, karena dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.”

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 63—64)

Ingatlah; (ketika Kami mengambil janji dari kamu), yaitu janji yang berat dan diperkuat dengan ancaman yang menakut-nakuti mereka, yaitu terangkatnya bukit Thursina di atas kepala mereka, lalu diperintahkan kepada mereka: (Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu), yaitu Taurat, (teguh-teguh), yakni dengan bersungguh-sungguh dan bersabar melaksanakan perintah Allah, (dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya), yaitu apa yang ada di dalam Kitabmu, dengan membaca dan mempelajarinya, (agar kamu bertakwa); menjaga diri dari azab dan murka Allah, atau menjadi orang yang bertakwa.

Akan tetapi, sesudah penekanan yang luar biasa ini, (Kemudian kamu berpaling), sehingga kamu pantas merasakan hukuman yang sangat berat. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”

Sampailah mereka di sebuah desa yang dekat dengan Baitul Maqdis. Nabi Musa ‘alaihissalam memberikan wejangan kepada mereka dan mengingatkan agar mereka maju untuk berjihad. Kata beliau, “Ingatlah nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian.” Sebab, mengingat-ingat nikmat itu menjadi pendorong untuk mencintai Allah ‘azza wa jalla Yang telah melimpahkan kenikmatan itu, sekaligus menumbuhkan semangat beribadah kepada-Nya.

Beliau melanjutkan, “Ingatlah pula ketika Allah mengangkat nabi-nabi di antaramu, yang mengajak kamu kepada hidayah (petunjuk), memperingatkan kamu agar menjauhi hal-hal yang rendah, mendorong kamu kepada kebahagiaanmu yang abadi dan mengajari kalian hal-hal yang belum kalian ketahui.”

“Dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, yang mampu mengatur diri sendiri, lepas dari penindasan musuh kamu, sehingga kamu dapat menjalankan agama kamu dengan leluasa.”

“Dia memberikan kepadamu berbagai kenikmatan agama dan dunia yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.”

Mereka dilebihkan dari bangsa lain yang ada pada zaman itu, karena pada masa itu, Bani Israil adalah orang-orang yang beriman. Sebab itu pula ditetapkan bagi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka dari bangsa ‘Amaliqah.

Kemudian, beliau mengatakan kepada mereka, “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”

Nabi Musa ‘alaihissalam menerangkan kepada mereka berita yang menenteramkan hati mereka, kalau mereka betul-betul beriman dan meyakini kebenaran berita dari Allah, bahwa Allah telah menentukan mereka memasukinya dan pasti menang melawan musuh-musuh mereka.

Nabi Musa mengingatkan mereka agar tidak berbalik, mundur sehingga menjadi orang-orang yang merugi. Rugi dunia karena kehilangan kesempatan meraih kemenangan yang sudah pasti dan rugi akhirat, karena tidak memperoleh pahala, bahkan justru menerima azab dan hukuman karena mendurhakai perintah.

Apa yang terjadi? Apa jawaban mereka?

Mereka memberikan jawaban yang menampakkan betapa lemahnya hati mereka, rapuhnya jiwa mereka, dan tidak adanya perhatian serta antusias mereka memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan jawaban mereka,

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa.” (al-Maidah: 22)

Ternyata mereka menolak dan memberikan alasan. Seakan-akan mereka hendak mengatakan, “Negeri yang engkau perintahkan kami memasukinya ini, di dalamnya ada orang-orang yang berperawakan mengerikan dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kami tidak sanggup menghadapi mereka. Tidak mungkin pula kami memasukinya selama mereka ada di sana. Kalau mereka sudah keluar, barulah kami memasukinya.”

Perkataan mereka sebagaimana dalam ayat ini, semakin menegaskan sifat dasar mereka, yaitu pengecut dan kurangnya keyakinan mereka terhadap Allah. Sebab, kalau mereka memiliki akal, tentu mereka mengerti bahwa mereka dan musuh mereka sama-sama manusia, anak-anak Adam ‘alaihissalam. Yang kuat adalah orang yang diberi kekuatan dari sisi Allah, karena memang tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Andaikata mereka memiliki keyakinan seperti ini, pasti mereka ditolong dan menang melawan musuh mereka, sebab Allah k sudah menjanjikan hal itu secara khusus kepada mereka.

Melihat keengganan Bani Israil untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, bangkitlah dua orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, termasuk orang-orang yang takut kepada ketetapan dan siksa Allah. Ada yang menyebutkan bahwa keduanya adalah Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam dan Kalib bin Yufana.

Mereka berkata mengingatkan kaum mereka, “Serbulah mereka melalui gerbang kota itu, dengan tiba-tiba. Desaklah mereka dan jangan beri mereka kesempatan. Sebab, apabila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang, tanpa harus bersusah payah bertempur dengan mereka. Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, setelah menjalankan sebab-sebabnya. Akan tetapi, jangan kalian bertumpu kepada sebab-sebab itu, karena semua itu tidak ada artinya jika tidak diizinkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Itupun kalau kamu benarbenar orang yang beriman, karena kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah, mengakui kebenaran janji-Nya, hal itu pasti menumbuhkan tawakal kepada-Nya.”

Akan tetapi, rasa takut agaknya sudah menguasai hati sebagian mereka, kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap tidak peduli dengan nasihat kedua orang yang mulia itu. Kata mereka, sebagaimana dalam ayat,

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Di saat-saat genting seperti ini, dalam situasi yang seharusnya mereka membela dan menolong Nabi mereka, mereka justru menghina dan mengolok-olok Allah k dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Dari sini jelaslah perbedaan antara umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat-umat yang lain. Maha Benarlah Allah ‘azza wa jalla dengan firman-Nya,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)

Mereka adalah sebaik-baik manusia yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia dan paling bermanfaat bagi sesama manusia. Alangkah indahnya ucapan mereka, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat mereka dalam peristiwa Badr Kubra. Kafilah dagang Quraisy yang mereka kejar telah lolos, sekarang harus menghadapi pasukan Quraisy yang datang lengkap bersama para pemuka mereka. Silih berganti para sahabat mengemukakan pendapatnya, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menawarkan kepada mereka. Seakan-akan ingin menyelami kesiapan sahabat-sahabat Anshar, apakah baiat mereka di ‘Aqabah (I dan II) hanya terbukti bila beliau berada di perkampungan mereka, sedangkan jika di luar Madinah, mereka tidak menjalankannya?

Sahabat-sahabat Anshar tanggap terhadap apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Agaknya kami yang Anda maksud, wahai Rasulullah?”

“Betul.”

“Kami telah beriman dan membenarkan Anda, dan telah kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa adalah hak. Karena itu, kami telah menyerahkan janji dan sumpah setia kami kepada Anda agar tetap mendengar dan menaati Anda. Sebab itu, berangkatlah, wahai Rasulullah, menuju apa yang Anda mau, niscaya kami tetap bersama Anda. Demi Dzat Yang mengutus Anda membawa al-haq, andaikata Anda membawa kami menyelami lautan, niscaya kami akan menyelam bersama Anda dan tidak akan ada seorang pun tertinggal di antara kami. Kami tidak benci andaikata bertemu musuh esok hari. Kami adalah orang-orang yang jujur dan tabah dalam peperangan. Semoga Allah memperlihatkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda dari kami. Berangkatlah dengan berkah Allah, wahai Rasulullah.”

“Kami tidak akan berkata seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, Musa ‘alaihissalam, ‘Pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.’ Akan tetapi, berperanglah Anda, dan kami akan berperang pula bersama Anda, di kanan dan kiri Anda, juga di depan dan di belakang Anda.”

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseri-seri, sangat senang mendengar ucapan tersebut dan memberikan kabar gembira kepada mereka akan janji kemenangan dari Allah ‘azza wa jalla.

Berbeda jauh dengan ucapan Bani Israil ini. Mendengar ucapan buruk mereka, Nabi Musa ‘alaihissalam marah. Beliau bersujud bersama Nabi Harun memohon ampunan kepada Allah. Yusya’ dan Kalib juga sedih dan marah melihat perilaku buruk saudara-saudara mereka. Akhirnya, Nabi Musa ‘alaihissalam mendoakan mereka, sebagaimana ayat,

“Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Seakan-akan beliau berkata,”Wahai Rabbku, tidak ada yang menaatiku dalam melaksanakan perintah Allah dan menyambut seruanku di antara mereka selain aku dan saudaraku Harun. Aku bukan penindas atau pemaksa mereka, maka putuskanlah persoalan antara kami dan mereka, dengan menurunkan hukuman yang sesuai dengan hikmah-Mu terhadap orang-orang fasik itu.”

Dari sini, jelaslah bahwa ucapan mereka adalah dosa besar yang menyebabkan mereka dihukumi sebagai orang-orang yang fasik.

Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa Rasul-Nya ‘alaihissalam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.”

Itulah hukuman yang mereka rasakan di dunia. Allah mengharamkan mereka memasuki Tanah Suci yang telah ditetapkan-Nya bagi mereka, selama empat puluh tahun. Akhirnya, selama empat puluh tahun itu, mereka hanya berputar-putar di padang Tiih, tidak menemukan jalan dan tidak pernah merasa tenang. Mudah-mudahan itu menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosa mereka, sekaligus menjauhkan mereka dari hukuman yang lebih berat.

Bisa jadi, salah satu hikmahnya adalah agar mayoritas mereka yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya serta menolak jihad itu lenyap dan digantikan oleh orang-orang yang masih baik dan lurus hatinya. Sebab, munculnya ucapan bernada ejekan itu hanya muncul dari hati yang lemah dan tidak ada kesabaran serta keteguhan di dalamnya. Tidak ada kemauan dan cita-cita yang tinggi serta tekad yang kuat untuk meraih kemenangan.

Bisa jadi pula, dalam rentang waktu sekian lama, akan lahir dan muncul generasi baru yang akal dan jiwa mereka terbina serta terasah untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.  Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Thalut VS Jalut

Berbagai kenikmatan telah banyak dirasakan oleh bani Israil, sehingga sudah sepatutnya mereka bersyukur kepada Sang Pemberi Kenikmatan tersebut, yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Ketika di Padang Tih, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Saat-saat mereka kehausan, lalu meminta Nabi Musa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memberi mereka minum.Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau memukulkan tongkatnya ke sebuah batu hingga memancarlah 12 lubang air untuk minum dua belas suku bani Israil. Kenikmatan lain yang tak kalah pentingnya, bahkan sangat mulia, yaitu diutusnya para nabi serta dibangkitkannya para raja yang memimpin dan membimbing mereka. Setiap kali seorang nabi meninggal dunia, datanglah nabi yang lain.

Begitu seterusnya selama berabadabad. Semakin lama waktu berjalan, sejak wafatnya Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam, digantikan pula oleh Nabi Yusya’ bin Nun yang memimpin bani Israil. Beliau pun wafat dan digantikan oleh nabi lainnya. Keadaan bani Israil semakin lemah. Pada zaman itu ada dua asbath, yang satu melahirkan nabi-nabi, yaitu dari keturunan Lewi, sedangkan yang lain menurunkan para raja, yaitu keturunan Yahuda. Akan tetapi, yang menunjuk dan menentukan raja mereka adalah wewenang para nabi, sehingga yang mengatur dan membimbing mereka sebetulnya adalah para nabi . Sepeninggal Nabi Yusya’, setelah kemenangan demi kemenangan Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada mereka, bani Israil mulai menelantarkan ajaran dan wasiat yang pernah diberikan oleh nabi mereka, Yusya’ bin Nun.

Bahkan, sebagian mereka mulai ada yang menyembah berhala. Para hakim tidak lagi mampu menerapkan ajaran Taurat dalam memutuskan persoalan bani Israil. Tidak pula ada seorang nabi yang mengajak mereka kepada yang ma’ruf dan melarang kemungkaran. Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala menghukum mereka dengan memberikan kekuasaan kepada bangsa lain untuk menjajah dan merampas kekayaan mereka di negeri mereka sendiri. Sebagian mereka diusir dari kampung halaman serta dipisahkan dari istri dan anak-anak mereka. Sebagian lagi ada yang dijadikan tawanan dan budak. Dalam sebuah peperangan, Tabut dan Taurat dirampas dari tangan mereka.

Akibatnya, mereka semakin jauh dari agama mereka. Tidak pula ada yang menghafalnya kecuali segelintir orang. Karena banyaknya yang dibunuh oleh penjajah, terputuslah kenabian dari mereka. Tidak ada lagi keturunan Lewi yang melahirkan nabi-nabi, selain seorang wanita bernama Hubla. Begitu pula keturunan Yahuda yang melahirkan raja-raja, banyak pula di antara mereka yang terbunuh. Semua itu adalah buah kedurhakaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan syariat-Nya. Allah Subhanahu wata’ala tidak menzalimi siapa pun di antara hamba-Nya. Dalam keadaan terjepit seperti itu, mulailah mereka sadar dan kembali kepada Allah l. Mereka berdoa agar Allah Subhanahu wata’ala mengutus seorang nabi di tengah-tengah mereka. Padahal, saat itu keturunan Lewi sudah hampir punah, tinggal seorang wanita bernama Hubla yang sedang mengandung.

Mulanya, wanita ini mandul, hingga dia hampir putus asa untuk memiliki anak dari suaminya. Sementara itu, sang suami mempunyai istri lain dan melahirkan sepuluh anak laki-laki untuk suaminya. Akan tetapi,wanita itu melampaui batas terhadapnya karena merasa lebih banyak anaknya. Hubla mengadu kepada Allah l atas kekurangannya dan memohon diberi karunia seorang anak. Allah Maha Mendengar, Dia mengabulkan permintaan wanita tersebut.

Hubla akhirnya mengandung dan beberapa bulan kemudian melahirkan seorang anak. Dia menamai anak tersebut Samual; Allah l mendengar doanya. Setelah anak itu semakin besar, dia diserahkan kepada orang-orang saleh di Baitil Maqdis. Di rumah suci itulah Samual dididik dengan ajaran Taurat. Setelah Samual dewasa, Allah Subhanahu wata’ala memilih dan mengutusnya sebagai nabi agar memberi peringatan kepada bani Israil. Mulanya, bani Israil mendustakan dan mengingkari kenabiannya, tetapi kemudian mereka mengakui juga nubuwah Samual. Pada masa-masa itu, kekuasaan ‘Amaliqah (asal-usul penduduk Mesir) semakin kuat di bawah pimpinan raja mereka, Jalut (Goliat) yang berasal dari keturunan Kan’an. Seakan-akan tanpa perlawanan, mereka merajalela membantai dan menindas bani Israil.

Para pemuka bani Israil sudah tidak mampu menahan penderitaan dan kehinaan tersebut, maka mereka datang kepada Nabi Samual ‘Alaihissalam meminta beliau mengangkat seorang raja untuk mereka. Demikianlah kisahnya yang dipaparkan oleh sebagian ahli sejarah yang menukil dari cerita Israiliyat. Kisah mereka diceritakan pula di dalam al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

Apakah kamu tidak memerhatikan pemuka-pemuka bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab, “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.”Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada hal itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (al-Baqarah: 246—248)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang para pemuka bani Israil yang menemui nabi mereka saat itu, yaitu Samual ‘Alaihaissalam, lalu berkata kepadanya, “Tunjuklah seorang raja untuk kamiagar kami berperang di jalan Allah Subhanahu wata’ala bersamanya.”

Akan tetapi, karena sudah memahami watak bani Israil itu, Nabi Samual berkata (sebagaimana dalam ayat),

هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا

“Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.”

Seakan – akan Nabi Samual  meragukan, jangan-jangan kalau Allah Subhanahu wata’ala memilihkan seorang raja untuk mereka, mereka justru tidak menepati janji untuk berperang bersama raja tersebut. Jadi, beliau menawarkan kepada mereka agar mereka selamat. Akan tetapi, mereka tidak mau menerimanya, bahkan tetap berpegang kepada tekad dan niat mereka. Mendengar jawaban Nabi Samual ‘Alaihissalam ini, mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” 

Seolah-olah mereka hendak mengatakan, “Apakah yang menghalangi kami berperang, sementara kami terpaksa memilihnya. Kami diusir dari negeri kami sendiri dan anak-anak kami ditawan.Itulah yang mendorong kami berperang walaupun tidak diwajibkan atas kami.”Ketika niat mereka ternyata bukan niat yang baik, tawakal mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala pun lemah. Tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling. Mereka takut memerangi musuh, tidak sanggup melawan, dan tekad mereka luntur. Bahkan, sebagian besar mereka dikuasai oleh sikap lemah dan pengecut, hingga meninggalkan perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Akan tetapi, beberapa gelintir orang di antara mereka dilindungi oleh Allah Subhanahu wata’ala dan diteguhkan serta dikuatkan hati mereka, sehingga tetap menjalankan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh-Nya. Mendengar tuntutan dan jawaban mereka, Nabi Samual berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.” Para pembesar itu terkejut, bagaimana mungkin Thalut (dalam bahasa Suryani; Saul) menjadi raja bani Israil? Kata mereka kepada nabi mereka, “Bagaimana Thalut memerintah kami?Kami berasal dari keturunan Yahuda yang  melahirkan raja-raja, dan kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya. Dia juga miskin, tidak diberi kekayaan yang banyak untuk mendukung kekuasaannya.”

Demikianlah menurut mereka, sebuah kerajaan atau kekuasaan harus dipegangoleh orang yang mempunyai nasab mulia dan banyak hartanya. Nabi Samual ‘Alaihaissalam berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah memilihnya menjadi raja kalian, sehingga kalian wajib tunduk kepada keputusan tersebut. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahinya kelebihan di atas kalian berupa ilmu dan fisik, yaitu kekuatan akal pikiran dan jasmani. Dengan kedua hal inilah urusan sebuah kerajaan dapat terlaksana secara sempurna.”

Sebab itu, seandainya seorang raja hanya kuat fisiknya, tetapi lemah akalnya, tentu di kerajaannya akan terjadi kerusakan, kekalahan dan penyimpangan terhadap syariat; dia memiliki kekuatan, tetapi tidak memiliki hikmah kebijaksanaan. Selain itu, seandainya seorang raja hanya mempunyai ilmu pengetahuan tentang berbagai masalah, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk menerapkannya, niscaya buah pikiran itu juga tidak berguna dan tidak dapat dilaksanakan.

Allah Subhanahu wata’ala menyerahkan kerajaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sehingga tidak perlu mengingkari kekuasaan Thalut, meskipun dia bukan keturunan Yahuda ataupun Lewi. Selain itu, kerajaan itu sebetulnya bukan warisan, melainkan di tangan Allah Subhanahu wata’ala yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya, sangat banyak sifat pemurah-Nya, tidak mengkhususkan rahmat dan kebaikan-Nya untuk orang tertentu, baik yang tinggi kedudukannya maupun yang rendah, tetapi Dia juga Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima keutamaan lalu Dia melipatgandakannya. Dengan kalimat ini, keraguan yang tadi muncul, sirna dari hati mereka.

Sebab, keterangan Nabi Samual q ini menegaskan bahwa syarat untuk menjadi raja sudah lengkap pada diri Thalut. Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya, tanpa ada  yang menolaknya, bahkan tidak ada pula yang menghalangi kebaikan-Nya. Jadi, kedudukan sebagai raja yang dipegang oleh Thalut adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala, dan tentu saja Dia Maha Mengetahui kemaslahatan hambahamba- Nya. Wallahu a’lam.

Kemudian, Nabi Samual menyebutkan tanda yang dapat mereka saksikan, yaitu datangnya tabut yang mereka cari cukup lama. Di dalam tabut itu terdapat sakinah yang menenangkan hati mereka dan menenteramkan pikiran mereka, serta sisa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Harun e yang dibawa oleh malaikat.

Raja Thalut dan Pasukannya

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ () وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ () فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ () تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orangorang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (al-Baqarah: 249—252)

Setelah Thalut menjadi raja bani Israil, dan kekuasaannya semakin kuat, mereka bersiap-siap memerangi musuh mereka. Terkumpullah hampir delapan puluh ribu pasukan bani Israil. Ketika Thalut bertolak dengan pasukan bani Israil yang sangat besar, Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka, agar jelas siapa yang kokoh dan tenang, siapa pula yang tidak, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia durhaka, sehingga janganlah dia mengikuti kami karena tidak ada kesabaran dan keteguhannya, karena kedurhakaannya. Dan siapa yang tidak meminum air itu, sesungguhnya dia pengikutku, kecuali menceduk dengan seceduk tangan, tidak ada dosa atasnya berbuat demikian. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberkahi lalu mencukupi.”

Ujian ini menampakkan hikmah Allah Subhanahu wata’ala memilih Thalut sebagai raja bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala ingin menunjukkan kepada bani Israil bahwa Thalut memang ahli strategi perang. Beliau membawa pasukan yang sudah pernah kalah bahkan terjajah dalam sejarah peradaban mereka. Sekarang, dia mengerahkan mereka menghadapi tentara penjajah dengan kekuatan dan persenjataan lengkap. Sebab itu, tidak mungkin menghadapi tentara musuh kecuali dengan kekuatan yang melebihi lawan, dan itu hanya satu, yaitu kekuatan hati dan kemauan untuk menang. Kekuatan yang siap menundukkan keinginan syahwat dan mengalahkan desakan atau dorongan kebutuhan sesaat serta sanggup mengedepankan ketaatan terhadap pemimpin dalam semua keadaan.

Tidak ada gunanya kekuatan perlengkapan dan fisik sehebat apa pun, kalau yang memilikinya adalah orangorang yang bermental pengecut dan lemah. Lemah keinginan dan kemauannya untuk menang. Dalam ujian ini jelaslah bahwa mereka sedang kekurangan air, sehingga air yang segar itu sangat menggoda orang-orang yang kehausan. Pasir sahara yang panas, bekal yang sekadarnya, harus menghadapi musuh yang tak terkalahkan, benar-benar menambah berat ujian bani Israil ketika itu. Ujian itu menjadi saringan bagi bani Israil. Dari 80.000 prajurit, sebagian besar mereka melanggar, dan meminum air sungai sepuas-puasnya, padahal sudah dilarang. Akhirnya, mereka berbalik mundur, tidak jadi memerangi musuh mereka. Ketidaksabaran mereka menahan haus satu jam saja adalah bukti terbesar tidak adanya kesabaran mereka untuk berperang yang pasti memakan waktu lama dengan kesulitan lebih besar.

Mundurnya orang-orang tersebut dari pasukan induk, meningkatkan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, orang-orang yang tabah, semakin menambah sikap merendahkan diri, merasa hina, dan berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka sendiri. Bahkan, berkurangnya jumlah mereka dan banyaknya musuh, semakin meningkatkan kesabaran mereka. Akan tetapi, ujian itu seakan belum berakhir. Orang-orang mukmin yang ikut bersama Thalut menyadari bahwa musuh yang akan mereka hadapi sebetulnya sangat kuat dan belum pernah kalah.

Mereka tidak melanggar janji mereka yang pernah terucap di hadapan Nabi mereka, bahwa mereka siap berperang. Akan tetapi kini, setelah menyadari bahwa musuh mereka memiliki kekuatan lebih besar dan hebat, mereka menyerah sebelum bertempur. Dari delapan puluh ribu pasukan itu, yang tersisa dan masih bertahan bersama Thalut ketika menyeberangi sungai itu, hanya sekitar 313 orang. Mereka inilah yang benar-benar memiliki kekuatan tawakal dan keimanan yang besar kepada Allah Subhanahu wata’ala

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah Subhanahu wata’ala, yaitu orang-orang yang memiliki iman yang teguh dan keyakinan yang kuat, mereka meneguhkan yang lain, menenangkan pikiran mereka, dan memerintahkan agar bersabar, kata mereka (sebagaimana dalam ayat),

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah,”

dengan keinginan dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, urusan itu di Tangan Allah Subhanahu wata’ala. Orang yang mulia adalah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan orang yang hina adalah yang dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, jumlah yang banyak tidaklah berguna sedikit pun bilam dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, jumlah yang sedikit, tidak akan hancur atau kalah bila ditolong oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala bersama orang-orang yang sabar. Dia menolong dan memberi taufik kepada mereka. Akan tetapi, sebab yang paling utama menyebabkan turunnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala  adalah kesabaran hamba itu sendiri.

Akhirnya, nasihat itu masuk ke dalam hati mereka dan memberi pengaruh yang sangat besar. Itulah sebabnya, ketika mereka menghadapi Jalut dan pasukannya, Thalut dan pasukannya berdoa,

“Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami.”

Maksudnya, peliharalah hati kami, curahkanlah kesabaran untuk kami, kokohkanlah kaki kami, agar tidak goncang dan melarikan diri, serta tolonglah kami menghadapi orangorang kafir. Dari doa ini pula kita mengetahui bahwa Jalut dan tentaranya adalah orang-orang kafir. Allah Subhanahu wata’ala mengabulkan doa orangorang beriman itu, karena mereka telah menjalankan sebab-sebabnya. Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka mengalahkan orangorang kafir itu. Dawud A’laihaissalam yang ikut dalam pasukan Thalut adalah anak bungsu Isya yang semuanya dua belas orang. Tubuhnya kecil, belum tampak layak untuk bertempur seperti prajurit lainnya.

Akan tetapi, keimanan dan keberanian Dawud jauh melebihi manusia lain. Pada waktu kedua pasukan bertemu, seperti biasa, Jalut menantang duel satu lawan satu. Pasukan Thalut tidak ada yang berani menghadapinya, padahal ketika itu Thalut telah mengumumkan bahwa siapa yang dapat membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan diberinya separuh kerajaan. Bukan itu yang dicari oleh Dawud ‘Alaihissalam melainkan ridha Allah Subhanahu wata’ala. Beliau meminta izin untuk maju, tetapi dicegah oleh Thalut. Akhirnya Dawud ‘Alaihissalam maju sendiri dan menyambut tantangan Jalut dan membunuh raja kafir itu dengan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya. Thalut dan tentaranya dimenangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka kembali ke negeri mereka dan Thalut menepati janjinya, menikahkan Dawud dengan putrinya dan membagi dua kerajaan bani Israil. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia kepada Dawud untuk menguasai bani Israil dengan hikmah, yaitu nubuwah yang meliputi syariat yang mulia dan jalan yang lurus. Setelah Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka, tenanglah mereka di negeri-negeri mereka menyembah Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan aman sentosa, karena musuh mereka menjadi hina dan mereka pun berkuasa di muka bumi. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah

Allah Subhanahu wata’ala menggabungkan antara kerajaan dan kenabian untuk Nabi Dawud. Padahal, sebelum beliau, sudah ada nabi tetapi yang menjadi raja adalah orang lain. Sebagaimana disebutkan, bahwa asbath di kalangan bani Israil terbagi dua, yang satu menurunkan raja-raja, yang lain melahirkan para nabi. Kisah ini adalah salah satu bukti kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Andaikata bukan berita yang disampaikan Allah Subhanahu wata’ala kepada beliau, tentulah beliau tidak mempunyai ilmu tentang peristiwa itu. Bahkan, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang mempunyai pengetahuan tentang hal ini. Di dalam kisah ini terdapat tandatanda (kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala) dan pelajaran yang dapat dipetik oleh orang-orang yang berakal sehat (Ulul Albab), antara lain sebagai berikut.

1. Kata sepakat ahlul hill wal aqdi, pembahasan dan pemahaman mereka terhadap cara agar sempurnanya urusan mereka lalu mengamalkannya, merupakan sebab utama bertambahnya kemuliaan mereka dan tercapainya tujuan mereka. Sebagaimana dialami para pembesar ini, mereka merujuk kepada nabi mereka dalam menentukan raja mereka sehingga mereka bersatu dan taat di bawah pimpinan raja tersebut.

2. Kebenaran itu, semakin dihalangi atau ditolak oleh berbagai syubhat, semakin terlihat kejelasan dan keistimewaannya. Demikian pula keyakinan terhadapnya, sebagaimana dialami oleh mereka. Ketika mereka mengingkari keberhakan Thalut menjadi raja, mereka diberi jawaban yang memuaskan dan menghilangkan keraguan serta kerancuan.

3. Ilmu dan buah pikiran, disertai kekuatan akan menyempurnakan kedudukan seorang wali (penguasa). Kehilangan salah satunya atau keduaduanya mengakibatkan kurangnya kekuasaan dan kerugian.

4. Terlalu percaya diri menyebabkan kegagalan dan kehinaan, sedangkan meminta pertolongan kepada Allah l dengan kesabaran dan bersandar kepada-Nya adalah sebab kemenangan. Yang pertama adalah seperti perkataan mereka kepada sang nabi,

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Jadi, seolah-olah hasilnya ialah ketika diwajibkan mereka berperang, mereka justru berbalik. Adapun yang kedua adalah dalam perkataan mereka (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu). (al- Baqarah: 250)

5. Di antara hikmah Allah Subhanahu wata’ala adalah memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, dan memisahkan yang tabah dari yang takut. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sebagaimana keadaan mereka yang bercampur tanpa ada yang membedakan.

6. Di antara rahmat dan sunnah- Nya yang berlaku adalah menjauhkan bahaya orang-orang kafir dan munafik dengan kaum mukminin yang berjihad. Kalau tidak demikian, tentulah bumi akan rusak dikuasai oleh orang-orang kafir dengan syiar kekafiran mereka padanya.

Wallahul muwaffiq.

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Nikmat Berganti Petaka

Asal Usul Saba’

Ribuan tahun sebelum Masehi, berdiri sebuah kerajaan Arab kuno di bagian selatan Semenanjung Arab. Kerajaan yang makmur, aman, dan sentosa itu adalah Saba’. Saba’ adalah nama gelar salah seorang raja Yaman kuno, yaitu Saba’ bin Yasyjub. Dia digelari Saba’ karena dialah orang Arab yang pertama kali menjadikan musuh-musuh yang telah ditaklukkannya sebagai sabaya (tawanan). Dia dijuluki juga ar-Raisy, karena dialah yang pertama mengambil rampasan perang (ghanimah) lalu membagi-bagikannya kepada bangsanya. Bangsawan-bangsawan Tubba’ juga berasal dari keturunan Saba’, demikian pula Ratu Saba’ yang terkenal dan diceritakan bertemu dengan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, yaitu Bilqis.

Nama asli Saba’ sendiri ialah ‘Abd Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Tetapi, ahli sejarah dan nasab berselisih tentang Qahthan ini, keturunan siapakah dia? Ada yang berpendapat bahwa dia adalah anak cucu Iram bin Sam bin Nuh. Yang lain mengatakan dia keturunan ‘Abir, yaitu Hud ‘Alaihissalam, dan ada pula yang berpendapat dia adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘Alaihissalam. Yang terakhir ini, disimpulkan dari riwayat yang ada di dalam Shahih al- Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu suku Anshar, yaitu Aslam, yang sedang berlomba memanah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ارْمُوا يَا بَنِي إِسْمَاعِيلَ، ارْمُوا فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا

“Panahlah, hai bani Isma’il, karena bapak kalian dahulu seorang pemanah.”

Hal ini karena orang-orang Anshar, baik Aus maupun Khazraj, berasal dari suku Azdi. Suku Azdi ini adalah keturunan Saba’ yang dahulu melakukan migrasi dari Yaman ke daerah sekitarnya, bahkan sampai ke Syam, Irak, dan Hijaz. Wallahu a’lam.

Kebanyakan peneliti menyebutkan bahwa kerajaan Saba’ adalah kerajaan tertua di Semenanjung Arab, dan telah berdiri di tanah Arab sejak 1300 SM. Ada juga yang berpendapat lebih tua dari itu (sekitar 2500 SM). Ibu kota pertama negeri ini adalah Shirwah, kemudian pindah ke Ma’rib yang akhirnya menjadi pusat perdagangan penting saat itu. Kerajaan Saba’ sudah dikenal di kalangan umat-umat terdahulu sebelum Islam. Di dalam Taurat, demikian pula dalam prasasti di zaman Raja Asyiria (720—705 SM), termaktub cerita yang menerangkan bahwa Kerajaan Saba’ pernah mengirimkan hadiah berupa emas, wangi-wangian, dan kayu a’syab kepada Raja Asyiria.  Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba’, nama apakah itu, apakah seorang laki-laki ataukah perempuan, ataukah sebuah negeri?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلْ هُوَ رَجُلٌ وَلَدَ عَشَرَةً فَسَكَنَ الْيَمَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ وَبِالشَّامِ مِنْهُمْ أَرْبَعَةٌ فَأَمَّا الْيَمَانِيُّونَ فَمَذْحِجٌ وَكِنْدَةُ وَالْأَزْدُ وَالْأَشْعَرِيُّونَ وَأَنْمَارٌ وَحِمْيَرُ، عَرَبًا كُلَّهَا، وَأَمَّا الشَّامِيَّةُ فَلَخْمٌ وَجُذَامُ وَعَامِلَةُ وَغَسَّانُ

“Dia adalah (nama) seorang lakilaki yang mempunyai sepuluh orang anak. Enam di antara mereka menetap di Yaman, sedangkan yang empat lagi bermukim di Syam. Yang menetap di Yaman ialah Madzhij, Kindah, Azdi, Asy’ari, Anmar, dan Himyar. Semua adalah bangsa Arab. Adapun yang menetap di Syam ialah Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan Ghassan.”

Jadi, Saba’ adalah nama orang yang kemudian diabadikan sebagai nama sebuah kerajaan besar masa itu. Dialah yang pertama kali membangun kota Ma’rib (tiga marhalah5 dari ibu kota Shan’a). Sebagian ulama mengatakan bahwa dia seorang muslim. Dia mempunyai beberapa bait syair yang menerangkan berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Akan menguasai kerajaan besar sepeninggal kami Seorang nabi yang tidak memberi keringanan terhadap yang haram Penduduk Saba’ bertempat tinggal di Yaman, sebagian mereka mendiami kota-kota besar dengan bentengbentengnya yang kokoh. Sisa-sisa peninggalan bangunan tersebut masih dapat kita lihat di zaman kita ini, meskipun kebanyakannya berupa puing-puing. Bekas-bekas tersebut menjadi bukti ‘kemajuan’ mereka saat itu dalam bidang arsitektur. Sebagaimana di atas, Saba’ di zaman itu adalah negeri yang subur dan makmur. Curah hujan yang tinggi adalah salah satu sebabnya, dan itu semua adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala bagi mereka. Kebun kurma dan anggur tumbuh dengan subur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (Saba’: 15)

Kebun-kebun itu berada di kanan kiri wadi yang luas (biasanya dilalui air jika hujan turun). Begitu luasnya, diceritakan bahwa siapa saja yang berjalan di kebun-kebun itu tidak akan keluar dari naungan pepohonannya, karena subur dan lebatnya. Bahkan, para wanita yang ingin memetik hasil kebun mereka, cukup hanya membawa sebuah keranjang yang dijunjung di atas kepalanya dan berjalan di bawah rimbunan pohon di kebun mereka. Begitu mereka keluar, keranjang itu sudah penuh dengan buah-buahan. Sistem pemerintahan mereka juga lebih maju, angkatan perang negeri itu terkenal kuat. Seperti diceritakan di dalam al-Qur’an, betapa besar percaya diri para pembesar istana Ratu Saba’ ketika dimintai pendapat mereka oleh sang Ratu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala

نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ

“Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan).” (an-Naml: 33)

Allah Subhanahu wata’ala benar-benar melimpahkan berbagai kesenangan hidup kepada mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukil cerita sebagian ahli bahwa di negeri itu dahulunya tidak terdapat serangga berbisa, nyamuk, dan kutu, karena iklim yang stabil. Semua itu adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Penduduk Saba’ benar-benar menikmati kesenangan yang berlimpah di negeri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala mengutus para rasul yang memerintahkan mereka memakan sebagian rezeki yang Allah Subhanahu wata’ala berikan dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.” (Saba’: 15)

Ibnu Ishaq menukilkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus tiga belas orang nabi kepada penduduk Saba’, sementara as-Suddi mengatakan ada sekitar 12.000 nabi yang diutus kepada mereka. Demikian dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya tentang surat ini.

Bendungan (Sadd) Ma’rib

Mulanya, air sungai mengalir begitu saja dari tempat yang sangat jauh tanpa mereka manfaatkan. Ada yang menyebutkan hampir tujuh puluh cabang anak sungai yang mengalir di sekeliling mereka. Penguasa Himyar yang memerintah saat itu menawarkan kepada rakyatnya untuk membuat bendungan sebagai tempat yang menampung dan mengatur sirkulasi air tersebut. Rakyat menerima dan mulai bekerja sama membuat bendungan tersebut dengan batu dan besi.

Di beberapa tempat mereka membuat saluran untuk mengatur sirkulasi air ke sawah ladang mereka, sehingga air itu benar-benar tersebar merata. Tinggi bendungan ini ada yang mengatakan 16 meter, sedangkan lebarnya 60 meter dan panjangnya 620 meter. Tetapi, melihat keadaan yang senantiasa menyenangkan itu, tumbuhlah dalam hati mereka keyakinan seakanakan kerajaan mereka tidak mungkin ada yang dapat menghancurkannya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai menyembah matahari. Mereka merasa, mataharilah yang memberi kehidupan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا

“Tetapi mereka berpaling,” (Saba’: 16)

dari beribadah dan mensyukuri Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang telah dilimpahkan- Nya kepada mereka. Setan menggiring mereka agar beribadah kepada matahari. Kebiasaan baru yang buruk dan keji ini terus berlanjut turun-temurun, bahkan sampai pada masa pemerintahan Ratu Saba’, yang merupakan penguasa generasi ke-17 di kerajaan itu. Mereka merasa aman, yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah budaya leluhur dan adat-istiadat yang baik. Para rasul yang diutus kepada mereka justru diingkari dan dimusuhi. Setelah Ratu Saba’ beriman kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, rakyatnya ikut pula beriman. Sampai beberapa kurun, mereka tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Namun, lama kelamaan, semakin jauh dari masa nubuwah, kehidupan yang serbanyaman, membuat mereka sombong.

Kesenangan yang mereka rasakan diakui sebagai milik mereka dan diperoleh karena usaha keras mereka. Sedikit demi sedikit, mereka kembali kepada budaya leluhur mereka yang salah jalan, menyembah matahari. Keadaan itu berlanjut sampai memasuki abad setelah masehi. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lain menyebutkan, ketika Allah Subhanahu wata’ala hendak menimpakan hukuman-Nya atas kekafiran mereka, dengan mengirimkan banjir besar kepada mereka, Dia mengirimkan seekor binatang sebangsa tikus yang menggerogoti bendungan itu. Menurut Ibnu Munabbih rahimahullah, penduduk Saba’ telah mendapati dalam kitab mereka bahwa bendungan itu akan dihancurkan oleh binatang sebangsa tikus, maka mereka menyiapkan kucing untuk menangkap tikus tersebut.

Tetapi, ketika waktu datangnya bencana itu sudah tiba, kucing yang mereka persiapkan tidak mampu menangkap tikus yang lari memasuki celah bendungan lalu menggerogoti bendungan itu. Tidak lama setelah itu, air pun menjebol dinding bendungan lalu menelan semua yang dilaluinya. Kebun-kebun yang hijau dengan buah-buahan yang rimbun hancur luluh. Pohon-pohon di kiri kanan wadi itu menjadi kering, mati. Kebun-kebun itu akhirnya ditumbuhi pohon atsl yang rasanya pahit dan sedikit pohon sidr (bidara). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ () ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

“Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan duakebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka, dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16—17)

Negeri Saba’ hancur. Bendungan itu pun akhirnya tinggal puing-puing yang tidak berguna. Sawah, ladang, manusia, dan ternak binasa. Ayah kehilangan anaknya, atau sebaliknya, dan istri kehilangan suaminya, demikian sebaliknya. Penduduk Saba’ pun pindah mencari tempat tinggal yang lain. Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Kebanyakan mereka pindah ke utara semenanjung Arab dan pantai timurnya serta wilayah Syam dan Irak. Termasuk yang eksodus ialah Aus dan Khazraj yang menetap di Yatsrib (sekarang Madinah), Ghassan yang mendirikan kerajaan di Syam, juga Lakhm yang mendirikan kerajaan di Irak, dan bani ‘Abd Qais yang mendirikan daulah ‘Amman.Menurut sebagian ahli sejarah, penyebaran itu terjadi 400 tahun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Kini, Yaman termasuk negara paling miskin di Semenanjung Arab. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah Kisah

Dari kisah yang ringkas ini, ada beberapa faedah yang dapat dipetik, antara lain:

1. Kesenangan yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada penduduk Saba’ tidak hanya bersifat jasmani berupa kesuburan tanah atau hasil panen yang berlimpah dan berkualitas, tetapi juga janji ampunan dan maaf atas kekurangan dan kesalahan. Tetapi Saba’ berpaling dari syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak pula mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala.

2. Kemaksiatan menjadi sebab turunnya azab dan hilangnya kenikmatan. Kehancuran umat-umat sebelum kita adalah karena mereka mengingkari nikmat yang dilimpahkan kepada mereka, kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jauh dari agama.

3. Semua kesenangan yang dirasakan oleh manusia adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak memiliki apa-apa ketika keluar dari rahim ibunya. Mata, telinga, dan akalnya belum berfungsi. Beranjak dewasa, Allah Subhanahu wata’ala memberikan fungsi bagi alat-alat tersebut sehingga seorang manusia dapat mengupayakan manfaat untuk dirinya, atau menolak mudarat dari dirinya.

4. Tidak ada yang melepaskan seseorang atau masyarakat dari kehancuran dan murka Allah Subhanahu wata’ala selain kembali bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mmemperbaiki dirinya di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Antara Syukur dan Kufur Nikmat

Masih ingatkah Anda dengan kisah tiga orang bani Israil yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan penyakit yang membuat orang-orang yang di sekeliling mereka merasa jijik? Betul, salah satu di antara mereka berpenyakit belang, kulitnya rusak dan jelek; yang lain kepalanya tidak ditumbuhi rambut sama sekali; dan yang ketiga buta, tidak dapat melihat. Mereka diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan kesenangan berupa kesehatan, sembuh dari penyakit yang mereka derita, bahkan diberi-Nya pula kekayaan. Namun, di akhir cerita, orang yang terkena penyakit kulit dan botak dikembalikan oleh Allah Subhanahu wata’ala seperti semula. Adapun yang buta tetap melihat, bahkan kekayaannya diberkahi. Demikianlah yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah mendengarnya dari seorang pendeta atau ahli ilmu mana pun. Tidak lain, hal itu berasal dari Allah Subhanahu wata’ala.

Dua orang pertama dikembalikan karena mengingkari kesenangan yang telah mereka rasakan. Itulah akibat mengkufuri nikmat. Adapun orang yang ketiga tetap dengan kesehatan dan kekayaannya. Itulah buah dari rasa syukur. Itulah sunnah Allah Subhanahu wata’ala yang membagi manusia menjadi dua golongan: yang bersyukur dan yang kafir. Tentu saja yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah kekafiran dan para pelakunya, sedangkan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah syukur dan orang-orang yang bersyukur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Jika kamu kafir, sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba- Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (az- Zumar: 7)

Iman itu terdiri atas dua bagian: syukur dan sabar. Syukur adalah pencarian terbaik orang-orang yang berbahagia. Kedudukannya di dalam agama sangat mulia. Kadang Allah Subhanahu wata’ala menggandengkannya dengan zikir atau dengan keimanan. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala mengaitkan adanya tambahan karena adanya syukur, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Allah Subhanahu wata’ala menerangkan pula bahwa mereka yang pandai bersyukur itulah yang mengabdi dengan sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan orang-orang yang tidak tahu bersyukur kepada- Nya, tidaklah tergolong orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Semua yang dirasakan oleh manusia di dunia ini tidak lepas dari dua hal. Yang pertama, sesuai dengan keinginan jiwa manusia; dan yang kedua, tidak sesuai dengan jiwanya. Yang pertama bisa berupa kesehatan, keselamatan, kekayaan, kedudukan, dan berbagai kesenangan lainnya. Adapun yang kedua adalah kebalikan atau lawannya. Kedua hal ini diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala ke tengah-tengah manusia untuk menjadi ujian bagi mereka. Demikianlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)

Artinya, Kami memberi ujian kepada kalian dalam bentuk musibah dan kesenangan, agar Kami melihat siapa di antara kalian yang bersyukur dan siapa yang kafir. Siapa pula yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Akan tetapi, sebagaimana kata sebagian salaf yang saleh, “Terhadap ujian berupa musibah, bisa saja seorang mukmin dan kafir itu sabar menghadapinya. Tetapi, tidak ada yang lulus menghadapi ujian yang berujud kesenangan selain orang yang benar-benar jujur dan benar keimanannya (shiddiq).” Sahabat yang mulia, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, dengan penuh kerendahan hati, tanpa menganggap suci dirinya meski telah dipastikan masuk surga, masih mengatakan, “Kami diuji dengan kesulitan, tetapi kami mampu bersabar. Namun, ketika diuji dengan kesenangan, kami tidak sabar menghadapinya.” Kalau seorang sahabat semulia ini menyadari kelemahan dirinya, padahal beliau memiliki keutamaan yang tidak dapat ditandingi oleh orang-orang yang sesudahnya, bahkan terkenal pula sebagai orang yang dermawan dan zuhud, bagaimana kiranya dengan mereka yang hidup sesudah zaman beliau? Wallahul musta’an.

Untuk menanamkan bagaimana jelasnya hakikat syukur dan kufur, berikut buahnya masing-masing, Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n sering membuat perumpamaan yang mudah dicerna. Perumpamaan itu kadang berupa kisah yang pernah terjadi di masa lalu. Karena Allah Subhanahu wata’aladan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkannya kepada kita, sudah pasti itu semua adalah benar dan pasti terjadi di alam nyata, bukan dongeng. Bahkan, kisah tersebut sarat dengan pelajaran hidup yang berharga buat mereka yang masih mempunyai hati dan mau mencurahkan perhatiannya terhadap kisah tersebut. Sebagian perumpamaan itu telah diceritakan dalam edisi sebelumnya. Kali ini adalah kiash tentang dua orang yang punya hubungan dekat, yang satu kaya tetapi musyrik, sedangkan yang lain mukmin tetapi miskin. Dari kisah ini kita akan memahami arti syukur dan bahaya mengingkari (kufur) nikmat/kesenangan yang telah dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Musyrik yang Kaya & Fakir yang Mukmin

Al-Baghawi  rahimahullah dalam tafsirnya menukil dari ‘Abdullah bin al-Mubarak, dari Ma’mar, dari ‘Atha’ al-Khurasani yang menceritakan bahwa dahulu ada dua laki-laki yang melakukan kerja sama. Keduanya memperoleh laba sebesar delapan ribu dinar. Ada juga pendapat yang mengatakan, keduanya adalah dua bersaudara yang mendapat warisan sebanyak itu juga. Kemudian, keduanya membagi rata harta tersebut. Salah seorang dari mereka membeli tanah seharga seribu dinar. Yang lain, demi melihat temannya membeli tanah seharga seribu dinar, berkata, “Ya Allah, Si Fulan telah membeli tanah seribu dinar, maka Aku membeli tanah di surga dari-Mu seharga seribu dinar.” Dia pun bersedekah dengan seribu dinar itu. Lelaki pertama mulai membangun rumah dengan harga seribu dinar, maka lelaki kedua pun berkata pula, “Ya Allah, si Fulan telah membangun rumah seharga seribu dinar, maka Aku membeli rumah di surga dari Engkau seharga seribu dinar.” Lalu dia pun menyedekahkan seribu dinar yang kedua.

Lelaki pertama kemudian menikahi seorang wanita dengan mahar seribu dinar, maka yang kedua berkata pula, “Ya Allah, si Fulan telah menikahi seorang wanita dengan seribu dinar, maka Aku melamar dari-Mu seorang wanita surga dengan seribu dinar,” dan dia pun menyedekahkan seribu dinar berikutnya. Lelaki pertama membeli pelayan dan perabotan dengan seribu dinar. Lelaki kedua mengetahuinya dan berkata, “Ya Allah, si Fulan membeli pelayan dengan seribu dinar, maka Aku membeli dari-Mu pelayan dan perabotan dengan seribu dinar,” lalu dia pun menyedekahkan seribu dinar terakhir. Akhirnya, 4.000 dinar di tangan lelaki kedua itu habis. Dia tidak mempunyai uang sepeser pun untuk memenuhi keperluan hidupnya. Rumah, dia tidak punya, apalagi perabotannya, atau istri dan pelayan yang membantunya mengurusi rumah itu. Usaha atau ma’isyah, dia juga tidak punya. Bangkrut, itulah istilah yang lumrah diberikan kepadanya. Suatu ketika dia berniat menemui temannya, mudah-mudahan dia bisa memperoleh kebaikan dari temannya itu.

Dia pun duduk di jalan yang biasa dilalui oleh temannya. Begitu tiba di hadapannya, lelaki yang kehabisan uang itu berdiri. Lelaki yang pertama, yang telah menghabiskan hartanya untuk membeli tanah, rumah dan seterusnya, berhenti dan menatap orang yang di hadapannya. Dalam keadaan terkejut dia berkata, “Fulan? Ada apa denganmu?” “Betul,” kata lelaki kedua, “Saya ada keperluan mendesak.” “Mana hartamu, bukankah kamu sudah membawa separuhnya?” Lelaki kedua itu menceritakan apa yang dilakukannya selama ini. Lelaki pertama berkata dengan sinis, “Pergilah, aku tidak akan memberimu sepeser pun.” Dalam riwayat lain, disebutkan, bahwa lelaki kedua dibawa oleh yang pertama berkeliling melihat-lihat harta kekayaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا () كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا () وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا () وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا () وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا () قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا  () لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا () وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا () فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا () أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا () وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا () وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا () هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan dua orang laki-laki yang Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma. Di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, Dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” Dia memasuki kebunnya dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang. Jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebunkebun itu.” Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya—ketika dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi, aku (percaya bahwa) Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedangkan pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, “Aduhai kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.” Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah yang haq. Dia adalah sebaikbaik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan. (al-Kahfi: 32—44)

Allah Subhanahu wata’ala memerintah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat tamsil untuk orang-orang kafir Quraisy dan selain mereka. Tamsil itu menerangkan tentang dua orang yang bersahabat. Salah satu dari mereka adalah petani yang kaya raya dengan sawah ladang yang subur dan hasil panen yang berlimpah serta pengikut yang banyak. Yang satunya adalah lelaki miskin, serba kekurangan. Suatu ketika, petani kaya itu memasuki kebunnya bersama temannya yang miskin. Kebun itu dipenuhi anggur dan kurma yang lebat buahnya. Di selasela kebun itu, mengalir sebuah anak sungai yang jernih. Petani kaya itu dengan bangga memerhatikan anggur – anggur bergelantungan dan buah kurma yang berjuntai di tandan-tandannya. Dia pun berkata kepada temannya, “Hartaku lebih banyak darimu, demikian pula pengikutku.” Si Kaya sengaja menyebut-nyebut kekayaan dan kedudukannya untuk membanggakan dirinya, bukan sebagai tanda syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberinya kenikmatan tersebut.1

Si Kaya melanjutkan, “Aku tidak yakin anggur dan kurma yang ada di kebun ini akan berhenti berbuah….” Rasa bangga dengan anggur yang berbuah lebat, daun-daunan yang hijau, air jernih yang mengalir di sela-sela tanamannya, serta kurma yang berjuntai di tandan-tandannya, membuatnya lupa bahwa dunia tidak diciptakan untuk kekal bagi siapa pun, bahkan dia pun tidak pula akan selamanya dapat merasakan lezatnya dunia. Dengan pandangannya yang sempit tentang dunia ini, dia pun berani mengingkari adanya kehidupan di seberang kematian. Dia berkata dengan sombongnya, “Aku pun tidak percaya kiamat akan terjadi. Kalaupun aku mati, pasti aku akan menerima kebaikan….” Menurut dia, andaikata kiamat itu terjadi juga, maka sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala telah memberinya kesenangan hidup selama di dunia, di akhirat pun Allah Subhanahu wata’ala pasti memberinya kesenangan. Anggapan seperti ini hampir merata ada di dalam hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari kemudian. Mereka mengira, kalau di dunia sudah merasakan kesenangan, di akhirat juga pasti merasakannya. Atau sebaliknya, di dunia mereka dalam keadaan sengsara, di akhirat juga pasti sengsara. Temannya yang miskin kembali mengingatkan (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Apakah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”

Bagaimana bisa kamu tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari kebangkitan, padahal Dia telah menciptakanmu dari setetes air yang hina lalu menjadikanmu manusia yang utuh dan sempurna? Dia melanjutkan (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

 “Tetapi, aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.”

Meskipun aku miskin dan sangat memerlukan bantuan, aku tidak akan menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala dengan sesuatu pun. Aku tidak akan menukar agamaku. Aku memang miskin, harta dan anak-anakku lebih sedikit daripada milikmu, tetapi aku yakin Rabbku (Allah) akan memberi aku lebih baik dari yang diberikan-Nya kepadamu dan menimpakan bencana kepada kebunmu, lalu kamu akan melihatnya berubah, hilang warna hijau dan keindahannya. Atau, airnya menyusut ke dalam tanah, hingga kamu tidak bisa mencarinya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah,’ setiap memasuki kebunmu? Bukankah tidak ada satu pun yang dapat memeliharanya selain Allah Subhanahu wata’alal?” Akan tetapi, si Kaya tidak mau memerhatikan nasihat tersebut. Suatu hari, si Kaya itu memasuki kebunnya untuk menikmati pemandangan indah yang ada di sawah ladangnya.

Begitu kakinya memasuki pintu kebun itu, dia terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kebunnya hancur. Tidak ada lagi anggur ranum yang bergelantungan ataupun tandantandan kurma yang bernas menjuntai. Bahkan, daun-daun hijau yang menghiasi tanamannya berserakan di atas tanah. Dia pun memukulkan tapak tangannya satu sama lain karena ngeri melihat kehancuran di depan matanya. Saat itu juga dia teringat ucapan temannya, maka dia pun menyesal, “Duhai kiranya aku tidak menyekutukan Rabbku dengan sesuatu apa pun.” Tetapi, penyesalannya terlambat karena kebun itu tidak lagi bermanfaat baginya. Itulah akibat kekafirannya dan tidak bersyukur atas kesenangan yang diperolehnya. Dia menyebutnyebut kesenangan itu hanya untuk membanggakan diri terhadap orang lain, bukan untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberinya kesenangan tersebut.

Karena kesombongannya itu, Allah Subhanahu wata’ala melenyapkan keindahan kebunkebunnya dan menggantikannya dengan puing-puing serta tumpukan daun, pokok kurma, dan anggur yang tidak ada gunanya. Semua kering, hancur luluh. Itulah perumpamaan yang Allah Subhanahu wata’ala buat untuk umat manusia, baik orang-orang Quraisy yang dihadapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu maupun yang datang setelah mereka dan bangsa lainnya. Sebuah tamsil yang menerangkan keadaan orang-orang Quraisy yang menentang nikmat paling mulia yang dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka, yaitu diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Mereka diingatkan akan akibat buruk yang akan mereka rasakan jika kekafiran itu terus melekat pada diri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang haq, Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan.”

Pada hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wata’ala hanya akan membela orang-orang yang beriman.

Beberapa Faedah dan Hikmah

Kisah ini mengingatkan kita tentang beberapa pelajaran hidup sebagai berikut.

1. Di dalam hidup ini selalu ada ujian yang silih berganti. Ujian itu tidak hanya berupa kesulitan, tetapi juga kesenangan dan kemudahan. Kisah-kisah orangorang yang terdahulu adalah pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang datang belakangan.

2. Dunia ini manis dan menipu, terkhusus terhadap orang-orang yang lemah iman.

3. Rezeki itu di tangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia-lah yang telah menciptakan manusia, sehingga tentu tidak akan membiarkan mereka sia-sia begitu saja.

4. Kewajiban untuk beriman kepada hari kebangkitan/pembalasan, bahwa setiap orang pasti akan datang menemui Allah Subhanahu wata’ala untuk dihisab dan diberi balasan sesuai dengan amalannya.

5. Kekafiran dan kemaksiatan adalah perbuatan zalim terhadap diri sendiri. Keduanya tidak akan menimbulkan mudarat kecuali terhadap diri sendiri.

6. Proses penciptaan manusia mulai dari setetes mani hingga menjadi manusia yang sempurna menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala sekaligus menegaskan keberhakan-Nya untuk menerima peribadatan dari seluruh makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

7. Disyariatkan untuk berzikir menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala ketika melihat kebaikan dan merasakan nikmat.

8. Kesyirikan dan kemaksiatan adalah sebab rusaknya harta dan hilangnya rezeki.

9. Bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala akan mengundang nikmat yang berikutnya, sekaligus memelihara nikmat yang sudah ada. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits